Taeyong's Mark (Chapter 7)
.
.
Tok tok
Suara ketukan pintu memasuki indra pendengaran Jaehyun. Sembari membenarkan kerah kemejanya pemuda itu melangkah menuju pintu rumahnya.
"Pagi hyung, sudah baikan?", sapa sang tamu begitu pintu terbuka. Jaehyun tersenyum dan menganggung tipis.
"Morning, Mark. Sudah lebih baik dari kemarin.. Berangkat bersama?"
Mark-si tamu- mengangguk semangat. Lengannya terangkat demi merapikan kerah juga dasi Jaehyun yang kacau.
"Hyung tidak perlu membawa mobil. Aku yakin lengan hyung masih belum sembuh benar, jadi... Kita naik bus"
Jarak wajah mereka yang tipis membuat Jaehyun bisa merasakan hembusan nafas Mark di lehernya. Mark yang berceloteh semangat tak menyadari bahwa senyumannya berhasil membuat hati Jaehyun berdesir. Aroma vanilla kini Jaehyun tetapkan sebagai aroma favoritnya berkat Mark.
Jaehyun sadar Mark itu sosok yang ramah. Tak perlu waktu lama baginya untuk menerima panggilan akrab meninggalkan sufiks -ssi yang menggantung di namanya. Pemuda manis itu juga tidak anti skinship. Dengan santainya Mark mengamit lengan berotot Jaehyun dan menautkan jemari di sepanjang perjalan mereka.
Tanpa sadar hati Jaehyun menghangat. Setelah seratus tahun hatinya membeku kini Mark menjadi satu-satunya yang dapat mencairkannya. Dulu Jaehyun bertanya-tanya, apa kelebihan seorang Mark Lee hingga diperebutkan oleh Taeyong dan Johnny. Pemuda ini tak memiliki kekuatan yang bisa ia pamerkan, kepintaran yang bisa dibanggakan. Hanya paras manis yang menarik perhatian yang ia miliki. Namun kini Jaehyun sadar, bahwa Mark memiliki sesuatu yang spesial yang tidak orang miliki.
Jaehyun tersentak ketika Mark menyelipkan earphone di telinganya. Ia pun menoleh.
"Hyung, suka musik?", Jaehyun mengangguk.
"Tentu saja. Wae?"
"Hyung punya lagu yang paling sering hyung dengar?"
Jaehyun diam sejenak sebelum akhirnya menjawab, "NCT 127 Angel dan Paradise, aku suka sekali lagu itu". Manik Mark berubah berbinar. Selanjutnya obrolan mereka dilanjutkan tentang musik sambil sesekali tertawa. Kondisi busyang cukup lengang menolong mereka. Hanya beberapa siswa yang memandang iri pada mereka karena jujur saja, mereka tampak seperti sepasang kekasih. Tanpa Jaehyun sadari ia sudah jatuh terlalu dalam pada pesona Mark. Dan untuk pertama kalinya, Jaehyun jatuh cinta.
.
.
Mark dan Jaehyun sama-sama menoleh ke sisi kiri mereka ketika lengan Mark dicekal oleh seseorang.
"Aku ingin meminjam Mark-ku sebentar, boleh kan Jaehyun-ssi?", orang itu menekankan kata Mark-ku dalam kalimatnya. Ya, orang itu adalah Taeyong. Tanpa menunggu jawaban Jaehyun, Taeyong menarik tangan Mark meninggalkan pemuda berdimple itu sendirian di depan pintu kelas Mark dengan tangan terkepal.
.
.
Bruk
Mark meringis merasakan punggungnya menabrak kerasnya dinding di belakangnya. Namun lebih dari itu, ia takut pada ekspresi yang ditunjukkan Taeyong. Ingin rasanya ia pergi, namun kedua lengan Taeyong mengukungnya.
"Yak hyung kenapa?!", pekiknya marah sambil berusaha mendorong lengan Taeyong yang mengukungnya. Namun tetap sajaia kalah kuat, yang ada justru pergelangan tangannya dicekal erat oleh Taeyong hingga menempel ke dinding.
"Justru kau yang kenapa Mark?! Kau sengaja melakukannya?! Kau sengaja bermesraan dengan si brengsek itu agar aku cemburu?", Mark menatap Taeyong tak percaya. Matanya memanas.
"Selamat, kau berhasil membuatku cemburu. Apa mempunyai seseorang yang mencintaimu begitu dalam semenyenangkan itu? Kenapa kau begitu egois?"
Mark tertawa sarkas, "Egois? Ya benar, aku egois. Aku egois karena berharap kau sadar hyung. Aku membutuhkanmu! Bukan Johnny! Bukan Jaehyun! Kau sendiri yang mencampakkanku seperti sampah dan kau bilang aku egois?! Jika aku egois lalu kau apa?!", Taeyong terbelalak. Mark dengan wajah berurai airmata meneriakkan segala kekesalannya.
"Kita sudah berakhir, hyung. Kau tak berhak mengekangku lagi. Just do whatever you want. It doesn't matter to me. I'll just go to found someone else.."
Entah kemana semua emosi dan kekuatan Taeyong tadi. Dengan mudahnya Mark melepaskan dirikemudian berlari meninggalkan Taeyong. Kata-kata Mark bagai sebilah pedang yang menikam jantungnya. Begitu menyakitkan. Ia menyugar surai arangnya dan mengusap wajahnya kasar. Setelah bergelut dengan dilemanya ia memutuskan mengejar Mark.
.
.
Taeyong menyesal mengejar Mark. Hatinya berteriak kesakitan melihat pemandangan radius 5 meter darinya. Dimana disana terdapat Mark yang menangis dalam dekapan Jaehyun. Jemarinya mengepal melihat Jaehyun dengan santainya mengecupi surai Mark seperti yang dulu biasa ia lakukan.
Dan yang terjadi selanjutnya membuat Taeyong tidak tahan untuk tidak segera pergi dari tempatnya.
Jaehyun baru saja mempertemukan bibirnya dengan bibir Mark. Dan Mark tidak menolak.
.
.
"You just make it more complicated, dude."
Taeyong tidak menggubris kalimat Johnny. Bukan karena ia tak mengerti, namun karena ia menyetujui kalimat itu.
Dulu yang ia harapkan hanya Mark dan Johnny yang berdamai seperti dulu hingga jika ia harus meninggalkan Mark, Johnny dapat menggantikan posisinya. Harusnya ia bisa saja menarik kalimatnya dulu, mengembalikan Mark ke dalam pelukannya. Namun yang barusan ia lakukan justru membuat Mark semakin menjauhinya. Batinnya bergejolak. Haruskah ia meminta maaf pada Mark?
.
.
"Mark, wait!"
Taeyong segera mengejar Mark yang berjalan cepat usai melihatnya. Ia tak menggubris panggilan Taeyong.
"Mark, I'm sorry but we need to talk. Mark!"
Grep
Akhirnya Taeyong berhasil memegang lengan Mark, menahan laju pemuda manis itu.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, hyung. Sekarang lepaskan tanganku. Lepas!", Mark terus meronta berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Taeyong. Namun pemuda itu tetap menahannya. Tak peduli dengan orang-orang yang menjadikan mereka tontonan.
"Lepaskan, hyung! Its hurt.."
"Bukankah dia sudah meminta untuk dilepaskan, Taeyong-ssi. Lihat, kau membuat pergelangan tangannya memerah"
Mark menoleh,"Jaehyun hyung"
Taeyong menuruti ucapan Jaehyun menatap pergelangan tangan Mark yang ia cengkram. Kulit putih itumemerah. Sontak ia melepaskan cengkramannya, menatap Mark dengan rasa bersalah.
"Mark, I'm sorry..", seketika pandangan Taeyong berubah menajam ketika Jaehyun menggenggam jemari Mark.
"Mark, please.. We need to talk.. Jangan paksa aku menarikmu.."
"Dia sudah bilang tidak mau kan? Kau harus menerima keputusannya.."
"Aku tidak berbicara denganmu, brengsek."
Taeyong melangkah maju kembali menarik tangan Mark yang sedari tadi hanya diam namun ditahan oleh Jaehyun.
Ia kemudian mengayunkan kepalan tangannya pada Jaehyun hingga pemuda itu terpental.
"Hyung!", pekik Mark lalu̶
Plak
Pandangan Taeyong terlempar ke samping. Matanya memanas tak percaya. Rasa panas di pipinya tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Dalam sepersekian sekon Mark menatap telapak tangannya kaget, namun selanjutnya ia memilih menghampiri Jaehyun, meninggalkan Taeyong dengan sejuta luka di hatinya.
.
.
Tatapan Mark menerawang kosong keluar jendela kamarnya. Lebih tepatnya kearah dua buah ayunan di halaman rumahnya, tempat dimana dulu Taeyong mengambil ciuman pertamanya. Meskipun sudah berjam-jam terlewati, rasa panas di telapak tangannya masih terasa. Ia tak pernah menyangka ia akan menampar Taeyong. Mark tak sanggup membayangkan apa yang dirasakan Taeyong saat itu. Benaknya berputar kembali ke masa lalu. Dulu ketika mereka bertengkar, Taeyong selalu menjadi yang pertama di antara mereka yang meminta maaf lebih dulu. Ketika Mark yang salah dan meminta maaf, pemuda tampan itu selalu memaafkannya. Batinnya bergejolak.
Benarkah ia tidak egois?
.
.
Setelah insiden penamparan itu, Taeyong menghilang bagai ditelan bumi. Mark tak pernah sekalipun menemukan batang hidung pemuda tampan itu. Ponselnya tidak aktif. Dan hal itu membuat Mark merana.
Pandangannya menerawang kosong ke ponselnya yang menampilkan wallpaper dirinya yang tengah mengecup pipi Taeyong. Ia merindukan kenangan itu. Kenangan sebelum 3 minggu yang lalu yang berujung pada berakhirnya hubungan keduanya. Selanjutnya Mark tak lagi pedulipada sang guru yang berceloteh di depan kelasnya. Karena pikiran juga raganya telah melayang ke masa lalu, memutar kenangan indah dirinya dan Taeyong.
.
.
Flashback
Ribuan kubik air jatuh membasahi bumi. Orang-orang mengeluh kesal pasalnya hujan turun di waktu mereka hendak pulang ke rumah lalu bergelung dalam selimut dengan secangkir coklat panas. Hal itu pula yang dirasakan oleh pemuda pemilik paras manis bernametag 'Mark Lee' di bawah lindungan atap halte bus. Sesekali pemuda itu mengusap lengannya sendiri demi mencari kehangatan. Salahkan kebodohannya tak menggubris ramalan cuaca hari ini.
Mark memandang iri pada seorang pemuda yang kini berdiri tak jauh darinya dengan payung hitam di tangannya. Pemuda itu bahkan memakai hoodie hitam yang hangat. Mark kembali memandang kearah jalanan yang mengeluarkan aroma petrichor. Ia tak menyadari pemuda di sampingnya tersenyum tipis melihat wajah kesalnya.
Mark menadahkan sebelah tangannya ke depan, menikmati air yang berjatuhan membasahitelapak tangannya. Ia mencoba mengacuhkan suara payung yang terbuka milik pemuda di sampingnya. Sekali lagi, Mark tak menyadari pemuda itu telah melepaskan hoodie hitamnya.
Puk
"Hati-hati di jalan"
Kejadiannya begitu cepat. Pemuda itu kini menghilang dari samping Mark setelah melakukan dua hal yang sanggup membuat para gadis meleleh. Mark hanya bisa termangu menatap telapak tangannya yang kini menggenggam sebuah payung. Meskipun hujan membasahi telapak tangannya, rasa hangat akibat jemarinya bersentuhan dengan milik pemuda itu masih terasa. Aroma mint yang menenangkan menguar dari hoodie yang tersampir di lengannya. Sudut bibir Mark terangkat naik mengulas senyum. Ia bertekad untuk selalu mengingat setiap detail wajah tampan pemuda pahlawannya itu. Hatinya bergejolak bagai gadis remaja dilanda cinta pada pandangan pertama. Awalnya Mark tak percaya akan hal itu, namun kini ia mengalaminya sendiri.
.
.
"Hyung, do you believe love at first sight?", tanya Mark pada Johnny yang duduk dihadapannya sambil memakan makan siangnya.
Johnny mengerutkan keningnya bingung,"Hei Mark, apa kemarin kepalamu terbentur sesuatu?"
Mark mendengus. Ia menyesal bertanya pada Johnny yang notabene-nya tak pernah benar-benar jatuh cinta. Harusnya ia bertanya pada Evelyn saja.
Melihat wajah cemberut Mark, Johnny pun terkekeh pelan. Tangannya yang semula menggenggam sumpit kini beralih mencubit pipi berisi Mark.
"Ayolah, jangan marah. Nanti cantiknya berkurang."
Mark menatap Johnny jengah,"Hyung, aku ingatkan jika kau lupa. Aku ini bukan perempuan. Dan rayuanmu itu takkan berpengaruh padaku. So stop it..". Dengan beringas Mark menyuapkan makanan ke mulutnya seolah tengah memerankan ancamannya pada Johnny. Yang bisa pemuda tinggi itu lakukan hanya tertawa pelan. Sesekali ia menambahkan daging miliknya ke sendok Mark, agar Mark semakin semok katanya, yang kemudian berujung aksi perang sumpit antara keduanya.
Aksi keduanya baru berhenti ketika mata bulat Mark menangkap sosok pemuda yang mirippahlawannya kemarin memasuki kantin.
Johnny yang melihat Mark mengabaikan nampan makanannya pun menoleh mengikuti pandangan Mark.
"Lee Taeyong?"
"You know him?!", Mark berseru kaget. Ia tak mengira Johnny mengenal pemuda itu.
"Eumm, all in school know him except you. He's the second strongest Demion after Jungkook.", balas Johnny santai.
Mark menganga. Jika tak ada tangan putih yang bergerak menutupnya mungkin Mark akan mati konyol karena tersedak lalat. Mark menoleh pada pemilik tangan putih tersebut dan seketika maniknya membola.
Sejak kapan Taeyong berada di sampingku?!, batin Mark berteriak.
Aliran darahnya naik hingga ke pipi ketika Taeyong tersenyum, meninggalkan rona merah disana. Taeyong kemudian duduk di samping Mark, mengabaikan tatapan bingung orang-orang.
"Kau pulang dengan selamat kemarin kan?"
Bolehkah Mark pingsan sekarang juga? Suara Taeyong menggetarkan hatinya hingga ia hanya bisa mengangguk seperti anak gadis.
"Syukurlah kalau begitu."
"Wait- kalian kencan?", selaJohnny membuat Mark tersedak minumannya. Dengan sigap Taeyong menepuk pelan punggung Mark.
"Kau baik-baik saja?", tanya Taeyong dengan gurat khawatir yang tercetak jelas di wajahnya. Mark hanya mengangguk sambil mendelik kearah Johnny.
"Kami tidak berkencan, Johnny. Setidaknya belum. Aku hanya sedikit menolong saja.", kata-kata Taeyong membuat Mark merona parah. Apa Taeyong baru saja memberinya kode?
"Memangnya kau yakin dia mau kencan denganmu?",rona kesal jelas tampak di wajah Johnny.
Taeyong mengendikkan bahu,"Entahlah, tapi biasanya gadis cantik menyukaiku"
"Tapi dia bukan gadis, dasar bodoh!",sela Johnny kesal melihat Mark yang hanya diam, berbeda dengan ketika dirinya yang mengatakan pemuda itu seperti gadis.
"Benarkah? Aku ragu. Dia cantik sekali, juga manis."
Bolehkah Johnny memukul kepala Mark agar pemuda itu sadar pada respon yang seharusmya ia lakukan? Bagaimana bisa hanya dalam 5 menit Mark merubah pendiriannya?
Sekarang pemuda itu malah merona seperti gadis yang sedangkasmaran. Namun sialnya, Taeyong berkata benar. Mark memang begitu manis, apalagi mata bulat yang dihiasi bulu mata yang lentik juga bibir tipisnya yang minta dicium itu. Mark terlalu mempesona.
Ya, Johnny jatuh cinta pada Mark. Ia tidak tahu sejak kapan perasaan aneh itu menghampirinya namun ketika Mark tersenyum, Johnny tidak dapat menampik bahwa jantungnya berdegup kencang. Eksistensi Mark di sampingnya bagai candu baginya. Dan kini Johnny harus menetapkan Taeyong sebagai ancaman bagi dirinya dan Mark.
.
.
"Terima kasih, Sunbaenim, sudah mengantarku pulang", Mark sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Tidak masalah, tapi bolehkah aku berharap imbalannya?"
"Ne?"
Manik obsidian Mark membulat. Dengan mengayunkan ayunan yang ia duduki, Taeyong mempertemukan bibir mereka, sontak membuat gerakan ayunan Mark terhenti.
Ciuman itu hanya berlangsung selama 18 detik sebelum mereka akhirnya memisahkan diri.
"Mark", panggil Taeyong yang seketika membuat Mark menolehmenatapnya.
"N-ne?"
"Apa kau punya waktu luang akhir pekan ini?", tanya Taeyong sambil mengusap tengkuknya. Mark memiringkan kepalanya bingung. Namun pada akhirnya ia tetap mengangguk.
"Sepertinya ada, memangnya ada apa Sunbae?"
Taeyong tersenyum sambil mendekatkan wajahnya.
"Keberatan untuk kencan denganku?"
Senyuman Taeyong seolah menghipnotisnya untuk mengangguk.
Dua sejoli itu tidak menyadari bahwa mereka baru saja menghancurkan hati Johnny hingga ke keping terkecil.
Flashback end
.
.
Mark sendirian di lorong yang sepi itu. AC yang berhembus terlalu rendah menyentuh kulit berlapis kemeja putih sekolahnya, menghantarkan rasa dingin yang membuatnya menggigil seketika. Ia menatap pintu berbahan metal berukir angka 0107 di depan matanya. Lampu otomatis yang hanya menyinari tempatnya berdiri saja, melupakan tempat lain di sisi kiri dan kanannya tak sedikitpun menakuti dirinya meskipun detak jam di pergelangan tangannya menggambarkan pukul 10 lewat 17 menit.
Ia mendekatkan wajahnya padaIntercom sebelum mulai meracau.
"Taeyong hyung", bisiknya sakau. Rasa dingin menyentuh epidermis keningnya yang bertemu dengan permukaan pintu berwarna hitam pekat itu.
Mark mengangkat ibu jarinya menekan bel pada intercom hingga deringnya menghiasi lorong yang sepi itu. Hatinya begitu sakit. Luka menganga di dalam sana mengirimkan impuls rasa sakit juga sesak hingga airmatanya meringsek keluar.
"Taeyong hyung", panggilnya kembali. Meskipun ia amat tahu deretan angka yang harus ia masukkan pada pengaman pintu itu, ia tetap tak melakukannya.
Mark hanya ingin Taeyong yang membukakan benda besi ini untuknya, membawa tubuhnya ke dalam pelukan hangat miliknya.
Tungkainya melemas. Hampir 24 jam tak ada secuilpun makanan memasuki lambungnya. Namun rasa sakit akibat asam lambungnya yang naik tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya.
Mark memejamkan matanya. Punggungnya bersandar pada permukaan pintu.
"Kuhitung sampai tiga, dan hyung harus membukakan pintu untukku", tak ada jawaban. Iamenarik nafas kemudian menghembuskannya.
"Satu", Mark mulai menghitung. Ia juga membenturkan kepalan tangannya pada permukaan pintu.
"Dua", masih tak ada tanda pintu akan terbuka. Airmata masih mengalir di pipi Mark.
"Tiga", meskipun tangisannya mengencang, pintu itu tetap kukuh tertutup. Tangisan penuh kehancuran Mark menghiasi lorong gelap itu.
"Tiga", sambil sesekali membersit berisik, Mark mengulagi satu angka itu hingga untuk angka tiga yang kesekian puluh kalinya ia merengek, meracau, berteriak sakau.
Harusnya bukan dia yang bertingkah gila seperti ini. Harusnya bukan dirinya yang berteriak mengaku kalah di malam dingin seperti ini.
Mark sadar cintanya pada Taeyong terlalu dalam. Pemuda manis itu menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit yang menyeruak di setiap titik di tubuhnya.
"Kau menang, hyung. Aku mengaku kalah. So please.. Come here and hug me.. Please.."
Detik berikutnya mata indah itu terpejam. Tubuhnya limbung menghantam ubin nan dingin. Bersamaan dengan itu, dua orang pemuda datang dari kedua sisi. Salah satunya berada amat dekat dengan Mark. Pemuda itu mengangkat tubuh Mark dalam kungkungan lengannya.
"Seperti biasa, kau selalu cepat ya, Taeyong-ssi."
Taeyong mengalihkan perhatiannya dari wajah pucat Mark, menatap Jaehyun yang berdiri tak jauh darinya. Ia hanya diam, tak berniat sedikit pun berniat untuk membalas perkataan Jaehyun.
"Jika kau terlambat sedikit saja, mungkin saat ini aku yang menggantikan posisimu."
Taeyong mulai melangkah pelan, namun tak lama terhenti akibat perkataan mengejutkan Jaehyun.
"Aku membiarkanmu untuk sekarang, karena setelah aku membunuhmu nanti, Mark akan menjadi milikku seorang"
.
.
Kehadiran Taeyong dan Mark di tengah lobby rumah sakit secara tiba-tiba itu mengejutkan banyak orang. Salah satu perawat yang menyadari situasi segera membawa sebuah tempat tidur beroda menuju Taeyong. Usai membaringkan tubuh mungil Mark, Taeyong menyerahkan pemuda kesayangannya itu untuk mendapatkan perawatan.
Taeyong merogoh sakunya saat merasakan ponselnya bergetar. Ia mulai melangkah perlahan. Matanya tak terlepas dari sosok Mark yang terpejam diatas ranjang yang didorong oleh beberapa perawat.
"Halo?"
'Taeyong oppa?'
Deg
Jantungnya berdegup kencang. Langkahnya yang mendadak berhenti menimbulkan bunyi decitan akibat pertemuan antara sepatunya juga ubin putih nan bersih yang diinjaknya. Ia ingat suara ini. Sangat ingat malah.
Bayangan seorang wanita cantik berkulit putih menghiasi benaknya.
"Y-Yuhee?"
Terdengar suara desau tawa lembut di seberang sana.
'Ne, Oppa. Ini aku, Yuhee.'
Yuhee. Park Yuhee nama lengkapnya. Wanita yang tengah berbicara pada Taeyong melalui ponsel itu adalah mantan kekasih Taeyong. Wanita yang pernah mendiami hati Taeyong sebelum Mark. Taeyong tak tahu pasti alasan kenapa Yuhee kembali menghubunginya setelah 7 tahun lalu mengakhiri hubungan mereka tanpa alasan yang jelas. Meskipun terkejut, Taeyong tetap berusaha mengontrol suaranya.
"Ada apa?", suaranya berubah dingin.
'Tidak ada̶ '
"Jika tidak ada yang ingin dibicarakan akan kututup telfonnya"
'̶Aku merindukanmu.', ujar gadis itu cepat setelah Taeyong memotong kalimatnya.
'Bisakah kita kembali seperti dulu lagi, Oppa?',lanjutnya. Keheningan melanda Taeyong. Matanya menatap Mark yang sedang dipasangi jarum infus tak jauh dari tempatnya berdiri. Hatinya gundah. Ia tak menyangka Yuhee akan memintanya kembali disaat perasaannya tengah kacau oleh Mark.
'Kau tidak perlu menjawabnya sekarang, Oppa. Tapi kuharap kau akan memikirkannya. Aku mencintaimu, Oppa'
Setelahnya panggilan itu terputus. Meninggalkan Taeyong yang terdiam dengan segala kegundahan hatinya. Sanggupkah ia memilih?
.
.
TBC
Hai, ada yang kangen gak? Btw Yuhee itu namkor aku lho ^^ \ditimpuk readers/
Ada yg greget ama chapter ini? Berasa sinetron banget ya.
Hedeuh. I'm so sorry for the late update. So, buat semangatin aku biar update asap, review juseyo ^^ Please make it more than 80 so that the next chapter will update soon ^^ aku rela update waktu ujian loh.. please give me many review juseyo..
With love, Rahma Desti
