Warning : Yaoi, OOC tingkat tinggi, AU, sedikit lime, etc.
Pair : ShinSaku, ShinWaka, TakaSaku, Taka Hiru (akan berkembang seiring bertambahnya chapter)
ES21 belongs to Riichiro Inagaki and Yusuke Murata
How Can I Not Love You
. . . xXx . . .
Dengan sigap Takami menggenggam erat tangan Sakuraba demi memberi dorongan dan pasokan kekuatan untuk mengokohkan hati Sakuraba yang siap remuk kapan saja.
. . . xXx . . .
Part Seven : How Does One Waltz Away I
Suasana cafe yang ramai tidak membuat dua insan yang sedang melepas rindu ini terganggu. Bahkan tak ada satu suarapun yang masuk ke telinga mereka kecuali detak jantung dan desah nafas masing-masing. Waktu dua tahun dalam keadaan yang cukup memprihatinkan memang bukan waktu yang singkat bagi mereka hidup dalam kekosongan dan kesepian yang abadi. Kosong dan sepi. Semua orang pasti tahu bahwa perasaan itu sangat menyiksa. Dan sekaranglah waktunya mereka berdua berniat membalas dendam kepada takdir. Mereka ingin memperlihatkan pada takdir kalau akhirnya mereka dapat bersatu lagi.
"Takami-san..." bisik Sakuraba sangat pelan. Dia menolehkan kepalanya memandangi Takami yang semakin mengeratkan genggaman tangannya. Raut wajah Takami sekarang ini membuat Sakuraba sedikit bergidik. Sebelumnya dia belum pernah melihat Takami memancarkan ekspresi terharu, bahagia, dan- rindu.
"Takami-san kau kenapa?" tanya Sakuraba sepelan mungkin. Takami semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Sakuraba seraya menyunggingkan senyum ramah seperti biasanya. Senyuman yang membuat orang yang berada di sampingnya tenang dan merasa dilindungi.
"I'm okay, Sakuraba..." jawab Takami diiringi tawa kecilnya. Walaupun Sakuraba merasa aneh dengan tingkah Takami yang entah mengapa terkesan berbeda dari biasanya, namun akhirnya dia ikut membalas tawa Takami dengan senyuman malaikatnya.
Tanpa mereka berdua sadari, sedari tadi Wakana memperhatikan tingkah mereka. Dari celah bahu Shin, dia melihat Sakuraba dan Takami yang bergandengan tangan mesra. "Shin-kun, apakah mereka sepasang kekasih?" tanya Wakana dengan nada dibuat semanis mungkin. Dia sangat mengenal dan memahami pemuda dihadapannya ini.
Shin menolehkan kepalanya memandang Takami dan Mayaku-nya berdiri berdekatan dengan jari mereka yang masih bertautan. Dalam hati Shin langsung merutuki pemandangan di hadapannya itu. Namun segala sesuatu yang mengganggu pikirannya segera ditepis karena hanya akan membuat hatinya terbakar, dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah Wakana. "Aku tidak peduli. Aku hanya mempedulikanmu." jawab Shin datar namun penuh dengan kelembutan.
Diam-diam Wakana bersorak dalam hati mendengar penuturan Shin. Sebenarnya dia tahu kalau Sakuraba adalah 'istri' Shin dan dia sangat tidak terima dengan kenyataan itu. Memang dia bukan wanita yang egois, namun dia tidak ingin membagi Shin dengan orang lain. Karena Wakana terlampau mencintai Shin.
Perlahan Wakana melepaskan pelukannya dan memandang Shin dengan pandangan sangat lembut. Tangan gadis itu terulur membelai wajah Shin. Saat itu juga nafas Sakuraba tercekat. Tiba-tiba paru-parunya sesak dan matanya memanas. Sekuat tenaga dia menahan tangisnya namun pertahanannya runtuh saat Wakana mencium Shin tepat di hadapannya.
Takami yang menyadari situasi itu, langsung mengeratkan genggamannya. "Kalian berdua pasti butuh waktu berdua. Aku dan Sakuraba akan pulang dulu. Kau harus bercerita pada kami berdua lain waktu, Wakana." ujar Takami disertai senyumannya.
"Tentu, Takami-kun. Arigatou." balas Wakana lembut. Diliriknya sekilas Shin yang memandangi Sakuraba dengan pandangan kosong namun Sakuraba sama sekali tidak balas menatap Shin dan berjalan keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Tanpa membuang waktu lagi Takami membawa Sakuraba keluar cafe itu dan memasuki mobilnya. Saat dia menoleh ke arah pemuda pirang yang sekarang duduk di sebelahnya, dia terkejut. Bertetes-tetes mutiara bening membasahi pipinya yang sedikit merona karena udara dingin. Sakuraba terisak kecil membuat bahunya bergetar pelan.
"Aku jahat sekali ya, Takami-san..." lirih Sakuraba ditengah isakannya. Dia menghapus air matanya dengan punggung tangannya namun air matanya malah semakin deras mengalir membuatnya mengerang kesal terhadap dirinya sendiri.
"Tidak, Sakuraba. Kau melakukan apa yang seharusnya kau lakukan. Bahkan lebih baik. Jadi berhentilah menangis, kalau begini kau akan menyakiti dirimu sendiri." balas Takami menarik Sakuraba ke dalam pelukannya.
"Takami-san... Seharusnya aku bahagia kan melihat Kagi senang? Tapi kenapa tidak bisa! Aku egois! Aku tidak rela melihat Kagi disentuh orang lain... Sadarkan aku, Takami-san. Sadarkan aku kalau Kagi bukan siapa-siapa bagiku. Sadarkan aku kalau aku tidak membutuhkannya..." ucap Sakuraba sambil meronta dalam pelukan Takami. Dia merasa hancur saat menyadari Shin tidak akan pernah ada untuk dirinya lagi. Sebenarnya dia sangat sadar kalau suatu saat nanti hal ini akan terjadi namun Sakuraba merasa ini terlalu cepat. Dan hal yang ditakutkannya ternyata terjadi. Sakuraba membutuhkan Shin. Sangat. Sakuraba terlanjur terlalu mencintai Shin.
"Kau tidak salah, Sakuraba. Kau sangat baik. Bahkan terlampau baik..." bisik Takami menenangkan Sakuraba yang frekuensi isakannya semakin menurun. Dengan hati-hati dia menghapus air mata Sakuraba menggunakan ibu jarinya.
"Terimakasih, Takami-san..." ucap Sakuraba seraya melepaskan pelukannya. Dia tersenyum walau hatinya menangis. Tapi dia sadar dia harus kuat dan harus melakukan yang terbaik walau dirinya akan hancur. Asalkan Shin bahagia, dia akan terus tersenyum.
"Lebih baik kuantarkan kau pulang. Kau butuh istirahat, Sakuraba..." ujar Takami seraya membelai kepala Sakuraba dengan lembut. Inilah sisi sosok seorang Takami yang membuat orang nyaman berada di sampingnya. Takami adalah seorang yang dewasa, sabar, dan dekat dengan siapapun. Sorot matanya lembut dan begitu menenangkan.
.
.
.
Shin duduk berhadapan dengan Wakana, namun tangan mereka berdua masih saling bertautan. Mata mereka terus menelusuri sosok satu sama lain seakan tidak ada obyek yang lebih menarik untuk dipandang. Mereka ingin melepaskan kerinduan yang membeludak selama dua tahun terakhir ini.
"Jadi apa yang terjadi padamu, Wakana? Kenapa tidak sekalipun memberi kabar?" tanya Shin pelan. Dia tidak suka melihat mata Wakana berubah sendu ketika dia menanyai Wakana.
"Dua tahun yang lalu, tepatnya saat kecelakaan itu... Orang tuaku meninggal. Untungnya aku selamat, tapi saat itu aku kehilangan semua ingatanku. Satu bulan yang lalu, ingatanku kembali. Saat itulah aku secepatnya kembali ke sini. Menemuimu." lirih Wakana dengan mata berkaca-kaca. Shin semakin mengeratkan genggamannya mendengar penjelasan Wakana.
"Maaf aku tidak memberimu kabar, Shin. Selama dua tahun ini aku tinggal bersama pamanku... Beliau juga yang membiayai pengobatanku di Inggris." lanjut Wakana.
"Baiklah, Wakana. Aku mengerti. Ini sungguh keajaiban aku bisa bertemu denganmu lagi. Kau tak tahu perasaanku saat kau pergi. Aku menyayangimu. Aku sangat bahagia bisa bertemu denganmu lagi." ucap Shin memandang wajah cantik Wakana. Dia terlonjak pelan saat menyadari kalau dia bilang 'sayang', bukan 'cinta'. Namun mau bagaimana lagi, lidah dan hatinya tidak bisa diajak berkompromi.
Wakana hanya tersenyum lemah memandang Shin. Dia menatap mata Shin tapi dia sadar tidak ada dirinya lagi di sana. 'Sudah cukup aku menderita tanpa dirimu, Shin-kun. Aku akan mengambil hatimu lagi. Walaupun aku harus merebutmu dari temanku sendiri.'
.
.
.
Sebuah ranjang mewah berlapis perak terlihat bergetar halus seirama dengan getaran yang ditimbulkan oleh isakan bisu yang berasal dari pemuda pirang yang sedang berbaring di atasnya. Sekarang waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Namun Sakuraba tetap saja masih terjaga sendirian di kamar mewah itu.
Dia berbaring sembari memukul-mukul pelan dadanya yang semakin hari semakin terasa sesak dan sangat perih. Air matanya nyaris habis mengingat sudah tiga hari belakangan ini dia tidak henti-hentinya meneteskan air matanya demi orang yang sangat dicintainya.
Sakuraba meringis miris. Mengingat kata 'cinta' membuat dirinya serasa tercabik-cabik. Dia sedikit menolehkan kepalanya melihat pintu kamarnya sembari membayangkan Shin masuk ke kamarnya dengan wajah kelelahan dan menggerutu menuju kepelukannya karena kelelahan dengan tugas istana. Namun Sakuraba segera menepis bayangan yang sangat tidak mungkin itu. Dia sadar kalau sekarang Shin bukanlah Kagi-nya yang senang menggoda dan bermanja padanya.
Merasakan kepalanya sangat panas, Sakuraba berinisiatif melangkah menuju balkon sebentar guna mencari angin segar untuk menjernihkan kepalanya. Dia bahkan tidak peduli diceramahi oleh ibu mertuanya mengingat ini sudah tengah malam.
Dari atas balkon kamarnya Sakuraba dapat melihat jelas pemandangan istana karena kamarnya memang berada di lantai atas istana utama yang berada di tengah-tengah bangunan istana yang lain. Dia mengedarkan pandangannya menemukan banyak penjaga kerajaan yang masih setia berpatroli padahal udara malam ini sangat dingin.
Sakuraba menghela nafas perlahan menyadari kalau udara dinginpun tidak dapat meringankan panas hatinya yang kian membakar jiwanya. Mata indahnya mendadak melebar, lidahnya kelu, dan syaraf tubuhnya menegang melihat pemandangan yang dilihatnya sekarang ini.
Tepat di depan gerbang kerajaan dia melihat mobil Shin baru saja berhenti. Sakuraba tersenyum sekilas melihat Shin mengingat sudah beberapa hari terakhir dia tidak pernah bertegur sapa dengan pemuda tampan itu. Rasanya dia ingin sekali berlari ke arah pemuda itu dan menghambur kepelukan hangat Shin yang selalu membuatnya nyaman.
Entah apa yang terjadi dengan Shin, sejak Wakana kembali Shin bahkan tidak mau melirik Sakuraba walau hanya sedetik. Mengingat hal itu membuat Sakuraba mendadak sesak. Dia kembali memegangi dadanya yang berdenyut nyeri.
Pertahanan Sakuraba runtuh seketika melihat Wakana juga keluar dari mobil mewah Shin. Wakana memeluk leher Shin dan mereka berciuman sangat lama. Akal mereka sudah dikesampingkan oleh naluri cinta buta mereka sehingga mereka tidak menyadari bahwa banyak orang yang melihat adegan mesra mereka termasuk Sakuraba.
Mendadak kaki Sakuraba lemas. Tubuhnya limbung di lantai balkon yang dingin. Dia memekik dalam diam. Dia memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut tidak karuan. Ditariknya perlahan rambut pirangnya ketika dia merasa kekuatannya mendadak hilang. Dan dia pingsan dengan suara tercekat meneriakkan nama Shin dalam hati.
.
.
.
Tidak tahu sudah yang keberapa kalinya Takami memandang pemandangan dari kaca jendela kamarnya dengan dada yang berdebar-debar. Dua hari lagi adalah hari ulang tahunnya yang ketujuh belas. Senyum getir terpampang di wajahnya tatkala dia mengingat kejadian lima tahun yang lalu. Matanya terpejam membayangkan sosok yang terkasih sedang tersenyum- menyeringai ke arahnya dengan aura mengancam.
"Kau jelek sekali 'kaca mata' bodoh!" ucap pemuda berambut pirang dengan seringai tajam yang tidak pernah luput dari wajah tampannya. Dia berjalan angkuh sambil menenteng senjata api yang selalu setia menemaninya dimanapun dia berada. Merasa orang yang diajaknya bicara tidak membalas 'ejekannya', dia pun langsung mendekati orang yang diajaknya bicara dan menyentuh pipinya pelan.
Merasa kehangatan menjalar dari tangan pemuda pirang itu, dia hanya tersenyum dan menggenggam tangan yang ada di pipinya itu dan mengecupnya lembut. "Jelek saja kau suka, apalagi kalau aku tampan, kau pasti akan tergila-gila padaku. Benarkan, Hiruma?"
"Jangan bermimpi, bodoh. Aku tidak menyukaimu, Takami-idiot!" jawab Hiruma tidak terima sementara Takami hanya terkekeh pelan melihat tingkah pemuda di hadapannya itu.
"Aku mencintaimu, Hiruma... Sangat mencintaimu..." ucap Takami seraya menciumi tangan Hiruma dan menarik pemuda berambut pirang itu semakin mendekat.
"Aku tidak sudi dicintai orang sepertimu." jawab Hiruma lantang. Namun dia juga tidak menarik tangannya yang digenggam erat oleh Takami. Semakin lama Takami semakin mendorong tubuh ramping itu dan memojokkannya di dinding kamarnya.
Hiruma tampak tidak nyaman dengan perlakuan Takami dan berusaha sekuat tenaga menyembunyikan detak jantungnya yang menderu-deru. Perlahan-lahan Takami memperkecil jarak di antara mereka dan melumat bibir Hiruma dengan lembut. Tangannya membelai tengkuk Hiruma sehingga Hiruma mengerang keras dan saat itulah Takami melesakkan lidahnya ke dalam rongga mulut Hiruma yang beraroma mint itu.
Tangan Hiruma mendorong bahu Takami perlahan. Mendadak dia kehilangan tenaganya seiring permainan lidah Takami yang semakin menggila. Sama sekali dia tidak berinisiatif menolak perlakuan Takami karena diam-diam dia sangat menikmatinya. Sekeras apapun hatinya, dia tidak akan pernah bisa menolak nikmatnya kehangatan yang ditawarkan oleh Takami. Dan dia juga tidak akan membiarkan seorangpun menikmati kehangatan itu selain dirinya.
Karena kebutuhan oksigen yang sangat mendesak, Takami dengan berat hati melepaskan ciuman mereka. Dipandanginya wajah Hiruma yang memerah samar dan berusaha mengalihkan pandangannya dari tatapan mata Takami. Nafas mereka berdua terengah dan membaur menjadi satu.
Perlahan Takami mendekati leher Hiruma dan memaikan lidah panasnya di lekuk leher Hiruma, membuat Hiruma menggingit bibir bawahnya menahan diri untuk tidak mendesah sekeras-kerasnya.
"Hell you... S- stupid- Shit!..." ucap Hiruma seraya menahan erangannya.
Mendengar ucapan Hiruma membuat Takami mendongakkan kepalanya menatap Hiruma yang masih menampilkan ekspresi angkuh dan keras kepalanya membuat Takami mendengus gemas. Hiruma menatap Takami dengan pandangan mengintimidasi, namun Takami yang sudah hampir setiap saat selama hidupnya melihat pandangan itu hanya santai saja. Malahan dia semakin semangat menggoda 'setan'nya itu.
"Berhenti mengumpat! Sepertinya kau butuh diberi hukuman..." ucap Takami. Tanpa menghiraukan respon Hiruma dia kembali meraup bibir basah Hiruma dan menciumnya ganas. Tidak ada penolakan kali ini dari Hiruma, dia malah mengalungkan lengannya di leher Takami dan tidak mau mengalah mengimbangi ciuman Takami. Sepertinya sifat posesif Hiruma mulai muncul, membuat Takami menyeringai puas.
"Mau dilanjutkan atau tidak?" goda Takami tepat di telinga Hiruma dan menjilat belakang telinga Hiruma. Tangannya sibuk membelai punggung Hiruma membuat Hiruma merinding dan menatapnya tajam.
"Hahahaha... Tidak usah galak seperti itu, sayang..." ucap Takami seraya membelai kissmark yang terukir manis di leher indah Hiruma. Tanda kepemilikan yang hanya Takami seorang yang boleh melukiskannya di sana.
"Akan aku lubangi kepalamu kalau memanggilku begitu lagi, bodoh! Dan jangan berbuat macam-macam atau aku akan membunuhmu sekarang juga..." ancam Hiruma memandang Takami yang sedang menyeringai menyebalkan di hadapannya.
"Galak sekali kau, SAYANG~"
'DUAK!'
"Arrggghhh! SAYANG~" erang Takami mendapat tendangan telak dari Hiruma. Namun masih bisa juga Takami menggoda Hiruma padahal bisa dipastikan pahanya memar parah sekarang ini.
Hiruma keluar dari apartemen kekasihnya itu dan menutup pintu keras seraya berujar, "Menyesal aku datang ke sini!"
Mengingat kejadian itu tidak membuat Takami bahagia, namun malah membuat matanya memanas menahan pedih. Tidak ingin terlihat lemah, akhirnya dia mengalihkan perhatiannya dan meraih buku kedokteran tebal yang selalu mengisi hari-harinya walau dia tahu kalau buku itu tidak bisa mengalihkan pikirannya dari yang terkasih.
'Hiruma, aku merindukanmu... Aku harap kau akan memenuhi janjimu untuk menghabiskan hidupmu bersamaku...' lirih Takami menenggelamkan wajahnya pada kedua lengannya dan menangis sejadi-jadinya. Dia tidak peduli lagi akan dianggap tidak waras dan semacamnya. Yang dia inginkan sekarang hanya bertemu dengan pemuda berambut pirang yang sudah lima tahun ditunggunya.
'Ya tuhan... Harus berapa lama lagi aku bersabar? Sampai kapan aku harus menunggunya?' isak Takami mengepalkan tangannya erat.
Lima tahun yang lalu saat hari bersalju, Hiruma meninggalkan Takami tanpa pamit. Hanya meninggalkan selembar surat tanda perpisahan. Hiruma pergi ke Inggris mengikuti ayahnya yang menginginkannya menjadi seorang pengacara. Sekeras apapun hati Hiruma, pasti akan melunak bila mengingat ayahnya yang membesarkannya seorang diri semenjak Hiruma kecil. Ibu Hiruma meninggal saat melahirkan Hiruma.
"Pulanglah, Hiruma... Aku merindukanmu. Sangat." gumam Takami dan terlelap dalam tidurnya ketika dia terlalu lelah menangis. Dia hanya berharap kalau Hiruma akan pulang saat hari ulang tahunnya. Seperti yang Hiruma janjikan lima tahun yang lalu.
.
.
.
Sang permaisuri berjalan tergesa menuju kamar sang menantu. Beberapa saat yang lalu dia mendengar suara debaman yang lumayan keras berasal dari kamar Sakuraba. Dia membuka kamar Sakuraba yang sudah terbiasa tidak pernah dikunci. 'Ya tuhan, dia menunggu Shin...' batin Ibu Shin seraya menahan tangisnya yang hampir pecah. Dia menyusuri setiap sudut kamar Sakuraba namun tak juga ditemukannya sosok menantunya itu. Jantungnya berdebar tak karuan dan air matanya turun dari sudut matanya. Dia berlari menuju balkon dan dia membeku seketika melihat Sakuraba meringkuk dan tubuhnya bergetar hebat. Dia menutup mulutnya menahan pilu dan segera menghampiri tubuh Sakuraba.
"Sakuraba!" pekiknya mengguncang tubuh Sakuraba dengan histeris. Nafasnya tercekat seketika melihat Sakuraba yang memegangi kepalanya seraya meringis kesakitan. Sungguh dia sangat sedih melihat keadaan menantunya yang menjadi seperti sekarang ini. Sakuraba yang sekarang seperti raga tanpa nyawa yang selalu memaksakan dirinya untuk terus tersenyum menyembunyikan rasa sakitnya. Tanpa harus Sakuraba berceritapun Ibu Shin sudah tahu apa yang terjadi dengan Sakuraba.
"Ibu..." lirih Sakuraba menangis di dekapan Ibu Shin. Dia mengerang putus asa tidak dapat menahan goncangan tubuhnya.
"Apa yang terjadi padamu, Saku-chan? Jangan menangis..." bisik Ibu Shin membelai kepala pemuda yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri ini. Hatinya sakit melihat pemuda yang dulu penuh semangat dan ceria sekarang berubah menjadi pribadi yang ringkih dan sangat menyedihkan. Matanya yang bening dan bersinar sekarang menjadi buram dan begitu kosong.
"Ibu, maafkan aku..."
"Kau bicara apa? Kau tidak salah apa-apa... Yang salah adalah Ibu yang sudah seenaknya memintamu masuk dalam-"
"Jangan, Ibu! Ibu tidak pernah tahu ini akan terjadi. Sama sekali tidak ada yang salah di sini..." potong Sakuraba seraya mencium dahi Ibu Shin dengan pelan. Dengan cepat Ibu Shin mendekap erat tubuh Sakuraba. Melihat keadaan Sakuraba kini membuat Ibu Shin merasa sangat bersalah. Dia merutuki keputusannya melibatkan Sakuraba dalam urusan keluarganya. Mulai sekarang dia bersumpah akan mengutamakan Sakuraba diatas segalanya karena dia sangat menyayangi menantunya itu.
.
.
.
Kalau biasanya Sakuraba berangkat ke sekolah dengan sepeda kesayangannya, sekarang dia berangkat ke sekolah dengan rombongan Shin. Sebenarnya dia tidak mau, karena dengan begini dia akan satu mobil dengan Shin, tapi apa mau dikata, tubuhnya lemas dan tidak kuat bersepeda. Apalagi jarak istana sampai sekolah cukup jauh.
Shin mengernyit heran melihat Sakuraba yang dari tadi hanya diam memandang keluar jendela. Biasanya pemuda berambut pirang itu akan mengoceh tidak jelas kalau sedang berdua begini. Shin sedikit khawatir melihat tingkah aneh Sakuraba dan wajah Sakuraba yang sangat pucat.
Perlahan Shin meraih tangan Sakuraba dan menggenggamnya erat, "Mayaku..." panggil Shin sepelan mungkin tidak ingin membuat Sakuraba kaget.
Sakuraba menolehkan wajahnya menghadap Shin. Dia merasakan kehangatan yang sudah lama tak dirasakannya ketika menatap Shin. Namun dia segera sadar dan melepas genggaman tangan Shin dengan pelan. Terbuai dalam pesona Shin membuat hatinya semakin sakit.
"Kau tidak apa-apa, Mayaku?" tanya Shin lembut. Dia melihat Sakuraba yang sedikit bergetar ketika dia menyentuhnya.
"I'm fine, Kagi..." jawab Sakuraba. Matanya menerawang kosong dan itu membuat perasaan Shin berubah tidak enak. Namun Shin lebih memilih bungkam kali ini karena sepertinya Sakuraba sedang tidak ingin diajak bicara.
.
.
.
"Ada yang sedang kau pikirkan, Shin?" tanya Takami setengah berbisik memandang sahabatnya yang sedari tadi tidak mendengarkan penjelasan gurunya dan malah melamun seraya memandang keluar jendela kelasnya.
"Mayaku..." jawab Shin pelan. Dia tidak ingin guru sastranya menghukumnya kalau ketahuan tidak konsentrasi saat pelajaran.
Takami hanya tersenyum simpul mendengar jawaban Shin. Dia sedikit lega karena ternyata Shin masih peduli terhadap Sakuraba. Mau bagaimanapun juga Takami sangat menyayangi Sakuraba.
"Tadi wajahnya pucat sekali. Aku takut terjadi apa-apa dengannya..." lanjut Shin. Takami hanya tersenyum geli memandang raut kekhawatiran terukir di wajah sahabatnya itu karena jarang sekali Shin menunjukkan ekspresi itu secara blak-blakan seperti sekarang ini. Dia hanya menepuk bahu Shin pelan, "Aku yakin Mayaku-mu itu seorang yang kuat. Percayalah tidak akan terjadi hal buruk padanya." ucap Takami membuat Shin sedikit lega.
.
.
.
Hiruk pikuk kelas yang diisi oleh celotehan murid-murid tidak membuat Sakuraba beranjak dari tempat duduknya. Sedari tadi dia hanya diam membuat Riku- sahabat Sakuraba sangat cemas. Padahal dulunya Sakuraba sama cerewetnya dengan gadis yang sedang membicarakan fashion.
"Sakuraba, benar kau tidak apa-apa? Kalau butuh seseorang untuk cerita. Aku akan senang hati mendengarkanmu..." ucap Riku.
Tidak ingin membuat sahabatnya khawatir, Sakuraba memandang Riku dan tersenyum- yang terkesan sangat dipaksakan. "Aku baik-baik saja, Riku. Hanya sedikit mengantuk kemarin aku tidak bisa tidur sampai larut malam." jawab Sakuraba. Mendengar jawaban itu Riku hanya membuang nafas pasrah mengetahui betapa keras kepalanya sahabatnya itu. Tentu saja Riku tahu kalau sahabatnya itu sedang ada masalah tapi dia juga tidak mau memaksa Sakuraba menceritakan masalahnya.
Tidak sengaja pandangan Sakuraba menangkap sosok Shin yang masuk ke kelasnya dengan langkah buru-buru. Diikuti dengan Takami yang selalu ada dimanapun Shin berada.
"Shin-kun..." panggil seorang gadis dengan ceria langsung berlari kecil mendekati Shin dan mencium pipi pemuda itu mesra. Sorak sorai seisi kelas melihat pasangan yang sangat serasi itu semakin menjadi saat Wakana bergelayut manja di lengan Shin.
'Yeah, perfect...' batin Sakuraba tersenyum sinis dan mengalihkan pandangannya. Hatinya sudah terlalu panas dibakar api cemburu. Dia tidak ingin hatinya benar-benar hancur lebur melihat kemesraan dua sejoli itu.
Dengan pelan Shin melepaskan Wakana yang bergelayut di lengannya dan melangkah menuju bangku Sakuraba.
"Mayaku..." panggil Shin membuat Sakuraba menoleh kaget ke arahnya. Hatinya kembali diliputi rasa khawatir saat melihat sorot mata Sakuraba yang mendadak gelap. Berbeda sekali dengan Sakuraba yang biasanya memancarkan sinar keteduhan.
"Mayaku, kau kenapa? Apa kau sakit?" tanya Shin menggenggam tangan Sakuraba.
Dentingan cincin pernikahan mereka berdenting pelan membuat dada Sakuraba berdesir lembut. Namun bayangan dimana Shin membuatnya sakit hati kembali berputar di kepalanya, membuatnya kembali melengkungkan senyum sinis. "Apa pedulimu, Shin..." ucap Sakuraba datar.
Mendengar nada dingin dari Sakuraba benar-benar membuat Shin tambah cemas. Dia merasakan firasat yang tidak enak. Tidak pernah sekalipun Sakuraba berbicara dengan nada kesal seperti itu.
"Lalu? Kau kenapa?" tanya Shin seraya membelai wajah pucat Sakuraba namun langsung ditepisnya kasar. Shin memandang Sakuraba dengan pandangan tidak percaya.
"Kau kelelahan?" tanya Shin untuk yang kesekian kalinya dan hanya dibalas dengan gelengan singkat. Dia menghiraukan Wakana yang sedari tadi memandanginya dengan pandangan tidak percaya dan- cemburu. Dia sungguh tidak ingin mempedulikan hal lain kecuali Sakuraba sekarang ini.
"Jadi kenapa?" tanya Shin. Sakuraba kembali menggeleng pelan membalas pertanyaan itu.
"Kau ingin makan sesuatu?" tuntut Shin pelan. Lagi-lagi Sakuraba menggeleng. Tanpa diduga-duga Shin melayangkan tamparan keras ke wajah sang Mayaku. Semua yang ada sana mendadak hening menatap tidak percaya ke arah sang ice prince termasuk Shin sendiri yang tidak sadar apa yang baru saja dia lakukan. Kelakuan Sakuraba benar-benar menguras kesabarannya.
Sakuraba terisak pelan seraya menunduk dalam menyembunyikan air mata yang kembali menyeruak keluar membasahi pipinya. Namun Shin masih bisa melihat darah yang keluar dari hidung Sakuraba akibat pukulannya tadi. Pipinya memar dan mendadak pandangannya mengabur saat merasakan nyeri yang luar biasa. Sebagian siswi memekik kaget saat melihat Sakuraba pingsan tak sadarkan diri. Dengan penuh penyesalan Shin langsung menggendong Sakuraba dan melangkah secepat mungkin menuju ruang kesehatan.
Petugas kesehatan di sekolah itu tercengang melihat kondisi Sakuraba yang sangat memprihatinkan itu. Shin tak henti-hentinya merutuki perbuatannya tadi dan terus menggenggam tangan Sakuraba yang masih tak sadarkan diri. Tak pernah sekalipun terlintas dibenaknya kalau dia dapat menyakiti Sakuraba dengan tangannya sendiri.
"Mayaku, maafkan aku..." bisik Shin di telinga Sakuraba. Kata-kata itu terus meluncur dari mutul Shin bagaikan mantra. Bahkan dia tidak peduli kalau saat ini Sakuraba tidak mendengarnya. Dia mendekati wajah Sakuraba dan mengecupi luka yang dia ciptakan di wajah Sakuraba tadi.
Tidak terasa butiran-butiran air mata meluncur dari mata Shin menetes ke wajah Sakuraba. "Bangun, Mayaku... Maafkan aku..." bisik Shin penuh dengan nada penyesalan. Shin jarang sekali menangis. Terakhir kali dia menangis adalah saat mengetahui Wakana meninggal. Itupun tidak sampai keluar air mata seperti sekarang ini.
"Shin... Jangan tinggalkan aku." gumam Sakuraba masih belum membuka matanya.
"Ya, Sakuraba. Aku di sini. Tidak akan meninggalkanmu dan selalu mencintaimu..." balas Shin perlahan mencium bibir Sakuraba singkat.
Tanpa dia sadari, sepasang mata memandangi mereka dari balik kaca pintu ruang kesehatan. Air mata telah membasahi paras cantiknya. "Apakah sudah tidak ada kesempatan untukku? Apakah aku harus memberikan cintaku untuk orang lain?" gumamnya pelan sehingga hanya dia saja yang bisa mendengar ucapannya itu.
.
.
.
TBC
.
.
.
Terinspirasi dari lagu berjudul How Can I Not Love You ost Anna and The King karya George Fenton, Babyface, and Robert Kraft.
. . . xXx . . .
Wow, ini chapter paling melelahkan yang pernah saya buat. Semoga hasilnya juga bisa membosankan dan tidak parah-parah amat.
Ah, sudah lama tidak ada lemon ya~
Pengen buat mungkin chapter depan kalau situasinya mendukung.
Terimakasih juga buat yang sudah review kemarin (Fi suki suki, Back-total yaoi addict, Chiho Nanoyuki, Choi Chan Chan, Karatiqa). Saya tidak menyangka kalau masih saja ada yang mau membaca fic ini. Juga terimakasih buat reader yang sudah berkenan membaca.
Maaf kalau masih banyak kekurangan~
. . . xXx . . .
Review?
