© 2013 Akizuki Kiriya

Falling Without You

by Kiri-chan

Apa yang kau rasakan jika kau tak bisa menentukan jalan hidupmu sendiri? Cho Kyuhyun tak bisa bertahan lebih lama lagi, hingga dia bertemu Lee Sungmin, pemuda manis yang tak pernah tersenyum dari dasar hatinya, seseorang yang sepertinya telah menyerah dalam hidup.

Main Pair : Kyuhyun/Sungmin

Warning : ada beberapa crack pair sebagai konflik dalam cerita, it's SLASH! YAOI! Shounen-ai! Whatever a BoyxBoy FanFiction called! Siapapun yang keberatan bisa menerapkan asas DON'T LIKE DON'T READ bagi fanfiction ini.

~ Chapter 7 ~

Powerless

oOo

"Kau kelihatan baik-baik saja, Kyu."

Ada yang tidak beres jika Yesung sudah menyebut Kyuhyun dengan nama 'Kyu'. "Kau ingin protes soal apa, hyung? Katakan saja langsung. Tidak usah bertele-tele."

"Berpisah dengan kekasihmu, bertunangan dengan orang yang tidak kau sukai. Tapi kenapa kau kelihatan masih baik-baik saja?"

Kyuhyun meletakkan lembar-lembar partitur yang sedari tadi sibuk dia baca. "Lalu apa yang kau harapkan, hyung? Kau ingin aku menangis? Memasang wajah menderita berhari-hari?"

"Kau ini santai sekali."

Kyuhyun menautkan alisnya. Yesung selalu seperti itu. Di luar wajahnya yang tampak tidak pedulian, mulutnya itu selalu mengeluarkan kata-kata tajam yang entah mengapa terdengar menusuk bagi Kyuhyun.

"Hyung, kau pikir… aku menikmati semua ini?"

"Apa aku salah?"

Kyuhyun menatap tajam. Yesung masih membereskan buku-buku yang berantakan ke dalam rak, tapi Kyuhyun tahu pemuda yang satu tahun lebih tua darinya itu sedang mengawasi reaksi Kyuhyun.

"Sungmin bukan orang jahat, hyung."

Kali ini Yesung menoleh. Kalimat Kyuhyun tadi sepertinya sudah di luar dugaan Yesung. "Maksudmu?"

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Mata Kyuhyun kembali membaca not-not balok dalam kertas partiturnya. "Aku baik-baik saja bersamanya. Dia tidak akan menghalangiku, atau menuntutku soal apapun. Kau harus bertemu dengannya, hyung. Kau akan mengerti maksudku."

Yesung menatap Kyuhyun serius. "Lee Sungmin tidak akan menghalangimu bersama Lee Hyukjae, itu maksudmu?"

Kyuhyun mengangguk.

"Aku tidak bicara soal Lee Sungmin, Kyuhyun. Aku bicara soal dirimu."

Kyuhyun menautkan alisnya. Lama-kelamaan wajah pucatnya itu berubah kesal. "Yah! Hyung! Kenapa kau selalu… aish! Berputar-putar seperti itu, hyung?! Bisakah kau mengatakan langsung intinya saja?!"

"Kau jatuh cinta pada Lee Sungmin."

Kyuhyun terbelalak.

"Itulah mengapa kau baik-baik sa—bukan, lebih tepatnya kau bahkan tampak bahagia, Kyuhyun."

oOo

"Selamat, Sungmin-ssi!"

"Sungmin sunbae cepat sekali lulusnya."

"Aku akan sangat kehilanganmu."

Sungmin mengangguk sopan berkali-kali. Para siswa menepuk bahunya, sementara para siswi—terutama dari angkatan yang lebih muda—memberinya bunga dengan mata berkaca-kaca. Andai saja Sapphire ini sekolah negeri, bisa dipastikan siswi-siswi itu sudah menangis meraung-raung sebab kelulusan Sungmin. Gedung Sapphire untuk SMP dan SMA memang berbeda dan jauh jaraknya.

Tapi ini Sapphire High School, semuanya berjalan dengan tenang. Terlalu tenang.

"Sungmin sunbae, maaf."

Sungmin menoleh saat menemukan siswi dengan dasi biru muda—dasi anak kelas 1—mendekat ke arahnya dengan wajah malu-malu yang menunduk. "Ya?"

"Apa… aku boleh meminta satu kancing kemejamu?"

"Apa yang kau lakukan, Seungyeon-ssi!" Salah satu temannya memekik pelan, sangat pelan, tapi cukup ditangkap telinga Sungmin. "Itu tidak sopan."

"Tapi… tapi… Gyuri-ssi…" Gadis itu balas menatap dengan mata berkaca-kaca. "Siswi-siswi sekolah lain biasa melakukan hal semacam itu pada sunbae—"

"Kau ingin mengikuti gaya para rakyat jelata?!"

Mata Sungmin meredup.

"A-aku…"

"Lupakan saja, Seungyeon-ssi! Sungmin sunbae, maafkan temanku." Kedua gadis itu membungkuk pada Sungmin, meski salah satunya membungkuk karena dorongan tangan si teman.

Tak!

"Ini untukmu."

Gadis yang dipanggil Seungyeon terbelalak, dia masih tak percaya kancing di tangannya benar-benar nyata. Dia sudah membeku seperti itu sejak Sungmin mencabut kancing teratas kemejanya tadi.

"Jangan menangis, oke?" Jemari mungil Sungmin mengusap rambut gadis itu, sangat lembut.

Walaupun Sungmin tak tersenyum sama sekali, tapi tindakannya cukup membuat jantung gadis tadi berdebar begitu cepat.

Bruk!

Langkah Sungmin terlanjur berbalik, tak menyadari gadis tadi terjatuh lemas di belakang sana. Matanya menatap gedung sekolah Sapphire, menatap lambangnya yang menyerupai sayap berwarna biru dan perak. Sejak kecil Sungmin biasa menuntut ilmu di bawah lambang sekolah yang sama. Tapi dia tak merasakan apapun saat akan beranjak meninggalkannya.

Sungmin akan pindah, tanpa seorangpun yang tahu.

Dia bukannya takut jika semua orang tahu seorang Lee Sungmin akan pindah ke sekolah negeri, sekolah biasa. Dia hanya merasa itu bukan hal penting untuk dibicarakan. Lagipula Sungmin tidak peduli.

Hidupnya ini, memang selalu berjalan sesuai kehendak orang lain bukan? Jadi dia tidak perlu banyak bicara, tidak perlu banyak protes.

Toh meski dibicarakan sekalipun tetap tidak akan ada yang berubah.

oOo

Tatapan tajam Yesung masih bersarang pada mata Kyuhyun yang membelalak. Ryeowook yang baru masuk ruang musik hanya bisa mengerjap melihat suasana yang begitu tegang.

"Kalian kenapa?" tanya pemuda mungil itu heran.

"Ah, Ryeonggu." Mata Yesung beralih, sinarnya berubah lembut. "Sudah siap perform?"

"Ya." Ryeowook mengangguk. "Tapi kurasa 5 lagu terlalu banyak, hyung. Kau dan Kyuhyun terlalu lama mengobrol disini sampai tidak sadar menghabiskan seperempat waktu istirahat."

"Begitukah?" Mata sipit Yesung melebar. "Hahaha… maafkan aku, Ryeonggu. Kita akan ke aula sekarang."

"Hyung…"

Langkah Yesung berhenti sebab suara Kyuhyun, mata bulan sabitnya itu kembali melempar tatapan tajam. "Kenapa, Kyuhyun?"

"Aku…" Tangan pucat itu terkepal, "… tidak jatuh cinta padanya."

Mata Ryeowook membulat. Ingin bertanya namun kedua wajah di hadapannya tampak begitu kaku dan serius, membuat rasa penasaran Ryeowook terpaksa ditahan sementara waktu.

"Begitu menurutmu?" Yesung memasang ekspresi bosan.

"Meski aku jatuh cinta padanya—" Tinju itu terkepal lebih kuat lagi, hingga buku-buku jemarinya mengeras, "—aku akan jatuh sendirian, hyung. Dan Eunhyuk akan ada untuk menangkapku kembali."

Yesung membeku, wajahnya tampak dua kali lipat lebih kaku dari yang pernah terlihat. Oke… Jadi Kyuhyun memang bukan orang bodoh. Bocah itu tahu persis soal perasaannya sendiri, dan dia juga tahu apa resikonya.

"Dengan kata lain…" Yesung bersuara setelah sekian lama—hampir 10 menit—terdiam. "Kau memanfaatkan keadaan selagi bisa, Kyuhyun? Kemudian kau siap menerima konsekuensinya suatu hari nanti?"

Tubuh kurus Kyuhyun tersentak. "Aku tidak memanfaatkan apapun!"

"Kau akan bersenang-senang menghabiskan hari-harimu dengan Lee Sungmin, kemudian pada akhirnya kembali pada Lee Hyukjae, itu apa namanya kalau bukan memanfaatkan?!"

"HYUNG!" Kyuhyun membentak.

Ryeowook menutup pintu ruang klub secara reflek, mencegah agar perdebatan Kyuhyun dan Yesung tak bocor keluar. Ruangan ini kedap suara, untungnya.

"KAU TAHU AKU MENERIMA PERTUNANGAN INI BUKAN UNTUK MEMANFAATKAN KEADAAN!"

"Untuk melindungi Lee Sungmin, untuk menyelamatkan kalian berdua, begitu menurutmu?" desis Yesung angkuh. "Rencana ini tidak sesimpel yang kau kira, Kyuhyun. Apalagi dengan perasaanmu yang seperti itu. Saat ini mungkin masih ada Lee Hyukjae di hatimu, tapi ikatanmu dengan Lee Sungmin bukan hal sepele. Kau akan bersama Lee Sungmin sampai kalian berdua mandiri dan bisa sepenuhnya menguasai perusahaan, kau bilang? Itu akan menghabiskan waktu 9 tahun, 12 tahun, entah sampai kapan. Saat itu kau pasti sudah—"

"Soal hatiku, aku yang akan mempertanggung jawabkannya sendiri. Siapapun tidak bisa ikut campur." Kyuhyun menatap sengit. "Suatu hari nanti aku akan kembali pada Eunhyuk, aku pastikan itu."

"Meski pada saat itu kau sudah jatuh cinta sepenuhnya pada Lee Sungmin?"

"Ya, meskipun begitu."

Yesung terhenyak. Ryeowook bahkan menutup mulutnya yang terperangah dengan kedua tangan.

"Kau… sok kuat sekali, Kyuhyun."

Kyuhyun tersenyum miring mendengar kalimat meremehkan Yesung. "Kau tahu aku memang kuat, hyung."

"Kau menyiksa dirimu sendiri."

"Terserah aku."

"Keras kepala."

"Terserah kau mau bilang apa saja, hyung. Aku tidak peduli."

"Kyuhyun…" Kali ini Ryeowook yang bersuara dengan wajah menatap cemas. "Kenapa… bisa begitu cepat?"

"Huh?" Kyuhyun berkedip bingung.

"Kenapa perasaanmu pada Lee Sungmin begitu cepat tumbuh? Ini baru seminggu sejak pertunangan ka—"

"Love at first sight, kata Yesung hyung." Kyuhyun mendengus. "Terserah Yesung hyung saja."

"Tinggalkan Lee Hyukjae sepenuhnya kalau begitu." Yesung melipat kedua tangannya di depan dada.

"Aku tidak bisa." Kyuhyun menjawab tegas. "Aku ini pria bertanggung jawab, hyung."

Hening, yang benar-benar lama. Tiga anggota grup KRY itu saling menatap kaku, kecuali Ryeowook yang lebih menunjukkan ekspresi prihatin.

"Tak usah menatapku seperti itu, Ryeowook-ah." Kyuhyun menampilkan senyum yang jelas terlihat dipaksa. "Aku belum jatuh cinta pada Sungmin, jadi aku baik-baik saja."

"Belum jatuh cinta, berarti akan."

"Huh… aku tahu, hyung." Kyuhyun menatap kesal Yesung yang lagi-lagi mengeluarkan komentar sinis. "Apa menurutmu aku ini orang brengsek?"

"Ya, mungkin begitu."

Kyuhyun mendengus geli mendengar jawaban datar Yesung.

"Tapi… sebenarnya kau tidak seperti itu, Kyuhyun." Kalimat lanjutan Yesung membuat mata Kyuhyun membulat. "Banyak orang mendekatimu selama ini, bahkan banyak dari mereka jauh lebih cantik dan lebih tampan dari Lee Hyukjae. Tapi kau tak pernah sedikitpun berpaling. 2 tahun lebih hanya bersama Lee Hyukjae sudah cukup membuktikan kau orang yang setia, Kyuhyun. Mungkin Lee Sungmin ini kasus lain."

"Begitu?" Wajah Kyuhyun menunduk dengan ekspresi tertutup di balik poninya, tapi siapapun dapat melihat bibir merahnya yang tersenyum. "Jangan beritahukan percakapan ini pada siapapun, hyung. Kau juga, Ryeowookie."

Yesung mendengus. "Kau tahu, Kyu. Semua aibmu memang ada disini. Di ruang musik KRY."

"Ngomong-ngomong soal KRY…" Mata Ryeowook membulat lebar. "Kita tidak jadi perform."

Bersamaan dengan berakhirnya kalimat Ryeowook, bel selesai istirahat berbunyi keras.

oOo

"Kau sudah lama sekali tidak bicara dengan Kyuhyun ya?"

Hyukjae tersentak saat menemukan Donghae persis di belakangnya. "M-mau apa kau?!"

"Mengawasimu, yang sedari tadi menatap pintu ruang KRY dengan wajah memelas." Donghae menyeringai.

"YAH! Aku tidak memasang wajah memelas!" Hyukjae nyaris memukul Donghae, tapi buru-buru menurunkan tangannya saat menyadari ada ponsel dalam genggamannya.

"Huh?" Donghae memiringkan kepalanya. "Aku tahu kau putus dengan Kyuhyun, tapi aku tidak menyangka kau akan membuang barang pemberiannya."

Hyukjae terbelalak. "Barang… barang apa?"

"Strap ponselmu, tentu saja." Donghae memutar bola matanya. "Gantungan monyet bodoh yang sedang makan pisang itu."

"ITU TIDAK BODOH!"

"Tentu saja bodoh, buktinya kau membuangnya."

"AKU TIDAK MEMBUANGNYA!"

Donghae menyeringai. "Jadi kau menghilangkannya?"

Hyukjae terkesiap. Sial… rasanya seperti dijebak. "Bukan urusanmu, Lee Donghae."

"Bagaimana perasaan Kyuhyun ya?" Donghae mengulurkan tangannya, menyentuh rambut di dekat telinga Hyukjae. "Jika dia tahu mantan kekasih tercintanya ini sudah menghilangkan barang pemberiannya?"

PLAK!

Donghae terkekeh. Hyukjae sudah biasa menepis tangannya sekasar itu, sudah tidak terasa sakit lagi.

"Eunhyukkie~"

"Berhenti memanggilku dengan nama itu!"

"Hyukkie chagi…"

TAP!

Telapak tangan Hyukjae berhenti tepat di sebelah pipi Donghae, hanya sampai disitu saja sebab cekalan Donghae lebih cepat menghentikannya.

"Sejak 2 tahun yang lalu, coba kau hitung sudah berapa kali kau menamparku?"

"Itu salahmu sendiri kan?" Hyukjae menggeram, berusaha meloloskan tangannya dari Donghae namun pemuda yang lebih pendek darinya itu menahannya begitu kuat.

"Kupikir kesalahanku sudah terbayar."

"Terbayar?!" Hyukjae terbelalak bingung.

"Aku meninggalkanmu selama 3 bulan. Kau meninggalkanku selama 2 tahun. Impas?"

DUAKKK!

Donghae terhempas telak saat kaki panjang Hyukjae menendang tulang keringnya sekuat tenaga.

"Aku tidak akan memaafkanmu, sialan!" Hyukjae melempar tatapan sengit sebelum berbalik pergi dengan langkah menghentak marah.

Meninggalkan Donghae yang masih bisa menyeringai dalam kesakitannya.

"Kau dan prasangka bodohmu itu yang sialan."

oOo

Kyuhyun merasa hari ini begitu panjang. Kepalanya berdenyut, dan dalam setiap denyutannya terbayang kalimat-kalimat menusuk Yesung—juga cercaan pertanyaan Ryeowook—yang membuat otaknya semakin lelah.

"Jatuh cinta pada Sungmin?" Kyuhyun mendesis miris.

Apa jadinya jika hal itu benar-benar terjadi? Kyuhyun akan menjadi orang yang paling diuntungkan dalam pertunangan ini, bukan? Dan pada akhirnya Kyuhyun akan menjadi orang egois yang mengikat Sungmin erat-erat meski pemuda itu ingin lepas darinya.

Kyuhyun kenal betul dirinya sendiri. Dia egois. Dia tahu bagaimana dia tetap berusaha menarik Hyukjae meski pemuda itu jelas-jelas mencintai Donghae. Dia tahu bagaimana cara memanfaatkan kesempatan saat Hyukjae terpuruk, bagaimana agar Hyukjae mau berpaling padanya, memilih bersamanya. Dan Kyuhyun berhasil melakukannya tanpa merusak persahabatannya dengan Donghae.

Dan… ya Tuhan… Kyuhyun tidak mungkin melakukan hal semacam itu pada Sungmin.

Bagaimana dia bisa memaksa sosok rapuh itu tetap terikat bersamanya? Sungmin sudah banyak melakukan hal-hal yang tidak dia inginkan sejak lahir, apa Kyuhyun harus membebaninya lebih lagi?

Kyuhyun mengacak poninya, entah mengapa mendadak merasa frustasi.

"Kau sudah pulang?"

Kyuhyun berbalik, menemukan sosok mungil yang dengan seenaknya mendebarkan jantungnya sejak pertama kali dia datang.

"Ini hari istimewamu, jadi aku tidak akan mampir kemana-mana." Kyuhyun tersenyum, tangan pucat itu dengan ringannya menyentuh helaian pirang platinum Sungmin. "Selamat atas kelulusanmu, Min."

"Min?" Pantulan bintang dalam mata rubah yang mengerjap heran itu membuat jantung Kyuhyun berdebar lebih lagi.

"Iya, Min." Kyuhyun tersenyum lebih lembut. "Min, Sungmin."

"Kalau begitu…" Sungmin memberi jeda pada kalimatnya sejenak, terlihat seperti menimbang-nimbang keputusan. "Apa aku harus memanggilmu 'Kyu'?"

Kyuhyun tahu. Sepenuhnya tahu. Sejak hari pertunangan mereka, saat Sungmin memasangkan cincin itu di jarinya, saat Sungmin mencium pipinya, saat Sungmin mengobati lukanya, saat Kyuhyun mendapat kesempatan menatap wajah Sungmin dalam jarak sekian senti.

Jantungnya tak kunjung berhenti berdebar begitu keras.

"Harus, mungkin…" Mata obskurit Kyuhyun menatap teduh. "Aku tidak ingin memaksamu, tapi aku lebih senang kau memanggilku seperti itu."

"Aku mengerti, Kyu."

Berlawanan dengan Lee Hyukjae yang bersinar terang, berlawanan dengan Lee Hyukjae yang sanggup mencairkan kebekuan hati Kyuhyun, berlawanan dengan Lee Hyukjae yang ceria dan begitu hidup.

Lee Sungmin, dia dingin dan datar, seolah tak punya perasaan, namun hanya dengan melihatnya saja Kyuhyun merasa hatinya berubah hangat.

"Min…" Jemari Kyuhyun di puncak kepala Sungmin mulai turun, perlahan meraih dagunya dan mengangkat wajah manis itu lembut. "Jangan… jangan sampai jatuh cinta padaku."

"Baiklah." Sungmin mengangguk. "Itu tidak akan terjadi."

Dia memang boneka yang akan mematuhi apapun yang kau katakan.

Kyuhyun merasa seserpih kaca tajam menusuk hatinya. Perih. Kenapa rasanya seperti ini? Apa dia sudah mulai jatuh? Kyuhyun bahkan belum sempat mencari pijakan yang kuat. Kyuhyun baru mengenal Sungmin. Kyuhyun belum mempersiapkan apapun.

Mungkin, Kyuhyun benar-benar akan jatuh sendirian.

oOo

To Be Continued