A voce

.

.

.

Cast : super junior

.

.

.

Ryeowook benar benar menikmati terpaan angin yang mengibas menampar wajah rupawanya. Ia kembali! Dunia ia kembali!

Surai yang dulu kelam kini berganti semi kecoklatan dengan sedikit perak di beberapa helai rambutnya. Setelan hitam dan sepatu kulit dengan merk ternama menambah kesan tampan yang memang sudah terpatri di wajahnya. Hypnos kita –sang dewa kematian yang memegang kendali dunia dengan lisensi nuklir ditanganya

Bebas

Itulah yang Ryeowook rasakan saat ia tadi menandatangani kontrak yang menyatakan bahwa ia akan bekerja untuk anggota bawah tanah yang melakukan unrichment radio isotop. Yah mau bagaimana lagi, ia menyukainya! Bagi seorang Kim, melakukan hal hal baru dan menemukan sesuatu seperti makanan wajib mereka. Otak mereka perlu berfikir guys! Berita bagusnya ia sekarang dipercaya untuk mengembangkan program AI (artificial intellegence) yang dulu pernah ia buat untuk skripsinya, logic fuzzy! Hell ia seperti kembali melihat sosok ayahnya pada seseorang- yang- tak- ia ketahui

"kau yakin ini aman kim?" Ryeowook menoleh saat dilihatnya 'sang jagal' yang nampak ragu akan keputusannya

"bukankah ini organisasi underground hyung? Tentu saja aman" masih tersenyum. Ryeowook menghisap dalam dalam udara yang dapat dinikmatinya saat ini. ayolah sudah lama sekali ia tak serapi ini

"tapi ia orang pemerintahan sepertinya kim. Aku khawatir dia si presiden baru berwajah malaikat itu"

"maksudmu hyung?" perasaanya selalu saja tak enak saat sesuatu yang berhubungan dengan politik di sangkut pautkan dengan hidupnya

"Park Jungsoo kembali terpilih, dan ku dengar salah satu kandidat besar yang membantu prokernya adalah keluarga mendiang prof. Kim" sial! Apa lagi ini

"apa? Maksudmu?"

"ah entah, mungkin kau dirancang untuk melawan mereka. Ck! Dengar, sekeras apapun dunia diluar sana, ingatlah ada hyung disini yang akan membantumu! Kau paham" pria ini memegang kedua bahu Ryeowook. Memberikan kesan nyaman dan aman sekaligus –ia menyukainya

"aku tahu – shindong hyung" Ryeowook tersenyum. Sedikit melirik name tag orang di hadapanya

.

.

Bau besi yang dingin. Derum suara mesin yang sedikit bising. Bau solar juga mendominasi. God! Ryeowook mencintai ini semua! Pria itu segera mengenakan jas lab nya, menggunakan masker dan mengambil kaca mata dengan lens yang tepat. Ia akan mulai bekerja!

"pertama mari kita buat sesuatu yang dapat membantuku" pria itu berjalan mengamati beberapa robot yang nampak patuh pada perintahnya. Baiklah berapa banyak robot yang akan ia miliki disini

"ada berapa manusia disini?" Ryeowook bertanya –pada robot dengan colar bernama N21

"satu, sir" pria itu menautkan alisnya. Hanya dia kah? Lalu harus apa Ryeowook sekarang? Pria itu mendekati komputer utama. Menyentuh keyboard dengan hati –hati. Ah! Tak seperti keyboardnya dulu yang bahkan cuil di beberapa bagian

"baiklah ayo kita buat kau jadi cerdas" Ryeowook mengetikkan beberapa pengkodingan pada sistem robot N21. Ia berencana memasukkan expert system (sistem pakar) pada robot tersebut. Menjadikan ia cadangan dirinya ketika nanti ia sedang berada dalam masalah. Ia mulai memasukkan beberapa angka dan recall untuk kodingnya, robot ini akan ia beri kemampuan mengenai unrichment radio nuklida dan juga beberapa kemampuan mengenai sistem AI yang lain. Ryeowook berencana membuat robot ini bekerja di reaktor nuklir menggantikan dirinya. Dengan sistem ini manusia akan aman dari bahaya nuklir karena tugasnya dapat digantikan oleh robot. Berbahagialah engkau di surga Alan Turning!

"tes. Tes. N21 jawab aku"

"ya sir" mata robot itu perlahan terbuka. Ryeowook masih memegang kendali penuh dengan mengatur fibrasi suara robot tersebut hingga di rasa nyaman saat di dengar telinga

"sebutkan bagian bagian reaktor nuklir" ia kembali memerintah

"Ba han ba kar, moderator, tangki kendali, pendingin, bejana bertekanan, generator uap, dan penahan sir" masih sedikit kaku, baiklah ia perlu menginput beberapa hal mengenai logat sepertinya

"oke, apa yang akan kau lakukan jika terjadi gempa bumi"

"jika terjadi gempa bumi tanpa strunami maka reaktor dengan tipe generasi III+ sudah dilengkapi dengan penahan yang terbuat dari baja sir, tidak perlu khawatir"

"jika tsunami?" Ryeowook menyesap tehnya. Merasa sedikit puas dengan jawaban sang robot

" tsunami akan menyebabkan padamnya listrik sir, sehingga generator pembangkit listrik perlu dinyalakan secara otomatis sehingga proses pendinginan tidak terhenti. Langkah pertama yang diambil adalah melakukan penghentian supply inti sir, membiarkan sisa inti yang tersisa menghilang dan lebur pada batang kendali. Jika kungkung bejana terjatuh dan menutup bagian pendingin sehingga menyebabkan proses pengairan pada pendingin terganggu maka segera mengevakuasi daerah sekitar PLTN sir, begitu juga jika limbah hasil pendinginan bocor sir"

"bagus. Anak pintar. Namamu em.. N21 saja lah" Ryeowook meletakkan cangkirnya. Kembali menutup bagian dada robot yang terbuka

"no, sir aku ingin nama dan wajah yang bagus"

"tampilan seperti ini sudah sangat cocok untukmu"

"akan nyaman jika bekerja dengan manusia sir, aku juga ingin sedikit peralatan tambahan yang berukuran mikro hingga nano sir"

"kau membaca pikiranku" Ryeowook tersenyum simpul, tentu saja ia seperti berbicara pada dirinya sendiri jika seperti ini. di sentuhnya pelan chip yang tadi ia tanamkan di bawah kulit tanganya –sedikit perih, masih perlu pembiasaan diri sepertinya

"kau yang menginputnya sir, kau lupa? –tanda tanda alzeimer mulai terlihat di usia anda yang menginjak 30an sir"

"akan ku cabut sistem pakarmu N21"

"Kibum, Kyuhyun, Donghae, yesung, eomma aku ingin menjadi mereka sir! Mereka banyak melintas di sistemku"

"baik baik. Kau N21 sekarang namamu –em" sedikit berfikir keras, akh sulit menentukan nama jika tak ada visual yang menjanjikan. Sekali lagi Ryeowook melihat robot dihadapanya –sangat robot

" kau tunggu dulu 3-4 hari lagi kau akan punya nama, sekarang kau pesankan aku burger dan kita akan buat visual untukmu"

"Siappp sir! Laksanakan!" N21 berbalik dan mengangkat ngangkat tanganya –tanda ia sangat bahagia

"robot yang kaku" Ryeowook berdecih dan menekan tombol enter untuk mengaktifkan sekitar 99 robot yang tersisa di ruangan ini

.

.

.

"kau harus melakukanya Donghae! Kau lupa selama ini siapa yang mendukungmu ha! Ini demi rakyat hae, setidaknya berkunjunglah ke lab dan pastikan semua berjalan dengan lancar, kau tak perlu menyentuh apapun!" Jungsoo menurunkan kakinya, sedikit kesal karna sang keponakan yang benar benar kepala batu

"baiklah aku akan mengajak Kibum jalan jalan kesana jika kau tak mau –istrimu juga" Jungsoo mengancam kali ini –memperhatikan respon keponakanya itu

"u –uncle, tak perlu mengajak mereka. Aku bisa sendiri" Donghae melindungi keluarganya dengan baik. Bahkan Jungsoo tak pernah tahu bagaimana sistem untuk memasuki rumah sederhana keluarga kim itu –rumah tanpa pintu

"kau yang berjanji" Jungsoo tersenum lega, pria berwajah malaikat teduh yang kini di sebut sebagai orang no 1 di korea

"ya aku janji"

.

.

"aku mau yang ini sir" N21 menunjuk visual wajah pilihanya. Mereka berdua sedang berada di depan komputer utama yang tengah menyajikan beberapa wajah artis –sepertinya, yang mungkin akan ditiru dan digunakan N21

"dia terlalu tampan untuk ukuran robot, dia lebih tampan dari ku –tidak boleh"

" dia sempurna untuk aku sir, bayangkan penghargaan apa yg akan kau dapat jika kau berhasil membuatku seperti manusia sir, kau akan mendapatkan banyak nobel, bahkan kau mungkin akan bertemu Mr. Hawking"

"aku akan benar benar mencabut expert system mu" Ryeowook meng-enter gambar yang sedari tadi diminta N21, mencetaknya pada selembar kulit sintetis yang telah ia siapkan. Dan siap melakukan oprasi penempelan kulit pada robot crewet ini

"tes. Tes. N21 aku memanggilmu. Tes"

Belum ada jawaban

"tes. N21 kau mendengarku. Sistemmu telah ku aktifkan, lakukan respon"

Sudah 5 menit tapi robot ini belum juga bangun. Seharusnya hanya penempelan kulit bukan masalah kan? Apa jenis kulit ini tak cocok dengan tipe besinya?

"N21?"

"input loading. Activated. Wake up in one... selamat pagi sir" Ryeowook melihat jam tanganya. Ah, pukul 2 dini hari

"apa ada yang salah? Kau lama sekali bangunya?" Ryeowook menyentuh wajah N21. Sedikit bangga dengan hasil karyanya –jika daddy nya masih ada, ia akan dipuji untuk hal ini kan?

"besuk pagi kita akan melakukan operasi untuk lumpuh bagian tangan. Siapkan sistemnya –kita gunakan JST" Ryeowook kembali melakukan perintah, saat robotnya ini bahkan baru mencoba mengedipkan kelopak mata barunya

"siap sir!" robot yang di komando hanya sibuk melihat lihat pantulan dirinya di cermin besar ruangan ini

"namamu sehun sekarang, dan cukup panggil aku hyung –paham"

"sehun? Kim sehun?"

"jangan memakai margaku" Ryeowook terkekeh sebentar –sebelum ia melangkahkan kaki kakinya menyusuri lorong panjang menuju kamarnya. Ia akan sedikit beristirahat

.

.

Donghae mengeratkan pelukanya pada wanita ini. hanya sepihak –wanita yang tidur dengan memunggunginya. Seseorang yang seolah mengutuk dirinya karna telah membuat Ryeowook mengalami takdir tak terduga. Apa hanya wanita ini yang terluka? Apa hanya Kyuhyun dan Kibum yang merasa kehilangan? Apakah mereka lupa pada dirinya yang juga kehilangan seorang adik?

"jangan menungguku pulang besuk, aku akan ke lab melakukan beberapa pengecekan –akan sedikit lama" monolog. Ia berbicara pada udara. Wanita ini tak akan menyahut atau menanggapi ucapanya bukan? meski mereka bersama selama 3 tahun?

"aku titipkan rin padamu –sayang" Donghae berbalik. Memunggungi istrinya dan bersiap untuk tidur. Beberapa saat

"aku ketakutan hae –sangat" suara lirih yang membuat Donghae tak jadi memejamkan matanya. Sebentar, meski sedikit saja mereka akan tetap berkomunikasi seperti ini

"kau sangat sibuk akhir akhir ini Rin merindukanmu" Donghae tersenyum dan membalik badanya. Kembali menelusupkan tanganya diantara pinggang wanita ini. sedikit menyesap tengkuk wanita yang menjadi ibu dari putri kecilnya

"geli hae" lirih –tapi Donghae menyukainya. Saat tangan wanita ini mencengkeram erat tangan kekarnya

"aku ingin sedikit beristirahat sayang –aku lelah" Donghae masih menciumi tengkuk istri tercintanya, meski sang empu tak pernah bereaksi sekalipun

"kau menerimaku –meski aku semenjijikkan ini, aku menjijikkan! berhentilah berharap dan carikan ibu baru untuk rin" kali ini wanita itu berbalik –sedikit menyentuh wajah tampan suaminya, menyentuh kelopak mata dari orang yang dulu –dulu sekali pernah ia cintai.

"tidak. Aku sudah mengatakan padamu bahwa mereka memberimu mariyuana dan mengatakan kata kata itu untuk memicu fantasimu saja –itu tak pernah terjadi, mereka tak pernah menyentuhmu sweet heart, kau tak percaya pada manusia paling genius di negeri ini eoh?" Donghae tersenyum, sedikit menundukkan kepalanya. Melesakkan kepalanya pada pelukan hangat sang istri

"hanya aku yang menyentuhmu"

"dan adik mu" wanita itu memegang erat piama yang dikenakan suaminya. Tanganya bergetar mengingat bagaimana ia memainkan dua bersaudara ini. rasa bersalah menggerogoti batinya dan berkali kali menyebut dirinya sendiri sebagai pelacur rendahan

Donghae terdiam –tidak jadi menelusupkan tanganya kedalam piyama sang istri. Sedikit terpukul dengan kata kata terakhir istrinya. ia kembali mensejajarkan wajahnya. Menghapus air mata yang tertahan di kelopak mata wanitanya

"kau menolakku" sedikit tersenyum. Pria itu membalik badanya –memunggungi sang istri yang pasti akan segera menumpahkan air matanya karna teringat Ryeowook, huh harusnya ia tidur saja tadi!

"ja –jangan pergi hae, jangan menolakku" wanita itu sedikit menarik Donghae. Memintanya untuk sekedar membalikkan badan. Donghae lelah! Ia hanya ingin istirahat dan tak ingin lebih menyakiti wanita ini –tidak untuk mendengar wanita ini bercerita tentang Ryeowook lagi

Hening

"kau tetap ayah Rin, sejauh apapun aku memikirkanya –kau tetap suamiku. Ku mohon jangan pergi kesana, demi rin –demi keluarga kita" Donghae merasakan wanita itu memeluknya, sedikit lebih erat dari yang biasa wanita itu lakukan. Ah baiklah,

"aku hanya akan melihat lihat, tak akan melakukan apapun –jangan sedih, aku akan kembali" Donghae menepuk pelan tangan istrinya. mencoba membuat wanita itu mengerti tentang keadaanya

Sudah sekitar satu jam dan Donghae masih belum bisa tidur, wanita ini masih memeluknya –dan sepertinya ia sudah tidur. Tentu saja! Ah toh tidurpun tak membantu, ia akan sedikit berjalan malam untuk mengunjungi kedua adiknya juga putrinya

Malam yang sunyi. Diapit besi dingin di sepanjang lorong. Donghae sempat berfikir untuk tinggal di rumah atas, dimana dinding terbuat dari batu bata asli dengan jendela yang berada di samping rumah. Dimana angin berhembus alami melewati jendela mereka. Bukan dari atap lorong panjang ini. lab bawah tanah tempat mereka semua bersembunyi dari dunia luar

"kau terbangun" Donghae sedikit terkejut saat mendapati sang istri yang tengah duduk duduk di pinggiran ranjang. Wanita anggun dengan rambut hitam sebahu dan sedikit lesung pipit saat tersenyum

"a –aku tak tahu bagaimana mengatakanya. U –um aku hanya ingin membantumu, ki –kita sudah cukup tua dan se –sering melakukanya, tapi aku tak pernah tau bagaimana cara mengatakanya padamu. Aku menyadarinya saat kau bilang ingin istirahat, a –aku bukan istri yang baik –"

Hah apa yang dikatakan wanita ini

"ayo tidur, sudah lewat tengah malam" Donghae menaiki ranjang. Kembali pada posisinya seperti biasa –memunggungi sang istri

"bodohnya aku" wanita itu bergumam –sesuatu yang tetap Donghae dengar. Ck! Kenapa kali ini prosesnya lama sekali! Kenapa ia buang buang waktu saat wanita itu –istrinya terang terangan minta ditiduri olehnya! Shit! Sejak kapan seorang Kim Donghae melewatkan wacana untuk menyentuh wanita itu!

"katakan saja kau merindukanku" sekali tarikan dan wanita itu kini tengah kebingungan di bawah kungkungan Donghae yang hanya menampilkan senyum mengejeknya. Seperti Donghae yang dikenal wanita ini beberapa tahun yang lalu

"kau kembali" wanita itu menyingkirkan poni suaminya yang menjuntai ke bawah, menutupi pandanganya dari wajah sang suami. Ia telah memutuskan! Pria inilah ayah dari putrinya. Bukan orang lain "aku merindukanmu Kim Donghae"

" bersiaplah sweet heart, malam ini adalah malamku" pagutan lembut yang berakhir adegan panas. Begitulah malam itu mereka habiskan. Tak perlu ku jelaskan bukan?

.

.

.

Pagi menyingsing. Kali ini Donghae datang dengan wajah yang sedikit acak acakan –kegiatan malamnya membuat ia terlambat bangun dan menyisakan kantung mata yang lebar. Sedikit terusik saat mendengar suara dari peralatan dapur yang kembali di gunakan. Ia bangun dengan sempoyongan ingin mencari istrinya yang entah dimana

"kau disini" ia datang masih dengan kaki yang diseret paksa untuk berjalan. Menyandarkan tubuh besarnya di punggung sang istri dan beberapa kali mengecupi tengkuk wanita itu.

"jangan menggangguku hae"

"kita jadi keluarga normal sekarang" Donghae masih tersenyum senang sembari memeluk istrinya dari belakang. Menyelusupkan tanganya kedalam baju yang dikenakan istrinya

"a –apa yang kau lakukan h –ae" wanita itu sedikit menggeliat, tapi tak bisa meninggalkan gorengan yang terlanjur ia masukkan ke dalam minyak panas ini

"aku mencari sesuatu di dalam sini –ah ketemu" baiklah, kim Donghae memang tak bisa dibiarkan!

" aku akan segera selesaikan ini dan memberi apa yang kau inginkan, lepaskan aku dulu"

"hem hem" Donghae menggeleng pelan masih setia menangkupkan tanganya di dada sang istri –sedikit memainkanya "aku lebih suka mencuri curinya" Donghae kembali menggoda wanita itu dengan menciumi tengkuknya. Tanpa ampun!

"astaga, ini minyak panas" wanita itu hampir memekik saat Donghae mengusap salah satu bagian terlarangnya itu

"Donghae!" teriakan tertahan saat Donghae tanpa ampun mulai merajalela mengambil hak –jatah paginya

"rin jangan lihat!" keduanya terdiam saat mendengar suara Kyuhyun yang terasa begitu dekat. Donghae melepaskan tanganya dengan perlahan sementara wanita itu tak berani membalikkan wajahnya ke belakang

" se –sejak kapan kalian disini?" mata Donghae hampir saja berair saat melihat kedua adiknya juga putri kecilnya berada disana –meja makan

"sejak hyung melakukan tindak asusila pada noona"

"e –eh, seharusnya kalian mengingatkan ku"

"sarapan siappp!" wanita itu berteriak menghilangkan rasa canggung yang menerpa suaminya. Menyelamatkan wajah pria itu!

Sarapan normal keluarga kim setelah 3 tahun terakhir. Bukankah pepatah yang menyatakan bahwa kedudukan dan suasana hati wanita sangat berpengaruh dalam suatu keluarga adalah benar adanya? Dan inilah keluarga kim dengan satu ibu rumah tangga muda sebagai pionya. Pion terkuat keluarga ini, seseorang yang mampu membuat semua anggota keluarga berkumpul dan menikmati santap paginya

"Kibum, hyung akan ke lab Jungsoo uncle –kau ikut ya" Kibum mengangguk. Sementara Kyuhyun sedikit kehilangan selera makanya. "kau harus menemani noonamu belanja dan menjaga rin ya kyu –hyung percaya padamu" Kyuhyun mengangguk –sedikit tidak semangat karna ia juga ingin menghabiskan waktu dengan hyungnya itu

"hyung akan belikan oleh oleh untukmu, kau mau apa?" bukankah ini angin surga? Apa yang terjadi pada keluarganya hari ini? apakah kiamat sudah dekat?

"a –mmm aku ingin pin selongsong hyung, aku ingin membuat gantungan hehe"

"berapa matriks yang kau butuhkan eoh?"

"sa –satu saja" wanita itu tersenyum bahagia. Berhenti berfikir tentang masa lalu bukanlah hal buruk. Hari ini keluarganya dimulai, keluarga kecilnya yang bahagia! Wajah suaminya yang tersenyum cerah. Tawa bahagia kedua adiknya dan juga putri kecilnya yang nampak sangat antusias mengganggu sang ayah yang tengah menikmati sarapan paginya

"apa noona digigit serangga? Kenapa banyak sekali luka di leher noona?" pertanyaan polos Kyuhyun yang membuat Donghae dan istrinya terdiam –merasa makanan yang mereka makan benar benar tak dapat melewati tenggorokan lagi

"uhuk" Kibum tersedak. Kenapa kau dewasa sekali kim Kibum!

.

.

Donghae dan Kibum sampai di tempat yang dimaksudkan Jungsoo untuk dikunjungi. Sedikit ragu apakah mereka masih berada di korea selatan atau tidak, apa ini yang disebut kemajuan zaman yang tersembunyi?

Bagaimana mungkin korea selatan memiliki jenis bangunan seperti ini? entah ini rumah sakit atau laboratorium raksasa dimana semua pegawainya berupa robot- robot yang nampak sangat paham dengan apa yang tengah mereka kerjakan –ada beberapa manusia juga! Sepertinya mereka pasien disini?

Dinding dinding kaca sebagai sekat antar pasien, dimana seolah hanya Donghae yang dapat melihat mereka dari luar, Donghae melambaikan tanganya. Berharap ada yang melihatnya –nihil, bahkan mereka tak sadar

"tak ada dinding hyung" Kibum berujar. Sedikit bingung dengan apa yang ada di hadapan mereka. Apakah ini hologram? Atau cermin?

"bukankah kita akan melihat perkembangan PLTN yang tengah dibagun hyung?" Kibum menatap Donghae yang nampak masih mencerna kejadian di dalam ruangan yang nyata nyata kosong namun berisi dan ramai ini

"kita membutuhkan sandi Kibum. Akses untuk terlihat dan menyatu dengan dunia yang berada di ruangan ini" Donghae sedikit merapal. Mengingat ingat dan meningkatkan deduksinya untuk mengambil kesimpulan mengenai sandi yang mungkin harus ia ucapkan

"apakah ini hologram hyung?"

"tidak. Ini dimensi kelima Kibum!" Donghae masih terus berfikir sembari sedikit mondar mandir tak jelas. Sedang Kibum masih bingung memahami apa yang hyungnya katakan

"dimensi kelima? Bukankah mincowsky mengatakan hanya ada sistem 4 dimensi ruang hyung? Apakah sistem bebas matriks orde dua di ruangan ini bertambah jika berada di ruang dimensi kelima hyung?" Kibum menghitung hitung dengan jarinya

"242" Donghae dan Kibum bebarengan menyebutkan angka tersebut, namun Kibum lebih terkesan sedang mengajukan pertanyaan

' Akses Diterima'

Suara robot wanita menggema. Sebuah besi terjulur dari atap dan memberikan chip kepada keduanya

"akh" Kibum kecil sedikit kesakitan saat chip itu mulai dimasukkan melalui tengkuk belakangnya

"kau sakit? Apa berlebih?" Donghae buru buru mengambil botol dari kantong sakunya saat melihat darah Kibum yang keluar hampir menetes. Darah itu menetes ke lantai –namun hilang tak berbekas

"ho? Hilang hyung! Orang gila mana yang membuat ruangan ini? apa kita sekarang sedang tidak menapak dilantai hyung?"

"ini dimensi kelima Kibum –gravitasi benar benar ada pada kendali dirimu sendiri. Siapapun yang membuat ruangan ini, dia seseorang yang mengerikan! Ayo kita cari tahu" mereka berjalan. Donghae menggenggam erat tangan salah satu adik bungsunya itu. Takut hilang di dimensi ini. Setelah chip ditanamkan seolah mereka membaur dengan lingkungan sekitar. Beberapa robot menyapa Donghae sebagai ilmuan kim –mereka ramah dan dengan sedikit rasa robot yang tersisa. Mereka hampir sempurna sebagai robot

"hyung lihat!" Kibum menunjuk seseorang yang berpakaian seperti dokter. Mereka mendekatinya

"permisi. Aku kim Donghae" Donghae menunjukkan kartu namanya

"oh? Ada yang bisa saya bantu? Saya Dr. Sehun"

"kau robot" Donghae menelisik

"apakah aku masih terlihat 'sangat robotik'? ck! Aku akan meminta hyung untuk memperbaiki sistemku lagi. Oh ya ada yang bisa ku bantu?"

"kau dokter?" Donghae menelisik, sedikit kagum pada robot nyaris sempurna di hadapanya. Bukankah ia seperti di masa depan

"aku yang menyebutnya begitu karna kau sedang berada di bagian Rumah sakit kami. Kalau aku sedang di PLTN maka aku adalah pembantu disana"

"bisa kau tunjukkan pada kami? PLTN, Mr. Jungsoo menyuruh kami kemari"

"aku tak terlalu tahu siap –a di –a?" sehun memiringkan kepalanya. Mengamati lekat lekat wajah wajah dihadapanya. Seperti bukan sesuatu yang asing? Seperti sesuatu yang mendasar di bagian sistemnya

" Kim –Donghae? Kim Kibum? Prof. Kim? Sehun membelalakkan matanya. Wajahnya mendadak memerah padam tanda ia menemukan sesuatu yang besar

"ya?"

"kau keluarga kim ryeowook? Nathan kim? Astaga! Kalian orang yang sering berseliweran dalam kepalaku tapi aku tak mengenalinya! EUREKA!"

"ap –pa maksud-mu?" Donghae memiringkan kepalanya. Matanya membelalak sempurna saat menangkap siulet manusia lain yang nampak berada di belakang sehun. Seseorang yang selama ini membuat dunianya jungkir balik tak karuan

"sehun jaga Kibum"

"RYEOWOOK AH!" Donghae berteriak tak karuan saat melihat ryeowook yang nampak mondar mandir di ruangan sebelahnya. Ia semakin berlari kedalam namun ryeowook juga semakin berlari kedalam. Mereka seperti dipisahkan kaca tak kasat mata yang panjang dan dalam. Shit! Ryeowook berada di dimensi berbeda!

"RYEOWOOK AH! INI HYUNG! WOOKIE AH! LIHAT KEMARI, KAU MENDENGARKU BODOH! WOOKIE!" Donghae kalang kabut mencari sandi –sibuk mengobrak abrik isi kepalanya. Ia senang bukan kepalang! Bukan! bukan lagi senang atau bahagia, -ini seperti.

Seseorang yang kau cintai –keluargamu. Ia mati. Namun kenyataan mengatakan bahwa ia masih disini. Bernafas di udara dan atmosfer yang sama denganmu. Itu tidak dapat dijelaskan!

"aku menemukanmu, ryeowook ah!" Donghae melemah. Ia terlalu lama berada di dimensi ini. ini bukan dimensinya sebagai manusia biasa bukan? chip ini mengambil banyak energi tubuhnya

"Kibum. Astaga aku lupa KIBUM!" Donghae berlari ke tempat ia semula menginggalkan Kibum. Namun adiknya itu sudah tak ada. Rasa was was menjalar. Kibum bukan anak bandel yang suka berkeliaran!

"per –permisi, kau melihat sehun? dia temanmu kan? Atau kau melihat manusia kecil berusia 13 tahun, kau melihatnya?"

"sorry sir, aku tidak melihatnya" Donghae kalang kabut. Dari berbagai robot yang ia tanyai tak ada satupun yang melihat Kibum. Apa Kibumnya kembali ke dimensi empat?

"KIBUM! KIBUM!" Donghae berteriak. Tampilanya sudah acak acakan tak karuan. Ia kehilangan adiknya lagi di dimensi ini. harusnya ia tak menitipkan adiknya itu ke robot yang bahkan tak ia kenal!

BRAK

Donghae terjatuh. Menghantam permukaan keras. Kesadaranya menipis seolah pasokan oksigen ditarik habis dari paru parunya. Ia mendengarnya –suara gas yang segaja dipompakan ke ruangan ini!

Pria itu membuka matanya. Mengembalikan kesadaranya secara penuh. Mengedarkan pandangan untuk memastikan ia ada di dunia yang mana. Astaga! Apa ryeowook yang membuat ini?

"ryeowook" ia tersenyum bahagia saat seolah adiknya itu menghampirinya. Tapi ryeowook hanya berjalan dan melewatinya begitu saja. Tak melihatnya. Mereka dalam ruang yang berbeda!

"KIBUM!" kali ini Donghae berteriak nyaring saat melihat Kibum tak berdaya. Menutup mata dalam sebuah kapsul besar. Berkali kali! Namun Donghae hanya mendobrak udara kosong. Tak dapat menyentuh Kibum atau membuat ryeowook sadar akan keberadaanya

"KIBUM! KIBUM BUKA MATAMU, KIBUM! RYEOWOOK! WOOKIE, ADIK KITA WOOKI –uri dongsaeng, wookie! Dengarkan aku. Kumohon. Aku dimana sekarang. Kumohon. Mereka adik adik ku. Kumohon"

"kau lelah hae" suara yang Donghae kenal. Pria itu membalikkan badanya. Menatap unclenya dengan pandangan bingung tak beraturan

"ap apa yang terjadi uncle? Kau? Kau tahu RYEOWOOK MASIH HIDUP HA! Picik bajingan! KAU MENJEBAK KU! KEPARAT"

BUGH

Donghae menghantam wajah pria yang sudah ia anggap sebagai ayah –tidak. Sebagai panutan setelah daddy nya tak ada! Air matanya sudah tak tertahan lagi sekarang. Katakanlah ia dungu! Bapak satu anak yang tak lagi muda masih menangis merengek meminta adiknya di kembalikan

"ha ha ha ha ha kau hebat dalam menarik kesimpulan hae" sedikit dorongan dan Donghae terjungkal kebelakang

" aku tak mau bertele tele. Aku tak membutuhkanmu, ryeowook jauh lebih cerdas jika dibandingkan denganmu –lihat! Bahkan ia bisa membuat ruangan ini, contoh konkrit lainya ia bisa membuat orang orang lumpuh tanpa harapan dapat kembali bergerak bebas. Dia penjelmaan dari alam Donghae! Dia seperti TUHAN!. Kau terlalu dungu dengan membiarkan adik geniusmu itu lari dari jangkauan matamu"

"kau yang merencanakan pembakaran sel ryeowook 3 tahun lalu, kau membunuh banyak napi tak berdosa"

" ya aku melakukanya. Sedikit pengurangan populasi penduduk. Dan ah, biar kulanjutkan ceritaku. Kibum! Dia spesies langka bukan, dia manusia ciptaan ryeowook juga?"

"kau mengambil darah Kibum untuk menjebaknya di ruangan itu" Donghae berkata datar. Sedikit tak habis fikir dengan kemauan sang paman yang –terindikasi gila!

"apa yang kau mau" negosiasi sederhana. Donghae sudah tak waras rasanya! Otaknya serasa di jambak dan di potong menjadi bagian bagian kecil seukuran biji jagung

"em aku ingin hak milik ryeowook"

"apa?" apa Donghae mulai tuli?

"yah, kau adalah pengendali ryeowook yang sempurna Donghae. Dia akan berlutut atau bahkan menjilat muntahanku jika kau yang menyuruhnya. Seharusnya kau yang khawatir pada keadaanmu saat ini. bukan kedua adikmu"

"apa" Donghae linglung. Beberapa orang tak dikenal menubruknya dan mulai memberikan cairan pekat –yang entah-apa

Pandanganya mengabur. Ia tak dapat melihat dengan jelas. Ia melihatnya. Melihat ryeowooknya membuat kontak mata denganya. –morse

P-E-R-G-I

"aku terlalu bodoh wook"

.

.

"sehun?" ryeowook baru saja memasuki ruangan dalam dimensi ini. sudah lama sejak beberapa saat yang lalu

"wookie hyung" Kibum tergagap. Yang dipanggil hanya diam mematung dan sedikit memastikan apa benar yang dihadapanya adalah adik kecilnya dulu. 3 tahun bukan waktu yang sebentar untuk tetap mengingat detil wajah seseorang bukan

"Kibum. Kau bertahan" ryeowook menubruk adiknya. Merangkul erat erat remaja kecil itu. Apa ini mimpi? Ia dapat melihat Kibum tumbuh hingga sebesar ini, Tuhan masih memberinya kesempatan untuk melihat adik kecilnya lagi –tunggu

"anak hebat, kau kemari dengan siapa eoh?"

"aku bukan anak kecil lagi hyung. Aku sudah besar! Aku kemari dengan Donghae hyung. Tadi dia berlari mencarimu kesana" Kibum menunjuk arah dimana Donghae berlari

" ap –apa? Sehun bisa kau –cari, sehun! SEHUN! SEHUN BUKA MATAMU SEHUUN!" pria itu tergagap. Melihat robot dengan sistem paling sempurna di ruangan ini menutup mata tanpa komando

'daya dimatikan' –gumaman terakhir suara sehun

"Kibum. Kibum siapa yang menyuruhmu kemari eoh?" tak sabar! Begitulah perasaan ryeowook saat ini. keluarganya kembali dalam bahaya bukan?

"Jungsoo uncle. Ia menyuruh Donghae hyung kemari. Dan hae hyung mengajakku untuk meliat dan mengecek kadar aktivasi darahku dengan alat yang lebih canggih hyung"

"Sial! Sial, ayo Kibum" ryeowook berlari ke komputer utama. Ia harus segera menemukan keberadaan hyungnya itu –paling tidak ia akan mematikan sistem 'labirin dimensi' dalam bangunan ini. entah hal konyol apa yang membuatnya menciptakan sistem gila ini

"hyung" ryeowook melongo tak percanya menyaksikan komputer utama yang jelas sudah dalam kendali penuh kuasanya mati! Shit apa ini!

" kendali manual hyung!" Kibum berteriak, benar!

"bum, kau pergilah ke bagian ujung lorong ini. teruslah bergerak dengan kecepatan konstan. Lurus dan jangan pernah berbelok. Gunakan chipmu sebagai kuncinya. Mengerti! Setelah itu jangan pernah kembali, kau harus temukan pintu keluar dan segera hubungi orang ini. jangan pernah percaya pada siapapun selain orang ini mengerti" Kibum mengangguk patuh. Mengingat dengan jelas perintah sang hyung. Berbekal keberanian dan artu nama shin dong hae ditanganya

Sementara ryeowook berusaha menunjukkan dirinya. Ia akan terus berjalan agar tak ada orang yang curiga. –morse, ia sengaja membuat pola peringatan untuk Donghae. Kaca kaca di ruangan ini di desain sebagai kamera tak kasat mata. Dan sialnya dia juga yang merancangnya! Shit, hal ini kembali terulang pada keluarganya. Apa lagi yang akan Jungsoo lakukan pada Donghae sekarang! Ia membenci ini. takdir yang mempermainkan keluarganya

Apakah seorang ilmuan bukan manusia? Apakah mereka hanya anjing milik sang penguasa? Apakah salah jika sebentar saja keluarganya mengecap rasa bahagia?

Donghae terbangun. Menjatuhkan kakinya secara perlahan. Apa? Rubik dimensi ini telah dimatikan rupanya. Kepalanya masih sangat sakit. Sedikit mengibas untuk mengurangi rasa sakitnya. Ia membuka pintu yang ada di ujung kamarnya. Terpaan angin langsung menyambar menghantam rambutnya

Atap

Ia berada di ujung bangunan ini rupanya. Pandanganya belum terlalu jelas, masih samar. Ia mendengar seseorang yang sedang bernegosiasi dengan teriakan dan jeritan

'ryeowook? Ryeowook! RYEOWOOK! KIM RYEOWOOK APA YANG KAU LAKUKAN DISANA, TURUN!"

Donghae berlari mendekat. Ada seseorang yang mencengkeram erat lenganya, membuiat ia tak dapat bergerak.

"JANGAN SENTUH HYUNGKU! BEBAS KAN HYUNGKU, ah tidak –semua ini tak akan pernah berhenti bukan? kalian akan menyeret keluargaku lagi dan lagi kedalam rubik ini, benar bukan?"

"apa yang mau kau lakukan kim, aku akan menghancurkan keluargamu jika kau berani melompat. Aku akan menyiksa hyungmu di depan matamu sendiri"

"RYEOWOOK, TURUN! TURUN KU BILANG! KEPARAT TURUNNN!" Donghae masih mencerca. Pikiranya kandas saat melihat adiknya itu bersiap menghantarkan kematianya.

"tidak hyung, aku lelah! AKU LELAH HYUNG! Aku lelah berteriak bahwa aku mencintaimu, aku MENYAYANGIMU HYUNG, AKU MENCINTAIMU! Aku rindu umma hyung, KAU DENGAR AKU RINDU IBUKU KIM DONGHAE, aku ingin berkumpul dengan umma dan daddy. Aku lelah menjadikanmu harapan hidupku. Aku ingin berhenti hyung"

"KIBUM, Kibum! Dimana Kibum, dimana Kibum ryeowook, jawab akuu! he –he... Kibum! Ryeowook, Kibum" ryeowook hancur. Batinya remuk melihat keadaan hyungnim yang paling berharga dalam hidupnya hancur seperti orang gila. Ia lelah melihat orang orang yang menjadi penonton sekaligus dalang atas penderitaan keluarganya

"Kibum aman hyung, HAE HYUNG LIHAT AKU!"

"Kibum, ryeowook. Wook! Mianhae MIANHAE! Kau tak penah membunuh umma. Tak pernah wook, sekarang turun. Kemari. Kau merindukan aku kan, ingin ku peluk eoh? Kemari wook. Hyung disini"

"aku bahkan akan menjilat muntahan orang ini jika kau yang memintanya hyung" ryeowook melirik manusia yang sedari tadi anteng dengan tehnya. Manusia yang sebenarnya juga takut jika ryeowook benar benar nekat. Tapi ada Donghae! Ryeowook akan aman

"aku mencintaimu hyung. Aku bangga menjadi adikmu. Tapi takdir ini tak akan berakhir jika bukan aku yang mengakhirinya. Jaga sisa keluarga kita hyung"

"ryeowook"

"RYEOWOOK! RYEOWOOK! ANDWAEEE! ANDWAEE! Ryeowook.. heu... heuh... andwae! WOOKIEEE" suaranya tercekat. Bahkan rasanya hampir habis tak mau keluar dari tenggorokan. Pandanganya mengabur karna liquod bening yang membobol keluar. Isakan tangisan serta deruman dari batinya yang tak berasa lagi

BRUGH

"ryeowook! Andwae! AAAAAAA..." Donghae tersungkur, langkahnya terseoh menyaksikan adiknya melayang dari lantai ke empat gedung ini. masih terngianga di depan matanya bagaimana sang adik menjulurkan tangan yang bahkan tak mampu ia raih, adik yang jatuh dengan senyuman dan berakgir menghantam trotoar beton di bawah sana

"andwae! Wo –ok. Wo –wok"

"ap a-apa ini, tidak mungkin" Jungsoo tergagap. Harta karunya baru saja mengakhiri hidupnya. Kunci kesuksesanya. Tidak! Apa ini

"KEPARAT! BAJINGAN! KEMBALIKAN ADIKKU! KEMBALIKAN ADIKKU"

BUGH

BUGH

BUGH

Hantaman bertubi tubi pria itu layangkan untuk sang pelahap maut. Ia tak rela tak terima dengan apa yang terjadi saat ini. tidak! Tidal lagi! Baru beberpa jam ia melihat adiknya. Ia ingin memeluk adiknya. Ia ingin berbincang –hanya itu

"Arhg!... A...A...A...A...A..."

.

.

.

Donghae membopong jasad ryeowook. Menggendong adiknya itu untuk yang terakhir kalinya. Wajah putihnya sudah memuct. Ia berjalan puluhan kilometer untuk mencapai kediamanya.

Matanya kembali berair saat lengkingan histeris menyamput kepulangnya

Kibum. Kyuhyun. Dan istrinya

Teriakan kesakitan dari semua anggota keluarganya

Apakah ini hidup? Adakah hidup kedua? Donghae lelah sungguh. Ia lelah

Pria itu mendekap erat erat kedua adiknya. Bagu tegapnya senantiasa dikuatkan oleh rangkulan kecil milik istri dan anaknya. Ryeowook mengakhirinya. Takdir buruk keluarga mereka. Otak dunia yang merangkap tangan Tuhan. Mengakhiri rentetan deritanya di dunia ini. ia hanya berharap keluarganya dapat bahagia dan minum teh dengan tenang –hanya itu

.

.

.

END

.

.

.

Terimakasih untuk semua readers yang sudah review, fav dan follow. Terimakasih atas dukunganya untuk A voce. Karna berbagai keadaan saya jadi membunuh tokoh utamanya hahaha. Sekali lagi terimakasih atas dukunganya selama ini #Bow