Tap tap tap tap tap
Suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar ketika Mu -dengan kecepatan yang luar biasa- berlari menuju kuil Virgo. Matahari belum terbit dan hujan deras mengguyur Sanctuary disertai angin kencang yang berhembus tiada henti. Obor-obor yang biasanya menerangi teras tiap kuil pun sudah padam, menyisakan kegelapan yang mencekam.
Mu berlari dan terus berlari tanpa menghiraukan rasa kantuk yang menyerangnya atau dinginnya air hujan yang membasahi tubuhnya. Ia merasakan cosmo asing yang memaksanya untuk tidur, namun ia melawannya dan sedikit menangkal kekuatan cosmo itu dengan cosmonya sendiri. Langkahnya terhenti ketika ia mencapai teras kuil Virgo. Ia dapat merasakan cosmo Shaka yang sudah nyaris padam dan cosmo Athena yang samar-samar mengalir turun dari Papacy.
Tak menunggu lama, Mu pun membuka pintu kuil Virgo itu perlahan. Obor di dalamnya masih menyala utuh dan membuat ruangan itu tak segelap yang dibayangkannya.
"Shaka.." Panggil Mu pelan, mengharapkan respon apapun dari sang pemilik kuil.
Mu melangkah perlahan memasuki kuil itu. Sesekali, ia menoleh dan memperhatikan sekitarnya, berharap dapat menemukan siapapun disana. Suara petir yang bersahutan membuat situasi kuil semakin mencekam. Mu pun mempercepat langkahnya ketika mendapati darah yang bercecer di lantai serta pilar kuil itu.
"SHAKA!" Jeritnya ketika ia berhasil menemukan tubuh Shaka yang berbaring di bawah salah satu tiang utama. Tubuhnya tercabik di beberapa tempat, gold clothnya pun retak dan tergores parah. Mu memeriksa kondisi Shaka sejenak sebelum membopongnya menuju kamar. Tak ada seorang gold saint pun yang mengetahui dengan pasti letak kamar sang gold saint Virgo, hanya Mu, Shion dan Athena sajalah yang mengetahuinya.
Mu membaringkan tubuh Shaka di atas satu-satunya tempat tidur dikamar itu. Ia menyingkirkan beberapa berkas-berkas yang sudah tersusun rapi diatas meja, dan menggantinya dengan berbagai obat-obatan yang ia temukan.
"Apa yang terjadi?" Gumamnya prihatin sambil melepaskan gold cloth Virgo dari tubuh Shaka. Ia memandang dengan iba ketika melihat begitu banyak memar keunguan dan berbagai luka yang menghiasi tubuh gold saint itu. Mu mengambil beberapa obat-obatan herbal dan mencampurnya dengan cairan merah gelap dalam sebuah mangkuk. Ia mengaduk campuran itu dengan jarinya dan mengoleskannya pada luka-luka yang membuka di dada dan lengan Shaka.
Hampir sejam lamanya ia mengobati seluruh tubuh gold saint Virgo itu. Mu pun menghela nafas dan memandang wajah Shaka sendu. Ingin rasanya ia menggantikan posisinya saat ini. Mungkin, seperti inilah yang dirasakan Shaka ketika menjenguknya setelah pertarungannya dengan Artemis silam.
Ia sangat bersyukur karena Shaka tak pernah tertutup darinya. Diantara gold saint lain, hanya dirinyalah yang tahu sisi lain dari Sang Virgo. Semua kejahilan dan kebiasaannya, bahkan carita-cerita favoritnya. Berbagai memori masa kecil dan kenangannya ketika bersama Shaka pun membanjiri pikiran Mu. Tak terasa, sebutir air mata turun dari matanya. Mu pun segera menggelengkan kepalanya, tak ingin tenggelam dalam kesedihan yang berlarut-larut.
Mu hendak membersihkan semua perlengkapan yang dipakainya ketika ia mendengar Shaka terbatuk pelan dibelakangnya. Refleks, Mu meletakkan semua barang yang dibawanya dan melihat kondisi Shaka. Tak ada tanda-tanda Shaka akan segera bangun, namun Mu dapat merasakan cosmo Shaka yang mulai kembali stabil. Ia pun tersenyum dan menyentuh wajah Shaka sebelum kembali membereskan obat-obatan dan peralatan lain yang dipakainya.
Para pelayan keduabelas kuil diliburkan sejak kemarin sore atas perintah Athena. Dugaan Mu, ini semua berhubungan dengan rahasia yang disimpan junjungannya itu. Itulah sebabnya para gold saint pun terpaksa harus memasak dan membersihkan kuil mereka sendiri. Namun itu pun merupakan sebuah keuntungan besar jika melihat situasinya sekarang. Jika saja para pelayan itu tidak kembali, mungkin mereka sudah mati karena tekanan besar yang dihasilkan cosmo Shaka kemarin.
Mu menghela nafas dan tersenyum sambil memotong beberapa sayuran dan buah segar yang ditemukannya dalam sebuah lemari kecil di dapur. Ia juga membuat saus thousand island dan meletakkannya dalam sebuah piring kecil. Ia pun menata salad buah dan sayur yang dibuatnya diatas meja makan persegi dan menyiapkan beberapa lilin kecil sebagai penerangan. Shaka bukanlah seorang vegetarian, namun Mu tau, salad merupakan makanan kesukaan Shaka sejak kecil. Mu melingkupi meja makan itu dengan sedikit cosmonya agar makanan itu bisa setidaknya bertahan sehari penuh.
Ketika semua makanan telah siap tersaji, Mu pun melangkah ke sebuah lemari piring didekat meja itu dan hendak mengambil sebuah piring kaca. Baru saja ia mengeluarkan sebuah piring kecil berukir lambang Virgo, tiba-tiba sebuah pelukan dari belakang mengagetkannya. Ia pun menoleh seketika dan mendapati Shaka yang tengah berdiam diri sambil memeluk lehernya.
"Shaka! Apa yang kau lakukan? Tubuhmu masih ugh-"
Mu merasakan tangan Shaka yang menutup paksa mulutnya. Wajahnya pun memerah seketika dan ia menunduk diam dalam pelukan Shaka. Ia dapat menghirup aroma khas tubuh Shaka diantara rempah dan obat yang tadi dioleskannya. Keheningan melanda kuil itu beberapa saat sampai Shaka melepaskan tangannya dan tersenyum tulus. Mu tak dapat berkata apapun. Ia hanya dapat berdiri kaku dihadapan Shaka yang masih memandangnya walaupun dengan mata tertutup. Tubuhnya terasa panas dan wajahnya pun sudah berwarna merah padam.
"Trimakasih." Ucap Shaka pelan. Tak lama kemudian, ia pun menghilang perlahan bagaikan angin.
Mu terkejut sambil tetap memandang tempat Shaka berdiri tadi. Dadanya sesak dan pikirannya pun kacau seketika. Ia tak ingin memikirkan hal yang kini sangat mengganggunya. Ia sudah dapat bertemu Shaka sekarang, dan ia tak ingin kehilangan dia lagi untuk kedua kalinya.
Mu menjatuhkan piring yang dibawanya. Ia pun segera berlari ke kamar tempat Shaka berbaring. Mu dapat merasakan cosmo Shaka yang meredup, sedikit demi sedikit sampai hilang sepernuhnya. Dengan tergesa, tangannya pun menyentuh wajah Shaka yang masih penuh dengan luka dan memar.
Dingin..
Dingin seperti tak pernah ada kehidupan didalamnya..
Mu menunduk dan jatuh tersungkur di tempatnya. Tangannya bergetar sambil menggumamkan kata 'tidak mungkin' berkali-kali bagaikan kaset rusak. Seolah-olah itu dapat membantunya bertahan.
"SHAKA!" Seru seseorang dibelakangnya.
Mu mengenali suara dari sang Dewi junjungannya. Namun ia terlalu kalut. Ia tak mampu bergerak, bahkan hanya untuk berdiri dan memberi hormat kepada sang Dewi yang kini berdiri di ambang pintu kamar.
Athena memegang pundak Mu prihatin. Ia pun memeluk leher Mu dari belakang seperti yang Shaka lakukan dan duduk disampingnya. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Suasana yang hening pun kembali tercipta. Hanya suara hujan dan angin yang kini memenuhi indra pendengaran mereka.
Athena membiarkan Mu menangis dalam pelukannya. Ia menyenderkan kepala Mu di pundaknya sambil dengan perlahan mengusap rambutnya. Bagaikan seorang ibu dan anak. Seolah kehilangan identitas, mereka sama sekali tak berfikir tentang kesopanan maupun betapa jauhnya pangkat mereka. Manusia dan Dewa. Demikian halnya dengan Athena yang sama sekali tidak memperdulikan hal itu.
Athena menyelimuti Mu dengan cosmonya dan membiarkan Mu tertidur di pangkuannya. Ia memandang iba gold saintnya itu sambil menghapus bekas air mata di wajah Mu. Athena pun menoleh ke tempat tidur Shaka dan menggenggam jemari Shaka yang terkulai lemas disamping tempat tidurnya sambil berbisik pelan, "Tolong kembalikan dia secepatnya.. Persephone."
.
.
Disclaimer:
Saint Seiya - Masami Kurumada
Warning:
SS Omega, Soul of Gold, The Movie 5: Overture dan Next Dimension dianggap tidak ada.
Pair: ShakaMu
Rated: T+ Diakhir
.
Chapter 7: Shaka
.
The Sacrifice
.
.
-Kuil Aries-
"Mu?" Panggil Saga untuk yang kesekian kalinya.
Tidak ada respon apapun dari sang Aries. Hanya ada beberapa gerakan kecil di tangannya. Sesekali, ia menggumamkan nama Shaka dengan kepedihan yang dalam. Saga, Aiolos dan Aiolia yang berkumpul dalam kamar itu pun hanya terdiam heran.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Aiolia yang duduk disamping kasur dan memandang kakaknya penuh tanya.
"Tidak ada yang mengetahui dengan pasti, Lia. Namun sebaiknya kita tetap tenang." Jawab Aiolos membalas tatapan adiknya itu. Jujur saja, Aiolos sendiri sangat terkejut ketika mendengar cerita dari Aiolia dan berusaha berfikir positif, walaupun sebenarnya ia sendiri pun tidak mengerti.
~Lima jam sebelumnya~
Hujan deras disertai angin kencang masih menyelimuti Sanctuary malam ini. Bahkan, beberapa pohon dihutan-hutan terdekat pun tumbang, dan air sungai disekitarnya meluap walaupun tak sampai membahayakan masyarakat sekitar.
Aiolia terbangun dari tidurnya ketika ia merasakan cosmo Athena yang mendekat dari kuil Virgo. Tak ingin membuat kegaduhan, ia pun berdiri dan dengan cepat memakai bajunya tanpa suara sedikit pun, lalu berjalan ke pintu kuil Leo untuk menyambut kedatangan junjungannya itu.
Tak butuh waktu lama, Athena pun tiba di teras Kuil Leo. Namun, hal itu justru membuat Aiolia terkejut setengah mati. Bagaimana tidak? Athena datang dengan menggendong Mu di kedua tangannya dan melangkah sedikit tertatih. Sungguh suatu hal yang tidak pantas bagi seorang Dewi. Aiolia pun dengan cepat membantu Athena yang membaringkan Mu di dalam kuil Leo itu. Athena tampak basah kuyup akibat hujan, namun sebaliknya, Mu yang dilindungi cosmo Athena tampak lebih kering dan lembab.
"Apa yang terjadi, Athena-sama?" Tanya sang Leo yang tampak khawatir.
Athena hanya menggeleng dan menjawab, "Ceritanya panjang, Aiolia. Tolong bawa Mu kembali ke kekuilnya. Aku sarankan, sebaiknya kau tidak bertanya apapun kepada Mu ketika ia bangun nanti. Ia sangat terkejut saat ini. Dan satu lagi, tolong larang siapapun untuk masuk ke kuil Virgo." Jawabnya sebelum dengan segera meninggalkan kuil itu.
Aiolia hanya sempat mengangguk tanpa bertanya lagi. Ia pun hanya memandangi sang Dewi junjungannya yang kini kembali menapaki satu persatu anak tangga penghubung kuil Leo dan Virgo itu. Athena tampak begitu lelah dan frustasi. Hal itu pun membuat Aiolia merasa iba akan junjungannya. Selagi ia memandangi kepergian Athena, tiba-tiba ia merasakan cosmo yang sangat kuat menekannya dan memaksanya untuk tidur, namun dengan cepat menghilang dalam detik berikutnya seolah-olah cosmo itu tak pernah ada. Tak ingin ambil pusing dengan hal itu, Aiolia pun menuruti semua perintah Athena dan membawa Mu kembali ke kuil Aries.
~Flashback end~
"Aiolos! Hei!"
Aiolos tersadar dari lamunannya ketika ia menyadari panggilan Saga.
"Ada apa?" Tanyanya linglung.
Saga pun memutar bola matanya. Disebelahnya, Mu sudah duduk sambil memeluk Kiki yang menangis diatas tempat tidurnya.
"Oh, Mu. Syukurlah kau sudah bangun. Apa kau baik-baik saja?" Tanya Aiolos begitu menyadari situasi. Mu menoleh dan tersenyum singkat kepada Aiolos sambil terus mengusap rambut Kiki. Matanya sembab tanda ia habis menangis. "Aku sudah lebih baik.. sepertinya." Jawabnya singkat sebelum kembali menenangkan Kiki.
"Sudahlah Kiki.. Toh Mu sudah bangun. Dia hanya tidur kok. Tidak perlu sampai seperti itu." Sahut Milo yang entah sejak kapan muncul dibelakang Aiolos.
"Tuh kan. Master hanya tidur kok. Sudah ya.." Hibur Mu lembut.
"Eh, Mu. Apa yang terja- ugh!" Pertanyaan Milo terputus seketika ketika Saga membekap mulutnya dan menyeretnya keluar dari kamar.
"Hei! Aku hanya penasaran!" Protesnya setelah Saga melepaskan tangannya.
"Athena-sama melarang kita bertanya apapun kepada Mu. Ia sedang dalam masalah sekarang." Tegur Saga yang sukses membuat Milo cemberut. "Sudahlah Milo. Lagipula, Saga benar." Sahut Camus yang baru saja muncul diambang kuil Aries. Milo pun tersenyum lebar melihat sahabatnya yang ternyata ikut berkunjung ke kuil Aries. "Waaah.. ternyata kita sehati ya Mus. Sama-sama dateng jam segini." Goda Milo yang langsung mendapat deathglare dari Camus.
"Kemana yang lain? Masa cuman kita yang menjenguk si domba ungu?" Tanya Milo lagi.
"Mereka sudah datang kemari tadi. Bahkan murid-murid Aldebaran pun ikut berkunjung." Jawab Saga sambil memandang Camus yang membawa tas besar. Dugaannya, tas itu berisi alat-alat kedokteram rumit yang mungkin hanya Camus, Mu dan Kyouko saja yang mengetahui kegunaannya.
Milo pun mengangkat bahunya dan berkata, "Aku mau kembali sekarang. Kau mau ikut Camus?" Tanyanya dengan senyum. Camus pun menggeleng. "Kyouko menyuruhku memeriksa kondisi Mu. Beliau tak dapat menjenguk kemari sekarang karena Athena sepertinya membutuhkan bantuan di Papacy. Lagipula aku baru saja tiba disini, Milo." Jawabnya.
"Well.. terserah sih. Yang pasti aku mau pulang dulu kawan-kawan." Pamit Milo sambil dengan segera melangkah keluar dari kuil Aries.
Saga dan Camus hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Milo. Tak ingin menghabiskan waktu, merekapun kembali masuk ke dalam kamar.
Dengan cekatan Camus segera memeriksa seluruh kondisi Mu dan mendapati gold saint Aries itu baik-baik saja. Hal itu pun membuat Kiki tenang dan duduk diam dalam pangkuan Mu. "Baik. Aku rasa sudah semuanya. Kau hanya perlu beristirahat sejenak. Kau terlihat sangat kelelahan sekarang.. dan.. sedikit stress mungkin mempengaruhi kondisimu." Kata Camus sambil membereskan semua peralatan 'medis'nya.
"Trimakasih Camus." Ucap Mu tulus.
Camus mengangguk sekali dan segera meninggalkan ruangan itu setelah berpamitan pada Mu dan gold saint lain yang ada di kamar itu. Baru saja Camus hendak menutup pintu kamar, tiba-tiba saja ia merasakan ledakan cosmo Athena dari atas.
"Apa yang terjadi?" Tanya Saga seketika. Ekspresi panik dan bingung pun segera mendominasi wajah setiap orang diruangan itu.
"Kita harus memeriksanya. Aku mendapat firasat buruk tentang hal ini." Sahut Aiolia yang langsung bangun dari posisinya.
"Aku ikut." Kata Mu sambil berusaha duduk.
Sadar bahwa ini memang kewajiban bersama, Aiolos pun mengangguk dan membantu Mu berdiri dari tempatnya. "Tetaplah disini, Kiki." Perintahnya diikuti anggukan patuh anak itu.
Jam menunjuk pukul delapan pagi ketika lima orang gold saint itu berlari secepat mungkin menuju pintu belakang kuil. Setibanya disana, serentak seluruh gerakan gold saint itu berhenti dan dengan terkejut memandang kuil keenam diatas mereka. Sebuah barier emas menyelimuti kuil itu seperti kemarin. Hanya saja, kali ini cosmo Athenalah yang membuatnya. "Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Aiolia yang mulai frustasi dengan semua teka-teki ini. Saga pun hanya menggeleng dan dengan segera melanjutkan langkahnya diikuti yang lain. Aku harap semua baik-baik saja. Pikirnya panik.
Setibanya dikuil Taurus, mereka mendapati kuil itu kosong. Dugaan mereka, Aldebaran pun tengah dalam perjalanan menuju kuil Virgo juga saat ini. Tak ingin menghabiskan waktu lebih lama, mereka pun berlari semakin cepat meninggalkan kuil itu dan dalam waktu setengah jam, berhasil mencapai kuil Leo.
Tak disangka, rupanya Aldebaran, Deathmask, Milo dan Kanon pun sudah berada dikuil itu. Mereka berdiri di teras belakang kuil sambil tetap memandang kearah kuil Virgo.
"Kenapa kalian malah berkumpul disini?" Tanya Aiolos. Heran dan setengah jengkel.
"Kami pun ingin menuju kuil Virgo. Namun Athena-sama melarang kami melangkah lebih jauh. Beliau berbicara melalui cosmonya semenit yang lalu." Jawab Aldebaran disertai geraman kecil. Mu, Camus, Saga, Aiolos dan Aiolia pun mengagguk pasrah. Perintah Athena mutlak bagi mereka. Walaupun seandainya Athena meminta mereka bunuh diri, mereka pasti akan melakukannya dengan kerelaan yang luar biasa.
"Seiya sedang dalam perjalanan kemari. Kiki menelepatiku barusan. Salah seorang penjaga melihat Seiya di bandara pagi ini." Kata Mu.
"Aduh! Jika dia tahu Athena seperti ini sekarang.. matilah kita! Kau tahu betapa keras kepalanya anak itu!" Seru Kanon.
"Yah. Karena itulah aku menyuruh Kiki memasang Crystal Wall di depan kuil Aries. Aku rasa itu dapat menghambatnya walaupun aku tak tau sekuat apa yang bisa Kiki buat." Sahut Mu.
"Well, sekarang kita harus bagaimana?!" Tanya Milo setengah frustasi.
"Aku tidak tau. Kita bisa saja menerobos masuk. Hanya saja, itu berarti melanggar perintah Athena-sama." Jawab Aiolos.
"Kita pernah melakukan hal itu sebelumnya bukan?"
"Dan berakhir dengan kematian Shaka. Sungguh, aku tak ingin mengulanginya lagi."
"Oh, ayolah Camus, toh itu memang keinginan Shaka. Lagipula, kita tidak sedang akan melakukan Athena Exclamation sekarang." Jawab Milo.
"Tidak! Perintah Athena mutlak bagi kita. Lagipula aku yakin ka- APA?!"
Sebuah tekanan yang besar akibat tubrukan dua buah cosmo yang berbeda mengagetkan mereka. Cosmo Athena yang membentuk barier itu pun tiba-tiba saja pecah. Diatas kuil Virgo, berdirilah sepasang Dewa kembar –Hypnos dan Thanatos-.
"Dewa Tidur dan Kematian! Bagaimana Dewa itu bisa kembali! Bukankah para bronze sudah mengalahkannya?!" Tanya Saga panik.
"Aku rasa Hades yang membangkitkannya. Jiwa mereka hanya terluka saat itu, namun tidak tersegel." Jawab Camus sambil berusaha mengendalikan dirinya.
Geraman keras keluar dari mulut Milo ketika memandang sepasang Dewa itu. Tanpa bisa dicegah, Milo pun berlari keluar dari kuil Leo dan menuju ke tempat Athena berada.
"MILO TUNGGU!" Seru Aiolos.
Para gold saint pun saling berpandangan sejenak, dan dalam kesepakatan tanpa kata, mereka maju bersama-sama mengikuti Milo dari belakang.
"Aku tak percaya kita melanggar perintah Athena, lagi." Keluh Saga sambil terus berlari.
Sementara itu, mereka pun bersama-sama memanggil gold clothnya masing-masing yang seketika itu juga langsung melesat dari kuil mereka. Tak butuh waktu lama, para gold cloth itu pun sudah melekat ditubuh para gold saint dan membuat langkah kaki mereka semakin cepat.
Secara tiba-tiba, langit menjadi mendung dan matahari pun tertutup awan tebal. Suasana menjadi gelap dan suhu menurun tiba-tiba. Saat itu juga, para gold saint memandang kearah tempat Dewa kembar itu melayang. Mereka pun mendapati salah satu Dewa berambut perak itu tengah mengangkat tangannya dengan posisi siap menyerang kuil Virgo. Diujung jarinya, terdapat sebuah bola cahaya keunguan yang semakin lama semakin besar. Cosmo yang agresif milik sang Dewa pun memancar dan mengeluarkan tekanan yang membuat angin bertiup semakin kencang kearah mereka.
"KELUARLAH ATHENA! ATAU AKAN KUHANCURKAN SELURUH KUIL INI!" Seru sang Dewa menggema keras.
Mu dan yang lainnya pun berhenti sekitar lima meter dari teras kuil Virgo. Kaki mereka seolah ditahan oleh sesuatu yang tak kasat mata namun tidak menyakiti mereka. Tak lama kemudian, sebuah cosmo keemasan yang luar biasa besar pun meluncur dari kuil itu dan menghancurkan seluruh langit-langit kuil Virgo. Cosmo itu meluncur dengan kecepatan yang luar biasa dan mengincar sang Dewa kembar. Hypnos dan Thanatos pun berhasil mengelak sempurna dari serangan itu. Dan dari dalam kuil, tampaklah Athena yang tengah berdiri tegak dengan ujung tongkat nike yang mengarah pada sang Dewa kembar.
"KAU!" Seru Thanatos penuh amarah, hendak melemparkan bola cahaya besar ditangannya.
"Kami datang bukan untuk bertarung, Athena." Sahut Hypnos sambil menahan Thanatos. Thanatos pun segera melenyapkan bola keunguan itu dengan sangat keberatan dan menyebabkan udara disekitar mereka kembali normal.
"Apa yang kau inginkan?! Waktumu belum tiba untuk datang kemari, Hypnos, Thanatos!" Seru sang Dewi Perang.
Hypnos pun mengangkat dagunya dan dengan perlahan mendarat dihadapan Athena.
"Dimana gold saint itu?" Tanya Hypnos diikuti geraman pendek Thanatos. Para gold saint pun hanya memandang Athena heran.
"Tidak! Aku tidak akan pernah memberikannya padamu!" Jawab Athena tegas.
"Terserah. Aku datang kemari hanya untuk membawa Persephone kembali." Kata Hypnos yang diikuti pandangan terkejut dan setengah takut dari Athena.
"Bagaimana kau tahu?" Tanyanya pelan.
"Griffin Minos dan Balrog Lune, memiliki semua catatan kehidupan manusia. Disana tertulis bahwa para gold saint melihat Dewi Persephone di wilayah Sanctuary. Kau tak akan bisa berbohong padaku sekarang, Athena." Jawabnya datar.
Athena menggeram dan terlihat sedikit kebingungan mengatur kata-kata yang akan diucapkannya.
"Oh, satu lagi. Aku rasa para gold saintmu ini sama sekali tidak mengetahui rencana tuan Hades-sama, bukan begitu?" Tanyanya dengan nada mengejek sambil memandang para gold saint itu.
"Itu bukan lagi urusanmu, Hypnos. Tapi yang jelas, Persephone sudah kembali ke Elysium. Tapi awas jika kau berani menyentuhnya! Aku tidak akan tinggal diam!" Ancam Athena. Matanya pun menatap tajam kedua Dewa dihadapannya. Tak ada rasa gentar sedikitpun disana.
Thanatos tertawa mendengarnya, "Kau mengancam kami heh? Bahkan sebentar lagi kau ak- ugh!" Hypnos membekap mulut adiknya itu dengan cosmonya dan menghentikan segala perkataannya. Ia pun memberi tatapan kau-diam-saja pada Thanatos dan langsung membuat Dewa itu merenggut tak senang.
"Apa yang akan terjadi pada Persephone -entah ia akan dihukum maupun tidak- itu semua keputusan Yang Mulia Hades-sama." Jawab Hypnos.
Athena menggeram namun tak menjawab apapun.
"Itu berarti kedatangan kami disini sudah tak ada gunanya. Aku harap kau dapat mempersiapkan dirimu dengan baik, Athena." Kata Hypnos sambil menyeringai dan berbalik hendak meninggalkan tempat itu.
"Kau bahkan tak menyapaku sama sekali, Hypnos, Thanatos. Dimana sopan santunmu sebagai seorang Dewa Agung?"
Hypnos dan Thanatos pun menoleh ketika mereka mendengar suara yang sangat familiar. Artemis, tengah berdiri di salah satu anak tangga penghubung kuil Virgo dan Libra. Ia memberikan tatapan tajam pada Dewa kembar itu.
"Ah, rupanya kau pun ada disini." Kata Hypnos sambil membalik badannya. Thanatos pun memandang Artemis tajam.
Artemis berdecak pelan melihat kondisi Athena yang tampak berantakan. Ia pun dengan segera mengalihkan pandangannya dan menatap Hypnos dan Thanatos. "Kalian terlihat berantakan. Hah! Jangan katakan itu karena ulah gold saint Virgo itu!" Kata Artemis sambil menyeringai mengejek begitu melihat God Cloth Hypnos dan Thanatos yang pecah dan retak cukup parah dibeberapa bagian.
Thanatos memandangnya sebal, namun dengan segera mengacuhkannya.
"Kami harus pergi. Kami tak punya urusan denganmu." Katanya sambil membuka jalan para Dewa. Mengabaikan tatapan tajam kedua Dewi dan para gold saint dibelakang mereka, mereka pun memasuki jalan para Dewa itu sekali lompatan. Sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, Hypnos pun menyempatkan diri berbalik dan memandang Athena. "Oh Athena, aku harap kau tidak bertindak ceroboh. Sekedar pemberitahuan saja, gold cloth Virgo berubah menjadi Kamui dihadapan kami." Kata Hypnos dan meninggalkan tempat itu dengan segera.
Setelah jalan itu tertutup, Athena pun melepaskan cosmonya yang sedari tadi menahan gold saintnya yang ternyata sama-sama tiba dari dua sisi yang berbeda. Keduabelas gold saint itu pun dengan cepat memasuki kuil Virgo.
"Kalian melanggar perintahku." Kata Athena tanpa memandang mereka. Para gold saint yang mendengarnya pun dengan segera menunduk penuh penyesalan dihadapan sang Dewi.
"Maafkan kami, Athena-sama. Kami bersedia jika anda berniat menghukum kami." Kata Aiolos mewakili teman-temannya. Raut penyesalan mewarnai wajah mereka, tak terkecuali Deathmask dan Aphrodite yang memang terkenal suka memberontak.
"Sudahlah. Tak apa. Lagipula kalian melakukan itu bukan tanpa alasan. Yang penting sekarang tidak ada satupun diantara kalian yang terluka. Kalian boleh kembali ke kuil masing-masing." Kata Athena yang tanpa disangka-sangka tersenyum tulus kearah mereka.
"Baik Athena-sama." Jawab mereka bersamaan. Para gold saint pun meninggalkan kuil Virgo dengan wajah penasaran luar biasa. Walaupun begitu, tak ada seorang pun yang berani bertanya pada sang Dewi.
"Dimana Virgo itu?" Tanya Artemis ketika para gold saint sudah meninggalkan tempat.
"Di kamar pribadiku. Aku yang menyembunyikannya disana."
"Bagaimana kondisinya?" Tanya Artemis lagi sambil memandang langit.
Athena pun memiringkan kepalanya, heran. Sejak kapan kakaknya ini memperhatikan sang Virgo? "Jiwanya dibawa Persephone. Namun aku sudah menyembuhkan semua luka ditubuhnya. Aku harap Persephone dapat membawanya kembali segera." Jawab Athena dengan senyum.
Artemis ber'oh pelan sambil terus memandang langit. "Ayo kembali." Ajaknya singkat sambil menarik tangan Athena. Athena tersenyum dan mengangguk tanpa berkomentar apapun. Matahari tampak cerah walaupun awan masih menggantung disekitarnya. Tak ada lagi cosmo yang terasa mengintimidasi Sanctuary seteah kepergian kedua Dewa itu. Athena dan Artemis pun kembali ke Pope Chamber tanpa berbicara. Samar-samar, Athena merasakan cosmo Persephone yang mengalir dari kamarnya.
..oOo..
"KIKI! Ijinkan aku masuk! Apa yang sebenarnya terjadi?!"
Suara Seiya yang berteriak ternyata sampai terdengar di kuil Taurus. Hal itu pun membuat Mu mempercepat langkahnya.
"Tidak bisa." Jawab Kiki sambil melipat tangannya dan tersenyum lebar khas anak-anak.
"KIKI! Jangan bercandaaa! Saori-san yang memintaku kemari!" Seru Seiya sambil terus memukul-mukul dinding crystal tipis buatan Kiki. Kiki pun menjulurkan lidahnya dan sesekali terlihat duduk santai dibawah pilar sambil memerhatikan Seiya yang berusaha menerobos pertahanan miliknya.
"Sudah cukup, Kiki. Kau bisa membiarkannya masuk."
Suara Mu menggema dari dalam kuil Aries, walaupun gold saint itu masih belum terlihat. Kiki pun tersenyum lebar dan dengan segera melenyapkan dinding crystal buatannya. Seiya terlihat kebingungan dan memandang Kiki sebal sebelum meju kearahnya dan menangkap tubuh Kiki. Kiki tertawa keras ketika Seiya menggelitik pinggangnya. Tak sampai dua menit, tiba-tiba saja Kiki sudah menghilang dan mungcul disampingnya.
"Heei.. Mau kemana kau bocah.." Seru Seiya sambil mengejar Kiki yang berlari memutari teras kuil itu. "Mu-samaaa.." Seru Kiki ketika melihat gurunya itu melangkah perlahan keluar dari kuil Aries. Seiya menggaruk kepalanya dan menyapa Mu sambil tersenyum lebar seperti yang biasa dilakukannya.
"Seiya, Kyouko-sama sudah menunggumu di atas. Aku harap kau tidak mampir terlalu lama dibeberapa kuil." Kata Mu yang diikuti anggukan Seiya. Tak menunggu lama, Seiya pun berlari meninggalkan kuil Aries itu menuju Pope Chamber.
..oOo..
Athena tiba di Papacy ketika matahari sudah tepat diatas kepala. Ia menjawab singkat sambutan Shion dan langsung berlari menuju kamarnya tanpa menoleh lagi. Artemis pun mengikuti Athena dengan langkah cepat dan berdiri diambang pintu kamarnya. Shaka terbaring diatas sebuah kasur kecil diujung ruangan. Athena pun sudah terduduk disebelah kasur itu ketika Artemis tiba disana.
"Bagaimana?" Tanyanya singkat.
Athena menggeleng dan menjawab, "Persephone akan mengembalikan jiwanya malam ini. Ada baiknya jika kita memberitahu para gold saint setelah Shaka kembali."
"Well, terserah. Aku akan mengikuti semua rencanamu mulai sekarang." Jawab Artemis sebelum berbalik dan meninggalkan kamar itu.
"Saori-saaaaaaan..!"
Athena yang mendengar namanya disebut pun langsung terbangun dari tempatnya dan dengan segera berlari keluar. Sudah lama sejak hari Holy War berakhir ia tak melihat Seiya. Rasa rindu akan teman masa kecil dan saint yang paling dekat dengannya itu membuat senyum Athena mengemang.
Athena pun berlari ke teras Papacy untuk menyambut Seiya. Rupanya, Artemis telah mendahuluinya di teras itu dan berdiri memandang anak tangga rahasia yang menghubungkan kuil Pisces dan Pope Chamber.
"Jadi.. itukah bronze saint yang sering dibicarakan diantara para Dewa? Yang konon katanya mampu melukai tubuh asli Hades?" Tanya Artemis sambil memandang Athena. Athena pun hanya mengangguk dan sambil tersenyum berdiri disamping kakaknya.
"Saori-saaaaaann!"
Seiya pun muncul tak lama kemudian. Kerinduan terpancar dari wajah sang Athena ketika ia memandang teman masa kecilnya itu.
"Selamat datang, Seiya." Sapa Athena sambil tersenyum.
Seiya pun berhenti dihadapan Athena tanpa menghiraukan tatapan tajam Artemis.
"Berilah sedikit hormat, Pegasus. Biar bagaimanapun, dia ini Dewimu." Tegur Artemis setengah marah. Seiya pun tampak cuek saja. "Saori-san.. Siapa dia?" Tanyanya sangat santai yang langsung mendapat deathglare Artemis dan senyuman gugup Athena. "Perkenalkan, Seiya. Ini Artemis, kakakku." Jawabnya. Seiya pun setengah terkejut namun dengan cepat tersenyum lebar dan menyapa Artemis santai. "Ah, Dewi lagi. Salam kenal." Katanya sambil mengulurkan tangannya. Artemis pun menatapnya heran dan kesal. Ia melirik Athena sebentar sebelum membalik badannya dan masuk ke Papacy tanpa menghiraukan uluran tangan Seiya.
"Dia itu kenapa sih?" Tanya Seiya pelan. Athena pun tertawa kecil. Ia sendiri cukup heran kalau kakaknya itu tidak membunuh Seiya barusan. "Lain kali, tolong jaga sikapmu padanya. Dia agak.. er.. pemarah mungkin." Kata Athena sambil memandang Seiya dan menariknya masuk kedalam Papacy.
Langit sudah memerah dan angin sepoi-sepoi meniup Sanctuary perlahan. Cuaca sangat cerah saat ini, bahkan, sudah terlihat beberapa bintang dilangit.
Seiya baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang tersampir dipundaknya ketika Athena dengan sangat buru-buru berlari ke sebuah kamar kecil disudut Papacy. Seiya pun memandangnya heran dan mengikuti Athena menuju kamar itu. "Berhenti disitu Pegasus!" Seru Athemis dari belakang ketika ia melihat Seiya hendak memasuki kamar itu. Seiya pun dengan segera berbalik dan memandang Dewi Bulan itu heran. "Ini kamar pribadi Athena. Kau sangat dilarang untuk masuk apapun alasannya." Kata Artemis sambil mengabaikan tatapan curiga Seiya.
Artemis pun melewati Seiya yang berdiri diambang pintu kamar dan dengan segera melangkah ketempat Athena berada. Ia menutup dan mengunci pintu kamar itu dengan cosmonya ketika ia sudah memasuki ruangan kecil itu.
"Bagaimana?" Tanya Artemis langsung.
Athena pun menggeleng, "Sepertinya Hypnos dan Thanatos sudah tahu bahwa jiwa Shaka tengah dibawa oleh Persephone sekarang. Da itu sedikit menghambatnya untuk membawa Shaka kembali." Jawab Athena sambil menoleh dan menyentuh kening gold saint Virgo yang kini berbaring dihadapannya.
"Aku yakin ia dapat membawanya tepat waktu. Sebagai ratu dunia bawah, ia memliki kekuatan Hades yang tentunya cukup jika hanya harus melawan Thanatos dan Hypnos."
"Tidak semudah itu, kakak. Kau tidak lupa bukan jika kedua Dewa itu pun kini dalam perlindungan Hades." Kata Athena sambil menghela nafas.
Artemis tak menjawab apapun. Ia hanya memeluk tubuh adiknya yang kini bersandar di pundaknya. "Sudahlah. Persephone bukan Dewi yang lemah. Aku tahu ia dapat mempertahankan dirinya sendiri. Berilah kepercayaan padanya." Kata Artemis. Athena pun mengangguk ragu.
"Ayo keluar. Sudah waktunya kau memberi 'alarm' bagi para gold saint itu bukan." Kata Artemis mengingatkan.
"Kau benar." Jawab Athena pelan sambil melepaskan pelukan Artemis dan berjalan keluar dari kamar itu. Yang tidak ia sadari, senyum tipis mengembang dari mulut Artemis ketika ia berbicara tentang gold saint.
..oOo..
Cosmo Athena terasa sangat kuat meliputi Sanctuary hari ini. Para gold saint pun dengan segera menghentikan semua aktivitas mereka dan kembali kekuilnya masing-masing. Cosmo mereka pun dengan cepat menjadi satu membentuk rantai telepati seperti biasa.
"Aku tidak mengerti."
"Sudahlah Milo.. Aku sudah menjelaskannya padamu berulang kali.."
"Tapi aku tetap tidak mengerti!"
"Sudahlah kalajengking siput.. Simpan saja rasa penasaranmu sampai besok!"
"Berhenti membentak Kanon!"
"Kau juga membentakku Saga."
"Huush! Sudah-sudah.. Kalian ini kalau mau bertengkar langsung dikuil aja, jangan lewat telepati!"
"Tunggu.. Apa kalian melihat Shaka hari ini?"
"Oh iya! Aku juga nyaris lupa. Habis, dia jarang banget sih keluar kuil. Memangnya dia ada misi ya hari ini?"
"Entah.. Kalau iya, sial sekali dia hari ini. Kuilnya sampai hancur gitu dibuat arena bertarung Athena dan Dewa kembar siam itu."
"Hahahahaaa.. kau benar! Entah cuman aku, atau memang aku merasa Athena agak sedikit pemarah akhir-akhir ini."
"Hmm.. sepertinya kau tidak sendiri, Lia. Aku pun berfikir begitu. Apa Athena punya masalah yang besar ya?"
"Mungkin. Jika itu dihubungkan dengan rahasia besar Athena, maka aku menduga Athena-sama tengah menghadapi masalah besar saat ini."
"Bener kata Roshi. Kita harus membantunya!"
"Jangan berteriak Kanon! Tapi, ya.. aku rasa kita harus membantunya."
"Aiolos, bisa kau pimpin kami berbicara kepada Athena-sama besok?"
"Hah?! Kenapa aku?! Saga kan juga bisa, Mus."
"Aku pun berfikir kalo kau lebih cocok menjadi juru bicara kita Los. Aku agak kurang nyaman jika harus berbicara langsung dengan Athena setelah Holy War itu."
"Bener kak.. Mending kakak aja yang mewakili kami."
"Iya deh ak-"
"Shaka meninggal."
"Hah?!"
"Apa maksudmu, Mu?"
"MU! Jelaskan pada kami! Aku tidak salah dengar kan?!"
"Mu? Hei! Kau dimana? Mu.. apa maksudmu?!"
"Aku harus off kawan-kawan. Anggap saja aku tidak pernah berbicara begitu."
"YAAAH! MUUU! Jangan off dulu! Apa maksudnya?!"
"Milo jangan berteriak! Mungkin maksud Mu bukan 'meninggal' dalam arti yang sesungguhnya."
"Kalo memang bukan, lalu apa Los?"
"Aku tidak merasakan cosmo Shaka sama sekali! Padahal kuilku tepat dibawahnya! Huaaaa.. Hiks.."
"Lia.. Lia.. tenang.. hei.. mungkin Shaka sedang bermeditasi."
"KALAU DIA BERMEDITASI JUSTRU COSMONYA SEMAKIN TERASA KAKAK!"
"Shttt…Lia.. jangan ambil kesimpulan dulu.. tenang oke.."
"Aiolia.. Sial! Seandainya aku boleh keluar dari kuil ini!"
"Aioli-"
Aiolia mematikan telepatinya tanpa berpamitan. Ia pun dengan sangat cepat berlari ke teras belakang kuilnya dan memandang kuil Virgo. Aiolia memejamkan matanya dan mengonsentrasikan pikirannya pada kuil Virgo, berharap dapat menemukan setitik saja cosmo Shaka disana.
Tidak ada..
Tidak ada cosmo sedikit pun..
Kuil itu.. mati.
"Tidak mungkin." Katanya pelan. Tak menghiraukan aturan yang ada, Aiolia pun dengan segera lari keluar dari kuilnya menuju kuil Virgo yang kini sudah hancur. Pikirannya penuh dengan perkataan Mu dalam telepati tadi. Suaranya begitu lemah dan sedih. Sebenarnya apa yang terjadi?
"SHAKA!" Panggilnya menggema.
Tak ada sahutan, bahkan balasan cosmo. Jika dalam situasi biasa, mungkin dia dapat tenang dan menghiraukan sikap Shaka yang 'sok cuek' terhadap kawan-kawannya. Padahal jika dalam pertarungan sungguhan, Shaka pasti sudah maju lebih dulu dan melindungi yang lain.
Langkah kaki Aiolia berhenti tiba-tiba ketika cosmo Athena melingkupi seluruh Sanctuary itu dengan kuat. Cahaya keemasan pun mengelilinginya seolah ribuan kunang-kunang terbang disekitarnya.
"Berkumpulah di Papacy, Gold saint. Ada yang harus aku bicarakan."
Suara Athena menghilang bersamaan dengan hilangnya cosmo Athena yang melingkupi Aiolia. Tak menoleh lagi, Sang Leo pun dengan bergegas melanjutkan perjalanannya menuju Papacy. Langkahnya berhenti sejenak dikuil Virgo dan matanya yang tajam mencari-cari baik tubuh maupun cosmo Shaka. Ketika ia mendapati apa yang dilakukannya sekarang percuma, Aiolia pun melanjutkan kembali perjalanannya. Matanya sembab karena menangis khawatir. Ia pernah membiarkan Shaka terbunuh dulu.. dan ia tak ingin mengulanginya lagi.
..oOo..
Satu jam sudah berlalu sejak Athena meminta para gold saint itu berkumpul. Seperti biasa, mereka pun selalu berkumpul dikuil Pisces ketika dipanggil secara bersamaan.
"Sudah semua?" Tanya Aphrodite sambil menghitung jumlah kawan-kawannya itu
"Aku rasa sudah." Jawab Aiolos.
"TIDAK ADA SHAKA DISINI! BAGAIMANA KAU BISA BILANG SUDAH?!" Seru Aiolia yang tiba-tiba menangis.
"Sudahlah Lia.. Sebentar lagi kita akan menghadap Athena dan Kyouko-sama.. Kendalikan dirimu." Kata Aiolos sambil mengelus pundak adiknya itu. Rasa kasihan pun tergambar jelas dimatanya. Mana mungkin ia tega melihat adiknya itu menangis?
"Tidak kakak! Jika kita dalam peperangan mungkin aku.. aku.. Dulu aku pernah membiarkannya mati.. dan aku tidak ingin mengulanginya lagi!" Seru Aiolia sambil terisak dalam pelukan kakaknya.
Mu pun sedikit tersentak mendengar perkataan Aiolia, ia pun menutup matanya dan berusaha terlihat tegar. "Sudahlah Lia.. toh itu juga salahku yang tidak mengijinkanmu masuk kedalam Twin Sala waktu itu.. Athena-sama menyuruh kita untuk menemuinya sekarang.. jadi.. tolong kuatkan hatimu." Kata Mu sambil mengulurkan tangannya kepada sang Leo. Aiolia pun memandang sekitarnya dan melihat Saga, Shura dan Camus yang menunduk sebelum menerima uluran tangan Mu.
Tak lama kemudian, Aphrodite pun berjalan didepan mereka melewati tangga rahasia yang menghubungkan kuil Pisces dengan Papacy. Tak sampai sepuluh menit mereka sudah tiba didepan pintu keemasan Papacy yang tertutup rapat. Sedikit sesenggukan, Aiolia pun berdiri disamping sang Libra karena Shaka tidak ada disana. Aiolos memandang adiknya itu sebentar dan menghela nafas sebelum membuka pintu itu. Bersama-sama, mereka pun memasuki Aula Papacy dimana Athena, Artemis, dan Shion sudah menunggu mereka.
"Maaf kami sedikit lama, Athena-sama." Kata Aiolos membuka, diikuti para gold saint lainnya yang bersujud satu kaki dihadapan sang Dewi Perang.
"Tak apa. Dan.. Aiolia, Mu.. apa kalian baik-baik saja?" Tanya Athena sedikit khawatir.
"Kami tak apa Athena-sama. Maaf kami tidak dapat mengendalikan diri sebelum tiba kemari." Jawab Mu.
Aiolos pun menoleh ketika mendengar nama Mu disebut dan mendapati kondisi Mu yang ternyata jauh lebih parah dari Aiolia. Ia pun sedikit iba melihat sikap Mu yang masih berusaha tegar sampai sekarang.
"Baik.. Aku mengerti kalian mengkhawatirkan kondisi Shaka, tapi aku harap kalian menyimpan dulu hal itu. Dan untuk menenangkan kalian, aku ingin memberitahu bahwa Shaka dalam kondisi cukup baik sekarang, hanya saja, jiwanya dibawa Persephone ke Elysium pagi ini. Aku tidak mengerti apa yang akan dilakukan Persephone dan kapan Shaka akan kembali, karena itu aku tidak memberitahu kalian. Aku sungguh minta maaf." Kata Athena sambil sedikit menundukkan badannya.
Para gold saint pun terlihat sangat terkejut. Bahkan Kanon sempat mengumpat Dewi Musim Semi itu dalam hatinya. Mata Mu juga terlihat sangat penuh harap ketika ia memandang Dewinya, demikian juga Aiolia yang kini kembali tenang.
"Tujuanku memanggil kalian kemari adalah, karena aku ingin memberikan kepada kalian ilmu Mesopetha Minos." Lanjut Athena ketika ia merasa para gold saint itu tidak akan berkomentar.
"Ka..kami semua?" Tanya Saga bingung. Setahunya, ilmu itu diberikan oleh Athena bukan untuk sembarang orang.
"Benar. Hal ini berkaitan dengan rahasia itu. Aku berjanji akan memberitahukan rahasia itu kepada kalian setelah Shaka kembali nanti." Katanya.
Para gold saint pun kembali terdiam. Athena memandang Artemis sebentar sebelum melanjutkan perkataannya, "Namun aku memberikan pilihan kedua bagi kalian, Shion, Dohko."
Sang Pope dan Libra pun memandang Athena terkejut, namun tidak mengatakan apapun.
"Aku ingin kalian memilih. Aku mengerti betapa panjangnya usia kalian didunia ini dan kesusahan demi kesusahan yang kalian alami, oleh karena itu aku menawarkan… Apakah kalian ingin memasuki garis reinkarnasi, atau menerima Mesopetha Minos dan hidup untuk dua ratus tahun kedepan?" Tanya Athena.
Para gold saint pun menatap petinggi Sanctuary dan pemegang cloth Libra itu bergantian. Beberapa diantara mereka ada yang kebingungan, takut, maupun sedih mendengar pertanyaan itu. Shion pun memandang Dohko yang juga memandangnya dan tampak kebingungan. Ia pun kemudian mengalihkan pandangannya kepada seluruh gold saint yang lain dan berhenti pada anak didiknya. Ia dapat melihat Mu yang menatapnya lekat, matanya menunjukkan kepasrahan dan kesedihan, seolah berharap dirinya akan tinggal.
Athena pun menghela nafas memandang para gold saintnya itu. "Baik. Aku memberi kalian waktu hingga besok lusa untuk memutuskan. Aku menjanjikan perjalanan yang damai dan tanpa rasa sakit bagi kalian jika kalian memilih untuk memasuki garis reinkarnasi." Katanya sambil tersenyum.
Sang Dewi Perang itu maju selangkah dari tempatnya dan memunculkan tongkat nike dihadapannya. Ia pun meminta Dohko dan Shion untuk pergi dari tempat itu. Tak lama kemudian, Athena mengangkat tangan dan tongkatnya. Tongkat itu pun bersinar ketika bereaksi dengan cosmo Athena yang membara, seketika itu juga, cahaya keemasan pun menutupi tubuh kedua belas gold saint. Ketika Athena menurunkan tongkat itu menghadap para gold saint, tiba-tiba saja kesebelas gold saint dihadapannya itu tersentak dan menggeliat kesakitan. Dohko pun memandang Shion dan merapatkan dirinya kepada sang Kyouko. Ia dapat mengingat dengan jelas bagaimana rasanya menerima ilmu Mesopetha Minos itu dari Athenanya dulu. Rasa panas yang luar biasa seolah meremukkan jantungnya saat itu. Dadanya pun terasa sakit seolah ditusuk ribuan paku.
Tak lama kemudian Athena pun menurunkan tongkatnya dan memadamkan cosmonya. Ia memandang para gold saint itu sendu sambil bergumam permintaan maaf berkali-kali.
"Sudah selesai. Mulai saat ini, jantung kalian akan bedetak kurang lebih 100.000 kali per tahun. Dan itu akan membuat usia kalian hanya bertambah 1 hari tiap tahunnya walaupun tubuh kalian tetap mengalami penuaan. Mungkin kalian akan sedikit mudah lelah hari-hari pertama, namun aku yakin tubuh kalian pasti mampu beradaptasi dengan kondisi ini." Kata Athena sambil memandang para gold saintnya itu.
Para gold saint pun dengan segera merapikan barisannya yang setengah tercerai dan berdiri dihadapan sang Athena.
"Trimakasih, Athena-sama. Untuk kesempatan hidup lebih lama bagi kami." Ucap Saga diikuti anggukan para gold saint.
Athena pun tersenyum dan sekali lagi memandang Artemis sebelum berbicara, "Seiya akan akan di Sanctuary sampai besok malam. Aku harap itu waktu yang cukup bagi kalian." Kata Athena sambil menoleh kebelakang.
Aldebaran pun tersenyum lebar ketika mendapati bronze saint yang menjadi lawannya dulu itu, kini sedang berjalan kerarah para gold saint dari balik selambu tipis yang memisahkan Aula Papacy dengan berbagai ruang dibelakang. "Seiya!" Seru Aiolia senang diikuti cengiran khas Seiya. Artemis memutar bola matanya ketika ia melihat beberapa gold saint yang langsung memeluk Seiya begitu tiba ditengah-tengah mereka. Ia pun memandang Athena dan mengajaknya masuk kedalam.
"Tunggu, Athena-sama." Panggil Mu pelan diantara keriuhan yang dibuat para gold saint lain. "Boleh.. bolehkah saya melihat kondisi Shaka?" Tanya Mu sambil menunduk. Kabar kedekatannya dengan sang Virgo mungkin bukan hal yang rahasia diantara para gold saint dan Athena sendiri. Namun, dengan meminta langsung kepada Athena seperti ini, seolah-olah sama dengan menunjukkan dengan terang-terangan hubungan mereka.
Athena pun tersenyum dan mengangguk tanpa meminta pertimbangan kakaknya. "Ikutlah denganku, Mu." Katanya kemudian.
Mu melirik kawan-kawannya sejenak dan memandang masternya yang tersenyum kecil sebelum mengikuti Athena kedalam Papacy. Dengan keramaian seperti tadi, mungkin hanya satu atau dua gold saint saja yang mengetahui kepergiannya. "Disana, ada ruangan kecil diujung sana. Itu kamarr pribadiku, namun aku mengijinkanmu masuk kali ini." Kata Athena sambil menunjuk sebuah ruangan kecil disamping jendela batu persegi. Mu pun menurut dan berjalan memasuki kamar itu dengan sedikit menunduk. Wajahnya pun memerah ketika mengetahui bahwa ruangan ini ternyata adalah kamar pribadi Dewi junjungannya. Tempat yang seharusnya menjadi privasi.
Mu memandang sekelilingnya dan mendapati beberapa tempat tidur yang cukup besar berjejer didepan sebuah cermin panjang. Berbagai macam ukiran rumit pada lemari kayu pun sempat menarik perhatiannya. Jika dilihat saja, jelas tidak ada seorang manusia pun yang dapat mengukir seperti itu. Sungguh sebuah mahakarya Dewa. Ia pun memandang lurus kedepan dan mempercepat langkahnya ketika menemukan sebuah kasur keemasan kecil disudut ruangan itu. Dari jauh, ia dapat melihat tubuh kecil seorang gold saint yang sangat berarti baginya itu tengah berbaring di atasnya.
Tak lama kemudian, ia pun tiba disana. Mu berdiri disamping tempat tidur Shaka dan memegang tangan sang Virgo perlahan. Ia dapat merasakan tubuh Shaka yang terasa sangat dingin di kulitnya. Mu mengalirkan sebagian kecil cosmonya melingkupi Shaka, berharap itu akan menghangatkannya walau hanya sesaat.
Athena dan Artemis pun berdiri diambang pintu dan memperhatikan Mu dalam diam. Demikian juga Shion yang berdiri tak jauh dari tempat junjungannya itu berada. Tak ada satupun diantara mereka yang bersuara. Bahkan Artemis pun mamandang Mu dengan heran.
"Cepatlah kembali Shaka.. Aku mohon.." Pinta Mu sangat pelan. Ia pun duduk di sebelah kasur itu dan menatap wajah Shaka. Sudah tidak ada lagi luka dan memar di tubuh Shaka. Dan hal itu membuat Mu sedikit merasa lega.
"Saori-san!"
Panggilan Seiya yang sangat keras membuat kedua Dewi dan Kyouko yang berdiri disana refleks menoleh. Mu juga hendak menoleh, namun dengan cepat, Artemis menutupi pintu kamar itu dengan cosmonya dan membuat dinding ilusi agar Mu tidak dapat melihat mereka.
"Shtt.. Tolong jangan keras-keras Seiya.. Mu sedang berada didalam bersama Shaka." Tegur Athena nyaris berbisik. Seiya pun menjulurkan lidahnya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dengan santai, ia pun berjalan kearah Athena dan berbisik, "Aldebaran dan Milo memintaku bermain ke kuil Taurus. Aku kemari hanya ingin meminta ijin, yang Mulia Athena." Goda Seiya yang ditanggapi dengan anggukan dan senyuman kecil Athena. "Terserah. Kembalilah sebelum gelap. Para gold saint memiliki tubuh yang sangat lemah sekarang. Kebangkitan itu mempengaruhi mereka." Jawab Athena.
Seiya mengangguk dan dengan segera keluar dari Papacy. "Dasar anak enggak tau sopan santun." Kata Artemis sinis sambil kembali memperhatikan Mu dari balik ilusi itu.
"Athena-sama. Jika diijinkan, saya ingin berbicara dengannya." Pinta Shion tiba-tiba. Athena tak dapat membaca raut wajah sang Kyouko karena tertutup penutup kepalanya, namun tanpa ragu, Sang Dewi Kebijaksanaan itu mengangguk dan memberi isyarat agar Artemis menurunkan dinding ilusinya.
"Mu.."
Mu menoleh melihat namanya disebut. Wajahnya pun dengan segera memerah ketika melihat gurunya itu berjalan kearahnya.
"Master." Sapa Mu pelan sambil memandang Shion.
Shion tersenyum memandang anak didiknya itu. Sudah lama mereka tidak berbicara secara pribadi seperti ini. Pertemuan terakhir mereka mungkin ketika Mu sedang terbaring sekarat karena serangan Artemis. Mu segera bangun dari tempatnya dan memandang Shion sejenak sebelum kembali memandang Shaka.
"Ia akan segera pulih. Aku yakin." Kata Shion berusaha menenangkan. Mu merasakan tangan gurunya yang mengacak rambutnya. Ia pun menunduk ragu, dan tanpa bisa ditahan, Mu pun memeluk gurunya itu sangat erat dalam kecepatan yang luar biasa. Shion terkejut, namun dengan cepat berhasil mengembalikan keseimbangannya dan membalas pelukan Mu.
"Tolong jangan pergi." Pinta Mu pelan. Shion pun menepuk punggung Mu untuk menenangkannya ketika ia menyadari Mu tengah terisak dalam pelukannya. "Aku tidak yakin, Mu. Hidupku sudah terlalu lama. Mungkin Saga atau Aiolos pantas untuk menggantikan posisiku." Jawab Shion. Mu pun memeluknya makin erat dan menggeleng perlahan. "Aku mohon." Pintanya sekali lagi. Shion pun tertawa kecil dan mengelus rambut Mu yang panjang. "Kita semua akan pergi suatu hari nanti Mu. Generasi ini bukan milikku dan bukan bagianku. Aku tidak bisa menentukan sekarang. Apakah aku akan tetap tinggal, atau pergi. Aku tidak dapat menjanjikan apapun padamu" Kata Shion.
Mu tidak meminta lagi. Ia pun semakin membenamkan wajahnya pada dada Shion. Dan tanpa sadar, membasahi jubah Pope itu dengan air matanya. "Sudah. Ayo. Sudah waktunya kita untuk kembali. Hari sudah mulai gelap." Kata Shion sambil melepaskan pelukannya. Mu pun mengangguk dan memandang Shaka sebentar sebelum meninggalkan kamar itu bersama dengan gurunya. Ia juga memberi hormat kepada Athena sebelum meninggalkan Papacy.
..oOo..
Langit terlihat cerah malam ini, dan bulan purnama pun bersinar dengan indahnya mengikuti pancaran cosmo dari sang Dewi Bulan. Suara burung hantu dan gesekan daun karena angin pun mendominasi malam yang tenang ini. Jam sudah menunjuk pukul duabelas malam ketika Mu terbangun dari tidurnya dan tubuhnya tiba-tiba saja tidak dapat digerakkan. Ia pun nyaris menjerit ketika menyadari ada sepasang tangan yang menahan kedua tangannya tetap terlentang di atas tempat tidur.
"Shaka lepaskan!" Seru Mu ketika menyadari apa yang terjadi. Wajahnya memerah ketika ia melihat wajah Shaka yang sangat dekat dengannya. Mu dapat merasakan nafas Shaka yang menyentuh wajahnya. Ia pun dengan segera memberontak dari genggaman sang Virgo. Shaka tersenyum saat ia menyadari wajah Mu yang sudah semerah tomat dan dengan segera melepaskan tangannya yang menahan lengan Mu.
Mu melompat menjauh dari kasurnya dan memandang Shaka lekat. Nafasnya tak beraturan karena terkejut. "Sha.. Shaka?" Tanya Mu meragukan indra penglihatanya. Obor disamping tempat tidurnya pun bergerak kesana kemari dan menyebabkan Shaka terlihat buram dalam pandangannya.
"Tentu saja ini aku." Jawab Shaka diiringi tawa kecil. Sang Virgo pun membakar cosmonya sedikit agar Mu dapat mengenalinya. Rasa senang dan heran membuat Mu melupakan kesopanan menyambut tamu dan sebagainya. Ia pun memeluk Shaka hingga mereka terjungkal diatas tempat tidur itu. Melupakan Kiki yang tidur tak jauh dari mereka.
"Apa yang terjadi?! Ceritakan semuanya." Pinta Mu dengan segera. Ia pun mempererat pelukannya pada Shaka, seolah-olah jika ia melepaskannya, maka Shaka akan menghilang lagi.
Shaka pun tertawa kecil sebelum menjawab, "Aku tidak tahu. Waktu itu semuanya gelap, namun tiba-tiba saja seorang wanita datang kepadaku. Hal ini tidak seperti mimpi dan aku dapat melihat wanita berambut merah itu jelas sekali. Aku mengenali cosmonya, dan menyimpulkan bahwa dia adalah Dewi Persephone. Kemudian ia menarik tanganku dan membawaku pergi dari situ. Aku dapat merasakan jiwaku yang pergi dari tubuhku seperti ketika aku bermeditasi dan berkunjung ke mekai. Dewi Persephone membuka jalan para Dewa didepanku dan membawaku masuk ke sana. Aku menyadari clothku berbeda seperti ketika aku melawan Dewa kembar itu sebelumnya. Barulah saat aku bertanya, Dewi Persephone mengatakan bahwa itu adalah Virgo God Cloth. Dia membawaku memasuki jalan para Dewa itu. Jalan para Dewa itu benar-benar lautan dimensi, aku pun nyaris terhisap kedalam salah satu perpotongannya, namun God Cloth itu membawaku kembali seperti aku sedang terbang. Dan setelahnya, Dewi Persephone membawaku kedalam Elysium. Sebuah ladang bunga terindah yang pernah aku lihat. Dan ia memberiku kalung ini. Katanya, kalung ini dapat membantu Athena di hari H nantinya." Jelas Shaka panjang lebar sambil menunjukkan sebuah kalung yang berbandulkan permata biru jernih itu kepada Mu.
"Jika hanya itu, mengapa kau pergi begitu lama?"
"Ketika aku hendak kembali, tiba-tiba saja Hypnos dan Thanatos muncul di Elysium. Baik aku maupun Persephone sama sekali tidak menduganya. Dan kami pun terlibat pertempuran yang cukup sengit dengan mereka sebelum akhirnya aku dapat kembali kemari." Jawab Shaka.
Mu pun terdiam dan tak bertanya, menunggu Shaka untuk melanjutkannya.
"Hypnos dan Thanatos sama sekali tidak berniat menyerang Persephone. Namun akulah yang diincarnya, karena itulah Dewi Persephone berusaha membantuku melarikan diri dari Dewa kembar itu sebisa mungkin. Dan ketika aku berhasil melarikan diri, mereka memandang Persephone penuh kebencian. Saat itu juga, aku yakin pertempuran akan berlanjut. Karena itu Athena-sama tengah pergi ke Elysium sekarang."
"Athena.. sekarang?" Tanya Mu terkejut.
"Iya. Athena melarangku membantunya dan pergi begitu saja melalui jalan para Dewa."
"Oh" Jawab Mu sambil menunduk. "Aku yakin Athena melakukan yang terbaik. Setidaknya, aku yakin beliau pasti menang jika Hypnos dan Thanatos memaksa untuk berperang." Lanjutnya sambil terus memeluk Shaka yang kini menyandarkan kepalanya di pundak Mu.
"Besok. Ya. Bersama dengan kepergian sang Pegasus. Athena-sama akan mengumumkan rahasia itu kepada kita." Kata Shaka diikuti anggukan Mu. "Aku tahu. Aku harap hal ini tidak akan menimbulkan masalah yang besar untuk kita." Jawab Mu sambil memperhatikan api obor disampingnya. "Tidurlah disini malam ini, Shaka." Pinta Mu. Shaka pun memandang Mu sejenak dan tersenyum sebelum memperbaiki posisinya dan tidur disamping Mu yang tetap terjaga.
.
.
Kau sudah kembali..
Tapi aku tak ingin yang lain untuk pergi..
.
Master Shion..
.
.
..oOo.. To Be Continued ..oOo..
Akhirnya berhasil juga update Chapter 7 nyaaa.. #sujud
Sayang sekali ada perubahan rencana tiba-tiba yang akhirnya terpaksa Fanfic ini tidak bisa berakhir di Chapter 7 #gomen T^T…
Tapi kemungkinan besar, Chapter 8 aku bakal tamatin nih cerita yang udah melenceng sana melenceng sini..
Knp kok banyak pair ShakaMu bertebaran? Yaaah.. berhubung pas nulis sambil liat2 gambar ShakaMu, jadinya enggak tahan dan aku bikin aja nih pair :3 #Hehehe #plak
Kritik dan Saran lagi-lagi sangat ditunggu..
Thanks For Reading!^^
