"Teks" percakapan biasa

'Teks' percakapan dalam pikiran

.

.

Ruang kelas itu lembab dan gelap. Rak-rak yang berisi benda-benda aneh berjajar menutupi dinding. Di depan, menghadap ke arah tempat para murid duduk, berdiri papan tulis yang berisi bahan-bahan ramuan yang akan mereka kerjakan hari itu.

Profesor Snape, selaku pengajar ramuan, terlihat berkeliling di antara meja-meja. Memberikan komentar-komentar tajam pada setiap murid.

Harry menatap kualinya. Mengerutkan kening saat dilihatnya hasil yang ia dapatkan tak sesuai dengan apa yang telah dijelaskan sang profesor. Ia kembali menatap buku catatan miliknya. Seharusnya saat ini asap berwarna merah jambu sudah akan keluar dari kuali di hadapannya.

Blaise yang berada dua baris darinya terlihat masih menghaluskan taring ular dengan mortar. Daphne tepat di sampingnya sibuk membolak-balik catatan. Harry menatap ke depan. Ia dapat melihat rambut pirang Draco di antara anak-anak Gryffindor. Ia terlihat tenang.

'Draco,' panggil Harry pelan. 'Draco.'

'Ada apa, Harry?' tanya Draco sabar. 'Apa kau ingin dibantu untuk menyelesaikan ramuanmu lagi?'

Harry tersenyum canggung. 'Tolonglah,' Harry memohon. 'Kau tahu aku buruk dalam pelajaran ini.'

'Sekali-kali kau harus berusaha menyelesaikannya sendiri.' Harry dapat mendengar nada menggurui dari anak itu.

'Tapi, aku juga membantumu saat Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, bukan. Itu namanya simbiosis mutualisme.'

'Simbiosis mutualisme?'

'Maksudku, saling menguntungkan.' Harry lupa dunia sihir tidak punya pelajaran Biologi.

Harry dapat mendengar Draco menghela napas dari tempatnya berada. Ia tersenyum senang. Anak berkacamata itu tahu Draco pasti akan membantunya.

'Sudah sampai dimana ramuan yang kau kerjakan?' tanya Draco

'Umm... Aku sudah sampai pada bagian menambahkan bulu landak.'

'Kau belum menambahkannya, 'kan?' Draco terdengar khawatir.

'Belum, kok. Memangnya kenapa?'

'Sebelumnya, kau harus mematikan api di kualimu. Setelah itu barulah masukkan bulu landaknya.'

'Begitu..' Harry mengangguk-ngangguk. Ia segera melakukan apa yang diperintahkan Draco.

Begitu selesai, Harry kembali bertanya, 'setelah itu?'

'Aduk lima kali searah jarum jam.'

Tidak lama kemudian, setelah melakukan semua langkah-langkah yang diperlukan untuk membuat ramuan Penyembuh Bisul, Harry dapat melihat ramuannya berubah warna menjadi biru. Persis seperti yang dijelaskan di buku.

'Terima kasih, Draco. Kau memang yang terbaik,' Harry berkata senang.

'Usahakan agar lain kali kau menyelesaikannya sendiri.'

Meskipun Draco berkata begitu, Harry dapat mendengar ada senyum di sana.

Senyum di wajah Harry tak bertahan lama. Suara teriakan di belakangnya membuat ia segera membalikkan badan. Ia dapat melihat salah satu kuali murid Gryffindor meleleh. Kuali Neville Longbottom.

'Itu yang akan terjadi jika kau tidak mematikan api saat menaruh bulu landak,' kata Draco mencela.

Harry hanya dapat melihat dengan ngeri.

Profesor Snape yang telah mendengar keributan itu segera menuju ke arah Neville. Ia mengomeli anak itu, menyuruhnya ke Hospital wing, lalu memerintahkan murid lain untuk melanjutkan pekerjaan mereka.

Harry menatap dalam diam ketika Profesor Snape melewatinya tanpa sepatah-kata pun. Harry hanya bisa menghela napas. Ia merasa heran mengapa kepala asrama-nya itu seakan-akan selalu mengabaikannya. Awalnya, ia hanya mengira jika sikap Profesor Snape memang seperti itu. Namun, ia menyadari hanya ia yang diabaikan.

Terkadang Profesor Snape akan memarahi murid lain yang bertindak bodoh, atau memuji murid Slytherin yang mengerjakan tugasnya dengan baik. Namun, meskipun Harry selalu menyelesaikan ramuan yang ia buat dengan sama baiknya, hanya ia yang ditatap dalam diam. Profesor Snape hanya mengambil hasil ramuannya dan menyuruhnya untuk kembali duduk.

Terkadang Harry ingin membuat masalah hanya agar Profesor Snape memerhatikan keberadaannya. Namun instingnya melarangnya. Entah apa yang akan dia terima sebagai balasan jika ia betul-betul melakukan itu. Harry tak mau harus mendapat detensi selama sebulan.

Entah apa masalah orang itu, pikir Harry.

.

.

Sore itu, Harry mendapati dirinya kembali berada di dalam perpustakaan. Disekelilingnya, buku-buku tebal berjajar rapi. Ia berjalan di antara rak-rak yang menjulang tinggi. Membaca satu-per-satu judul buku yang menarik perhatiannya.

Ramuan-Ramuan Moste Potente. Basic Hexes for The Busy and Vexed. Terjemahan Rune Tingkat Lanjut. Harry mengerutkan kening. Bingung dengan judul-judul buku yang tidak ia mengerti.

Semakin banyak yang ia baca, semakin putus asa dirinya.

Ia mulai merasa ragu akan mendapatkan jawaban atas pertanyaan mengenai telepatinya dengan Draco di antara buku-buku itu. Ia tidak tahu buku apa yang harus dibacanya.

Di tengah kegundahannya, Harry melihat seseorang yang mungkin dapat membantunya.

"Hermione!" panggil Harry.

"Sshh," Hermione menegurnya.

Upss. Harry lupa jika dirinya sedang berada di perpustakaan. Sambil meminta maaf, ia mengambil tempat di hadapan gadis itu. "Apa yang sedang kau kerjakan?"

"Tugas Ramuan. Kau sendiri, apa tidak mengerjakan tugasmu?" tanya Hermione.

"Bukankah itu masih satu minggu lagi? Aku akan mengerjakannya nanti."

Dilihatnya Hermione hanya mengangkat bahu, lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya.

Harry bingung bagaimana harus melanjutkan percakapan. Ia dan Hermione tidak akrab, sehingga membuatnya merasa canggung.

"Apa yang kau inginkan?" tanya Hermione lagi, sepertinya kasihan melihat Harry.

"Aku hanya ingin bertanya. Apa kau pernah membaca atau setidaknya pernah mendengar mengenai seseorang yang mampu bertelepati dengan orang lain?"

"Hmm.." Hermione terlihat berpikir.

Harry menatapnya sambil berharap-harap cemas. Hanya anak itu satu-satunya harapan yang ia punya. Jika Hermione tidak mengetahuinya, ia tidak tahu lagi harus bertanya pada siapa.

"Kurasa aku pernah melihat tentang itu sekilas di perpustakaan ini. Tapi aku lupa buku apa itu. Hal-hal seperti itu tidak menarik perhatianku. Kurasa penulisnya hanya mengada-ada."

"Benarkah?" tanya Harry tidak percaya.

Saat dilihatnya Hermione mengangguk ia kembali bertanya, "bisa kau carikan aku buku itu?"

"Kumohon," tambahnya.

Hermione menatap Harry dengan heran. "Kenapa kau sangat ingin tahu tentang itu?"

"Aku hanya..." Harry bingung. Ia tidak mungkin menjawab seperti yang dilakukannya pada Daphne dan Blaise. Hermione juga hidup dengan muggle. Alasannya yang dulu, tidak mungkin dipercaya Hermione begitu saja.

Setelah beberapa lama tidak menjawab, Harry menjawab, "ada yang ingin kupastikan."

Hermione mengangkat alis. Tapi, untungnya, tidak bertanya apa-apa lagi.

"Aku akan memberitahumu kalau aku menemukannya."

"Terima kasih, 'Mione. Kau baik sekali." Harry tersenyum senang. Dan segera berlalu, tidak ingin mengganggu anak itu lebih lama lagi.

Ia melambaikan tangan, tidak sadar panggilannya pada anak itu mengagetkan Hermione.

Harry merasa senang. Akhirnya ia mendapatkan sedikit petunjuk untuk mencari tahu mengapa ia dan Draco memiliki kemampuan untuk saling berkomunikasi dalam pikiran. Harry percaya Hermione akan menepati janjinya. Dan ia hanya perlu menunggu dengan sabar sampai kabar yang ia nantikan datang.

Sayangnya, rasa senang yang ia rasakan tak berlangsung lama. Ia melihat Draco sedang berbincang dengan Pansy. Wajahnya suram.

Harry menghentikan langkah. Ia ingin tahu apa yang dibicarakan kedua orang tersebut, sehingga membuat Draco yang selalu tenang mengeluarkan ekspresi seperti itu. Namun, karena kesepakatannya dengan Draco, Harry melanjutkan perjalanannya ke asrama. Mencoba mengabaikan Draco dan Pansy samping aula, jauh dari keramaian.

.

.

"Jadi, apa lagi yang mengganggumu kali ini?" tanya Daphne saat dilihatnya Harry mengambil tempat duduk di sampingnya.

"Daphne," sapa Harry. "Kau selalu dapat 'membaca' ku dengan baik."

"Tentu saja. Aku ini sahabatmu, tahu."

Harry tersenyum. Ia memang sangat beruntung memiliki sahabat seperti Daphne. Ia selalu merasa bersalah karena tidak bisa menceritakan tentang dirinya dan Draco kepada sahabat wanitanya itu. Tetapi, Harry dapat memberitahunya tentang kegelisahannya kepada Theo.

"Menurutmu, apa Theo benar-benar selalu mengawasiku?"

"Aku yakin. Setidaknya delapan puluh persen. Ada apa? Apa dia melakukan sesuatu yang aneh?"

"Tidak, tidak. Aku hanya khawatir. Apa yang diinginkannya selalu mengikutiku seperti itu?"

"Entahlah, Harry. Tapi, sebaiknya kau harus berhati-hati. Teruslah waspada. Karena aku yakin, dia pasti melakukan sesuatu yang jauh dari kata baik."

"Kau, benar." Harry lalu terdiam. Menatap kosong perapian. Pikirannya berkelana. Ia kembali teringat dengan Draco san Pansy. Mungkin, pikirnya, saat itu Draco sedang mencari petunjuk. Harry hanya dapat berharap semuanya akan baik-baik saja.

Tetapi, Draco terlihat tidak senang. Apa yang diberitahukan padanya, pasti tidak bagus.

'Kita harus bertemu malam ini,' Draco tiba-tiba berbicara.

Harry meskipun kaget, namun sudah menduga cepat atau lambat Draco akan menghubunginya.

'Dimana?' tanyanya.

'Di tempat biasa. Aku harus pergi. Sampai jumpa, Harry'

'Hati-hati, oke,' balas Harry.

.

.

Malam akhirnya tiba. Harry menjalani sisa harinya dengan gugup.

Ruang kelas yang ia datangi sama seperti sebelumnya. Kedua kursi yang pernah ia dan Draco duduki masih berada di depan jendela. Harry mengambil tempar duduk. Ia datang lebih cepat, membuatnya harus menunggu Draco yang belum menampakkan dirinya.

Dilihatnya langit malam yang menaungi Hogwarts. Bulan purnama. Harry dapat melihat dengan jelas lapangan quidditch dan tiang gawangnya. Ia juga dapat melihat satu-dua centaurus di hutan terlarang. Muncul dan hilang, di antara pepohonan.

Bayangan hitam di dekat bangku penonton membuat Harry memicingkan mata. Bayangan itu berjalan menjauhi tempat Harry berada. Apa itu siswa? Ia bertanya-tanya. Mengedikkan bahu, Harry mengalihkan perhatiannya. Saat itulah, Draco memberitahukan keberadaannya.

"Kau sudah lama?" tanyanya. Berdiri di samping Harry.

"Tidak juga. Jadi, ada apa memanggilku?"

"Hm.. Aku hanya ingin bertemu denganmu. Memang tidak boleh?" tanya Draco, main-main.

Harry menatapnya datar. "Aku tahu pasti ada sesuatu. Aku melihatmu tadi bersama Pansy, Draco." Harry cemberut. Saat ia ingin serius, anak itu selalu mempermainkannya.

"Benarkah?"

"Tentu saja."

Draco duduk. Terlihat sedikit gugup. "Aku sudah bicara dengan Crabbe dan Goyle. Tapi mereka tidak tahu apa-apa. Untungnya, aku bisa bicara dengan Pansy. Semoga saja dia tidak curiga dengan pertanyaannku."

"Apa yang dikatakannya padamu?" Harry penasaran.

"Dia hanya tahu kalau mereka memiliki misi saat ini. Dan Pansy yakin jika ketua mereka adalah ayah Theo. Ia tak sengaja mendengarnya dari orangtuanya."

"Dan, kurasa," lanjut Draco. "Misi mereka ada hubungannya denganmu, Harry."

.

.

.

.

Okeee..

Ini nge-gantung. Maaf. /peace ✌

But, plot-nya emang cuman sampai disini.

Please wait for the next chapter. 😊