Disclaimer:
Vocaloid © Yamaha, Crypton Future
Fanloid dan loid loid lainnya © yang punya
Tantei no Rabu © Keumcchi
Genre(s):
Humor (receh), Mystery (gagal), Romance (abal)
Warning(s):
AU, OOC, jayusness, gajeness, typo(s), lo-gue zone
anti mainstream pair (maaf kalau nggak suka :'v)
Last Part: Part 3!
"Sederhananya, lo pengen gue ngehack sesuatu untuk nyari info tentang Yuzuki?" tanya Meito. Len mengangguk cepat. "Oh, oke. Gampanglah itu. Nanti kalau udah ketemu, gue bakal kabarin lo secepatnya."
"Nah! Lo emang temen gue yang paaaling baik!" Len menyengir lebar. "Sini gue cipok!"
"IDIH OGAH!" Meito langsung memundurkan kursinya. "Eh, tapi gue ada syarat."
Len memasang wajah penuh congkak. "Apa sih apa? Nggak ada yang nggak bisa Len lakuin. Coba sini bilang."
Meito menyeringai.
Mendadak, Len berfirasat buruk.
Tantei no Rabu
Part √49
by Keumcchi
.
.
Pemuda shota bersurai honeyblonde itu mondar-mandir di ruang tamu kontrakan Abangnya. Tangannya memegang ponsel yang dibiarkan menyala, membuka daftar kontak telepon. Sesekali ia berhenti berjalan, duduk di sofa terdekat, lalu berdiri dan mondar-mandir lagi.
Lama-lama itu anak udah mirip setrikaan.
Wajahnya gelisah, bahkan kegelisahan itu meningkat dari gelisah tingkat RT menjadi tingkat kelurahan ketika ia melirik kontak yang akan ia telepon. Len pun mengambil napas, berusaha tidak mengeluarkannya lewat belakang. Ia menekan kontak itu, lalu menekan tombol panggil.
Telepon langsung diangkat.
Len langsung duduk tegak. "A-ah! Ha-halo!"
"Maaf, pulsa Anda tidak mencukupi untuk melakukan panggi—"
—klik. Sambungan ditutup.
Len berdecak kesal. "Sial, kenapa di saat begini pulsa gue malah abis."
Pembaca pun sudah cukup penasaran dengan orang yang akan ditelpon Len. Bukan, itu bukan Mbak Lola, kalau iya sama saja ia minta dipalak sama kakak sepupunya itu. Masalahnya, Len sedang tidak punya apa-apa untuk dipalak.
Pemuda tanggung itu menaruh ponselnya di meja, lalu beralih ke telepon rumah. Ia pun menekan nomor yang tanpa sadar sudah ia hafal di luar kepala.
Nada sambung dua kali, telepon diangkat.
"Halo," sapa suara di seberang, perempuan. "Dengan kediaman Yuzuki, ini siapa, ya?"
"E-eh, ini…," Len langsung gugup, wajahnya merona padahal si penelepon tidak bertatap muka dengannya. Pemuda shota itu menelan ludah, "ini Len."
Hening sejenak di seberang.
"L-Len? Ada apa?" tanya Yuzuki, gadis itu juga mulai terbata. Mungkin ia tidak menyangka idolanya bakal menelepon secara langsung, atau mungkin sebelumnya ia mengira yang menelepon itu penagih utang—bukan idolanya.
Len kembali menelan ludah. "Kamu ... hari minggu ini kosong?"
Hening lagi dari pihak seberang. Len khawatir jangan-jangan telepon kontrakannya tidak selevel dengan telepon Yuzuki, jadi setiap berbicara ada jeda beberapa detik untuk proses penyampaian pesan seperti di luar negeri.
"Memangnya ada apa?"
Len menelan ludah. "Itu ... aku mau ngajak kamu ke kafe baru di depan sekolah."
"Kafe?" tanya Yuzuki. "Oh, ada Meito sama Rin juga, ya?"
Len menggeleng. "Nggak, kita berdua aja. Mumpung kafenya baru, pasti sepi," ujar Len, lalu ia tersadar kalimatnya terlalu ambigu, "e-eh! Maksudku, sepi karena masih baru, jadinya nggak kehabisan tempat!"
Yuzuki tidak langsung menjawab, tapi samar-samar Len dapat mendengar gadis itu ingin tertawa.
Len mulai panik. Jangan-jangan Len terlalu agresif? Atau Yuzuki ternyata sudah ada yang punya? Mungkinkah Yuzuki sudah diajak oleh cowok lain yang lebih kaya raya ke restoran mahal—bukan kafe baru buka yang lagi promo?
Karena tidak langsung direspon, Len buru-buru menyahut. "A-aku nggak maksa sih. Paling aku pergi sendiri—"
"—aku kosong kok!" sambar Yuzuki. "A-aku tunggu di depan kafe! Hari minggu! Jam 4 sore!"
—KLIK. Telepon diputus begitu saja dan Len hanya bengong.
Ada apa ini? Kenapa yang bersemangat malah Yuzuki? Ah, sudahlah. Yang penting Yuzuki mau diajak. Len pun menghela napas, tugasnya sudah beres. Namun, baru saja akan beranjak dari sofa, sepasang tangan menutup matanya.
"Coba tebak gue siapa?" tanya suara nge-bass khas Meito dari belakangnya.
Len menghela napas pendek. "To, lo kalau nyuruh nebak jangan pakai suara aslilah." Len melepas tangan Meito dari matanya, menoleh ke belakang dengan mendelik. Pelaku pengendap-endap itu menyengir. Untung bukan maling. "Kadang gue bingung, orang pinter suka payah di hal sepele."
"Enak aja!" sembur Meito, tak terima. "Oh, iya. Tadi gue nguping pembicaraan lo sama Yuzuki! Lo mau kencan sama dia?"
Len langsung membeku di tempat. "... lo denger apa aja?"
"Semuanya."
Pemuda shota itu menggeretakkan giginya. "Kalau bukan demi informasi yang disembunyikan Yuzuki, gue juga nggak bakal ngelakuin hal memalukan seperti mengajaknya ke kafe..."
Ya, semua ini memang berawal dari obrolan mereka di kafe beberapa hari yang lalu. Len secara khusus meminta bantuan Meito yang seorang hacker untuk mencari informasi mengenai Yuzuki. Gadis itu—menurut sepengetahuan Len—selalu mengalihkan topik obrolan ketika dibawa ke topik seputar Yuzuki sebelum bertemu Len dan pindah ke sekolah mereka.
Nah, sebagai sahabat sejati, Meito tidak serta-merta mengiyakan permintaan Len. Ia justru memberikan sebuah syarat—yang juga diterima serta-merta oleh Len yang tidak waspada, yaitu "mengajak Yuzuki jalan berdua".
Meito tertawa nista, puas karena setengah rencananya berjalan dengan mulus. "Terus, lo beneran ngajak dia ke kafe?"
"Iya, di dekat sekolah kan ada kafe baru." Len berdiri, ia pun berjalan meninggalkan Meito—yang langsung menyusulnya dengan berjalan mundur. Pemuda bersurai cokelat itu menatap Len dengan tampang curiga.
"Len," Meito menyipitkan matanya, menatap penuh curiga. "Lo naksir Yuzuki?"
Len menepuk jidatnya. "Gue harus bilang berapa kali biar lo percaya kalau gue sama dia cuma temenan?"
Meito menggeleng. "Gue makin nggak percaya setelah lo ngajak dia jalan."
"Kan lo yang nyuruh!" sembur Len, telinganya berasap. "Lagian apa salahnya? Paling juga bakal minum aja di sana."
Meito menyengir, ia melanjutkan, "soalnya kalau ada yang jalan berdua biasanya mereka lagi kencan, Len." Ia berbalik badan, mulai berjalan dengan baik dan benar, "tapi pasangannya harus cewek sama cowok lho, ya. Kalau pasangannya cowok sama cowok, itu namanya humu."
Len mesem-mesem. "Lo nyadar nggak selama ini kalau pergi-pergi kita selalu berdua?"
Meito langsung bungkam. Sedetik kemudian, ia menjedukkan kepalanya ke tembok terdekat.
Senjata makan tuan memang paling menyesakkan.
"Oke, dalam kasus kita, itu beda," ujar Meito, ia menuding ke arah hidung Len dengan tidak santai. "Sekali lagi, itu beda."
"Iya, To. Iya." Len mengibaskan tangannya, kembali berjalan ke dapur sambil berusaha menjauhi Meito sebelum ditanya-tanya lagi soal Yuzuki.
"Eh, tunggu!" Rupanya pemuda hacker itu belum menyerah juga. Ia masih mengekori Len yang kini sedang menahan emosi. "Gue mau ngomongin sesuatu yang penting! Gue udah nemuin yang lo mintain tempo hari!"
Len berhenti, berpikir sejenak. "Jangan bilang ini tentang…."
"Ya," bisik Meito. "Gue udah dapet rahasianya Yuzuki."
Bukannya mendapat pujian, Meito justru mendapat jitakan keras dari Len di kepalanya.
"Kamfret! Tau gitu gue nggak usah nurutin persyaratan lo yang kemarin!" sembur Len sambil menahan malu, mengingat betapa konyolnya ia tadi ketika menelepon Yuzuki.
"Yah, kalau belum dilakuin ya gue nggak bakal bilang udah nemu yang lo cari, kan gue sengaja. Emang lo nggak nyadar syarat gue ada udang di balik bakwannya?" tanya Meito cengengesan, sedetik kemudian ia memasang wajah curiga yang minta digampar. "Lagian lo gercep banget, Len. Jangan-jangan syarat dari gue cuma kedok, ya?"
"Terserah lo deh." Len membuang muka. Entah kenapa sejak tadi ia kebal dengan ledekan Meito, tetapi lama-lama ia merasa jantungnya mulai tidak sejalan dengan perkataannya.
Eeeeaaaa.
Len pun langsung menarik Meito ke sofa lagi. "Jadi ... apa aja yang lo temuin soal dia?" tanya Len dengan muka kepo maksimal.
Meito yang lagi malas jual mahal langsung menjelaskan ke inti pembicaraan sambil membuka tasnya. "Gue nemu di berita luar negeri kalau dia itu mantan detektif terkenal di daerah Eropa."
Len melongo dengan muka tidak ganteng sama sekali. "Miapa? Detektif?" tanya Len. "Lo nggak salah orang kan?"
Meito menggeleng. "Justru gue juga nggak percaya dan langsung kepo juga, tapi semakin gue cari semakin banyak bukti kalau dia memang detektif di luar negeri." Meito mengeluarkan laptopnya. "Sepanjang hidupnya, dia sudah menangani 49 kasus! Gila, kan?"
Len bengong pangkat dua. "Lo nggak ngibul kan?"
Meito menggeleng cepat. "Ngapain gue ngibul?"
Sekarang Len bengong pangkat lima.
Yuzuki? Detektif terkenal? Bahkan, sudah di tingkat internasional! Len juga langsung tahu, 49 kasus itu pasti bukan kasus level anak ayam seperti yang selalu ia dapatkan. Ia tidak ada apa-apanya, bahkan Mikuo masih kalah.
Namun, kenapa Yuzuki pernah bilang kalau dia ngefans sama Len? Bukannya harusnya Len yang ngefans sama Yuzuki? Lalu, kenapa Yuzuki sampai meminta bantuan Len untuk menangkap Zeckoo di kasus yang lalu?
Tentu saja ini bukan karena Yuzuki ingin membantu perekonomian Len yang sedang seret, kan? Apa jangan-jangan Yuzuki diam-diam sudah tahu kalau Len keseringan makan ikan tongkol gara-gara seret panggilan kasus?
Meito mulai fokus dengan selingkuhannya—laptop kesayangan. Ia membuka folder m3iT0, lalu muncullah folder-folder berjudul huruf A sampai Z.
"Lo alay ya, To?" tanya Len dengan nada polos, tidak sadar kalau dirinyalah yang sering bertingkah alay. Untung saja Meito sedang fokus mencari folder, jadi ia tidak mendengar celetukan Len yang bisa membuatnya meledak itu.
Meito kembali membuka sebuah folder huruf L, lalu di dalam folder itu ada folder-folder dari angka 1 sampai 10. Folder 3 pun dibuka, dan di dalamnya ada folder-folder dari C1 sampai C20. Meito mengeklik folder C18, dan ternyata di dalam folder itu ada folder-folder lain yang judulnya C18 No. 1 sampai C18 No. 20. Meito mengeklik folder C18 No. 18, dan di dalamnya ada folder L3n.
Sebentar ... daripada dibilang folder penyimpanan, rasanya ini lebih mirip kompleks perumahan...
"Gila, lo nggak capek apa bikin folder segitu banyaknya?" sembur Len yang pusing sendiri melihat Meito dengan folder-foldernya. "Lagian, lo kayak ngefans sama gue gitu, ada folder yang pakai nama gue di dalam folder-folder lainnya."
"Enak aja," Meito mencibir. "Kalau gue namain Yuzuki kan gawat. Di kelas A ada hacker selain gue, tau. Dia pernah ngobok-ngobok laptop gue lewat laptopnya, makanya gue bikin alay sekalian."
"Oh? Siapa emang?"
"Pacar gue…." Meito cengengesan. Len menepuk jidatnya.
Ya, selain Meito, ada lagi hacker lainnya di kelas A. Siapa lagi kalau bukan pacar Meito, Yufu. Ia menduduki peringkat ke-10, masih cukup tinggi di kelas A. Yufu juga belajar hack dari Meito sebelum mereka masuk ke SMA ini, tetapi Yufu spesialis mengobok-ngobok komputer orang—berbeda dengan Meito yang lebih suka ngebajak blog artis. Kadang kalau Meito lagi kurang kerjaan, dia baru ngebajak website-website terkenal, atau sebatas mencantumkan banner m3it0 waz h3r3. (re: Meito was here)
Meito emang agak alay sih. Suka-suka dia ajalah, yang malu dia ini.
"Nah, ini dia fotonya waktu SMP!" seru Meito. Ia menunjukkan beberapa foto yang jelas terlihat kalau itu diambil dari kamera CCTV. Di foto itu ada seorang perempuan yang sedang membaca di perpustakaan. Rambutnya dikepang, sama seperti waktu pertama kali Len bertemu Yuzuki. Bedanya, di foto ini rambut Yuzuki warnanya cokelat. Ia memakai kacamata frame tebal, dan sekilas terlihat di beberapa foto lain kalau matanya berwarna biru. "Terus, ada foto lainnya. Gue agak nggak yakin sih, tapi kayaknya ini beneran dia."
Meito kembali menunjukkan foto lainnya. Obyeknya masih sama, tapi penampilannya sangat jauh berbeda. Di sini, gadis itu sedang berbicara dengan polisi. Foto-foto ini jelas bukti kalau Yuzuki memang detektif karena tidak jarang ada detektif yang membantu polisi.
Rambutnya masih cokelat, bedanya kali ini dikuncir kuda. Matanya juga warna biru, tanpa kacamata dan tanpa behel. Kali ini ia memakai topi. Walaupun terlihat berbeda, Len tahu kalau gadis di foto itu adalah Yuzuki.
Len bingung harus kaget, senang, atau kesal. Kaget karena mengetahui kenyataan Yuzuki yang ternyata seorang detektif, senang karena mengetahui identitas asli Yuzuki dan ternyata sama-sama detektif, tetapi kesal karena ternyata gadis itu lebih hebat darinya.
Pertanyaannya, kenapa Yuzuki harus menutupinya?
"Dan di sini tertulis kalau dia tinggal sama bibinya."
Len kembali mengingat-ingat saat ia pergi ke rumah yang pagarnya bisa kebuka sendiri itu. "Terus, keluarganya yang lain gimana?" tanyanya. Meito kembali membuka folder lainnya.
"Hm … orangtuanya sudah meninggal waktu kecelakaan pesawat belum lama ini. Lo inget kan, berita kecelakaan pesawat di Eropa waktu itu?" tanya Meito.
"Yang berita kecelekaan di koran subsidi buat kelas A itu?" tanya Len, tak percaya. Meito mengangguk, ia kembali membaca artikel yang ia dapatkan.
"Eh, yang meninggal di pesawat itu cuma Ibunya aja sih," ujar Meito. "Kalau Ayahnya ... oh, dia sekarang tinggal sama Ayahnya juga, tapi gue nggak nemu foto ayahnya. Kayaknya dalam urusan nyembunyiin identitas malah lebih jagoan ayahnya, ya, daripada anaknya."
Len masih diam, berpikir keras. Meito melihat sahabat senasib seperjuangannya itu sejenak, lalu menutup laptopnya sambil berujar, "sorry, cuma segitu doang yang gue dapet."
Len mengangguk pelan. "Makasih banyak, To," Len berdiri dari sofa. "Tapi, kayaknya gue bakal pura-pura nggak tahu aja sampai dia sendiri yang cerita tentang ini."
Len kembali terpekur. Pertanyaan intinya memang sudah terjawab, tetapi pertanyaan itu malah memunculkan pertanyaan lainnya yang membuat insting keponya kambuh.
Dan kali ini, ia tidak tahu harus memulai dari mana.
.
Hari minggu, pukul 4 kurang 30 menit, sore hari. Len tampak sibuk mempersiapkan "pertemuannya" hari ini—ia masih ngotot kalau ini bukan kencan. Pemuda maniak pisang itu bahkan sudah satu jam berada di depan cermin. Rin yang melihatnya dari sofa pun sampai bosan.
"Len, jangan lama-lama ngacanya. Nanti cerminnya pecah," seloroh Rin. Len tidak mengacuhkannya, ia sibuk bersiul sambil menguncir rambutnya.
Rin jelas-jelas heran dengan perubahan mood kembarannya yang satu itu. Pasalnya, Len paling malas keluar di hari minggu, ia lebih suka menghabiskan liburannya dengan hibernasi pendek. Yah, dibilang hibernasi bukan karena tidurnya yang nyenyak, tapi karena Len bakal ngamuk kalau dibangunkan sebelum saatnya ia ingin bangun.
Lola keluar dari kamarnya, dan wanita berambut pendek itu langsung heran melihat Len yang sudah rapi. "Lo mau ke mana, Len? Ikut gue kerja?" tanya Lola yang kebetulan juga sudah siap. Rencananya, hari ini ia akan kembali ke luar kota. Sebut saja ingin mencari nafkah walaupun kalau untuk Lola itu agak mustahil.
"Gue mau pergi sama temen," jawab Len, tidak menoleh sedikit pun.
KRIING! Telepon kontrakan berbunyi. Entah kesambet apa, Len langsung berjalan bahagia ke telepon tanpa disuruh maupun diseret paksa. Rin dan Lola hanya bisa terbengong-bengong.
"Ya, Halo? Dengan detektif Len~"
"Len, ya?" tanya suara seberang yang terdengar seperti Leon. "Gue punya kabar gembira!"
"Oh, Abang gue yang paling kece!" Len memuji dengan wajah penuh cengiran. Kayaknya ia masih di bawah alam sadar. "Kabar gembira apa, Bang? Harga pete turun lagi?"
"Tumben banget lo muji-muji? Hahaha! Sebagai Abang yang baik, gue punya kabar buat adik gue yang paling imut! Ada kasus dadakan, nih! Gue tahu lo suka banget sama yang satu ini!" seru Leon, semangat empat-lima. Namun, respon yang Len berikan tidak seperti yang ia duga sebelumnya—semacam euforia detektif pemula yang jarang dapat kasus hingga teriakan-teriakan aneh mirip tarzan di hutan belantara. Len tidak menjawab, dan abangnya yang paling kece itu jadi panik. "Len? Lo masih napas kan?"
Len menguasai dirinya dari keterkejutan barusan. "Jangan bilang ada kasus yang harus diselesaikan saat ini juga…."
"TEPAT!" seru Leon dengan suara soak-soak bergembira. "Kasusnya gampang, kok! Cuma nyari kucing hilang, tapi bayarannya gede!"
Len langsung panik. "Bang, gue mau—"
"—iya, gue tau lo mau!"
Len menggeleng cepat. "Bukan, Bang! Gue nggak bisa! Gue mau pergi!"
Leon ber-hah tidak santai. Wajar saja, Len mau pergi di akhir pekan itu kejadian langka. "Pergi ke mana sih? Udah, batalin aja, Len. Lagian kasus ini cuma nyari kucing hilang kok. Katanya, lo langsung aja ke taman yang di depan kafe baru deket sekolah lo itu," jelas Leon. "Lo kan jago kalau soal nyari barang hilang. Setaralah kayak level intermediet di Zuma."
Len menggeleng lagi. "Walaupun di deket tempat janjian, gue juga tetep nggak bisa, Bang! Gue udah janji—"
"Gue tahu lo pasti mau! Cepet ke sana, ya, soalnya gue udah accept kasusnya! Bye!"
KLIK! Telepon ditutup langsung oleh Leon yang sengaja buru-buru karena takut Len menolak. Kali ini, Len yang membeku sampai telepon berdenging.
"Kamu mau ke mana sih, Len?" tanya Rin lagi. "Kasus kan paling cuma sebentar doang."
Len menaruh gagang telepon ke tempatnya, menoleh lemas. Len yang barusan semangat berbunga-bunga kini sudah lenyap. "Gue mau pergi, Rin. Gue udah janji sama Yuzuki..."
Lola langsung menoleh. "Len pergi? Sama cewek?" tanya Lola dengan nada penuh sindiran. Kalau Rin beda lagi, ia langsung kaget bukan main.
"APA? Yuzuki?!"
"Apaan sih, lebay." Len mencibir. "Gimana nih? Tinggal 25 menit lagi!"
Rin bergumam tidak jelas. "Ambil aja kasusnya! Lagian, lokasi kucing hilangnya sama kan? Di mana tadi? Kafe? Di dekat sekolah? Pasti sempet, kok!" seru Rin, tiba-tiba saja bersemangat. Berbeda dengan Lola yang langsung berwajah tidak tahu apa-apa.
"Gue pergi dulu, ya…." Lola mengangkat tangan kanannya, lalu nyelonong begitu saja keluar kontrakan. Ia tampak tidak tertarik dengan urusan percintaan Len. Nggak apa-apa sih, jadi aman kalau nggak ada Lola.
"Cepetan ke sana, Len!" seru Rin tak sabaran. "Nanti pas Yuzuki dateng, kamu temuin kucing itu. Terus, Yuzuki bakal muji kamu karena nyelesaiin kasus! Kan keren!"
Len menghela napas panjang. "Ini nggak bakal sedrama itu, Rin."
Rin langsung berdiri, ia segera mendorong Len keluar dari pintu. "Cepetan ke sana! Pastikan kasusnya selesai pas Yuzuki dateng!"
"Tapi, gue—"
"—Kamu nggak lupa kan kalau foto keramat itu masih kusimpan?" tanya Rin, tiba-tiba saja ekspresinya berubah. Auranya juga berubah, jadi seperti tokoh figuran nenek sihir di film-film. Saudara kembarnya itu menyeringai. Len yang melihatnya langsung syok sekaligus bergidik.
Foto keramat ... apa jangan-jangan foto gue yang didandanin jadi cewek itu?
"O-oke, oke! Gue bakal ke sana!" seru Len, sambil menuding Rin. "Tapi tolong jangan sebarin foto itu!"
Rin berubah, ia kembali tersenyum manis. "Baguslah. Selamat jalan!" seru Rin sambil mendorong Len untuk segera pergi.
Len akhirnya pergi dengan setengah berlari, sambil menghela napas panjang, merutuki nasibnya yang selalu sial.
.
Len akhirnya tiba di taman dekat sekolahnya, dan napasnya sudah satu-dua saja karena berlari mengejar waktu. Waktu aja dikejar, dasar emang kurang kerjaan. Ia melihat sekeliling, mendadak ingat kalau Abangnya tidak memberitahu ciri-ciri kliennya sama sekali.
Matanya tertumbuk pada sebuah kerumunan. Insting detektifnya bekerja, ia pun segera menghampiri kerumunan berjumlah lima orang yang terlihat bingung itu.
"M-maaf, apakah ada yang memanggil ... seorang detektif ke sini?" tanya Len, sambil mengatur napas. Ia juga baru sadar kalau Leon tidak memberitahukan nama kliennya. Lagi pula, Leon juga buru-buru menutup teleponnya, Abangnya yang satu itu terkadang suka minta dilindas jari kelingking kakinya.
"Oh! Kamu detektif Len?" tanya seorang perempuan paruh baya. Len mengangguk, sedikit terkejut. Perempuan paruh baya itu kembali melanjutkan, "saya! Kucing saya hilang! Tadi saya telepon ke kantor polisi, mau minta tolong cari kucing saya. Tapi, katanya mereka akan memanggil seorang detektif untuk datang kemari!"
Len tersenyum kaku, diam-diam tangannya mengepal. Kamfret. Jadi, ini sebenarnya tugas Bang Leon? omelnya dalam hati.
Len kembali menghela napas, "baiklah. Kalau begitu, bisa Anda sebutkan bagaimana ciri-ciri kucing tersebut?" tanya Len sambil mengeluarkan sebuah notes yang selalu ia bawa ke mana-mana. Ibu itu langsung berceloteh panjang-kali-lebar-sama-dengan-luas dari ciri-ciri kucingnya sampai kronologis saat kehilangan. Len mencatat dalam bentuk poin-poin, lalu menekan kepala pulpennya. "Oke, saya akan membantu Anda mencari kucing itu."
Len mulai bergerak mencari kucing hilang itu dan ingin segera menemukannya agar kasus selesai saat ini juga. Ia sampai masuk ke dalam semak-semak, tanpa sadar menginjak rumput yang padahal dilarang diinjak, hampir tercebur ke air mancur, dan tiga kali menabrak ranting pohon. Lima belas menit berlalu, ia tetap tidak menemukan kucing yang sesuai dengan ciri-ciri yang sudah disebutkan.
Langit mulai mendung berawan, Len menatap langit dengan wajah yang sudah hampir menyerah. Ia juga selalu melirik ke jam tangannya yang semakin lama semakin mendekati pukul empat sore. Hingga lima menit sebelum pukul empat, Len berhenti mencari. Ia berjalan gontai ke arah kliennya dengan wajah bersalah.
"Maaf, sepertinya saya tidak bisa menemukan kucing Anda," ujar Len, lirih. "Kalau Anda mau, saya akan memasang selebaran di penjuru kota tentang informasi kehilangan kucing Anda... Bagaimana?"
Perempuan paruh baya itu tampak kecewa, lalu ditenangkan oleh lelaki di sebelahnya yang menepuk-nepuk pundaknya sambil mengangsurkan sapu tangan. Len kembali merasa bersalah. Pasalnya, baru kali ini ia gagal menyelesaikan kasus "barang hilang". Ia mengacak-acak rambutnya, kesal. Rasanya, ia ingin menceburkan diri ke air mancur tadi dan berteriak sekeras-kerasnya di dalam air agar tidak menggema.
Namun, rencana bodohnya langsung buyar setelah mendengar suara samar seseorang. Len menoleh kanan-kiri, mencari sumber suara.
"Len!" panggil suara itu lagi, dari belakang Len.
Pemuda shota itu langsung menoleh, dan mendapati gadis berambut ungu yang berlari kecil menghampirinya. Ia memakai one piece selutut berwarna putih dan mendekap seekor kucing. Gadis itu berhenti di satu titik, di mana ada sebuah cahaya tunggal dari langit yang membelah awan dan mengarah ke arahnya. Angin sepoi-sepoi sore hari bertiup, membuat rambut gadis itu bergerak dengan dramatis.
Gadis itu adalah Yuzuki, dan Len merasa seperti baru saja melihat bidadari yang turun dari langit.
"PIIKO!" seru perempuan paruh baya itu, Len yang di sebelahnya langsung terkejut—sempat mengira salah satu teman senasib seperjuangannya, Piko, dikutuk jadi kucing. Tahu-tahu saja, kucing yang ada di dekapan Yuzuki langsung mengeong dan melompat, berlari ke arah klien Len yang sudah membentangkan tangannya sambil berlinang air mata.
Pertemuan yang sangat dramatis, bahkan mengalahkan kedramatisan Len dengan Yuzuki.
Yuzuki menepuk-nepuk bajunya. "Oh, kamu lagi ngurusin kasus, ya? Kukira kamu kenapa-kenapa," ujarnya sambil tersenyum. Manis sekali. Saking manisnya, Len bisa-bisa terkena diabetes seketika.
Len meralat ucapannya yang tadi ia katakan pada Rin. Ia tidak menyangka kisahnya bisa sedrama ini.
Lebay, ya? Biarin, ah~
Len mengangguk pelan. Ia memerhatikan Yuzuki dari atas sampai bawah. Terpesona. Yuzuki yang dilihat seperti itu langsung merona.
"Eh … aneh, ya?" tanyanya, ada semburat merah muda di pipinya.
Len menggeleng cepat. "Nggak kok. Kamu…," Len menggantungkan kalimatnya. "… cantik," lanjutnya—dan itu benar-benar berada di bawah alam sadarnya karena pemuda shota itu terkejut sendiri dan buru-buru membuang muka. Wajahnya pun mulai tertular semburat merah muda dari Yuzuki.
Namun, kali ini semburat itu beralasan.
Eeeaaaa~
.
Di tengah suasana kafe yang ternyata cukup ramai, ada satu meja yang hening. Kedua manusia itu diam saja sejak 600 detik yang lalu. Saling diam, saling tatap, saling merona, dan saling menyimpan sesuatu.
CIEEEE.
Len menelan ludah, ia tiba-tiba bersuara, "eh, itu … aku mau nanya," ujarnya, dan atensi gadis itu langsung beralih ke Len. "S-Sebenarnya, aku heran sama kamu yang ngomong pakai aku-kamu, bukan gue-lo. Kenapa?"
Hah, topik apaan itu, Len? Memangnya kamu kira ini lagi pelajaran bahasa Indonesia?
"Oh, itu ... aku udah terbiasa dari kecil, lagipula aku juga dari luar negeri." Yuzuki tersenyum kikuk. "Eh, aku belum bilang, ya? Aku dari luar negeri, dan baru pindah ke sini—ke negara asli orang tuaku."
Len terdiam sejenak. "Luar negeri? Keren banget," ujarnya, tetapi tidak terlalu terkejut karena ia sudah mengetahui hal ini.
Yuzuki buru-buru mengibaskan tangannya, "eh, kalau kamu mau ngomong gue-lo juga nggak apa-apa kok."
Len buru-buru menggeleng. "E-enggak kok! Itu ... err, a-aku nggak apa-apa!" seru Len, terbata-bata.
Ehem. Ada yang salting nih.
Yuzuki ketatol, ketawa toleransi, tapi hanya selama 3 detik saja dan suasana kembali hening. Awkward.
Lagian ... apapula dengan topik obrolan Len barusan? Kalau ada Meito, pasti dia sudah digeplak dan disalto. Sudah bisa dipastikan kalau Meito bakal langsung heboh dan memberi 1001 saran topik obrolan yang baik dan romantis ala Meito.
Yah, gitu-gitu juga Meito terkenal sebagai playboy di kota ini, kan. Entah itu bisa dibanggakan atau tidak. Paling tidak, itu artinya Meito laku keras, nggak kayak Len yang nasibnya 11:12 sama kacang rebus.
Kencan hari itu, kalau memang disebut kencan, berjalan tanpa ada hal yang menghebohkan—menurut ukuran Meito. Entah bagaimana "heboh" menurut Meito, mungkin tiba-tiba ada parade barongsai lewat, atau mendadak ada kru tv yang bilang "kena deh!"
Selama satu jam lebih, meja Len dan Yuzuki hanya didominasi dengan saling diam dan saling tatap, dilanjutkan dengan saling merona dan tersenyum sendiri. Kalau Meito lihat, pasti dia bakal protes abis-abisan ke Len dan mengenakan remedial ke kedua remaja itu, lalu menyuruh keduanya kencan ulang dengan baik dan benar.
Untungnya, mereka tidak bertemu Meito di jalan pulang. Len mengantarkan Yuzuki sampai rumahnya dulu dengan berjalan kaki, setelah itu baru pulang ke kontrakannya. Selama di perjalanan pulang itulah, Len mulai berpikir banyak hal.
Tentang Yuzuki, tentang kejadian hari ini, juga tentang jantungnya yang berdetak sepuluh kali lebih cepat sejak satu jam yang lalu.
.
Pada suatu masa ketika Anda tidur Anda tidak bisa melek, Len dan Meito kembali menikmati waktu istirahat dengan ngopi-ngopi ganteng. Itu dua makhluk karena keseringan jalan berdua, pernah nyaris dikira humu beneran, lho. Untung saja langsung diklarifikasi oleh Meito yang langsung pidato singkat di depan para fansnya—para fujodanshi sejati—yang sempat patah hati karena mereka kira selama ini selera Meito bukan cewek lagi. Bahkan, Meito pamer kalau dia sudah tidak jomblo lagi—lupa kalau Len masih seorang sendiri.
"Gue bukan jomblo, tapi individu," kilah Len kalau ditanya perihal statusnya yang tak kunjung berubah.
Namun, ada satu pemandangan yang mengusik pikiran Len saat itu, yaitu seorang gadis berambut ungu yang berada lima meja di depan mejanya. Gadis itu sedang dikerubungi teman-temannya, tersenyum manis. Melihatnya saja, rasanya Len langsung terkena diabetes. Bahkan saking terpesonanya, Len lupa kalau dia lagi minum bareng Meito.
"Len, lo naksir Yuzuki, ya?" tanya Meito yang sedaritadi memperhatikan sohibnya itu. Mendengarnya, Len yang memerhatikan sambil pura-pura minum kopi itu langsung tersedak. Meito langsung panik, "eh, lo kenapa? Santai aja minumnya, jangan kayak nggak pernah minum kopi gitu."
Len menaruh cangkirnya dengan sediki gemetar. "K-kopinya pahit ... makanya gue sembur," dusta Len dengan tidak lihainya. Entah kenapa sejak kejadian kemarin, Len selalu aneh setiap mendengar nama Yuzuki atau melihat Yuzuki, bahkan dari radius satu kilometer. Ia juga mulai hobi ngibul kalau ditanya perihal Yuzuki oleh Meito. Ia takut terjadi hal yang iya-iya kalau Meito sampai tahu soal ini.
Gawat aja gitu. Meito kan kayak ember botjor, alias suka sengaja nyebar rahasia.
"Dasar aneh, memangnya sejak kapan kopi rasanya asin?" Meito mencibir. "Oh, iya. Jawab pertanyaan gue yang tadi! Lo naksir Yuzuki, ya?"
Len menggeleng cepat, lalu kembali pura-pura akan menyeduh kopi. "Nggak kok. Hobi amat sih nanyain soal itu. Mau nyomblangin gue sama dia?" tanya Len, pura-pura kesal. Padahal, jantungnya serasa mau lompat keluar.
Eeeaaa~
Untung saja Meito hanya mesem-mesem dan berhenti bertanya soal Yuzuki lagi. Kali ini, Len bisa bernapas lega walaupun ia tidak yakin sampai kapan ia bisa bernapas lega selama masih ada Meito di sekitarnya. Len kembali meminum kopinya, dan pikirannya kembali dipenuhi oleh Yuzuki dan Yuzuki.
Ah, dasar. Yang lagi dimabuk cinta memang suka gitu.
"Eh, To. Biasanya lo ngasih kado apa ke Yufu?" tanya Len.
"Kado?" tanya Meito balik, agak curiga dengan pertanyaan Len, tapi ia tepis curiga itu. "Hmm ... yah, kadang kalau gue lagi pengen romantis, gue taruh barang kesukaan dia di lokernya diam-diam. Biasanya, cewek suka tuh yang kayak begitu."
Len ber-oh ria, lalu kembali berpikir. Ia tidak sadar kalau sedaritadi Meito memerhatikannya.
Karena terkadang, menjadikan Meito sebagai konsultan cinta Len memang bagus, tapi di sisi lain juga membahayakan keselamatannya.
.
"Kamu suka apa?"
"Aku suka monyet."
"Kenapa?"
"Soalnya monyet itu lucu. Kayak kamu, Len. Mihihi."
Len kembali mengingat chat-nya dengan Yuzuki semalam. Dari chat itulah Len jadi tahu kalau Yuzuki suka monyet, dan inilah alasan kenapa Len membawa sebuah boneka monyet yang ia sembunyikan di punggungnya. Len membeli boneka itu semalam, bahkan ia sudah sejam memilih boneka di toko boneka itu sampai diledekin mbak-mbak kasirnya.
Dan hari ini, tepat setelah kegiatan ekskul selesai, Len berniat menaruh boneka itu di loker Yuzuki—mengikuti cara Meito. Saat itu sekolah sudah sepi, jadi cukup aman untuk melakukan hal yang berbau rahasia dan jahat, seperti nyolong sepatu misalnya.
Pemuda shota itu berjalan mengendap-endap menuju loker, mencari loker milik Yuzuki. Tidak sulit sebenarnya untuk menemukannya, apalagi sejak hari minggu tempo hari Len sering memerhatikan Yuzuki dari jauh dan tanpa sadar jadi hafal letak lokernya. Padahal tanpa dihafal pun sudah ada nama pemiliknya sih.
Len mendekati loker Yuzuki, mengendap-endap mirip maling ayam. Ia mengecek keadaan, siapa tahu ada orang kurang kerjaan yang melihatnya dan menuduhnya sedang merencanakan hal mesum dan tidak senonoh.
Aman.
Ia membuka pintu loker itu perlahan, dan loker itu terbuka. Sebenarnya, saat pagi hari tadi, Len sempat mengobrol dengan Yuzuki di depan loker miliknya. Saat itu pula Len bersyukur karena pernah membaca komik detektif, dari komik itulah ia jadi punya ide untuk menahan loker yang mengunci otomatis dengan menyelipkan permen karet. Agak jorok sih, tapi yang penting berhasil.
Mau tahu caranya? Tanya Len aja~
Len segera menaruh boneka monyet yang ia beli semalam. Di kalung boneka itu ada sebuah surat kecil yang ditulis Len pakai tangan kiri. Isinya:
"Hi! I am Mongki!"
Iya, gitu doang.
Ya, udahlah, suka-suka Len aja. Len juga sengaja menulis pakai tangan kiri biar Yuzuki tidak mengenali gaya tulisan tangannya. Lagi pula, tulisan tangan kiri dan tulisan tangan kanan Len berbeda jauh, jadi sepertinya bakal sulit ditebak oleh Yuzuki
Ya, semoga saja begitu. Len baru ingat kalau Yuzuki detektif terkenal di negara tetangga.
Setelah menaruh boneka itu, Len pun buru-buru menutupnya. Ia tersenyum puas, rencananya berjalan dengan mulus!
Namun, ketika berbalik, ia bertemu dengan mimpi buruk yang sudah menyeringai.
"Halo, Mongki," sapa Meito sambil berkacak pinggang.
Len memucat seketika.
Sial.
.
.
to be continued: part (3² - 1)
.
.
A/N
Akhirnya rilis juga ini chapter 7 yaampun minta digetok banget emang author-nya pehape pisan. :( /keum /ituelukeum
Yak, romance-nya sudah muncul, ini genre yang entah kenapa bisa saya masukin padahal pengalaman romens saya cuma sebatas gebetan sampai mantan gebetan aja. /jangancurhatkeum
Omong-omong, romance-nya udah dari chapter lalu sih, tapi yang ini lebih kentara. (?) Anti mainstream ya pair-nya? Nggak apa-apalah ya, kan fiksi penggemar. Ehehe hehrhr ehrhehhehehwhwhhehe. /keum
Maaf update-nya super-duper-lama. Kalau dibolehin ngeles ya ... alesannya nggak jauh-jauh sih dari "sibuk". :"3 Semoga suka dan selalu kepo sama kelanjutan kisah Len yang senantiasa saya nistain, HAHAHA. /digetok fans lens/
Akhir kata, semoga menghibur!
regards,
keumcchi yang lagi mudik dan kena macet.
