Semua yg ada disini MILIK J K ROWLING!
TE AMO~
Chapter 6
Harry membereskan meja dengan menggumam tidak jelas. Ia kesal karena Ginny seenaknya menuduh dirinya melakukan tindakan asusila.
Padahal kemarin Harry murni menolong Ginny yang kelelahan. Ia hanya mengompres lalu kembali ke kafe, tidak terjadi apa-apa, Kenapa bisa Ginny berkata seperti tadi?
Harry sibuk dengan pikirannya, namun ketika ia melirik ke toko kue Ginny yang sudah tutup. Harry terkejut, sosok lelaki yang tertutup remang malam hari masuk ke sana. Langkah pria itu mengendap-endap lewat pintu depan yang sudah terkunci.
"Luka di leher Ginny? Jangan.. jangan…"
Harry bergidik ngeri, ia segera melesat ikut masuk ke dalam tempat Ginny sebelum pria itu melakukan hal yang lebih parah.
Hermione berjalan sambil menundukkan kepala. Ia menatap ke arah jalan besar yang penuh hiruk-pikuk semua orang. Hermione memikirkan beberapa hari ini semua terjadi terlalu cepat—dan tidak pernah terkirakan.
"Padahal baru kali ini aku melihat 3 orang sekaligus,,,dan salah satunya aku…." Lirih Hermione, ia menendang batu batu kecil di jalanan. Hermione mau mengulang hidupnya dari awal—namun kenapa semua malah berbalik lagi, "Besok aku harus berbicara dengan Lavender" memikirkan Lavender, Hermione agak bernafas lega—Lavender adalah orang yang paling Hermione percayai hingga saat ini. Ia tidak pernah memanfaatkan Hermione meskipun Lavender tahu kelebihan Hermione, Lavender tulus berteman dengan Hermione.
"Dan soal pria itu..aku harus menjaga jarak dengannya" tubuh Hermione menggigil ketika mengingat sosok Draco—lelaki yang paling tidak dia inginkan ternyata telah muncul.
Daphne mencuri pandang ke arah Theo. Hari ini Adrian sengaja mengutus Daphne untuk menghadiri rapat antar UKM dengan Badan Mahasiswa.
Tadinya Daphne ingin menolak—tetapi dia penasaran dengan ucapan Adrian semalam. Apa benar Theo jatuh cinta dengannya? Daphne menggeleng, sampai kapanpun itu terdengar mustahil—bagaimana mungkin? Daphne sendiri tidak punya perasaan apa-apa, Theo hanya teman bagi Daphne, tidak lebih.
"Ya…sebaiknya kalian men…mendiskusikan…hal ini dengan pengur…aishhhh kenapa aku salah terus, maksudku pengurus setiap UKM" Theo sudah salah 12 kali berbicara untuk memulai rapat.
Daphne bertopang dagu, ia menatap lurus Theo. Tampan dan baik, tetapi kenapa belum punya pacar. Daphne mengangkat bahu, tidak peduli. Lebih baik rapat ini selesai sehingga ia bisa kembali bersantai.
"Kau tidak memberikanku banyak pilihan" bisik Luna. Sekarang dia sudah berada di ruang ekstrakurikuler Bola. Luna masuk dengan sembunyi-sembunyi, sebuah benda tajam—jarum berada di tangannya. Ia tersenyum licik ketika melihat tak seorangpun anggota ekstrakurikuler Bola ada di tempat. Dengan perlahan tapi pasti Luna mengambil salah satu bola yang bertuliskan TREVOR di dalam keranjang. Tanpa ragu Luna menusuk jarum ke bola milik Neville, hanya sebentar bola itu kempes dengan sukses.
Luna tersenyum puas, segera ia keluar ruangan dan menutup pintu tanpa suara, "sekarang tidak ada alasanmu untuk kabur hmm", Ia lalu melenggang lega ke arah perpustakaan, "tinggal tunggu 5 menit, dan dia akan datang" bisiknya dengan yakin.
"Kelihatannya anda mengantuk" sapa Blaise ramah, ia sedang melayani Ron yang memang pelanggan tetap tiap pagi. Ron selalu sarapan di kedai Blaise sebelum jam kantor di mulai
Ron tersenyum, namun tiba-tiba ia ingin menanyakan sesuatu, "Ehm, Blaise?"
"Ya?"
Ron mundur, "a..tidak, sudah lupakan…" Ron duduk di tempat favoritnya—melihat ke samping. Toko bunga Lavender belum di buka juga, "urusan wanita itu, kenapa aku malah ingin tahu" desah Ron—tetap menatap lurus ke depan, berusaha mencari-cari sesuatu yang ia sendiri tidak tahu itu apa.
KREKKKK
Pintu mungil itu terbuka. Lavender keluar masih menggunakan piyama pink. Ia menyeberang dan masuk ke kedai Blaise tanpa sadar dengan keberadaan Ron.
"Blaise?" panggil Lavender sambil mengusap matanya yang mengantuk.
"Ya, Lav?" Blaise keluar membawa pesanan Ron. Melihat itu Lavender mengikuti arah Blaise berjalan, Mata Lavender sedikit melebar ketika menyadari siapakah tamu Blaise sepagi ini, ternyata playboy itu toh, pikir Lavender.
"Ini sudah aku buatkan" Blaise memberikan segelas teh hangat ke tangan Lavender, "rose tea kesukaanmu" ucapnya sambil tersenyum.
"Terima kasih" balas Lavender memegangi gelas itu sambil menghirup harum bunga di atas teh.
"Mereka tidak serasi" ucap Ron spontan, matanya masih terpaku pada Lavender yang asyik meminum teh.
"Kenapa? Kau lupa padaku?" bisik lelaki itu yang membuat Ginny makin ketakutan. Lelaki ini…dialah orang semalam masuk ke rumah Ginny bukan Harry. Pikir Ginny.
Tolong, siapa saja, tolong aku. Jerit Ginny dalam hati.
BUKKKK
Pegangan lelaki di pundak dan mulut Ginny mengendur. Kepalanya tersentak ke belakang dinding. Ginny melihat kesempatan untuk kabur langsung lari ke atas—ke kamar pribadinya.
Suara bising dan bunyi baku hantam tidak Ginny pedulikan, ia terus saja menaiki tangga dan mengunci pintu kamar. Ginny meringkuk di atas tempat tidur dengan tubuh gemetar.
Tak lama kemudian..
TOK TOK
Ginny merapatkan pegangan tangan di tubuhnya. Takut lelaki itu berhasil menemukan Ginny lagi.
TOK TOK
"Tuhan tolong aku" Ginny menggigil ketakutan.
TOK TOK
"Ginny, ini aku"
Suara yang amat dia kenal terdengar dari balik pintu. Ginny menajamkan telinga, "Harry?" balasnya masih belum mau membukakan pintu.
"Iya ini aku, tenang saja lelaki brengsek itu sudah aku buang ke tengah jalan" dengusan Harry yang khas malah membuat tubuh Ginny berhenti menggigil—Tuhan menjawab doanya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Harry tidak memaksa untuk masuk ke dalam.
"Iya, terima kasih" bisik Ginny pelan.
"Apa? Aku tidak dengar?" pancing Harry sengaja—Ginny spontan kembali ke sifat asli.
"Kau?! Aku kan sudah bilang terima kasih! Masa harus di ulang berkali-kali!" teriak Ginny kesal.
Suara Harry membahana penuh tawa, "hahahaha, itu berarti kau memang sudah tidak apa-apa" ucapnya kencang.
Suasana tiba tiba hening..
"Harry?" panggil Ginny.
Tidak ada jawaban
"Hah, mungkin dia sudah pulang" Ginny merebahkan diri dengan tenang. Matanya memandang langit-langit kamar sambil membayangkan kejadian yang pernah terjadi dulu antara dia dan Harry.
"Aku berhutang budi dua kali padamu" bisik Ginny seraya mencoba terpejam—rileks. Tubuhnya melemas, hanya butuh waktu sepersekian detik Ginny nyenyak dalam dunia mimpi.
"Hai Hermione!" sapa Draco di kelas ketika jam istirahat, "nanti mau ke kedai sama-sama?" tawarnya ramah.
Hermione menghela nafas panjang, "aku ingin memberitahu sesuatu"
"apa?" tanya Draco yang mencopot kedua earphone dari telinganya.
"Jangan bicara denganku di sekolah, Jangan mendekat lebih dari 1 meter, anggap saja kita tidak saling kenal" Hermione memberi peringatan.
Draco mengulas senyum sinis—tetapi dia tersentak ketika sadar Hermione tidak main-main dengan perkataan yang barusan di ucapkan.
Draco menyisir rambut gusar, "beritahu aku satu alasan, apa salahku sampai sikapmu dari kemarin aneh begini?" tanyanya tidak terima, "kita kan partner bekerja"
Hermione mendelik tidak setuju, "tetapi tidak untukku, lebih baik kau jaga jarak mulai dari sekarang" usir Hermione terang-terangan.
Draco tercengang—tidak bisa berbuat apa-apa. Di lihatnya Hermione pergi menjauh dari Draco, seakan-akan dia penyakit berjengit yang bisa menular kapan saja.
"Apa aku segitu menjijikannya kah?" bisik Draco masih memandang punggung Hermione di belakang.
"Untung rapat sudah selesai" Daphne secepat mungkin membereskan buku-buku catatan dan berdiri dari kursi. Theo yang melihat Daphne akan pergi langsung datang menghampiri, "Gara gara kau?! Pidatoku berantakan!" tegur Theo berdecak kesal.
"Ha?" Daphne menganga lebar, "kenapa aku yang disalahkan!"
Theo melirik Daphne dari atas ke bawah, "Kenapa kau memandangku terus-menerus ha? Itu membuatku gugup" jelasnya masih kesal—baru kali ini Theo berantakan memimpin rapat.
Daphne memandang Theo seolah-olah berkata, 'ngga salah'…"semua orang memang melihat ke arahmu, jadi itu bukan salahku!" Daphne menggelengkan kepala, "padahal kukira kita sudah berteman, tapi kau menabuh genderang perang lagi! Huh" Ia berjalan keluar ruangan sambil sesekali bergumam tidak jelas tentang sikap aneh Theo.
Luna bekerja di perpustakaan dengan telaten. Ia memang suka menghabiskan banyak waktu di sini ketimbang pergi ke tempat anak-anak bergaul pada umumnya. Luna sedang membereskan debu yang menempel di buku-buku tua ketika Neville masuk dengan nafas terengah-engah. Tanpa sadar Luna tersenyum licik dan penuh perhitungan.
"Kau kembali" kata Luna dingin.
Neville mengatur nafas terlebih dahulu, "aku tidak bisa bermain bola, bola milikku kempes" sungutnya sambil mengambil kemoceng untuk membantu Luna. Neville memang tidak punya pilihan lain.
"Memang sebegitu pentingnyakah bola itu, kau kan bisa main dengan bola yang lain" padahal sebenarnya Luna sudah tahu tentang hal itu—Neville sang lelaki terkenal, hanya bisa bermain dengan bolanya sendiri, ah semua murid di sekolah sudah pasti tahu.
Neville menahan hidung seperti mau bersin, karena berada dekat tumpukan debu, "tetapi bola itu berharga karena itu adalah hadiah terakhir yang di berikan oleh nenekku sebelum dia meninggal" suara Neville terdengar sedih.
"Apa?" Luna tercengang, Neville mengangguk, "makanya aku tidak pernah membuang bola itu, meskipun sudah kotor dan bertambal….Nenek suka memanggilku Trevor, itu panggilan kesayangan darinya.. karena itu juga nama kakekku" Neville menoleh karena Luna tidak mengatakan apapun.
"Kau kenapa sih? tidak pernah dengar cerita sedih?" seloroh Neville mencoba untuk tidak tertekan lagi mengingat nenek yang ia sayangi.
"Tidak, aku ke belakang dulu" Luna buru-buru meninggalkan Neville yang termangu tidak mengerti. Luna menutup pintu ruang dokumen lalu mengelus dadanya, "ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan? aku sudah merusaknya" bisik Luna penuh rasa bersalah.
Siangnya ketika jam makan siang
Ron datang seperti biasa, memesan roti panggang dan segelas kopi pahit.
Tiba-tiba masuklah dua orang remaja yang langsung di sambut ramah oleh Blaise, "kalian sudah datang, masuk dan ganti seragam kalian" perintahnya.
Oh, pegawai baru toh, pikir Ron.
Ia menekan kepala sedikit, masih pusing dengan urusan kantor yang semakin berat. Ron terkadang berpikir lebih enak membuka usaha seperti Blaise, pasti kepala tidak akan pecah meskipun tidak ada pelanggan, yah tapi rejeki setiap orang berbeda-beda.
KLONTANG
Masuk seorang wanita yang baru saja membeli 3 tangkai bunga tulip dari toko Lavender. Ia duduk di bangku depan Ron seraya melihat lihat buku menu.
"Cantik" bisik Ron memuji. Lelaki mana yang tidak tertarik dengan wanita cantik sendirian, di dekatnya pula.
Tidak, pasti semu—
"Eh? Blaise?" Ron menegakkan tubuh dari atas kursi ketika melihat Blaise menghampiri wanita itu seperti sudah lama kenal, "Kau akhirnya mampir juga ke kedaiku" suara ramah Blaise terdengar hingga tempat Ron duduk.
Wanita itu mengangkat wajah dari buku, ia tersenyum ragu, "maaf kemarin aku bersikap begitu, aku memang tidak ingin di ganggu ketika sedang sendirian" jawabnya lembut.
Blaise menggeleng—tidak mempermasalahkan itu, "bukan masalah Pansy, kau mau memesan apa? Aku bisa merekomendasikan beberapa pilihan untukmu" katanya sambil menunjuk beberapa menu di buku.
Ron menatap tidak percaya. Bagaimana bisa? Blaise sudah punya tunangan tetapi malah terlalu ramah dengan seorang wanita—bohong jika Blaise hanya menganggapnya tamu biasa.
"Dasar perempuan bodoh, mengataiku playboy..heh" Ron mengejek Lavender, "tunangannya sendiri..malah bermain mata dengan wanita lain" ucap Ron, matanya melirik dari balik kaca ke dalam toko Lavender—dia ada di sana sedang membersihkan tanaman seperti biasa.
Ron tidak tahan lagi, dia berdiri dan pergi keluar begitu saja mendatangi toko bunga Lavender di depan kedai.
"Ugh" Ginny menggeliat di atas tempat tidur, ia membuka mata yang masih berat.
"Ha? Jam 12 siang!" Ginny langsung menghambur membuka jendela kamar—benar saja matahari sudah sangat terik, "ha? Pasti gara-gara kejadian tadi malam, sudah terlalu siang untuk membuka toko" bisik Ginny bersungut-sungut.
Ginny berjalan sedikit linglung karena belum sepenuhnya sadar, ia membuka kunci pintu kamar.
CKLEK
"Harry?" Ginny menatap sosok Harry yang tertidur di depan kamar dalam posisi duduk sambil bersandar ke tembok.
Ginny berlutut di samping Harry, "kau tidak pulang semalaman" bisiknya pelan, takut membangunkannya.
"Iya" jawab Harry tiba-tiba seraya membuka kedua mata, rupanya Harry sudah terbangun dari tadi, spontan Ginny kembali berdiri dan menghardik Harry, "Kau? Kenapa masih di sini!" bentak Ginny kembali ke sifat awal.
Harry merenggangkan tubuh sambil berdiri pelan, pasti ia lelah tidur dalam posisi seperti itu, "Aku takut lelaki itu kembali, makanya sengaja aku tinggal di sini hingga pagi, tapi" Harry melirik cahaya yang masuk ke ruangan ini, "Kita berdua kesiangan, aishhh..mana bisa untung jika buka siang hari" ucapnya sambil menguap lebar.
"Aku pulang saja, kau sudah tidak apa-apa kan?" Harry tersenyum sekejap dan langsung turun melalui tangga.
"Tunggu!" panggil Ginny dari atas, membuat langkah Harry terhenti di anak tangga, "terima kasih" katanya tulus.
Harry membalas dengan senyum lebar, "tidak masalah, lain kali hati-hati" sahutnya sambil kembali turun dan keluar dari toko Ginny.
"Selamat dat..oh kau ternyata" Lavender yang tadi bersiap menyambut tamu kembali duduk lagi melihat kedatangan Ron.
"Aku ingin berbicara denganmu" kata Ron langsung ke pokok pembicaraan, "apa?" balas Lavender tidak peduli.
Wajah Ron kesal karena sikap Lavender yang terlalu acuh, "Kau mau saja di permainkan oleh seorang lelaki di depan matamu!" hardik Ron tiba-tiba.
Mendengar itu Lavender sontak menaikkan sebelah alis, "siapa maksudmu?" tanyanya penasaran..
"Blaise, dia tunanganmu kan?"
Mata Lavender membulat lebar, "darimana kau tahu?" padahal selama ini Lavender berusaha menutup rapat masalah itu, karena tidak ingin membebani Blaise.
"Tidak penting aku tahu darimana! Coba lihat sekarang" unjuk Ron dengan jelas ke arah Blaise yang sedang duduk berduaan dengan Pansy.
"Terus? Masa dia tidak boleh mengobrol dengan orang lain" bantah Lavender yang malah lebih tertarik memangkas akar-akar mawar yang baru mekar, "Jangan menilai Blaise serendah bayanganmu, kau tidak tahu betapa berartinya dia untukku" Lavender berkata tajam—tidak mau di sanggah, "sekarang lebih baik anda keluar jika tidak membeli apapun" usirnya halus.
"Kau?!"
"Permisi" Hermione masuk ke dalam toko, ia agak tersentak melihat Lavender dan salah seorang pelanggan kedai sedang bersitegang, "ng..aku membawa makan siang untukmu, ini dari Blaise" jelas Hermione kikuk
"Bawa kemari" pinta Lavender supaya Hermione mendekat.
Ron yang tidak bisa berkata lagi, keluar dari toko Lavender dan kembali ke kedai kopi.
"Dia kenapa?" tanya Hermione dengan pandangan menyelidik, "tidak tahu, anggap saja orang gila" Lavender mulai memakan bekal dengan lahap. Blaise tahu sekali jika Lavender suka lupa makan kalau sedang mengurusi tanaman yang baru mekar.
"Lavender" kata Hermione.
"Hmm, ada apa?" Lavender mendongak dengan mulut penuh makanan.
Wajah Hermione berubah suram, "aku ingin bercerita sesuatu padamu, apa kau sedang sibuk?" tanyanya sambil melirik ke tanaman yang belum selesai di pangkas.
Lavender menggeleng, "tidak masalah, cerita saja" Ia tersenyum, membersihkan mulut dengan tisu dan menunggu hingga Hermione mulai berbicara.
"Aku.."
"Bagaimana?" Adrian menyambut kedatangan Daphne antusias, "apanya? Aku malah di bentak-bentak! Lebih baik kita batalkan, kelihatan banget kok dia biasa aja sama aku, mendingan ngurusin pertandingan yang sudah semakin dekat" kata Daphne sambil membanting semua file di atas meja pengurus.
Adrian hapal sekali dengan sifat tempramental Daphne, "aku cuma ingin orang sebaik dirimu menemukan orang lain—seperti aku menemukan dia" bisik Adrian mengelus wajah Daphne lembut.
BRAKKK
Hentakan pintu membuat Daphne dan Adrian tersentak dan menoleh ke arah sumber suara. Theo berdiri dengan tatapan dingin di depan pintu UKM, "Ini barangmu ada yang tertinggal" Ia menaruh sebuah kertas bon kepada Daphne dan langsung menghambur keluar.
"Tuh kan! dia malah tambah marah, bias-bisa aku di kerjain nanti pas rapat pleno berikutnya" Daphne melotot ke arah Adrian, "ini semua gara-gara kamu!"
Adrian mengambil kertas yang di berikan Theo lalu melihatnya teliti, "Ini bukan kertas bon, cuma kertas bekas coret coretanmu, lihat" Adrian menoleh dan memandang Daphne penuh pertimbangan, "dia sengaja ingin bertemu denganmu dan sesampainya di sini Theo malah cemburu karena tadi aku menyentuhmu" penjelasan yang masuk akal tetapi Daphne tetap tidak setuju, "kenapa sih kau senang sekali membuat orang salah paham, Theo tidak mungkin menyukaiku" bantah Daphne untuk yang kesekian kali.
"Belum…tapi sebentar lagi" bisik Adrian senang.
"Untuk apa sih?"
"Aku akan mencoba membetulkannya!"
"Tidak mungkin, ini sudah rusak total"
"Akan ku coba dulu, Neville!"
Luna bersikeras mengambil bola Neville yang telah di kempesinnya. Luna benar-benar merasa bersalah makanya dia mau berusaha agar bola itu dapat di pakai kembali oleh Neville.
"Tapi Luna" Neville sedikit bimbang.
"Tidak apa-apa, aku hanya tidak tega mendengarmu begitu sayang dengan bola ini" Luna memeluk bola lusuh itu lalu memasukkan ke dalam tas, "tenang saja, aku kan jenius" katanya sambil tersenyum. "Terima kasih" jawab Neville tulus.
"Iya" balas Luna pelan.
-TBC-
