Minna-san… Amu is back!!! *ditampol gara-gara berisik*

Huwe…maap ya, updatenya ngaret (banget) … m(……)m …

Sibuk ama sekolah sih… =="

Disini, si 'orang berambut biru' udah kluar hlo… ;p

Penasaran kan?? Let just check it out!!

Disclaimer: *sulking di pojokan* bukan punyaku… Huwee……(nangis anime style)

**********

The Tale of Our Blood

© Amu svit-kona

Matahari telah lama kembali ke sangkarnya. Rumah –atau bisa juga disebut mansion– keluarga Kurosaki kini telah menjadi gemerlap oleh lampu-lampu malam ketika Ichigo melewati ruang tamu. Berjalan menuju sofa lalu merebahkan dirinya disana. Ia mengambil remote yang terdapat di meja di depannya. Menyalakan TV dan mengganti-ganti channelnya dengan malas. Ia berniat mematikan TV ketika serangan itu datang.

"ICHIIIGGOOOO!!!!"

DHUAKKK!! PRANGG!!

Ichigo terlempar ke depan, menimpa meja kaca yang kini sudah hancur berantakan.

"Hohohoho… Sepertinya kau sudah mulai lemah Ichigo! Aku harus melatihmu lebih keras lagi rupanya!" ucap orang yang mendorong –lebih tepatnya melempar–Ichigo tersebut.

Sementara itu, Ichigo berusaha bangkit dengan disangga oleh tangan kiri dan kedua lututnya. Sementara tangan kanannya memegang wajahnya, mencoba membersihkan serpihan-serpihan kaca.

"Kau…" ucap Ichigo menggeram, "Yang benar saja!"

Dengan gerakan cepat ia berdiri dan berbalik lalu mencengkram tangan kanan si 'penyerang' itu dan melemparnya ke dinding.

"APA ITU CARANYA MEMPERLAKUKAN ANAKMU SENDIRI?!!" teriak Ichigo pada ayahnya.

"Ti-tindakan…yang…bagus…se…kali…" ucap Isshin yang kini menempel di dinding dengan posisi seperti cicak.

"Dasar orang tua gila! Kurang kerjaan!" ucap Ichigo sambil membersihkan bajunya dari serpihan-serpihan kaca.

"A-a… Tidak-tidak. Itu adalah cara pengungkapan kasih sayang yang tulus antara seorang ayah kepada anak yang dikasihinya yang kini sudah mulai beranjak dewasa. Hmm…"

Ichigo menoleh ke belakang, mendapati Isshin yang telah berada di belakangnya sambil melipat kedua tangannya di dada dan memejamkan mata. 'Aku harus lebih berhati-hati pada orang ini' pikirnya sambil membelalakkan mata.

"Cih, kalau aku punya anak nanti, setidaknya aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu padanya." Gumam Ichigo.

"A-astaga…"

Ichigo menoleh kepada ayahnya yang sedang memandangi dirinya dengan mata berkaca-kaca.

"Apa?" Tanya Ichigo. Entah mengapa mendadak perasaannya berubah menjadi tidak enak.

"Oh Ichigo… Ternyata kau sudah besar! Kau sudah punya pikiran untuk memberikan ayahmu ini seorang cucu!" ujar Isshin sambil menyeka air matanya yang jatuh menggunakan tisu dan mengeluarkan ingusnya. "Masaki! Anak kita telah menjadi seorang pria!!" sambungnya sambil menempel pada poster Kurosaki Masaki yang –entah didapat dari mana– tertempel di layar TV. Ichigo hanya terdiam cengo melihat kelakuan ayahnya itu.

"Astaga…" ujarnya sambil memijit keningnya.

"Yah…mau bagaimana lagi kan? Karena dia tidak jadi memberiku cucu, jadi apa boleh buat. Ichigo, KAU HARUS MEMBERIKU CUCU YANG BANYAK!!!" Isshin berkata sambil mencengkram kerah baju Ichigo.

Ichigo menonjok wajahnya hingga Isshin kini menempel lagi pada poster Masaki Kurosaki. "Masaki…anak kita sekarang menjadi kejam… Apa salahku??" tanyanya pada poster Masaki sambil menangis bombay.

"KAU ITU YANG TIDAK WARAS!!" teriak Ichigo pada ayahnya. "Lagipula, kalau pun dia tidak jadi-" pekataannya terpotong ketika ia menyadari sebuah kemungkinan yang terburuk yang akan datang. "Hei, orang itu…sudah pulang ya?" Tanya Ichigo pada ayahnya.

"Ha?" Kini Isshin yang dibuat bingung. Tapi kemudian ia menyadari maksud anaknya. Dengan wajah berbinar, ia menjawab, "Oh…tentu saja! Besok kan hari penting. Jadi semua anggota keluarga HARUS berkumpul!"

Mata Ichigo membulat. 'Oh Tuhan, jangan sampai dia mengetahuinya.' "Lalu, dimana dia sekarang?"

"Eh, kau tidak bertemu dengannya? Tadi dia bilang ingin memberimu kejutan, jadi dia pergi ke kamarmu." Jawab Isshin dengan tampang innocent.

Mendengar hal itu, Ichigo langsung berlari menuju tangga kamarnya cepat-cepat. 'Tidak apa-apa. Tenanglah Ichigo, kalau tadi kau tak bertemu dengannya berarti orang itu belum ke kamarmu kan? Iya kan? Ya, pasti tidak apa-apa. Pasti-'

"KYAAAAA!!!!"

'Rukia!' Ichigo segera berlari menaiki tangga dan mendobrak pintu kamarnya.

**********

BRAKK!!

Ichigo mendobrak pintu kamarnya –yang kini menggantung pasrah pada salah satu engselnya– dan melihat keadaan sekitar kamarnya. Sampai matanya tertuju pada sosok Rukia yang berdiri di pojok kamarnya sambil mengangkat lampu night stand di tangan. Ia berdiri membelakangi jendela hingga Ichigo hanya melihat dirinya dari samping kanan.

"Rukia!"

Rukia menoleh, "Ichi…go…"

Melihat Ichigo, ia langsung melepas lampu night stand yang menimbulkan bunyi 'prang' yang cukup keras. Ia langsung berlari ke arah Ichigo dan berlindung di balik punggungnya.

"Hey, Rukia. Ada apa?" Tanya Ichigo ketika ia merasakan tangan Rukia yang memegang bajunya gemetar. Tapi Rukia hanya menggelengkan kepala. Ichigo menolehkan kepalanya pada sosok yang sedang memunguti sisa pecahan lampu night standnya yang bertebaran. "Dan kau! Apa yang kau lakukan disini?"

Sosok itu langsung berdiri dan menjatuhkan kembali pecahan-pecahan lampu yang baru saja dipungutnya. Ia mengangkat kedua tangannya dan melambaikannya ke kanan-kiri, pertanda kalau ia 'innocent' dalam hal ini.

Tapi Ichigo tidak mempercayainya dan memicingkan matanya pada orang itu. Kemudian orang itu maju selangkah, sambil tersenyum dan menunjuk ke arah pintu. Sampai di depan pintu, mulutnya bergerak mengucapkan kalimat 'Jangan lupa pakai sabuk pengaman' dengan tanpa suara, lalu keluar dari ruangan itu cepat-cepat.

"MATI SAJA KAU!!!" teriak Ichigo yang mukanya sudah merah padam karena marah dan malu. Tapi sepertinya reaksi itu malah membuat si pelaku tambah senang, karena terdengar suara tawa dari lorong di samping kamar itu. Ichigo menghembuskan nafas lega saat mendengar suara langkah kaki mulai meredup. Ia lalu menarik tangan Rukia dan membalikkan badannya. Hingga ia sekarang bertatap muka dengan Rukia. Rukia kelihatan masih sangat ketakutan dan tak mau memandang Ichigo.

"Hey…Rukia, tidak apa-apa. Dia sudah pergi." Ucapnya menenangakan.

Rukia menggelengkan kepalanya lalu tersenyum kecil pada Ichigo.

"Aku tak apa. Hanya sedikit terkejut." Ujarnya.

Tapi wajah Ichigo masih agak tak percaya dengan ucapannya. "Ayolah Ichi-berry, aku sudah tidak apa-apa." Ucap Rukia lagi sambil tersenyum.

Itu cukup untuk membuat Ichigo sedikit menyunggingkan bibirnya. "Baiklah kalau begitu, ganti bajumu dan kita akan makan malam di bawah."

"Um…a-aku tidak lap-"

GRUUUKKK…

"…ar" Rukia memandang perutnya. "Dasar penghianat." Ucapnya.

Ichigo tertawa kecil mendengarnya. "Ayolah. Ganti bajumu dulu, aku tunggu kau di depan pintu."

"Tapi Ichigo, aku-"

"A-a. tidak ada alasan. Kau harus makan!"

"Tapi-"

"Kalau kubilang kau harus-"

BLETAKK!

"Aduh! Oi! Apa-apaan sih kau ini?! Seenaknya saja!" ujar Ichigo sambil memegang kepalanya yang-tak pelak lagi-benjol karena jitakan 'super' Rukia.

"Makanya, dengarkan dulu kalau orang mau bicara…" ucap Rukia santai. "Aku tadi mau bilang kalau aku tidak tahu dimana bajuku. Aku rasa sangat tidak etis, seorang nona sepertiku harus makan dengan menggunakan baju tidur seperti ini."

"Cih. Nona? Lebih pantas disebut monster dari pada itu." Gumam Ichigo.

"Bilang apa kau tadi??"

Bulu kuduk Ichigo langsung berdiri ketika melihat aura membunuh Rukia. "Um…maksudku…"

TOK-TOK-TOK

"Permisi, saya Isane. Membawakan baju untuk nona Rukia."

"Oh, ya. Masuk saja." Ujar Ichigo. 'Fiuh…aku selamat…"

Isane segera masuk ke dalam.

"Permisi…" ucapnya sambil tersenyum. "Saya diperintahkan nona muda Yuzu untuk membawakan anda baju ini."

"Ah, iya. Terimakasih." Jawab Rukia.

"Mari, saya bantu anda berganti baju." Ucap Isane sambil menaruh baju ganti Rukia di tempat tidur.

Rukia tetap bergeming di tempatnya berdiri. Ia terus menatap Ichigo.

"Apa? Kau tidak suka bajunya?" Tanya Ichigo.

Rukia memicingkan matanya, "Mau sampai kapan kau disitu?" tanyanya pada Ichigo.

"Ha? Kenapa memang?" Tanya Ichigo balik sambil mengangkat sebelah alisnya.

Rukia melipat tangannya di dada. "Kau mau aku buka baju di depanmu?" Ia tersenyum jahil ketika melihat rona merah menghiasi kedua pipi Ichigo, walaupun hanya sebentar.

"Cih. Memangnya apa yang bisa 'dinikmati' darimu?" tantang Ichigo. Ia melihat tubuh Rukia, mulai dari kaki sampai wajahnya-yang kini terlihat sangat masam-lalu berkata, "Hmm…yah, kuberi kau nilai 60 dari 100" ucap Ichigo pada Rukia sambil tersenyum miring.

"Dasar brengsek!!!" teriak Rukia sambil melempari Ichigo dengan bantal. Sayangnya, Ichigo keburu keluar dari kamarnya. Tapi tawanya yang keras membahana sampai ke kamar itu. "Ichigo no baka!" gumam Rukia yang mukanya kini mulai menyaingi warna apel matang.

**********

Rukia P.O.V.

Aku bergegas memakai baju yang disiapkan oleh Isane. Percaya atau tidak, baju itu terasa sangat pas ditubuhku. Seolah dibuat hanya untukku. Padahal biasanya susah sekali untuk mencari baju yang ukurannya pas dengan tubuhku. Yah, tidak heran kadang aku harus membeli baju dengan size anak-anak. Menyebalkan!

Baju berwarna violet itu membuat mataku lebih menyala, lebih terkesan hidup. Aku suka dengan modelnya, simple tapi tidak terlalu feminine. Yah…walaupun aku adalah seorang nona besar, harus kuakui bahwa memakai gaun yang ketat dan feminine sangat menggangguku. Aku lebih suka memakai sesuatu yang nyaman dan membuatku bisa bergerak bebas.

Aku berdiri di depan cermin dan mengagumi gaun itu. Tapi tampaknya aku mengalami sedikit kesulitan saat akan menaikkan resleting yang berada di punggungku.

"Isane, bisakah kau tolong aku sebentar?"

"Ya?" Isane yang sedang menata kembali kamarku-atau Ichigo-yang berantakan dan membersihkan pecahan lampu di lantai segera datang menghampiriku.

"Bisakah kau naikkan resletingnya?"

"Ya, tentu saja nona." Ia segera menaikkan resleting gaunku. Tapi ketika sudah setengah jalan, ia berhenti dan mengambil napas dalam-dalam.

"Isane? Kau tidak apa-apa?" Aku khawatir dengannya. Karena dia memejamkan matanya dan tidak bicara apapun. "Isane?" ketika aku akan membalikkan tubuhku, tangan Isane mencengkeram lenganku. Membuatku tertahan untuk tidak membalikkan badan.

"Tidak apa-apa." Ucapnya sambil membuka matanya. "Saya tidak apa-apa nona." Jawabnya sambil tersenyum.

Tapi jawaban itu tidak membuatku puas. Isane melanjutkan menaikkan resletingku. Setelah selesai, aku membuka mulutku untuk bertanya apakah ia benar-benar tidak apa-apa. Ketika suatu pernyataan aneh terlontar dari mulutnya.

"Tubuh anda wangi sekali nona." Ucapnya sambil tersenyum, yang entah kenapa terasa ganjil di hatiku. Ia kemudian berjalan kembali untuk membereskan kamarku sambil bergumam rendah, aku hampir-hampir saja tidak mendengar suaranya karena terlalu rendah, terkesan seperti berbisik. Ia berkata, "Pantas tuan muda begitu memperhatikan anda"

Kalau saja Ichigo tidak, dengan sopannya, masuk ke kamarku secara tiba-tiba, aku pasti akan meminta penjelasan tentang ucapan Isane. Tapi tidak, karena si beruk berambut orange itu datang kembali ke kamarku sambil menampakkan muka yang terkesan sedang marah.

"Hey! Kau tidak pernah dengar kata 'ketuklah pintu dulu sebelum masuk ke kamar orang lain ya?! Bagaimana kalau tadi aku belum selesai berganti baju?!" ujarku dengan marah. Tapi tampaknya tidak digubris oleh Ichigo. Ia malah memandang ke Isane dengan tatapan sangarnya. "Oi-"

"Maafkan kelancangan saya tuan. Saya benar-benar tidak sengaja."

Aku sangat terkejut ketika melihat Isane berdiri di belakangku sambil menundukkan badannya 90o dengan hormat. Di wajahnya tersirat suatu ketakutan yang amat sangat. Ada apa sebenarnya?

"Hn. Keluar." Ucap Ichigo dengan nada tidak suka.

Isane segera mengambil piyamaku lalu berjalan keluar kamar. Tapi sebelum itu, ia menundukkan badannya padaku dan Ichigo terlebih dulu.

Saat aku akan protes akan sikap Ichigo yang 'kurang' sopan terhadap Isane, ia tiba-tiba menarik tanganku. Melihat wajahnya yang masih terlihat marah, aku tidak jadi marah padanya. Apa sih yang sebenarnya terjadi? Hhh…tidak di sekolah, tidak di sini, semuanya tetap saja terasa aneh.

Saat aku mendongakkan kepalaku yang –entah sejak kapan– terus memandang punggung Ichigo, aku melihat kami kini telah berada di suatu ruangan. Ruang makan sepertinya.

"Ah, Ichi-nii. Aku baru saja akan memanggilmu." Aku menengok dari balik punggung Ichigo, dan melihat Yuzu keluar-masuk dapur untuk menyiapkan makanan. Kemudian aku melihat Ichigo tersenyum kepada adiknya. Ah…menyenangkan pasti kalau punya keluarga yang hangat seperti ini.

"Hei! Jangan berdiri saja disana. Kau mengganggu pemandangan tahu!"

Aku memalingkan wajahku ke arah sumber suara. Terlihat seorang gadis berambut hitam yang sedang duduk dengan kakinya diangkat ke meja. Ia sedang melihat dengan serius pada ikan-ikan yang berada di akuarium. 'Aneh sekali.' Pikirku sambil menaikkan sebelah alis.

"Ck." Ichigo lalu menyingkir dari tempat kami berdiri, aku mengikutinya dan duduk di sebelahnya.

"Turunkan kakimu Karin!" perintah Ichigo pada gadis itu. Gadis itu hanya ber-hn ria. Tapi tetap menurunkan kakinya.

"Makanan sudah siaaapppp…" teriak seseorang dari dapur. Dari suaranya sih, sepertinya laki-laki.

Lalu Yuzu muncul dengan membawa nasi dan lauk untuk kami dan meletakkannya di tengah-tengah. Ia tersenyum padaku dan aku membalasnya dengan anggukan kecil.

"Astaga, nii-chan… Tidak perlu membawa semuanya kan?" ucap Yuzu pada seseorang di balik tembok dapur. "Sini, biar kubantu."

"A-a. tidak-tidak. Aku bisa mengatasinya sendiri." Ucap orang itu. Sepertinya orang yang sama dengan yang berteriak tadi.

Kemudian ia muncul, Yuzu sedang menaruh apronnya dan 'nii-chan'-nya di dapur. Dia adalah seorang lelaki yang –menurut pandanganku–gagah. Posturnya tegap dan tinggi. Mungkin hampir setinggi Ichigo, tapi agak lebih tinggi sedikit. Aku menengokkan kepalaku, mencoba melihat wajahnya. Tapi wajahnya tertutup oleh tumpukan piring-piring dan lauk-pauk yang ia bawa dengan kedua tangannya. Yang terlihat hanya rambut biru tuanya yang agak panjang –melebihi bahunya– dan dikucir ekor kuda. Aku mengerutkan alis. Biru? Kenapa rambutnya berbeda sendiri? Aku kira mungkin kakak Ichigo juga akan mempunyai warna rambut eksentrik seperti Ichigo.

"Tidak adakah diantara kalian yang ingin membantuku?" Tanya lelaki itu dengan suara yang melas.

Aku bertatapan dengan Ichigo sambil menaikkan alisku. Aku memandangnya dengan tatapan 'Kau tidak ingin membantunya?'.

"Ck." Ucapnya sambil memutar bola matanya, tapi bangkit untuk membantu 'nii-chan'-nya itu. Aku tersenyum melihatnya.

Ichigo mengambil lauk-pauknya satu persatu dan menatanya di meja. Saat ia mengangkat piring-piringnya, aku kembali menengokkan kepalaku. Entah kenapa, aku penasaran sekali dengan 'nii-chan' Ichigo itu.

"Ah…Ichigo!!! Kau memang baik sekali pada nii-chan mu ini…" ucapnya sambil memeluk Ichigo dan menangis bombay. Aku hanya bisa melihat dengan cengo adegan-adegan seperti itu. Merasa sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu.

"Iiiihh…apa-apaan sih?! Lepaskan aku! Bakaniki!!!!" ucap Ichigo seraya mencoba melepaskan pelukan kakaknya.

"Tidak mau! Aku kan rindu sekali padamu." Ucap lelaki itu sambil masih memeluk Ichigo. "Sudahlah…kau kan dulu suka sekali aku peluk!"

"Itu berapa sudah berapa tahun yang lalu, hah?!!" teriak Ichigo. Mukanya memerah.

Rasanya pasti asik sekali ya, kalau punya saudara. Jadi tidak akan merasa kesepian.

"Oi-oi! Sudahlah, lepaskan adikmu! Dia pasti malu karena dilihat pacarnya."

Aku menengokkan kepalaku pada pria yang duduk di samping Karin. Mukaku tentu saja memerah karena ucapannya itu. 'Pa-pacaarrr??'. Tapi pria itu –yang kuduga adalah ayah Ichigo– hanya mengedipkan sebelah matanya padaku.

"Ap-apa…Di-dia itu…Dia…" Ichigo terbata-bata. Aku melihat mukanya juga sudah sewarna denganku.

"Oh…jadi otoutoku yang manis ini sudah punya pacar ya?" orang itu kini sudah melepaskan pelukannya kepada Ichigo yang mukanya masih seperti apel itu.

Dan begitu terkejutnya aku, ketika aku melihat wajahnya. Ia memiliki mata indigo yang pekat, sama indahnya dengan mata hazel milik Ichigo. Meskipun terlihat sebagai orang yang santai dan slengekan, ia memiliki bentuk rahang kokoh yang menandakan bahwa ia juga adalah orang yang tegas. Dan wajahnya…astaga. Benar-benar mirip dengan Ichigo. Yang membuat meraka berbeda mungkin hanya warna rambut, alis, dan matanya. Juga ia terlihat sebagai penggambaran Ichigo di usia, mungkin sekitar 20-an. Melihatnya, aku seperti terkena de ja vu.

**********

A/N: Jeng-jeng… Eng-ing-eng-ing-eng-ing-eng…

Minna… sekali lagi mohon maap atas keterlambatan updatenya… m(......)m

Sebenernya udah jadi dari kemaren, tapi ru isa update sekarang. Beneran deh!! (ngotot) *digorok rame-rame*

Oh iya, buat yang pada nebak 'orang berambut biru' itu…

Ini dia jawabannya!! Sekarang pasti udah pada tau kan siapa dia??

Tapi sayangnya pada salah semua jawabannya… ^^"

Okies, mari kita menjawab para reviewers kita…

Yumemiru Reirin : Hohoho…reirin-chan juga salah… orang dia cowok… wkwkwkwkwk

shirayuki haruna : Jawabannya pasti uda tau kan sekarang?? Huwe…maap, kemaren age persiapan buat mos soalnya… jadi ngaret deh updatenya… yang kali ini juga maap…sibuk ulangan sih… ==" *ditampol gara-gara sok sibuk*

yuinayuki-chan : Hohoho… tapi ga jadi arwah penasaran kan?? (jayus bin kriuk)

pokoknya tunggu aja. Si 'dia' identitasnya akan segera terungkap kok… ;D

mss . Dhyta : Dia bukan cewek hlo… ^^

sekarang pasti tau kan, siapa orang itu??

Senna?? No way!!! Tak akan kumasukkan dia kedalam ceritaku!!! *dirajam Senna*

Agehanami-chan : Iya, emank! Ichiruki emang selalu so sweet kan?? XD

Hhe?? Hadoh…kok Hisana terus sih??

Aku gak ikut-ikutan hlo, kalo ntar Ichigo di senbon ama Byaku-chan… (Byakuya: glare dengan tatapan terdingin) *shudder*

Tuh kan… =="

red-deimon-beta :hwekekekekekek… sama-sama. Eh, dei mendingan ati-ati deh. Rukia akhir-akhir ini lagi bad mood hlo… (Rukia: ambil sode no shirayuki) eh, mo kemana Ruk? (Rukia: nulis di kertas 'nyari red-deimon-beta) mo diapain?? 0.o (Rukia: mo tau aja urusan orang! Ja ne!) yah…dia pergi. =="

semoga selamat dei-chan… ^^

Hohoho…selesai deh…

Sampai jumpa di chapter depan… Mata ashita… ^^