Special Thanks To:
Kuroi Akuma, Lacrymosus, Megumi Yoora, Mmerleavy Ellesmerea, Silan Haye, neo-ichi, Norest Raywen, , Oh Se In, Ritsu Ricchan, Zwart-Tumsa Matar. 564, lil heppin, TeQueiro, Lummierra, Murabi Anno, Oregano, U-KNOW-WHO
and
All of my precious readers!
Berjuta kelopa bungak edelweis mengudara, mewarnai langit biru tanpa awan dengan benda putih nan halus bagaikan kapas. Seolah terus melindungi apa yang terkubur didalamnya, padang bunga edelweis ini tak pernah mati walau tahun demi tahun telah berlalu.
Tak ada satu orang pun yang mengetahui keberadaan padang bunga edelweis secantik ini dibalik reruntuhan bekas Virology Analitical No. 7 Laboratory pernah berdiri. Bangunan laboratorium itu kini hanya sebatas reruntuhan yang dibatasi oleh garis polisi yang bahkan kisahnya tak tertulis di buku sejarah manapun, tetapi jelas tertulis di dalam memoriku dan orang-orang yang secara tidak langsung terlibat di dalamnya.
Tak ada yang pernah menapaki padang edelweis ini selain kami. Itu berarti tak ada yang mengetahui keberadaan empat buah batu nisan yang tertanam di ujung padang bunga perlambang pengorbanan dan keabadian.
'Rosetta Kirkland',
'Alfred F. Jones',
'Ryan Satya Nugroho',
'Antonio',
...adalah nama-nama orang yang tertulis pada batu nisan tersebut.
Yang benar-benar merupakan kuburan asli hanyalah kuburan milik ibu Al, Rosetta Kirkland, yang telah lama meninggal dunia. Sedang sisanya, lebih cocok bila disebut sebagai tugu peringatan yang aku dan Antonio buat sepuluh tahun yang lalu.
Walau tahun demi tahun telah berlalu sejak peristiwa mengerikan di laboratorium itu, Antonio masih saja selalu mencegahku untuk datang kemari. Karena ia yang paling mengetahui sisi lain yang tak kuperlihatkan pada siapapun ketika aku menginjakkan kaki di tempat ini pada tanggal 17 Maret setiap tahunnya.
Aku akan menyanggakan kepalaku di pundaknya dan menangis sejadi-jadinya.
"–Lovi~ sudah selesai~?"
Aku menoleh ke arah sumber suara dimana seorang pria yang sangat kukenal berdiri dengan sabar di dekat sebuah pohon tak jauh dari tempatku berlutut. Aku mengusap jejak air mata yang masih membekas di kedua pipiku yang memerah dan mengangguk pelan padanya.
Ia memperlihatkan senyuman hangatnya sambil perlahan-lahan menghampiriku yang berusaha berdiri. Pada bulan-bulan awal kami rutin datang ke tempat ini, Antoniolah yang paling tak bisa menahan diri untuk tidak menangis di depan empat batu nisan tersebut. Disaat seperti itu, aku akan membiarkannya menangis sampai ia puas karena jauh di lubuk hatiku, aku tahu sebuah perasaan yang diam-diam ia miliki untuk seseorang diantara kami.
Entah sejak kapan, ia diam-diam menyukai Ryan.
Kemudian sejak aku resmi menjadi pelayan di restoran yang Antonio kelola, hubungan kami jadi semakin dekat. Awalnya ia akan menceritakan tentang Ryan panjang lebar dan aku akan mendengarkan dengan senang hati. Hingga waktu kian berlalu dan kami mulai bangkit dari keterpurukan dan meniti masa depan kami masing-masing.
Suatu saat tangan kami terikat dan ia tersenyum hanya untukku. Kutanya, "bukannya orang yang kau sukai itu Ryan?" lalu dengan mantapnya ia menjawab, "ia takkan suka bila aku terus meratapi kematiannya~ Lagipula aku tahu ia tak pernah menganggapku lebih dari sekedar sosok seorang kakak baginya~"
Oh, komentarku di dalam hati ketika aku mendengar penjelasannya, berharap ia akan memberikan alasan lebih...
"...dan karena sekarang, aku menyukai seorang pemuda manis dihadapanku~"
Dan aku tak bisa menahan luapan perasaan senang dari dalam diriku ketika aku mendengarnya...
.
Ingatkah kau hari itu
Ketika cahaya mentari memecah langit kelabu
Aku bertemu denganmu, senyummu merekah untukku
Jemari kita menyatu, mencipta beribu perasaan
Dalam hati, 'kan terkunci sampai nanti
.
Aku meletakkan empat buket bunga edelweis masing-masing di atas gundukan tanah di depan keempat batu nisan. Aku tersenyum untuk yang terakhir ke arah ukiran nama di nisan kelabu yang tak pernah aus.
"Sampai nanti..."
.
Kenangan itu terus berputar, menolak untuk berhenti
Air mata kian merebak, walau musim tlah berganti
Dalam sepi kubertanya, "Apa yang kau rasa?"
"Ingatkah kau, akan kenangan itu?"
.
"Ve!? Fratello akan pergi ke Spanyol bersama Kak Antonio hari ini!?"
Aku menghela napas berat seraya kusilangkan kakiku di bawah sebuah meja bundar putih di belakang rumah. Suara tawa dan hentakan-hentakan kaki terdengar riuh tak jauh dari tempatku dan Feliciana duduk bersama, membuat suasana di lingkungan rumah tu semakin hidup.
"Kupikir aku sudah pernah membicarakan ini denganmu, dammit. Lagipula aku akan kembali! Aku kesini hanya ingin berpamitan." Feliciana memasang muka masam dengan wajah tertunduk. Walaupun kini ia telah menjadi seorang ibu, aku tak mengerti kenapa ia masih bisa memasang wajah kekanak-kanakkan seperti itu.
"Ayah sedang senang-senangnya bekerja di perusahaan barunya yang berhasil ia bangun kembali, ve~ Nanti kalau ayah pulang, aku akan menyampaikan pesan fratello padanya!"
Aku tersenyum bangga mengetahui Feliciana yang tak mencegatku lebih jauh. Aku bangkit dari kursiku kemudian mengacak-acak rambut merahnya yang sudah ia ikat rapi ke belakang. "Tenang saja, toh aku juga harus kembali karena aku harus mengecek 'kaki buatan' yang kau pakai itu dan mengembangkan yang lebih baik lagi," ucapku seraya menerawang ke arah kedua kaki Feliciana yang kini terbungkus oleh alat seperti kaki buatan yang dapat membantu orang lumpuh seperti Feliciana untuk dapat berjalan seeprti orang normal.
Feliciana pun akhirnya ikut bangkit dari kursinya kemudian berjalan ke arah anak pertamanya, Agata, yang sedang bermain bersama Antonio dan suami Feliciana yang merupakan seorang dokter di rumah sakit Ospidale San Giovanni yang selalu merawat Feliciana selama ini, Ludwig si pria bernapas kentang dua.
"Ya, fratello memang sangat membutuhkan liburan~" ucap Feliciana tiba-tiba yang memaksaku untuk mengangkat sebelah alisku tak mengerti. Feliciana menengadah, tersenyum ke arahku.
"Selama ini fratello sudah berusaha keras untuk penyakitku dan orang lain~"
.
Matahari terbenam, seolah mengakhiri kisah kita
Yang kini tinggal kenangan, dalam beku hati tak merasa
Jejak air mata tertinggal disana
Bersama sejuta kenangan, sejarah tak mungkin berulang
.
"¡Muchas gracias Tuan Lovino karena telah membantu anak saya untuk sembuh dari penyakitnya!"
Adalah kalimat pertama yang langsung menghadangku ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di rumah Antonio di Spanyol. Seorang wanita paruh baya yang selama ini bekerja mengurus ladang tomat dan rumah milik Antonio yang ia tinggalkan selama bekerja di Italia, tiba-tiba menghampiriku dan berkata demikian. Aku bahkan baru pertama kali menginjakkan kaki di Spanyol tapi ia sudah bisa berkata seperti itu padaku, memangnya apa yang telah aku lakukan? Aku saja tidak tahu siapa anak yang ia masuk!
"Sebenarnya aku tidak mengerti, apa yang telah aku lakukan pada anakmu itu hingga kau berterima kasih padaku?" tanyaku langsung pada intinya yang mendapat senggolan siku dari Antonio akibat tutur kataku yang tidak sopan.
Wanita itu tersenyum lebar, sama sekali tak mempermasalahkan bahasa yang kupakai. "Itu, Anda kan yang memerintahkan agar obat untuk penyakit langka itu dijual dengan harga murah dan diberikan gratis bagi warga yang tidak mampu?"
Aku mengangkat sebelah alisku. Dalam hati aku bertanya, apakah penyakit yang ia bicarakan itu adalah penyakit yang disebabkan oleh LAV? Karena tidak mengerti, aku pun hanya mengangguk pelan dan menyampaikan rasa senangku karena dapat membantu anaknya.
"Sebagai ucapan terima kasih, keluarga kami ingin mengundang Tuan Antonio dan Tuan Lovino untuk makan malam di rumah kami! Memang hanya undangan makan malam sederhana, tetapi kami sangat senang bila Tuan berdua bisa datang."
Sebelum aku sempat merespon apapun, Antonio sudah lebih dulu menanggapi, "kami berdua pasti akan datang~ Terima kasih atas undangannya!"
Kami berdua melambaikan tangan ke arah sang wanita ketika ia berpamitan untuk pulang ke rumahnya. Setelah itu, Antonio langsung menarik tanganku paksa menuju sebuah ladang tomat yang berada di samping rumah tingkatnya.
Saat itu, saking tertegunnya dengan limpahan buah tomat segar yang menunggu untuk dipetik dari pohonnya itu sampai membuatku lupa akan barang-barangku yang tergeletak begitu saja di depan rumah Antonio. Sinar matahari memantul pada daun-daun hijau pohon-pohon tomat tinggi di hadapanku yang semakin memunculkan kontras antara merah tomat, hijau daun dan biru langit yang memayunginya. Tanah cokelatnya terlihat begitu gembur dan terawat dengan bekas hujan masih terlihat di beberapa permukaan tanah.
Aku tersadar dari lamunanku ketika Antonio memakaikan sebuah topi jerami di atas kepalaku. "Bastard!" umpatku yang malah dibalas oleh tawa khasnya. "Kau itu benar-benar baik pada siapa saja ya Lovi~"
Mendengar pujian itu keluar dari mulutnya, sukses membuat darahku naik ke kepala hingga wajahku memerah. "S-Shut The Fuck Up, tomato bastardo!" seruku seraya mengejarnya yang berari ke arah hamparan pohon-pohon tomat di ladangnya. Ia adalah tukang sembunyi yang handal maka butuh waktu laa bagiku untuk bisa mencapainya.
Setelah menit demi menit berlalu dan akhirnya aku mampu menangkapnya, ia langsung melemparkan sekeranjang penuh tomat ke arahku yang sontak kutangkap dengan kedua tanganku hingga aku jatuh terduduk ke tanah. "Bastard! Kau pikir apa yang kau lakukan, dammit!?"
Antonio tertawa sepuas-puasnya hingga rona merah muncul di kedua pipinya yang mulai basah oleh keringat. "Nah, anak baik juga harus membantuku memanen tomat-tomat ini~"
"Aku kemari bukan untuk menjadi tukang kebunmu bastardo! Siapa bilang aku akan membantumu!" teriakku kesal.
"Kau hanya perlu meletakkan tomat-tomat itu di dapur, mi tomate~ Kau mau kan membantuku~?"
Aku pun menghela napas pasrah dan melakukan seperti apa yang ia perintahkan.
Saat itu pasti panas matahari telah membuat mataku melihat ilusi karena ketika aku mengalihkan pandanganku ke arah sebuah bukit yang berada di dekat ladang tomat itu, aku melihat bayangan seorang anak kecil yang tersenyum ke arahku. Aku sontak menoleh ke arah Antonio yang ternyata sedang sibuk dengan tomat-tomatnya kemudian mengalihkan pandanganku lagi ke bukit itu dan kini menemukan dua orang anak laki-laki sebayanya muncul di sisi kiri dan kanannya. Dua anak laki-laki ini terlihat sedang sibuk berbicara kepada anak laki-laki yang ada di tengahnya dan mereka bertiga terlihat sangat bahagia.
Seolah terperangkap dalam labirin mimpi, aku yakin bahwa aku pernah mengalami adegan ini sebelumnya tapi tak persis sama. Di ingatanku itu, aku bukanlah menjadi diriku yang sekarang tetapi menjadi anak laki-laki kecil yang berdiri di tengah dua anak laki-laki lainnya. Di ingatanku itu, aku berdiri sendirian diantara langit kelabu dan lebatnya hujan dan kini aku melihat anak laki-laki itu berdiri bersama dua orang anak laki-laki lainnya.
Aku bisa menebak siapa dua anak laki-laki itu dan hipotesaku itu cukup untuk membuat senyumku mengembang. Anak laki-laki yang berada di tengah itu menatap bingung pada sosokku yang tiba-tiba tersenyum padanya.
Kini aku ingat siapa pria bertopi jerami di dalam mimpiku waktu itu.
Dia adalah diriku sendiri...
"...Rimanere in vita, per favore!"
Dia adalah sisi dalam diriku yang sangat menginginkanku untuk hidup –kobaran api semangat yang tak pernah padam dan masih mengharapkan munculnya secercah cahaya harapan.
"...Stay alive, please!"
Untuk tetap hidup dan suatu saat menemukan kebahagiaanku sendiri...
"...Lovino..."
.
Tetapi matahari kan terbit di ufuk timur
Keesokan harinya, dan keesokan harinya
Ingin jemari kita kan terjalin, walau hidup dalam kenangan abadi
Kan kutemukan lagi, bayangmu berhiaskan merah dan oranye
Sampai ketika hari itu terulang kembali
.
Kupikir, harta yang paling berharga di dunia ini adalah obat dari penyakit Feliciana, koleksi hak paten atas penemuan-penemuanku, dan pengakuan dari orang-orang atas kemampuanku...
Ryan pikir, harta yang paling berharga di dunia ini adalah kebahagian masternya, segudang prestasi yang didapat karena telah menolong orang, dan pengakuan dari orang-orang bahwa ia juga bisa menjadi seorang manusia normal...
Alfred pikir, harta yang paling berharga di dunia ini adalah obat dari penyakit ibunya, jabatan di sebuah organisasi hebat, dan pengakuan dari orang-orang bahwa ia adalah sosok seorang hero bagi hidup orang banyak...
Tapi kemudian kami bertiga bertemu dan saling bergandengan tangan.
Segala macam rasa sakit karena telah berani mengacungkan senjata pada teman, dikhianati dan mengkhianati, disakiti dan menyakiti hingga kami sempat berjalan sendiri-sendiri...
Sendirian itu menyedihkan hingga rasanya hidup pun hanya diliputi oleh duka dan lara...
Lalu suatu saat kami bertiga pun berkumpul kembali dan menyadari satu hal yang hanya bisa kami lihat ketika jemari kami saling teruntai...
Menemukan jalan untuk bisa hidup bahagia bersama-sama sahabat adalah harta yang paling berharga bagi kami yang takkan pernah kami tukar dengan apapun juga...
.
"Rendez-vous lá-bas et attends-moi..."
.
...karena persahabatan adalah hal yang membuat kami kuat.
A/N:
Ada yang tahu mengapa di epilog saya sampai mengulang lirik lagu From A To Z? :D
Translate:
Rendez-vous là-bas et attends-moi (French - From Google Translate -): See you and please wait for me 'there'
See ya~ and thank you very much!
Salam Hangat,
KensyEcho
