Seperti yang aku bilang aku akan mengupdate 2 chapter sekaligus! well, enjoy!


Ai's Little Adventure

Disclaimer : Meitantei Conan (c) Aoyama Gosho

Warning : Penuh dengan OOC, Gaje, banyak adegan dari komik, dan dapat menyebabkan penyakit ketawa sendiri.

Don't like don't read!

Pagi-pagi sekali, Conan terbangun dari tidurnya. Akhirnya dia mendapat kemajuan dalam menyelidiki kerajaan BO. Ya, Haibara Ai, mantan pendukung BO telah menjadi temannya. Walaupun Ai adalah pembuat ramuan APTX 4869, tapi dia tidak bisa lagi membuat ramuan itu.

Flashback

Saat ini Conan sedang 'mengintrogasi' Ai tentang kerajaan BO. "Tunggu, kamu kan pembuat ramuan APTX 4869, bisakah kamu mebuat ramuan penangkalnya?"

Ai menggeleng. "Sayang sekali, ramuan itu agak rumit untuk membuatnya. Kalau aku mendapat resep untuk membuat ramuan itu, mungkin aku bisa membuat ramuan penangkalnya."

End Flashback

Conan menghela napas. "Kalau saja aku bisa mendapat resep ramuan itu, mungkin aku bisa kembali menjadi Kudo Shinichi." batinnya. Dia langsung berganti baju dan menuju ke ruang makan untuk sarapan.

"Ohayou, Conan-kun." sapa Ran.

"Ohayou, Ran-neechan." Conan langsung duduk dan mengambil sarapannya.

"Conan-kun, hari ini kamu mau melakukan apa?"

"Hm...aku mau bermain dengan teman-teman aku. Boleh kan?"

Ran mengangguk. "Tentu saja. Asalkan jangan pulang terlalu malam ya. Conan hebat ya. Baru beberapa hari saja, kamu sudah mendapat teman banyak." Conan hanya dapat tersenyum mendengar pujian Ran.

Setelah mengantar Ran ke gereja, Conan berbicara pada Ai. "Haibara, bagaimana kalau kita pergi ke kerajaan BO? Mungkin kita bisa mendapat resep ramuan itu."

Ai berpikir sejenak. "Mungkin kita bisa melakukan itu. Tapi kita harus berhati-hati agar tidak ketahuan 'mereka'. Bisa bahaya kalau 'mereka' tahu kita masih hidup." Conan mengangguk.

Agasa menghampiri mereka berdua. "Hei, kalian sedang merencanakan apa?" Conan memberitahu rencananya ke Agasa. "Hmm...begitu. Kalau begitu terima ini." Agasa memberi 5 buah badge ke Conan dan Ai.

"Badge? Untuk apa?" tanya Conan.

"Ini bukan badge biasa. Kalian bisa berkomunikasi dengan ini. Lalu dengan kacamata special ini, kita dapat melacak badgenya." Agasa memberi Conan kacamata baru. Conan langsung memakai kacamata barunya. "Aku pikir ini berguna untuk kalian. Jika ingin berkomunikasi jarak jauh, ini bisa sangat berguna."

"Ini bagus sekali! Terima kasih Hakase!" kata Conan.

Ai mengatakan dia haus dan kembali ke rumah. Tak lama kemudian dia keluar dan pergi ke tempat Ayumi dan yang lainnya bersama Conan. "Kalian telat!" ujar Genta.

"Maaf. Sebagai gantinya aku punya hadiah untuk kalian." Conan memberikan badge kepada mereka. "Ini namanya badge. Kita bisa berkomunikasi jarak jauh dengan menggunakan ini." Saking senangnya mendapat hadiah, mereka langsung mengenakan badge itu.

"Sekarang kita mau melakukan apa?" tanya Ayumi.

"Hm...berhubung badge ini bisa berguna bermain detektif. Bagaimana kalau kita main detektif?" usul Mitsuhiko.

"Kalau begitu, kita bisa menyelidiki kerajaan BO yang tidak jauh dari sini." kata Conan. "Ngomong-ngomong, kau baik-baik saja Haibara? Daritadi kamu sepertinya berkeringat terus."

"Aku baik-baik saja. Lebih baik sekarang kita putuskan apa mau kesana atau tidak." kata Ai berbohong. Sebenarnya sejak keluar dari rumah Agasa, dia kepanasan sampai-sampai banyak mengeluarkan keringat.

Semua setuju, mereka langsung menuju kesana. Tak lama kemudian, mereka telah sampai di kerajaan BO. Keadaan disana tidak begitu bagus. Kotanya telah kosong dan banyak reruntuhan disana. Semakin mereka menyelidiki, semakin seram jadinya.

"Hei, ayo kita pulang. Tempat ini seram." kata Ayumi yang ketakutan.

"Masa baru sebentar kita sudah pulang." kata Genta.

"Benar. Tunggu, dimana Haibara-san." tanya Mitsuhiko. Semua baru menyadari Ai telah menghilang.

"Sial. Apa boleh buat kita harus mencarinya." Conan mecoba menghubunginya dengan badgenya, tetapi tidak bisa. Akhirnya, dia mengaktifkan kacamatanya. Langsung saja, muncul titik dimana Ai berada. "Aku akan mencarinya. Kalian semua lebihi baik pulang."

"Tidak! Kami mau ikut denganmu!" ujar Genta.

Conan mau protes, tiba-tiba terdengar seruan dari seseorang. "Woi! Kudo!" ternyata itu adalah Kaito yang kebetulan sedang melewati mereka. "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Kaito.

"Kuroba! Eh...Kaito-niichan." Conan buru-buru membenarkan perkataannya. "Bisakah Kaito-niichan mengantar mereka? Aku harus mencari Haibara. Mungkin ini akan sedikit berbahaya untuk mereka."

"Ok! Tentu saja! Ayo anak-anak selama perjalanan aku bisa menunjukan trik-trik sulapku pada kalian." Kaito dan anak-anak pun pulang. Conan menghembuskan napas, lalu dia mulai berlari mencari Ai.


Sementara itu, Ai, yang memisahkan diri dari yang lainnya sedang merasa tidak enak badan. Lama-kelamaan tubuhnya semakin panas. Dia terus berjalan. Dia merasa familiar dengan jalan-jalan yang dia lalui. Tak lama, dia berhasil menemukan rumah lamanya.

Ai memasuki rumah itu. Dia bisa merasakan semua kenangan saat bersama keluarganya disana. Kenangan-kenangan indah saat menjadi keluarga yang normal tanpa tekanan dari kerajaan BO. Tanpa terasa air mata mengalir di pipinya ketika mengingat semua itu.

Ai berjalan menuju ke kamar kakaknya. Dia ingat pernah meminta kakaknya untuk menemaninya saat terjadi hujan petir. "Kakak..." Ai kembali menangis. Tiba-tiba dia merasa tubuhnya bertambah panas. Saking panasnya tulang-tulang dia seperti mau meleleh. Lalu, dia pun pingsan.


Sementara itu di rumah Agasa. "Loh? Siapa yang meminum bir paikaruku ya?" tanya Agasa dalam hati. "Padahal aku baru kemarin mendapatkannya dari kenalanku."


Entah sudah berapa menit Ai tidak sadarkan diri. Saat dia bangun, dia terkejut melihat dirinya sudah kembali seperti semula. Ai langsung mengenakan pakaian yang ada di lemari kakaknya.

"Syukurlah muat." Ai langsung berpikir. "Kalau tidak salah, di ruang kerja masih ada penetilian ayah dan ibu. Mungkin disana ada resep obat itu!" Ai langsung menuju ke ruang kerja. Setelah mencari ditumpukan-tumpukan kertas penelitian. Akhirnya dia menemukannya.

"Ini dia!" Ai langsung melipat kertas itu dan menyelipkannya di bajunya. Setelah itu, dia langsung keluar dari rumah dan tidak sabar untuk memberikannya kepada Conan.

Saat keluar dari rumah dia terkejut. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan Gin dan Vodka di depan rumahnya. "Lama tak jumpa. Sherry." kata Gin sambil menodongkan pistolnya ke arah Ai. "Ternyata kamu memang masih hidup. Aku tahu kamu pasti akan mengunjungi rumah lamamu."

Ai langsung bertindak. Dia kembali memasuki rumah dan keluar melewati jalan belakang. Deg..deg...dadanya kembali berdebar-debar. "Jangan-jangan sudah saatnya, aku harus kembali menjadi anak kecil. Tapi aku harus cepat-cepat keluar dari sini! Kalau mereka mengetahui aku mengecil, bisa-bisa Kudo-kun juga akan kena getahnya! Tidak! "

Ai masih terus berlari. Dia telah sampai di sungai perbatasan. Ai merasa dia telah aman. Sayangnya, dia salah. Gin telah didekatnya dan menembakkan peluru ke arah Ai. Kaki, tangan, dan pinggangnya terkena peluru. Ai kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke sungai. "Sampai jumpa lagi Sherry. Di alam sana." kata Gin sebelum dia dan Vodka kabur.

Ai terbawa arus sungai. Dia bisa merasakan tubuhnya telah mengecil lagi. Samar-samar dia bisa mendengar seruan seseorang. "Haibara! Haibara! Cepat pegang tanganku!" Ai bisa merasakan tangannya telah dipegang seseorang. Setelah itu, dia tak sadarkan diri.

Ai membuka matanya. Dia telah kembali ke rumah Agasa, atau lebih tepatnya dia berbaring dikamarnya. "Hei, kau sudah bangun?" tanya Conan memasuki kamarnya.

Ai mengangguk. "Memangnya aku terlihat seperti sedang tidur?"

"Aku cuma mau menanyakan keadaanmu saja. Kalau kamu tidak mau aku disini ya sudah." Conan langsung keluar dari kamarnya.

Tak lama kemudian, Agasa memasuki kamar Ai dan memberinya bubur. "Ini makanlah." Ai langsung memakannya dengan lahap. "Kamu beruntung Shinichi ada didekatmu tadi."

"Memangnya apa hubungan Kudo-kun dengan yang aku alami?" tanya Ai disela makannya.

"Dia tidak bilang? Tadi dia yang menyelamatkanmu. Saat meraih tanganmu, dia sempat terbawa arus juga. Tapi dia berhasil ke tepi sambil menarikmu. Aku sempat terkejut melihatnya menggendongmu yang berlumuran darah. Oh ya, pakaianmu yang kebesaran sudah aku keringkan." kata Agasa sebelum dia keluar kamar.

Ai menatap tangannya. "Jadi tadi yang memegang tanganku adalah dia. Bahkan dia mengorbankan nyawanya untuk aku. " Ai merasa mukanya memerah. "Mustahil! Aku tidak mungkin menyukainya! Mustahil kan?"

End Chapter 7


Behind the Fanfic :

Ai : Akhirnya chapter ini selesai...kamu sedang memikirkan apa Yessy?

Yessy : Hmmm...kalau dipikir-pikir kenapa aku merasa cerita Detective Conan agak mirip sama Twilight saga?

Ai : Come again?(Maksud?)

Yessy : Habisnya...orangtua Ran pisah rumah, kan kayak orangtua Bella yang cerai. Terus keluarga Edward dan Shinichi sama-sama 'unik'. Belum lagi ada sebuah organisasi besar yang mau menghancurkan mereka. Gimana jadinya kalau Volturi dan Black Organization bersatu ya? Pasti dunia sudah kiamat!*Teriak histeris*

Ai : Baiklah...siapa yang membuat dia terus membaca Twilight saga terus sampai-sampai dia nyambungi ke cerita Conan?

(Yukiko tiba-tiba langsung kabur)

Yessy : Kritik dan saran silakan ketik di kotak review ya!