Halo~
Untuk chappy ini Nana balesnya di sekarang aja~ Biar baca chappy ini lebih khitmat! #maksud lo?
Yap! Inilah balasannya~
Chiaki Heartfilia : iya! Setelah hampir sebulan di tinggal pergi…. Iya.. chapynya pendek banget sampe Nana sempet bingung karena kebiasa nulis yg panjang! Ohya? Wai! Syukur kalau begitu! xD sekalian yg satunya juga deh!
Huwaa… sabar Chi-chan! Natsu nggak kenapa-napa! Kenapa? Ini ada jawabannya! Silakan di nikmati(?) dan semoga nggak bikin terlalu nangis.. -_- Hoho! Sudah tentunya sampe yg bikin pusing kepalanya~ xD apa ini termasuk soon..? kayaknya nggak… Thx for the review!
Hana Hii-chan : Ohayou/Konnichiwa/Konbawa dan Yoroshiku juga Hana-chan! oho! Tentu saja! Weleh.. sampe berdiri juga… semenengangkan itukah..? ._. Pastinya! Arigatou nee! ;)
wendy love 26 : Waduh! Jangan panik! Jawabannya ada di bawah! Happy endingkah…? Hmm… wuahaha! Thx for the review!
cheryne zapiska : Natsu minta maaf tentunya ada salah.. salah apa? Yak! Ada jawabannya di bawah! Hoho! Tentunya! NaLu is the best of the best~ ^^ ini kayaknya bukan update kilat.. #gomen.. Thx for the review!
Kazuka Kujyou Tsania-Chan : Bahaya sekali… hmm… apa benar..? silakan di lihat jawabannya! Terima kasih! ;) Thx for the review!
nshawol56 : Waiiii! Arigatou! XD nggak papa! Yang penting sudah baca dan revuew! Nana udah seneng! XD Ini udah ada! Aih~ Arigatou! #terharu ohya! Bella-san lagi mudik? Jangan lupa oleh"! #plak Thx for the review! Lupakan yg tadi…
HyLucyNagi : Hontouni arigatou! Haha! Udah mereview aja Nana seneng! apalagi di puji! #plak kenapa? Jawabannya ada di bawah~ hehe.. namanya juga drama… memang! Silakan di baca nanti! Hai! Selalu! Kilat? Ini termasuk nggak? Lanjut? So pasti, Hylucy-san! XD Thx for the review!
azalya dragneel : Silakan membaca jawabannay di bawah! Pisah apa nggak? Liat di bawah… #maaf.. happy ending? Hmm… nggak papa! Tapi Nana jamin nggak akan Azalya-san kecewa! Untuk chapy selanjutnya… kalo chappy ini.. hmm.. Hai! Thx for the review!
FINasasAsina : karena Nana harus berhentinya di situ…. Maaf yy… aih! Arigatou! Ending? Sayangnya masih lama… kalau itu, ada di bawah jawabannya.. apa ini termasuk kilat? HAi! Thx for the review!
Angel Ran : Ini sudah lanjut! Sayangnya nggak bisa… maaf.. thx for the review!
jsslucy91 : Hallo juga Henny-chan~ nggak papa! Yg penting udah mau capek-capek review! xD haha! Tapi utk chappy ini…. Konflik antar pasangan utama kita telah di mulai.. Thx for the review!
Anonymousgirl88 : haha! Aku ngerti kok! nggak papa! Santai aja! Jangan sampe ketahuan yy..! X) jawabannya di bawah! Ini udah update yg paling cepet… Thx for the review!
suzu scarlet: Whoa! Whoa! Calmed down man! Kenapa? Ada di bawah jawabannya! Mau bunuh Lisanna? Silakan~ Nana nggak melarang~ tapi nanti dulu deh! Nana ada perlu sama dia di satu chappy~ *evil smirked* etoo… kurang are kaliyy..? ._. hoho! Arigatou! Thx for the review!
Sagara Ai : maaf! Nggak papa! Seneng Ai-nee balik lagi! udah lama nggak ketemu! Makasih udah repot" mereview! Ai-nee…. Kok Ai-nee bisa nebak sih… -_- ini udah yg paling cepet! XD Thx for the review!
Nananalu : Gomen… memang niatnya begitu…. -_- gomenne… Aih~ Arigatou! Tentunya~ Thx for the review!
Penggemar fanfic FT : Hoho! Arigatou! Ini udah keluar! Pas bnget di hari yg sama… Thx for the review!
Done! Oh one more!
I think I did a good job in the last chapter. Because some of you people get freaked out with Natsu's last word! xD
Before you could continue read this chapter, I must warn you first.
This is a SAD chapter. Maybe you should prepare some tissue..? What I said sad is the chapter! Not the story! But I promise I won't make you, my lovely readers, feel disappoint. Maybe some of you think I just an author that only can write some romance stuff. But sometimes… I can turn to be an evil one…
I don't know if thie chapter can make you cry. But I think I a little cruel to Natsu…
And.. Happy reading!
.
Angin malam yang berdesir membuat efek kantuk di mata putri blonde ini semakin bertambah. Jika saja tidak ia tahan bisa saja dia akan jatuh tertidur.
Lucy menengadahkan kepalanya, menatap langit malam yang bertahtakan bintang-bintang yang tengah menghiasi malam bersama bulan.
Putri itu menopangkan dagunya, dengan kepalanya tetap terdongak, menghitung bintang untuk mengusir rasa bosan yang mulai menggerogoti dirinya.
Mata cokelatnya menggerling ke arah jam dinding yang berada di dalam ruangan, pukul 10.40. sudah lebih dari sepuluh menit dia menunggu pangeran berambut pink itu.
Desahan nafas keluar dari mulut mungilnya. Lucy kembali menatap langit malam, kini dia sudah menyerah untuk menghitung bintang. Dia tahu itu terkesan bodoh namun itulah cara yang di ajarkan ibunya saat dia masih kecil.
'Cobalah untuk menghitung bintang jika kamu tak bisa tidur.'
Kalimat ibunya itu masih melekat jelas di memori Lucy, cara itu terbukti ampuh karena Lucy akan tertidur ketika ia menyerah atau mulai bosan menghitung.
Bibir putri itu yang tadinya membentuk senyuman sekarang terkulum ke bawah. Bulan besar yang menjadi objek utama langit malam ini tertutup akan awan yang mulai menebal.
Melihatnya Lucy berdoa dalam hati agar hari esok cerah. Dia tak ingin mengantar Natsu yang besok akan pulang ke negaranya dengan keadaan cuaca yang buruk.
Natsu! Seketika Lucy kembali melihat jam dinding, pukul 10.42.
Hanya dua menit yang lalu saat terakhir kali dia melirik jam.
Lucy mendesah kasar. Dia mulai bosan menunggu, dua menit serasa seperti dua jam baginya. Apa yang membuat pangeran berambut pink itu terlambat?
Jari-jari lentiknya bergerak mengetuk-ngetuk balkon dengan berirama, menjadikan musik sederhana itu sebagai penggiring senandung yang di bentuk dari suara indah putri itu.
Lucy kembali menopang dagunya, mendesah panjang. Menunggu pangeran berambut pink itu sukses membuatnya bosan berat. Segala cara telah dia lakukan untuk mengusir rasa kantuknya. Namun apa daya…
Sebenarnya bisa saja Lucy meminta Natsu untuk menceritakannya esok hari. Namun besok pagi Natsu sudah akan berangkat dan… ada yang menggangu pikirannya.
Menjelang akhir dari pesta pertunangan mereka, sikap Natsu semakin… aneh. Dia lebih banyak diam dan berusaha untuk menghindari pembicaraan. Lucy sempat melihat dia seperti.. bertengkar dengan teman-temannya.
Ayahnya juga sempat menariknya untuk bicara. Dan saat Natsu kembali, wajah cerianya berubah drastis, dari yang penuh senyum menjadi pendiam.
Dan itu yang sanggat di khawatirkan Lucy.
Lucy menggingit bibir bawahnya. Dia menyatukan kedua telapak tangannya seolah berdoa. Perubahan sikap Natsu kini menjadi pemikirannya. Tak biasanya Natsu seperti itu. Lucy tahu bahwa dia hanya bertemu Natsu selama 4 hari 5 malam (tanpa menghitung pertemuan pertama mereka yang terbilang cukup singkat) tapi dia tahu Natsu bukan tipe orang yang berubah mood-nya secepat itu.
Hanya ada satu alasan dari perubahan sifat Natsu…
Ada masalah yang tengah di hadapinya dan…
Itu merupakan masalah yang serius!
Lucy semakin mengeratkan ikatan tangannya. Sekarang dia benar-benar cemas. Tiba-tiba Lucy menyadari sesuatu.
Saat mereka berdua sedang di taman istana dua hari yang lalu, saat Lucy sedang mengamati mawar. Natsu –untuk pertama kalinya- terlihat diam memikirkan sesuatu. Tadinya Lucy hanya mengabaikannya, tapi bisa jadi itu menjadi kunci pemasalah dari Natsu.
Set
Lucy merasakan ada seseorang yang datang memeluknya dari belakang. Lucy sedikit terkejut dan sempat akan membentak orang itu, namun niatnya dia urungkan saat menyadari pemilik tangan besar yang melingkari pinggangnya, yang juga memproduksi rasa hangat yang hanya di miliki sesorang.
"Luce…"
Senyum merekah di bibir lembut putri Fiore ini. Senang akan kedatangan pangeran yang telah lama di tunggunya. Lucy segera membalikkan tubuhnya menghadap tunangannya.
"Nat-"
Belum selesai kalimat putri blonde Ini, pangeran pink itu kembali memeluknya. Seolah tak mengizinkannya untuk bicara. Di landa kebingungan, Lucy memutuskan akan membuka mulutnya meminta keterangan. Namun kembali dia tak bisa melakukannya.
"Aku minta maaf…"
Mata Lucy membesar mendengar tiga kata dari tunangannya.
"Natsu, apa maksudnya? Kau tak salah apa-apa!" Balas putri blonde itu melepaskan pelukan mereka dengan halus untuk melihat wajah pangeran Vermithrax.
Natsu sama sekali tak terlihat bahagia. Seperti orang yang telah kehilangan sesuatu. Mata onyx-nya memantulkan wajah bingung putri berambut blonde itu. Yang di sadari Lucy, mata tunangannya menggambarkan kesedihan yang sangat menusuk.
"Natsu…" Lucy mengelus lembut pipi tunangannya.
"Maaf Lucy…" Natsu balas mengelus pipi porselen milik Lucy.
"Aku harus meninggalkanmu…"
Fairy Tail © Hiro Mashima
A Fairy Tail Fanfiction
Eternal
By Nnatsuki
Warning : AU, Typo(s), OOC, Alur yang terlalu cepat, SAD chapter.
Chapter 7
.
Lucy mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Kantuknya telah dia lupakan dan kini dirinya tengah di landa bingung akan perkataan mendadak dari tunangannya.
"Natsu, apa maksudnya?" Tanyanya jujur.
Natsu menghembuskan nafas berat. Dia melepaskan tangannya dari pipi mulus putri Fiore itu. Mata onyxnya berpaling dari mata cokelat yang tengah bingung akan kalimat yang baru saja di katakannya.
"Seperti yang kukatakan Lucy... " Natsu menengadahkan kepalanya ke langit seolah menolak memandang mata indah milik tunangannya itu.
"Seharusnya aku tidak menunda-nunda untuk mengatakannya. Tapi setiap aku ingin mengatakannya padamu. Aku jadi mengurungkannya, selalu berpikir 'pasti ada saat yang tepat'. Tapi…" Natsu kembali menghadap Lucy.
"Kini waktuku sudah habis dan aku harus mengatakannya. Sebelumnya aku minta maaf padamu Lucy. Karena aku tak mengatakannya lebih cepat." Natsu kembali menghembuskan nafas berat sembelum melanjutkan.
"Aku harus meninggalkanmu."
Mata cokelat Lucy membesar saat kalimat itu kembali di ulang oleh Natsu. Dan dia yakin Natsu tidak main-main mengatakannya.
"Apa maksudnya, Natsu?! Kau akan pergi meninggalkanku karena ada putri lain yang-"
"Tak akan putri lain yang bisa menggantikan posisimu." Natsu memotong kalimat Lucy yang mulai emosi.
"Dan juga… bukan itu masalah yang membuatku harus meninggalkanmu."
"Jadi?" Tanya Lucy tak sabar.
Natsu merengkuh belakang kepala Lucy. Membuat Lucy kembali berada dalam pelukan pangeran berambut pink itu. Meski pikiran Lucy menjerit untuk mendorong Natsu menjauh namun hati kecilnya mengatakan untuk tetap menerima pelukan tunangannya, dan Lucy memilih untuk mengikuti hatinya.
"Aku akan mengikuti program wajib militer yang di wajibkan untuk para alumni Akademi Fairy Tail."
Lucy merasa kehilangan kemampuan panca indra setelah mendengarnya. Oh! Tidak!
"Tunggu! Maksudmu bukan…" Lucy langsung melepaskan pelukannya.
Natsu mengaguk masam, "Program wajib militer yang mengirimkan para alumninya untuk menjadi prajurit inti di medan perang yang tak kunjung damai."
Mata Lucy membulat sempurna, "Tapi program militer telah di berhentikan karena-"
"Jumlah korban jiwa yang terus meningkat." Tambah Natsu.
Lucy masih tak percaya akan pendengarannya. Dia tahu akan program militer itu. Itulah salah satu akibat mengapa beberapa kerajaan membatalkan niat mereka menyekolahkan putra mahkota mereka ke sekolah itu. Daftar korban jiwa atas program wajib militer sangatlah panjang.
"Program itu sudah di berhentikan! Jadi mana mungkin kau akan berangkat mengikutinya!" Bantah Lucy teguh pada pendiriannya.
Natsu menarik nafas sesaat. Dia tahu dia harus bersabar menjelaskannya kepada Lucy. Siapa yang tidak akan terkejut jika tiba-tiba tunanganmu mengatakan akan mengikuti wajib militer yang jika mengikutinya…
Sama saja dengan menggantung nyawa..?.
"Program itu sempat di berhentikan. Tapi kini di adakan kembali karena mengingat banyak raja-raja yang mendukung program itu dan salah satu dari raja itu adalah…" Natsu menghela nafas panjang lagi.
"Ayahku…"
Kini Lucy sudah tak bisa lagi berkata-kata. Wajahnya tertunduk hingga tak terlihat.
Natsu kembali menatap Lucy, "Ayahku salah satu orang yang pernah mengikuti program itu. Dan dia juga adalah salah satu orang yang beruntung dapat selamat. Karena itulah dia ingin aku juga mengikutinya seperti dia dan..."
"Tidak…"
"Lucy?"
"TIDAK!" Jerit Lucy. Air mata telah membanjiri pipi putihnya.
"Tidak! Kumohon Natsu! Aku tahu ini egois tapi kumohon!" Lucy bergerak maju menabrakan dirinya ke arah Natsu yang dengan sukses di tangkap oleh pangeran itu.
"Kumohon! Jangan ikuti program itu! Perang yang kau maksud pasti perang yang telah berkobar selama dua puluh tahun terakhir ini! Perang itu salah satu perang yang memakan korban terbanyak di dunia! Tak ada jaminan kau akan kembali dengan… selamat…" Tangis Lucy semakin manjadi-jadi.
"Bukan cuma perang yang akan kau hadapi! Kudengar salah satu penyebab para pangeran yang tewas karena mereka di bunuh oleh pembunuh bayaran! Banyak kerajaan lain yang mengincar peluang ini untuk membunuh putra mahkota saingan mereka!" Lucy semakin memperat pelukannya.
"Dan kau putra mahkota kerajaan Vermithrax! Banyak kerajaan yang iri akan kejayaan Vermithrax! Mereka pasti akan mengincar nyawamu dalam perang itu!" Lucy mengatur nafasnya yang teregah-engah dan tetap mempertahankan pelukannya.
"Tak ada jaminan kau akan selamat… "
Natsu tetap diam. Tak mencoba untuk membela diri. Karena dia tahu… semua yang di katakan Lucy…
Benar.
"Karena itu Natsu… kumohon ja-" Kalimat Lucy terpotong akan sesuatu mengunci bibirnya. Bibir Natsu.
Lucy berusaha untuk memberontak. Namun Natsu tidak mengizinkannya. Dia mengunci pergerakan Lucy dengan menaruh tangannya di pinggang Lucy. Lucy akhirnya mengalah dan larut dalamnya. Dia lingkarkan tangannya ke leher tunangannya.
Setelah beberapa menit mereka pun melepaskannya. Tangan Natsu berpindah dari pinggang Lucy menuju ke dua mata indah yang kini sembab akan air mata. Dengan gerakan halus Natsu menghapus aliran air mata yang telah menghujani pipi tunangannya.
"Aku tak akan menyangkal semua yang kau katakan. Kau benar. Nyawaku tidak terjamin selama menjalankan program ini." Ujar Natsu. Lucy kembali menguburkan kepalanya dalam-dalam ke dada Natsu. Berharap Natsu mau merubah pikirannya.
"Kau tahu Lucy…" Natsu membelai rambut pirang Lucy untuk menenangkannya.
"Sejak aku berumur delapan tahun, ayahku mulai mendidikku secara militer. Dan aku sangat menentangnya. Setiap aku mengadu kepada ibuku beliau akan bilang bahwa semua ini untuk kepentinganku di masa depan. Begitu juga dengan para petinggi kerajaan dan bangsawan lainnya. Mereka mendukung ayah… " Natsu kembali memperat pelukannya karena Lucy kembali menangis.
"Aku selalu membangkang. Tak pernah menganggap bahwa yang ayahku lakukan semuanya untukku. Aku lelah akan semua hal yang sangat menyusahkan itu. Dan suatu hari aku mencari jalan kabur ke kota…" Natsu menarik nafas sebelum kembali melanjutkan.
"Aku menyamar sebagai warga biasa. Pergi menemui anak-anak kota dan bermain bersama mereka. Tanpa memberitahu identitasku. Aku terus mengulanginya dan tak sekali pun aku tertangkap. Hingga suatu hari beberapa orang menyadari identitasku dan mereka menculikku…" Natsu tersenyum masam mengingat kenangan pahitnya di masa lalu.
"Mereka menyandraku dan berniat meminta tebusan kepada ayah. Tapi aku berhasil lolos sebelum mereka mengumumkannya ke ayah. Namun pada akhirnya ayah mengetahuinya. Ayahku marah besar karena aku tidak mematuhi peraturannya. Aku dihukum dengan di kurung di menara timur selama dua hari…." Natsu memejamkan matanya, menghayati cerita masa lalunya.
"Aku sama sekali tak merasa menyesal. Justru aku merasa ayahku telah berlaku tak adil padaku dan akhirnya aku memutuskan… " Natsu menghela nafas panjang.
"Untuk kabur dari istana…"
Mata cokelat Lucy membulat sesaat mendengarnya.
"Beberapa hari setelah aku di bebaskan, Aku memulai rencanaku, aku menyelinap keluar istana lewat halaman belakang dan menemui teman-teman sepermainanku. Saat itu aku telah bertekat untuk tidak akan pulang. Tapi… entah kenapa saat langit mulai gelap, kakiku justru melangkah menuju halaman belakang istana. Saat aku berniat memutar balik kembali ke kota. Saat itulah…" Natsu tersenyum lembut.
"Aku melihatmu yang meminta bantuan akan kereta yang kau naiki hilang kendali."
Isakan Lucy seketika berhenti. Dia mendongakkan kepalanya untuk menatap mata onyx milik pangeran berambut pink itu.
"Dan seterusnya, sesuai yang kau ingat.." Senyum Natsu semakin lembut. Dia kembali mengelus pipi kanan Lucy dengan tangan besarnya.
"Kaulah yang mengubahku Lucy… mungkin jika aku tak menolongmu aku tak akan pernah bisa berubah. Aku kagum akan kerendahan hatimu. Kau putri pertama yang pernah bilang merasa bosan di dalam istana. Aku berani bersumpah tak akan ada putri sepertimu yang pernah kabur keluar istana." Natsu terkekeh pelan saat melihat semburat tipis nampak di kedua pipi porselen milik Lucy.
"Ayahku pernah bilang, bahwa akan datang suatu hari di mana aku akan bertemu dengan seorang gadis yang tak akan pernah aku lupakan. Dan itu berarti gadis itulah yang akan menjadi… pendamping hidupku…." Natsu merengkuh wajah Lucy dan mencium keningnya.
"Awalnya aku hanya menganggapnya dongeng murahan tapi apa yang beliau katakana terbukti…saat aku pertama kali bertemu denganmu… Dan aku percaya kaulah gadis itu, Lucy… " Mata Lucy cokelat berbinar. Semburat merahnya semakin menebal akan pengkuan dari Natsu.
"Saat aku pertama kali bertemu denganmu. Hatiku menyuarakan bahwa aku harus melindungimu, menyayangimu dan selalu berada di sisimu. Dan semenjak itulah aku bertekat akan kembali bertemu denganmu dengan diriku jauh lebih baik. Aku berubah." Air mata Lucy kembali mengalir.
"Karena itulah… aku berani berjanji aku akan kembali kepadamu." Natsu mengakhiri pidato akan masa lalunya. Hening seketika. Lucy masih berusaha untuk membentuk kata-kata di sela-sela isakannya. Natsu sendiri tak memaksa Lucy dan menunggu.
"Tapi…" Akhirnya Lucy membuka suara.
"But if you truly love me, you won't leave me alone!" Lucy menatap serius mata Natsu. Dia masih mempertahankan tekatnya.
"Apa saja bisa terjadi Natsu! Kita tak tahu takdir apa yang menunggu kita! Tidak semua bisa sejalan yang kita inginkan!" Bela Lucy. Natsu menghembuskan nafas panjang. Mau tak mau dia harus mengakui apa yang di katakan tunangannya sangatlah benar.
"Memang benar kita tak akan bisa menolak takdir! Tapi…" Natsu menaruh tangannya di kedua pundak Lucy.
"Kita, manusia juga di haruskan untuk berusaha merubahnya. Sekalipun nanti aku akan terdesak dengan hal yang paling terburuk. Aku akan berusaha untuk mendapatkan yang terbaik." Jawab Natsu mantap.
"Dan juga aku melakukan ini bukan hanya untuk mendapatkan pengakuan agar bisa melanjutkan tahta! Tapi juga untukmu!" Ujar Natsu tegas.
"Jika aku berhasil, maka aku juga akan di akui sudah mampu untuk membangun keluarga bersamamu. Dengannya impianku akan terwujud! Bisa mewariskan tahta ayahku sekaligus membuat orang tuaku bangga keluargaku dan negaraku dan yang paling penting, aku bisa menikah denganmu tanpa ada hambatan. Dan dengan kepergianku sebagai prajurit inti mungkin aku juga akan bisa menyelamatkan satu dua nyawa. Semua ada keuntungannya, Lucy." Jelas Natsu.
Lucy kembali menundukkan kepalanya. Dia mulai mengerti akan tekad Natsu. Dia juga setuju dengan pendapat tunangannya. Tapi masih ada sesuatu yang menganjal di hatinya.
Natsu yang menangkap itu, menaruh tangannya di dagu Lucy seolah meminta Lucy untuk menaikkan kepalanya.
"Lucy…." Natsu menatap serius tunangannya.
"I, Natsu Dragneel, will always love you, Lucy Heartfilia, for the rest of my life. "
Natsu kembali menghapus air mata Lucy. Senyum lembut kembali mengembang di bibir pangeran itu.
"Kau tidak sendirian, Luce.. Ada keluargamu dan keluargaku yang senantiasa menjagamu. Dan jangan lupakan teman-temanmu! Aku sudah menepati janji yang kita buat sepuluh tahun yang lalu. Aku pastikan kali ini juga akan kutepati!"
Lucy tersentak akan mengingat sesuatu, "Be-berapa lama kau akan di sana…?"
"Kira-kira…. Satu tahun…"
Lucy menarik nafas panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan, untuk menenangkan dirinya.
"Baiklah Natsu. Aku mendukungmu."
Natsu langsung memberikan grins terbaiknya, "Terima kasih, Luce."
Lucy tersenyum kecil. Melihatnya cengiran Natsu langsung menghilang.
'Sepertinya Lucy masih belum menerima sepenuhnya… ' Pikir pangeran itu.
Di saat Natsu tengah melarutkan dirinya dalam pikirannya. Jari kelingking Lucy terulur ke arahnya.
"Berjanjilah… kau akan kembali kepadaku dengan selamat… " Pinta Lucy dengan wajah berharap.
Natsu tersenyum lembut mendengarnya. Dia menyambut kelingking mungil tunangannya dengan mengaitkannya dengan jari besarnya.
"Pinky promise?"
"Pinky promise!"
Mereka melepaskan ikatan kelingking mereka. Masing-masing saling mendekati satu sama lain hingga bibir mereka kembali bersatu.
Lucylah yang pertama melepaskannya. Lalu dia memeluk lembut pangerannya.
"Bo-bolehkah… untuk se-sementara…?" Pinta Lucy dengan suara bergetar.
Natsu membelai lembut rambut pirang indah milik tunangannya itu, "Tentu Lucy… lakukan sesukamu…"
Setelah mendapat izin. Lucy kembali menumpahkan semua emosinya dalam tangisan diamnya. Natsu sama sekali tak berkomentar apapun. Dia hanya membelai lembut rambut Lucy.
Lucy sangat mengerti. Namun… tetap saja baginya ini cukup berat untuk melepaskan Natsu.
Namun inilah… ujian bagi mereka yang harus dia tuntaskan.
Meskipun itu sangat berat…
-000XXX000-
Kini malam di gantikan pagi. Sinar matahari yang masuk ke kamar Lucy dan menyinari seluruh ruang kamar megah milik putri blonde itu membuat putri Fiore mau tak mau bangun untuk menemui hari yang tidak ingin di jumpainya.
Hari kepulangan Natsu.
Lucy ingin sekali menarik selimutnya untuk kembali melanjutkan tidurnya. Namun… dia tak di izinkan akan sebuah ketukan pintu dari luar.
"Masuk…." Ucap Lucy pelan.
Pintu terbuka dan masuklah pangeran berambut pink yang telah memakai pakaian lengkap berjalan ke arah putri blonde yang langsung menyelimuti dirinya begitu melihat sosok tunangannyalah yang memasuki kamarnya.
Setelah sampai di sekattempat tidur tunangannya, Natsu langsung menduduki tempat tidur itu, Menatap intens sosok yang berselimut itu.
"Luce…" Panggil Nasu lembut sembari berusaha menarik pelan selimut Lucy.
Lucy sama sekali tak menurut, tetap pada keteguhannya, pengangan akan selimut itu agar tidak jatuh dia kencangkan.
"Lucy! Ayolah!" Natsu akhirnya berdiri dan menarik selimut itu dengan lebih keras hingga selimut itu tak lagi menyelimuti Lucy.
Walau pertahannya telah di runtuhkan, Lucy tetap menolak bicara pada Natsu. Dia langsung berbalik menghindari tunangannya.
"Lucy… kumohon… " Natsu mulai khawatir dan segera menaiki tempat tidur Lucy. Natsu hendak menaruh tangannya di bahu Lucy saat dia menyadari ada sesuatu di pipi putri Fiore itu.
Basah…
Natsu langsung menghambur memeluk Lucy dari belakang begitu menyadari air mata telah membasahi pipi tunangannya.
"Lucy… kumohon jangan menangis… aku benci melihat air matamu dan jauh membencinya jika akulah penyebabnya… " Pinta Natsu.
Lucy berbalik memeluk Natsu, dia kembali menangis dalam pelukan tunangannya. Natsu hanya bisa menghela nafas panjang. Dia tahu dia tak berhak menyalahkan Lucy.
"It's not fair!"
"I know, Luce… I know…"
-0000XXX000-
Layla dan Grandine saling bertukar pandang khawatir. Putra dan putri mereka belum menampakan diri di ruang makan. Kedua ibu ini lalu menoleh ke arah suami mereka masing-masing. Suami mereka yang menyadarinya hanya menjawab dengan gelengan pelan. Mereka tahu apa masalahnya pangeran Vermithrax dan putri Fiore itu belum tiba.
"Pelayan! Tolong panggilkan Natsu dan Lucy agar segera ke ruang makan!" Perintah Jude kepada salah satu pelayan.
"Baik, tuan!"
Pelayan yang di beri perintah bergegas menuju ke pintu ruang makan. Semua pemilik mata yang di ruang makan itu mengikuti arah pelayan itu. Saat pelayan itu hendak memegang gagang pintu yang besar itu, pintu itu terlebih dulu terbuka oleh orang dari luar.
Nampaklah seorang pelayan yang membuka pintu itu. Setelah pintu itu terbuka cukup lebar, pelayan pembuka pintu itu segera mundur dari pintu ruang makan itu untuk mempersilakan orang lain masuk.
Dan yang memasuki ruang makan itu adalah sedua orang yang hendak di panggil tadi.
Grandine dan Layla menghela nafas lega melihat pasangan itu telah tiba. Namun itu taklah lama ketika para orang tua itu melihat ekspresi putra putri mereka.
Natsu, yang biasanya selalu menunjukkan grinsnya kini ekdpresinya datar. Seperti tak ada semangat untuk hari ini.
Lucy, wajahnya tak terlalu terlihat karena dia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tapi dua orang tua ini tak bisa di tipu. Mereka yakin Lucy tengah menyembunyikan mata sembabnya. Lucy terus merangkul erat lengan Natsu seolah tak ingin pangeran berambut pink itu meninggalkannya sedetik pun.
Mereka berdua mendatangi meja makan yang biasanya terdapat percakapan kecil antar orang tua mereka kini menjadi sunyi.
Semua orang yang berada di ruang makan itu tak ada yang berani memecahkan keheningan itu. Hingga Igneel berdehem keras untuk mendapatkan perhatian.
"Kita bisa mulai." Ucapnya singkat seraya memberi isyarat untuk para pelayan segera menyiapkan makanannya.
Tak lama kemudian mereka semua yang menempati meja makan itu makan dan –kembali- dengan keheningan di antara mereka.
Semua orang sering mencuri pandang pada pasangan muda yang makan denagn diam seolah tak tahu ada beberapa pasang mata yang meneliti gerak-gerik mereka.
"Setelah sarapan ini… " Grandine memecahkan keheningan, "bersiaplah karena kita akan berangkat ke pelabuhan."
Detik itu juga Natsu dan Lucy menghentikan makan mereka. Mata Natsu terbelalak seakan tak percaya akan kalimat yang baru saja di ucapkan ibunya. Bad timing…
Melihatnya Grandine merasa bersalah, tujuan utamanya hanya untuk mencairkan suasana bukan untuk memperparah.
Natsu hanya menganguk singkat sebelum kambali melanjutkan sarapannya. Lucy kembali menundukkan kepalanya dan mendorong pelan mangkuk buburnya, tak berniat untuk kembali makan.
Grandine yang semakin merasa bersalah menoleh ke arah suaminya. Igneel hanya menggeleng pelan, mengisyaratkan untuk tetap diam.
Begitulah hingga mereka selesai makan. Hanya ada dentingan alat makan dan pelayan yang membawakan piring-piring baru atau mengangkat piring yang telah selesai di pakai.
-000XXX000-
Natsu memijat-mijat dahinya. Di dalam hatinya dia terus mengutuk akan motion sickness yang di dapatkannya dari ayahnya. Memang setelah meminum obat anti motion sickness yang di berikan ibunya rasa mualnya agak berkurang, namun rasa pusing seolah memuku-mukul kepalanya ini tak hilang.
Natsu hanya bisa menghela nafas pasrah. Perjalan menuju ke pelabuhan terasa sangat menyiksa. Seingatnya ibunya bilang bahwa dari istana Fiore sampai ke pelabuhan hanya memakan waktu sekitar dua jam. Namun baginya waktu telah bergulir selama enam jam…
Natsu menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Rasa mualnya mendadak muncul. Dan itu bukanlah hal yang bagus.
Kenapa mereka harus mengunakan kereta kuda untuk ke pelabuhan? Natsu tahu ini pertanyaan bodoh. Tapi dia lebih memilih berjalan kaki daripada tersiksa seperti ini.
Dan juga, dia tak sampai hati untuk membangunkan Lucy yang tengah tertidur dengan bahunya sebagai bantal.
Natsu mendesah lega saat rasa mualnya yang -entah kenapa- hilang.
Mata onyxnya melirik ke arah tunangannya. Tangan kanannya meraih tangan kiri putri blonde yang mungil itu dan menggenggamnya.
Tangan kirinya menyibakkan beberapa helai rambut pirang yang menutupi wajah cantik putri Fiore itu. Senyum terpoles di wajah Natsu, pemandangan terindah sebelum dia pulang.
Seketika senyum Natsu menghilang. Dia melepaskan genggaman tangannya. Dia gunakan tangan kanannya untuk memeluk tubuh mungil Lucy mendekat ke arahnya. Sebentar lagi dia akan kembali ke negaranya. Dan itu berarti..
Dia baru akan bertemu dengan Lucy satu tahun lagi…
Natsu menghela nafas berat. Dia semakin merasa bersalah harus meninggalkan tunangannya. Dia senang Lucy mendukungnya.
Tapi jelas Lucy belum sepenuhnya melerakannya untuk pergi…
-000XXX000-
Suara kapal terdengar di mana-mana. Mulai dari kapal pengangkut barang hingga kapal penumpang. Tapi bagi keluarga kerajaan, mereka memiliki pelabuhan kapal tersendiri yang terpisah dari pelabuhan utama.
Natsu melangkahkan kakinya keluar kereta. Dia berbalik membantu Lucy untuk keluar. Kereta mereka berdua tiba terakhir. Dua keluarga kerajaan ini terpisah dengan tiga kereta. Kereta pertama untuk Igneel, Grandine, dan Wendy. Kereta kedua untuk Jude dan Layla. Kereta ketiga untuk Nasu dan Lucy.
Natsu dan Lucy sengaja di satukan di kereta yang sama oleh orang tua mereka. Setidaknya mereka memiliki waktu sesaat untuk bersama.
Namun sayang mereka tidak menggunakan waktu singkat itu di kereta. Itu karena akan motion sickness Natsu yang menghalanginya untuk bicara.
Lucy telah turun dari kereta. Dia langsung menangkap lengan kiri Natsu dan memeluknya kuat.
Natsu tahu apa artinya. Lucy tak ingin dia pulang...
Kalau bisa memilih Natsu pasti akan tinggal di Fiore lebih lama. Tapi sayangnya di Vermithrax tugasnya juga tidaklah sedikit.
"Natsu… " Suara indah tunangannya yang sangatlah pelan tertangkap telinga Natsu.
"Ya Luce…?"
"Kapan kau akan berangkat menjalani program itu…?"
Natsu mengaruk belakang kepalanya, "Kira-kira dua bulan lagi, tapi…" Natsu menghela nafas sebelum melanjutkan.
"Selama dua bulan ini, aku harus mengikuti pelatihan terakhir di akademi. Kami hanya di beri waktu sekitar seminggu untuk pulang ke rumah dan selanjutnya… langsung berangkat… "
Lucy menganguk kecil. Sesuai dugaannya, bisa jadi ini hari terakhirnya dia akan bertemu Natsu.
"Bisakah… kau membalas suratku ketika sedang…. " Lucy memutus kalimatnya, tak kuat untuk mengucapkan 'berada di medan perang'. Namun itu sudah cukup untuk Natsu mengerti pertanyaanya.
"Kudengar kami di beri waktu istirahat sehari setiap dua bulan sekali. Mungkin saat itu aku bisa membalasnya…. " Jawab Natsu.
Lucy mengangkat kepalanya. Untuk pertama kalinya di hari ini, dia tersenyum.
"Teruslah ingat ada aku yang menunggumu… "
Natsu terkekeh pelan, "Mana mungkin aku melupakan tunanganku!" Jawabnya pelan sembari mengecup dahi Lucy.
"Natsu-nii! Lucy-nee!" Suara manis Wendy menarik perhatian pasanagn itu.
"Ayah bilang agar kalian lebih cepat, karena… " Wendy tak tega melanjutkan kalimatnya.
"Kapalnya telah tiba…. "
Baik Natsu dan Lucy terdiam mendengarnya.
"Ah! Anu.. itu-"
"Taka pa, Wendy. Katakana pada ayah kami segera menyusul." Jawab Natsu.
Wendy menganguk dan meninggalkan mereka berdua.
Lucy menoleh ke arah Natsu. Natsu menoleh pula ke arah Lucy.
Mereka berdua sama-sama ingin mengatakan sesuatu. Tapi…
Tiba-tiba terdengar suara keras yang menunjukkan ada sebuah kapal yang telah tiba.
"Kita harus segera ke sana… "Gumam Natsu.
"Ya… " Balas Lucy pelan.
Mereka berjalan beririnagn menuju tempat kapal telah berlabuh. Mereka berdua sama-sama memeluk pinggang satu sama lain.
Terlihatlah sebuah kapal besar yang telah berlabuh. Kapal dengan bendera Vermithrax yang berkibar di depannya. Mengartikan bahwa kapal itu akan melintasi Fiore dengan damai dan memilik hak.
"Sampai jumpa lagi, Jude! Terima kasih atas kebaikanmu selama ini!" Pamit Igneel sembari menjabat tangan Jude.
"Bukan apa-apa! Jaga dirimu dan keluarga!" Balas Jude ramah.
"Layla! Aku akan merindukanmu! Jaga dirimu! Aku harap kita bisa bertemu lagi!" Isak Grandine sambil memeluk Layla erat.
"Kamu juga Grandine! Datanglah lagi jika ada kesempatan!" Balas Layla.
"Bibi Layla! Terima kasih atas segalanya dan maaf merepotkanmu." Pamit Wendy malu-malu.
"Ah Wendy! Kedatanganmu sama sekali tak merepotkan! Justru aku senang!" Jawab Layla sembari mencium pipi mungil putri Vermithrax itu yang sudah di anggapnya sebagai putri kandungnya.
"Jaga dirimu Wendy!" Tambah Jude seraya membelai rambut biru tua Wendy.
"Paman juga!" Balas Wendy dengan senyuman manisnya.
"Natsu? Kau juga harus pa-" Grandine mengedarkan pandangannya untuk mencari putra pertamanya. Namun apa yang di dapatinya membuatnya tak bisa melanjutkan.
Lucy kini kembali menangis dalam dekapan Natsu. Terus berbisik dalam isakannya.
"Jangan pergi…. "
Natsu telah kehabisan kata-kata untuk membalasnya. Yang bisa di lakukannya hanyalah membelai rambut halus tunangannya dan mengencangkan pelukannya.
Igneel menepuk bahu Jude, "Kami akan naik ke kapal lebih dulu. Biarkan mereka sebentar… "
Jude menganguk setuju. Dia dan Layla melambaikan tangan mereka kepada keluarga Dragneel yang mulai menaiki kapal.
Sedangkan Natsu dan Lucy…
"Lucy… "
"Kenapa? Kenapa harus sekarang kau pergi?!"
"Lucy.."
"Dan juga seharusnya-"
Kembali kalimat Lucy terhenti akan serangan dadakan Natsu.
Dia tak bisa menolak ciuman itu. Karena mungkin inilah ciuman mereka yang terakhir. Hingga satu tahun kemudian…
"Kita bukanlah berpisah untuk selamanya! Dan aku tidaklah pergi untuk selamanya! Jadi… " Natsu kembali menciumnya.
"Tunggulah aku! Aku berjanji akan kembali!"
Lucy menghapus air matanya. Tepat saat itu Jude dan Layla mendatangi mereka.
"Natsu… kapal kalian akan segera berangkat. Segeralah naik." Kata Jude.
Natsu mengaguk lalu mendekati Jude, "Terima kasih paman! Maaf aku telah merepotkanmu!" Pamit Natsu seraya menjabat tangan Jude.
"Tak masalah, nak! Dan ingat! Aku ayah keduamu!" Balas Jude sambil tersenyum.
Natsu juga membalasnya dengan senyuman. Dia lalu menghadap Layla.
"Bu. Maaf aku telah merepotkanmu! Jaga dirimu!" Layla menganguk sambil menghadiahkan kecupan kecil pada putra sahabatnya yang juga di anggapnya sebagai putra kandungnya.
"Kamu juga Natsu! Semoga berhasil!" Natsu tersenyum akan jawaban Lalya.
"Dan… tolong jaga Lucy… " Tambah Natsu.
Jude dan Layla tersenyum lembut sebelum mangaguk mengiyakan.
Natsu berbalik ke arah Lucy yang ada di belakangnya.
"Lucy… " Untuk terakhir kali Natsu memeluknya.
"Jaga dirimu!" ucapnya dan mencium dahi Lucy.
"Kau juga Natsu… " Jawab Lucy pelan.
Natsu tersenyum. Dia melepaskan pelukannya. Kemudian dia berjalan ke arah kapal yang akan segera belayar.
Natsu berusaha untuk tidak menoleh ke belakang. Dia tak ingin berpisah dari Lucy dengan cara seperti itu. Tapi apa daya baginya.
Grep!
Langkahnya terhenti saat seseorang memeluknya dari belakang. Baru Natsu akan menoleh ke belakang…
"I will be right here waiting for you, Natsu… "
Natsu tepaku di tempatnya. Dia tak perlu menoleh untuk tahu. Suara itu… sudah merupakan petunjuk jelas baginya.
Orang yang memeluknya melepaskan pelukannya. Natsu mendengar suara langkah yang berlari meninggalkannya dan…
Suara tangisan.
"I'm sorry, Lucy… "
~To Be Continue~
….
Akhirnya kok begini…?
Hiks… Nana merasa bersalah membuat Natsu jadi begini…. :"(
Jadi…. Bisa di bilang dulu pas Natsu belum ketemu Lucy dia itu… nggak bahagia…
Pas ketemu Lucy, dia langsung berubah! Dari yang dulu hobi membangkang jadi nurut!
Jadi… tebakan readers nggak bener! Natsu nggak meninggalkan Lucy karena itu!
Tapi… kenapa pas chappy sedih Nana cepet buatnya..?
Moshimo toki ga tomaru nara (If time happens to stop,)
Ore wa zutto matteiru yo(I'll always be waiting)
Futari no kiesouna yakusoku wa(A promise that almost vanishes between us is)
Inilah lagu yg menemai Nana slama pembuatan chappy 7….
Miris banget.. pas sama ceritanya..
Walau lagu dan ceritanya beda tema. Tapi pas bagian yang di atas…
Bener-bener deh.. pas banget judulnya… Crazy Love…
Untuk chappy 8…. Nana akan menceritakan tentang…
Yah… liat aja deh…
Jangan lupa meninggalkan sebuah review~
Satu pertanyaan? Ini chppy buat kalian nangis? Kalo iya, beri tahu Nana yy..?
Ohya! Selamat hari laya Idul Fitri! Mohon maaf lahir dan batin!
Matta ne~
