Disclaimer : I own Nothing


An Unexpected Curse

Rating : T

Genre : Adventure / Friendship

Warning : Typo


Cerita sebelumnya,

Kolaborasi Sting – Lucy yang hampir pecah karena perbedaan pendapat diantara mereka telah berhasil mengalahkan komplotan para perampok dengan perpaduan sihir keduanya. Mereka sama sekali tidak memprediksi penggabungan sihir tersebut dikarenakan sihir keduanya bagaikan magnet saling menarik satu sama lain hingga menciptakan sihir yang luar biasa yang membuat para komplotan perampok itu kapok. Sebagai imbalan dari usaha mereka, Lucy mendapatkan kunci perak dari Lahar, kepala kepolisian sihir setempat. Kedua berambut pirang tersebut melanjutkan perjalanan misi mereka ke pulau Quartz untuk menuntas habis apa yang sebenarnya yang terjadi pada pulau misterius itu.


Chapter 5 : Welcome to Youda Village


"Sting, bisakah kita beristirahat? Aku lelah."

"Kita sudah terlalu banyak istirahat," kata Sting, terus berjalan maju.

"5 menit...Aku mohon. Kakiku sudah tidak kuat berjalan lagi," ujar gadis yang akrab dipanggil Lucy sembari terduduk lelah di sebuah batu bulat dan memijat kakinya yang sakit.

"Tidak bisa lagipula itu salahmu sendiri memakai sandal hak tinggi saat misi." Penyihir dragonslayer itu sama sekali tidak mendengarkan permintaan partner sementaranya, ia tetap mengambil langkah maju mencari jalan keluar dari hutan sebelum malam tiba.

"Lekas jalan Lucy."

"T-tunggu aku!" Gadis pirang itu bangkit dan pergi menyusul Sting. 'Dasar pelit. Masa istirahat 5 menit saja tidak boleh padahal usianya lebih muda dari aku tapi lagaknya sok banget...Ouch.'

"Kenapa kamu berhenti tiba-tiba, Sting?" tanya Lucy sembari mengusap hidung yang sakit akibat membentur punggung lebar pemuda pirang ketika pemuda itu menghentikan langkahnya.

"Laut...Aku mencium laut."

"Laut? Aku tidak mencium apapun," ujar Lucy mensejajarkan diri berdiri di samping pemuda yang dulu pernah menertawakannya saat Grand Battle Festival. Lucy yang sesekali berkedip dan hidungnya kembang – kempis mengendus mencari darimana arah aroma laut seperti yang diucapkan oleh Sting.

"Bodoh. Indra penciumanmu sangat berbeda dengan kami," ejek Sting sembari mencubit gemas hidung kecil sang penyihir bintang kemudian mengambil langkah lagi.

"Sakit..." Lucy mengelus hidungnya yang sedikit memerah karena dicubit oleh partner sementaranya. 'Moo~ Dasar tidak sopan seenaknya mencubit hidung orang.'

"Lucy! Ayo lekas jalan...Aku sudah mencium bau laut dari arah sini. Itu tandanya ..."

"Desa!"

"Hn. Karena itu, Lekas!" Pemuda Sabertooth itu dengan tidak sabar menarik lengan Lucy untuk segera meninggalkan hutan sebab dia risih dengan pemandangan sejauh mata memandang hanya pohon – pohon besar yang menjulang tinggi berderetan.

"T-tunggu!"

"Laut...Aku mencium aroma Laut, Lucy! Aku benar – benar tidak sabar lagi... " Seru Sting tidak sabar, tanpa melepas pegangannya dari tangan mungil gadis manja berambut pirang itu.

"Ya aku tahu. Kamu sudah mengatakannya berkali-kali," jawab Lucy sembari mengembuskan napas lelah karena dia tidak menyangka Sting sangat mirip dengan Natsu, bertingkah terlalu bersemangat dan kekanakan apabila insting mereka menemukan sesuatu yang menarik – mirip dengan anak kecil yang tidak sabaran untuk pergi ke sebuah festival atau membeli mainan baru. Apakah semua dragon slayer memliki sifat yang tidak sabaran?

Tanpa disadari, Lucy tertariksedikit sudut bibirnya, agaknya sedikit merasa tergelitik dengan Sting yang kekanakan. Entah mengapa ia merasa teman baru bersurai emas itu memiliki kesamaan dengan Natsu.

Tangan besar Sting masih betah menempel erat di telapak tangan mungil Lucy, menuntun teman perempuannya mengikuti arah kemana ia berjalan agar tak tertinggal olehnya. Langkah demi langkah mereka gerakkan hingga membawa mereka ke sebuah tempat yang bersiratkan warna orange matahari terbenam.

Mata kedua penyihir terbelalak dalam kekaguman ketika kaki mereka sudah tidak berada di hutan gelap. 'Akhirnya...' ucapan mereka dalam hati. Di hadapan mereka sudah tidak ada lagi pemandangan menakutan dan terlihat sama setiap menggerakkan kaki untuk menelusurinya melainkan sebuah tempat yang dipenuhi rumah penduduk bertembokkan yang tebuat dari deretan kayu kokoh tanpa warna, beberapa pohon – pohon yang menjulang tinggi di samping bangunan berayun mengikuti arah angin yang berhembus dari laut, suara burung laut saling bersorak menyapa di senja hari. Di tepi perlabuhan desa banyak kapal besar dan kecil yang terparkir dan terikat dengan seuntai tali kokoh di sebuah tiang besi bergoyang sedikit ulah sensasi ombak laut. Tak ingin berlama mematung dalam kekaguman, pemuda berambut pirang itu melepaskan eratannya dari tangan Lucy kemudian menyeret langkah maju menuju desa dan Lucy mengikutinya dari belakang.

"Sting, apa yang akan kita lakukan sekarang? Hm~Udara disini sangat sejuk," ujar Lucy dengan senang seraya menikmati hembusan angin yang membelai rambut emasnya.

"Tentu saja kita mencari penginapan dulu. Sebentar lagi malam tiba, kita butuh tempat beristirahat yang nyaman sebelum kita bergerak berangkat menuju pulau Quartz. Apa kamu mau tidur di dalam hutan?"

Lucy menggelengkan kepalanya dengan cepat. Siapa juga yang mau tidur dalam keadaan diliputi rasa was – was akan diterkam monster atau sosok penjaga hutan yang kasat mata. Belum lagi serangga malam yang berterbangan di sekitar mereka.

"Yosh! Let's Go!" Sting berlari.

"Ah Tunggu, Sting!" Lucy pun ikut berlari untuk mengejar Dragon Slayer itu.

Kedua pasangan pirang itu berlari memasuki gerbang pembatas antara hutan gelap dengan pintu masuk menuju desa yang bertuliskan Welcome to Youda Village. Karena kecepatan lari Lucy tidak sebanding dengan Sting, ia sudah kelelahan walau hanya berlari dengan jarak beberapa ditambah lagi kakinya sudah tidak ada energi untuk digerakkan ekstra dan terus memanggil nama teman misi sementaranya agar memperlambat kecepatan larinya tetapi si pemuda pirang itu terus berlari kencang tanpa menghiraukan panggilan Lucy.

xxxx

"Nomor satu!" Bangga Sting dengan penuh kemenangan di tangannya ketika berhasil tiba di jantung desa sebelum Lucy. Suara Sting berhasil menarik perhatian warga setempat sesaat kemudian kembali pada aktifitas mereka semula.

"Ini bukan perlombaan lari, Sting!" Lucy mengernyit jengkel seraya menormalkan deru napasnya setelah berlari.

"Kalah tetap kalah Lucy," sindir Sting, membuat senyum remeh hadir di wajahnya.

"Grr...Hmm! Kau bertingkah seperti anak kecil," kesal Lucy sambil menggembungkan kedua pipinya dan membuang muka.

"Terserah kamu, Lucy. Terpenting Sabertooth menang dari Fairy Tail untuk hari ini," ujar Sting, menyunggingkan senyuman sindiran.

"A-awas kamu Sting!" Geram Lucy sembari mengepalkan kedua tangannya yang mungil. 'Aku tarik kembali ucapanku yang mengatakan bahwa kamu mirip dengan Natsu. Kamu sama sekali tidak mirip. Lihat saja nanti, Sting. Aku akan membawa kemenangan bagi Fairy tail kemudian aku akan membuat dirimu menangis berlutut di depanku.' Rencana licik Lucy dalam hati.

"Hah...Kita hentikan ini...Bertengkar denganmu hanya membuang tenaga dan membuat perutku semakin lapar," ujar Sting, mengusap – usap perutnya. "Kita cari penginapan lalu makan malam," sambungnya sembari menyeret langkah maju untuk mencari penginapan yang terdekat.

"Ugh...Bukannya dirimu dulu yang memulainya..." Gerutu Lucy dengan nada sedikit kesal, kedua tangannya melipat di depan dada.

"Lucy!" Panggil Sting, melambaikan tangan kanannya ke arah gadis pirang agar si gadis mengetahui dimana ia berada saat itu.

Lucy menghela napas lelah dan menggerakkan kaki untuk memperkecilkan jarak dirinya dengan kawan setimnya yang sudah berdiri di depan sebuah bangunan berukuran sedikit besar daripada rumah penduduk setempat dan bertuliskan 'Homestay' di pinggir atas bangunan.

Kedua penyihir itu berjalan menaiki tangga kecil depan penginapan kemudian membuka pintu masuk. Suara lonceng berbunyi ketika Sting membuka pintu sehingga menggelitik telinga sang penjaga pemilik untuk melirik siapa yang membunyikan lonceng tersebut.

"Selamat datang..." salam sambut dengan nada sopan dari penjaga penginapan yang berpenampilan setengah baya dengan pakaian yang tidak terlalu mahal maupun murah ketika manik coklatnya menangkap dua calon tamunya berjalan menghampirinya. "Nama saya Durkee. Ada yang bisa saya bantu?" sambungnya dengan nada sopan.

"Kami ingin memesan ruangan," jawab Sting seraya manik biru dongkarnya menjelajah mengamati seluruh sudut ruangan tamu lalu kembali menatap sang penjaga hotel.

Sang penjaga penginapan terdiam sejenak dan matanya memandang dua orang yang berdiri di depannya dengan membawa barang bawaan mereka masing – masing di tangan, dari Sting ke Lucy kemudian kembali ke Sting lagi. 'Hmm...Kalau dilihat dari barang bawaan mereka, tampaknya keduanya sedang kabur dari rumah. Rambut mereka sama – sama pirang. Apa mereka kakak adik? Bukan...Wajah mereka tidak mirip jika dibilang saudara. Kalau begitu...' Penjaga penginapan itu mengangguk – angguk pelan seusai puas mengamati mereka, membuat Sting dan Lucy bertukar pandang heran. " Baik, saya mengerti. Memang terasa berat sekali, bukan? Cinta tidak direstui dan kabur dari rumah... Saya sudah banyak menerima tamu seperti anda... " gumamnya sembari sibuk mencatat tanggal hari itu di buku tamu.

"Saya tidak mengerti apa yang bapak katakan?" Tanya Sting, mengangkat satu alisnya tidak mengerti apa yang dikatakan sang penjaga penginapan tersebut.

"Kalian berdua masih terlalu muda untuk mengerti... Nama kalian? Tolong tulis disini," ucap penjaga penginapan yang diperkirakan berusia 47 tahun sambil memberikan petunjuk untuk Sting atau Lucy dimana mereka harus meletakkan nama mereka di buku daftar tamu.

"Apa ini sudah cukup?" Sting meletakkan pulpen kuno berwarna hitam berlapiskan warna silver di tengah halaman buku daftar tamu dan mendorongnya kembali ke arah sang penjaga.

Bapak berumur 47 tahun itu mengambil buku tamu untuk melihat siapa nama pemuda pirang yang tengah berdiri di depannya. "Sting Eucliffe? Nama yang unik... Aku sama sekali belum pernah mendengar nama seperti ini. Apa kamu bukan berasal dari sini maupun daerah perbatasan Youda?"

"Hn... kami berdua dari Magnolia."

"Magnolia?"

Sting menggerakkan kepalanya membentuk anggukan kecil.

Penjaga itu sibuk mencari kunci kamar yang akan ditempati oleh tamu dengan warna rambut yang sama diantara kunci – kunci yang sama warna yang bergelantungan di rak kecil belakang meja resepsionis."Jauh sekali. Aku tidak menyangka kalian kabur dari tempat sejauh itu..."

"Anu ne...kami tidak sedang kabur..." Lucy membalas ucapan sang penjaga penginapan dengan nada bingung kemudian tak berselang lama, sesuatu melintas cepat di pikirannya. "Anda...Masa? Pasti mengira bahwa kami adalah..."

"Silakan kunci kamarnya." Ucapan Lucy terpotong saat Durkee menyondorkan kunci kamar dengan bernomorkan angka 12 kepada kedua pasangan bersurai emas.

"Hanya satu kamar?" Heran Sting.

"Hn."

"Kami pesan dua kamar bukan satu kamar!"

"Eh?"

"Lagipula kami bukan sepasang kekasih yang ingin kawin lari atau sepasang pengantin baru yang ingin menikmati bulan madu!"

"Bukan?"

"Tentu saja bukan!" Lucy dan Sting berteriak bersamaan hingga membuat telinga sang penjaga yang sudah tua itu menutup telinga.

xxxx

"Ah...Pada akhirnya harus tidur dalam satu ruangan juga..." Lucy menghela napas panjang.

"Mau gimana lagi...Semua kamar sudah penuh terisi. Para pelaut itu mengurung niat untuk berlayar di malam hari sehingga memilih menginap hingga matahari terbit maka, tidak heran semua kamar penginapan penuh," ucap Sting sembari memutar kamar yang akan ditempatinya, membuka pintu.

Lucy dan Sting memasuki ruangan kamar yang disewanya, tak lupa membawa barang bawaan mereka ikut masuk ke dalam ruang, dan kemudian menyalakan lampu. Seketika keadaan di dalam kamar sangat terang. Di dalam kamar yang berukuran kecil itu hanya terdapat satu kasur, satu kamar mandi, satu lemari, satu meja kecil dekat sofa panjang berwarna merah yang telah luntur termakan usia. Selambu berwarna

"Tidak terlalu jelek juga..." Sting menyeret langkah maju menuju sofa panjang berwarna merah seraya matanya menjelajahi mengamati sudut ruangan, tidak mengecewakan untuk ukuran penginapan di desa. Setibanya di sofa, Sting meletakkan barang bawaannya di lantai kemudian merebahkan diri di sandaran sofa. "Kamu tidur di Kasur sementara aku tidur di sofa ini,"

"Hm...Pilihan yang bijak," Lucy duduk di tepi kasur, meringankan beban di punggungnya – tas ransel kecilnya yang dipunggungnya, ia letakkan di atas kasur kemudian menyandarkan punggungnya di atas empuknya kasur yeng terlapisin seprei putih. "Ah...nyamannya~"

Tok...Tok...

Baru akan memejamkan mata, suara ketukan pintu terdengar dua kali dari luar kamar duo pirang tersebut, menghancurkan acara pelepas lelah Lucy dan Sting. Tidak ada jawaban dari dalam, suara ketukan terdengar kembali.

Perlahan kedua kelopak mata Sting terbuka, terusik dengan suara ketukan yang berdendang di telingannya, "Lucy, buka pintunya," malas Sting, enggan beranjak dari sandaran sofa yang empuk.

"Aku bukan pembantumu, Sting! Lagipula kamu yang paling dekat dengan pintu."

"Lekas buka pintunya, Lucy!" Sting tidak menghiraukan protes Lucy.

"Ugh...Seenaknya saja," jengkel sang pemegang kunci bintang, mau tidak mau ia terpaksa beranjak dari kasur dan menghampiri pintu untuk membukanya dan melihat siapa yang sudah merusak acara istirahat mereka. Tak lama pintu terbuka, menampilkan seorang lelaki paruh baya dengan rambut setengah putih membungkuk sopan lalu tersenyum pada Lucy.

"Maaf menggangu istirahat anda..." Penjaga penginapan meminta maaf apabila tindakannya sangat lancang terlebih lagi di waktu dimana para tamunya beristirahat melepas lelah.

'Sangat mengganggu!' marah Lucy dalam hati. "Lalu anda datang kemari untuk apa?"

"Bar kami telah buka."

"Bar?"

"Hn. Bar kami terletak tepat di sebelah penginapan ini. Apabila anda bersedia, silakan menikmati makan malam secara gratis hanya untuk hari ini," kata Durkee sembari membagikan dua lembar kupon kepada Lucy.

"Apa ini?" Tanya Lucy

"Kupon gratis makan malam...Anda tinggal berikan kupon ini kepada master, dia akan melayani anda sepenuhnya. Anda bisa memesan makan dan minum sesuka anda dengan gratis."

"He ~ Kenapa anda berikan kupon gratis ini kepada kami?"

"Tidak apa – apa hanya pelayanan spesial dari penginapan kami dan sebagai tanda maaf atas kesalahpahaman saya tadi sore."

"Oh... Tidak usah dipikirkan."

"Kalau begitu, saya permisi. Maaf mengganggu anda... Selamat beristirahat." Durkee membalikkan badan kemudian menyeretkan langkah maju menuju turunan anak tangga. Merasa tidak ada sesuatu yang penting lagi, Lucy perlahan mundur lalu mulai menutup pintu pelan.

"Ah! Nona Lucy, ada sesuatu yang terlupakan!"

Belum seutuhnya tertutup, Lucy kembali membuka pintunya sewaktu si penjaga itu menyebutkan namanya dengan tatapan malas, "Ada apa lagi, Durkee-san?"

"Anda berdua penyihir?"

"Itu benar," jawab gadis itu masih menatap malas Durkee yang berdiri dengan tangan yang memegangi kedua sisi tangga.

"Kalian benar - benar akan pergi ke pulau Quartz?"

"Hn."

"Itu berarti anda membutuhkan sebuah kapal untuk pergi ke sana."

"Kapal?"

"Hn. Desa Youda dan pulau Quartz dipisahkan oleh lautan yang luas. Apa anda mau berenang sampai ke pulau Quartz?"

Mendengar hal itu, gadis pirang dengan iris berwarna coklat itu langsung menggelengkan kepalanya. Sangat tidak mungkin bagi dirinya dan Sting mengarungi lautan dengan berenang, bisa – bisa mati tenggelam sebelum tiba di pulau tersebut.

"Maka anda membutuhkan kapal untuk melewati lautan. Apa anda sudah menemukan sebuah kapal?"

"Belum. Kami belum memikirkan hal itu."

"Oh Begitu...Oh Saya baru ingat!. Ini tips tambahan dari saya, di bar kami ada sekelompok pelaut yang dibawah kepimpinan seorang kapten bernama Hourdan. Dia adalah seorang kapten pelaut yang sudah berlayar mengelilingi lautan dan memiliki banyak kapal. Apabila berhasil membujuknya, saya yakin dia tidak keberatan memberikan satu kapal untuk anda,"

"Benarkah?"

"Hn.

"Seperti apa ciri – cirinya?" Lucy sepenuhnya tertarik dengan ucapan Durkee.

"Hm..." Durkee berpikir seraya menempelkan telunjuk di bawah bibirnya, berusaha mengingat – ingat ciri – ciri fisik dari Kapten Hourdan. "Dia berbadan kekar, berkulit coklat, berambut botak dan memiliki bekas luka tembas di kening kanan atas. Sekarang dia duduk sendirian di sebuah meja dekat tangga. Cobalah berbicara dengan dia."

"Hn...Terima kasih."

"Selamat malam, Nona Lucy..." Durkee membungkuk sopan kemudian melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga hingga menuju meja resepsionis. Seusai membalas sapa dengan Durkee, Lucy kembali masuk dalam kamar kemudian menutup pintu dan menguncinya.

"Hourdan kah?" Ucap suatu suara berat berbalut kemalasan dari dalam kamar .

Suara berat seseorang membuat Lucy tersentak dan berbalik, "Sting, kamu mendengar pembicaraan kami?"

"Begitulah..." ucap pemuda pirang itu sembari menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal. "Suara kalian berdua lumayan keras sehingga aku tidak bisa tidur lagi."

"Tahu akan begitu seharusnya kamu yang bukakan pintu bukan aku," kesal Lucy sembari berkacak pinggang di depan Sting yang kini sedang mengerutkan pelipisnya.

Si Dragon Slayer itu dengan satu kaki yang terlipat di atas lutut yang lain, melipat kedua tangannya di depan dada dan menyeringai nakal pada Lucy, "Punishment game."

"Huh? Punishment game?"

"Benar. Punishment game...Hukuman bagi orang yang terakhir sampai di desa," Seringai devil milik sting semakin melebar melihat tatapan polos Lucy.

"HUH?! Curang! Aku sama sekali tidak ingat ada Punishment game dalam perlombaan itu. Lagipula itu bukan perlombaan! Kamu langsung berlari begitu saja tanpa mengatakan , Lucy, ayo kita bertanding cepat siapa yang berhasil tiba di desa duluan! Ya kan? Itu mana bisa dikatakan perlombaan tanpa persetujuan dari dua belah pihak! Bla...Bla..." omelan panjang pemilik kunci arwah suci bintang dengan urat – urat segiempat terlihat jelas di kening gadis itu sementara pemuda yang diomelinya terlihat santai, sama sekali tidak terlalu serius mendengarkan coletah kesal Lucy malah sibuk memainkan ujung poni depannya. Dia cerewet sekali mirip bebek kepanasan. Berbeda jauh dengan nona Minerva yang tegas dan Yukino yang penurut. Aku heran kenapa Natsu-san masih betah berada di sampingnya. Tampaknya dewi keberuntungan tak lagi memihakku.. Aku harus bertemu dan berpetualang dengan dia. Sungguh sial nasibku.

Melihat reaksi pemuda pirang di depannya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah, urat segiempat bermunculan lagi di pelipis Lucy menandakan bahwa ia sudah berada dalam kemarahan besar, "Apa kamu mendengarkan aku, Sting?!"

Pemuda pirang itu menghirup napas dalam – dalam kemudian bangkit dari duduknya, "Ya...Ya..." jawabnya dengan malas bercampur lelah. " Orang kalah selalu cerewet dan merasa dirinya belum kalah..." sambungnya sembari menarik langkah menuju pintu keluar.

"Apa katamu?!"

"Aku lapar...Bertengkar denganmu menguras energi. Apa kamu ikut?"

"Eh? Ah...Hn." Sebenarnya Lucy ingin membalas ucapan Sting tetapi ia urungkan niatnya tersebut ketika pemuda pirang itu mengajaknya ikut makan malam bersama dirinya. "Tunggu, Durkee-san memberikan kupon gratis ini kepadaku." Gadis pirang itu membagi satu kupon pemberian Durkee kepada Sting. Satu kupon telah beralih ke tangan Sting, pemuda itu bertanya-tanya untuk apa kupon ini?

"Durkee-san bilang kamu bisa makan dan minum sepuasnya secara cuma – cuma," jelas Lucy sambil tersenyum.

"He ~ Hehe...Aku bisa makan kenyang hari ini. Ayo kita berangkat!" Seru Sting tak sabaran, berjalan keluar kamar duluan.

"Hn," Lucy mengikuti jejak teman misi yang bersurai emas yang sudah terlebih dulu berada di luar kamar kemudian ia menutup pintu dan menguncinya. Duo Pirang itu menuruni tangga secara beriringan dan berbagi cerita satu sama lain selama perjalanan. Ketika mereka sampai di ruang resepsionis, mereka tersenyum pada Durkee sebelum meninggalkan penginapan sementara pria paruh baya itu membalas membungkuk sopan.

xxx

"Woah rame sekali! Tidak ada meja yang kosong," Gadis pirang beririskan warna tanah menoleh kanan – kiri mencari meja kosong untuk ditempati oleh dirinya dan Sting, menyantap makan malam yang sudah ada di tangannya. Semua meja telah dipenuhi oleh para pelaut yang tengah menyantap hidangan malam selepas berlayar. Suasana ramai begitu mendominasi sekitar bar. Mereka saling bercanda tawa satu sama lain, berbagi cerita pengalaman selama mereka berlayar. Suara gelas bir saling berdenting di belakang punggung Lucy. Beberapa pelaut yang mabuk mendendangkan sebuah lagu asing entah darimana mereka menemukan lirik tersebut dan kebanyakan pelanggan di bar itu didominasi oleh pelaut pria sedangkan kaum wanita bisa dihitung dengan jari termasuk Lucy. Duo pirang itu terus mencari meja yang kosong atau paling tidak, meja yang masih meyisakan tempat untuk dua orang. No Luck. Sting dan Lucy tidak berhasil menemukannya.

"Ah!" Lucy teringat sesuatu ketika matanya menangkap sesuatu.

"Ada apa, Lucy?"

"Orang itu," ucap gadis pirang sembari jari telunjuknya mengacungkan ke arah sosok pria botak duduk menyendiri hanya ditemani oleh piring bekas dan segelas bir setengah isi.

"Siapa? Kenalanmu?" Mata biru Sting tertarik mengarah apa yang ditunjukkan oleh Lucy.

"Bodoh. Hourdan...Kapten Hourdan,"

"Oh...Dia yang akan menyediakan kapal buat kita. Kalau begitu, tanpa perlu ragu lagi," ucap Sting mengambil langkah menghampiri pria botak itu dengan langkah tidak ada keraguan di setiap langkahnya.

"T-tunggu, Sting!"

"Yo, Kapten Hourdan?" tanya Sting setiba di meja kapten berkepala plontos itu.

Sang kapten menyempitkan kedua mata saat si pemuda berambut pirang itu menyilaukan pandangannya, "Hourdan namaku."

"Boleh kami duduk disini?" izin Lucy.

"Kenapa aku harus mengijinkan kalian untuk duduk disini?" tanya Hourdan dengan suara berat.

"Semua meja penuh...Kami tidak bisa menyantap makanan."

"Silakan," Hourdan mempersilahkan duo pirang itu untuk makan bersamanya seraya menyipitkan kedua matanya ketika Lucy berdiri di samping Sting sehingga menutup pemandangan di depannya. Rambut emas mereka sangat menyilaukan mata Hourdan.

Seusai mengucapkan terima kasih, Duo pirang itu mengambil posisi duduk di kursi kosong di depan sang kapten serta meletakkan makan malam mereka di depan mereka.

"Lalu..."

"Hm?" Wajah Sting dan Lucy terangkat dan memandang sang kapten.

"Tampaknya kalian ada perlu denganku."

"Darimana anda tahu? Kami belum mengatakan apapun pada anda."

"Tatapan kalian. Mata kalian memberitahuku bahwa kalian ada perlu denganku. Terlebih lagi, pemuda pirang ini memanggilku kapten Hourdan."

"Hehehe..." Tawa malu Sting sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali.

"Tampaknya kalian berdua bukan berasal dari sini. Asal kalian tahu saja, Wisatawan asing macam kalian sangat jarang mengetahui namaku terkecuali seseorang yang mengenalku dekat memberitahukan kalian. Darimana kalian mengetahui namaku?"

"Durkee-san."

"Durkee kah? Hmm dasar dia. De...Katakan ada perlu apa denganku?"

"Berikan kami kapal!" Sting menjawab langsung to point.

"Hah? Apa yang kamu katakan barusan, pirang? Tanya Hourdan dengan nada heran disertai tatapan matanya menyipit tajam menatap Sting.

"Berikan kami kapal!" ulang pemuda pirang itu.

"Hmmph, bocah tengik macammu membutuhkan kapal? Darimana kalian mengetahui aku mempunyai kapal?" Remeh Hourdan sembari meneguk cairan emas ke-orangean dari gelas yang ia pegang.

"Durkee-san."

'Lagi – lagi dia. Selalu memberikan info tidak penting pada wisatawan' Alis hitam sang kapten botak itu mengernyit ketika mendengar nama Durkee lagi keluar dari mulut pemuda pirang itu. "Sayang sekali, pirang. Aku bukan agen penyewa kapal wisata kepada wisatawan asing. Lagipula untuk apa kapal itu?," sambungnya dengan senyuman remeh muncul di mukanya.

"Kami membutuhkan kapal untuk ke pulau Quartz."

Mendengar nama pulau Quartz, seketika mata abu - abu sang kapten membulat dan mematung dalam posisi menempelkan bibir gelas pada bibirnya, hanya beberapa cairan bir membasahi bibirnya. Ia kembali meletakkan gelas birnya di atas meja seakan tidak nafsu lagi meminumnya.

"Pulau Quartz, katamu?!" Sang kapten menanyakan ulang untuk memastikan apa yang didengarnya tidak salah tetapi dengan nada meninggi. Suara kapten Hourdan berhasil mengheningkan suasana dalam bar, semua mata terarah pada meja sang kapten Hourdan dan saling berbisik, Pulau Quartz katanya? Apa pasangan pirang itu sudah gila? Mereka tidak sayang nyawa. Mereka hanya menjadi santapan para monster yang kelaparan. Mereka tidak akan pernah bisa berhasil keluar dari labirin menakutkan pulau Quartz.

Manik coklat dan biru melirik kanan kiri serta mempertajamkan pendengaran mereka untuk mendengar bisikan dari para pelaut. Karena tidak terlalu menggubris semua ucapan para pelaut, manik biru Sting kembali bertemu dengan manik abu – abu kapten Hourdan. Para pelaut itu kembali menyantap makan malam walau dalam keheningan dan ketakutan dalam hati.

"Hn." Angguk Sting dengan entengnya.

Sang kapten memejamkan matanya dan terdiam sejenak sebelum ia membuka kembali indera penglihatannya yang kini menatap dua insan yang berbeda jenis tengah duduk di depannya secara bergantian, dari Lucy ke Sting kemudian kembali ke Lucy.

"Kalau aku adalah kalian, aku tidak akan melakukannya..."

"Kenapa?"

"Kalian pasti belum mendengar gosip miring yang beredar mengenai pulau Quartz."

"Kami tahu."

"Jika kalian tahu, lebih baik jangan pernah menginjakkan kaki di pulau itu. Jika tidak, kamu dan kekasihmu yang seksi ini akan berakhirnya jadi mayat atau camilan para monster," Hourdan menyakinkan duo pirang itu dengan tatapan serius. "Kalian masih terlalu muda untuk mati konyol. Kisah perjalanan asmara kalian masih panjang. Kini pulau Quartz bukanlah tempat yang pas untuk menjalin kasih maupun bulan madu melainkan neraka. Kalau dilihat – lihat, hubungan cinta kalian tampaknya masih segar...Hmm...aku bisa menebaknya...mungkin 2 bulan usia pacaran kalian...bukan, 3 bulan..." lanjut Hourdan sembari menebak – nebak usia hubungan spesial di antara Sting – Lucy, tangannya mengelus-elus dagunya yang kasar.

"Ugh...Ini juga...Pertama, si penyihir bintang berdandan menor, Durkee-san dan kini anda..." kesal Sting, gigi – gigi dalam mulutnya bergemelutuk seperti menahan marah. Ia sudah bosan mendengar ucapan yang mengatakan bahwa dia dan Lucy adalah sepasang kekasih. Seandainya pria di hadapannya itu bukan orang yang dibutuhkan dalam misi, dia akan segera meninjunya.

"Huh?" Hourdan mengangkat alis kanannya dengan bingung.

"Kenapa kami selalu dikira sepasang kekasih?" Lucy menghela napas kemudian menyuapkan makan malamnya ke dalam mulutnya.

"Kalian bukan sepasang kekasih...?"

"Tentu saja bukan. Lagian sungguh sial nasibku jika memiliki kekasih se-cerewet macam dia,"

"Apa katamu?!

"Lalu kalian berdua siapa? Kalian berdua bukan wisatawan biasa, ya'kan?"

"Kami adalah penyihir. Aku Sting Eucliffe dari Sabertooth dan dia, Lucy Heartfilia dari Fairy Tail.," Sting memperkenalkan dirinya dan partner sementaranya.

"Penyihir? Sabertooth dan Fairy Tail? Fairy Tail...Aku cukup mendengarnya, Fairy tail adalah pemenang Grand Matou Enbu dan guild yang dipenuhi penyihir kuat...Aku tidak menyangka akan bertemu dengan anggota dari guild sihir terkuat."

"Anda tahu banyak tentang kami. Fairy Tail memang dipenuhi oleh penyihir kuat terkecuali dia," ujar Sting sambil mengacungkan ibu jarinya kepada gadis pirang disebelahnya yang sudah menahan amarah untuk meninju Sting karena ucapannya. "Tapi Sabertooth adalah guild yang tidak boleh diremehkan. Di pertandingan Grand Matau Enbu selanjutnya, kami yang akan menang."

"He ~ Good Luck. Aku tidak sabar menyaksikan wajah kalahmu di hadapan orang banyak." Lucy memberikan semangat Sting dengan anda meremehkan.

"Huh?! Kamu sendiri kalah dari Flare dari Raven tail, dan nona Minerva," balas Sting

"Siapa yang kalah?! Seandainya mereka tidak curang, aku yang menang,"

"Curang? Sejak kapan nona Minerva curang?"

Sting dan Lucy saling beradu mulut, membalas ejekan demi ejekan bagaikan sepasang suami istri yang tengah bertengkar karena hal kecil. Keringat jatuh (Sweat drop) nampak di belakang kepala sang kapten dan menggaruk – garuk pipinya yang tidak gatal, tidak tahu bagaimana cara melerai kedua penyihir berambut pirang itu.

"Hem!" Sang Kapten Berdehem kencang menunjukkan keberadaannya hingga membuat Sting dan Lucy menoleh ke arah Hourdan. "Untuk apa kalian ingin pergi ke sana?"

"Misi."

"Misi? Kalian berdua? Dari guild yang berbeda?"

"Kami hanya kebetulan ketemu di kereta dan misi kamipun sama."

"Oh..." Mulut Hourdan membentuk huruf O. "Tetapi misi ini sangat berbahaya lebih baik kalian kembali ke Fiore daripada mati konyol. Tidak ada yang berani lagi mendekati pulau neraka itu. Monster – monster berkeliaran dimana - mana dan kelaparan. Mereka akan memangsa siapapun yang mendarat disana."

"Aku tahu tapi...Lagipula aku rasa ini bukan misi biasa," gumam Sting seraya menatap sedih bekas piring kotornya dan memainkan sendok.

"Eh?"

"Seseorang memanggilku, 'Aku sudah menunggumu. Kamu adalah cahaya harapan kami. Tolong bebaskan mereka...'" Ucap Sting sembari menirukan kalimat dari suara misterius.

"Aku juga."

"Kamu juga, Lucy? Padahal aku kira kamu mengambil acak."

"Hn. Awalnya begitu cuma ketika aku memegang lembaran misi itu tiba – tiba aku mendengar suara. Suara itu terasa hangat dan terus memohon padaku untuk membebaskan mereka. Tapi aku tidak tahu siapa yang harus aku bebaskan dan bebaskan dari siapa. Maka dari itu, aku ingin tahu siapa pemilik suara misterius itu dan aku ingin melakukan sesuatu yang berguna tanpa harus mengandalkan Natsu, Erza dan Gray begitu pun dengan yang lain. Aku rasa ini adalah kesempatanku ingin membuktikan bahwa aku juga bisa menjadi kuat dan berguna. Karena itu,..."

Hening mengandung, berasa menyelimuti seluruh ruangan. Baik Lucy maupun Sting tidak mengucapkan sepatah katapun, mereka hanya tertunduk sedih.

"Baiklah." Hourdan memulai percakapan sehingga dinding keheningan yang suram menyelimuti mereka pecah dengan sendiri. Sting dan Lucy mengangkat kepala mereka dan melirik pada pria botak di depan mereka. "Aku akan beri kalian sebuh kapal."

"Benarkah itu Hourdan?!"

"Hn tapi dengan satu syarat."

"Syarat?"

"Jangan kamu kira aku akan memberimu kapal secara gratis. Aku adalah tipe orang yang tidak mau rugi."

"Katakan syaratmu, Hourdan."

"Aku ingin kalian berdua berkerja untukku."

"Berkerja? Apa kami tidak bisa membayarnya dengan uang?" tawar Lucy.

"Gadis bodoh. Uang tidak selalu membayar semuanya. Bagaimana perasaan seorang ayah yang merelakan anak gadisnya diambil pria lain tanpa mengetahui indentitas sang pria itu. Sama dengan kapal. Mereka adalah hartaku yang selalu mendampingi kemana aku berlayar tak peduli kencang angin laut, derasnya ombak dan panasnya terik matahari. Aku tidak bisa memberikan kapal itu dengan instan baik dengan uang atau gratis karena simpatik sebab aku mendapatkan mereka dari hasil kerja keras. Aku juga menginginkan kalian untuk melakukan hal yang sama sepertiku dulu. Bagaimana? Itu terserah kalian." Ucap Hourdan sambil memainkan gelas birnya. "Kalian boleh mencari kapal yang lain tapi aku ingatkan pada kalian, tidak ada lagi yang mau menyediakan kapal untuk berlayar ke pulau Quartz kecuali aku," lanjut kapten berusia 40 tahun itu.

Duo pirang itu menelan ludah kemudian Sting memberanikan diri untuk bertanya, "Berapa hari?" Sting menatap serius Hourdan.

"Aku suka tatapanmu, pemuda pirang. Aku belum memutuskan kalian harus bekerja berapa hari tapi itu tergantung kerja keras kalian. Kerja kalian memuaskan maka aku akan melepaskan kalian secepatnya,"

"Baiklah kami setuju."

"EH?! T-tunggu Sting..."

"Besok pagi kalian mulai bekerja. Ketika matahari akan mulai memunculkan cahayanya. Aku tidak terima telat."

"Baiklah."

Seusai menyetujuin kontrak dengan Hourdan dan perut telah kenyang terisi, Sting dan Lucy kembali kedalam ruangan peristirahatan mereka.


"Ne...Sting, lagi – lagi kamu mengambil keputusan seenaknya padahal aku ada di sana bersamamu," jengkel Lucy dengan berpakaian piyama, seraya melipat pakaiannya yang kemudian ia letakkan di pojok dekat bantal.

"Tidak ada pilihan, Lucy. Yang dikatakan Hourdan ada benarnya, tidak ada lagi yang mau menyediakan kapal untuk berlayar ke pulau Quartz semenjak rumor miring itu beredar."

"Kamu benar."

"Mau tidak mau kita ikut permainannya."

"Hn." Lucy menggangguk kepalanya dengan pelan. "Kira – kira pekerjaan seperti apa yang akan dilakukan oleh kita?"

"Entahlah... Kita lihat saja besok pagi," gumam Sting dengan nada mengantuk, menguap lebar. "Tidurlah. Besok pagi kita kerja."

"Hn. Tapi aku ingatkan satu hal."

"Apa?"

"Jangan pernah melakukan hal yang aneh padaku saat tidur. Kamu mengerti, Sting?"

"Tenang saja. Aku tidak pernah tertarik pada gadis cerewet dan manja macam kamu. Aku masih sayang dengan keperjakaanku."

"So...Baguslah...Selamat malam!" Sebenarnya Lucy sedikit kesal dengan ucapan Sting seolah – olah mengganggap bahwa dia adalah gadis yang tidak memiliki daya tarik sebagai wanita tetapi ia tidak memiliki tenaga untuk beradu mulut dengan sang dragon slayer, matanya terasa berat untuk dibuka lagi ditambah beban di punggung yang ingin segera direbahkan di kasur.

Sting-pun melepas kemejanya sehingga memperlihatkan dadanya yang bidang dan menaruhnya di samping sofa kemudian ia memposisikan diri berbaring di kursi. Ditariknya sebuah selimut cadangan yang ia minta dari Durkee semenjak di kamar itu cuma ada satu kasur dan satu selimut, melindungi tubuhnya dari hawa dingin. Ia mencoba memejamkan mata.


Di tengah malam,

Sting terbangun dari tidurnya karena sesuatu. "Ah...Aku kebanyakan minum..." Ia pun bergegas beranjak dari sofa dan menyeret langkah dengan sempoyongan menuju kamar mandi. Seusai urusannya di kamar mandi, Sting kembali ke sofa untuk tidur lagi. 'Hoaaahhh' Pemuda itu menguap lebar dan mengucek matanya. Jarak kamar mandi dan sofa masih agak jauh tetapi tubuhnya sudah lelah untuk digerakkan. Berat sekali untuk berjalan. Matanya sudah terlalu berat untuk diandalkan maka ia mengandalkan indera sentuh dari kedua kakinya. Tapak demi setapak ia langkahi hingga kaki kanannya membentur sesuatu kemudian ia meraba – raba dengan tangannya, apakah itu sesuatu yang bisa ditiduri. Karena ia merasa sesuatu yang hangat dan empuk dan beranggapan itu adalah sofanya kemudian ia menaikinya dan menarik selimut ke tubuhnya. Dalam hitungan detik, Sting kembali terlelap dalam mimpi.

"Lector...hangatnya..." gigau Sting ketika memeluk sesuatu yang hangat.

Bersambung...


Sinopsis episode selanjutnya,

"Sting Apa yang kamu lakukan padaku?!"

"Kalian lulus. Kapal itu milik kalian sekarang. Aku sudah menyiapkan bekal kalian selama perjalanan sehingga kalian tidak akan kelaparan."

"Terima kasih, Hourdan."

"Cuaca hari ini cerah, tidak ada tanda – tanda akan badai. Kalian pasti bisa sampai di pulau Quartz dengan cepat."

"Hn."

"Aku hanya bisa mendoakan kalian semoga selamat."

"Apa-apaan cuaca hari ini?! Tiba – tiba gelap padahal tadi cerah!"

"Lucy, jangan lepaskan tanganmu dariku! Terus berpegangan denganku!"

"Sting!

"LUCYYYYY!"


Author Note :

Maafkan aku reader-san. Aku melupakan cerita ini selama 2 tahun dikarenakan tugasku sebagai mahasiswa desain dipenuhi tugas semua mata kuliah di setiap minggunya dan selalu ditagih sama dosen pada pertemuan besoknya sehingga aku selalu bergemulut dengan bidangku, menggambar dan mendesain media iklan. Maafkan aku. Aku benar – benar minta maaf sebesar – besarnya. Kalian semua pasti sangat menantikan kelanjutannya.

Ini cerita kelanjutan Sting dan Lucy, semoga kalian menyukainya ( Maaf jika ini sedikit berantakan).

Terima kasih. Salam hangat.