Menikahi Hyuuga Neji adalah sebuah kesalahan. Dan jatuh cinta pada pria itu adalah kesalahan yang lain. Tidak, kesalahan yang lebih besar, karena nyatanya Neji tidak mencintainya seperti yang selama ini dia pikirkan.
.
.
GOKON
Neji-Sakura's fic by Emilia Dunn
Naruto © Kishimoto Masashi
.
.
Chapter 7
.
.
Suara burung yang berkicau membangunkan Sakura keesokan paginya. Kelopak matanya membuka perlahan dan mendapati terang di sekelilingnya. Sakura mengedipkan mata beberapa kali untuk membiasakan matanya terhadap cahaya matahari yang menerobos kanopi hijau di atasnya. Udara pagi yang dingin menerpa kulitnya, membuat tubuhnya menggigil. Sakura refleks bergelung untuk mencari kehangatan, sebelum menyadari sesuatu.
Dengan napas tertahan, Sakura membuka matanya lebih lebar. Jantungnya bergedup kencang ketika dia mengangkat kepalanya dan langsung memandang pada wajah Neji di depannya, begitu dekat sehingga dia bisa merasakan hangat napas pria itu di wajahnya sendiri. Dan pria itu pun memilih saat itu untuk membuka mata. Sepasang bola mata keperakannya kini menembus ke kedalaman mata hijau zamrud milik Sakura. Entah sihir apa yang terkandung dalam tatapan itu yang membuat Sakura seolah terhipnotis.
Dan Sakura baru tersadar tatkala suara dalam milik pria itu menyusup ke indera pendengarannya, "Ohayou."
Sakura mengerjapkan mata, refleks menarik tangannya yang sedari tadi diletakkan di atas dada Neji. "O—Ohayou…" balasnya canggung, seraya menarik dirinya bangun dari posisinya semula. Dia mengangkat tangannya untuk merapikan rambutnya yang berantakan setelah tidur, sementara di dekatnya Neji bergerak bangun.
"Di dekat sini ada sungai," kata Neji. Sakura mendongak ka nad suaminya dan melihat nadi-nadi di pelipis Neji baru saja menghlilang. "Kita bisa ke sana untuk membasuh muka sebelum melanjutkan perjalanan."
Sakura mengangguk.
Setelah membereskan sisa api unggun semalam, pasangan muda itu pun bergegas menuju sungai kecil yang letaknya memang tak jauh dari tempat mereka bermalam. Airnya yang bersih dan alirannya yang tak terlalu deras menggoda Sakura untuk menceburkan diri ke dalamnya. Namun segera diurungkan niatnya itu. Mereka tidak boleh mengulur terlalu banyak waktu. Perjalanan masih sangat jauh.
.
.
Tiga hari berlalu sejak keduanya meninggalkan Konoha, akhirnya mereka tiba di kawasan Oni no Kuni. Tempat itu masih terasa familier seakan baru kemarin mereka menjalankan misi ke sana bersama Naruto dan mendiang Lee. Sebuah daerah perbukitan batu yang berhawa sejuk, dengan deretan sungai-sungai besar di bawah tebing-tebing yang curam, juga belantara hutan yang didominasi pohon-pohon besar, negeri non-shinobi itu praktis terlindungi oleh alam.
Neji memimpin di depan, melompat dari satu pohon ke pohon yang lainnya. Sakura mengikuti di belakangnya, merasa déjà vu. Dulu mereka juga pernah seperti ini. Hanya saja kali ini, tidak ada Shion –atau Taruho—di punggungnya. Ingatan itu membuatnya tersenyum sendiri.
"Sudah hampir sampai," kata Neji.
Dan tak lama mereka melihat sebuah benteng besar menjulang di depan belantara hutan. Dengan para pengawal yang berjaga di pos-posnya. Di belakangnya tampak sebuah bagunang megah bergaya tradisional. Istana Sang Miko, yang juga berfungsi sebagai kuilnya, masih sama seperti saat mereka mendatanginya beberapa tahun silam.
Seorang pria berpakaian prajurit menyambut mereka di pintu gerbang. "Shion-sama sudah menunggu. Silakan ikut saya."
Keduanya lalu mengikuti pria itu menuju istana, di mana Sang Miko telah menunggu mereka di sebuah ruangan panjang beratap tinggi –tempat yang sama saat Shion menyambut timnya dulu. Tirai yang terbuat dari bambu menutupi sosoknya ketika pengawalnya membawa Neji dan Sakura masuk. Seperti dulu, keduanya kemudian duduk bersimpuh di depan pelataran tempat kehormatan Sang Miko.
Perlahan tirai itu terangkat.
Penampilannya nyaris tak berubah, kecuali bahwa dia sekarang bukanlah seorang gadis egois berusia lima belas tahun yang terbalut dalam kimono miko, melainkan seorang wanita dewasa yang jauh terlihat lebih bijaksana. Rambut pirangnya masih sama panjang seperti dulu, membingkai wajahnya yang cantik. Matanya yang bulat keunguan menatap kedua tamunya. Seulas senyum tipis mengambang di bibirnya.
"Lama tidak bersua, Hyuuga Neji, Haruno Sakura," sapanya sopan.
Neji membungkukkan tubuhnya sebagai balasan, Sakura mengikuti teladannya. "Saya datang kemari atas perintah misi dari Hokage-sama—"
"Kukira tadinya Naruto yang akan datang," sela Sang Miko. "Misi tunggal. Aku tidak salah mengirimkan permintaan bukan, Haru?" dia bertanya pada pengawalnya.
Pria itu membungkuk. "Tidak, Shion-sama."
"Summimasen," Neji kembali angkat bicara, "Sekarang Naruto-sama sudah menjabat sebagai Hokage di Konoha. Beliau tidak bisa meninggalkan desa dalam waktu yang lama. Jadi beliau menyuruh saya, yang pernah menjalankan misi kemari, untuk menggantikannya."
"Aah…" Shion mengangguk. "Jadi dia Hokagenya, ya? Hebat sekali…" Matanya melembut. "Bagaimana kabarnya sekarang?"
"Hokage-sama sangat baik, Miko-sama," Sakura lah yang menyahut. Dia tidak bisa menahan dirinya. "Dia sudah menikah sekarang, dan tengah menunggu kelahiran anak pertamanya."
Hening. Sang Miko tidak langsung menanggapi, melainkan hanya terdiam sambil menatap kedua shinobi Konoha itu tanpa emosi berarti di wajahnya. Tetapi Sakura yang memang sangat jeli melihat perubahan sekecil apa pun, menyadari ketika tubuh wanita itu sedikit menegang. Wajahnya memucat.
"Begitu," Shion berkata, dengan memaksakan sebuah senyum yang tak mencapai matanya. "Itu kabar yang sangat bagus."
"Naruto sangat bahagia sekarang," tambah Sakura.
"Sudah seharusnya begitu."
Nada getir yang terdengar dari suara Shion, entah mengapa membuat Sakura sedikit merasa bersalah. Tetapi kemudian cepat-cepat disingkirkannya pikiran itu dari dalam kepalanya. Shion memang harus tahu fakta itu, mengingat perasaannya yang mendalam pada Naruto yang sama sekali tidak menyadarinya. Tidak baik terus berharap pada pria yang sudah beristri, bukan?
"Jadi sekarang misi ini digantikan oleh kalian berdua?" tanya Shion, segera mengalihkan pembicaraan.
"Sebenarnya hanya saya, Shion-sama," Neji menjawab, "Sakura…" dia mengerling istrinya, sebelum melanjutkan, "…dia kemari bukan sebagai partner saya. Tapi—"
"Aku mengerti," Shion lagi-lagi menyela, "Mendampingin suami selama bertugas di negeri yang jauh, hal yang sudah seharusnya dilakukan seorang istri yang baik. Kalau begitu aku ucapkan selamat untuk kalian berdua." Dia kembali tersenyum lebih tulus kali ini. "Kalian berdua sangat sepadan."
Sakura merasakan wajahnya merona merah, sementara di sebelahnya, Neji berkata tenang sambil sedikit membungkukkan tubuhnya, "Arigatou gozaimasu, Shion-sama."
Shion mengangguk. "Kalau begitu, kalian berdua beristirahatlah dulu. Melakukan perjalanan jauh dari Konoha pasti sangat melelahkan. Besok saja kita bicarakan lagi tentang misinya."
"Hai'," Neji mengangguk.
"Haru, tolong kau antarkan kedua tamu kita ke tempat peristirahatan," Shion memerintahkan pengawalnya, kemudian beranjak dari tempatnya.
.
.
Haru –nama pengawal Sang Miko—lalu mengantar mereka ke sisi lain istana itu. Dan Sakura mengingatnya sebagai kamar yang sama yang pernah disediakan bagi tim mereka dulu untuk beristirahat. Sebuah kamar tatami luas yang nyaris kosong melompong, namun cukup nyaman untuk mengistirahatkan badan setelah perjalanan yang melelahkan –dan jelas lebih nyaman dari pada tidur di hutan.
Setelah mengucapkan terimakasih pada sang pengawal, pria itu lantas meninggalkan kedua tamu Sang Miko untuk beristirahat.
"Seharusnya kau tidak perlu mengatakan itu, Sakura," ujar Neji tiba-tiba sambil menggeser pintu kamar itu menutup.
"Hm?" Sakura yang tengah menaruh tasnya di sudut ruangan, menengok, memberi suaminya tatapan bingung.
"Tentang Naruto dan Hinata," Neji berbalik dan memandangnya. "Kurasa itu hal yang tidak perlu dijelaskan pada Shion-sama."
Sakura menegakkan tubuhnya, alisnya bertaut. "Tapi menurutku itu perlu. Shion-san dulu pernah meminta Naruto untuk membantunya menciptakan generasi miko selanjutnya, kalau kau belum lupa, Neji-san. Aku hanya khawatir—"
"Kau terlalu menganggap serius kejadian yang dulu," potong Neji datar.
Sakura semakin mengerutkan alisnya. "Shion-san mencintai Naruto," tegasnya, "Aku perempuan dan aku bisa merasakan itu. Bagaimana jika Naruto yang menjalankan misi ini, dan dia—"
"Tetapi yang menjalankan misi ini bukan Naruto, Sakura," sergah Neji, masih dalam nada datar yang entah bagaimana membuat Sakura jengkel. Seolah Neji sedang menyalahkannya atas suasana hati Sang Miko yang sempat sedikit buruk beberapa saat tadi. "Lagipula ini adalah misi shinobi ka nadaal, seharusnya kau memahami itu. Dan aku yakin Shion-sama tidak memiliki niatan seperti yang kau pikirkan."
"Neji-san—" Sakura menukas gusar. "Apa kau tidak memikirkan Hinata?"
"Aku peduli pada sepupuku. Tapi yang kulihat tadi, kau hanya berusaha memojokkan Shion-sama."
Sakura merasakan emosinya meletup. "Aku tidak bergitu—"
"Cukup." Neji mengangkat sebelah tangannya. "Kuharap kau tidak mengungkit-ungkit tentang Naruto dan Hinata di depan Shion-sama lagi. Itu tidak baik," ujarnya dengan nada mengakhiri diskusi.
Sakura tidak menjawab. Bibirnya terkatup rapat membentuk sebuah garis tipis. Pembelaan suaminya tarhadap wanita lain membuatnya begitu kesal sampai-sampai tidak sanggup berkata-kata lagi. Hatinya terasa seperti dicengkeram kuat. Dia kemudian berpaling untuk menyembunyikan matanya yang tiba-tiba memanas, berpura-pura menyibukkan diri dengan tasnya.
"Aku ingin mandi," Sakura beranjak dari tempatnya tak lama kemudian, melangkah menuju pintu lain yang sudah dikenalnya menuju kamar mandi tamu. Pintu itu bergeser menutup di belakangnya dengan sebuah sentakan keras, bersamaan dengan meluncurnya cairan bening dari sudut mata Sakura, yang kemudian segera dihapusnya dengan kasar.
Apa-apaan aku menangis segala seperti ini?
.
.
Suasana hati Sakura menjadi sangat buruk sepanjang sisa hari itu. Kejadian siang tadi membuatnya sangat kesal. Sakura sama sekali tidak berminat memancing pembicaraan dengan Neji seperti yang biasa dia lakukan, melainkan lebih banyak diam dan menekuk wajahnya, seakan ingin Neji menyadari kalau dia sedang marah padanya. Tetapi sikap suaminya yang seolah tak peduli itu membuat Sakura semakin jengkel.
Diam-diam Sakura berharap Neji akan membujuknya dan meminta maaf, meskipun dia tahu itu hanyalah sebuah harapan kosong saja. Neji adalah seorang yang sangat realistis dan penilaiannya selalu masuk akal. Dan Sakura menyadari apa yang dikatakan suaminya itu memang benar. Dia terlalu menganggap serus kejadian yang dulu. Misi ini Neji yang melakukan, seharusnya dia tidak perlu mencemaskan tentang Naruto dan Hinata.
Lagipula seandainya memang Naruto yang pergi, dia bukanlah tipe pria yang mudah berpaling oleh godaan sehebat apa pun. Kecemasannya yang berlebihan memang tidak beralasan.
Tetapi kemudian dia menyadari bahwa bukan itu yang benar-benar mengganggunya. Melainkan bagaimana cara suaminya itu membela Sang Miko. Hanya dengan memikirkannya saja membuat Sakura ingin sekali menghancurkan sesuatu.
Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ini… cemburu?
.
.
"Apa yang kau lakukan di sini?" suara dalam yang sudah dikenalnya membuyarkan lamunan Sakura.
Dia lantas menoleh ke sumber suara, membuat anak-anak rambutnya sedikit tersapu ke wajahnya, dan mendapati pria berpakaian khas klan Hyuuga telah berdiri di sisi atap istana, tempatnya sedari tadi duduk sendirian merenungi kegalauan yang melandanya. Rambut panjangnya yang tampak melambai oleh tiupan angin malam yang cukup kencang di atas sana.
"Tidak melakukan apa-apa," sahut Sakura pelan sambil berpaling. Dia duduk memeluk lututnya, pandangannya menerawang ke kejauhan sementara dagunya diletakkan di atas salah satu lututnya.
"Kenapa tidak makan? Kau belum makan apa pun sejak siang," Sakura mendengar suara Neji mendekat, sebelum merasakan pria itu mendudukkan diri di sisinya.
"Tidak lapar," jawab Sakura singkat, tepat ketika perutnya berbunyi keras. Wajahnya kontan merona, tetapi dia masih terlalu keras kepala untuk memandang suaminya.
"Jelas sekali," kata Neji datar. Dan saat berikutnya, dua kepal onigiri telah disodorkan di depan Sakura. "Jangan menyiksa diri dengan membuat dirimu sendiri kelaparan. Makanlah."
Sakura bergerak-gerak gelisah di tempatnya. Di satu sisi dia masih merasa gengsi, tetapi di sisi lain dia sangat kelaparan –lagi-lagi apa yang dikatakan Neji benar. Akhirnya dia memutuskan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan dasarnya. Diambilnya setangkap onigiri yang diulurkan padanya.
"Kau juga belum makan?" tanya Sakura keheranan ketika dilihatnya Neji menggigit onigiri yang satu lagi. Saat jam makan malam tadi, seorang pengawal sempat mendatangi mereka untuk mengundang makan. Tetapi Sakura yang tidak berselera tidak pergi sementara Neji menerima undangan itu. Dia mengira pastilah Neji sudah makan di sana.
Neji tidak menjawab, malah menggigit potongan lain oinigiri-nya dan makan dalam diam. Selama beberapa saat Sakura mengamati pria itu dengan rasa penasaran memenuhi hatinya. Selalu saja begitu. Di satu waktu dia bersikap tak acuh, tetapi di saat yang lain Sakura merasa suaminya itu begitu memedulikan dirinya –seperti beberapa malam yang lalu, saat Neji memeluknya di dalam hutan. Apa sebenarnya yang dipikirkan Neji, Sakura sama sekali tidak bisa memahaminya. Dan ini membuat hatinya tidak tenang.
"Kau sedang memikirkan sesuatu," tebak Neji, membangunkan Sakura dari lamunannya.
"Mengapa kau berkata seperti itu, Neji-san?"
"Kau tidak bicara sepanjang siang," Neji berkata sambil memandang istrinya, "Biasanya kau begitu banyak bicara."
Sakura memberinya senyum tipis. "Aku tidak ingin salah bicara lagi, Neji-san."
Neji menatapnya. Dia membuka mulutnya sesaat, seperti hendak mengatakan sesuatu tetapi tidak jadi. Menghela napas, dia kemudian berpaling untuk menghabiskan makanannya tanpa mengatakan apa-apa lagi. Di sampingnya, Sakura melakukan hal yang sama.
Sakura kembali melirik Neji setelah dia menghabiskan makanannya. Neji juga sudah selesai dan sekarang tengah memandangi entah apa di kejauhan sana. Kedua lengannya diletakkan di atas masing-masing lututnya. Entah hanya perasaan Sakura saja ataukah Neji memang tampak tidak setenang biasanya. Pria itu berkali-kali menarik napas panjang.
Sadar tengah diperhatikan, Neji akhirnya menolehkan wajahnya. Pandangan mereka kembali bertemu dan Sakura terkejut melihat ekspresi yang tak pernah dilihatnya di wajah tampan itu. Ekspresi itu, seakan Neji tengah menahan siksaan yang sangat menyakitkan. Sakura baru saja membuka mulutnya, hendak bertanya. Tetapi apa yang terjadi berikutnya membuatnya bungkam seketika.
Sakura tak bisa berpikir apa-apa lagi ketika Neji tiba-tiba mendekat dan menciumnya. Sebelah tangannya menangkup wajah Sakura, sementara ibu jarinya dengan lembut mengusap pipinya. Segera saja Sakura merasa terhanyut. Dia memejamkan mata. Instingnya menyuruhnya untuk membalas, dan itulah yang dilakukannya kemudian. Sakura memiringkan kepalanya, membuka bibirnya, membalas ciuman pria itu.
Mereka berciuman, lagi, lagi dan lagi di bawah sinar bulan yang lembut. Sakura merasakan tubuhnya gemetaran oleh sebuah kebutuhan yang tiba-tiba saja muncul. Tangannya mencengkeram lengan baju Neji. Jantungnya berdegup kencang.
Sampai akhirnya mereka saling melepaskan diri. Dengan mata yang masih terpejam, Sakura bisa merasakan napas mereka yang hangat berbaur di depan wajahnya. Tangan Neji yang hangat masih terasa di pipinya. Sakura mengerakkan wajahnya ka nad tangan itu, namun yang kemudian dirasakannya membuat hatinya beku. Tangan itu meninggalkannya. Saat Sakura membuka matanya, menatap udara kosong di mana seharusnya Neji berada. Dia sudah pergi.
"N—Neji-san?"
Sakura menelan ludah dengan susah payah. Kepalanya menengok ke segala arah, matanya mencari-cari, berharap menemukan sosok Neji. Tetapi suaminya sudah tidak ada di sana, meninggalkannya sendirian. Sakura lalu melingkarkan lengan, memeluk tubuhnya sendiri yang masih gemetaran.
Apa itu tadi?
.
.
Sakura terbangun keesokan paginya oleh cahaya matahari yang masuk ke dalam kamar melalui celah jendela. Dia mengerjapkan matanya yang masih dibebani kantuk dan memadang berkeliling ke ruangan itu. Pandangannya terjatuh pada tasnya –dan tas Neji—yang teronggok di sudut ruangan dan sebuah futon yang sudah terlipat rapi di dekatnya.
Tidak. Bukan sudah terlipat rapi, namun sama sekali tak disentuh sejak semalam. Suaminya tidak kembali ke kamar mereka semalaman.
Kemudian ingatan tentang peristiwa semalam di atap istana terlintas di kepalanya, membuatnya wajahnya merona. Dadanya berdegup kencang ketika Sakura mengangkat tangannya untuk menyentuh bibirnya.
Ini bukan kali pertama Neji menciumnya. Tetapi Sakura merasakan sesuatu yang berbeda dengan ciuman mereka semalam. Menggetarkan. Dia tak bisa melupakan bagaimana seluruh tubuhnya bereaksi terhadap sentuhan Neji… tapi pria itu malah pergi meninggalkannya.
Sakura menghela napas berat. Tangannya menyapu rambut yang terjatuh ke matanya.
Dia benar-benar tidak mengerti.
.
.
Setelah membereskan futon dan mencuci muka, Sakura memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak mengelilingi istana. Dulu saat misi bersama Naruto dan Lee-san, Sakura tidak punya waktu untuk melihat-lihat. Tapi sekarang dia memiliki banyak waktu senggang dan tentu saja dia tidak akan menyia-nyiakannya hanya dengan duduk diam di dalam kamarnya.
Istana yang juga berfungsi sebagai kuil itu ternyata jauh lebih indah dari yang dia kira sebelumnya. Pemadangan dari pelataran istana sangat cantik. Langit terlihat biru dan bersih di atas hamparan hutan yang menghijau. Tebing-tebing batu yang curam terlihat berkilauan di bawah terpaan sinar matahari. Di luar gerbang istana, terlihat sebuah desa kecil yang mengingatkannya akan Konoha. Mereka tidak melewati desa itu kemarin, dan Sakura merasa tidak sabar untuk mengunjungi desa itu nanti. Neji pasti tidak akan keberatan.
Omong-omong, dia belum melihat suaminya itu di mana pun.
Neji tidak ada di tempat para prajurit berkumpul –tempat pertama yang terpikir oleh Sakura—tidak ada di ruang makan saat sarapan, pun tidak di tempat Shion. Tak seorang pun yang tampaknya juga melihatnya. Mungkin Neji sedang pergi ke desa atau tempat lain –tanpa memberitahu apa pun padanya, pikir Sakura agak kecewa.
Baru menjelang tengah hari akhirnya Neji muncul. Dia terlihat sedang berbicara serius dengan salah seorang pengawal yang dilihatnya kemarin di depan gerbang istana. Shion juga tampak bersama mereka, tidak mengenakan kimono Miko-nya, melainkan pakaian biasa. Tampaknya benar bahwa mereka baru saja kembali dari suatu tempat.
Sakura agak ragu, sebelum kemudian memutuskan untuk menghampiri. Ketiga orang itu menolah ketika Sakura mendekat. Shion tersenyum cerah menyambutnya, tetapi perhatian Sakura tertuju pada suaminya. Neji tidak bereaksi saat melihatnya. Wajahnya datar seperti biasa ketika mereka berkontak mata, seakan kejadian semalam tidak pernah terjadi.
"Konichiwa, Sakura," suara Shion yang menyapanya membuat Sakura berpaling.
"Konichiwa, Shion-sama," Sakura membungkukkan sedikit badannya.
Shion mengibaskan tangannya. "Jangan terlalu formal begitu. Kita kan bisa dibilang teman lama. Nah," wanita berambut pirang itu menoleh pada Neji dan pengawalnya, "Karena urusannya sudah beres, sebaiknya aku kembali ke tempatku."
"Terimakasih banyak, Shion-sama," ucap Neji sopan.
Shion tersenyum padanya. "Aah… tidak usah sungkan, Neji. Kalau begitu aku duluan. Mari, Sakura." Dan wanita itu pun melenggang pergi menuju kuilnya.
Sakura kembali memandang Neji. Dia baru saja akan membuka mulutnya untuk bertanya, tetapi Neji menyelanya cepat, "Sebaiknya kita berkemas sekarang, Sakura."
"Eh?" Sakura mengerjapkan mata, tak mengerti.
"Kita akan pindah. Kami sudah menemukan sebuah rumah untuk kita diami sementara kita tinggal di sini," kata Neji. Ini menjelaskan kemana saja dia menghilang sepanjang pagi. "Kau tidak berharap tinggal selamanya di istana, bukan?"
"Un… tidak," jawab Sakura pelan. Sebuah rumah yang akan mereka tinggali berdua saja… pikiran itu membuatnya sedikit gugup, tapi juga antusias. Jujur saja tinggal di istana membuatnya sedikit tidak nyaman. Lagipula sudah lama dia mengidamkan menempati sebuah rumah yang bisa diurusnya sendiri.
"Perlu saya antar, Neji-donno?" tawar pengawal sang Miko.
"Tidak perlu. Kami bisa pergi sendiri, Haru-san," tolak Neji sopan.
Pria berambut hitam itu mengangguk. "Jika perlu sesuatu, Anda tahu di mana bisa menemukan saya."
"Hai. Arigatou gozaimasu." Neji mengangguk padanya, sebelum Haru berbalik pergi menuju tempatnya bertugas seperti biasa.
"Kita pergi sekarang?" Neji menanyai Sakura.
Tatapannya membuat wanita itu merona merah lagi. "I—Iya…"
.
.
Setelah mengemasi semua barang bawaan mereka yang memang sedikit, Neji kemudian membawa Sakura menuju desa tak jauh dari istana. Hampir mirip dengan Konoha yang merupakan sebuah desa yang maju, begitu pula dengan desa di Oni no Kuni itu. Jalanannya diramaikan oleh orang-orang yang sibuk melakukan kegiatan sehari-hari –berdagang, melakukan bisnis yang biasa. Deretan pertokoan yang menyatu dengan rumah-rumah penduduk berderet di sepanjang jalan itu. Yang berbeda hanyalah di sana sama sekali tak terlihat shinobi-shinobi berkeliaran seperti yang biasa terlihat di Konoha.
Sakura menolehkan kepalanya ke sana kemari, mencoba mengingat toko apa letaknya di mana. Sekaligus bertanya-tanya sendiri di mana nantinya mereka akan tinggal, apakah lingkungannya akan sama menyenangkan seperti di Konoha?
Tetapi tampaknya mereka tidak akan tinggal di pusat keramaian desa seperti yang Sakura pikir, karena mereka tidak berhenti sampai mereka mulai meninggalkan keramaian memasuki daerah pinggiran desa yang lebih lengang. Rumah-rumah terlihat lebih jarang dan lebih didominasi oleh kebun-kebun sayur milik para penduduk desa.
"Neji-san, sebenarnya di mana—"
"Kau akan lihat nanti," Neji menjawab pertanyaan Sakura yang tak selesai. "Jangan khawatir. Ini adalah tempat yang layak huni," tambahnya, melihat ekspresi cemas di wajah istrinya itu.
Sakura hanya mengangguk pasrah, percaya sepenuhnya pada suaminya. Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah jalan setapak, yang di sisi-sisinya ditumbuhi pepohonan rindang. Suara burung-burung yang berkicau riang memenuhi udara dan samar-sama Sakura bisa mendengar suara gemericik air di kejauhan.
Sakura membelalakkan matanya ketika jalan setapak yang mereka lewati membuka ke sebuah halaman yang cukup luas. Di depannya tampak sebuah rumah bergaya tradisional yang cukup besar untuk mereka tinggali berdua. Dengan pelataran kayu yang mengingatkannya akan kediaman Hyuuga di Konoha –hanya saja yang ini lebih sempit—pintu-pintu geser dan sebagainya. Rumah itu dipagari oleh hutan di sekelilingnya, dan Sakura melihat jalan setapak menuju ke dalam hutan. Barangkali dia bisa mengeceknya nanti, karena sekarang perhatiannya tertuju sepenuhnya pada bangunan yang akan menjadi tempat tinggalnya bersama Neji entah untuk berapa lama itu.
"Kuharap ini cukup."
Sakura menangkupkan tangannya di depan mulut. Selama beberapa saat tak mampu berkomentar apa pun. "Ini…" Ia menoleh pada Neji, tersenyum, "Ini lebih dari cukup, Neji-san! Ini rumah yang sangat cantik."
Sudut bibir Neji tertarik sedikit membentuk seulas senyum tipis. "Kau menyukainya?"
Sakura mengangguk antusias. "Sangat!"
Dan ketika dia mengalihkan pandangannya kembali ke rumah itu, Sakura mendapatkan firasat akan ada banyak hal yang menanti mereka di sana. Entah itu hal yang baik atau buruk. Sakura hanya berharap semoga itu adalah hal yang baik.
.
.
Bersambung
.
.
Fiuh… chapter yang sulit, dan lumayan bikin deg-degan gak karuan di beberapa scene. :p Saya harap cukup memuaskan walaupun gaje. Hohoho…
Buat yang sudah mereview chapter kemarin, makasih banget. Gomen gak dibalesin satu-satu. Karena selain saya gak ada akses inet sendiri aka harus ke warnet dulu, gak tau kenapa saya gak bisa lihat page review. (T_T) Tapi saya makasih banget buat yang sudah mengapresiasi. ^^
Btw, saya bolak-balik dengerin 'It Has To Be You'-nya Yesung Suju waktu nulis chapter ini. Hihihi…
