Dark Long Night

©Skylar.K

Kristao

Drama / Tragedy / Angst

.

.

.


Why happening to you...

I can't believe you are gone….


2 hari yang lalu, seharusnya menjadi hari yang membahagiakan dan memberi kesan yang berharga bagi dirinya maupun kekasihnya. Tanggal 2 Mei—2 hari yang lalu—terpaksa harus mereka lewati dengan peristiwa yang tak di inginkan. Kebahagiaan yang ia bayangkan akan mewarnai hari itu mendadak berubah menjadi kehancuran.

Kehancuran hidup sang kekasih dan kehancuran hatinya yang sukses meremukkan jantungnya saat itu juga. Raungan sirine mobil polisi dan ambulans membahana di sepanjang jalan menuju Rumah Sakit terdekat, saat mobil yang mereka tumpangi di tabrak oleh sebuah bis dari arah berlawanan yang tepat menyerang bagian depan dimana dirinya dan sang pujaan duduk sambil bercengkrama.

Orang yang di cintainya tersebut meninggal seketika di tempat kejadian, sementara dirinya hanya mengalami cedera yang cukup 'ringan'. Peristiwa berdarah itu seolah menjadi hadiah yang tak terduga untuk hari yang seharusnya menjadi hari yang penuh cinta dan menyenangkan untuk sang pujaan hati. Peristiwa yang tak akan pernah hilang dari ingatan dan tak akan pernah berhenti menghantuinya.

.

.

Udara di ruang tengah di sebuah apartement sederhana tersebut tak bersikulasi dengan baik. Hawa yang terasa dingin membuat suasana terasa aneh, terlebih pada ruangan yang gelap. Padahal jarum jam dinding di ruangan itu masih menunjukkan pukul 4 sore, dan sinar jingga matahari di luar sana masih bersinar cukup terang, namun ruangan tersebut tampak begitu gelap. Akibat tirai kaca beranda yang sengaja di tutup rapat, sengaja tak di buka oleh pemilik rumah yang seolah tak ingin terusik oleh kehidupan di luar rumahnya.

Detak jarum jam dinding membaur dengan suara desahan nafas yang terdengar teratur. Sesosok pria bertubuh tinggi berambut cokelat dengan wajahnya yang terlihat pucat, tertidur di atas sofa berwarna merah maroon di ruangan itu.

Tubuhnya yang tinggi bahkan sampai melampaui batas sofa, dan membuat selimut yang melindungi tubuhnya tak dapat melakukan perannya dengan sempurna untuk mengahalau udara dingin, sementara wajahnya yang tampan terpahat sempurna terlihat tenang meski tak dapat di pungkiri jika pucatnya wajah itu membuatnya seperti boneka berkelas tinggi. Mempesona, namun akan membuat sebagian orang akan berpikir 2 kali untuk mendekatinya.

Seolah ada yang membangunkannya, saat lelaki tampan itu menggumamkan sesuatu dengan pelan dan menunjukkan tanda-tanda jika ia akan segera bangun. Rambut cokelatnya yang berantakan berjatuhan lembut saat ia bangkit duduk dan dengan ling-lung memperhatikan ke seluruh ruangan. Ke 2 matanya memburu setiap sudut ruangan, seolah tengah mencari kehadiran seseorang yang membuatnya tertidur di sofa karena terlalu lama menunggu.

"Tao? Kau sudah pulang?" suara sengaunya menggema ke seluruh bagian rumah itu.

Tak ada jawaban. Hanya angin yang berhembus di luar beranda, serta suara pintu kayu yang berderit pelan. Ia pun menoleh ke arah luar ruang tengah, dan suara derit pintu itu kembali terdengar. Membuatnya harus bangkit berdiri dan beranjak dari sana. Karena ia sudah hafal betul siapa yang selalu memainkan pintu hingga berderit dan akhirnya selalu membuatnya kesal karena terdengar mengganggu di telinganya.

"Berapa kali harus ku bilang supaya kau berhenti melakukan hal itu peach?"

.

.

Sirine mobil polisi meraung-raung di keramaian jalanan kota Beijinh malam ini. Tiga buah mobil polisi melucur tanpa hambatan di jalan yang padat itu, terlebih banyak pasang mata yang memperhatikan mobil-mobil polisi tersebut dan mengira-ngira apa yang tengah terjadi di sabtu malam ini.


Should I go left the world…

So that I can meet you...


Pukul 7 malam, sebuah stasiun televisi menayangkan acara berita yang merangkum peristiwa sepekan. Suara benda elektronik tersebut beradu dengan suara kucuran air yang berasal dari dalam kamar mandi dan dapur. Dimana sosok tampan itu tengah berdiri di depan bak cuci piring dengan bersenandung pelan.

Namun karena tak berhati-hati, jari telunjuk tangan kanannya teriris mata pisau yang sedang di sabuninya. Ia hanya meringis kecil dan buru-buru menghisap telunjuknya yang terluka. Mau tak mau ia pun harus meninggalkan kegiatannya sejenak dan mencari plester yang seingatnya berada di lemari obat yang ada di dalam kamar mandi.

Dengan terus menghisap jari telunjuknya, satu tangannya yang lain membuka kenop pintu kamar mandi, dan genangan air menyapa kaki telangjangnya yang berukuran besar mengingat tubuh tinggi tegapnya yang manly. Ia mendesah kecil saat menyadari kecerobohannya.

"Sudah tahu airnya meluap, tapi kau tidak mematikannya sayang" ucapnya bosan.

Setelah mematikan kran bath up, ia menuju ke pojok kamar mandi dan mengambil plester pada kotak obat disana.

"Kalau terlalu lama berendam bukannya jadi putih tapi kulitmu akan mengelupas peach" ujarnya sembari mengusap kepala dengan rambut berwarna hitam kelam yang ada di dalam bath up.

Sekeluarnya dari kamar mandi, ia menyempatkan diri untuk mematikan televisi yang menyala, lalu kembali ke dapur untuk melanjutkan kegiatannya mencuci piring. Tapi ia terpaksa harus menghentikan aktifitasnya mencuci piring lagi saat ia baru saja mengambil pisau yang tadi di geletakkannya dan bersamaan dengan bel rumah yang berbunyi.

"Sebentar!" serunya.

Lelaki tampan itu melangkah lebar-lebar dengan kakinya yang panjang dan baru menyadari jika dirinya masih membawa pisau dapur yang hendak di cucinya tadi. Bunyi bel itu pun berhenti saat ia membuka pintu.

"Hai Kris" seorang pria jangkung tampan berambut hitam yang berdiri di depan pintu apartemennya.

"Xiaoming? Sudah lama kau tidak kemari"

Pria bernama Xiaoming itu hanya tersenyum kecil seraya melirik pisau dapur yang di bawa oleh Krisーpria tampan pemilik apartemen di depannya tersebut.

"Ada apa?" tanyanya kemudian.

"Eeh…sebenarnya…" Xiaoming menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Bukan aku yang ada perlu…" lanjutnya ragu.

Alis tebal Kris mengerut. "Siapa?"

"…mereka" Xiaoming menggeser tubuhnya, dan muncul 2 pria berbaju polisi di hadapan Kris.

Tak butuh waktu lama untuk lelaki tampan berdarah campuran itu untuk membaca situasi yang ada.

"Kami kemari atas laporan tetangga sekitar anda yang curiga jika anda menyimpan mayat Tuan Huang Zitao dalam apartement" ujar polisi yang berbadan besar.

"Apa anda bilang? Aku menyimpan mayat? Mana mungkin aku melakukannya apalagi itu mayat kekasihku sendiri" Kris membantah tegas.

"Kami telah mendapat perintah untuk memeriksa rumah anda" ujar polisi itu lagi seraya menunjukkan surat perintah.

"Aku tidak me—tunggu!"

Keis berlari mendahului ke 2 polisi itu dan menghadang pintu kamar mandi saat polisi lain memeriksa bagian dalam rumahnya. Raut wajahnya tampak pucat dan rahangnya mengeras.

"Aku tidak mengijinkan kalian jadi sebaiknya peergi dari sini!"

"Kami akan pergi setelah memeriksa seluruh ruangan. Tolong anda minggir" kata polisi lain yang berkumis tipis.

"Tidak akan. Aku berhak mengusir kalian dari rumahku! Keluar!"

Nafasnya memburu dan entah apa yang di pikirkannya saat ia menodongkan pisau yang di bawanya ke arah polisi itu.

"Kalian semua keluar dari rumahku sekarang juga! Apa yang kalian cari tidak ada disini!"

"Penguburan Tuan Huang telah di bongkar seseorang, ada tidaknya akan tetap kami periksa" kata polisi itu tegas. Terlihat tak sedikit pun takut dengan pisau yang mengarah padanya.

"Sudah ku bilang tidak ada! Keluar!" Kris meradang.

Bodoh. Sikapnya yang seperti itu malah membuat polisi-polisi disana curiga. Meski saat ini ia menodongkan pisau ke arah seorang polisi yang ada di depannya, tak dapat di pungkiri jika ia takut setengah mati, hingga tangannya gemetar.

Xiamoing yang merasa hal ini tidak akan berjalan lancar, pria itupun mendekati polisi itu dan memberi sebuah isyarat. Polisi itu pun melangkah mundur perlahan saat Xiaoming mendekati Kris yang tampak waspada.

"Kris, tenanglah…" ucapnya kalem seraya mengambil pisau di tangan si pria yang lebih muda darinya dengan mudah.

Pria tampan itu menggertakkan giginya, membuat garis rahangnya semakin mengeras. Dan embun yang mendadak berkumpul di pelupuk matanya meleleh tanpa izin, membasahi pipi ttirusnya. Tampaknya ia tak menyadari aliran sungai kecil yang merambati dagunya kini. Bahkan ia tak bergeming ketika Xiaoming memeluknya dan memberikan tepukan penyemangat di punggung lebarnya.

"Aku mengerti perasaanmu… tapi cobalah untuk berpikir jernih…." Ujarnya tenang. Mengusap punggung juniornya itu.

"Kenapa?...kau percaya padaku 'kan?" suaranya yang biasanya tegas dan berat, kini terdengar lirih dan lemah.

"Y-ya, tentu saja….kalau begitu biarkan mereka melihat kamar mandi mu"

"Tidak akan!" Kris mendorong dada Xiaoming kuat. Tenaganya cukup besar, untuk membuat pria di hadapannya itu menyingkir.

"Kalian tidak bisa masuk! Aku tidak memberi izin!" Kris bersikeras saat 2 orang polisi berusaha menerobos pintu kamar mandi yang di halanginya.

"Ku bilang minggir! Ini rumahku! Kalian tidak bisa masuk begitu saja jika aku tidak mengizinkan!"

Sekuat apapun ia menolak, nyatanya ia hanya sendiri dan Polisi itu berdua, di tambah Xiaoming, jelas jika tenaganya tak cukup besar melawan 3 orang sekaligus yang berusaha untuk masuk ke dalam kamar mandi. Hingga Xiaoming dang salah satu Polisi mengunci tubuhnya dan membuat Polisi yang lain berhasil masuk ke dalam ruangan yang di halanginya.

Berteriak serak ketika tim medis kepolisian masuk dengan membawa sebuah kantung besar berwarna kuning.

"KELUAR BRENGSEK! JANGAN SENTUH ZITAO KU!" teriaknya semakin menjadi dan berusaha melepaskan diri dari kuncian Xiaoming dan seorang Polisi.

Mereka—polisi-polisi itu tetap melakukan pekerjaan mereka. Apa yang mereka curigai ternyata terbukti. Sesosok mayat lelaki berambut hitam kelam dengan kulit yang pucat pasi menyerupai warna dinding di temukan berendam di dalam bath up. Yang sengaja di rendam oleh air yang mengandung boraks—obat pengawet yang di khususkan untuk mayat, serta balok-balok es yang mendinginkan tubuh indah tak bernyawa itu.

"LEPASKAN AKU! KALIAN TIDAK BOLEH MEMBAWA ZITAO KU!" Kris masih berusaha untuk melepaskan diri.

"Tidak akan! Coba kau bayangkan bagaimana perasaan Zitao diatas sana Kris!" bentak Xiaoming.

"Lepaskan aku! Jangan! Jangan sentuh Zitao! Jangan membawanya pergi!" Kris meronta hebat.

Ia semakin menggila ketika jenazah lelaki yang di pujanya kini di masukkan ke dalam kantung mayat berwarna kuning cerah. Bahkan kantung itupun tak layak untuk tubuh tak bernyawa kekasihnya yang begitu indah.

"Jangan bawa Tao! Lepaskan aku!"

"Dia sudah mati Kris! Cobalah untuk merelakannya!" kesabaran Xiaoming pun habis.

Kris terus berteriak, meminta agar para Polisi mengembalikan jenazah sang pujaan. Dan dengan spontan ia menggigit lengan Xiaoming yang membuat pria itu memekik kesakitan dan refleks melepas kunciannya.

Kesempatan itu di gunakan Kris untuk mengejar tim medis Kepolisian yang telah membawa kantong mayat dimana mayat kekasihnya berada. Namun saat kurang beberapa centimeter lagi ia dapat meraih kantong kuning itu, 2 orang polisi menangkap tubuhnya cepat. Kris meronta, berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri, namun yang ada ia semakin jauh dari apa yang ingin di rebutnya kembali.

"BERHENTII! PEACH! KEMBALIKAN ZITAO KU! PEACH!"

Namun sekeras apapun ia berteriak, sekencang apapun ia mengumpat para Polisi dan meminta agar sang kekasih di kembalikan pada dirinya, sesakit apapun hatinya saat ini, semua itu tetap tidak akan dapat membuat Zitao kembali padanya. Dan ia tak tahu kapan semua penantian tak berujungnya ini akan segera berakhir di dalam kehancuran hati dan pikirannya.

"Jangan pergi peach ! Jangan pergi! Jangan bawa Zitao ku mohon!"


Only you my beloved and i remembers…

In my heart (inside my heart)…

Will never be lost (never gone)…

Your shadow for forever (forever)…


END

.

.

Baik kan gw? Abis update Adore, sekarang update drabble? :3

Ada yang butuh tisu? Atau mungkin mau maki authornya? XD

Trust me, gw butuh review dan bukan makian kenapa gw update drabble yang tragis kayak gini, wkwkwkwk /kabur naik nagaman

©Skylar.K