Di sekelilingnya gelap. Tapi cahaya kemerahan tampak jelas berpendar. Asap membumbung, menghalang-halangi penglihatan. Lalu samar-samar, ia bisa membaui adanya … darah.
Sasuke berlari. Dia berlari dan terus berlari. Membuka pintu demi pintu. Menoleh ke sana kemari. Hanya untuk mendapati … sosok Itachi yang berlumuran likuid pekat berwarna kemerahan tersebut.
Itachi bergerak kaku ke arahnya. Bagaikan boneka. Bagaikan robot.
Seluruh tubuh kakaknya itu tampak berlumuran darah. Itachi yang dilihatnya tak ubahnya sesosok zombie. Membuat Sasuke meringis dan membeku di tempatnya dalam sekejap. Kepanikan melandanya. Ia tidak bisa lari lagi. Kakinya seolah dipaku. Ia pun hanya bisa menunggu sampai Itachi menghilangkan jarak di antara mereka.
Dan tangan itu terulur. Hendak menyentuhnya. Hendak menarik keluar sesuatu dari dalam tubuhnya.
Secara refleks, Sasuke berhasil menggerakkan tangan. Menangkap apa pun yang seolah hendak menerjang wajahnya.
Matanya sekonyong-konyong terbuka dan ia mendapati sosok bocah berambut cokelat yang bernama Koroppu itu di hadapannya. Tangan anak itu berada dalam cengkeramannya. Keterkejutan karena melihat sosok yang tidak disangkanya itu membuat Sasuke tidak bisa menghayati mimpi yang baru saja dilihatnya.
"Onii-san?" tanya Koroppu. "Onii-san tidak apa-apa? Apa tidak lebih baik melepaskan topengnya?"
Sasuke terkesiap. Ia pun serta-merta menyentuh wajahnya. Lalu, kelegaan segera merambati saat ia tahu bahwa ia masih mengenakan topeng. Tapi kemudian, alisnya mengernyit.
Kenapa tidak ada yang menjaganya saat ia tengah tidak sadarkan diri? Kenapa tidak ada Ino di sampingnya?
"Di mana ini? Di mana Ino?" tanya Sasuke ketus sambil melepaskan tangan Koroppu.
Sasuke pun melihat sekeliling. Tampak sebuah meja kecil dan sebuah rak berisi buku-buku yang ditumpuk asal. Ia pun tengah berada di atas sebuah ranjang yang langsung beralaskan tatami. Kondisi ruangan itu meyakinkan Sasuke bahwa ia berada di sebuah kamar. Tapi … kamar siapa? Di mana ini?
"Ini di panti. Ino-neesan bersusah payah membawa Onii-san ke sini—aku dan Mune juga membantu, sih. Lalu ia meminta satu kamar untuk Onii-san. Kami dipesan supaya tidak masuk ke dalam kamar Onii-san dan membiarkan Onii-san beristirahat, tapi tadi kudengar suara-suara aneh seperti gumaman dari sini. Kukira Onii-san sudah bangun, jadi aku—"
"—Sudahlah," Sasuke memotong penjelasan panjang lebar Koroppu. Sebelah tangannya kini menyentuh topengnya—memperbaiki posisi. "Di mana Ino?" ulangnya.
Koroppu menelan ludah sedikit mendengar nada ketus dari Sasuke. Jelas bagi Koroppu kalau mood pemuda di hadapannya ini tidak begitu baik. Entah apa reaksinya kalau ia mendengar jawaban Koroppu setelah ini.
BACK TO THE BEGINNING
Disclaimer : I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto
No commercial advantages is gained by making this fanfic.
I write this just for my personal amusement.
Pairing : SasuIno, NaruSaku,and may be some slights or hints
STEP7. Bloody Memories
Ino mempercepat larinya. Meloncati pohon demi pohon—sesekali berhenti dan bersembunyi di balik bayang-bayang untuk mengamati situasi. Ia juga terkadang memfokuskan perhatiannya dan mencoba mendeteksi keberadaan chakra lain di dekatnya.
Sudah nyaris satu setengah jam ia berlari tanpa henti—hanya beristirahat sebentar untuk minum dan mengambil napas dan kemudian ia kembali memacu larinya secepat yang ia bisa. Ino sengaja memaksakan diri karena kawanan penculik itu sudah cukup jauh dari desa Koyubi.
Jelas saja, para penculik itu sudah mulai meninggalkan desa sejak kemarin siang. Namun, mungkin ini nasib baik bagi desa karena walaupun para penculik itu sudah mulai berjalan sejak kemarin, mereka tetap saja belum sampai ke daerah yang sulit dijangkau. Bagi ninja profesional seperti Ino, tempat para perampok itu bisa dicapai sekurang-kurangnya dalam waktu dua jam.
Sempat ia berpikiran untuk sekali lagi menggunakan shintenshin sekali lagi untuk memastikan posisi pasti mereka, tapi terlalu riskan. Tidak ada partner yang dapat menjaga tubuhnya. Dan itu membuat Ino tersenyum kecut.
Katakanlah ia ceroboh dan nekat karena memutuskan untuk pergi seorang diri, terutama karena hari sudah menjelang sore. Jika sampai malam tiba dan ia belum juga menyelesaikan misi penyelamatan ini, akan semakin sulit baginya untuk bergerak seorang diri.
Tadinya, ia pun tidak ingin meninggalkan Sasuke. Ia ingin menjaga pemuda itu, berada di sampingnya saat pemuda itu tersadar nanti.
Namun, berhasil tidaknya ia mengejar kawanan perampok itu ditentukan oleh waktu. Ia tidak mungkin menunggu Sasuke sadar dari pingsannya. Terlalu membuang-buang waktu.
Selain itu, Sasuke tidak sedang berada dalam kondisi prima. Pemuda itu terserang demam yang Ino curigai karena kelelahan secara psikis maupun mental. Ino paham kondisi Sasuke yang saat ini tengah memiliki beban tersendiri karena adanya ingatan yang 'hilang'.
Meskipun demikian, tidak ada yang perlu dikhawatirkan terutama setelah Ino memulihkan energi Sasuke dengan ninjutsu medisnya. Namun, istirahat tetap menjadi hal yang terutama dibutuhkan pemuda itu.
Setelah memastikan bahwa Sasuke akan baik-baik saja, Ino pun akhirnya semakin mantap dengan keputusannya untuk pergi seorang diri. Ino hanya bisa berharap bahwa tidak ada anak-anak yang cukup punya nyali dan jahil untuk masuk ke kamarnya dan mencoba membuka topengnya—meski Ino sudah memperingatkan.
Napas yang dihela Ino terdengar berat. Tapi setelah itu, Ino menegakkan tubuh—seakan ia telah membuang segala beban yang dirasakannya bersamaan dengan helaan napas yang mengalir. Mata birunya berkilat, dan mulutnya terkatup. Sebuah anggukan ia lakukan dan pengejaran pun ia lanjutkan.
Sekitar empat puluh lima menit kemudian, Ino mulai bisa merasakan chakra-chakra yang berlainan satu sama lain berkumpul dalam jumlah banyak. Bibirnya membentuk satu seringaian sementara otaknya bekerja.
Tujuan semakin dekat. Cara apa yang harus ia pakai agar ia bisa menang walau hanya seorang diri?
o-o-o-o-o
"…"
Sasuke terdiam.
"…"
Koroppu bungkam.
"Hah?"
Tubuh Koroppu serta-merta menegang. Posisi duduknya menjadi kaku—dengan kaki bersimpuh dan bahu yang naik serta kedua tangan yang terletak di atas pangkuannya.
"I-iya?" tanya Koroppu berhati-hati.
"Apa katamu barusan?" Sasuke mengernyit di balik topengnya. Ia sudah menyibakkan selimut dan siap berdiri. "Ino pergi mengejar kawanan perampok itu?"
Koroppu mengangguk.
"Seorang diri?"
Lagi—anggukan.
Sasuke menggeram dan benar-benar melempar selimutnya. Ia pun berdiri dan dalam sekejap ia sudah ada di ambang pintu kamar. Koroppu hanya bisa tercengang melihat kecepatan gerak Sasuke. Ia pun spontan berdiri.
"Oniisan doko e ikitai no?—Oniisan mau ke mana?"
Sasuke sempat berpikir bahwa pendengarnnya mungkin salah. Tapi selanjutnya ia hanya bisa menanamkan keyakinan bahwa bocah ini memang sedikit bodoh. Tidakkah ia baru saja menanyakan suatu pertanyaan yang retoris?
"Menyusul Ino. Kaupikir aku akan berdiam diri di sini?"
"Tapi Oniisan lagi sakit. Ino-nee bilang begitu."
Samar-samar, Sasuke bisa kembali mengingat rasa sakit yang semula mendera kepalanya. Menyusul ingatan yang kabur mengenai suatu mimpi buruk. Sedikitnya, Sasuke mulai mempertanyakan kondisinya sendiri. Apa dia benar-benar sakit?
Sasuke memejamkan mata beberapa saat. Mengatur napasnya hingga tubuhnya merasa lebih tenang. Tidak ada rasa sakit di kepalanya. Tubuhnya pun tidak lagi merasa lemah. Dia memang tidak sakit—pada dasarnya. Dan ia hanya bisa berharap, sakit yang menyerang kepalanya tidak akan muncul lagi dalam waktu dekat. Setidaknya, jangan di hadapan Ino nanti. Ia tidak mau terlihat lemah. Lagi.
Senyum sinis akhirnya tersungging di wajah Sasuke—meski Koroppu tidak dapat melihatnya karena terhalang topeng. Pemuda itu pun membuang muka seraya berkata,
"Ino akan segera tahu kalau dia salah."
o-o-o-o-o
"Ara?"
Suara seorang perempuan membuat beberapa laki-laki yang ada di sana menoleh cepat. Tatapan mereka menunjukkan kewaspadaan. Ditunjang dengan tangan yang memegang senjata dan raut wajah yang seolah menunjukkan sikap 'tiada ampun'—kerumunan lelaki itu akan terlihat sangat menyeramkan.
Tak heran beberapa anak perempuan yang ada di sana hanya bisa meringkuk ketakutan sambil menahan isak tangis mereka. Tentunya mereka sudah diancam agar tidak menangis meraung-raung.
"Aku mendengar suara tangisan," ujar perempuan berbaju ungu itu sambil berjalan mendekat, "aku kira ada anak kecil yang tersesat atau bagaimana."
"Heh, Nona," ujar salah seorang dari kerumunan lelaki tersebut—yang di bawah mata kirinya terdapat luka melintang horizontal, "apa bukan kau sendiri yang tersesat?"
Perempuan itu—Ino—mengangkat sebelah alis. Satu senyum terpaksa diberikannya. Ia pun memperlihatkan beberapa dedaunan yang sedari tadi dipeluknya.
"Aku tidak tersesat," ujar Ino lagi dengan ramah, "aku memang sedang mengumpulkan daun-daun herbal untuk dijadikan obat-obatan." Gadis itu kemudian sedikit memanjangkan lehernya—seakan hendak melihat keadaan anak-anak perempuan yang tengah meringkuk di bawah pengawasan laki-laki lain yang tidak kalah menyeramkan.
Dalam hati, Ino menghitung jumlah anak perempuan yang ada di sana.
Tiga, empat …. Empat anak, batinnya. Matanya bergerak melirik ke arah para lelaki berwajah seram. Sepuluh orang—lebih dua dari yang diperkirakan Koroppu.
"Apa ada yang terluka? Jika mau, aku bisa membuatkan obat untuk menghentikan luka."
"Heh, heh," ujar si laki-laki dengan bekas luka horizontal, "Nona baik sekali, menawarkan jasa pada kami yang belum kaukenal." Si laki-laki tersebut kemudian mengangkat dagu sang wanita dengan permukaan pedang yang melebar.
Ino mengernyitkan alis sembari menolehkan wajahnya—menghindari pedang dingin yang sempat menyentuh permukaan kulitnya. "Bukannya wajar? Aku mendengar tangisan dari arah sini. Kalau-kalau ada anak yang terluka—"
"Tidak ada yang terluka, Nona." Kepala lelaki tersebut terangkat angkuh. Dalam sekejap, wanita itu langsung dikelilingi oleh lima orang lelaki berwajah sangar. "Belum ada. Mungkin kau mau menjadi yang pertama?"
Bersamaan dengan itu, laki-laki tersebut mengayunkan pedangnya. Ino dengan cepat meloncat ke belakang hingga pedang laki-laki itu menghantam tanah dan menyebabkan beberapa daun kering di sana berhamburan.
"Apa yang kaulakukan?!" gertak Ino dengan mata yang menunjukkan keterkejutan. Tidak sampai di sana keterkejutan Ino. Seseorang ternyata berhasil mencengkeram kedua lengannya dari belakang.
"Tidak usah berpura-pura. Kau shinobi yang dikirim oleh desa untuk menangkap kami, bukan?"
Ino menggertakkan giginya sesaat sebelum ia menjatuhkan dedaunan yang sedari tadi ia peluk hingga kini dedaunan tersebut menyaru dengan sampah daun kering lainnya. Ia pun menghela napas.
"Begitu? Jadi kalian sudah tahu?" Mendadak seulas senyum mengancam diperlihatkan Ino bersamaan dengan saat ia mengangkat kepala. "Sakkun! Sekarang!"
"Ap—"
"BODOH! ITU HANYA TIPU MUSLIHAT! JANGAN MELEPASKAN PEGANGANMU!"
Namun terlambat. Ino berhasil meloloskan diri dari tangan orang yang mencengkeramnya barusan. Ia pun dengan cepat memutar tubuh dan meluncurkan satu hantaman lutut ke perut lelaki tersebut dengan cepat. Bahkan, sebagai tindakan preventif Ino pun menghantam tengkuk lelaki tersebut hingga sang lelaki tumbang ke arahnya dalam keadaan pingsan.
Bersamaan dengan kejatuhan salah satu kawan mereka, beberapa perampok itu pun bergerak mendekat ke arah Ino. Ino mendorong laki-laki yang sudah pingsan tersebut lalu melompat mundur dan menjatuhkan bom asap yang langsung meletus dengan bunyi 'duar' pelan.
Akibat yang ditimbulkan tidak kecil. Asap berhasil menghentikan pergerakan para perampok itu sesaat. Mereka hanya bisa terdiam di tempat sembari menoleh ke kanan dan kiri—sebelah tangan mereka menutup hidung dan mulut untuk mencegah asap masuk.
"BRENGSEEKK!" ujar si lelaki dengan luka horizontal itu sambil menutup mulut dan hidungnya dengan baju. "CARI DIAA! JANGAN LEPASKAN!" perintahnya sambil mengibas-ngibaskan tangan—berusaha menjauhkan asap dari wajahnya.
Saat itulah, Ino kemudian melemparkan kertas peledak ke tengah-tengah mereka. Dedaunan yang semula dibawa Ino pun terbakar dan membumbungkan asap berwarna hijau-kelabu.
"A-apa ini?"
Asap itu mengelilingi tujuh orang—termasuk satu yang sudah pingsan. Segera saja terdengar suara batuk-batuk dan tak lama bunyi berdebum terjadi beruntun.
"O-oi! I-ini … daun obat ti—" Lelaki dengan bekas luka itu kemudian merasa bahwa kelopak matanya begitu berat. Ia pun menguap sekali—semakin memasukkan banyak asap ke dalam paru-parunya—dan ia pun menyusul menghantam tanah.
Dari atas pohon, Ino memperhatikan tujuh dari sepuluh kawanan tersebut sudah tumbang akibat gas tidur yang dihasilkan oleh dedaunan yang berhasil ia kumpulkan. Pun demikian, ia tidak bisa langsung tersenyum puas. Matanya kini bergerak cepat—berusaha menembus asap yang tebal—mencari sisa-sisa penjahat. Masih ada tiga yang tertinggal.
Ino pun tersentak saat dirasakannya suatu benda meluncur dari arah kirinya. Ia menjatuhkan diri dari pohon dan kemudian menyadari sebuah pisau yang sudah tertancap di batang pohon yang tidak jauh darinya. Ino langsung memasang wajah waspada. Ternyata, masih ada yang tidak bisa diremehkan.
"Bukan shinobi yang bisa diremehkan sepertinya," ungkap pria dengan tangan yang berotot dan dagu yang terlihat kasar dengan adanya bekas cukuran janggut. Rambut pria itu cokelat dan disisir ke belakang sepenuhnya, memperlihatkan dahinya yang terlihat datar dan keras. Matanya yang kecil tapi tajam mengamat-amati Ino. "Konoha?" tebaknya.
Ino tidak menjawab melainkan hanya menyeringai. Tangan kanannya waspada di depan dada; memegang kunai. Ia pun segera menepis benda tajam lain yang mendadak terbang ke arahnya dengan kunai tersebut.
Penjahat lain yang tersisa kini menampakkan wujudnya pula. Lelaki itu mengenakan ikat kepala dan berbaju serbahitam. Seringainya tidak kalah mengerikan.
Tatkala Ino sedang mengamati musuh keduanya, mendadak ia merasa tubuhnya terdorong ke belakang hingga punggungnya menghantam pohon. Sebilah pedang kini bertengger di depan lehernya sementara tangan besar menutup mulut dan hidungnya.
Tapi untunglah Ino tidak terlalu lengah. Dengan cepat, ia pun menyodorkan kunai-nya ke arah leher musuh. Tangannya yang lain kemudian mencengkeram tangan kekar si pria berambut cokelat yang berusaha merenggut udara darinya.
"Kheh! Kau gadis kecil yang luar biasa …," bisiknya tepat di telinga Ino. Ino mengernyit jijik. "Tapi kau tidak akan bisa menang dari kami. Kautahu kenapa?"
Pria itu mengangkat tangannya dari mulut Ino seakan memberi kesempatan bagi Ino untuk menjawab. Namun, belum sempat Ino menjawab, tangisan yang nyaring terdengar dari arah kanannya.
Ino terbelalak. Penjahat yang ketiga ada di dekat keempat anak perempuan tersebut. Sosoknya yang tidak terlalu besar dan berkacamata menunjukkan bahwa ia tidak berbahaya. Ino mungkin bisa membuatnya pingsan dengan satu pukulan. Namun, itu jika dia bebas dan jika pemuda itu tidak memegang pedang di depan leher anak-anak tersebut.
Tangan Ino yang memegang kunai turun dengan pasrah. Melihat itu, pria berambut cokelat di depannya langsung menghantam perut Ino dengan lututnya. Kemudian ia memukul pipi Ino dengan ujung gagang pedang tanpa ragu-ragu. Ino terpelanting ke tanah dan terbatuk-batuk.
Gadis berambut pirang itu langsung memegang perutnya yang terasa berdenyut. Perlahan, ia mencoba bangkit dan bertahan dengan lengan kirinya sebagai penyangga. Belum sempat ia berdiri di kedua kakinya, pria lain yang mengenakan ikat kepala langsung menerjang dan menendang tubuh Ino hingga punggung gadis itu sekali lagi menghantam pohon.
Sial! Kukira bisa mengatasi mereka jika mereka hanya tinggal bertiga. Aku lengah. Seharusnya aku menolong sandera terlebih dahulu.
Ino berusaha keras untuk mempertahankan kesadaran. Sebelum kedua pria itu datang, Ino pun meloncat bangkit dan berlari menjauh dengan susah payah. Ia menyembunyikan dirinya di balik satu batang pohon dan dengan segera menggunakan ninjutsu medisnya ke perutnya.
Napasnya memburu. Giginya bergemeretak. Keringat mulai membasahi wajahnya. Dan ketegangan pun semakin ia rasakan saat derik-derik ranting terinjak terdengar mendekat ke arahnya.
Ino baru hendak mengintip dengan berhati-hati saat sesuatu menarik rambutnya dan menghantamkan wajahnya ke tanah. Lalu tangan yang besar kemudian menahan kepalanya agar tetap menempel di tanah selama beberapa saat.
"UKKH!"
"Kaupikir bisa bersembunyi dari kami, Gadis kecil?" ujarnya sambil kemudian memutar tubuh Ino, membuat sang gadis terbaring dalam posisi telentang. Ia kini menduduki perut Ino untuk mencegah gadis itu melarikan diri. "Atau kau bermaksud lari meninggalkan kawan-kawan kecilmu?"
Pikir! Pikir dengan cepat!
"Ka-kau salah!" ucap Ino dengan susah payah. "Justru sebenarnya aku … tidak bermaksud melawan kalian!"
"Hooo … apa kau bermaksud mengatakan bahwa kau akan bergabung bersama kami? Oh, atau mungkin …." Pria berambut cokelat itu menggerakkan pedangnya dan memberi satu goresan melintang di atas dada Ino—menyebabkan bajunya tersobek. "Kau bermaksud menjadi penghibur kami?"
Ino mendengus. Tapi ia selanjutnya ia berkata, "Begitu juga boleh. Mau coba?"
Pria itu terkekeh dan kemudian menjambak rambut Ino dengan kasar. Kepala Ino pun terangkat menghadap ke arahnya.
"Dasar bodoh! Kaupikir aku akan memercayai ucapan perempuan yang sudah menyerang kami?"
"Itu … karena kalian yang menyerang terlebih dahulu!" ujar Ino tak mau kalah. "Aku hanya membela diri."
Pria itu tertawa lagi. Lebih keras. Ia kemudian mendorong kepala Ino begitu saja dan langsung menahan kedua tangan gadis itu di atas kepala dengan satu tangan. Ino terkesiap.
"Kh! Apa yang mau kau—" Tubuh Ino menggeliat saat pria itu menyusupkan tangannya.
"Buktikan kalau kau memang tidak mau melawan kami!" Pria itu kemudian tertawa-tawa lagi sebelum ia merobek paksa baju Ino—memperlihatkan dalamannya yang berupa balutan perban putih.
Ino tidak berteriak. Ia hanya sedikit meringis. Walau ia harus menahan malu setelah tubuh bagian atasnya cukup terekspos, bagi Ino, ini justru sebuah kesempatan. Pedang pria itu sudah terlepas dan hanya satu tangan yang menahan kedua tangan Ino. Dengan sedikit akal, Ino pasti bisa melepaskan diri dan membalik keadaan.
Kakinya sudah bersiap-siap, sementara kedua tangannya mulai bergerak lemah untuk mencari cara lolos. Matanya sesekali melirik ke arah pedang sementara di saat lainnya hanya bisa terpejam untuk menahan rasa geli akibat gerakan tangan si pria berambut cokelat di sekitar perut dan dadanya.
Tangan Ino sudah mengepal. Gigi-giginya sudah ia rekatkan.
Sekarang!
Dan tiba-tiba, Ino mendapati pria itu tersungkur ke atas tubuhnya setelah darah memuncrat di depan matanya. Ino belum melakukan apa-apa dan karena itu, ia merasa sangat bingung dengan robohnya si pria berambut cokelat. Tapi tak lama, karena matanya kemudian menangkap sosok bertopeng berdiri di hadapannya dengan sebelah tangan yang memegang pedang pendek.
Mata biru Ino membelalak. Bersamaan dengan itu, Ino berhasil menyingkirkan tubuh si penjahat yang sudah berlumuran darah ke samping. Ino pun berhasil bangkit dari posisi berbaringnya.
"Sa … suke-kun …?"
Sasuke bergeming di tempat. Keduanya saling berpandangan sebelum Sasuke mendadak memalingkan wajah dan kemudian melepas jubahnya. Ia melempar jubah itu ke arah Ino dengan cepat tanpa mengatakan apa-apa.
Ino mengerjap beberapa saat sebelum wajahnya memerah sempurna. Ya, Tuhan! Dia tidak sadar apa yang sudah terjadi pada bajunya! Dalam sekejap, Ino pun mengenakan jubah Sasuke.
Di hadapannya, Sasuke masih memalingkan wajah, sebelah tangannya di pinggang. Tangan lain pemuda itu bergerak untuk menyarungkan pedangnya.
"Eeeh … kenapa kau … ada di sini?" tanya Ino sambil mencoba berdiri. Nyeri di perutnya sekilas terasa dan Ino membutuhkan bantuan pohon di sebelahnya sebelum ia benar-benar bisa tegak di atas kedua kakinya.
"Apa tidak ada pertanyaan lain yang bisa kautanyakan?" tanya Sasuke masih membelakangi Ino.
Ino menatap punggung Sasuke beberapa saat sebelum sebuah pertanyaan meluncur begitu saja—seolah diucapkannya tanpa sadar—dari mulutnya, "Kausuka dengan apa yang kaulihat barusan?"
Sasuke serta-merta menolehkan kepalanya ke arah Ino. "Hah?"
Ino terkikik. Ia pun berjalan tertatih-tatih ke arah Sasuke. Sasuke tidak bergerak dari tempatnya—tidak pula beranjak ketika Ino berhasil menggenggam lengannya untuk mempertahankan keseimbangan.
"Bagaimana dengan anak-anak itu?" tanya Ino dengan suara lemah.
"Mereka sudah mengurusnya."
"Mereka?"
"Shinobi yang dimintai tolong oleh Desa Koyubi."
Helaan napas lega terdengar. "Yokatta ne—syukurlah," ungkap Ino sambil menyandarkan kepalanya ke pundak Sasuke.
"Kau bodoh."
"Ng? Gyaaa?!"
Tanpa peringatan, Sasuke mengangkat tubuh Ino dan membopongnya.
"Apa yang kau—hei! Turunkan aku, Sasuke-kun!"
"Berisik! Tidak usah bertingkah seolah kau tidak menyukainya."
Ino membelalakkan wajahnya sebelum ia merengut. "Oh, ya? Kalau begitu jangan salahkan aku kalau aku tidak mau melepasmu nanti!" tantang Ino sambil memeluk leher Sasuke erat-erat.
"Tsk!"
Sasuke sudah hendak membawa Ino kembali ke desa saat beberapa suara menyapanya.
"Ah, rekanmu sudah ketemu, ya?"
Ino melongok dari balik pundak Sasuke. Sasuke pun hanya menoleh sekilas dan kemudian mengangguk kecil pada shinobi bantuan yang dimintai tolong oleh orang-orang desa.
"Apa dia terluka?" tanya shinobi lainnya yang tengah menggendong seorang anak perempuan yang tampaknya telah terlelap. Tentu rasa takut dan ketegangan telah menyedot habis semua energi anak itu hingga kini ia terlarut begitu saja di alam mimpi.
"Tidak, tidak. Aku tidak apa-apa," jawab Ino sambil mengibas-ngibaskan tangannya. "Dia ini saja yang terlalu khawatir. Begini-begini aku juga kan shinobi terlatih."
"Ah, tapi dia memang sangat mengkhawatirkanmu, sih?" ungkap shinobi lain yang berambut cokelat dan berkacamata. Pemuda berwajah ramah itu kemudian menyiapkan tali dan beranjak ke arah sang pria berambut cokelat yang ditinggalkan begitu saja di tanah dalam keadaan terluka akibat tusukan pedang Sasuke yang menembus sampai ke dada kanannya.
Sembari mengatur posisi kacamatanya, dia mengimbuhkan, "Dia begitu tergesa-gesa ke tempat ini, bahkan setengah mengabaikan kami yang memang datang untuk membantu. Gerakannya cepat sekali. Sangat terlatih." Pemuda itu tersenyum kecil sebelum berceletuk dengan nada jahil, "Atau karena kekasihnya dalam bahaya, ya, dia jadi bisa bergerak secepat itu?"
"Jangan bicara sembarangan," bantah Sasuke ketus.
"Heee …." Ino mencoba melihat ke arah Sasuke untuk membaca ekspresinya. Tapi nihil karena wajah itu terhalang topeng.
"Jangan besar kepala! Aku hanya tidak mau melihatmu mati berlumuran darah karena aku datang terlambat …." Sasuke terdiam setelah itu. Ia menatap lekat wajah Ino yang sedikit terpercik darah merah pekat milik si pria berambut cokelat.
"Hahaha. Dia malu-malu, tu—eh? Heei! Kalian mau ke mana?!" teriak salah satu shinobi perempuan saat ia melihat Sasuke sudah melompati dahan dengan membawa Ino dalam gendongannya.
Tapi teriakan itu tidak digubris Sasuke. Ia semakin jauh meninggalkan kawanan shinobi dari desa sebelah yang sudah membantunya menyelesaikan urusan dengan kawanan penculik anak-anak tersebut.
"Sa-Sasuke-kun?" bisik Ino. "Kenapa kita meninggalkan mereka begitu saja?!"
"Biar saja. Biar mereka yang mengurus anak-anak dan para penjahat itu," jawab Sasuke dingin. "Kita harus segera mengobati lukamu!"
Ino mengernyitkan alis. "Sebentar. Lukaku tidak separah dugaanmu! Aku bahkan bisa berjalan sendiri jika kau tidak memaksa menggendongku!"
"Berisik! Jangan banyak bergerak! Kau—"
"Sasuke-kun!"
Seketika, gerakan Sasuke terhenti. Ia memandang Ino saat kakinya sudah mendarat dengan stabil di atas sebuah dahan yang besar. Entah apa yang tengah dilihat Sasuke, Ino tidak mengerti. Dan makin membuat Ino bingung adalah saat Sasuke mendadak menurunkannya dari gendongan.
Tubuh Ino sedikit limbung, tapi Sasuke segera menahannya. Ino pun berhasil bersandar pada batang pohon kokoh yang ada di belakangnya. Matanya menyorotkan pertanyaan.
Keheningan yang menyelimuti keduanya tidak menimbulkan apa-apa kecuali kecanggungan. Bagi Ino, melihat Sasuke yang sudah melepaskan topengnya dan memberikan tatapan dalam dan penuh arti membuat perutnya kembali merasa aneh. Bukan karena luka memar yang ia dapat sebelumnya. Bukan pula rasa mual. Tapi sensasi ini mengingatkannya kembali akan perasaan cintanya pada Sasuke sewaktu ia masih seorang gadis yang amat belia.
"Sasu—"
Tangan Sasuke perlahan terangkat. Pemuda itu bermaksud mengelap darah dari pipi Ino. Namun, sebelum ia berhasil melakukannya, tangannya mendadak bergetar. Bayangan wajah Itachi kemudian terpantul dari wajah Ino.
Bayangan Itachi yang berlumuran darah. Tangan yang terjulur ke arahnya ….
Tiba-tiba saja Sasuke justru mencengkeram kedua lengan Ino.
"Katakan padaku!"
Ino terkesiap mendapati perubahan sikap Sasuke yang mendadak ini. Ia bahkan terlalu bingung untuk bereaksi segera.
"Katakan padaku yang sebenarnya! Itachi … Itachi sudah tewas, bukan?" Sasuke menggeram. "Bukan hanya dia … seluruh keluarga Uchiha pun …."
Ino terbelalak sebelum ia menggulirkan bola matanya ke arah kiri bawah.
Sasuke belum tampak akan berhenti.
"Juga, soal penyakit yang sempat kausinggung waktu kau mengajakku ke gua, itu pun … hanya omong kosong, bukan? Jika memang penyakit itu berisiko menular seperti katamu dulu, kau tentu tidak akan mengajakku melaksanakan misi seperti ini. Dengan kata lain," suara Sasuke semakin terdengar getir, "satu alasan mengapa aku harus diasingkan … aku …."
Gadis itu pun tanpa sadar menggigit bibir bawahnya. Ini aneh, seharusnya ini kesempatannya untuk mengembalikan ingatan Sasuke. Tapi, suatu ketidaksiapan membuatnya terhenti dan malah bungkam.
"Ino … kumohon! Beri tahu aku!"
Ino tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri. Ia pun meminta Sasuke melepaskan lengannya dalam diam untuk kemudian … memeluk pemuda itu. Tangan ramping Ino berdiam di punggung Sasuke.
Sasuke mengerjapkan mata sekilas sebelum ia akhirnya memejamkan mata. Lelah, lemah, tidak mau tahu—Sasuke merasa semua energi tersedot dari dalam dirinya. Dan akhirnya, ia pun memilih pasrah. Ia menundukkan kepala dan menyandarkannya ke bahu Ino.
Ino yang merasakan bahwa ketegangan Sasuke sedikit berkurang, memberanikan diri untuk menggerakkan tangannya untuk meraih kepala Sasuke. Ia pun mengusap kepala Sasuke dengan lembut.
Tingkah laku Ino bercerita lebih banyak dari satu jawaban yang diharapkan Sasuke. Dan entah mengapa, Sasuke merasa itulah yang ia butuhkan saat ini. Jawaban tanpa kata-kata.
Mereka pun tetap terdiam dalam posisi itu selama beberapa saat.
Namun waktu yang seakan berhenti sejenak membuat segalanya terasa begitu panjang bagi kedua insan yang tengah mencoba berbagi pemahaman.
o-o-o-o-o
"Terima kasih banyak. Sungguh, bagaimana kami bisa berterima kasih?" ujar kepala desa di hadapan Ino dan beberapa shinobi bantuan dari desa sebelah. Kepala desa tersebut dan beberapa orang lainnya membungkuk-bungkuk di hadapan Ino dan kawanan shinobi lainnya.
"Ah, tidak. Itu sudah tugas kami," jawab Ino sambil mengangkat kedua tangannya. Ia kemudian melirik ke arah Sasuke yang hanya bisa terdiam di sampingnya. Pemuda itu bahkan lebih diam dari biasanya. "Ng, bagaimana dengan anak-anak?"
"Yaa, mereka sudah kembali ke panti. Apa kalian mau ke sana?"
"Saya rasa lebih baik begitu. Lagi pula, saya sedikit agak kelelahan karena insiden tadi, jadi mungkin saya bisa beristirahat sebentar di panti?"
"… Tentu, tentu," ujar kepala desa sambil menggerakkan kepalanya kepada salah seorang tangan kanannya. "Biar dia yang mengantar kalian."
Ino cepat-cepat mengibaskan tangannya. "Ah, tidak usah. Nanti merepotkan. Biar aku dengan Sakkun saja." Gadis berambut pirang itu cepat-cepat berdiri—diikuti dengan kepala desa dan orang-orang lain di ruangan tamu rumah kepala desa tersebut.
"Ngomong-ngomong, soal bantuan yang kalian butuhkan, tentang pembangunan desa ini … boleh kami memulainya besok?"
Kepala desa Koyubi itu tersenyum maklum. "Kapan pun kalian merasa siap. Lagi pula, orang-orang desa ini juga masih cukup bisa diandalkan."
Ino tersenyum sementara ia menyambut uluran tangan kepala desa. Mereka pun berjabat tangan dengan erat dan hangat.
"Santai saja dan nikmati hari-hari kalian selama berada di sini," tutur kepala desa kemudian.
o-o-o-o-o
Ino berjalan pelan-pelan di sebelah Sasuke. Pemuda itu masih tampak enggan berbicara. Ino sudah hendak membuka pembicaraan, tetapi selanjutnya kata-kata yang sudah ujung lidah kembali tertelan. Bukan ide bagus untuk memulai percakapan sekarang.
Alhasil, hanya keheningan yang menemani perjalanan mereka yang tidak begitu jauh ke panti. Rasanya Ino sudah tidak sabar untuk mandi dan segera beristirahat. Mungkin ditambah sedikit makan malam akan membuat malam ini sempurna.
Namun, siapa yang tahu apa yang akan terjadi ke depan? Bahkan hanya dalam hitungan menit, semua rencana bisa hancur berantakan.
Di depan panti, Ino melihat Koroppu yang sedang berjongkok dan Mune yang tampak bersandar di sebuah tiang lampu jalan sambil menendang-nendang debu tanah di bawahnya. Begitu mereka melihat Ino dan Sasuke, senyum terkembang di wajah mereka.
"Hai, kalian," sapa Ino sambil mengangkat sebelah tangannya.
"Ino-nee!" Koroppu yang pertama membalas sapaan itu. Bocah berusia delapan tahun itu langsung berdiri—setengah melompat—kemudian berlari dan memeluk Ino. "Terima kasih banyak! Ino-nee sudah menyelamatkan saudara-saudara kami!"
"Benar, benar!" Mune mengepalkan tangannya di depan dada dan menggerakkannya dengan bersemangat. "Ino-nee benar-benar menepati janji pada kami! Terima kasih banyak!"
"Eh, iyaa—" Ino meringis—mati-matian menahan sakit. Bagian perut yang dipeluk Koroppu belum sempat ia sembuhkan benar-benar karena itu terkadang rasa nyerinya masih terasa.
Tapi mendadak, Koroppu seolah melayang dan melepaskan pelukannya dari Ino. Alis mata Ino sedikit terangkat saat ia melihat tangan Sasuke yang mencengkeram bagian belakang baju Koroppu.
"Eh?"
"Bocah—" Kata-kata Sasuke terputus sampai di sana dan ia kembali menurunkan Koroppu yang memasang wajah bingung.
"Ah," Mune tersadar dan cepat-cepat berkata, "Sakkun-nii juga! Terima kasih!" Bocah ini pun buru-buru membungkuk dengan sopan. "Terima kasih telah menolong saudara-saudara kami!"
Sasuke menggaruk tengkuknya setelah ia melepaskan Koroppu. Tanpa menjawab pemuda itu kemudian melintas begitu saja di tengah-tengah Koroppu dan Mune lalu menghilang di balik pintu panti.
"Sakkun-nii itu tidak ramah, ya? Dia mengerikan."
Ino terkikik dan seraya membungkukkan tubuhnya dengan tangan yang bertopang ke lutut, Ino berkata, "Bukan, bukan. Dia cuma orang yang pemalu."
"Makanya dia pakai topeng, ya?" tanya Koroppu sambil membentuk lingkaran di depan mukanya dengan kedua tangan.
Ino mengusap kepala Koroppu. "Begitulah."
"Apa karena itu juga dia tidak mau memberitahukan nama aslinya?" tanya Koroppu kemudian dengan polos.
"Eh?" Serta-merta tubuh Ino menegak.
"'Sakkun' itu sebenarnya nama panggilan, 'kan, Ino-nee?" Koroppu bertanya dengan semangat. "Eh—aku sempat denger sedikit, sih, waktu Ino-nee memanggilnya. Ehm, nama aslinya Sa—"
"Uchiha Sasuke."
Mata beriris biru Ino membulat. Seluruh tubuhnya menegang karena terkejut dan waspada. Secepat yang ia bisa, ia pun menolehkan kepalanya.
Berdiri tegak di hadapan Ino, seorang pemuda berambut cokelat berkacamata yang ia kenali sebagai salah satu shinobi desa sebelah yang ikut dalam penyelamatan misi anak panti. Ino ingat, pemuda ini yang tadi sempat menggoda Sasuke dengan celetukan jahilnya.
"Tidak ada penyangkalan, Yamanaka-san?"
Sesungguhnya, semua kata-kata yang hendak Ino lontarkan seakan menguap dari benaknya. Fakta yang terkuak ini tak pelak membuat Ino merasa cemas hingga otaknya tidak bisa bekerja secepat yang ia mau. Saat ini, yang Ino pikirkan adalah kegagalan rencananya karena identitas Sasuke yang secara tidak sengaja terkuak.
Padahal Ino sudah cukup berhati-hati. Padahal Ino selalu menekankan dalam pikirannya; ketahuan berarti bahaya. Sasuke adalah sosok yang mungkin dibenci banyak orang—meski hanya sedikit yang tahu mengenai cerita sebenarnya. Gosip memang cenderung berkembang ke arah yang lebih jahat.
Di tengah-tengah pemikirannya, alih-alih menyangkal tuduhan, Ino justru melontarkan pertanyaan yang seakan membenarkan pernyataan pemuda di hadapannya,
"Apa maumu?"
Malam ini mungkin akan menjadi malam yang panjang.
***つづく***
Ada angin apa di saat udah ngantuk malah publish fanfict? Entahlah, lagi pengen aja kayaknya /ngigo/
Etto~ mari dimulai saja sesi membalas review. Untuk kali ini, review-nya aku gabungin di sini semua yaa~ yosh!
Gaarachan: hai, hai yang di sana~ makasiiih udah review di ff aku yg ini dan di ff lainnya~ *tebar cium jarak jauh* segini udah cukup belum SasuIno moment-nya? *siap-siap sembunyi kalau dijawab 'belum' XD
naranty: syiipppoh! ;)
Amy: nggak apa-apa, Amy. Thanks malahan udah rnr :D ngomong-ngomong, ide kamu bagus. *siapin lem tikus super kenceng* *tempelin ke SasuIno* *tepuk tangan dengan puas* (?)
Chikal : huwaa! Makasiih udah suka cerita-cerita aku~ *hug Cikal* Salam kenal juga, Chikal! Dan … kamu cowok? *lirik-lirik kata tampan* *batal meluk* Ngomong-ngomong, panggil aku 'Suu' aja, ya Chikal yang tampak, baik, rajin, sopan, ramah, dan tidak somb—(?) XD
Day-chan Arusuki: day-chaaan~ wakakakak, I like your rambling, Dear! Don't worry ;) Si Sakura emang disuruh apaan ya? *mendadak amnesia sendiri* *daripada lupa mending ikutan pukpuk Naruto deh* *dan ini termasuk salah satu jawaban review ter-absurd aku di chapter ini* (?)
Nanairo Zoacha: syudah diapdeet~ met bacaaa~! XD Yosh! Semangat selalu! Moga-moga kamu juga masih semangat bacanya, ya! ;)
eruna: wkwkwk, mereka so sweet, ya? Kamu nggak ampe diabetes kan? (eh?)
Yamaguchi Akane: salam kenal jugaa! :D hihihihi, saya juga penasaran sama ending-nya (lho?) syukurlah kamu suka saat-saat Ino menjalankan misi bareng Sasuke. ;) syiip! Ini udah dilanjut, ya~ moga-moga masih berkenan ninggalin jejak :3
Mayank Queeny: maaf kalau agak (?) lama update-nya ya. Aku udah masuk dunia kerja, dan masih di saat-saat yang sulit untuk nyolong waktu Soal karakteristik, kan di sini Sasuke ingetannya masih kecampur aduk dan nggak inget hal-hal yang bikin dia sedih dan dendam, makanya karakternya agak 'melunak' :D Kalau soal cepet-cepet faal in love, mungkin nggak bisa secepat itu, karena masih dalam proses. Jadi, tunggu ya, sampai cerita mereka mateng (?)
amay: ma-masih pendekkah? O_O *harap-harap cemas* makasih udah mau nunggu~ :*
Larc kuchiki: kyaaa! Makasiiih banget udah suka ama cerita aku yang ini. Btw, panggil 'Suu' aja, onegai?
Neerval-Li: hihihi, chapter ini banyak yang bilang romantis ya. Syukurlah! :""3 Tenang, mereka kayaknya masih betah main-main di misi (?) so, yaaa~ kita lihat aja bagaimana petualangan mereka selanjutnya mencari harta karun Paddle P*p (?)
vaneela: wah? Udah lulus kuliah ya, Cenpai? Syelamaaat! *telat* SAAAS! Elo ketahuan kalau elo baru aja dihamilin ama Kisame! Kok bisa, sih, Sas? Apa gara-gara elo dengan sengaja ngerekam aksi brutal lo ama si Kisame waktu di ranjang? *sharingan-ed* *dan ane pun terjebak di dunia genjutsu hingga nggak bisa lagi melanjutkan ff ini dalam waktu dekat*
Gui gui M.I.T: aheey! Halo Guigui~! *lambai-lambai* awww, beneran nih romantisnya nggak pasaran? Syukurlah! Soal perasaan Sasu ke Ino … masih on progress. Sabar-sabar aja ngehadepin manusia es itu. Hahaha. Aduh, ampun yaa … karena update-nya telat sangat, ampe lupa cerita sebelumnya, ya? Hampura~
Mytha cherryz dan Guest(1): ehm, nggak bisa janji banyakin NS karena aslinya porsi mereka cuma slight, tapi nggak menutup kemungkinan mereka masih akan muncul di chapter-chapter selanjutnya :D
Putpit: cover fanfict-nya boleh minta sama orang sih. Gambar dia emang bagus-bagus XD awww~ syukurlah kalau nggak datar dan masih ngalir-ngalir aja. Hehehe. Iyaaa, tiap chapternya bakalan labil, kadang panjang, kadang pendek, tergantung mood :"P Soal SasuIno dan NaruSaku yang seimbang, aslinya sih porsi NaruSaku lebih ke slight, tapi nggak menutup kemungkinan mereka bakal cukup sering muncul di sini. Mehehe.
Yuu-chan: dia … ambruk karena dia hanyalah sebatang pohon rapuh yang tak kuasa menahan terjangan badai (?) /abaikan/ syukurlah kamu suka adegan sasuino-nya. Kalau ditanya berapa chapter, aku juga nggak tahu inii. Nyahaha. Moga-moga sih nggak terlalu panjang, kalaupun panjang moga-moga gak bosenin :"P Btw, maaf gak bisa update kilat ;_;
kikurocchi: hihihi, ini update lagi chapter 7-nya. Moga-moga kamu tetep suka ya. Di sini ada romensnya nggak ya? *celingak-celinguk cari romens*
Yap. Sekian balesan ripiu-ripiunya. Seperti biasa juga, buat yang silent reader (kalau ada), buat yang udah nge-fave dan nge-alert juga, terima kasih yang sebesar-besarnya yaaa! *hug you all*
Moga-moga chapter ini tidak mengecewakan, yaa~. D":
Last but not least, jangan lupa beritahukan pendapat, pesan, kesan, kritik minna-san tentang chapter ini via review. Okay, okay? XD
I'll be waiting.
Regards,
Sukie 'Suu' Foxie.
~Thanks for reading~
