Disclaimer: Assassination Classroom by Yuusei Matsui

Warning: AU, BL, typo, bahasa gaul, OOC. Don't Like, Don't Read! ;)

Summary: [KaruNagi] [AsaIso] Awalnya Isogai tidak berniat merayakan ultahnya, ngabisin duit katanya. Namun setelah Karma berkata kalau acara ini tidak dipungut biaya alias gratis tetapi berhadiah. Isogai langsung oke wae.

Thanks to: LexaAlexander: Nagisa telah berhasil membuat keajaiban itu :D HaniHaniHani: doain aja insyaf(?)nya Karma tercapai :D. Rinadesu: nah bener tuh, bagian itu privat aja bedua :9 ayryjo: kalo bad end digangbang, bakal banyak blurnya deh itu game xD Fujoshi desu: kayaknya sangat nganu untuk dibayangkan, wwww. Am Natz: okee, ini sengaja diapdet pas mas pucuk ultah ;) Shizuka Yomu: kayaknya Rio mesti fokus ama plot dulu ama nyari sponsor biar gamenya bisa rilis, wwww, yha—hati Ren telah retak sekarang. xD

Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca ff ini \o/

Written for self satisfaction. Nonprofit purpose.

XoXo-XoXo-XoXo

Uncharted Waters © Kiriya Hazelheine

XoXo-XoXo-XoXo

November 13.

"Hmm…" Nagisa memperhatikan objek di depannya dengan penuh rasa ragu, bingung dan gundah gulana. "Bagaimana ini, harus memilih yang mana, Karma-kun?"

Akhirnya Nagisa menoleh pada pemuda yang berada disampingnya sambil melipat kedua tangan. Meskipun telah lama berpikir, dia tidak bisa mengambil keputusan ini sendiri. Ada terlalu banyak pilihan di supermarket.

"Memang pilihan yang susah," ujar Karma dengan nada serius kali ini, matanya tidak lepas dari objek yang ada di rak. "Tapi baiklah, aku sudah memutuskannya. Kita beli saja keduanya. Kita tidak tahu yang mana yang bisa membuat kita lebih menikmati situasi."

Untuk kali ini, Nagisa menyetujui keputusan Karma. Dia belum cukup pandai dalam menangani hal seperti ini. Termasuk memilih mana yang lebih bagus, tipis atau tebal, besar atau kecil, panjang atau pendek.

Untuk saat ini mereka sedang membahas dua jenis daging sapi yang sama harga tetapi dengan kualitas berbeda, masing-masing memiliki kelebihannya tersendiri hingga Nagisa bingung. Walau pada akhirnya keduanya dimasukkan oleh Nagisa ke dalam troli yang di didorong Karma. Sesekali Karma menyelipkan cabe botolan ke troli hingga harus dikembalikan oleh Nagisa ke tempatnya.

Isogai menggeleng pelan dengan tatapan tidak percaya. Dia berdecak. Harga daging sapi itu sebanding dengan uang saku mingguannya! "Aku tidak mengerti pikiran mereka, Asano-kun. Mereka itu…"

Ucapan Isogai terputus ketika melihat wajah kalem Asano yang berjalan ke arahnya sambil membawa dua botol sirup ukuran besar, Sakakibara pun demikian, membawa dua botol jus beda rasa dan ikut meletakkannya di troli yang didorong Isogai.

Isogai menatapnya tanpa berkedip.

Asano balas menatapnya, "Apa?"

Pemuda ikemen bersurai hitam itu memijit kepalanya. Sangat sadar diri, kalau dia bicara pada orang yang salah. Betapa beraninya dia menyamakan kastanya dengan Asano.

"Aku tidak mengerti pemikiran orang kaya seperti kalian," ucapnya kembali mendorong troli.

"Hei, Yuuma! Nagisa! Menurutmu buah yang ini atau yang satu ini?" Tanya Maehara pada teman-temannya—meskipun dia tidak yakin, apakah Asano yang ikut acara ke supermarket juga menganggapnya teman atau tidak.

"Yang kiri lebih besar beberapa gram, teksturnya juga bagus." –Isogai.

"Yang kanan sepertinya lebih segar." –Nagisa.

"Ahh!" seru Maehara dan Nagisa berbarengan. "Keduanya saja!"

Isogai menghela napas. Kali ini kesabaran semakin menipis, maklum, hobinya berburu barang diskonan. Meskipun sabar tidak ada batasnya, melihat uang dihambur-hamburkan membuat jiwanya tersakiti.

"Kalian terlalu boros. Pilih dengan benar! Jangan semua benda ada yang ada dibeli begitu saja! Lihat, troli hampir penuh hanya karena kalian tidak memilih dengan benar. Cari yang berkualitas tapi murah." Omelnya.

Karma, Asano dan Sakakibara menunjukkan kredit card yang begitu menyilaukan bagi mata Isogai—halah mereka pamer. Kalau digabung, mungkin bisa dipakai membeli sebuah pulau beserta perangkatnya. (Atau mendapatkan gelar sultan di dunia pervvibuan karena sanggup beli semua action figure pedang berwujud indah di touran ditambah action figure cewek-cewek idol di Love Live!)

"Dibayarin kok."

"Pokoknya nggak! Aku tahu ini hari ulang tahunku, tapi tidak perlu buang-buang uang atas namaku." Isogai berkacak pinggang. Ya—katanya mereka mau merayakan ulang tahun Isogai—atas saran dari Karma dan Nagisa. Dan sebenarnya dalam hati Isogai bertanya, kenapa Asano dan Sakakibara ikut juga!

XoXo-XoXo-XoXo

Pesta ulang tahun kecil-kecilan ini diadakan di mansion Asano. Entah kenapa hal itu terjadi. Katanya biar tempatnya lebih lapang begitu. Iyalah, ruang tamunya nyaris seluas rumai Isogai. Bahkan datang dan pergipun mereka diantarkan oleh supir Asano memakai mobil karena jalan kaki perlu waktu untuk sampai dari gerbang menuju pintu. Awalnya Isogai tidak berniat merayakan ultahnya, ngabisin duit katanya. Namun setelah Karma berkata kalau acara ini tidak dipungut biaya alias gratis tetapi berhadiah. Isogai langsung oke wae.

Sugino dan Nakamura turut diajak, hanya saja mereka ternyata telah memiliki skedul yang tidak dapat diganggu gugat. Nakamura sedang liburan keluar negeri selama tiga hari ke depan bersama orang tuanya. Sementara Sugino hari ini mendapat kesempatan untuk berlatih baseball dengan Sawamura Eijun dan Miyuki Kazuya dari fandom sebelah. Itu adalah kesempatan langka yang bahkan mungkin tak akan terjadi lagi. Kalau ulang tahun Isogai kan masih ada tahun depan. Tiap tahun malah. Isogai sih kalem, meskipun tidak ikut merayakan, kata Sugino kadonya ntar nyusul.

Sebenarnya Isogai tidak tahu mesti bahagia apa nggak. Tapi tampaknya dia harus bersyukur, seenggaknya ada makanan yang bisa dibungkus untuk dibawa pulang. Untuk adik-adik tercinta yang menunggunya di rumah.

Tadinya, chef keluarga Asano yang berniat membuatkan masakan ala Perancis dan Padang. Namun hal itu ditolak Nagisa mentah-mentah. Karena ini adalah acara untuk sahabat, maka harus mereka sendiri yang mengurusnya, agar lebih berkesan. Namun pada akhirnya Chef handal turut menemani Nagisa dan Karma memasak di dapur sebagai orang ketiga. Disuruh Asano. Takutnya konter dapur meledak gegara Karma. Asano belum tahu bakat terpendam sang sepupu. Selain hobi menistakan anak orang, Karma kan jago masak.

Dalam pikiran Karma segera terbesit niat yang ditujukan pada Gakushuu. Membuat pemuda itu mengakui kehebatannya dalam bidang memasak. Dia memotong wortel sambil tertawa bejat, seakan ada iblis yang membantunya.

Nagisa senyum manis—terpesona, "Karma-kun semangat sekali."

Karma kalau lagi semangat begitu, kelihatan banget gantengnya lho. (By Nagisa.)

XoXo-XoXo-XoXo

Maehara menghias ruang tamu dengan tempelan ucapan happy birthday beserta hiasan kertas berbentuk orang-orangan hasil dari kreatifitas jari tangannya. Sementara itu Asano dan Isogai duduk manis tanpa ngapa-ngapain.

"Aku bantu masak aja ya?" Isogai merasa kesemutan karena disuruh kelamaan duduk diam dengan manis.

"Ya duduk aja disitu kenapa," komentar Karma yang lewat sambil membawa lima botol cabe.

Maehara melotot dari atas kursi, tangannya memegang hiasan teru-teru bozu yang baru akan dipasang, "Karma—kamu masak apaan! Buat apa itu botol cabe?! Ngeracunin kami?!"

Yang lain ikut sweatdrop. Mungkin harusnya biarkan chef aja yang memasak. Tapi delivery kayaknya masih bisa. Asano telah bersiap menelpon restoran bintang lima langganan papanya.

"Masak kare kok."

"Gapapa, ada aku yang mengawasi kok. Gak akan diracunin kok. Karma gak akan iseng. Percaya deh." Nagisa senyum manis, mengiringi langkah Karma menuju dapur.

Anak manis bersurai biru itu tampaknya telah kena guna-guna dari Karma, ya Tuhan…

Isogai tercengang, "Tapi—masa aku cuma diam begini…"

"Bantu meniup balon pakai mulut mau kagak? Biar cepat selesai." tawar Sakakibara yang mengisi udara ke balon dengan pompa. Sebenarnya dia tidak mau melakukannya, tapi ini titah dari yang mulia Gakushuu Asano.

"Jangan," Sahut Asano cepat. Entar pipi chubby Isogai menghilang gegara niupin balon. Kan gak unyu lagi.

"Eh?" Isogai menatapnya heran, "K—kenapa?"

"Aku tidak ingin santai sendirian." Ucap Asano.

Apa—

Isogai pasrah.

Acara buka kado dimulai setelah adegan nyanyi-nyanyi lagu ultah sampai nyanyi lagu wajib nasional dan potong kue serta make a wish selesai. Sungguh mereka para anak muda yang cinta tanah air. Mereka bukanlah anak-anak generasi micin.

"Saatnya memberikan kado!" Maehara selaku pembawa acara berucap dengan ceria. Yang lain bertepuk tangan dengan ekspresi yang berbeda-beda.

Asano memberikan sebuah kado kecil seukuran kotak sabun.

"Apa ini?" Isogai meragukan apa isinya sambil menggoncangnya pelan. Karena tidak mungkin kan, pemuda tajir itu memberikannya sabun mandi–meskipun tentu saja ada kemungkinan itu adalah sabun mandi limited edition ala kecantikan Ratu Cleopatra—

Dengan perlahan tapi pasti, Isogai membuka kotak itu. Dan isinya; kunci.

"Kunci? Kunci apa?" matanya mengarah pada Asano, meminta penjelasan.

Kunci untuk membuka hatiku. Eaa.

Asano ingin berkata begitu, tapi gengsi.

"Itu kunci rumah."

"Hah?" Isogai cengo. "Rumah kamu?"

"Rumah buat kamu."

Tunggu. Biar Isogai loading dulu.

"Kamu ngasih aku RUMAH?!"

"Iya. Rumahmu yang sekarang terlalu kecil untuk kalian semua tempati. Aku merasa bersimpati karenanya." Asano menjelaskan. "Ada kertas akta bukti tanah dan kepemilikannya. Tenang saja."

"Maaf, saya tidak bisa menerima hal seperti ini." Duduk secara seiza secepat kilat, Isogai mengembalikan kuncinya.

Asano terdiam sejenak karena penolakan itu.

"Itu benar Asano-kun. Benda seperti rumah tidak bisa diberikan sembarangan, bahkan kepada teman sekalipun." Nagisa turut menjelaskan. Bermaksud membantu ketua kelasnya.

"I—iya!" Isogai berseru. "Benda semacam ini harusnya diberikan buat calon istri kamu."

Hm… calon istri, ya?

"Baiklah, Isogai. Kalau begitu, ayo kita menikah."

Hening.

Isogai masih seiza. "Maaf, usiaku belum legal, mas."

XoXo-XoXo-XoXo

"Taraaa!" Sakakibara menyerahkan kado miliknya yang dibungkus dengan kertas berwarna ungu dengan motif love-love berwarna pink. Kotak yang besar. "Aku tahu kita baru kenal. Tapi demi menghormati sosok pilihan Asano. Aku memilih hadiah ini secara khusus. Berbanggalah karena bisa mendapatkan hadiah dariku!"

"Akan aku buka," Isogai mulai mengeluarkan berbagai asumsi di kepalanya. Ren Sakakibara juga salahsatu sosok kaya raya di kota mereka, semoga dia gak ngasih yang macam-macam seperti Asano.

Isinya sebuah helm motor dengan stiker lambang dollar. Unyu plus keren pokoknya. Tapi kan Isogai gak punya motor, men. Ya, seenggaknya lumayanlah buat koleksi—

"Motornya nanti dianterin kok, model yang terbaru." Sakakibara mengacungkan jempolnya.

—Isogai speechless. "Motornya gak usah. Ini aja udah cukup kok. Ntar bisa nebeng sama abang tetangga sebelah."

"Gak apa, santai aja. Cuma motor kok. Di rumahku ada banyak."

Yakali Sakakibara pemilik dealer motor atau bengkel—entahlah, Isogai menggeleng lemah.

"Kasih aku sepeda aja bang."

Bbm mahal.

XoXo-XoXo-XoXo

Isogai menyeka dahinya yang berkeringat dengan tisu yang dimintanya dari Nagisa. Tadinya minta tisu pada Asano, tapi malah diberikan selembar uang dollar untuk mengusap keringat.

Orang-orang ini yang aneh, atau dia yang tidak mengerti pergaulan anak-anak orang kaya. Iya, Isogai tahu, dia hidup sebagai rakyat jelata selama enam belas tahun hidupnya. Dan sekarang hidupnya berubah karena bertemu dengan teman-teman yang rada somplak tapi merupakan kaum borjuis semacam Asano.

Pertemanan yang terjadi karena Nagisa memiliki hubungan dengan Karma—yang ternyata mengejutkan karena pemuda wasabi itu memiliki hubungan darah dengan Asano. Tapi serius, beradaptasi dengan hal-hal seperti ini kadang membuat Isogai hanya bisa mengelus dada.

"Dariku," ujar Karma menyerahkan kado berbentuk besar namun pipih. Hadiah itu terbungkus kertas berwarna hitam gelap.

"Tenang saja, aku tidak akan memberikan benda-benda aneh seperti mereka kok." Karma melipat tangannya. Jaim. "Aku tidak memberikan kado yang mahal, tapi ini adalah sesuatu yang aku buat dengan kerja keras. Karena aku tahu kamu menghargai hal seperti itu."

Isogai melongo mendengar ucapan Karma. Tapi mendengar perkataan sang lelaki yang tampaknya mulai meninggalkan label setannya itu membuat Isogai lebih lega. Ini tidak mungkin surat rumah, mobil, ataupun selusin cabe botolan.

Dia membukanya dengan senyum kecil. Dan isi kado dari Karma adalah sebuah lukisan.

Handmade by Karma Akabane.

Itu tulisan kecil yang terdapat di pojok kanan bawah lukisan.

Isogai menaikkan sebelah alisnya. Yang lain juga ikut bingung melihatnya.

Sweatdrop. Lukisan apa ini? hewan? Tumbuhan? Sungguh karya seni yang begitu abstrak sehingga Isogai tidak mengerti ini gambar apaan.

"Kamu memegangnya terbalik," Karma berujar.

"O—oh… begitu," Isogai tergugu. Pantas saja dia tidak mengerti itu lukisan apa, ternyata dia memegangnya terbalik. Haha, bodohnya dia.

Dengan segera Isogai membalik lukisan itu. Dia terkesima.

Dia tetap tidak mengerti ini lukisan apaan.

"Kalau boleh tahu, ini gambar apaan?" Maehara menggaruk kepalanya.

"Pemandangan alam kok."

Alam dari mananya. Alam barzah? Alam baka? Alam ghoib?

Terlalu abstrak dengan percampuran warna merah, hijau, biru, ungu dan hitam.

"T—terima kasih. Err—aku akan meletakkannya di dinding kamarku…" ujar Isogai. "Disamping jadwal pelajaran…"

"Ini kado dariku," Nagisa menyerahkan tiga buah buku. Buku paket Fisika, Novel Fiksi dan Buku diary bergambar kucing. Cute. Cute seperti yang ngasih kado.

"Nggak dibungkus?" Maehara sweatdrop.

"Maaf, kelupaan," Nagisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Soalnya malam tadi keasyikan main sama Karma."

"Main apa?!"

"Kalian udah bisa main anu?"

Karma senyum seringai, "Kepo."

Nagisa menyikutnya, "J—jangan salah paham! Kami main playstation kok! Game Sonic Ninja series terbaru."

Hadiah terakhir, dari Maehara, kado normal yang berisi peralatan P3K lengkap dengan perban, obat merah, gunting, obat flu-batuk-sakit kepala- alergi, balsem-minyak angin, juga pembalut.

Serius. Isogai gak tahu mesti terharu atau dzikir. Isogai, enam belas tahun—tetap bersyukur memiliki teman seperti mereka. Meski kadang rasanya pengen pura-pura gak kenal. Syukur aja mereka ganteng.

Indahnya pertemanan.

Tapi Asano sih gak pengen cuman berteman aja.

Kalau bisa, yang dirayakan gak cuman ulang tahun, tapi hari anniversary, dan hari ulang tahun anak juga.

XoXo-XoXo-XoXo

Hari-hari Asano pernah dipenuhi oleh kehadiran Isogai setiap saat. Membuatnya bingung, apakah pikirannya mulai tidak jernih atau matanya mendadak rusak hingga sosok itu selalu terlihat di matanya.

Pertemuan pertama mereka adalah hari sabtu, tanggal dua bulan lima saat rapat osis dimana kehadiran ketua dari tiap kelas di wajibkan. Dia mengingat sosok pemuda ikemen itu dengan baik, duduk di kursi ke lima dari tempatnya berada. Memberikan pendapat dengan bersahaja dan senyuman ramah.

Kala itu adalah minggu pagi, cahaya matahari mulai muncul secara malu-malu , Asano menikmati paginya dengan berlari di taman kota. Mencoba berbaur dengan rakyat menengah ke bawah. Dia melihat ada seorang penjual koran bersepeda melewatinya dengan cepat. Perawakannya sangat mirip dengan Ketua kelas E, namun sebagian wajahnya tertutup oleh topi.

Jam delapan lewat, saat dia bermaksud mencari restoran bintang lima untuk sarapan, kembali terlihat seorang pemuda bersurai hitam, namun sebagian kepalanya tertutup slayer dan memakai masker, orang itu membersihkan sampah-sampah di taman kota dengan beberapa orang lainnya. Sungguh posturnya serupa sekali dengan ikemen dari kelas E itu.

Saat dia bermaksud pulang, melewati tepi jalan yang dipenuhi keramaian, dari kejauhan ia melihat sesosok pemuda begitu gigih menyerahkan selebaran-selebaran kepada orang yang lewat. Pemuda itupun tampak begitu identik dengan anak dari kelas E itu.

Bahkan saat keesokan pagi harinya, saat dia secara terpaksa mampir ke tempat fotokopian dekat sekolah mereka. Pegawai yang membantu disana, berada tepat di pojok ruangan sambil menghitung lembar fotokopian, sangat mirip posturnya dengan Isogai.

Jadi seperti ini yang namanya jatuh cinta.

Kemanapun selalu terlihat bayanganmu.

XoXo-XoXo-XoXo

[tbc]

XoXo-XoXo-XoXo

A/N : hbd Isogai-kun~

Next last chapter \(q)/

Kalteng, 13/11/2017

-Kirea-