A-a-annyeong Reader... Mian yah, saya telat Update wae *dilemparin nuklir* saya sibuk.. jadi saya hanya bisa menyempatkan waktu selama 10 menit untuk mengetik diakhir pekan, bahkan mungkin tidak sama sekali~~ huhu... Mianhae... Jadi agak telat dan mungkin bisa dibilang SANGAT TELAT! *sujud dalem2* Oke, saya benar – benar minta maaf untuk tragedi seperti ini. Mungkin akan terulang lagi dan lagi~~ soalnya, akhir – akhir ini banyak ujian, les dan terakhir... saya capek #curcol ._.v Mian yah TTwTT

Yap, langsung ya ^w^)/

Tittle: It Has to be You~

Rated : ?

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Pairing : Yesung X Ryeowook, Kyuhyun X Ryeowook.

Disclaimer : Kyuhyun, Sungmin, Ryeowook belong to themselves, their parents, and God ^^

Warning : AU, typo(s), gaje, alur berantakan, kurang romantis (?), bahasa kacau-tidak sesuai dengan EYD yang benar, alur agak memaksa dan lain – lainnya

Oh ya... untuk prolog, Mian yah~ kalau terkesan gaje atau apalah. Nanti diceritain kok, kenapa Yeoja 'itu' nangis kayak gitu dan begitulah... maklum, Author amatir *sujud dalem2* Sekalian, makasih yang udah mau Re-view...

Happy Reading~ ^^

.

.

.

.

Author PROV

"Pagi Eonn," sapa Ryeowook ketika menuruni tangga dari kamarnya. Ia langsung memasang wajah senang dengan mata yang berbinar – binar pagi ini. Heechul hanya menoleh dengan mulut yang disumbat dengan roti selai. Jadi ia hanya mengangguk dan kembali berkutik dengan ponselnya sambil memasang raut wajah yang menjadi – jadi. "hari ini... Eon akan pulang terlambat lagi?" tanya Ryeowook sambil menaruh tasnya. ia menghempaskan dirinya pelan dikursi. tangannya meraih selembar roti (?) dan mulai mengoles selai dirotinya. Heechul kembali mengangguk.

"Mmm... lalu bagaimana dengan Eomma dan Appa? Mereka akan pulang terlambat juga?" tanya Ryeowook lagi sambil memasang wajah lesu. Ia mengigit rotinya dan kembali memandangi Heechul yang sedari tadi hanya terdiam mengangguk menanggapi pertanyaan – pertanyaan yang dilontarkan Ryeowook. "YA! Dengarkan aku, Kim Heechul!" gerutu Ryeowook akhirnya.

Dengan terpaksa, akhirnya Heechul mulai menaruh ponselnya dimeja dan memandang adiknya bosan. "ya, ada apa Wookie?" tanyanya dengan nada bosan.

"kenapa Eonn begitu serius dengan ponselmu itu? ada apa proyek kali ini?"

Heechul memutar mata jengkel. Kemudian ia menggambil roti lagi dan mengolesinya dengan selai. "tidak ada. Hanya masalah pribadi,"

"apa itu?" tanya Ryeowook penasaran sambil mencondongkan tubuhnya. "mungkin aku bisa membantu," lanjutnya sambil memaksakan senyum cengar-cengir.

Heechul hanya mendesah pelan menghadapinya. Satu – satunya yang menjadi kelemahannya adalah senyum maut adik perempuannya sendiri, apa lagi senyum yang satu itu. Ia langsung mengacak – acak rambutnya sendiri dan kembali mendesah. "ini hanyalah masalah pribadiku. Mungkin ini tidak terlalu penting tapi...,

Sahabatku sendiri, merebut pacarku," gumam Heechul lirih. Ia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Ryeowook terdiam mendengarnya. Perkataan Eonni-nya tadi... sedikit mengingatkannya kepada masalah pribadinya antara Sungmin, Yesung dan dia sendiri.

"ah, dia benar – benar pengkhianat. Dengan seenaknya saja dia merebut pacarku dan tidak mempedulikanku. Aku heran, mengapa dia melakukannya?" ujar Heechul dengan penuh emosi. Ia mengacak – acak rambutnya frutasi, seperti kehilangan setengah nyawanya. "padahal ia tahu kalau aku sangat menyukainya,"

Ryeowook masih terdiam mendengar amarah Eonninya yang kini kembali mengotak – atik ponselnya dan sesekali ia mendesah. Ia langsung mengigit bibirnya kuat – kuat dan mencoba untuk melupakan masalahnya yang tiba – tiba saja datang menganggu pikirannya. Mungkinkah Sungmin akan marah seperti ini bila ia menghetahui bahwa aku menyukai Yesung Oppa...? batinnya lirih. Mungkinkah aku tidak akan pernah boleh menyukai Yesung Oppa? ia langsung mengcengkram tangannya, mencoba meredakan rasa gemetarannya.

Mereka berdua larut dalam pikirannya masing – masing. Setelah itu tidak ada yang berani membuka mulut. Dalam hati, Ryeowook terus bertanya – tanya. Bolehkah... bolehkah aku menyukainya? ––pada dasarnya dia takut menghadapi kenyataan selalu memedam semua perasaannya. Sebanyak rasa sakit yang ia terima, ia selalu menanggapinya dengan biasa. Tapi kenapa... rasa sakit kali ini sama sekali tidak bisa ditekan? Ia ingin sekali menanyakannya kepada Sungmin, tetapi ia takut mendapat jawaban yang tidak ia harapkan dan mendadak Sungmin akan meninggalkannya. Ia takut dan tidak mau itu terjadi... tapi...

Ryeowook menghela nafas. Kalau aku menyerah soal permasalahan ini... aku tidak akan bisa mendapatkan jawaban dari Yesung Oppa. pengakuanku yang waktu itu...

Semuanya butuh waktu, dan aku yakin kau juga akan membutuhkan itu, perkataan Yesung kembali bergeming dalam pikirannya. Ryeowook menggeleng pelan, ia harus berpikir lebih positif. Ia tidak boleh menyerah semudah itu. semuanya hanya butuh waktu, walaupun ia tidak akan tahu kapan masalah ini selesai. Ya, semuanya berjalan dengan waktu dan Ryeowook yakin perlahan – lahan masalah ini akan segera melunak dan semuanya selesai dengan akhir yang bahagia.

Seketika Ryeowook melihat Heechul mengambil ponselnya kasar dan langsung melemparkannya kedalam tasnya. Sambil membawa banyak dokumen, ia memandang alrojinya sesaat kemudian pergi. "maaf, aku harus pergi. Kunci rumah dan hati – hati," kata Heechul dengan terburu – buru. Ryeowook mengangguk dan mulai meneguk susunya dengan terburu – buru.

"well, aku juga harus pergi~" ia mengambil tas sekolahnya dan mulai berlari keluar rumah.

.

.

.

Sesampainya Ryeowook dihalte, ia hanya berdiri mematung sambil memandang alrojinya kemudian melemparkan pandangannya kearah sekelilingnya–– berharap bahwa Yesung ada disini dan bertemu dengannya seperti kejadian awal saat pertama kali bertemu. Seandainya waktu bisa diulang, mungkin Ryeowook akan langsung mengatakannya perasaannya. Tidak perlu menunggu disaat – saat yang tepat dan tidak perlu menghadapi kenyataan seberat ini. Tidak perlu menanggung resiko, tidak perlu memedam perasaaannya segala... pikiran – pikiran konyol mulai berdatangan seiring berjalannya waktu. Ryeowook harus yakin kepada dirinya bahwa ia sudah sangat TERLAMBAT untuk menyadari semua ini.

Bus datang, dan seperti biasa Ryeowook mengambil tempat duduk didekat jendela–– persis sama seperti ketika ia naik dan langsung bertemu dengan Yesung. Ia kembali menengok kanan kiri, tidak mendapati sosok yang dirindukannya dan menyadari bahwa usahanya telah sia – sia. Ryeowook menyederkan punggungnya dan mendesah. "Aigooo... kenapa tidak bertemu sehari saja sudah seperti ini?" desahnya lemas. Ia memandang layar ponsel dan tidak mendapati e-mail apapun. "bahkan e-mailku tidak dibalasnya," keluhnya kemudian sambil mematikan ponselnya dan menjejalkan disaku jaket yang dikenakannya pagi ini. seperti biasa, Ryeowook terus menikmati perasaannya dengan bosan dan sedikit gundah, itu menandakan bahwa ia sangatlah merindukan laki - laki itu..

"... Halte XX, Halte XX," ––tanpa basa – basi lagi, Ryeowook langsung berjalan menerobos orang – orang sekitarnya dengan langkah terburu – buru. Ia tidak ingin mengharapkan dompetnya jatuh dan bertemu dengan Namja itu lagi. Ia mempercepat langkahnya menuju sekolahnya dan berharap bahwa hari ini tidak akan terjadi apa – apa dengan Namja itu.

Oh, sepertinya ia lupa akan sesuatu. Kkkkk~ (*Author dibacok Ryeowook Oppa*)


Afternoon~~

"ketua, tolong urusi data yang satu ini––––"

"untuk dana Klub Astronomi sudah dikerjakan?"

"bagaimana dengan Klub berkebun? Kami kekurangan dana untuk membeli pupuk dan pot. Tolong diurus sebentar,"

"data keuangan kelas sudah diatur? Hari ini, kita juga akan mengurusi dokumen – dokumen dana sekolah. Tolong diperika sebentar,"

Beginilah dan begitulah~ sebuah dokumen tiada henti – hentinya menumpuk didepan Namja yang sedang memegangi pelipisnya. Keringatnya bercucuran keras. Ia hanya memanggil salah satu asistennya yang hendak pergi keluar dan berbicara, "bisa kita tahan sebentar? Sepertinya saya sudah melampaui batas saya," ucapnya sambil mengelap peluhnya, kemudian beralih lagi kearah dokumen yang sempat ia abaikan beberapa detik yang lalu. "bisa ditunda sampai esok? Kepalaku pusing sekali hari ini,"

"mm... tentu saja," ––sahut si asisten. "tetapi, sebaiknya dikerjakan lebih cepat–– atau tugas kita akan terus menumpuk dan malah memperburuk keadaan,"

"aku mengerti," gumam Yesung pelan. "akan kukerjakan sebaik dan secepat mungkin. Tetapi saat ini, aku hanya ingin beristirahat sebentar... apa kau tidak keberatan?"

"sama sekali tidak," si asisten menampilkan senyum tipis kearahnya, dan meredakan kecemasannya. "bersitirahatlah, sebentar lagi saya akan menyeduhkan teh,"

Yesung mengangguk sekilas lalu mulai bangkit dan kursinya, meregangkan seluh badannya yang terasa begitu tegang dan kesemutan. Ia berjalan kearah kaca jendela besar yang menghadap jalan raya yang dipenuhi mobil yang berseliweran dan beberapa orang atau pasangan yang sedang beralung - alang. Butuh beberapa detik baginya untuk menyadari bahwa ini sudah hampir malam menjemput. Ia memerhatikan alrojinya. Jam 17.49.. oh, sudah berapa lamakah ia bekerja mengurusi dokumen - dokumen sekolah itu? Ia tidak ingat kapan ia bisa sesibuk ini. Tetapi setidaknya ia harus menyempatkan sedikit waktunya dengan gadis itu, Kim Ryeowook.

Kim Ryeowook... pandangan Yesung kembali menerawang. Pikirannya penuh dengan pertanyaan dimana Yeoja itu sekarang dan apa yang sedang ia lakukan. Lagi – lagi Yeoja Innocent itu... Yesung tidak pernah merasa sia – sia telah memikirkannya seharian. Senyumnya, suaranya, tawanya... bagaikan obat penenang dalam kehidupannya. Sama seperti kemarin, setelah ia memeluk Yeoja itu–– rasanya seperti beban kehidupannya terangkat dari badannya–– salah satunya masalah hubungannya dengan Lee Sungmin.

Ia mengigit bibir saat mengingat apa yang sudah dilakukannya kemarin–– atau lebih tepatnya diruang pribadi Ryeowook. Baru ia sadari bahwa ia sudah mengecup pipi Yeoja Innocent itu tanpa kesadaraan dirinya sendiri. Setelah itu apa yang ia lakukan...? ia tidak ingat apapun selain yang satu itu, setidaknya ia juga ingat percakapannya dengan Sungmin kemarin malam. Oh, jangan lupa tentang apa yang dibicarakan Ryeowook dengan kakaknya. ia menyukai Kyuhyun? Menyukai? Pertanyaan itu langsung menghantam pikirannya dan dadanya kembali sesak. Suka...? Oh, tidak... tidak... hal itu tidak boleh terjadi dan tentu saja harus dicegah sebelum semuanya terlambat dan harapannya langsung terbang, menghilang dan lenyap.

Rrrttt~~ ponsel yang dijejalkan disaku seragamnya bergetar. Ia merasa beruntung saat itu karena, bunyi ponsel itu mampu mengusir pikiran negatif yang mendadak memenuhi kepalanya. Saat memandangi layar ponsel, tiba – tiba senyumnya mulai terukir dengan perlahan diwajahnya. Ia menjawab panggilan itu dan menempelkan ponselnya ditelinga kanannya. "Annyeong?" sapa Yesung ragu,

"Annyeong changi~ apa kabarmu?" terdengar suara ceria diujung sana. Siapa lagi kalau bukan Lee Sungmin yang menghubunginya? Ckckck~ dasar Yeoja itu, tidak pernah lepas dari ponsel pinknya hanya untuk menghubungi Namja itu seharian penuh. Baik melalui telepon, SMS, bahkan e-mail... bukankah itu sedikit menganggu?

"ba-baik...," gumam Yesung pelan. kemudian ia berdeham dan disaat yang bersamaan, ia juga menjejalkan sebelah tangannya yang bebas disaku celana. "kau sudah sembuh dari demammu?"

"sudah," jawab Sungmin. "oleh karena itulah aku menghubungimu. Aku ingin mengajakmu makan malam, seperti janjimu kemarin. Bagaimana?" lanjutnya ceria.

"aku tidak bisa," potong Yesung cepat. Ia mengigit bibirnya sambil memerhatikan alrojinya lalu beralih kearah dokumen – dokumen yang menumpuk dimejanya. "aku tidak bisa hari ini...,"

Alis Sungmin mengkerut aneh. "ada apa? Apa kau sudah punya janji dengan yang lain?"

"tidak ada, hanya ada pekerjaanku menumpuk dihari ini," jawab Yesung sambil tersenyum–– tetapi ia menahan senyumnya untuk sampai tidak terdengar sampai disana. Sekarang yang hanya ia lakukan adalah berdoa sebanyak mungkin. Ia berharap bisa bertemu Yeoja itu–– Kim Ryeowook, bukan Lee Sungmin yang hanya sekedar mengukir sejarah cinta kecilnya didalam kenangannya.

Sungmin tertawa renyah, kemudian disusuli dengan suaranya yang khas itu–– terdengar seperti tertawa mengejek dirinya. Yesung hanya bisa merapatkan bibir dan sabar menunggu Yeoja kelinci itu sampai reda dari tawanya yang terdengar terbahak – bahak dan lucu. Tetapi jantungnya berdebar keras, terus memicu cepat sampai – sampai ia sendiri tidak bisa meredakannya. Semoga... semoga... batinnya penuh harap. Ia berharap bahwa Sungmin bisa membaca pikirannya seakarang ini. Sungguh, ia tidak ingin bertemu dengannya dan ia juga benar – benar tidak bisa.

Sungmin menghela nafas dan tersenyum. "kau tahu changi, setiap orang pasti punya batasnya. Dan aku tahu kau pasti sudah kelelahan... datanglah kerumahku untuk sekedar makan malam denganku," ujar Sungmin. "aku memaksamu,"

"tapi...,"

"datanglah, aku memaksamu," ulang Sungmin dengan nada suara yanga agak keras dan memaksa. Tetapi ia tetap memberikan kesan imut-imutnya dalam hal merajuk, suara yang manja–– yang mampu membuat Pria manapun tertarik akan ciri khas dirinya. Sayangnya yang seperti itu tidak akan mempan untuk Namja yang satu ini, dan bodohnya Sungmin tidak menyadari bahwa hal yang dilakukannya selalu akan berakhir dengan sia – sia. Bahkan mungkin tidak ditanggapi sama sekali, kadang – kadang.

Yesung menarik nafas dan mencoba memaksakan senyum sembari meredakan suaranya. Sambil menghela nafas, akhirnya ia menjawa. "ya, aku akan kesana. Tetapi sepertinya, aku agak sedikit terlambat," gumamnya pelan.

"tentu saja, aku pasti akan datang menunggumu," sahut Sungmin cepat sambil tersenyum lebar. "kau akan datang jam berapa?"

"kira – kira jam 18.40. aku akan mencoba untuk menepati waktu," ujar Yesung sambil membuang nafas keras berusaha untuk terlihat tenang dan tidak terdengar kecewa. "lain kali akan kuhubungi kau. Aku harus kembali ke pekerjaanku, Ne," ––buru – buru ia menutup ponselnya sebelum Sungmin kembali menyahuti perkataannya dengan ocehannya itu. kemudian, dijejalkanlah kembali ke saku celananya dan sekarang ia kembali terjerumus dalam masalah ini. Hubungan antara ia dan Sungmin ataupun ia dengan Ryeowook. Yang mana yang menurutnya benar? Ia tidak bisa menjawab pertanyaannya sendiri.

Yesung kembali menghempaskan dirinya pelan dikursi mejanya dan memandangi dokumen – dokumen yang menumpuk menghalangi pandangannya. Seketika ia langsung tersadar bahwa ada secangkir teh mawar yang berbau pekat yang terhidang disamping dokumen miliknya. Tanpa disuruh, ia langsung meneguk teh itu sampai habis dan kemudian terlarut lagi kedalam permasalahannya. Sambil bertopang dagu dan memandang kosong sekelilingnya, pikirannya serasa terhempas dan ia merasa bahwa dirinya amnesia.

Jangan lupa hal itu. Ryeowook menyukai Kyuhyun? Lagi – lagi pikiran dan perasaan negatif mulai mengalir dalam hati kecilnya. Benar, kenapa aku begitu khawatir tentangnya? Batin Yesung ketika ia baru menyadari bahwa ia sangat mencemaskan Yeoja itu dan sangat ingin bertemu dengannya. Sekarang yang didalam pikirannya hanyalah bayangan – bayangan kacau seperti memikirkan sedang apa Ryeowook bersama Kyuhyun sekarang. Pikirannya benar – benar kusut dan kacau. Bahkan sampai mengira Ryeowook berselingkuh-_- hanya saja, pikirannya kembali tersambar bahwa Ryeowook bukanlah seorang Yeoja yang bisa dengan mudahnya menyukai orang lain. Ia masih mempunyai satu point keunggulan dari Kyuhyun dan Yesung bangga akan prestasi itu ._."

Ingat kejadian pada saat ditaman Ria beberapa hari yang lalu? Sekarang ia sedang memikirkan hal itu dan kembali menyadari sesuatu yang aneh. Ketika ia sedang bersama Sungmin, pasti Ryeowook akan terus menempel kepada Kyuhyun seperti lem perekat. Kenapa ia baru sadar sekarang? Sudah pasti Yeoja itu menyukai seseorang yang selalu ada didekatnya dan selalu ada untuknya. Yang paling menyakitkan adalah menghetahui bahwa orang yang dimaksud seperti itu bukanlah dia.

"oh benar, Sungmin mengajakku untuk makan malam," gumamnya sambil mendesah pelan setelah memerhatikan alrojinya. Ia meraih pulpen dan mulai menuliskan catatan kecil lalu disimpan diatas tumpukan dokumen itu dan pergi. Ia harus cepat... tetapi kenapa begitu terburu – buru? Padahal hatinya tidak pernah terpacu kalau bersama Sungmin. Ia pikir. Mungkin akan ada sesuatu yang bagus disana–– begitulah...

Ia langsung mengemudikan mobilnya dan memacu cepat. Sambil mengigit bibir, ia terus mencoba mengontrol pikirannya agar tetap terfokus kepada jalanan. setidaknya ia masih boleh berharap bisa bertemu Ryeowook hari ini... tapi sepertinya tidak mungkin. Benar begitu?


Yeoja itu hanya memandang kosong keluar jendela, memerhatikan setiap orang yang beralung – alang lewat koridor sekolah sembari terus membuang nafas panjang. Pikirannya terasa kosong dan ia merasa ia tidak bisa mengingat apapun sekarang, bahkan kejadian kemarin. Ia sama sekali tidak mengingatnya dan mencoba melupakannya. Tangannya hanya terus bertopang dagu, sementara mulutnya terus dirapatkan. Untuk hari ini saja, ia belum menyapa siapapun dan enggan untuk berbicara. Terutama kepada Sungmin. Tetapi, sangat disayangkan.. doanya tidak terkabulkan untuk hari ini.

"Kim Ryeowoookk!" panggil Sungmin dengan nada yang sok diimut – imutkan. Ia langsung mendekap erat Yeoja bertubuh mungil yang sedang duduk terbengong – bengong, dari belakang. "aku mencari – carimu lhoo~~" serunya kemudian sambil mencubit kedua pipi Ryeowook gemas.

Sementara reaksi yang dilontarkan Ryeowook hanya kaget sebentar lalu mendengus pelan. tetapi ia tetap memasang muka datar tanpa ekspresi, seolah – olah tidak menyadari apa yang sudah terjadi sebelumnya. ia tidak ingat kapan terakhir ia menangis ketika menyadari bahwa ia cemburu? Ayolah Kim Ryeowook, katakan saja padanya bahwa kau amat sangat cemburu mengenai makan malam yang sudah direncanakan Sungmin kemarin. Lalu, kenapa kau bisa mendadak jadi amnesia begitu?-_-

"aissh.. kau selalu saja membuatku terkena serangan jantung secara instan," gerutu Ryeowook sambil mengelus dadanya, mencoba meredakan rasa kaget yang didapatinya tadi sambil mengatur nafasnya yang agak sesak. Ia menarik nafas panjang, lalu memandang Sungmin dengan tatapan datar dan tanpa ekspresi yang begitu menonjol seperti ciri khasnya. "nah, ada perlu apa?" tanyanya tanpa basa – basi lagi.

Sungmin langsung mengatubkan kedua tangannya lalu membungkukkan badannya 45 derajat. "tolong aku~~ malam ini saja, kau harus menemaniku,"

Ryeowook mengerutkan dahi bingung. "menemani?" ulangnya.

"––tentu saja! Hanya kau yang bisa kuandalkan dalam permasalahan ini," sahut Sungmin sambil menunjukkan Aegyo-Facenya yang faktanya memang tidak terlalu mempan untuk anak datar seperti Ryeowook. Sementara Ryeowook sendiri terus merapatkan bibir mungilnya sampai Sungmin kembali membuka mulutnya dan melanjutkan ceritanya. "aku yakin kau pasti bisa. Hanya saja... apa benar kau mau membantuku?"

"tentu. Kenapa tidak?" ujar Ryeowook ringan, sama sekali tidak ada kecurigaan yang tersirat diwajahnya. Bahkan ia tetap memasang wajah datar tanpa beban atau masalah. Ckckck, kau pandai sekali berbohong.

"sungguh?" ulang Sungmin dengan mata berbinar.

"––tentu saja. Kau sahabatku, jadi wajar bila kutolong," gumam Ryeowook lagi, tetap dengan raut wajah datar. Tidak ada sedikit kecemasan dan kecurigaan yang tersirat dimata caramelnya. Ia hanya memandang temannya biasa, tanpa beban apapun. Dan sepertinya dia benar – benar hilang ingatan?-_- sadarlah bahwa kau sedang dipermainkan olehnya, Kim Ryeowook. Nantinya kau pasti akan sakit hati lagi.

Sungmin hanya melirik kearah alroji pink yang melingkar dipergelangan tangan kirinya dan langsung mengangkat tas selempangnya. "aku ingat, aku ada kegiatan klub sore ini," gumamnya terburu – buru sambil memakai jaketnya. "bisa kau tunggu dulu sebentar sampai aku selesai melakukan kegiatan klub? Kau tunggu saja di perpustakaan. Aku sudah menyuruh Kyuhyun untuk tinggal disitu dan menemanimu,"

Ryeowook mengerjapkan mata kaget. "Kyuhyun?" begitu mendengar nama 'Kyuhyun' entah kenapa hatinya kembali tersayat. Tubuhnya mendadak gemetar ketakutan. Ingatannya kembali berpusat kepada kejadian dilorong pada saat jam makan siang kemarin. Nah, kau sudah sadar 'kan bahwa kau akan membantu temanmu sendiri untuk membuat sukses rencana makan malamnya? Melihat orang yang kau sukai makan malam dengan sahabatmu sendiri? Sementara kau hanya bisa berdiam diri dan memandang hampa mereka berdua dengan air mata yang tergenang. Ryeowook tidak ingin semua itu terjadi, tetapi ia terlanjur setuju. Dan Sungmin... adalah seseorang yang sangat sulit ia tolak.

Ia langsung mencengkram tangan kanannya dengan tangannya yang bebas. Ia langsung mengalihkan pandangan kesana-kemari mencoba mencari – cari alasan. Hanya saja otaknya mendadak kosong sehingga mampu membuat dirinya tidak bisa berkata apa – apa lagi.

Tapi terlambat, lengan kirinya kini sudah ditarik dan tubuhnya pun ikut tereseret keluar kelas bahkan sampai didepan ruang perpustakaan yang terkesan begitu sepi dan sunyi. Ia kembali terkaget – kaget ketika mendapati Kyuhyun yang sudah menunggu diambang pintu sambil melipat tangannya dan memasang raut wajah kesal. Tetapi begitu bertemu dengan Sungmin, mendadak wajahnya menjadi gentle. Dasar manusia berwajah dua-_- *dibacok Kyu*

Begitu sampai, Sungmin langsung merangkul lengan Kyuhyun dengan manja. Ia mulai tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi kelincinya yang putih bersih sembari memandang kedua mata caramel Kyuhyun dalam. "kuharap kau tidak keberatan jika aku menitipkan temanku disini. lagipula, dia juga akan ikut makan malam denganku kok," ucapnya manja.

Kyuhyun mendengus pelan. "bahkan kau tidak menyapaku begitu bertemu denganku. Yah, apapun," gerutunya sambil memandang Ryeowook. "terserah kau saja," lanjutnya sambil memaksakan seulas senyum. Walaupun itu nyatanya susah untuk dilakukan, apalagi saat sedang menahan emosi

"yaa lagipula aku ada kegiatan klub sore ini. Mana mungkin aku mengajaknya," desis Sungmin kesal. Ia membungkam sebelah pipinya lalu menjulurkan lidah kesal. "lagipula kau 'kan dekat dengannya. Temanilah dia sebentar dan setelah itu kau bisa pulang rumahmu yang penuh dengan miliyaran game didalamnya,"

"siapa bilang aku akan pulang? ––tentu saja aku akan ikut dengannya," ucap Kyuhyun sambil merangkul pndak Ryeowook. "demi kesuksesan malam malammu," balasnya seraya menjulurkan lidah, bermaksud untuk meledek balik.

"apa?" Sungmin melotot mendengar perkataan Kyuhyun. Ia langsung mengalihkan pandangannya kearah Ryeowook dengan tatapan bingung. "apa maksudnya kau ikut campur dalam urusan pribadiku? Lagipula aku hanya mengajak Ryeowook. Dan kau, sama sekali tidak bisa membantu,"

"setidaknya aku bisa menemaninya sampai acara makan malammu selesai," gerutu Kyuhyun sambil melepas rangkulannya dan berbalik menghadap Sungmin yang masih memberikan deathglare dan tatapan tidak percaya kepadanya. "kau mau membiarkan dia sendirian? Memandangimu yang sedang bersenang – senang berdua, mungkin hanya itu yang bisa dilakukan setelah membantumu. Dan kau rela membiarkannya kesepian?" lanjut Kyuhyun dengan nada suara yang menjadi – jadi.

Sungmin kembali mengalihkan pandangannya kearah Ryeowook dan bertanya, "benar.. kau akan seperti itu nantinya?" tanyanya prihatin.

Ryeowook memutar mata. "sepertinya begitu," ucapnya sambil memaksakan senyum tipis. "tapi aku akan baik – baik saja selama kau dan Yesung bersenang – senang. Mungkin... mungkin...,"

"nah kau dengar sendiri 'kan jawabannya?" lanjut Kyuhyun memanas – manasi.

"aku paham tentangnya dan jangan terus berbicara yang tidak – tidak!" gerutu Sungmin. "yah, kau boleh ikut dalam acara ini. Tetapi ingat–– tidak menganggu ne? Kau hanya boleh menemani Wookie. Kasihan juga kalau dibiarkan sendirian," ujar Sungmin sambil berjalan kearah Ryeowook dan mendekapnya. "maaf ya Wookie,"

Kyuhyun memutar mata jengkel dan langsung menarik Sungmin yang sebenarnya ingin mendekap Ryeowook lebih lama. "baik, baik nona Lee... sebaiknya kau urusi dulu kegiatan klub-mu lalu kau boleh memeluknya sampai ia merasa tercekik seperti itu,"

"apapun," Sungmin melepas pelukannya dan kembali memberikan deathglare kepada Kyuhyun. Kemudian ia berbalik sembari melambaikan tangan, meninggalkan mereka berdua. "nanti akan kuhubungi begitu aku selesai dari klub. Tak akan lama kok,"

"ya... ya...," sahut Ryeowook lemas.

Setelah sosok Sungmin menghilang dari pandangan mereka, buru – buru Kyuhyun langsung menyeret Ryeowook masuk kedalam perpustakaan yang memang sedang sepi. Hanya ada mereka berdua diruangan yang sunyi dan hampa ini, itulah yang membuat Ryeowook sedikit gugup. Suasana yang amat sangat cagung yang baru saja ia alami, membuatnya tidak terbiasa. Setelah dipersilahkan duduk disalah satu bangku, Kyuhyun langsung menyodorkan teh lalu duduk dihadapan Ryeowook sambil bertopang dagu.

"Gomawo...," gumam Ryeowook sambil menyeruput tehnya. Kyuhyun hanya terdiam kemudian mengangguk singkat. Dan selanjutnya, mereka berdua tenggelam dalam kehanyutan selama beberapa menit kemudian.

Ryeowook terdiam, kepalanya kembali terhanyut dalam masalah pribadinya. Ingat apa yang dikatakan Heechul tadi pagi? Itu seperti... dirinya, Sungmin dan Yesung. Bagaimana bila nyatanya ia memang merebut Yesung dari Sungmin? Dan apa yang harus ia lakukan untuk menjelaskan hubungannya dengan Yesung? Ia terlalu pusing memikirkannya sampai – sampai wajahnya terlihat begitu lesu. Ya, dia sangat takut menghadapi kenyataan. Tetapi, ia tidak ingin menghentikan perasaannya. Ryeowook memang sudah bertekad untuk meneruskannya sampai ia mendapatkan jawaban yang jelas dari Yesung. Tapi...

"...tapi?" ucap Kyuhyun pelan sambil terus memandang Ryeowook seakan – akan bisa membaca pikirannya. Ia langsung menyenderkan punggungnya dan kembali menatap mata Ryeowook lekat – lekat dengan tatapan yang kurang meyakinkan. "kau ingin menundanya? Padahal kau sudah terlanjur berjanj," lanjutnya sambil tersenyum mencurigakan.

Ryeowook mendadak tertunduk, mencoba mengalihkan pandangannya dari tatapan maut Kyuhyun. "sebaiknya, kita tunda saja... rencana kemarin yang kau bicarakan itu," gumam Ryeowook pelan dan dengan nada yang kurang meyakinkan. ia kembali memandang Kyuhyun takut dan mulai melanjutkan perkataannya tadi, "aku takut. Terlalu takut. Aku juga khawatir kalau Sungmin tahu akan persoalan ini. Mungkin aku juga akan dibenci olehnya,"

Sebelum Kyuhyun menjawab, buru – buru Ryeowook menambahkannya. "tadi pagi, kakakku bilang bahwa seorang sahabat yang merebut pacarnya adalah seorang pengkhianat. Aku juga sering bertanya – tanya kepada diriku sendiri bahwa aku... seorang pengkhianat? Bagaimana bila, Sungmin tahu soal ini dan ia akan marah besar kepadaku. jujur, aku takut dan tidak mau hal itu terjadi," Ia menarik nafas panjang untuk mengambil nafas dan mulai mengigit bibirnya kuat – kuat, menahan dirinya untuk tidak menangis dihadapan Kyuhyun. "tetapi, aku tidak bisa menahan diriku sendiri...,"

"tidak ada yang perlu dikhawatirkan," potong Kyuhyun sambil tersenyum tipis, mencoba meredakan kegelisahan Ryeowook. "sejak awal, aku juga sudah menduga bahwa hubungan ini salah. Yang seharusnya menjadi jodoh yang ditakdirkan itu aku," ia menarik nafas dalam dan kembali melanjutkan perkataannya tadi. "aku. Sejak kecil, aku pernah bertemu dengannya untuk yang pertama kalinya.. selama tiga kali berturut – turut,"

"... tiga kali berturut – turut," gumam Ryeowook sambil mencoba mengingat – ingat. Sebelumnya ia sempat merasa cengo duluan karena masih agak bingung dengan perkataan Kyuhyun tadi. "ah, rumor yang itu," lanjutnya sambil tersenyum lebar.

"Kau akan bertemu jodohmu dengan takdir yang sama. Kalau kau kebetulan bertemu dengannya, melebihi 3 kali dalam satu hari, maka... dialah jodohmu.. Itulah Takdir.." kata Kyuhyun sambil tersenyum lebar. "aku yakin, bahwa dia akan bersamaku nanti. Walaupun aku tidak tahu kapan ia akan sadar tentang hal itu tetapi aku juga akan menunggu. Kau tahu 'kan... semuanya butuh waktu, dan aku yakin kau juga akan membutuhkan itu,"

"Yesung Oppa juga berkata seperti itu kepadaku," kata Ryeowook. "dia bilang, ia memintaku untuk menunggu sampai dia bisa memberikan jawabannya. Entah harus berapa lama aku menunggu, aku akan melakukannya,"

Kyuhyun bangkit dari duduknya dan langsung mencondongkan badannya untuk membelai rambut panjang Ryeowook. "yah, kau memang harus berusaha keras. Aku juga sudah berjanji akan membantumu menyelesaikan ini semua," ucap Kyuhyun sambil mengalihkan pandangannya kemudian berdehem pelan.

"Kau takut?"

"ya, aku takut. Sangat takut," jawab Ryeowook seraya menundukkan kepalanya. Terlalu gugup untuk memandang wajah Kyuhyun yang terlihat begitu serius dengan pertanyaannya. Buru – buru ia menambahkan sebelum Kyuhyun memperburuk keadaan. "mungkin cepat atau lambat, Sungmin akan menyadari hal ini. Aku yakin itu,"

"aku pernah mendengar, jika kau ingin berbohong maka kau menerima semua resikonya," Ryeowook menghela nafas panjang. "aku takut menerima resiko sekecil apapun. Kyu, aku takut,"

"tidak pernahkah kau merasa dibohongi? Terlebih lagi tentang sahabatmu sendiri. Satu – satunya hal yang pantas untukku adalah kata 'pengkhianat'" Ryeowook tersenyum masam mengatakannya. Ia mulai menatap Kyuhyun dengan mata berkaca – kaca. Wajahnya bersemu merah padam, menyatakan bahwa ia sedang berusaha keras untuk menahan tangisnya yang sudah meluap – luap didalam batinnya. "aku bukan orang yang baik. Lihat? Bahkan aku mengingkari janjiku sendiri,"

Kyuhyun mencoba menyela. "Wookie, dengarkan aku dulu...," sahutnya mencoba mengerti. Ia mencondongkan badannya kembali untuk mendekati Ryeowook dan membelai rambut Yeoja itu. Tetapi Ryeowook malah merespon menjauh, entah kenapa perasaan takut mulai terkumpul dihatinya dan mendadak tiba – tiba ia memang memutuskan untuk pergi dari ruangan itu, segera. Atau air mata ini akan tumpah. Hal ini memang tidak diprediksikannya. tetapi bagaimanapun, Ryeowook tidak bisa menahan dirinya lagi untuk menangis..

"Wookie," panggil Kyuhyun lembut, mencoba untuk mencairkan suasana tegang yang mengelilingi mereka berdua. Sekali lagi ia gagal, tetapi itu tidak membuat Namja itu menyerah untuk menggapai lengan Ryeowook dan mencoba untuk menenangkannya. Dan lagi – lagi Ryeowook menghindar darinya dan nyaris membuat Kyuhyun putus asa.

Kali ini Ryeowook tersenyum pahit menahan tangisnya. Ia menarik nafas panjang dan berkata, "jadi sebaiknya aku hentikan saja semuanya," gumamnya dengan suara serak, seperti berbisik. Kyuhyun hanya membulatkan matanya tidak percaya mendengar ucapan Ryeowook tadi. Mustahil baginya mendengar Yeoja yang selama ini ia kenal, tiba – tiba saja menyerah karena hal sepele.

Ryeowook langsung berlari meninggalkan Kyuhyun dengan tergesa – gesa. Tetapi Namja itu berhasil menggapai lengan tangannya dan menarik Ryeowook, mencoba untuk tidak melepaskannya. Sementara Ryeowook, ia hanya terdiam dengan wajah penuh amarah dan sebutir air mata kembali bergulir dipipinya. Mata caramelnya menatap dalam mata Kyuhyun dan terdapat sedikit kilat – kilat amarah dimatanya. "apa? Sudah kubilang, aku akan menghentikan semuanya sebelum Sungmin menyadari semua ini! Kumohon, jangan halangi aku," ucapnya sambil memberontak dari Kyuhyun. Berkali – kali ia melawan, tetapi akhirnya ia gagal dan tubuhnya mendadak lemas. "kumohon Kyu... kumohon...,"

Namja itu hanya mengigit bibir dan otaknya mulai berputar keras, mencoba mencari – cari solusi untuk pertanyaan yang sangat-amat rumit ini. Ia bisa merasakan bahwa tubuh Ryeowook semakin lemas dan perlahan – lahan tubuhnya pun merosot. Kyuhyun mulai merangkulnya, mencoba untuk membantunya berdiri. "ayo, kubantu kau berdiri dan kita bicara pelan – pelan soal ini," bujuk Kyuhyun mencoba mengerti.

"kumohon Kyu... tinggalkan aku sendiri. Jangan menghalangiku," bisik Ryeowook. Kini tubuhnya mulai bersandar sepenuhnya dipundak Kyuhyun. Terlalu lemas untuk berdiri. Ia membiarkan tubuhnya perlahan – lahan merosot dan mulai kembali menangis.

Dengan cepat Kyuhyun mulai membantunya berdiri dan langsung mencengkram pundak Ryeowook pelan. "jadi kau menyerah begitu saja?" tanyanya dengan nada kurang meyakinkan. "lalu, apa yang akan kau katakan bila bertemu dengannya nanti?"

"aku... tidak tahu," tutur Ryeowook sembari menunduk.

"dan aku sudah terlanjur berjanji kepadamu untuk membantumu sampai akhir," sergah Kyuhyun yang masih mencoba untuk mengontrol emosi. "aku juga mempunyai target-ku sendiri. Dan sudah kuputuskan akan mencoba memehuninya,"

"kita berdua adalah orang yang sama – sama dicampakkan hanya karena satu hubungan kecil," ucap Kyuhyun sembari mengelus – elus punggung Yeoja itu, memintanya untuk tetap tenang. "kau harus paham posisimu sekarang dan juga kau harus tahu tentang hal ini,"

"Oppa...,"

.

.

.

Seorang Yeoja berambut cokelat yang engah berjalan – jalan disekeliling koridor mulai mendapati rasa bosan. Ia berbelok kearah kanan dan mendapati ruangan perpustakaan yang memang terlihat begitu sepi. Dengan perlahan ia mulai menggeser pintu dan masuk ke perpustakaan.

Ia sudah menyelusuri rak – rak buku tetapi tidak ada yang bisa menarik perhatiannya. Tetapi hingga akhirnya ia bisa mendengar seorang anak perempuan menangis... spontan ia berlari kearah sumber suara itu, tetapi langkahnya langsung tertahan begitu melihat sesuatu yang ia tidak sukai.

"lho... itu 'kan, Kyuhyun Oppa?" gumam Yeoja itu sambil memerhatikan mereka berdua dengan saksama. "lalu siapa Yeoja yang satu itu?"

Buru – buru ia merogoh ponselnya dan memotret foto Kyuhyun dan Ryeowook yang engah berpelukan. Kemudian ia terkikik geli dan dengan santainya ia langsung melangkahkan kakinya keluar perpustakaan sambil tersenyum – senyum mencurigakan.

"hmm... hal ini harus kuberitahu kepada Sungmin-noona dan kekasihnya, hihi,"


((Skip TIME! ^^))

Pintu perpustakaan dibuka dan tibalah Sungmin. Dengan terpogoh – pogoh ia mulai menyelusuri tiap – tiap rak buku, mencoba mencari – cari sosok Ryeowook. Sambil terus mendesis kesal, akhirnya ia mulai melangkahkan kakinya kearah pojok ruangan dan menemukan sosok gadis kecil yang engah terlelap dengan diselimuti jaket berwarna biru–– Sungmin mengenali jaket itu, itu milik Kyuhyun. Jadi sudah Yeoja yang engah terlelap ini adalah Ryeowook. Sungmin hanya bisa menggeleng – gelengkan kepala melihatnya. Apa karena ia terlalu bosan menungguku jadi ia terlelap? Batinnya dengan dahi berkerut. Pfft... dasar pemalas!

Ia mendekatkan wajahnya dan langsung menarik nafas panjang. "Banguunn pemalas! Bangun!" gerutunya setengah berteriak ditelinga kanan Ryeowook. Sementara kedua tangannya langsung mencengkram kedua bahu Ryeowook kasar, mengguncang – guncangkan tubuh Ryeowook bahkan ia nyaris mencubit lengan kanannya kalau Ryeowook tidak kembali dari dunia Mimpi singkatnya.

Beberapa detik kemudian setelah Sungmin berteriak, Ryeowook terbangun sambil mengerjapkan matanya beberapa kali. Tangan kanannya mencoba meraba – raba dadanya, meredakan detak jantungnya yang kini terdengar berlomba – lomba dan tak berirama. Nafasnya langsung terengah – engah. Ryeowook mengadah kekanan dan memandang Sungmin dengan mata terbelalak. "kau... apa?" gumamnya kaget.

"cepat bangun! Kita sudah sangat terlambat," gerutu Sungmin sambil melipat lengannya. Ia mengadah kearah jendela dan mulai memerhatikan bayang – bayang matahari yang sudah hampir tenggelam sepenuhnya. "hei, Wookie...,"

Ryeowook hanya terdiam melamun sambil mencengkram erat jaket Kyuhyun yang sudah ia lipat, memandang kosong didepannya. Entah apa yang ia pikirkan, semuanya terasa kosong. Tidak ada yang bisa ia ingat, tetapi ia juga tak yakin bahwa ia sudah hilang ingatan. "Kyu...," panggilnya pelan.

Sungmin hanya mengerjapkan mata dua kali mendengarnya. Ia langsung mengibas – ngibaskan tangan kanannya didepan wajah Ryeowook sembari berkata, "halo... nona Kim, kita harus pergi sekarang atau acara makan malamku akan berantakan!"

"oh, benar! Acara makan malammu," ujar Ryeowook yang sudah sadar dari lamunannya buru – buru ia mengambil ponselnya yang tadinya ia berniat ingin menghubungi Kyuhyun. Tetapi ponselnya langsung direbut oleh Sungmin dan lagi – lagi Yeoja itu memasang wajah masam kepada Ryeowook. "apa?" tanya Ryeowook dengan polos.

Sungmin mendesis. "cepatlah! Kita sudah sangat terlambat dan kau tidak perlu menghubungi Kyuhyun,"

"tapi... tapi...,"

"jadi kalian berniat meninggalkanku sendirian, diruangan yang membosankan ini?" gerutu Kyuhyun yang kini sedang berdiri dibelakang Sungmin dengan aura deathglare yang menyebar dimana – mana.

Ryeowook hanya membungkam mulut, hanya bisa menyaksikan antara pertengkaran kedua sahabatnya sedangkan ia sendiri terpaksa harus dibuat menunggu. Ia tidak bisa ikut campur, ia selalu menahan dirinya untuk tidak ikut campur walaupun sebenarnya ia ingin sekali bercanda dan sekali – kali bertengkar seperti itu. Tangannya mencengkram jaket Kyuhyun erat- erat, dan pikirannya kembali berpusat kepada acara makan malam yang tak lama lagi akan dilaksanakan. Sebelumnya ia sudah bulat akan melakukan rencana yang sudah direncanakan Kyuhyun. Dan ia harus positif yakin bahwa rencana itu akan berhasil tanpa diketahui Sungmin. Lagipula, Kyuhyun sudah berjanji akan menangani Sungmin... so, tidak ada yang perlu dikhawatirkan 'kan?

Tanpa basa – basi lagi, Sungmin langsung menarik lengan Ryeowook pergi dengannya. Bersama – sama mereka berlari – lari pelan menuruni tangga, keluar sekolah dan semakin cepat menuju halte. sementara Kyuhyun, dengan santainya ia mulai berjalan menyusul dibelakang dan hanya bisa tertawa mengenai Ryeowook yang nyatanya memang terlalu lemah untuk berolah raga. Hampir disetiap saat kakinya tersekat oleh kerikil kecil dan nyaris jatuh sebelum Kyuhyun menarik lengannya. Tetapi Ryeowook bersikeras untuk kembali berlari menyusul Sungmin.

"kau terlihat begitu terburu – buru? 'kan masih ada waktu," gumam Ryeowook sambil terengah – engah. Ia melepas cengkraman tangan Sungmin dengan raut wajah bingung. Sekali lagi Ryeowook menarik nafas panjang, mencoba mengatur nafas dan irama detak jatungnya yang terlihat tak beraturan. "tenang, pelan-pelan saja...," pintanya kemudian.

Sungmin memandangnya dengan alis berkerut. "kita sudah sangat terlambat," gerutunya sambil memandang layar ponselnya. "aku tahu, ini kesalahanku karena terlalu lama berada di klub. Tapi, aku belum menyiapkan makan malam untuk hari ini. Aku lupa itu," lanjutnya sambil tersenyum lebar cengar - cengir menutupi kesalahannya.

Ryeowook melotot. "apa?" gumamnya kaget. "lalu, kau ingin membuat apa?"

"curry," sahut Sungmin sambil mengedipkan sebelah matanya. "Oppa sangat suka curry. Makanya hari ini aku akan mengundangnya,"

"apapun," gerutu Ryeowook mencoba menutupi rasa cemburunya dengan berpura – pura tidak memerhatikannya. Ia menjejalkan kedua tangannya disaku jaket ungu yang dikenakannya dan memandang Sungmin dengan alis terangkat. "dan aku bertanya – tanya, apa kau bisa membuat curry?" tanya Ryeowook dengan nada mengejek, mencoba untuk meremehkan Sungmin ~yah, sekali – kali gitu ._.

Sesaat, Sungmin bisa merasakan wajahnya memanas setelah mendapat ejekan dari Ryeowook yang berkesan dalam. Tetapi ia buru – buru menyingkirkan rona merahnya dengan senyum lebar yang menandakan bahwa dia tidak tahu tentang apapun dan berpura – pura tidak menyadari perkataan. Ryeowook tadi. "oleh karena itulah aku memintamu untuk ikut kerumahku. Aku tidak begitu pandai membuat curry, jadi aku tidak ingin mengacaukan makan malamku hanya karena masakanku tidak pantas untuk dicicipi apalagi dijadikan menu utama,"

"ya, aku tahu itu," kata Ryeowook akhirnya menyerah. Ia memutar matanya dan mulai berjalan mendahului Sungmin.

Ia memandang alroji yang ada dipergelangan tangan kanannya dan mendesah.. sebentar lagi ia akan menerima ujian yang agak berat dan ia tetap harus bertahan... persis seperti apa yang dikatakan Kyuhyun. Posisinya saat ini benar- benar serba salah, dan terlalu banyak menanggung resiko sendirian. Tetapi yang membuat kagum Kyuhyun, Ryeowook tetap bijak ingin melanjutkan perasaannya walaupun ia akan tersakiti lagi dan lagi~~ oh, ya.. dia lebih tidak tahan melihat Ryeowook menangis dibandingkan dengan Sungmin. Terkadang, Yeoja itu sering menyiksa perasaannya sendiri dan bersikeras untuk melanjutkannya dengan jalannya sendiri.

Ryeowook berjalan pelan sambil memandang bayangan dirinya sendiri yang ada ditanah. Lagi – lagi ia membuang nafas panjang dan mulai mempercepat langkahnya. Aku tidak kuat... batinnya kemudian mengadahkan kepalanya, memandang langit – langit sore dengan perpaduan warna jingga dan oranye yang terkesan hangat. Aku juga... bukan orang yang baik...

Yeoja itu kini menengok kebelakang dan memerhatikan Sungmin yang kini berjalan beriringan dengan Kyuhyun disertai tawa dan canda. Ia mengigit bibir kesal kemudian berbalik, berjalan mendahului mereka.

Aku juga... bukan orang yang baik

Karena aku sama sekali tidak mendukung hubunganmu dengan Yesung Oppa...


Ryeowook PROV

Begitu sampai didepan rumah nona Lee yang bagaikan istana yang benar – benar besar dan megah ini, aku hanya bisa menarik nafas panjang. Ketika pintu gerbang mulai terbuka lebar, Sungmin masuk bersama Kyuhyun. Sementara aku masih saja terdiam membatu, memikirkan apa yang sebaiknya nanti kulakukan ketika aku bertemu dengan Yesung Oppa. Aku mengadah, memandang langit yang sudah hampir malam–– membayangkan kembali diriku saat sedang berada ditaman... kemudian diajak pergi mengunjungi caffee dan untuk pertama kalinya aku mencicipi Turffle.. benar – benar kenangan yang tak bisa dilupakan.

Dengan ragu aku melangkahkan kakiku masuk. Aku percaya, bahwa hari ini juga... aku akan mendapat perlakuan yang lebih baik daripada Sungmin. Aku yakin itu. Sebelumnya aku juga sudah sadar, Yesung Oppa hanya bersandiwara dihadapan Sungmin. Perasaan yang sebenarnya hanya untukku seorang... awalnya aku tidak percaya dengan hal seperti itu, tetapi Kyuhyun terus menekanku untuk mempercayai kata – katanya. Setidaknya akan selalu kuingat ketika aku mulai cemburu dibalik tirai.. Yesung Oppa hanya bersandiwara ria. Yang dia lakukan sebenarnya tidak ada arti apa – apa. Benar 'kan?

Kyuhyun dan Sungmin langsung melangkahkan kakinya masuk keruang makan yang memang dekat dengan dapur, hanya dipisahkan oleh tembok kecil. Aku menarik kursi meja makan dan mulai melemparkan pandanganku kearah sekeliling. "seperti biasa, kesannya selalu mewah," kagumku sambil memaksakan senyum. "putri dari direktur utama Lee memang hebat," pujiku lagi yang memang bermaksud mengejek? Ah, tidak... sebenarnya aku tidak berniat mengatakan itu. Tetapi, aku tidak bisa mengunci mulutku dengan baik.

"jangan melebih – lebihkan," gurau Sungmin. Kini yang tertunduk dan tersipu malu setelah mendengar pujian dariku. Kemudian ia bangkit dari kursinya dan memandangku dan Kyuhyun secara bergantian. "aku tidak punya waktu untuk membantumu membuatkan Curry. Wookie, kau bisa menangani ini sendirian 'kan?" tanyanya ragu.

Aku tersenyum singkat. "tentu," jawabku pendek.

"Kyu, kau juga harus membantuku," ucap Sungmin sambil mengatubkan kedua tangannya dan membungkuk 45 derajat. "ayolah~~ hanya kau yang benar – benar diandalkan soal 'itu'"

Aku langsung mengerjapkan mata mendengarnya. Apa yang dimaksud... soal itu? Gezz, Yeoja ini selalu membuatku penasaran saja. Dan sepertinya ia menrencanakan sesuatu. Aku hanya bisa memandang mereka berdua sambil bertopang dagu dan sesekali mendegus. Cuih, sepertinya aku diacuhkan-_-"

"kau ingin dibantu olehku 'soal itu'" dahi Kyuhyun berkerut dan wajahnya menandakan bahwa ia tidak senang. Sungmin buru – buru mengangguk dan langsung merangkul lengan Kyuhyun sebelum Namja itu melanjutkan perkataannya tadi. Ia langsung membawa Namja itu kelantai dua, atau lebih tepatnya kamarnya. Sedangkan aku ditinggal sendirian~ well, aku juga punya pekerjaan. Dan lihat saja, aku ingin mendengar Oppa memuji masakanku enak. Aku bertekad seperti itu.

.

.

.

.

Selama aku terlarut dalam pekerjaanku sendiri, aku bisa mendengar suara kegaduhan dari lantai dua. Berupa suara Kyuhyun dan Sungmin yang sedang bertengkar, atau bahasa gaulnya 'adu bacot'. Jujur aku memang agak terganggu dengan hal ini sampai jari kelingking dan jari tengahku teriris pisau. Aku jadi tidak bisa berkonsentrasi. Apalagi aku juga harus mengiris sambil memerhatikan rebusan. Kalau terlalu gosong, sudah dijamin hasilnya akan sangat mengecewakan. Aku tidak mau masak dua kali, dan lagipula... bahan – bahannya sangat terbatas. Sebenarnya untuk memasak curry dibutuhkan dua orang. Tetapi aku cukup diandalkan sendirian... hah, lagi – lagi pekerjaan merepotkan kembali membebaniku. Sama seperti dirumah menjelang makan malam, namun dengan suasana yang sangat berbeda.

Aku menghela nafas panjang. Kira – kira... seperti apa makan malam mereka nanti? Apa akan dilaksanakan dibalkon untuk menambah kesan romantis? Atau... ini hanya makan malam biasa? Tetapi, biasanya Sungmin selalu mendramatisir disetiap keadaan. Ia selalu ingin yang terbaik, yang spesial dan khusus untuknya. Maka sebaliknya, ia juga akan memberikan yang terbaik untuk siapapun yang berhasil membuatnya senang. Kuharap, aku juga bisa menjadi orang seperti dia...

"Kyu! Pelan – pelan dong," sayup – sayup aku bisa mendengar bunyi langkah sepatu dari lantai dua dan gerutu Sungmin. Kemudian disusul dengan omelan yang terlontar dari mulut Kyuhyun.

"dasar lamban! Kenapa kau harus memakai yang seperti ini sih?" omel Kyuhyun. "diam bawel! Jangan menggerutu terus. Aku juga jadi susah berkat kau!"

"sepertinya kau benar – benar tidak berniat membantuku ya?"

"cerewet! Lanjutkan saja jalannya!"

Aku kembali memfokuskan diriku kepada curry-ku. Aku mengambil sendok teh dan mengambil sedikit curry itu hanya untuk mencicipinya. "sempurna," kataku kepada diriku sendiri. Aku mematikan kompor dan menyendok nasi untuk kami berempat. Setelah itu, aku buat fruits cocktail dengan bahan dasar soda dan buah – buahan. Selain enak, minuman ini juga bisa dibuat dan dinikmati kapan saja~ jadi tidak terlalu menghabiskan waktu.

Kini, aku hanya menunggu Kyuhyun diruang makan. Aku duduk sambil melipat lututku sambil memandang alroji yang sengaja kulepaskan dan kusimpan diatas meja. Detik demi detik berlalu... waktunya semakin dekat... aku hanya bisa terus mendesah dan mengeluh menghadapinya. Dan, aku... belum siap menghadapinya. Terlalu berat,

Ting... tong... ting... tong... ––suara bel berbunyi. Dan disusul dengan suara langkah sepatu yang terdengar terburu – buru. Itu Sungmin, ia akan membukakan pintu untuk Yesung Oppa. Spontan aku langsung berlari kearah dapur dan mulai menata meja makan. Setelah selesai, aku hanya membawa nampan diam – diam keatas. Aku merasa begitu was-was.. takut menyadari bahwa Yesung Oppa ada disini dan melihatku melakukan tindakan seperti ini (?).

Langkahku terpaksa harus tertahan didapur karena Sungmin sudah terlanjur mengiring Yesung keruang makan yang sudah dihias. Aku memberi aba – aba kepada Sungmin dan sekarang ia berjalan mendekatiku dengan raut wajah masam.

"apa yang kau lakukan Wookie?" tanyanya sambil memerhatikanku dengan dahi berkerut. "bukankah kau sudah berada dilantas atas, dibalkon dengan Kyuhyun? Kenapa masih disini?"

"e...ee... sebenarny aku langsung berhenti karena tamunya sudah datang," jawabku gugup. "y-yaah.. aku takut merusak suasana. Karena bingung apa yang harus kulakukan, jadi aku memanggilmu kesini,"

Sungmin menarik nafas panjang. Ia berjalan memutariku dan mendorong pundakku pelan dari belakang. "jalan saja. Aku yakin dia tidak akan mengenalimu," sergahnya kemudian. "lagipula, kalian baru pertama kali bertemu 'kan? Dia tidak akan menyadari hal ini... percayalah kepadaku,"

Aku bisa merasakan jantungku kembali berdetak kencang setelah mendengar perkataan dari Sungmin. Apa maksudnya? Berjalan melewatinya dihadapannya begitu saja? Aku takut dia menyadariku. Dan lagi – lagi aku membohongi Sungmin... aku sudah berkali – kali bertemu dengannya, mungkin lebih sering daripada ia bertemu dengan Sungmin. Dan sudah pasti dia akan mengenaliku, sejelek apapun penampilanku. Dan lagi... aku tak bisa menghindar darinya. Dari tatapan matanya yang begitu menghayutkan. Setiap kali ia menatapku lembut dengan senyuman, biasanya aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluknya. Tetapi kali ini berbeda dan aku harus paham situasi yang ada atau...hubungan kami yang sembunyi – sembunyi akan ketahuan.

Sungmin tersenyum kepadaku sambil mengacungkan jempol kepadaku. Senyumnya makin melebar begitu melihat situasi yang memang ia idam – idamkan selama ini. Ia menepuk kepalaku pelan dan kembali memujiku. "kerja bagus. Aku bangga mempunyai sahabat sepertimu Wookie," pujinya sekali lagi sambil mendekapku dari belakang. "nanti... pasti aku akan mengembalikannya kepadamu. Aku janji itu,"

Entah kenapa dadaku semakin sakit mendengarnya.. Sungmin, jangan berkata hal sebaik itu kepadaku. Aku terus meneriakkan diriku bahwa aku adalah orang jahat... aku sama sekali tidak mendukung hubungan kalian berdua. Dan aku terus membohongimu, soal Yesung Oppa... dan semua perasaan yang kupendam ini. Aku memejamkan mata pelan sambil membuang nafas berat. Aku harus tahan...

Sungmin melepas pelukannya dan kembali tersenyum ceria kepadaku. "ayo, Kyuhyun sudah menunggu diatas. Oh ya, nanti aku juga akan mengundangmu untuk reuni kita setelah ditaman Ria kemarin. Tetapi kau harus bersabar ne?" katanya sambil mencubit pipiku pelan.

Aku hanya bisa mengangguk pelan. "ne, gomawo Sungmin...," kataku sambil tersenyum seadanya.

Perlahan, aku bisa merasakan bahwa tubuhku gemetaran ketakutan. Ya, aku takut.. terlalu takut berhadapan dengan Yesung Oppa. Bagaimana bila ia mengenalku dihadapan Sungmin? Aku terus berdoa dalam hatiku semoga saja ia tahu hubungan persahabatan baikku dengan Sungmin. Semoga dia paham situasi yang memang sangat kubenci ini. Semoga dia juga bisa mengatasi ini berdua denganku tanpa diketahui Sungmin. Aigoo.. kelihatannya aku terlalu banyak berharap malam ini-_-" setidaknya salah satu dari semua harapan yang sudah kusebut – sebut dikabulkan. Semoga saja,

Dengan langkah berat, akhirnya aku mencoba untuk bersikap biasa. Dengan agak sedikit gemetaran akhirnya aku berjalan dihadapannya dengan malu – malu. Dan spontan, aku langsung mengadah menatapnya sambil tersenyum tipis. Tunggu... apa – apaan ini? Dan sekarang, kedua mata Sungmin memandangku bingung penuh tanda tanya.

Aku terus memikirkan kata – kata apa yang sebaiknya aku katakan tetapi mulutku terlanjur menyapanya. "annyeong, Yesung-sshi," sapaku sambil melambaikan tangan kananku. Yap, setidaknya aku memanggilnya dengan sebutan '––sshi' dan bukan '—Oppa'. Sekarang Otakku berputar keras mencoba mencari kata – kata yang tepat. Tetapi aku kehabisan waktu, "ingat sewaktu kita bertemu ditaman Ria. Kuharap kau masih bisa mengenaliku dengan baik,"

Kulihat ia mengangguk – angguk paham soalku. Dan kupikir, ia sudah bisa menanggapi situasi yang serba berbahaya ini. Yesung tersenyum tipis dan membalas ucapanku, "ne tentu saja.. aku juga masih mengingat namamu dengan baik. Kim Ryeowook.. dan kau sahabat baik Minnie," tuturnya lembut. "bagaimana aku bisa lupa tentang hal ini?" lanjutnya kemudian disertai senyum yang amat-sangat... menawan.

Aku memandanginya tanpa berkedip. Aigoo... dia kelihatan begitu keren, meskipun hanya memakai seragam SMA yang tak kalah kerennya dengan seragam sekolah disekolahku. Aku hanya memakai rok dan sweater berwarna ungu pucat yang terlihat longgar dan aku pun ikut terlihat konyol begitu memakainya. Tetapi apa boleh buat... cuaca sedang jelek diluar, jadi terpaksalah aku memakai sweater yang satu ini. Mengenai penampilan, aku memang tidak sebanding dengan Sungmin yang selalu terlihat... ugh, aku benci mengakuinya. Dia selalu terlihat cantik dan feminim... tetapi aku berpikir, aku masih terlihat cukup cocok dengan Yesung Oppa.

Buru – buru aku menggelengkan kepala pelan dan kembali tersenyum seadanya. "wah, aku senang kau bisa mengingat dengan jelas namaku. Dan bagaimana kau tahu kalau aku adalah sahabat terbaik Sungmin?" oke, pertanyaan ini benar- benar konyol dan terpaksa aku melontarkannya demi menyembunyikan identitas hubunganku dengan Yesung Oppa.

"hmm... dia sering bercerita denganku mengenai dirimu. Kau baik dan pintar memasak. Begitu mendengar ceritanya, aku seperti mengenalmu saja," gumam Yesung.

Aku merasa bahwa wajahku semakin memanas setelah mendengarnya dan tak lama lagi, semburat kemerahan pasti akan menerjangku lagi. Buru – buru aku tersenyum sembari mengangguk menanggapi perkataannya tadi. "aku senang mendengarnya," kataku dengan terburu – buru sambil tersenyum pucat. "baiklah, aku tak ingin mengganggu makan malam kalian berdua lebih lama. Selamat bersenang – senang," ––dan, begitu mengatakannya, aku merasa jarum kecemburuan mulai berlomba – lomba menusuk hatiku. Sakit...

"ah, gomawo...," sahut Yesung pelan.

aku hanya mengangguk singkat mendengarnya lalu beranjak pergi dari tempat itu juga sebelum aku menangis. Sempat kuhapus beberapa kali air mataku begitu menaiki tangga. Rasanya aku ingin tertawa setelah melihat wajahku yang konyol ini. Hah, kenapa aku menangis? Dan kenapa... kenapa aku tidak bisa menjadi Yeoja yang kuat? Hatiku terlalu lemah untuk menerima resiko. Dan yang bisa kulakukan hanyalah menangis...

tetapi bagiku, menangis adalah salah satu cara mengatasi masalah dan bisa mengusir rasa sakit. Aku bisa melihat Kyuhyun yang sedang tadi sudah menungguku kini mulai merentangkan tangannya, memintaku untuk segera berlari menghampirinya. Tanpa diberitahu aku langsung memeluknya erat. Dengan segera aku menangisi makan malam itu. hanya Kyuhyun yang bisa mengerti aku, kurasa. Entah kenapa dia selalu ada... untuk tempatku menangis,

.

.

.

.

aku hanya melipat lututku sembari membenamkan wajahku. Pikiranku penuh dengan berbagai macam pertanyaan seperti; bagaimana acara makan malamnya? Apakah berlangsung dengan lancar? aku kembali mendesah memikirkannya. Untuk apa aku memikirkan itu? lebih baik lihat masa depanku yang sudah jelas suram dan usang... hanya ada harapan – harapan palsu yang mengisi kehidupanku. Itu saja,

Kyuhyun masih mengelus punggungku, kini mulai memandangku dalam. "kau baik – baik saja?"

Aku mengangguk singkat. "aku akan baik – baik saja...," sahutku sambil tersenyum pucat. Bagaimana pun itu, aku tidak ingin membuat Kyuhyun Oppa khawatir tentang diriku. Aku cukup merepotkannya hari ini, tetapi ia tidak mengeluh. Itu yang kusuka darinya, sangat suka.

Aku tidak mendengar sahutan lagi yang keluar dari Kyuhyun. Sekarang ia bangkit dari duduknya dan membawa nampan yang berisi dua mangkuk kosong keluar dari balkon. Aku masih tinggal disana, dengan segelas fruits cocktail yang masih tersisa setengahnya. Semuanya terdengan sunyi, senyap... tenang dan terkesan 'sepi' ...tetapi ini adalah suasana yang amat sangat kurindukan. Dimana aku bisa menyejukkan diri bersama angin malam yang ikut menghapus air mataku yang bergulir turun ke pipiku.

Sebenarnya ada banyak yang ingin kutanyakan kepada Yesung Oppa... apa dia masih mempunyai rasa kepadaku? Setiap harinya aku selalu terbebani oleh pertanyaan itu. aku tidak pernah merasa dicintai dan juga takut dibenci.

Aku kembali menghela nafas panjang dan mulai berpikiran gila. Seandainya Yesung Oppa masih mempunyai rasa untukku, maka ia pasti akan datang kesini... pasti...

Namun, itu adalah hal mustahil. Dan baru kali ini aku berkepikiran konyol seperti itu. aku baru menyadarinya bahwa ia sedang bersenang – senang dengan Sungmin dan tanpa diriku. Ya, keberadaanku tidak dibutuhkan kalau ada Sungmin. Menurutku begitu,

Tetapi suasana kali ini berbeda... aku bisa merasakannya.

Aku menoleh kebelakang hanya untuk memastikan bahwa tidak ada siapa – siapa disana. Tetapi mataku sosok mendapati Yesung Oppa yang engah tersenyum memandangku... kupikir aku hanya berhalunisasi karena aku terlalu merindukannya. Tetapi, ini nyata.

"bo... hong...,"


Author PROV

Yeoja itu hanya terdiam memandangi sosok Yesung dengan tatapan tidak percaya. Mendadak tubuhnya langsung gemetar dan ia harus menahan dirinya untuk tidak berlari memeluk Namja itu erat, untuk melampiaskan rasa rindunya. Ia terus terdiam dan memandang Yesung dengan air mata yang tergenang dimatanya. Ia terus menahannya untuk tidak terjatuh dan kembali bergulir dipipinya. Sekarang, Namja itu berjalan mendekatinya dan mulai menghapus air matanya dengan ibu jari kemudian mendekapnya.

"aku benar – benar minta maaf, Wookie...," gumam Yesung dengan nada menyesal.

Ryeowook langsung mempererat pelukannya. "Oppa... jangan berkata apapun," pintanya lemas. "kumohon, untuk kali ini saja... aku ingin berdua dengan Oppa...,"

Yesung terdiam sambil mencoba mengerti. Ia langsung mengecup pucuk kepala Yeoja itu sembari mengelus punggungnya. Mencoba menunggu sampai Yeoja itu merasa tenang. Tetapi mereka berdua malah larut dalam kesunyian dan jujur, situasi ini memang tidak disukainya. Ia ingin melakukan sesuatu untuk membuat Ryeowook berhenti menangis.

Tangannya merogoh – rogoh saku celananya dan ponsel. kemudian ia berbalik menghadap Ryeowook sambil tersenyum. "bagaimana kalau kita ambil kenang – kenangan dari sini?" tawarnya sambil tersenyum lebar. "sekali – kali, aku juga ingin mempunyai kenangan berdua denganmu,"

"Oppa?" gumam Ryeowook tidak mengerti. Buru – buru ia mengucek – ucek matanya, mencoba menyingkrkan air matanya kemudian tersenyum lebar. "tentu saja, aku mau,"

Pose yang mereka ambil hanyalah duduk menghadap rumah Sungmin dengan latar langit malam yang cerah dengan bertaburan bintang. Dan ada juga pemandang lainnya seperti bukit dan Seoul Tower (Author: entah Seoul Tower itu ada atau tidak, yang jelas ada menaranya biar terkesan gimanaaa gitu~~ :3). Ryeowook bersandar dibahu Yesung dan tersenyum.

Plassh

Dan foto itu akan menjadi kenangan pertama bagi mereka berdua.

.

.

.

.

Keesokan harinya...

"Wookie! Ayo bangun atau kau akan ku...,"

Heechul terdiam menghentikan ucapannya ketika melihat Ryeowook masih berkutat dengan mimpinya. Tangannya mendekap sebuah bingkai foto berwarna ungu dan terdapat foto mereka berdua, Yesung dan Ryeowook kemarin malam. Heechul sama sekali tidak pernah menduga bahwa mereka berdua akan terlihat begitu mesra difoto itu.

"Yesung... Oppa...," Ryeowook mengigau dengan wajah yang berseri – seri. Ia kembali menarik selimutnya sambil mempererat pelukannya. Heechul hanya bisa menggeleng – gelengkan kepala mendengarnya.

"dasar bodoh! Disaat tertidur pun, kau masih bisa menyebut namanya...," gumamnya sambil cekikikan sendiri. "yah, ada bagusnya juga,"

.

.

.

.

To be Continue~~


Nah, udah segitu ajaaa~ udah puas 'kan reader? Saya agak panjangin ceritanya nih... harusnya 6+ word tapi saya tambah jadi 8+ word~ kkkkk, demi kesenangan Reader itu saya buat dalam waktu 3 hari. *Author langsung tepar dimeja kerja dengan mata berkantong* yah, kayaknya ini cerita makin ancur aja deh-_- udah banyak Typos *nah, ini yang saya takutkan. kalau ada yang ga ngerti, PM atau Ripiu aja ._.v* , alur ga bener, kesannya gaje dan hal - hal aneh yang tak lama lagi akan terus berdatangan seiring bertambahnya chapter ini-_-"

Yep, yep~ Author sekali lagi minta maaf ya... soalnya udah telat Updatee! Huhu... abisnya Author sibuk T.T pengennye sih, lanjutin cerita tapi masih ada banyak kewajiban Belajar-_-v hehee... Author nggak pinter – pinter amat sih, jadi harus begitu deh -,-

Ok, tolong ripiu ne? Biar Author semangat! ^w^)/

Yang udah ripiu selama ini, makasih yaaa~ Author terharu loh, bisa mendapat dukungan sebanyak itu :'3

*catatan: untuk cerita selanjutnya Author akan berusaha untuk Update secepat mungkin. Dan untuk cerita 'Undead Fiancee' diperkirakan akan Update bulan November~ Author harus ngetik ulang, soalnya datanya keapus-_- maaf ya Readers TT_TT*

Paii~ paii~~ doa'in Author cepet Update ne? Dan jangan lupa review yaa~ takutnya ni cerita malah tambah banyak kekurangannya /plak/

.

.

.
((Bocoran untuk chapter selanjutnya))

"perkenalkan, saya murid pindahan dari China. Henry.. senang bertemu dengan anda^^"

"kau mengenal Kyuhyun?"

"kalau kau tidak mau foto ini sampai tersebar kepada Sungmin dan Yesung... lebih baik kau membantuku untuk menyingkirkan Sungmin dari Kyuhyun."

"Cho Kyuhyun adalah cinta pertamaku disekolah ini"

"aku tidak bisa lari dari perasaan ini. oleh karena itu..."

oke segitu doang ( '_')b saya akan segera membuat chapter selanjutnya supaya Readers nggak nganbek. itu pun kalau saya nggak sibuk XDD *dibakar*