Naruto Masashi Kishimoto
Kau tidak menyukaiku? ghostgirl20
Main Pair SasuSaku, SasoSaku
Rated T+
Warning gajeness, ide pasaran, abal, alur cepat, miss typo(s), oocness, sinetronic dll.
If you dislike it, don't read and click back
Balas review dulu!
Iqma96#gak papa gaje. Aku senang malah kalau kamu teriak histeriskarena baca ceritaku! Makasih untuk tetap selalu review. I love you…..#digampar#
Hanazono yuri#untuk sGaaSaku-nya memang Cuma kayak gitu. Soalnya aku gak bisafokus. Makanya daripada ntar ceritanya maksa,mending aku fokusin ke SASUSAKU aja! Thnka, for selalu review and kasih semangat.
Hotaru keiko#makasih! Aku jadi semangat nulis lagi. Iya mereka bersatu, dan aku gak akan jahat sampaibikin mereka pisah. Hehe. Makasih udah review!
Kitsuri mizuka# penasaran, ya? Baca aja, hihihi. By the way, makasih udah review!
Leota pinkyce# oke. Ini dah lanjut. Makasih udah review, ya!
SMPN42SBYApril# aaaaa~ makasih, udah review. Aduh jadi malu saya. Makasih pujiannya!
Riyulee# iyak belum tamat. Dikepala saya masih ada satu ide gaje lainnya. Makasih udah review. Saya senang sekali.
Pertiwivivi2# terimakasih untuk kamu udah sering banget review and setia menunggu sampai titik darah penghabisan ceritaku# #
AUTHOR'S note:
Saya tidak bisa banyak komentar di chap ini. Hanya mau mengucapkan terimakasih pada pereview yang sudah menyempatkan diri membaca fic tidak sempurna saya. Mungkin banyak yang mngeluh karena pencitraan saya yang kurang di fic ini, dan MANA SASUSAKU YANG LAGI MESRA? Tapi saya sudah melakukan semampu saya. Mohon maaf kalau jadinya tidak sesuai dengan harapan pembaca.
Silahkan saja langsung baca, cekidooot!
Last Chapter : Umpan dan Musuh!
Satu minggu berlalu sejak Sakura resmi pacaran dengan Sasuke. Mereka berdua tampak mesra, walaupun hanya jika sedang berdua saja. Tapi Sakura sudah cukup senang.
Ia mengerti perasaan Sasuke yang tidak ingin mengumbar kedekatan mereka ke depan publik. Bagi Sasuke, hal semacam itu rahasia berdua.
Hari ini adalah hari fetival olahraga. Segala persiapan tentu sudah terselesaikan dan sekarang waktunya menikmati sajian makanan di berbagai stand yang didirikan.
Tampak Sasuke dan Sakura memakai baju olahraga sedang berdiri di depan stand Takoyaki.
"Aaa~" mulut Sakura membentuk bulatan besar. Tangannya mengacungkan satu tusuk Takoyaki ke arah mulut Sasuke.
Sasuke menggeleng, menjauhkan wajahnya sambil mengerutkan kening.
"Ayolah! Sedikit saja, Senpai!"
"Tidak, Sakura!" Sasuke berjalan meninggalkan Sakura.
"Eh, Sasuke-senpai!" Susul Sakura. Tapi langkah besarnya terhenti saat namanya dipanggil.
"Sakura!"
"Sasori, kok disini? Bukannya sekarang giliranmu lomba estafet?" Datang seseorang dengan kacamata tebal, rambut merah yang disisir belah tengah, dan wajah baby-nya yang imut. Sekilas tampangnya culun.
"Giliranku sudah selesai! Lagipula, aku menunggumu. Tapi kau tidak datang. Kau janji, kan?" Katanya manja.
Di belakang mereka, Sasuke sudah mengalirkan aura hitam di sekelilingnya. Orang-orang di sekitarnya perlahan mulai menjauhi Sasuke. Aura hitamnya sangat kuat. Giginya bergemeretak. gemas, jengkel, dan marah.
"Ah, iya! Aku lupa, maaf, ya?!"
"Ah, tidak apa-apa, kok!"
"EHEM!" Sasuke menatap Sakura dengan tatapan kau-mau-apa-dengan-serangga-merah-ini-?
Sakura balas menatapnya dengan tatapan tak bersalah dia-temanku-memang-kenapa-?
"Eh, ano...kau pacar Sakura ya, Sasuke-senpai dari kelas 2-5?" Sasuke memandang remeh pada Sasori.
"Tck! Lihat saja bisa tahu, kan?" Lalu menggamit tangan Sakura dan berjalan menjauhi Sasori."Ayo!"
"Sasori maaf ya! Maafkan dia!" Kedua tangan Sakura menangkup di depan dada, tanda ia menyesal.
"Haha. Tidak apa. Santai saja!" Kata Sasori melambaikan tangannya. Ia dapat melihat Sakura mencoba berkompromi dengan Sasuke.
"Fufufu...sebentar lagi. Uchiha Sasuke!"
.
.
.
.
Flashback on
"To-tolong kau pertimbangkan lagi, Sasuke!" Seorang gadis, kelas 3 SMA Konohagakuen. Memohon pada seorang bocah laki-laki berwajah dingin.
"Maaf, senpai! Tapi aku tetap tidak bisa menerima perasaan senpai," ujar Sasuke yang saat ini masih duduk di bangku kelas 1. Ekspresinya datar.
"Aku begitu menyukaimu Sasuke. Mungkin ini kelihatan konyol tapi-" ia menghentikan kalimatnya sejenak. "-aku begitu menyukaimu sejak pertama melihatmu!"
"Karin-senpai! Aku tidak menyukaimu!" Hal ini membuat Karin tercengang. Shock, Sasuke tidak menyukainya. Terlebih lagi terang-terangan mengatakan hal itu. Tanpa perasaan pula.
Sasuke lalu mulai berjalan menjauhi Karin. Tinggallah Karin sendirian di koridor kelas yang sudah sepi.
Beberapa hari setelah itu, Karin mencoba bunuh diri. Ia mengalami stress dan depresi berat. Ia begitu menyukai Sasuke. Namun, Sasuke tidak menyukainya.
Pada akhirnya saat pertengahan semester, Karin dipindahkan oleh orangtuanya ke sekolah lain agar mendapat lingkungan baru dan dapat melupakan Sasuke. Setahun telah berlalu. Karin tidak membaik. Bahkan ia tidak bersemangat sekolah dan akhirnya dikeluarkan dari SMA-nya yang baru.
Flashback off
Dak
Dak
Dak
CRING
Bola masuk dalam Ring setelah digiring oleh Sasuke dan melakukan Lay Up.
PRIIT
"Yeah! Bagus, Sasuke," kata Naruto mengajak Sasuke berhigh five. Sasuke menerima. Lalu Naruto juga berhigh five dengan Gaara. Pertandingan 3 on 3 dengan kelas 2-2 dimenangkan oleh kelas Sasuke. Skor 32-27.
Kemenangan mutlak diraih oleh tim Sasuke.
"Hebat, senpai!" Puji Sakura. Sedari tadi ia menyaksikan di pinggir lapangan. Sasuke tersenyum tipis dan mengedipkan satu matanya pada Sakura.
Langsung saja wajah Sakura memerah. Ternyata ada satu orang lagi yang memuji keahlian Sasuke bermain basket.
"Hebat! Hebat! Senpai hebat," kata Sasori dengan mata yang menyipit karena tersenyum dan tangan yang bertepuk tangan.
'Tck. Si bodoh itu lagi!'
Sasuke berjalan mendekati mereka berdua. Saat ia akan membuka mulutnya, bicara. Sasori menyelat.
"Apa yang kau-"
"Senpai, aku pinjam Sakura sebentar, ya!"
Belum mendapat persetujuan. Sasori sudah menculik Sakura -menggamit tangannya dan membawanya lari. Sakura terlihat memohon maaf dari kejauhan.
"Sasuke!"
"Tck! Kau mengagetkanku Gaara!"
"Sasuke!" Kata Gaara dengan wajah serius.
"Apa?!" Jawab Sasuke setengah jengkel. Masih memandangi Sasori dan Sakura yang belum terlalu jauh.
"Apa tidak apa, 'dia' terus-terusan menempel pada Sakura?"
Sasuke memandang Gaara dengan tatapan 'maksudmu?'
"Hati-hati. Bisa saja dia berniat merebut Sakura!" Kata Gaara. Sebenarnya Gaara hanya menggoda Sasuke. Akhir-akhir ini dia kegandrungan menjahili Sasuke yang emosinya mudah terpancing.
Sasuke jengkel setengah mati. Seminggu yang lalu mereka resmi pacaran dan Si Serangga Merah itu terus-terusan menempel pada Sakura.
Sasuke menahan jengkel sampai uratnya tampak di permukaan kulitnya.
Sedangkan Gaara sudah sakit perut menahan tawa yang hampir meledak.
.
.
.
.
"Sasori, kau mau kemana?"
"Temani aku keliling ya, Sakura?"
"Bukankah, tadi aku sudah menemanimu. Aku sampai melewatkan setengah awal dari pertandingan Sasuke senpai!" Kata Sakura menggembungkan pipinya.
Sebenarnya Sakura merasa janggal namun juga merasa tidak tega. Sasori begitu baik padanya akhir-akhir ini. Tapi ia senang, bertambah teman.
Hanya saja, Sasori sudah terlalu banyak menyita waktu Sakura. Waktu bersama Ino, waktu untuk istirahat sekolah, sampai waktu bersama Sasuke.
Gaara membawa Sakura ke kolam renang. Terletak di sebuah gedung di bagian belakang sekolah.
"Sasori, kau memintaku menemanimu berenang?" Alisnya naik sebelah. 'Aneh' pikirnya.
"Tidak. Aku hanya mau menyendiri kesini saja!"
"Ha? Kalau begitu kenapa mengajak-"
"Tapi, aku takut kesini sendirian," katanya saat ia duduk di tepi kolam. Ia melepas sepatunya sebelum menceburkan sebagian betisnya ke kolam setelah sebelmnya melinting celana seragamnya sebatas lutut.
"Sini, Sakura!"
Sakura mendekatinya dan duduk berjongkok di dekatnya. Ia mengamati ekspresi wajah Sasori yang berubah sendu.
"Kau tahu...aku punya seorang kakak!" Sakura mendengarkan dengan seksama. Ia pasang telinga benar-benar karena suara Sasori yang lirih.
"Kakakku suka sekali berenang. Katanya, saat ia berenang ia merasa seperti burung yang mengepakkan sayapnya di udara bebas."
Sakura sedikit menampakkan raut bingung. Entah mengapa, ia merasa tidak mengerti dengan alur cerita Sasori.
"Ia sering cerita padaku kalau dia sering berlatih disini!" Nada Sasori sedikit bersemangat saat mengatakan itu. Sakura pun tersenyum saat melihat Sasori seperti anak kecil yang sedang menceritakan mainan barunya.
"Jadi kakakmu sekolah disini juga?"
"Ya. Tapi sudah pindah. Seharusnya dia sudah lulus SMA sekarang," kata Sasori dengan wajah yang kembali kelabu.
"-seharusnya?"
"Dia...sedang mengalami depresi berat. Itu membuatnya mengurung diri di kamar dan tidak mau keluar. Sudah berjalan satu tahun..."
"Sasori..." Ia menyentuh pelan pundak pemuda baby face itu.
"Dia mengalami trauma karena ditolak oleh orang yang disukainya. Kakak tidak bisa menerima hal tersebut dan-"
"-dan akhirnya ia mencoba bunuh diri."
"Apa? bunuh diri?" Sakura terhenyak mendengarnya.
"Hm," kata Sasori mengangguk. " Ia menyayat pergelangan tangannya sendiri. Seperti di film!" Senyum pahit mengembang di wajah tirusnya.
"Ya Tuhan!" Sakura beringsut mendekat pada Gaara dan menggenggam tangannya.
"Aku mengerti perasaanmu. Sebagai adik, kau pasti juga terluka."
Sasori menatap Sakura dalam. Menembus ke dalam sanubari gadis itu. Ia tahu Sakura mengerti dan memahami betul atas apa yang dirasakannya. Untuk itu dia berterimakasih.
"Terimakasih, Sakura! Kau orang pertama yang kuberitahu tentang ini," kata Sasori dengan tersipu.
"Benarkah? Berarti aku teman yang spesial, ya?! Hihi..."
Sasori balas tersenyum pada Sakura. Sakura sangat baik padanya. Ia yakin sekali Sakura adalah gadis baik dan akan memaafkan perbuatannya ini.
"Untuk itu Sakura.." Sasori melepas sebelah tangannya dari genggaman Sakura.
"Ya?"
"Aku akan menjadikanmu 'umpan' untuk balas dendamku!" Dan membekap mulut Sakura dengan sehelai kain yang telah dilumuri dengan cairan morfin.
Sakura berontak. Tangannya menarik-narik tangan Sasori. Akan tetapi, kekuatannya jauh lebih lemah.
"Saso...ri.."
GREEP
Sasori menangkap tubuh Sakura yang lemas. Sakura pingsan.
"Maaf Sakura! Aku mungkin akan menyesali hal ini kelak," kata Sasori. Tangannya terulur melepas kacamata tebal palsunya. Mengacak rambutnya supaya kembali ke bentuk aslinya.
Wajahnya tak lagi ramah. Ketulusan dan keramahan yang selama ini selalu ia tampilkan dalam topengnya berubah, menjadi wajah penuh dendam dan sarat akan amarah.
.
.
.
.
Saat ini sekolah sudah sepi. Tinggal beberapa gelintir orang yang masih tersisa.
"Sasuke-senpai!"
Sasuke menoleh. Dilihatnya Ino berlari tergopoh-gopoh ke arahnya.
"Lihat Sakura?" Ino masih mencoba menetralkan napasnya yang tersengal. Sebelah alis Sasuke terangkat.
"Mana aku tahu? Dia diculik oleh Si Serangga Merah!" Kata Sasuke menahan jengkel.
"Serangga Merah?"
"Maksudnya Sasori!" Jawab Gaara yang saat itu ada disana juga. Ino melirik Sasuke yang terlihat kesal.
"Dasar Sasori. Kemana dia mengajak Sakura?"
"Kau tahu dia dimana sekarang?" Tanya Gaara.
"Tidak tahu! Kalau tahu, aku tidak akan kemari!" Kata Ino dengan geleng-geleng kepala. "Ya sudahlah. Aku akan pulang duluan saja! Jaa nee!"
Sasuke dan Gaara memandang Ino yang berlari kecil mendekati temannya di dekat gerbang.
"Sasuke. Kau tidak mau cari Sakura?" Gaara mencoba bertanya. Tapi Sasuke malah diam. Tak berkomentar apa-apa. Sepertinya dia marah.
"Apa kau tidak merasa aneh pada Sasori. Dia selalu mengekor kemanapun Sakura pergi, kan?"
Sasuke mendengus. Dia tidak menyangkal jikalau gadisnya itu lebih sering bersama dengan Sasori. Jika ia memberi batasan pada Sakura, hal itu tidak akan menguntungkannya. Ia tahu betul itu.
Makanya, Sasuke selalu membiarkan Sakura berdekatan dengan Sasori. Toh, Sakura menikmatinya. Itu terlihat dari ekspresinya yang selalu riang saat bercanda dengan Sasori.
"Kalau Sakura senang, kenapa tidak?!" Kata Sasuke.
"Tapi apa tidak terlalu mencurigakan?"
DRTT
DRRT
Ponsel Sasuke bergetar. Dirogohnya saku celana seragamnya.
From: 01-225-6945
Gadismu ada padaku. Datanglah ke gedung olahraga. SENDIRI
"Siapa?" Tanya Gaara karena melihat raut Sasuke yang tegang.
"Ah, tidak. Aku suka ' . '," kata Sasuke memberi penekanan pada setiap kata terakhirnya. Berharap Gaara akan mengerti 'makna' tersirat dari kalimatnya.
"Apa maksudmu?" Tanya Gaara. Tapi Sasuke tidak menjawab dan mulai berjalan. Masuk ke dalam sekolah.
.
.
.
.
Kolam renang. Disini sepi sekali. Tidak ada tanda-tanda adanya kegiatan disini. Lampu ruangan pun tidak menyala. Menambah sisi gelap dan mencekam.
'Dimana aku?' Kata Sakura setelah siuman. Kepalanya terasa pusing. Kemudian berangsur-angsur ia mengingat kembali kejadian tadi sore.
'Dimana aku?' Batinnya. Ia melihat sekeliling. Pandangannya masih sedikit kabur.
'Kolam renang? Ah, ya. Aku bersama dengan Sasori lalu-'
TAP
TAP
TAP
"Kau sudah sadar?" Sakura mendongak. Memandang sosok di depannya.
"Ngh..ngh?" Suara Sakura terhalang oleh sebuah kain yang diikatkan ke mulutnya. Tangannya juga terikat oleh tali tambang yang kasar. Begitu juga dengan kakinya. Sasori maju, membuka ikatan kain di mulut Sakura. Begitu lepas-
"APA YANG KAU LAKUKAN?" Pekik Sakura. Ia begitu tidak mengerti. Begitu marah dan sedih. Kenapa Sasori? Kenapa teman yang begitu dekat memperlakukannya begini? Apa maksud semua ini?
Napas Sakura memburu. Jantungnya berdetak kencang.
"Sakura... Kau ingat saat aku ceritakan tentang kakakku yang hampir bunuh diri?"
"?"
"Laki-laki yang menolaknya adalah... Uchiha Sasuke!"
DEG!
Jantung Sakura seperti hampir copot. Matanya membelalak. Seperti orang yang baru saja terkejut oleh bunyi petir yang sangat keras.
"Maaf, tapi aku akan menggunakanmu sebagai umpan!"
Sakura sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Sasori. Ia menatap pemuda itu dengan tatapan tidak percaya.
Kacamatanya sudah tidak tersemat lagi. Rambutnya juga tidak culun seperti sebelumnya. Apalagi sorot matanya. Sorot matanya berubah menjadi lebih kelam.
"A-apa maksudmu, Sasori?"
"Ooi! Sasori, 'dia' sudah datang?" Tiba-tiba muncul seseorang dengan rambut panjang berwarna pirang dengan satu mata memakai penutup.
"Belum," jawab Sasori. Kemudian datang lagi beberapa orang. Satu orang berwajah seperti hiu. Satu orang memakai banyak tindik pada wajahnya. Dan 3 orang lagi. Kalau ditotal ada 6 orang.
"Hah, masih belum juga datang? Sebenarnya benar tidak sih, gadis ini pacar Sasuke itu?" Tanya Deidara. Sasori mendiamkan Deidara berspekulasi sendiri.
"Sakura...aku akan menggunakanmu sebagai umpan, untuk memancing Sasuke. Agar aku bisa membalaskan dendam kakakku!"
"DASAR BODOH! IDIOT!" Sakura memandang marah pada Sasori.
"Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku? Aku temanmu bukan?"
"Kau temanku! Dan karena itu, aku yakin kau bisa mengerti perasaanku!" Kata Sasori. Emosinya sedikit tersulut.
"Aku mengerti perasaanmu sebagai adik dari kakak yang terluka. Tapi, aku sama sekali tidak mengerti kenapa kau melakukan hal kotor begini! AKU TIDAK MENGERTI! TIDAK AKAN PERNAH!"
"KAU!"
"Kalau kau mau balas dendam pada Sasuke, kau bisa datangi dia langsung! Tidak dengan cara menjebaknya seperti ini!"
"DIAM!"
"APA YANG MAU KAU LAKUKAN PADA SASUKE, HAH?" Teriak Sakura.
PLAKK!
Kepala Sakura menghantam tembok di belakangnya, tempat ia bersender sebelumnya. Sasori menamparnya keras. Tidak terima dengan kata-kata Sakura.
Sakura merasakan pusing di kepalanya. Lalu cairan merah merembes keluar dari pelipisnya yang terbentur paling keras. Menjalar menuruni sebagian wajahnya.
"Kukira kau mengerti!" Kata Sasori dengan napas memburu karena kesal. Ia cukup yakin sebelumnya bahwa Sakura akan mengerti dan menerima.
"Hihi.." Sakura terkekeh kecil.
"Hahahaha...ahahaha! Bagaimana aku mengerti? Permainan kotor begini. Walaupun aku mengalami yang pernah kau alami sekalipun, aku tidak akan pernah melakukan hal ini!"
"SAKURA!" Sasori menggeram. Ia akan menerjang Sakura kembali dan melampiaskan kemarahannya.
"Ooi, Sasori! Sudah. Tenanglah!" Kata Deidara. Tangannya melingkar di pinggang Sasori dan menahan supaya pemuda wajah imut itu tidak menerjang Sakura dengan kemarahannya.
CKIET...
"Oi, 'dia datang'!" Kata Kisame. Si Wajah Hiu.
BLAM
Sasuke membuka lalu menutup pintu itu dengan dramatis. Memberikan kesan kalau disinilah dia. Dia sudah datang.
"Akhirnya kau datang juga!"
"Ya. Undanganmu menarik sekali! Ada perlu apa denganku?" Tanya Sasuke mencoba datar. Walaupun ia setengah mati sedang menahan ketegangannya.
"Bukan masalah gawat, kok!" Kata Sasori menyeringai. "Kau cukup diam dan menikmati!"
"SENPAI KENAPA DATANG? CEPAT PERGI! AKH..!"
Kisame menarik rambut panjang Sakura ke belakang. Membuatnya memekik kesakitan. Sebuah gunting mengacung ke wajahnya.
"Jangan macam-macam! Atau gadismu kulukai," ancam Kisame. Sasuke memandang lembut pada sepasang mata ketakutan Sakura.
"Sakura..."
"Senpai...hiks." Sakura sudah menangis. Mengalirkan air matanya lagi. Deras dan semakin deras. Apalagi saat Sasuke menatapnya lembut. Tatapan yang sangat langka.
"Tutup matamu!" Sasuke sudah mengerti apa yang akan dilakukan Sasori padanya. Pengeroyokan. Namun, ia masih belum ingat apa yang menyebabkan ini. Dan ia tidak mau Sakura menyaksikan apa yang akan terjadi nanti.
"SERANG!" Teriak Sasori pada kelompoknya.
Sakura spontan menutup matanya. Ia merasakan firasat buruk.
Seseorang dengan balok kayu ditangannya maju dengan cepat. Menyerang bagian wajah Sasuke dengan balok tersebut. Memukulkannya sampai hampir terbelah jadi dua.
"UAGH!" Pekik Sasuke. Saat tubuhnya limbung, 2 orang menopang tubuhnya.
"Kau menyesal?" Tanya Sasori membungkuk untuk mensejajarkan wajahnya dengan Sasuke. Sasuke mendongak dan menatap tajam ke dalam mata Sasori.
"Kenapa? Apa kau mau balas memukulku?" Sasori menggodanya. Menatap Sasuke dengan remeh dan kecil.
Sasuke sudah mengangkat tangannya. Bersiap memukul wajah baby face menyebalkan itu. Tapi diurungkannya saat ia melirik Sakura masih dengan gunting yang teracung pada wajahnya.
"Hn," seringai tipis muncul di wajah Sasuke.
"Pukulanmu tidak ada apa-apanya. Sebaiknya pukul aku lebih keras!" Kata Sasuke lirih. Hal ini membuat Sasori semakin marah.
Ia memegangi kepala Sasuke dan menghantamkan kepala Sasuke ke lututnya.
DUAK
"AKH!" Sasuke memekik. Pusing tak terkira menyergapnya. Kepalanya serasa berputar. Beberapa kali ia mengerjapkan matanya untuk menjernihkan penglihatannya yang mulai kabur.
Kata-kata Sasuke seperti mengundang petaka baginya. Sasori, Deidara dan 3 orang lainnya menyerbu Sasuke dengan kekuatan penuh. Kisame yang sedari tadi duduk diam pun ikut-ikutan mengeroyok Sasuke. 6 lawan 1. Sasuke tidak berdaya.
'Kenapa? Kenapa tidak kau lawan? Apa karena aku?' Batin Sakura. Ia hanya bisa menangis dalam diam.
Ia tidak sanggup melihat Sasuke dipukuli oleh mereka. Walaupun, telinganya masih aktif mendengar rintihan kesakitan dari Sasuke stiap kali orang-orang itu memukulnya.
"Senpai...hiks!"
Sakura terus saja menangis selagi ke-6 orang tersebut terus mengeroyok Sasuke.
.
.
.
.
Kilat kemarahan masih menyala di bola matanya Sasori. Rasanya waktu setengah jam memukuli Sasuke tidak berarti.
Sasuke bangkit. Bangkit dengan susah payah. Napasnya sudah tidak teratur. Kadang panjang, kadang pendek. Dadanya terasa nyeri saat bernapas. Kemudian ia terbatuk. Batuk yang keluar beserta darah.
Sasori mengambil duduk di kursi. Sekedar meluruskan kaki dan menormalkan napas.
"Hebat juga, kau. Masih bisa berdiri setelah dikeroyok. Baguslah karena aku belum puas memukulmu!"
"Ha..rus kubilang be-rapa ka...li. Puku..lanmu tidak ber..arti apa-apa." Sasuke menyeringai. Lalu tertawa kecil. Namun, kemudian terbatuk lagi dan jatuh di atas lututnya. Memegangi perutnya yang sakit karena banyaknya pukulan yang diterima.
Sasori geram. Ia tidak menyangka Sasuke benar-benar kuat. Bukan hanya itu, ia bahkan masih bisa tertawa.
Sasori bangkit. Mencengkeram kuat sandaran kursi kayu itu. Dan seketika melemparnya ke arah Sasuke.
"MINGGIR!" Katanya pada temannya yang berada di dekat Sasuke agar terhindar dari lemparan kursi kayu itu.
'SIAL!' Batin Sasuke.
Ia tidak sempat menghindar ke tepi kolam dan-
BRAKK
BYURR
"SASUKE!"
Sasuke tercebur ke dalam kolam. Tubuhnya yang lebam dan lecet terasa perih terkena air dingin. Dan juga ia merasa tidak mampu menggerakkan tubuhnya. Ia hanya diam dan menatap ke atas permukaan selagi tubuhnya sendiri tenggelam ke dasar kolam ukuran orang dewasa tersebut.
"Sasuke-kun! Sasuke!" Ia mendengar Sakura memanggil namanya. Untuk pertama kalinya tanpa embel-embel 'senpai'. Ia tersenyum. Rasanya kalau ia mati sekarang, ia bisa tenang karena telah mendengar suara Sakura untuk yang terakhir kali.
Kemudian Sasuke memejamkan matanya.
Sakura
.
Sakura
.
Sakura
.
Aku cinta padamu
.
.
.
-BYURRR-
Di tengah-tengah kesadarannya yang mulai menipis, Sasuke dikagetkan dengan sebuah tarikan di lengannya. Sayang, ia tak sanggup bereaksi. Seluruh tubuhnya terasa kaku.
Perlahan tapi pasti, tarikan itu membawanya ke permukaan.
Sakura menarik tubuh Sasuke ke tepi kolam dibantu dengan Gaara. Entah bagaimana caranya ia lepas dari tali yang mengikat tangan dan kakinya. Gaara datang setelah sebelumnya telah pulang ke sekolah. Ia curiga pada kata-kata Sasuke sebelumnya.
"Sasuke-senpai! Sasuke-senpai!" Panggil Sakura. Ia tepuk-tepuk pipi dingin Sasuke beberapa kali. Terlihat luka lecet dan masih memerah di pergelangan tangan Sakura.
Tubuh mereka berdua basah kuyup. Tetes-tetes air membasahi lantai marmer di bawahnya.
Sakura menangis sejadi-jadinya. Apalagi saat tubuh Sasuke dibawa dengan tandu oleh petugas ambulance. Sebelum menerjang masuk, Gaara telah melapor pada Polisi dan membuat 6 orang -termasuk Sasori- ditangkap polisi dengan tuduhan pengeroyokan dan penganiayaan.
Gaara memberikan jaketnya untuk dipakai Sakura. Dan menuntunnya keluar mengikuti Sasuke yang dibawa masuk ke dalam mobil ambulance.
"Kuantar kau pulang," tawar Gaara yang tinggal memakai kaos hitamnya. Sakura menggeleng lemah.
"Aku mau ikut Sasuke-senpai ke rumah sakit!" Kepalanya pusing. Rasanya sekelilingnya berputar-putar. Ia memijit pelipisnya.
"Sakura keadaanmu tidak baik. Sebaiknya kau- SAKURA!" Sakura pingsan. Ia tak sanggup lagi menopang tubuhnya dan merosot di pelukan Gaara.
Segera saja ada polisi yang menawarkan membawa Sakura ke rumah sakit. Rumah sakit yang sama dengan Sasuke tentunya.
Hari ini, Konoha Gakuen menjadi berita hangat di media massa.
.
.
.
.
Sakura terbangun di sebuah tempat yang sangat aneh. Sekelilingnya berwarna putih. Entah itu sebuah ruangan atau sebuah dimensi tak berbatas. Yang jelas Sakura tak suka disini.
"Sakura..." Panggil sebuah suara yang familiar. Sakura menoleh ke sumber suara. Di belakangnya telah berdiri Sasuke. Dengan pakaian serba putih dan juga wajahnya tersenyum.
"Sasuke-senpai!"
"Sakura, terimakasih."
"Untuk apa?" Sakura mulai panik saat dilihatnya kaki Sasuke melangkah mundur.
"Terimakasih!" Katanya lagi dengan senyum lembut.
"Senpai!" Sakura memekik. Kini ia sudah membelakangi Sakura dan terus berjalan menjauh.
"SENPAI! SASUKE-SENPAI!" Panggil Sakura histeris. Tapi sosok Sasuke itu terus berjalan tanpa mempedulikan Sakura. Perasaan takut menyelimuti Sakura.
Karena, sekencang apapun Sakura berlari dan sekeras apapun usaha Sakura memanggil Sasuke. Sosok tegap dan tampan itu tetap tak menoleh. Tetap berjalan dan terus menyongsong ke depan. Meninggalkan Sakura sendirian.
Sakura menangis. Lagi-lagi hanya bisa menangis. Tak tahu harus berbuat apa. Sosok itu semakin jauh. Bertambah jauh dan semakin tak terlihat.
"SASUKE!" Sakura terbangun dengan mata terbelalak. Napasnya tak teratur. Bulir-bulir keringat membasahi keningnya.
Tangannya meremas kuat selimut di pangkuannya.
'Apa tadi itu mimpi? Mimpiku aneh. Apa artinya?'
"Sakura?" Panggil ibu Sakura. "Kau tak apa, nak? Bagaimana keadaanmu?"
Sakura memandang sekeliling. Tembok berwarna putih dan kelambu pembatas berwarna sama yang menjuntai sampai ke lantai.
"Ini dimana, bu?"
"Kau di rumah sakit. Kau pingsan semalam. Sakura, sebenarnya apa yang terjadi?"
"Sasuke?!" Sakura menatap cemas pada ibunya. Raut wajahnya tegang.
"Oh pemuda yang semalam korban keroyokan itu, ya? Dia- eh, Sakura!" Sakura langsung saja melompat dari ranjang dan berlari keluar. " Mau kemana, nak?!"
Ia terus berlari. Berlari. Terus mengerahkan kakinya untuk berlari mencapa lobby.
Ia hampir menabrak seorang suster yang sedang mendorong kakek-kakek dengan kursi roda. Ia tak peduli. Tak sempat berpikir untuk meminta maaf. Di pikirannya adalah cepat sampai ke kamar Sasuke. Itupun kalau dia selamat.
BRUGH
Sakura menabrak konter resepsionis.
"Suster! Sasuke, dimana kamarnya?" Tanya Sakura panik. Suster itu tampak bingung dengan kelakuan Sakura.
"SUSTER! Kamar Sasuke, dimana?" Tanya Sakura lagi dengan sedikit teriak.
"Sasuke, eh-" suster itu tampak ketakutan dan segera mencari nama yang disebutkan di dalam komputer.
"Kamar 333!" Jawab suster itu. Langsung setelah kalimat terakhir mluncur dari mulut suster itu, Sakura melesat menuju lift.
Sakura menekan tombol di samping pintu lift yang masih tertutup. Lift itu masih berada di lantai 1 sedangkan dia di lantai 5.
Terlalu lama Sakura memutuskan untuk turun lewat tangga.
Lantai 4
.
Lantai 3
.
Kamar 333. Di lantai 3. Kamar nomor urut nomor 3 dari tikungan. Angka-angka itu membuat Sakura semakin panik. Tapi ia juga ketakutan untuk cepat-cepat melangkahkan kakinya menuju kamar itu.
Satu langkah
.
Dua langkah
.
Tiga langkah
Beberapa langkah lagi dan sampailah Sakura di depan kamar Sasuke.
Tangan mungilnya mulai terjulur untuk meraih pintu. Memegang erat kenopnya. Bersiap menggesernya.
-SREKK-
"Ibu! Sudahlah berhenti menangis,"
"Tapi Sasuke-kun, wajahmu jadi lebam-lebam. Dan tanganmu juga tulang rusukmu patah. Ibu sangat khawatir!"
"Dasar baka otouto!"
"Sakura?!" Kata Sasuke kaget. Sakura dalam keadaan seperti setengah bernyawa. Tatapannya kosong dengan air mata mengalir deras.
"Oh, jadi kau Sakura, ya?!" Kata Itachi-Kakak Sasuke.
BRUKK
Sakura merosot ke lantai sambil berpegangan pada daun pintu. Rasanya senang, seperti saat jantungmu berhenti lalu berdetak kembali. Seperti saat kau melihat bunga Sakura bersemi setelah musim dingin.
"Hei, kau kenapa?" Tanya Itachi. Sasuke pun tak urung langsung meloncat turun dari ranjang. Namun tidak jadi saat nyeri di rusuknya terasa begitu sakit.
Ibu Sasuke berjalan mendekati Sakura.
"Jadi kau yang menyebabkan anakku begini?" Kata Mikoto dengan kilat marah di matanya. Sakura menatap ibu Sasuke takut-takut. Kalau bukan karena Sakura yang bodoh masuk ke perangkap Sasori, Sasuke tidak akan jadi begini.
Setelah bisa menguasai tubuhnya kembali, Sakura langsung membungkuk dalam. Meminta maaf sebesar-besarnya.
"Saya minta maaf!"
"Kau menyebabkan anakku babak belur, kau juga membuatnya tangannya patah dan 3 tulang rusuknya retak. Belum lagi wajah tampannya jadi rusak begitu.
Dan..." Mikoto berhenti sejenak. "Kau telah membuat anakku menjadi orang yang lebih manusiawi! Terimakasih!"
"Eh?"
"Maaf, ya. Apa aku mengagetkanmu?"
Sakura menjadi bingung. Sedetik yang lalu wajah ibu Sasuke sangat marah dan menakutkan. Tapi sedetik kemudian berubah menjadi senyum yang merekah cantik juga ucapan terimakasih.
"Maafkan ibuku, ya, Sakura! Kau tahu kan Uchiha Mikoto yang 'artis' itu!" Kata Itachi menekan nada suaranya pada kata artis.
"Yang tadi cuma aktingnya saja!" Timpal Sasuke.
"Salam kenal, Sakura-chan!"
"Jadi Anda Mikoto Uchiha, artis itu? Dan Sasuke-senpai adalah anak anda?"
"Iya! Kau tidak tahu?" Tanya Mikoto dengan nada jenaka.
Sakura menggeleng. Rasanya ia sudah bisa bernapas normal sekarang.
"Hahahaha! Sasuke sepertinya tidak pernah memberitahumu, ya? Padahal pacar sendiri. Yah, tapi dia memang tidak suka dengan publikasi yang berlebihan. Dia lebih suka bersembunyi dan menikmati hidup dengan caranya sendiri," jelas Mikoto panjang lebar dengan jari telunjuk bertengger di dagunya.
Sasuke hanya memutar matanya bosan. Kalau begini, ibunya bisa ngoceh sampai Sakura tertidur.
Kemudian ia melirik anikinya. Memberikan tatapan hentikan-aksi-ibu-dan-bawa-dia-keluar. Itachi mengerti setelah sebelumnya tertawa.
"Ayo bu, temani aku makan!"
"Eh, tapi aku masih mau ngobrol dengan Sakura-chan!"
"Ngobrol darimana? Ibu hanya mengoceh panjang lebar sementara Sakura diam mematung!"
"Tap-tapi kan-"
-BLAM-
Tinggalah Sasuke dan Sakura. Berdua. Di kamar. Sendirian.
Berdua
Berdua.
Berdua..
Ber-du-a...
Sakura sempat merona. Ia sempat memikirkan yang tidak seharusnya. Memang jarang ia hanya berdua dengan Sasuke. Khususnya di tempat yang jauh dari keramaian.
Sasuke pun memandang Sakura intens. Rambut panjangnya sedikit berantakan di bagian bawahnya. Matanya terdapat lingkaran hitam. Di pergelangan tangannya terdapat bekas merah dan lecet. Di sudut bibirnya, ada luka sobek. Di pelipisnya juga ada perban.
Sasuke berubah marah. Rahangnya mengeras saat ia memikirkan perlakuan apa yang dilakukan pada gadisnya itu.
"Kau tidak apa-apa?" Ujar keduanya hampir bersamaan.
"Kau dulu saja," kata Sasuke.
Sakura berjalan mendekat pada Sasuke. Ia sedang bersandar pada ranjangnya yang sudah diatur agar sedikit mengangkat ke atas.
Di keningnya ada perban melingkari kepalanya. Di kelopak matanya, ada plester kecil begitu juga di tengah-tengah hidungnya. Tangan kanannya diberi turquet. Di balik bajunya, terlihat sedikit perban melingkari dadanya.
Rasa sesak menyergap. Jantungnya terasa diremas kuat. Sakit. Sungguh sakit melihatnya. Sasuke sedikit meringis kesakitan saat akan menggerakkan badannya.
"Apa sangat sakit?" Sakura menyentuh tangan kanan Sasuke lembut. Ia berdiri di samping ranjang. Alih-alih menjawab, Sasuke menyuruh Sakura duduk.
"Duduklah!" Kata Sasuke sambil mengendikkan dagunya ke arah kursi di belakang Sakura.
"Senpai!"
"Panggil Sasuke saja. Aku...suka!" Kata Sasuke malu-malu.
Sakura tersenyum,"Sasuke-kun."
"Maaf gara-gara aku, kau jadi dikeroyok mereka!"
"Bukan salahmu. Aku sudah tahu kalau Sasori mau balas dendam padaku!"
Sakura terkejut,"kau sudah tahu?"
"Aku pernah bertemu sekali dengannya. Dia adik Karin-senpai yang depresi karena cintanya kutolak."
Sakura hanya tercenung. Jika sudah tahu akan begitu, kenapa masih saja nekat untuk datang?
"Kenapa kau nekat untuk datang? Padahal kau tahu kalau Sasori mengicarmu?"
Sasuke mendengus geli,"kau naif!" Sakura menatap Sasuke memelas.
"Kalau kau jadi aku, kau juga pasti akan nekat tetap datang, kan? Kau akan datang untuk menyelamatkanku, iya kan?"
"Maaf. Aku benar-benar minta maaf! Sungguh, maafkan aku!" Sakura tertunduk kaku. Tangisnya telah tumpah. Biarlah air matanya menganak sungai. Kini hatinya terasa lega. Sasuke baik-baik saja. Ia tidak pergi meninggalkannya seperti mimpinya.
"Lagipula kau pacarku. Dan kalau orangtuamu merestui, kau akan jadi istriku. Jadi aku harus melindungimu dengan tanganku."
CUP
Sakura sudah berhenti menangis. Berganti dengan tatapan bengong karena kelakuan Sasuke.
Sasuke mengecup bibirnya singkat. Singkat, namun berkesan.
"Dulu aku suka padamu. Dan sekarang aku cinta padamu," ujar Sasuke dengan penuh keyakinan.
Sakura merona malu,"dasar bodoh! me-memang apa bedanya?"
"Tidak tahu. Aku diajarkan Aniki untuk mengucapkannya supaya kau tersentuh!"
"Ap-apa?!"
CUP
Sekali lagi Sasuke mngecup Sakura. Menenangkan gadisnya dan membuatnya nyaman. Lama pagutan itu mereka lakukan. Kadang Sakura mendelik marah saat Sasuke menggigit pelan bibir bawahnya. Mereka terus menyalurkan rasa cinta mereka satu sama lain.
CKLEK
"Sasuke! Ibu bawakan- Ya Ampun!" ibu Sasuke terkejut melihat anaknya sedang beradegan mesra dengan seorang gadis. Sontak, kedua manusia berambut gelap dan pink itu melepas ciuman mereka. Dan merona di masing-masing pipi mereka.
"Hihi, seharusnya Ibu ketuk pintu dulu!" Mikoto tersenyum geli disusul dengan Itachi yang memandang Sasuke dan Sakura dengan pandangan menggoda.
"Sasuke, kau sudah mengatakan apa yang kuajarkan, kan?" Sasuke merona. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Ta-tanya saja sendiri pada orangnya!"
"ah, wajahnya memerah! Lihat, kan Bu?!" goda Itachi.
"Berisik! Baka, Aniki!"
Sakura hanya melihat kelakuan kekanakan Sasuke dengan tawa geli. Tangannya telah digenggam oleh Sasuke sedari tadi. Semakin erat. Seakan tak ingin melepaskan lagi tangan mungil gadisnya itu.
.
.
.
.
Bahagia itu sederhana. Saat orang yang kau cintai dan sayangi membalas perasaanmu. Apalagi yang bisa membuatmu melayang ke langit ke tujuh selain hidup bersama menjalani hari dengan orang terkasih.
Kali ini, Sasuke dan Sakura membuktikannya. Cinta mereka akan bertahan sampai kapanpun. Melewati waktu, masa, zaman, bahkan dimensi dan kehidupan yang akan datang.
Semua berawal dari tidak suka. Lalu mulai tertarik. Lama-lama kau merasa bahwa dia cukup menarik untuk diajak bicara lalu kau akan mulai mencampuri segala urusannya. Kau mulai berpikir kalau urusannya adalah urusanmu juga. Kau tidak ingin melihatnya terluka. Terkadang ada yang terlalu bodoh untuk melakukan segala hal untuk dia.
Lalu pada saat terakhir, kau menyadari. Bahwa kau MENCINTAINYA.
.
.
.
FIN
AUTHOR'S note:
Ya Ampun. Makin panjang aja deh words-nya. (4.484)
Gomen, minna! Cerita ini berakhir di chapter 7 # . #
Anyway, I put so many of my powers here. So, saya minta maaf# .jungkel# kalau masih banyak kekurangan dan buat kalian muak bacanya. But, I just an ordinary girl yang punya sejuta kelemahan dan semiliar kemampuan tersembunyi# . .samehada#
Thank, guys! For always support me.
Bye, see you in the others story. Wish me luck!
ghostGirl20
