Disclaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
High School DxD: Ichiei Ishibumi
.
.
.
Selasa, 8 Agustus 2017
.
.
.
WORLD OF DARKNESS AND SEVEN SWORDS
By Hikasya
.
.
.
Chapter 7. Iseng
.
.
.
Terjadilah peristiwa yang tak disangka-sangka!
HUP!
Naruto menghindar dari serangan pedang Kuroka yang melesat secara horizontal. Lalu ia berlari secepat kilat ke arah keramaian.
Melihat itu, Kuroka menjerit keras hingga mengguncang tempat itu.
"NARUTO! AWAS KAU!"
Kemudian Kuroka segera mengejar Naruto yang sudah menjauh di ujung jalanan sana. Semua orang ternganga melihat tingkah mereka.
.
.
.
Pada akhirnya, Naruto dan Kuroka memilih menginap di salah satu penginapan yang memiliki harga sewa yang cukup murah. Apalagi Kuroka meminta Naruto untuk bertanggung jawab atas "kecelakaan" yang menimpanya hari ini. Naruto memakluminya dan bersedia bertanggung jawab agar membuat Kuroka tidak marah lagi padanya.
Namun, sesuatu yang mengejutkannya adalah Kuroka malah mengatakan pada pemilik penginapan bahwa dia dan Naruto baru saja menikah. Spontan, membuat pemilik penginapan dan orang-orang yang ada di sana, mengantri untuk memberi selamat pada mereka berdua. Bahkan pemilik penginapan memberikan satu kamar khusus secara gratis dan memberikan pelayanan ekstra pada mereka berdua.
Alhasil, Naruto kewalahan saat menghadapi orang-orang yang memberi selamat atas pernikahannya dengan Kuroka. Sementara Kuroka, malah senang dan antusias saat bersalaman dengan orang-orang itu serta bersyukur bisa mendapatkan kamar khusus secara gratis.
Ya, memang membuat jantung ini merasa copot jika kau dikira sudah menikah. Padahal kenyataannya, kau tidak menikah. Tentu hal ini, terkesan menipu orang lain demi mendapatkan keuntungan yang besar.
Naruto merasa itu dan sangat kesal pada Kuroka sekarang. Lantas dilampiaskannya rasa amarahnya itu pada Kuroka setelah tiba di kamar.
"HEI, APA MAKSUDMU MENGATAKAN KITA INI SUDAH MENIKAH PADA SEMUA ORANG DI SINI!?" sembur Naruto yang berapi-api."TINDAKANMU INI TERMASUK PENIPUAN, TAHU!"
Kuroka yang duduk sambil menyilangkan kakinya di tepi tempat tidur, hanya memasang wajah datar. Menatap Naruto yang berdiri berhadapan dengannya.
"Itu malah bagus, kan? Jadinya kita mendapatkan satu kamar gratis. Tidak perlu bayar. Bisa menghemat uang kita itu."
"BAGUS APANYA!? JUSTRU AKU TIDAK MAU SEKAMAR DENGANMU, TAHU! LEBIH BAIK AKU PERGI DAN MENYEWA SATU KAMAR YANG LAIN!"
Naruto yang sangat emosi, lantas melangkahkan kakinya menuju ke pintu kamar. Kuroka tetap bersikap santai.
"Kalau kau keluar dari kamar ini, aku akan berteriak."
"Eh?" Naruto menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Kuroka dan memandang Kuroka dengan tajam."Coba saja, aku tidak takut."
"Oh ya? Kau yakin?"
"Yakin."
"Kalau begitu, keluarlah dan aku akan berteriak."
"Huh...!"
Naruto merengut kesal. Kuroka malah menyeringai senang.
Ketika Naruto hendak memegang gagang pintu kamar, Kuroka pun berteriak keras.
"AAAAAAAH! NARUTO! AAAAAAAAH!"
Naruto terperanjat dan menoleh lagi ke arah Kuroka. Kemudian kedua matanya terbelalak keluar.
"WUAAAAAAH! KUROKA, APA YANG KAU LAKUKAN!?" giliran Naruto yang malah berteriak keras.
Orang-orang yang berada di lantai dua penginapan itu, keluar dari kamar masing-masing. Penasaran karena mendengar Naruto dan Kuroka yang saling berbicara dengan keras.
"Naruto... Jangan pegang aku!"
"Hei, apa-apaan sih?"
"Geli~"
"Jangan berisik... Huh... Dasar, gadis aneh!"
Orang-orang yang mendengar pasti salah paham karena mengira Naruto dan Kuroka sedang berbulan madu. Maklum, pengantin baru, makanya saling berteriak seperti itu.
Kenyataannya...
JREEENG!
Ternyata Kuroka sengaja menjatuhkan gelas kaca yang disenggolnya - sebelumnya gelas kaca itu terletak di atas meja, persis di samping tempat tidur. Gelas kaca itu pecah berkeping-keping saat jatuh di lantai yang terbuat dari kayu.
Dengan terpaksa, Naruto membantu memunguti pecahan-pecahan kaca itu dan jari kanan Kuroka malah terluka pada saat ikut memunguti pecahan-pecahan kaca itu. Lalu Naruto memegang jari kanan Kuroka yang terluka itu, dan membantu memasangkan plester ke jari kanan Kuroka yang terluka - plester itu didapatkan Naruto dari kotak obat yang sempat dibawa Naruto sebelum pergi mengembara.
Kuroka malah berkata aneh seperti itu sehingga Naruto marah padanya. Ia berniat ingin menyakinkan pada semua orang kalau ia dan Naruto memang baru saja menikah.
Usai itu, Kuroka duduk di tepi tempat tidur lagi sambil memperhatikan jari kanannya yang sudah diobati Naruto dan juga memperhatikan Naruto yang sudah membereskan pecahan-pecahan kaca tersebut. Pecahan-pecahan kaca itu dimasukkan ke dalam plastik yang didapatkan dari kamar itu, lalu membuangnya ke dalam tong sampah yang terletak di sudut kamar itu.
"Aaaah~ Akhirnya selesai juga~," sahut Naruto yang menghelakan napasnya.
"Terima kasih karena kau sudah membantuku," ucap Kuroka yang tersenyum.
KIIITS!
Pandangan Naruto menajam lagi. Kuroka menyadarinya.
"Ada apa?" Kuroka sweatdrop dan tersenyum hambar.
"Tingkahmu semakin keterlaluan, tahu!" Naruto mulai marah lagi.
"Tapi, itu bagus, kan? Jadinya kau tidak keluar dari kamar ini. Semua orang pasti mengira kita sedang berbulan madu sekarang."
"Apa katamu!? Ki-Kita berbulan madu!?"
"Iya. Jika kita baru saja menikah, tentu saja berbulan madu, kan?"
Kuroka tersenyum lagi sambil mengedipkan sebelah mata jahilnya. Sehingga membuat jantung Naruto berdebar-debar. Wajah Naruto sedikit memerah.
DEG! DEG! DEG!
Tentu saja, Naruto membayangkan yang tidak-tidak. Dia malah gugup.
"Be-Berarti yang tadi itu, kau sengaja ya?"
"Iya. Baru sekarang kau menyadarinya? Ck... Ck... Ck..."
Kuroka menggeleng-gelengkan kepalanya dan menyilangkan kakinya seperti tadi. Ia bersidekap dada dengan sikap yang santai. Naruto malah semakin marah.
"HEI, POKOKNYA AKU TIDAK MAU SEKAMAR DENGANMU!"
"Terima saja nasibmu. Kau harus tidur sekamar denganku daripada kau dianggap sebagai suami yang tak tahu diri karena malah menelantarkan istrinya yang tidur sendirian di kamar terpisah. Seharusnya kau menjaga sikapmu itu, kan?"
"JANGAN PERNAH MENASEHATI AKU!"
"Ayo, mendekatlah padaku, sayang..."
Kuroka mengedipkan sebelah matanya sekali lagi dan memasang ekspresi yang sangat menggoda. Apalagi dia berpose seperti gadis nakal begitu.
Naruto merasa panik melihat Kuroka bertingkah seperti itu. Buru-buru Naruto berbalik dan menutup kedua matanya.
"JANGAN BERTINGKAH SEPERTI ITU! MENGGELIKAN, TAHU!"
"Dasar, ternyata kau laki-laki pemalu juga ya!"
GREP!
Tiba-tiba saja, Kuroka langsung memeluk Naruto dari belakang. Spontan, sangat mengejutkan Naruto.
Terjadilah peristiwa yang sangat menggemparkan!
"WUAAAAAAH! JANGAN, KUROKA!"
Naruto berteriak histeris dan lagi-lagi mengundang semua orang keluar dari kamar masing-masing. Semua orang saling bergumam.
"Dasar, pengantin baru!"
"Berisik sekali!"
"Wah, mereka pasti senang sekarang ya?"
"Aku jadi teringat dengan malam pertama kita itu."
"Ah, jangan bicarakan itu sekarang."
"Enaknya sudah menikah itu ya?"
WAS! WES! WOS!
Suasana di lorong lantai dua itu menjadi ramai dan berisik. Semua ini karena ulah pasangan pengantin gadungan tersebut.
.
.
.
"Hmmm...," Naruto terbangun saat jam weker berbunyi pada pukul 7 pagi."Ah, sudah pagi ya sekarang?"
Dia ingin bangun, tapi merasakan adanya sesuatu yang menimpa tubuhnya. Buru-buru dia membuka kedua matanya lebar-lebar lalu memperhatikan dengan seksama sesuatu yang kini berbaring di dekatnya.
Ternyata gadis berambut hitam itu, yang tertidur di samping Naruto, persisnya kepala gadis itu bersandar di dada Naruto.
Otomatis, hal ini sangat mengejutkan Naruto. Naruto pun berteriak keras sekali.
"WUAAAAAH!"
Karena teriakannya itu, sanggup membangunkan gadis nekomata setengah iblis itu, dan buru-buru berkata.
"Ah, kenapa kau malah berteriak lagi, Naruto?"
"KAU TIDUR DI DEKATKU, TAHU! CEPAT MENYINGKIR DARIKU!"
"Hmmm... Ya."
Kuroka langsung patuh dan bergeser dari posisi tidurnya. Kemudian ia memilih berbaring miring ke kanan, malah tertidur lagi dengan dengkuran yang halus.
"Zzzzz...," Kuroka meringkuk ala kucing.
"...," Naruto terdiam sambil memperhatikan wajah Kuroka yang berhadapan dengan wajahnya.
Sesaat laki-laki berambut pirang itu memfokuskan dirinya untuk memperhatikan wajah tidur Kuroka, yang terbilang sangat cantik. Sehingga membius hati Naruto untuk tidak menggeser pandangannya ke arah lain. Hatinya terpesona akan kecantikan Kuroka itu.
'Dia memang cantik jika tidur seperti ini,' batin Naruto yang terpana di dalam hatinya.'Ah, entah kenapa jantungku selalu berdebar-debar. Apa itu bertanda aku mulai menyukai gadis aneh ini ya?'
Entah perasaan apa yang kini bersarang di hati Naruto. Rasanya begitu nyaman dan sukses membuat Naruto tersenyum. Ia menyimpulkan bahwa rasa nyaman ini adalah cinta, tapi ia belum yakin akan hal itu.
KRIIING! KRIIING! KRIIIING!
Jam weker masih saja berbunyi di atas meja tersebut. Menarik Naruto untuk bangun dari baringnya dan mematikan jam weker itu. Dia sudah berdiri di dekat tempat tidur yang ditempati Kuroka.
Lantas dia memperhatikan penampilannya itu.
Masih sama seperti semalam itu. Dia masih berpakaian khas kerajaan Cahaya.
"Syukurlah... Tidak terjadi apa-apa semalam itu," sahut Naruto yang menghelakan napas leganya.
Kemudian perhatiannya tertuju pada Kuroka yang masih saja asyik tertidur di tempat tidur tersebut. Penampilan Kuroka tetap sama seperti semalam, tidak berubah sedikitpun.
Berarti tidak terjadi apapun semalaman itu. Kuroka hanya berbuat iseng dengan cara memeluk Naruto dari belakang hingga membuat Naruto berteriak. Kuroka menarik Naruto dan membanting Naruto ke bawah begitu saja. Alhasil, bagian belakang kepala Naruto terbentur sandaran tempat tidur yang keras. Setelah itu, tidak sadarkan diri lagi.
Mengingat itu, Naruto memegang bagian belakang kepalanya. Masih terasa sakit.
"Aduh... Ternyata aku pingsan karena terbentur semalam itu. Pantas, aku bisa tertidur bersama Kuroka. Pasti Kuroka yang memindahkan aku ke tempat tidur," Naruto memandang Kuroka dengan tajam."Huh... Dasar, gadis yang sangat merepotkan!"
Naruto mulai kesal lagi. Lantas memutuskan mengambil perlengkapannya dan melangkah keluar dari kamar itu.
KLAK!
Pintu pun terbuka. Naruto berhasil keluar dari kamar itu setelah mengambil kunci yang terletak di atas meja. Kemudian membiarkan Kuroka yang masih tertidur di sana, tanpa berniat sedikitpun untuk membangunkannya.
Pintu ditutup kembali oleh Naruto. Naruto celingak-celinguk sebentar untuk memastikan orang-orang belum ada yang lewat di lorong lantai dua penginapan itu. Suasana memang sepi karena para penghuni kamar lainnya masih tertidur sepagi ini.
"Sepi...," Naruto tersenyum simpul."Bagus. Aku bisa pergi sekarang."
DRAP! DRAP! DRAP!
Naruto berlari-lari kecil di lorong sepi itu. Tujuannya adalah mencari informasi tentang pedang angin yang diketahui bernama "Purple Windia."
Purple Windia adalah salah satu pedang legendaris yang dicari Naruto untuk menyelamatkan dunia ini dari ancaman iblis. Pedang yang berelemen angin, hanya dapat digunakan oleh orang yang berelemen angin. Karena itu, Naruto harus segera mendapatkannya agar cepat menyelamatkan dunia ini.
Mencari pedang Purple Windia itu, pasti sulit sekali. Untuk itu, Naruto akan berusaha keras untuk mencarinya. Tidak akan menyerah sebelum mendapatkannya.
.
.
.
"Hoaaam..."
Kuroka terbangun setelah dua jam kemudian. Ia menguap panjang sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Meregangkan badannya sebentar.
Memilih duduk di atas tempat tidur, Kuroka celingak-celinguk. Tidak menemukan Naruto dimana-mana.
"Lho... Mana Naruto!?" dia bingung setengah mati."Atau jangan-jangan dia..."
BETS!
Tanpa aba-aba lagi, Kuroka melompat cepat dari atas tempat tidur dan menyambar cepat pedangnya yang terletak di atas meja. Buru-buru keluar sambil berlari cepat.
"DASAR, DIA MALAH MENINGGALKAN AKU! NARUTO, AWAS YA KAU!" seru Kuroka yang sangat keras hingga sukses mengejutkan semua orang yang menginap di sana.
.
.
.
Di antara keramaian yang membludak di jalanan kerajaan angin, tampak Naruto yang sedang berbicara dengan sekelompok orang yang berdiri di depan sebuah restoran.
"Hmmm... Pedang Purple Windia ya?"
"Pedang legendaris itu, kan?"
"Kalau tidak salah, pedang itu dipegang oleh pangeran Gaara."
"Ya. Benar."
"Begitu ya?"
Yang menyahut paling akhir adalah Naruto. Naruto manggut-manggut setelah mengetahui bahwa pedang yang dicari-carinya itu digunakan oleh pangeran yang bernama Gaara. Gaara yang merupakan putra mahkota Raja yang memimpin kerajaan Wind tersebut.
Naruto menatap wajah orang-orang itu satu persatu, bertanya lagi.
"Jadi, bagaimana caranya aku bisa menemui pangeran Gaara sekarang?"
"Kau bisa menemuinya di istana. Karena sepagi ini, biasanya pangeran akan pergi berburu ke hutan Angin."
"Oh, begitu," Naruto manggut-manggut lagi sambil tersenyum."Terima kasih atas informasinya ya."
"Iya, sama-sama."
Orang-orang itu mengangguk bersamaan. Naruto segera melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke arah Istana Angin berada.
Dengan semangat yang menggebu-gebu, menarik Naruto agar cepat menemui pangeran itu dan akan membujuk pangeran itu agar menyerahkan pedang Purple Windia secara damai. Tanpa adanya perlawanan sedikitpun.
Di tengah kegelapan yang masih berlangsung, padahal seharusnya sudah siang hari karena memasuki pagi, Naruto berjalan menyusuri jalanan kerajaan yang dipenuhi orang-orang. Tanpa menyadari bahwa Kuroka sedang mencarinya sekarang.
DRAP! DRAP! DRAP!
Di tempat yang lain, tampak Kuroka yang celingak-celinguk. Berlarian kesana-kemari seperti orang bodoh. Beberapa orang yang lewat di jalanan, sempat melihatnya sekilas lalu sibuk lagi dengan urusan masing-masing.
'Aduuuh... Laki-laki payah itu kemana sih? Padahal dia berjanji tidak akan meninggalkan aku, kan? Awas saja nanti setelah aku menemukannya!' batin Kuroka yang merasa sangat kesal di dalam hatinya.
Entah kemana dia mencari Naruto. Apalagi dia sudah bertanya pada orang-orang apabila orang-orang itu melihat Naruto sesuai ciri-ciri yang dikatakannya. Tapi, orang-orang itu tidak mengetahuinya, sehingga membuat Kuroka semakin panik jika Naruto memang sudah meninggalkannya.
'Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Naruto. Kau harus bertanggung jawab atas apa yang menimpaku kemarin itu,' batin Kuroka lagi.'Kali ini, aku akan memintamu untuk benar-benar menikahiku.'
Begitulah isi hati Kuroka. Dia akan terus mengikuti Naruto karena merasa Naruto telah membuat harga dirinya hancur. Padahal cuma masalah yang sangat sepele, tapi dia menganggapnya sebagai masalah yang sangat besar. Menyangkut harga dirinya, maka Naruto harus bertanggung jawab dengan cara menikahinya.
Ya, itulah keinginan Kuroka yang begitu tiba-tiba. Tapi, tidak tahu bagaimana tanggapan Naruto nanti.
Kuroka tetap mencari dan mencari, tanpa terasa langkahnya mencapai di kawasan Istana Angin. Di sana, tampak banyak orang masih lewat, tepatnya di jalanan kawasan istana tersebut.
"Hosh... Hosh... Hosh...," Kuroka tersengal-sengal dan menghentikan langkahnya sejenak.
Di antara keramaian itu, Kuroka berdiri sambil memandangi Istana Angin yang sangat tinggi.
Istana Angin itu berwarna ungu dan berbentuk seperti kastil eropa kuno. Terbuat dari batu yang kuat. Dipagari dengan tembok batu setinggi 4 meter.
Kuroka pun termangu memandang istana itu.
'Atau jangan-jangan Naruto ada di dalam istana ini. Pasti dia ingin mencari pedang angin itu.'
Tanpa aba-aba lagi, Kuroka segera berlari lagi. Tujuannya adalah ingin masuk ke Istana Angin itu.
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
A/N:
Hai, ketemu lagi di chapter 7.
Saya hadirkan kelanjutan fic ini.
Untuk chapter selanjutnya, akan saya sambung jika ada waktu lagi.
Sekian sampai di sini dan terima kasih.
Rabu, 9 Agustus 2017
