Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

.

I Love You but I never can reach you

.

.

Sorry for bad language typos and many more, happy reading!

.

.

Sasori menelusup kan jemarinya ke dalam rambut merahnya lalu mulai menggeram. Ia benar-benar terlihat kacau karna kejadian beberapa hari yang lalu. Hari ini, ia memarahi beberapa pegawainya yang melakukan setitik kesalahan dan berusaha memecat mereka jika hal itu kembali terulang. Ia membenci dirinya ketika harus menjadi emosi seperti ini.

"Tuan Akasuna. Saya sudah mendapatkan alamat rumah Nyonya Sakura. Ia dan bibinya tinggal di sebuah apartemen kecil di samping taman kanak-kanak. Letaknya di pinggir kota. Ini alamatnya," Seorang pria masuk lalu berkata dan memberikan secarik kertas bertuliskan alamat yang ia mau. Dianggukkannya kepala lalu menyuruh pria itu pergi. Ia berdiri dari kursi putarnya lalu menyambar kunci mobil dan segera pergi dari sana.


Tsunade mengamati kue di dalam oven yang tengah ia buat. Tadi Sakura baru saja memberi kabar kalau dia akan pulang telat hari ini. Tapi tak mengatakan alasannya kenapa.

"Sakura pasti senang dengan kue keju ini," Ucapnya dengan penuh rasa kebahagiaan. Ia melirik jam sebentar lalu kembali mengamati kue yang belum sepenuhnya jadi itu,"Baiklah. Sekitar 10 menit lagi," Katanya lalu beranjak dari sana. Tsunade membereskan peralatan-peralatan yang ia gunakan lalu membawanya ke tempat cucian. Ketika akan mencuci piring, suara bel pintunya terdengar. Tsunade menghentikan kegiatannya lalu mendekati pintu. Tangannya menyentuh gagang pintu lalu menekannya ke bawah.

Matanya menatap seorang pria rambut merah yang berdiri tepat di depannya dengan mata hazelnya yang tajam. Pria itu mengenakan jas kantoran dan sangat rapi membuat Tsunade sempat terpana barang sebentar saja.

"Nyonya Tsunade Senju?"

Telinga nya mendengar suara berat yang dikeluarkan pria itu kemudian mengangguk. Ia mempersilahkan Sasori untuk masuk dan duduk di ruang tamu apartemennya.

"Maaf, apa anda teman Sakura?"

Sasori tak menjawab. Ia bingung, apakah dirinya harus mengatakan hal ini langsung atau tidak?

Sasori mengalihkan pandangannya ke arah Tsunade dan tersenyum kecil,"Akan lebih sopan jika aku memperkenalkan diriku," Ucapnya. Tsunade memandangnya lekat-lekat seperti menyadari sesuatu. Tatapan itu... Tatapan yang sama yang dimiliki oleh Sakuranya.

"Kau terlihat tidak asing lagi,"

Sasori mengeluarkan senyumannya,"Aku memang tidak asing bagimu Nyonya Senju-"

Matanya menatap tajam ke arah Tsunade,"Aku Sasori Akasuna," Mata Tsunade membesar. Ia dengan segera berdiri lalu menutup mulutnya karna terkejut. Sasori terpaku di tempatnya. Ia membiarkan Tsunade dengan semua pemikirannya yang bingung.

"Ka-kau sungguh Sasori? Kau Sasori dalam surat itu? Sasori putra Mebuki? Keponakanku yang ditukar? Kakak kandung Sakura?"

Sasori mengangguk kaku. Jawabannya hanyalah 'iya'.

"Aku kemari karna aku butuh tes DNA dengan Sakura. Aku benar-benar tidak memercayai hal ini tapi-"

"-Kau tidak tahu betapa sulitnya aku mencarimu? Betapa tersiksanya aku ketika tak kunjung bertemu dengan mu dan menepati permintaan adikku? Dan kau disini setelah semuanya kacau... Apa yang terjadi padamu nak? Kemana saja kau selama ini?" Tanyanya bertubi-tubi bahkan tanpa Sasori bisa menjelaskan lagi. Ia melepas jemari Tsunade yang mencengkeram bahunya dengan keras lalu berusaha menjelaskan secara mendetail kenapa dan bagaimana ia bisa tahu semua hal ini.

FLASHBACK

Sasori menutup buku yang ia baca lalu mengembalikannya ke tempat semula. Ia melirik ke pintu utama yang terbuka, menampilkan pamannya yang berjalan terhuyung-huyung sambil bergumam tak jelas. Sasori berdiri dan mendekati sang paman, memapahnya ke sofa tamu lalu melepas botol alkohol yang ia genggam.

Ini tengah malam. Sasori memang sengaja menunggu kepulangan sang paman karna ia khawatir. Neneknya selalu mengatakan kalau paman Asuma sering mabuk-mabukan ketika malam hari entah untuk apa dan kembali menghilang ketika paginya. Maka dari itu Sasori yang akan terjaga malam ini untuk mengecek keadaan pamannya.

"Paman, kumohon berhentilah menjadi seperti ini. Kau harus tahu kalau nenek mengkhawatirkan dirimu. Dia ingin kau bersikap lebih dewasa," Ucapnya lalu membiarkan sang paman menegak air putih yang sudah dibawanya. Asuma melempar gelas itu ke sembarang arah dan menunjuk-nunjuk wajah Sasori dengan kasar,"Anak tak tahu diri! Beraninya kau memerintahkan aku seperti itu. Kurang ajar sekali!" Bentaknya. Sasori terdiam sejenak, memang bukan hal aneh jika Asuma memarahinya namun kali ini Sasori tak suka kata-kata itu.

"Aku hanya mencoba untuk membantumu dan menenangkan nenek. Setidaknya kau kasihanilah dirimu sendiri paman. Kau itu keluarga kami," Balasnya datar. Sasori sedari awal tak menyukai dengan sifat pemarah yang dimiliki oleh Asuma. Ia membenci kehadiran pria ini di sekitarnya. Namun, dia adalah pamannya. Anggota keluarganya, maka dari itu ia harus peduli pada Asuma.

"Brengsek kau! Memangnya kau itu keluarga ku hah? Aku tak sudi memiliki keponakan macam dirimu iblis kecil!" Bentaknya sekali lagi. Sasori mulai merasa ucapan Asuma melantur kemana-mana. Ia ingin kembali berucap namun Asuma lebih dulu mengeluarkan semua isi hatinya,

"Kau itu bukan keluargaku. Aku tak pernah punya keponakan seperti dirimu. Kakakku dan istrinya meninggal karena kecelakaan saat akan ke rumah sakit. Mereka... Mereka mati namun bayinya selamat. Waw, saat itu benar-benar keajaiban,"

"Apa maksud paman?" Tanya Sasori mulai kebingungan. Yang ia tahu, orang mabuk akan mengutarakan kebenaran ketika mereka berbicara.

"Ya, mereka menabrak mobil lain dan boom! Mereka tewas. Saat di rumah sakit, wanita cantik menghampiriku dan menawarkan aku berjuta-juta dollar. Sangat banyak sampai rasanya tidak muat dalam dompetku," Ucapnya sambil menatap kosong ke arah depan. Sesekali ia cegukan akibat alkohol yang ia konsumsi sebelumnya.

"Dia bilang, temannya yang melahirkan di rumah sakit tidak menginginkan anak laki-laki jadi dia menukarnya dengan keponakanku yang cantik. Maksudku, dia membeli keponakanku lalu menggantinya dengan kau bocah iblis. Tapi aku tak menyesal, selama aku punya uang... Maka aku bahagia entah itu tanpa keluarga kandungku ataupun iya," Lanjutnya. Sasori bungkam.

Ia tahu apa arti kata itu. Asuma mencoba mengatakan kalau dia bukanlah paman kandungnya. Dalam arti kata, dia tak punya keluarga asli.

"Wanita itu memberimu padaku. Tanpa sepengetahuan siapapun karna sebelumnya kakak ipar baru saja melahirkan bayinya. Bahkan ibuku tak pernah tahu kalau cucunya adalah seorang perempuan. Ah sialan, jika saja saat itu uang yang diberikan Uzuki lebih kecil, mungkin aku akan menolak dan tidak bertemu dengan iblis cilik ini. Ah sayangnya dia tahu kelemahan ku hahaha," Ucapnya diiringi suara tawa yang menggema.

Sasori mengepalkan tangannya. Ia menatap lurus ke arah mata Asuma yang masih tertawa akibat ucapannya sendiri,"Aku bukan seorang Akasuna?"

Asuma menatapnya tanpa minat,"Tentu saja bukan. Kau itu iblis. Ah siapa ya namanya aku lupa? Kate? Karen? Karin? Ah tentu... Karin. Dia pasti tumbuh jadi gadis yang cantik," Jawabnya dan itu sukses membuat mata Hazel Sasori membulat sempurna,"Karin?"

Asuma tak menjawab. Ia memejamkan matanya lalu bersenandung kecil dengan suaranya yang serak. "Karin adalah keponakan mu?" Tanyanya. Sasori berdiri dari tempatnya. Ia mengepalkan tangannya dan benar-benar siap untuk memukul telak wajah menjijikkan sang paman. "Karin dan aku? Aku... Ibu dan ayah? Mereka?" Ia menjambak rambutnya frustasi dan menendang apapun yang terlihat oleh matanya yang berkilat amarah. Buku-buku jarinya memutih akibat kepalan tangannya. Ruang tamu itu bak kapal pecah akibat perbuatan Sasori. Ia kembali menatap Asuma lalu meraih pundak pria itu dan mengguncangnya,"Dimana paman? Dimana Karin dan keluarganya?!"

"Karin? Ah aku tak tahu. Tapi dia bersama dengan wanita itu. Wanita yang membelinya. Sedangkan Keluarga? Oh ibumu yang cantik itu sudah lama mati bocah. Dia keracunan,"

Sasori terdiam. Aura gelapnya muncul. Ibunya? Nyonya Mebuki? Wanita yang sering memberinya makanan itu sudah mati?

"Ibuku? Nyonya Mebuki?"

Asuma mengangguk tanpa ragu sebelum kehilangan kesadaran nya.

Sasori menundukkan pandangannya lalu kembali mengepalkan tangan,

"Aku benci kalian semua,"

FLASHBACK END

"Sejak saat itu aku mencoba mencari Karin dan akhirnya aku menemukannya. Dia berada di Amerika. Dua tahun aku mencarinya kemana-mana sampai seseorang mengatakan hal itu padaku,"

"Lalu apa yang terjadi?"

"Aku menemuinya lalu berusaha membawanya kembali. Sebelum itu aku bertemu dengan wanita itu. Wanita yang sudah menukar kehidupan ku dan Karin. Awalnya aku berbohong dengan mengatakan kalau aku jatuh cinta pada Karin dan ingin menikahinya agar wanita itu bisa melepas Karin dari tangannya-"

"-Dan itu membuahkan hasil. Yugao Uzuki memenuhi permintaan ku. Dia membiarkan aku bertemu dengan Karin dan membawanya. Dia masih Karin yang sama, perempuan dengan senyuman manis di bibirnya dan kacamata merah yang membingkai matanya,"

Tsunade mulai merasakan matanya memanas. Oh... Betapa ia merindukan gadis itu. Sangat rindu. Namun ia tak pernah tahu kalau Karin sangat berada dekat dengannya hingga Sasori muncul. "Kau membebaskannya dan langsung menikahi nya?"

Sasori mengangguk,"Dia sangat senang bertemu denganku. Dia memelukku dan mengatakan kalau aku adalah malaikat yang menolong dirinya dari neraka. Kau tau, aku benar-benar mencintai Karin setelah itu dan tanpa ragu aku menikahinya. Aku dan Karin hidup sebagaimana mestinya suami istri sampai peristiwa itu terjadi,"

Tsunade mengerutkan keningnya,"Peristiwa apa?"

"Nenekku meninggal setelah meminum teh hangat dari Karin. Pihak rumah sakit mengatakan kalau nenek terlalu banyak meminum racun itu dan nyawanya tidak tertolong-"

"-Kau tahu saat itu aku marah dan benar-benar lepas kendali. Aku memaki Karin dengan ribuan kata kasar yang aku tahu itu pasti menyakiti hatinya. Aku mengatakan padanya kalau selama ini aku tak pernah mencintai dirinya dan hanya berbohong di depan wanita itu,"

Tsunade menutup bibirnya dan memandang prihatin pada Sasori,"Apa dia membencimu?"

Sasori menggeleng,"Dia tidak pernah benci padaku walau aku berbohong padanya. Waktu itu aku benar-benar berkata kasar. Aku katakan padanya kalau selama ini niat awalku adalah menghancurkan hidupnya. Sebenarnya itu tidak sepenuhnya kebohongan. Aku membenci Karin mulai saat itu dan menolak semua penjelasan darinya yang mengatakan kalau pamanku yang bersalah. Aku tak bisa berpikir lagi-"

"-Aku sengaja mengurungnya di rumah tanpa sepengetahuan orang lain. Karna aku tak mau dia pergi dari hidupku sebelum aku mengatakan maaf padanya dan menjelaskan semua kekacauan ini padanya,"

"Aku mengerti bagaimana perasaanmu nak. Karin adalah anak yang tegar. Ia selalu bersikap lebih dewasa dari umurnya dan aku sudah menyadari itu saat pertama kali aku memeluk tubuhnya saat bayi. Sasori... Aku tak pernah menyangka kalau kau adalah anak kandung adikku yang sesungguhnya. Kau tahu, kelahiran mu benar-benar dinantikan oleh ayahmu-"

"-Jika saja mereka mau mendengarkan ucapan ku untuk memeriksa jenis kelamin bayi yang dikandung oleh Mebuki, mungkin ceritanya akan berbeda sekarang ini. Tapi takdir berkata sebaliknya. Kita bertemu dalam keadaan penuh bahaya seperti ini," Ucap Tsunade. Sasori menatapnya sendu. Ia sudah tahu kalau ibunya telah mati. Jadinya ia tak akan pernah merasa apa itu rasa bahagia saat memiliki ibu yang menyayanginya sepenuh hati.

"Boleh aku... Memelukmu Baa-san?" Tanyanya dengan penuh keraguan. Tsunade tersenyum sedih lalu meraih bahu tegap Sasori untuk ia peluk. Dirasakan nya tangan Sasori memeluknya erat dan menumpahkan segala bebannya pada Tsunade.

Dia bersamaku sekarang Mebuki, batinnya.

"Tenanglah nak. Aku benar-benar bahagia bisa bertemu denganmu. Kau tahu, berapa lama aku mencarimu? Bahkan kedatanganku ke Tokyo adalah untuk mencarimu. Tapi kupikir sekarang aku tak perlu mencari lagi karna kau sudah ada bersama kami,"

Tsunade melepas pelukannya lalu menangkupkan tangannya pada kedua pipi Sasori yang dingin,"Aku yang akan menjelaskan semuanya pada Sakura. Kau hanya perlu datang kemari bersama Karin dan kita bisa menyelesaikan semuanya secara kekeluargaan," Ucap Tsunade. Sasori mengangguk paham, ia kini tahu bahwa dirinya tak bisa menghadapi hal ini sendirian. Ia butuh orang lain.

"Kau benar-benar mirip ayahmu. Hanya saja warna matamu sama seperti kakekmu. Itu yang membuatnya berbeda,"

"Bibi? Ceritakan semuanya mulai dari awal. Apa yang terjadi pada ibu dan juga ayahku,"


Sakura menutup toples kue yang tadi diberikan oleh Ino. Kali ini perutnya sudah mulai penuh terisi oleh kue kering itu. Dan ia rasa tak perlu untuk turun makan siang lagi.

"Apa yang Sasuke-sama lakukan? Biasanya ia menemuiku," Tanyanya pada diri sendiri. Ia melirik cctv yang mengarah kepadanya dan mendesah. Ia jadi ingat dengan lamaran Sasuke saat itu. Dua minggu? Ini sudah berjalan seminggu. Berarti ia hanya memiliki waktu satu minggu lagi. Namun Sakura masih belum tahu jawaban apa yang akan ia beri untuk Sasuke.

Ia masih bimbang, saat Yugao menyebut nama Sasuke yang dipikirkan nya adalah Sasuke dalam bahaya. Ia tak bisa memikirkan hal lain selain itu namun tak mungkin juga ia menolak Sasuke karna di dalam hatinya ada sepercik rasa cinta pada Sasuke dan ia tahu rasa itu akan tumbuh besar dalam hatinya.

"Tuhan... Bantu aku,"

Cklek!

Sakura menegakkan tubuhnya dan melihat siapa yang masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk,"Kau mau makan siang?"

Itu Sasuke. Panjang umur sekali.

"Ah, aku baru saja makan camilan dari Nona Yamanaka. Jadi perutku tidak terlalu lapar," Jawabnya. Ia tidak bohong, saat ini perutnya belum terasa kosong,"Itu hanya sementara. Ayolah kau harus makan siang. Bukankah kau bilang hari ini lembur?" Sakura mengedipkan matanya dan mengangguk kaku. Satu hal yang ia lupa, Sasuke Uchiha tidak mau menerima penolakan. Apapun yang ia minta harus segera dituruti.

Sakura meraih tas kecilnya lalu memasukkan beberapa barang penting sebelum berjalan ke arah Sasuke yang menunggunya di depan pintu.

"Kau mau makan apa siang ini?" Tanya Sasuke.

"Aku? Aku akan ikut kemanapun anda membawaku Sasuke-sama,"

Sasuke tertawa kecil ketika mereka sudah berada dalam lift dan itu membuat Sakura menautkan alisnya bingung. Kenapa Sasuke tertawa?

"Kata-kata mu terlalu ambigu, sungguh. Memangnya aku menculikmu? Ah tidak, memangnya kau mau kubawa kemanapun seperti penculik?"

Pipi Sakura kembali memerah. Ia bahkan terlihat konyol karna ucapannya sendiri. "Aku tak bermaksud-"

"Aku mengerti," Potong Sasuke. Ia menekan tombol di dalam lift lalu melirik Sakura yang berdiri kikuk di sampingnya,

"Ada yang kau pikirkan Sakura?"

Netra hijau Sakura membalas tatapan Sasuke dan menggeleng. Ia memang berbohong. Otaknya terlalu banyak memikirkan masalah, mulai dari kakaknya, Yugao, hilangnya Paman Kabuto serta lamaran Sasuke beberapa hari yang lalu. Sakura sendiri bingung ingin menyelesaikan masalah yang mana dulu. Semuanya terlalu rumit dan menguras otak.

"Ayo jalan Sakura. Jangan melamun," Titah Sasuke lalu menarik telapak tangan Sakura.

Ia tersentak sejenak lalu mengimbangi langkah Sasuke yang besar,"Maaf aku tadi melamun,"

"Hn, bicaralah jika kau punya masalah. Kau tahu aku bisa membantumu kan?"

Sakura mengangguk lalu mendudukkan dirinya di dalam mobil saat mereka tiba di depan kantor. Sasuke duduk di kursi kemudi lalu mulai memutar mobilnya ke arah lain.


"Aku tak tahu harus memesan apa. Kau tahu, aku tak terbiasa memakan masakan Italia,"

Sasuke tersenyum tipis,"Kau bisa memesan Pasta Primavera. Itu salah satu masakan favoritku," Sakura menganggukkan kepala. Ia tahu apa itu pasta tapi mungkin akan sedikit berbeda jika itu masakan favorit Sasuke.

Ketika pelayan selesai mencatat dan pergi, mata jelaga Sasuke memusatkan pandangannya pada Sakura yang duduk gelisah di tempatnya. Ia terlihat begitu takjub dengan isi dari restoran yang mereka singgahi.

"Jadi Sakura? Kau sudah punya jawaban mu?"

Tubuh Sakura tersentak ketika Sasuke menanyakan sebuah pertanyaan yang sedang berusaha untuk ia hindari. Ia membenarkan letak duduknya dan tak berani beradu pandang dengan Sasuke.

"Sakura?"

"Ah?! Uhm... Aku... Tentang itu-" Sakura menundukkan pandangannya dan memainkan jarinya yang bertautan.

"-Aku tak mau kau ikut terjebak dalam bahaya Sasuke. Aku terlalu takut untuk kehilanganmu seperti aku kehilangan keluargaku. Aku.. Aku tak mau-"

"Cukup Sakura. Saat ini kau sama sekali tidak membuatku dalam bahaya. Kau salah, mereka tidak akan pernah bisa membodohi orang sepertiku. Kau tak perlu takut," Potong Sasuke. Ia meraih dagu Sakura agar menatapnya ketika ia berbicara dan saat itu juga Sakura bisa melihat cahaya dari wajah Sasuke.

"Sakura, kau tahu kan aku mencintaimu? Aku berjanji kalau aku tak akan pergi tanpa izin darimu. Aku akan selalu ada di setiap nafasmu. Dan tentu kau tak perlu takut untuk kehilangan ku," Ucapnya dan itu berhasil membuat hati Sakura sedikit tenang. Ia tahu, tak akan mudah bagi seseorang menjatuhkan Uchiha Sasuke. Karna pria dingin ini jauh lebih cerdas dan berani.

"Sasuke-sama... Aku tak yakin-"

"Yakinkan dirimu Sakura. Kau masih punya satu minggu untuk menjawab lamaranku," Tukasnya. Sakura kembali bungkam. Ia kembali menanyakan hatinya dan menarik napas.

"Mengenai itu, kupikir kau bisa mendengar jawabanku sekarang. Aku sudah menetapkan jawabanku,"

Sasuke merasakan hawa di sekitarnya panas. Menunggu Sakura seperti mendapatkan bom yang kapan saja siap jatuh dan meledak di atas kepalanya. Ia menajamkan telinganya dan menatap tajam ke arah netra hijau Sakura.

"Aku tahu kau sudah mencintai ku. Kau menyatakan hal itu beberapa hari yang lalu. Dan aku, aku pikir juga perasaan ku terhadap mu sama. Aku juga jatuh cinta padamu-"

"-Dan jawabanku adalah iya. Aku bersedia menikah denganmu,"

Entah kenapa dada Sasuke merasakan kelegaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Sensasi ini jauh berbeda dari pada hal yang ia dapatkan selama menjadi seorang yang sukses. Ini jauh lebih membanggakan dirinya sendiri.

Ia meraih tangan Sakura dan menggenggam nya erat,"Kau menerima lamaranku Sakura? Kau sungguh bersedia menikah denganku?"

Sakura tersenyum kecil dan mengangguk. Sasuke bangkit dari duduknya lalu mendekati Sakura sebelum memeluknya sepihak,"Kau tahu aku benar-benar bahagia saat ini. Perasaan ini jauh lebih hebat. Terimakasih Sakura,"

Sakura membalas pelukan itu dan mengelus punggung Sasuke. Entah kenapa perbuatan pria dingin ini padanya sangat manis. Sasuke terlihat jauh lebih menggemaskan dalam keadaan seperti ini. Sasuke melepas pelukannya lalu berlutut di hadapan Sakura ketika beberapa pasang mata yang mengenalnya mulai menatapnya dengan penasaran.

Sasuke mengeluarkan sebuah kotak beludru dari saku celananya lalu membukanya. Menampilkan cincin berlian yang cantik. Sakura terpana barang sejenak. Ia mengatupkan bibirnya sebelum merasakan tangan kirinya di angkat Sasuke lalu pria itu memasukkan cincin tadi ke jari manisnya.

Sasuke mencium punggung tangan Sakura lalu kembali menegakkan tubuhnya. Suara tepuk tangan mulai terdengar di sekitar mereka dan itu membuat Sakura tersadar atas lamunannya sendiri.

Banyak orang yang menepuk tangan mereka sebagai ucapan selamat dan itu membuat Sakura malu.

"Mereka hanya senang dengan jawabanmu. Terimakasih Sakura,"


Sakura menarik napasnya perlahan kemudian melepasnya lagi. Begitu seterusnya,"Ayo. Kita bisa melakukan ini," Ucap Sasuke. Ia meraih tangan Sakura dan menggenggam nya seolah memberikan kekuatan. Malam ini mereka akan mengatakan hal ini pada keluarga besar Sasuke dan besok Sasuke akan mencoba berbicara dengan Tsunade. Karna wanita itu satu-satunya Keluarga yang dimiliki oleh Sakura. Juga saat ini Sasuke belum bisa menemukan dimana Karin berada dan juga eksistensi Kizashi.

Sakura melepas seatbelt yang ia kenakan lalu membuka pintu mobil, diikuti oleh Sasuke. Keduanya berjalan beriringan dengan tangan yang saling bertaut satu sama lain. Sebelumnya, ia sempat memberitahu Itachi bahwa ia ingin menyampaikan sesuatu yang penting malam ini. Jadi sudah dipastikan keluarganya sudah menunggu di dalam.

Ketika kaki mereka menginjak lantai dalam rumah, Sakura melihat anggota keluarga Sasuke yang sudah duduk manis di atas sofa sambil sesekali berbincang hangat. Itachi yang pertama kali menyadari keberadaan mereka lalu menyapa,"Ah itu Sasuke dan Sakura,"

Mikoto mengalihkan pandangannya ke arah pintu utama dan tersenyum lebar. Ia mendekati Sasuke serta Sakura dan menuntun mereka untuk duduk bersama.

"Jadi, apa yang ingin kalian katakan?" Tanya Fugaku langsung. Ia menyesap teh hangatnya lalu kembali menatap mata putra bungsunya dan Sakura bergantian.

Sasuke dan Sakura saling menatap kemudian Sasuke berbicara,"Aku dan Sakura memutuskan untuk menikah. Dia sudah menerima lamaranku yang beberapa hari lalu ku ajukan,"

Sasuke menangkap raut berbeda yang ditunjukkan setiap anggota keluarganya. Dan Mikoto yang paling berseri,"Kalian akan menikah? Sakura-chan! Kau sungguh menerima putraku untuk menjadi pendamping mu?"

Sakura mengangguk lalu tersenyum,"Aku menerima semua kelebihan dan kekurangan nya Ibu Mikoto,"

Mikoto tak dapat menahan diri lagi, dengan segera ia memeluk tubuh Sakura dan mengucapkan kata terimakasih padanya. Izumi serta Itachi pun juga ikut berbahagia melihat Sasuke.

"Jadi kapan kalian akan menetapkan tanggal pernikahan?" Tanya Fugaku.

"Satu minggu dari sekarang! Aku tak sabar melihat putraku berdiri di altar pernikahan bersama Sakura di sampingnya!" Jawab Mikoto dengan bersemangat. Sakura membulatkan matanya tak percaya,"Sa-satu Minggu?"

"Tentu sayang! Kalian harus secepatnya menikah!" Jawab Mikoto. Sakura hanya mendesah pelan dan mengangguk. Ia akan menuruti apapun yang dikatakan oleh calon ibu mertuanya dan menikah dengan Sasuke secepatnya.

"Ibu, Kupikir acara kita benar-benar padat. Belum lagi acara ulangtahun pernikahan Nii-san,"

"Aku dan Izumi akan menunda itu Sasuke. Lagipula pernikahan kalian jauh lebih penting," Sanggah Itachi. Ia menepuk bahu adiknya dengan pelan dan mengacak-acak rambutnya gemas.

"Nii-san jangan lakukan itu!" Protesnya. Ia membenarkan letak rambutnya kembali setelah menggerutu kepada Itachi.

"Satu minggu adalah waktu yang pas. Kita bisa merayakan ulangtahun pernikahan Itachi dua Minggu setelah itu. Ayah rasa itu yang terbaik," Kata Fugaku. Ia menampilkan senyumannya yang tak pernah Sakura lihat. Ternyata Fugaku memiliki senyum yang menawan sama seperti kedua putranya.

"Izumi-chan, kita harus menemani Sakura untuk memilih baju pengantin nanti. Aku akan memesan yang paling cantik untuk Sakura ku," Titah Mikoto. Izumi tersenyum kecil seraya mengangguk. Ini memang sifat ibu mertuanya yang penyayang.

"Kau sudah meminta persetujuan dengan keluarga Sakura?" Tanya Mikoto. Sasuke menggeleng,"Akan aku lakukan besok. Ayah dan ibu tak perlu ikut serta. Aku bisa mengurusnya sendiri," Jawab Sasuke. Mikoto mengelus pipi putranya dengan sayang dan mengangguk paham. Ia tahu Sasuke sudah bisa melakukan semuanya sendiri. Jadi ia tak perlu khawatir lagi.

"Kami sungguh bahagia nak. Setelah sekian lama akhirnya kau memutuskan untuk menetap dengan satu perempuan," Mikoto berujar. Ia memeluk tubuh putra bungsunya dan mengelus sayang punggung tegap Sasuke.

Dia sungguh tak percaya. Rasanya baru kemarin Sasuke menangis di pelukannya ketika kakaknya merebut mainan yang ia pegang. Dan sekarang yang saat ini ia peluk adalah pria dewasa yang tengah jatuh cinta. Mikoto bahkan tak bisa menahan air matanya. Ia terlalu bahagia akan kejutan malam ini.

Sasuke merasakan pundaknya sedikit basah. Kaa-san pasti menangis,batinnya.

"Ibu tak perlu menangis,"

Sasuke melepas pelukannya lalu mengusap air mata yang menghias kedua pipinya. "Dasar Sasuke anak nakal!" Balasnya lalu mencubit dagu Sasuke, seperti yang selalu ia lakukan dulu ketika Sasuke mengusap pipinya.

Sasuke dan yang lain terkekeh mendengar ucapan itu. Rasanya seperti memutar kembali waktu.

"Jadi, Sakura-chan... Menurutmu apa yang harus kita kejar dalam waktu seminggu?" Tanya Mikoto. Matanya beralih pada Sakura yang tergagap. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, semua hal ini sangat terburu-buru baginya.

"Mungkin kita harus memulai dengan mencari gaun pengantin?" Usul Mikoto. Ia memainkan dagunya dan berpikir,

"Kita bisa bicarakan ini besok. Sakura dan aku harus pulang ke rumah. Lagipula, terlalu banyak urusan yang harus kulakukan besok," Putus Sasuke. Ia beranjak dari sofa dan menautkan kembali tangannya pada Sakura. "Semoga kau berhasil untuk besok Sasuke. Kami mendoakan yang terbaik untukmu," Itachi bersuara. Ia memeluk singkat adiknya dan memberinya semangat.

Ya walau sudah bisa dipastikan kalau Tsunade tak akan menolak Sasuke. Tapi tidak ada salahnya jika mencoba kan?


"Oh astaga! Ka-kalian akan menikah?"

"Hn. Oleh sebab itu aku datang kesini untuk meminta restu darimu,"

Tsunade mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum memandang Sasuke dan Sakura bergantian. Ia sudah mengetahui beberapa poin penting tentang Sasuke dari Sasori saat pria itu datang ke rumah. Sepertinya Sasori sedikit tidak menyukai Sasuke mungkin karna Sasuke adalah pesaingnya dalam dunia bisnis dan itu menjadi penyebab kenapa mereka terlihat tidak bersahabat.

Ia melihat tatapan cinta yang diberikan oleh Sasuke ketika ia menatap mata hijau Sakura dan ia yakin bahwa pria ini sungguh-sungguh dalam melamar keponakannya.

"Aku berjanji akan melindungi dan membahagiakan Sakura," Ucapnya sekali lagi. Itu terdengar seperti sumpah dibanding janji semata.

Tsunade memejamkan matanya dan tersenyum sangat tipis.

Kau bisa lihat dari sana kan Mebuki? Pria ini bukan seorang bajingan, batinnya.

"Baiklah. Aku merestui hubungan kalian. Tapi kuharap kalian secepatnya menikah mengingat banyaknya rumor-rumor tak jelas yang bertebaran di majalah serta televisi," Jawabnya. Sakura tersenyum lega. Ia merasakan genggaman Sasuke semakin erat dalam tangannya. Ia tahu Sasuke juga merasakan perasaan bahagia yang tidak bisa ia ungkapkan dari kata-kata.

"Tentu saja kami akan melangsungkan acara pernikahan. Kakak dan ayahku sudah menyebar undangan pernikahan kami kepada beberapa mitra kerja serta keluarga dan kerabat kami yang lain. Dan lokasi pernikahan aku serahkan pada Sakura,"

Sakura terlonjak sejenak, ia memandang Sasuke dan semua ucapannya. "Aku yang menentukan?"

"Tentu saja. Kau bisa memilih tema pernikahan kita sesukamu,"

Sakura terdiam sejenak lalu ia menarik napas sebelum menjawab,"Aku hanya ingin menikah dengan damai di hadapan tuhan. Dan dihadiri oleh orang yang ku kenal dan aku sayangi. Dan tentunya... 'Orang itu',"

Tsunade melunturkan senyumnya ketika Sakura menyebut kata yang ia tahu merujuk pada siapa,"Kau ingin Ayahmu datang?" Tanya Tsunade dan Sakura mengangguk. Ia hanya ingin memperlihatkan pada sang ayah, bahwa putri yang dulu tidak ingin dia lihat kini bisa berbahagia dan hidup aman bersama seseorang yang mencintainya dengan tulus tanpa mau mempedulikan latar belakang keluarganya yang cukup berantakan. Ia ingin ayahnya melihat semua itu.

"Aku akan mengirimkan undangan khusus pada Yugao dan suaminya. Kau percayalah padaku," Kata Sasuke. Ia kembali meyakinkan calon istrinya bahwa semuanya akan baik-baik saja dan Sakura tentunya bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.

"Jadi kau tidak mau sesuatu yang mewah dalam pernikahan kita? Seperti acara yang spektakuler?"

Sakura menggeleng,"Ini hanya sebuah pernikahan. Aku hanya ingin tuhan yang mendengar janji kita Sasuke-kun,"

Sebutan baru yang Sasuke suka. Sakura mulai berhenti memanggilnya dengan sebutan formal seperti biasanya dan memanggilnya dengan sebutan yang lebih dekat lagi.

"Kau perempuan sempurna untukku Sakura. Kau menginginkan kesederhanaan dariku disaat semua wanita menginginkan uang yang melimpah. Kau sempurna,"

"Aku hanya tidak ingin kau menghabiskan banyak uang berlebihan hanya untuk pesta pernikahan. Karna tentunya sebuah pernikahan hanyalah berdasar pada kekuatan cinta dan kepercayaan kita akan tuhan,"

Tsunade terharu mendengar itu. Sakuranya memang wanita dewasa yang sederhana. Sakura hanya tak tahu, kata-kata itu menyebabkan Sasuke semakin jatuh cinta padanya.

Setelah sekian lama berbincang membicarakan beberapa hal penting tentang pernikahan, akhirnya Sasuke memutuskan untuk pamit pulang. Ia baru saja dikabarkan kalau seseorang menunggunya di rumah.

"Hati-hati Sasuke-kun," Ucap Sakura. Ia mengecup pipi Sasuke sebelum pria itu pergi dengan kendaraan yang ia bawa.

"Aku turut bahagia akan kau Sakura. Kau pantas untuk bahagia," Tsunade memeluk erat tubuh keponakannya dan mengelus pipinya sayang,"Baiklah. Ayo kita memasak siang ini. Sasuke memberi mu cuti kan selama seminggu ini?"

Sakura terkekeh dan mengangguk,"Ayo kita membuat makanan yang banyak hari ini,"


Sasuke menempatkan mobilnya di depan rumah ketika melihat ada mobil lain yang terparkir di pekarangan rumahnya. Itu mobil Naruto.

Ia melangkah kan kaki dengan sedikit cepat ke dalam rumah lalu mendapati Naruto yang berdiri dari sofa ketika mata birunya melihat Sasuke. Lantas ia berjalan mendekat Sasuke dengan raut wajah yang pucat.

"Sasuke, untung kau cepat datang! Aku harus memberitahumu sesuatu," Ucap Naruto. Sasuke mengerutkan dahinya lalu membiarkan Naruto kembali duduk di sofa diikuti oleh dirinya.

"Sesuatu apa?"

"Mengenai kakak dari Sakura,"

Sasuke mendesah,"Sudah kubilang jangan terlalu memaksakan diri untuk pencarian ini. Aku sudah meminta bawahan ku yang lain untuk masalah ini," Balas Sasuke datar. Naruto menggeleng keras dan memandang tajam ke arah Sasuke,"Ini bukan hal biasa Sasuke. Selama ini kau keliru. Karin Haruno bukanlah kakak kandung Sakura,"

Sasuke menautkan alisnya dan semakin tak mengerti dengan apa yang Naruto bicarakan. Karin bukan kakak kandung Sakura? Omong kosong apa itu?

"Darimana kesimpulan yang kau dapatkan itu hah? Berbicaralah dengan jelas,"

"Ck Sasuke! Aku berkata jujur. Kemarin, saat aku mengadakan rapat dengan Akasuna Inc, aku mendapat kabar ini. Asuma yang menghadiri rapat bukan Sasori. Aku tak tahu kemana orang itu. Tapi tak sengaja aku mendengar pembicaraan Asuma dengan seorang pria berkacamata yang tidak ku ketahui namanya,"

Naruto merapikan semua berkasnya lalu meminta asistennya untuk membawa berkas itu. Ketika ia berjalan keluar ruangan, ia mendapati Asuma Akasuna dan seorang pria berkacamata dan memakai topi. Mereka tampaknya berbicara serius. Naruto sebenarnya tak ingin mendengar apapun yang mereka bicarakan namun telinganya merasa tak nyaman ketika Asuma menyebutkan nama Karin. Itu tak asing baginya.

Jadinya ia bersembunyi di balik dinding dan menajamkan telinganya, berusaha mendengar lebih jelas tentang apa yang dibicarakan oleh dua pria itu.

"Apa kau sudah kehilangan akal mu? Membocorkan hal ini pada Karin dan Sasori kalau mereka adalah anak yang tertukar? Well, aku tak peduli soal Sasori karna jelas ia sudah mengetahui ini sejak lama kalau dia bukanlah keponakan kandungku. Tapi bagaimana dengan Karin? Tentu saja aku sayang padanya karna dialah keponakan ku yang sesungguhnya,"

"Mau sampai kapan kau merahasiakan ini? Terlalu banyak rahasia yang kau simpan. Pertama, tentang pertukaran yang kau dan Yugao lakukan. Kedua, tentang tewasnya Chiyo akibat ulahmu. Kau yang membubuhkan racun ke dalam teh itu dan menyalahkan Karin atas semuanya. Kau yang gila-"

"-Rasa sayangmu itu hanyalah sebatas bibir. Kau tidak pernah peduli pada siapapun kecuali uang. Jadi biarkan aku membeberkan hal ini pada mereka dan kepada publik,"

Asuma menggeram sesaat. Ia mematikan rokok yang ia pegang lalu membuangnya asal ke pot bunga,"Jangan kau rusak alur cerita yang sekarang Kabuto. Mainkan saja peranmu sebagai orang hilang. Jangan muncul hingga Yugao memintamu kembali,"

Kabuto menggeleng,"Aku sudah lama berhenti. Aku tak bekerja lagi pada wanita itu. Jadi aku harap kau menyiapkan rencana baru karna tentu aku akan menghancurkan semuanya. Akan ku kabarkan pada Sakura kalau selama ini Karin adalah istri dari kakak kandungnya, yaitu Sasori. Kau tak bisa lagi menahan ini,"

Asuma tersenyum miring,"Well... Begini saja, kau beritahu semuanya dan aku juga akan memberi tahukan pada Sakura, Karin dan Sasori bahwa kau adalah seorang pembunuh. Kau membunuh Mebuki dengan racun. Atas perintah Yugao Uzuki. Dan oh! Bukankah Karin kecil melihatmu saat itu? Ini akan mudah untukku. Jadi kita impas,"

Kabuto terdiam beberapa saat. Ia bahkan melupakan satu fakta kalau dia lah yang membunuh Mebuki dulu atas perintah Yugao.

"Kita akan lihat Kabuto. Pada siapa kemenangan akan berpihak,"

Sasuke menajamkan telinganya. Naruto memencet tombol itu ketika semuanya sudah selesai. Ya, dia merekam semua percakapan itu. Dan tentunya ini akan menjadi bukti yang kuat untuk beberapa hal.

Pertama, sudah dapat di pastikan kalau Mebuki mati karna dibunuh. Bukan karna sakit keras, pelaku utama adalah Kabuto yang menjadi kaki tangan dari Yugao Uzuki.

Kedua, Sasori adalah kakak kandung Sakura. Pria berambut merah yang tidak ia sukai adalah kakak kandung Sakura, berarti dia adalah calon kakak ipar Sasuke. Ia dan Karin ditukar saat mereka lahir. Ini akan semakin rumit.

Ketiga, Asuma adalah seorang pembunuh. Ia membunuh Chiyo, ibunya sendiri dengan racun dan memfitnah Karin yang melakukan itu. Ini kesempatan yang bagus untuk membuatnya dipenjara.

Keempat, Karin adalah istri dari Sasori. Sasuke akan kembali mencari tahu bagaimana mereka bisa bertemu dan menikah tanpa mengetahui kebenaran nya.

Keempat hal ini berhubungan dan tampaknya memang sudah di rencanakan baik-baik. Tokoh utama disini berarti Yugao, Asuma dan seseorang bernama Kabuto yang juga sempat Sasuke dengar dari cerita Sakura.

Menyedihkan.

Memang, Sakura bahkan tidak tahu kalau pembunuh ibunya berada dekat dengannya dulu. Bahkan orang itu sempat mendapatkan gelar sebagai 'Paman'.

"Bagaimana ini? Itu artinya Karin selama ini berada dengan Sasori kan?"

"Jika memang Sasori sudah tahu kalau dia adalah kakak kandung Sakura, lalu kenapa ia tidak menunjukkan jati dirinya? Kenapa ia malah menikahi Karin?" Tanyanya pada diri sendiri. Naruto mencebik, ketika ia sadar kalau Sasuke tak merespon pertanyaannya.

"Sasuke, kurasa ada yang mengetahui masalah ini selain mereka,"

"Apa maksudmu?"

Naruto mengendikkan bahunya,"Tidak mungkin jika Tsunade Senju tak mengetahui rahasia ini,"

Sasuke mengerutkan alisnya. Ya, pasti ada seseorang yang mengetahui hal ini jauh sebelum mereka tahu. Bisa saja Tsunade atau mungkin Mebuki telah mengetahui kebenaran nya.

"Aku akan mencoba berbicara dengan Nyonya Senju nanti,"

Pukul 7 malam.

Sakura dan Tsunade sudah menata piring di atas meja dan beberapa lilin kecil sebagai hiasan. Mereka merapikan rumah serapi mungkin dan menghias diri,"Siapa tamu yang akan datang Bi?"

"Kau akan tahu nanti. Dia akan sampai sepuluh menit lagi. Sini biar aku yang membentuk rambutmu," Jawabnya lalu meraih rambut Sakura dan menyanggulnya ke atas.

"Nah ini jauh lebih segar," Ucapnya setelah puas dengan hasil tangannya.

"Orang yang penting bi?"

"Kau akan tahu nanti,"

Sepuluh menit terlewati dan tak lama bel berbunyi. Tsunade mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan berjalan untuk membukanya.

Di depannya telah berdiri seseorang berambut merah dan mengenakan kemeja putih serta jeans hitam. Ia membawa sebuket bunga dan senyuman di wajahnya.

"Selamat malam,"

"Selamat malam. Ayo masuk,"

Pria itu, Sasori.

Sakura muncul dari balik dapur dan membulatkan matanya,"Sasori-Nii?!" Ucapnya kaget. Ia sungguh tak menyangka kalau yang datang untuk makan malam adalah Sasori.

"Selamat malam Sakura," Balasnya. Sakura menampilkan senyumnya lalu mendekati Sasori sebelum memeluk pria itu dengan erat,"Aku benar-benar tak menyangka kau datang ke rumah ku," Ia berujar.

Sasori menepuk bahu Sakura lalu melepasnya. Ia menatap netra hijau Sakura yang berbinar lalu merasakan nyeri di dadanya.

Apakah ini rasanya ketika kau memiliki saudara mu sendiri?

"Aku tak sengaja bertemu dengan Bibi Tsunade saat di depan apartemen,"

Sakura mengerutkan dahinya,"Kalian saling kenal?"

"Sebelumnya, Mebuki pernah menceritakan soal Sasori dulu. Makanya aku langsung tahu kalau ini Sasori yang pernah diceritakan oleh mendiang ibumu," Dustanya. Sakura hanya mengangguk mengerti lalu meraih sebuket bunga yang di bawa oleh Sasori,

"Kau tahu darimana kalau aku suka Bunga Jasmine?" Tanya Sakura sesaat setelah menghirup aroma khas dari melati yang ia pegang. Sasori hanya menunjuk Tsunade dengan dagunya,"Bibi Tsunade yang memberitahuku,"

Sakura tertawa kecil lalu menaruh buket bunga itu di kamarnya. Tsunade meminta Sasori untuk duduk dan menikmati makan malam yang sudah mereka persiapkan sedari tadi.

"Jadi, berapa lama kalian tinggal di Tokyo?"

"Sudah sebulan mungkin? Aku tak menghitung tanggal," Jawab Sakura. Ia memotong daging di atas piringnya dengan pisau kecil lalu menggigitnya.

"Aku senang bisa bertemu dengan mu lagi Sakura. Umm, bagaimana hubungan mu dengan Sasuke?" Tanyanya lagi. Sakura berhenti mengunyah lalu menatap mata Sasori. Ia jadi ingat kejadian saat pestanya Hyuuga. Sudah sangat jelas kalau Sasori dan Sasuke tidak bersahabat.

"Kami baik," Jawabnya. Sasori hanya melipat bibir dan melanjutkan makan malamnya,"Uh! Sakura, bisa kau ambilkan kamera di dalam kamarku. Aku menyimpannya di dalam kotak. Kau cari saja di dekat lemari," Titah Tsunade. Sakura mengangguk pelan lalu mulai beranjak. Ia tahu pasti Tsunade ingin mengabadikan momen ini.

Ia membuka pelan pintu kamar Tsunade lalu mulai mengedarkan pandangan. Ia tersenyum ketika mendapati sebuah kotak yang ada di atas meja rias lalu mendekatinya.

Sakura membuka tutup kotak itu lalu melunturkan senyuman. Ini bukan kamera.

"Apa ini?" Tanyanya pada diri sendiri. Sakura menarik kursi kecil di samping tempat tidur lalu duduk. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam kotak dan kembali mengerutkan dahinya,"Surat? Sejak kapan Bibi mendapat surat?"

Lantas ia membuka surat itu lalu membaca huruf-huruf yang tertulis rapi di atasnya.

Tangannya bergetar ketika membaca, tanpa sadar air matanya ikut tumpah bersamaan dengan ia membaca surat itu.

"Apa... Ini?" Sakura menjatuhkan surat itu lalu berdiri dari kursi. Ia menempatkan punggungnya di dinding lalu mulai terisak. Apa ini semua kebenaran yang selama ini menjadi rahasia?

"Apa maksud semua ini?" Ia menjambak rambutnya dengan kasar tanpa mempedulikan penampilan nya semakin berantakan. Ia dengan emosi keluar dari kamar sambil membawa surat yang sempat ia jatuhkan tadi.

Tsunade tersenyum sebentar ketika Sakura kembali namun disaat itu juga ia terkejut ketika Sakura dengan kasar melempar surat itu tepat di atas meja. Hal itu membuat kedua mata Tsunade membulat dan Sasori yang terkejut.

"Apa maksud semua ini Bibi?! Apa!" Teriaknya sambil diiringi air mata yang mengalir dari kedua mata hijaunya. Sasori melirik surat itu dan Tsunade bergantian sebelum tangannya meraih kertas yang sudah mulai rusak dan membaca setiap huruf di atasnya.

"Sakura. Aku-"

"Kumohon kau diam! Kali ini biarkan Tsunade-baa yang berbicara," Potongnya tanpa mau melihat wajah Sasori yang datar.

"Sakura... Maafkan aku," Ucapnya. Ia berdiri dari kursi lalu menatap mata adik kandungnya dengan sayang,"Maaf aku berpura-pura seperti ini. Ini bukan kesalahan bibi, awalnya dia memang berniat memberikan surat ini padamu namun aku menolak itu. Aku ingin kau mendengar penjelasan ku tapi sepertinya semua ini kacau," Lanjutnya.

"Tidak! Kalian pasti bercanda kan? Tidak mungkin.. Nee-san adalah saudara ku,"

Kembali Sasori merasa dadanya nyeri. Itu terdengar seperti Sakura menolaknya. Ini jauh lebih sakit.

"Maka dari itu aku ingin melakukan tes DNA dengan mu. Aku akan mencoba untuk-"

"Jadi selama ini kau dan bibi mengetahui rahasia ini? Hah? Apa hanya aku yang menjadi orang bodoh di sini?" Lirihnya. Air mata nya semakin banyak berjatuhan dan Sasori tak bisa membiarkan itu terjadi lebih lama.

"Sakura, Bibi hanya menunggu waktu yang tepat untuk memberitahukan semuanya padamu. Kumohon kau mengertilah,"

Sakura menggeleng keras,"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kau bersikap tenang selama ini dan menyembunyikan kebenaran dariku?-"

"-Kau bilang dulu Kaa-san meninggal karena sakit yang sudah ia derita sejak lama tapi ini apa? Dia dibunuh! Wanita sialan itu membunuh ibuku!"

Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai lalu menangis keras. Sesekali Sakura menggeram lalu memukul lantai tak peduli tangannya yang terluka.

Sasori mengepalkan tangannya. Ia menyamakan tingginya dengan Sakura lalu meraih pundak gadis itu walau Sakura sering menolak dan menepis tangannya yang berusaha menggapai bahunya yang rapuh.

"Aku mohon... Aku ingin kalian jujur padaku," Ucapnya dengan isakan tangis yang mengiringinya.

Sasori terdiam lalu kembali berdiri.

"Siapa kakakku yang sebenarnya!?" Teriaknya sekali lagi. Kini matanya menatap dengan penuh amarah yang terkumpul. Tsunade tak pernah melihat tatapan itu, Sakura nya yang lembut tidak pernah berteriak dan melotot seperti sekarang. Ini sungguh hal baru baginya dan ia tak siap menghadapi sisi Sakura yang satu ini.

"Jawab aku! Siapa kakakku!"

Tepat setelah Sakura meneriakkan kata-kata itu, pintu apartemennya terbuka dengan paksa. Menampilkan Uchiha Sasuke yang berdiri di depannya dengan ekspresi terkejutnya.

Ia mencengkeram kuat gagang pintu yang ia pegang lalu menilik setiap wajah yang ada di dalam sana.

Sakura mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan melihat Sasuke dengan tatapan menyedihkan kali ini.

Sasuke menatap Sasori dan Sakura bergantian lalu mulai memahami situasi yang menyulitkan ini.

"Sasuke-kun?"

"Sakura..."

TBC

.

.

A/n : Hay... Sebelumnya saya mau mengucapkan banyak terima kasih pada kalian yang mau membaca lalu memberikan reviews. Saya sangat senang.

Saya mohon maaf sebesar-besarnya kalau masih banyak kesalahan, kekurangan, atau jalan cerita yang terlalu lambat dan sebagainya. Kalian tahu gak, ide saya buat cerita ini sering putus-putus :(. Makanya ceritanya mungkin jadi gak bagus dan kelamaan. Tapi buat siapapun yang menilai karya saya entah itu bagus atau tidak tetap saya ucapkan terimakasih :) :). Karna kalian memberi saya setumpuk semangat buat ngetik dan ngumpulin ide :v.

Makasih buat reviews dari chap kemarin dan chap hari ini. Doakan saja saya selalu dapat ide buat ngetik jadi bisa up cepat. Btw, saya gak bisa ngetik sedikit jadi setiap chapter paling tidak sekitar 5800-6000 an :v. Puas kan bacanya? Hehe.

Satu lagi, ada beberapa teman saya yang mau fic ini dibikin versi cetaknya. Mereka bilang Fanfiction kayak sasusaku jarang-jarang ada versi cetaknya. Tapi gimana menurut kalian? Hehehe saya butuh pendapat loh guys... Makasih yaaaa,

Salam,

Beebeep