Without Words

Chapter 7

Author : 나무 데수

Pairing : ChanBaek (Chanyeol x Baekhyun) and KrisBaek (Kris x Baekhyun)

Summary : Bagaimana jika adik ipar Baekhyun sendiri yang membuatnya menderita? Hanya karena keterbelakangan yang dialaminya, adiknya menyiksanya secara mental, fisik dan seksual. Demi mewujudkan keinginan konyolnya. *summary gagal*#isi tidak sejelek summary(?) percayalah(?) / ChanBaek-KrisBaek love story *complicated but sweet inside* BL/YAOI, OOC, RAPE, M-PREG etc.

Rate : M

Genre : Romance

Disclaimer : every cast in this story belongs to GOD, and themselves. But this story is MINE!

Warning : BOYS LOVE. TYPO(s), OOC, RAPE SCENE, M-PREG(?), NO CHILDREN, NO PLAGIAT! and NO SIDERS PLEASE :)

NO FLAME! NO BASH! WON'T TO READ? LEAVE IT!

-o-o-o-o-o-o-o-

Preview Story:

'Baiklah hyung. Aku akan membalas semua yang telah aku perbuat!'

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 7- Without Words

Happy Reading


BRUK

Chanyeol mendudukkan dirinya di atas kasur. Ia baru pulang dari upacara pemakaman kakaknya. Entah keputusannya untuk kembali ke rumahnya adalah keputusan yang benar atau tidak. Yang jelas ia begitu merindukan sosok Kris teramat sangat. Terbukti dari matanya yang masih menatap kosong ke bawah. Ingin menangis.

"Bodoh! Puas kau?! Kakakmu meninggal karenamu bodoh!" tidak ada hentinya ia merutuki dirinya sendiri. Merasa dirinyalah penyebab utama kematian kakaknya. Tidak termaafkan.

Ia pun kembali menangis. Sama sekali tidak malu bahwa ia adalah laki-laki yang harusnya kuat. Ia hanya ingin waktu kembali ke masa lalu. Ia akan tebus semua dosanya. Ia akan menuruti semua kata-kata kakaknya. Ia akan menerima kakak iparnya seperti yang diminta. Tapi terlambat. Ia bahkan tidak tahu Baekhyun ada dimana. Ia bahkan tidak bisa menjamin Baekhyun masih hidup. Ingin rasanya ia mencari Baekhyun dan mengatakan bahwa Kris sudah meninggal. Setidaknya dengan begitu rasa bersalahnya bisa sedikit berkurang. Tapi sayangnya, tidak bisa.

Lama ia berlarut dalam kesedihan, ia mulai berdiri dari duduknya. Matanya tampak merah karena terlalu lama menangis. Ia pun berjalan entah kemana. Tapi kakinya melangkah untuk masuk ke kamar kakaknya.

KRIEET~

Dibukanya pintu kamar yang sunyi itu.

Drap..

Drap..

Drap..

Ia berjalan terhuyung. Ia ingat benar kamar ini. Kamar di mana ia selalu menyiksa dan memperkosa 'istri' kakaknya. Bahkan di atas tempat tidur terdapat foto pernikahan kakaknya yang terlihat begitu indah. Pasangan yang serasi. Kakaknya tampan, dan ya… Baekhyun yang memang cantik seperti perempuan. Bahkan lebih. Oh dan juga, Chanyeol dapat melihat foto keluarganya. Dan juga fotonya seorang.

"Kenapa kau masih menyimpan fotoku hyung?" ucapnya serak menahan isakan.

Perlahan ia dudukkan dirinya di atas kasur bersprei satin hitam itu. Mencoba merasakan kehadiran kakaknya.

"AARRRGGHH!"

Chanyeol berteriak frustasi. Melempar bantal ke sembarang arah. Mencoba melampiaskan amarahnya. Sampai tidak lama kemudian ia mengernyit.

"Buku?! Kenapa ada buku di bawah bantal?"

Chanyeol yang keheranan itu pun mengambil buku kecil yang ia maksud. Buku itu kecil berwarna cokelat terang sangat sederhana. Dibukanya perlahan buku itu dan ia kembali mengernyit.

BYUN BAEKHYUN

"Kenapa dia menyimpan buku seperti ini di bawah bantal?!"

Didorong rasa penasarannya, Chanyeol kembali membuka lembaran selanjutnya.

1st December 2013…

Aku pikir dalam hidupku aku selamanya akan menjadi yang kesepian…

Tapi sepertinya Tuhan berkehendak lain.

Kris. Teman kuliahku dulu, dia melamarku. Dan akan segera menikahiku~

"Apa ini?!"

Sret..

4th December 2013…

Aku sudah bertemu dengan adiknya. Namanya Chanyeol!

Dia manis dan tampan. Sama seperti suamiku.

Aku senang! Akhirnya aku mempunyai adik! Aku tidak akan kesepian lagi! Terimakasih Tuhan~

Sret..

7th December 2013..

Sepertinya adik iparku sangat membenciku. Apa salahku? Apa karena aku bisu?

Ah ya Tuhan, aku tidak pernah menyesal kau tidak memberiku suara.

Aku hanya sedih membuat oranglain sedih..

Akan kucoba sebisa mungkin membuat Chanyeol senang~

"Ap-apa apaan ini?!"

Sret…

6th February 2014..

Aku tahu hari ini pasti akan terjadi.

Kris akan pergi ke luar kota. Ia menghawatirkanku.

Meskipun aku agak sedikit takut dengan Chanyeol.. tapi aku akan mencobanya.

Bagaimana pun juga dia adik iparku yang harus aku sayangi.

Sret…

7th February 2014...

Aku kotor.. aku.. Chanyeol.. kenapa kau jahat sekali? Padahal aku menyayangimu.

Ya Tuhan, aku harus bagaimana?

Suamiku.. maafkan aku.

DEG

Air mata Chanyeol mulai menggenang.

21st February 2014..

Aku tidak tahan lagi ya Tuhan!

Tubuhku sakit semuanya.. Chanyeol… dia begitu membenciku.

Aku tidak mau menceraikan Kris. Aku begitu mencintainya.

Apa aku salah untuk mencintai seseorang?

Aku harus bagaimana?

Kris, cepatlah pulang. Kumohon. Aku tidak kuat lagi.

"Ya Tuhan! Baekhyun.."

Sret

1st March 2014..

Tuhan terimakasih! Suamiku pulang! aku aman! Aku senang!

Aku harap ia tidak akan meninggalkanku lagi.

Aku takut jika harus bersama Chanyeol sendirian. Ia membenciku.

Sret..

2nd March 2014..

Chanyeol jeongmal mianhae. Aku tidak bermaksud mengadu.

Ku harap Tuhan melindungimu, adikku.

Perlahan air mata Chanyeol mulai menetes. Jadi selama ini Baekhyun begitu menyayanginya?

Sret

9th June 2014..

Mungkin ini mimpi buruk lagi!

Kris akan ke Jepang. Dan aku sendirian.

Aku tidak mau bertemu Chanyeol lagi. Aku takut.

Chanyeol pasti masih sangat membenciku.

Ya Tuhan.. ku mohon lindungi aku.

Aku hanya ingin hidup bahagia dengan suami dan adik iparku.

Aku harap Chanyeol sudah berubah.

사랑해요 내남편, 사랑해요 내동생이,우찬열

BUK

"Aku tidak tahan lagi! Ya Tuhan! bunuh saja aku!"

Chanyeol menangis sejadi-jadinya. Buku diary Baekhyun sungguh membuatnya semakin merasa bersalah dan begitu jahat. Kemana saja hatinya selama ini?! kenapa ia sampai tidak menyadari bahwa Baekhyun sangat menyayanginya?! Ia hanya bisu. Tapi kenapa selama ini ia begitu membencinya?

"Baekhyun hyung.. mianhae. Jeongmal."

Ingatannya kembali terputar saat di mana ia memperkosa tubuh mungil yang tidak bersalah itu. Mengingat kembali betapa kejamnya ia saat menyiksanya. Mencaci maki dirinya. Membuatnya menangis setiap hari. Ah ya Tuhan! Betapa bodohnya Chanyeol!

"Aku harus mencarinya sekarang! Sekarang juga!"

Dengan gusar Chanyeol menghapus air matanya. Emosinya memuncak. Ia sungguh-sungguh ingin memukul dirinya sendiri. Merasa menjadi orang yang paling bodoh dan kejam di dunia.

-o-o-o-o-o-o-o-o-o-

"Apa?! Tuan Kris meninggal semalam? Kenapa bisa Pak?"

"…."

"Ah Ya Tuhan!"

"…."

"Iya.. iya Pak. Saya tidak mungkin menyampaikan berita ini padanya."

"…."

"Iya, terimakasih informasinya pak."

PIK

Kyungsoo menutup teleponnya. Tidak percaya kalau Kris sudah meninggal. Padahal baru sekali ia melihatnya, tapi secepat itu Kris harus meninggal. Baekhyun bahkan belum sempat mengingatnya. Kasihan.

"Aku tidak mungkin memberi tahunya sekarang. Yang adanya, dia justru semakin tertekan."

Kyungsoo menghembuskan nafasnya berat. Kemudian kakinya berjalan menuju kamar Baekhyun. Menjenguk keadaannya yang ternyata semakin memburuk. Ia juga tidak habis pikir kenapa Baekhyun bisa melupakan 'suaminya' sendiri. Sebegitu jahatkah sosok Chanyeol hingga membuatnya seburuk ini?

KRIET~

Dibukanya pintu kamar itu pelan pelan. Dilihatnya Baekhyun yang sedang melamun. matanya sembab.

"Annyeong." Sapa Kyungsoo lembut. Bermaksud membuyarkan lamunan Baekhyun.

"Kau sedang apa?" tanyanya sambil duduk di sebelah Baekhyun. Menatapnya dengan tatapan hangat. Begitu merasa kasihan.

Baekhyun menggeleng.

"Kenapa makananmu belum dimakan? Ini sudah saatnya makan siang Baekhyun-ssi." Tanya Kyungsoo sambil melihat piring berisi makanan utuh di samping Baekhyun.

Aku tidak lapar

Kyungsoo menghembuskan nafasnya. Sambil tersenyum, ia kemudian mengambil piring makanan itu.

"Kau harus makan. Kasihan bayimu nanti kelaparan."

Baekhyun menepis tangan Kyungsoo saat hendak menyuapinya.

Kembali ia menatap kosong ke depan. Matanya berkaca-kaca. Membuat Kyungsoo mengernyit.

Semalam, aku bermimpi Kris datang dan memelukku.

DEG

Ia bilang ingin membesarkan bayiku. Tapi aku tidak tahu aku sedang ada di mana. Padahal aku ingin memeluknya.

Air mata Baekhyun mulai menetes. Dan Kyungsoo pun merasa terenyuh.

'Tidak Baekhyun, suamimu memang semalam datang kemari! Memohon padaku agar bertemu denganmu! Tapi kau malah ketakutan. Dan sekarang.. suamimu sudah meninggal.'

"Hhh.. sudah jangan menangis lagi."

Kyungsoo menyeka air mata Baekhyun.

"Suatu saat dia pasti akan datang, memelukmu dan membawamu pulang. Tapi tidak sekarang."

'dan kuharap saat itu kau sudah sembuh.' Imbuhnya dalam hati.

Tidak dihiraukannya kata-kata Kyungsoo. Baekhyun terus melamun, melamun dan melamun. berharap ingatan sehatnya kembali. Lepas dari ini semua.

.

.

.

.

.

.

.

"Eeehh~ Akh! Eehhh! Hikss hikss"

"Diam bodoh! Aaahh~ ougghh~ hyungghh~"

"Hikss.. hiks.. eehhh!"

PLAAAKK!

"ANDWAE! Hhh.. hh.. astaga ya Tuhan!"

Chanyeol terbangun dari tidurnya. Nafasnya terengah. Dahinya berkeringat. Ia baru saja mimpi buruk. Bermimpi tentang Baekhyun.

Matanya tampak sayu kelelahan. Ia baru pulang mencari Baekhyun yang kenyataannya belum ketemu. Baru sebentar ia tidur, tapi ia langsung bermimpi buruk.

"Ah ya Tuhan! Baekhyun!"

Chanyeol mengusap wajahnya frustasi. Mengambil oksigen sebanyak-banyaknya agar nafasnya kembali tenang. Tidak berhasil, ia pun melangkah menuju kamar mandi. Mencuci muka.

Ditatapnya bayangan wajah tampannya di cermin.

"Brengsek kau Park Chanyeol!"

Ditatapnya wajahnya lama-lama. Merutuki dirinya sendiri di pantulan cermin.

Tapi tiba-tiba…

"Bodoh! Kenapa tidak aku tanyakan saja pada Tuan Lee?! Mungkin dia bisa membantuku atau mungkin dia justru sudah tau di mana Baekhyun!" pekiknya.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia keluar dari kamar mandinya. Menuruni anak tangga dan mencari di mana Tuan Lee.

"Tuan Lee?"

Hening. Rumahnya sudah sepi karena ini sudah lewat tengah malam.

"Tuan Lee?" tidak putus asa, ia kembali mencari di mana Tuan Lee. Sampai kemudian telinganya mendengar sesuatu. Sesuatu dari dalam ruang kerja hyungnya.

"Saya kasihan melihat Tuan Chanyeol Tuan…"

Chanyeol mengeryit. Ia kemudian berjalan mendekati sumber suara. Ia buka pintu ruang kerja hyungnya pelan-pelan, Dan ia mengeryit.

'Tuan Lee? Kenapa dia berbicara sendirian dengan foto Kris hyung?'

"Dia sudah mencari Tuan Baekhyun seharian penuh. Sepertinya beliau sudah menyesali perbuatannya."

"…."

"Saya ingin sekali memberitahunya di mana Tuan Baekhyun berada."

DEG

'Jadi benar Tuan Lee tahu di mana Baekhyun!'

"Tapi di sisi lain, saya tidak ingin menghianati janji saya pada Anda Tuan."

'Janji?! Janji apa?!'

"Sampai kapan pun saya tidak akan memberi tahu pada Tuan Chanyeol di mana keberadaan Tuan Baekhyun sekarang. Saya akan terus menepati pesan terakhir Anda Tuan Kris."

DEG

'Jadi… jadi Tuan Lee tahu keberadaan Baekhyun, tapi Kris hyung tidak ingin aku bertemu dengan Baekhyun?! Oh hyung! Aku hanya ingin meminta maaf pada istrimu!'

Dengan langkah gontai, Chanyeol meninggalkan ruangan itu. Matanya berkaca-kaca. Sakit hati.

'Aku hanya ingin minta maaf. Tapi sampai kapan pun Tuan Lee tidak akan pernah memberitahuku. Ia pasti juga sudah memprivasi keberadaan Baekhyun. oh ya Tuhan! aku harus bagaimana?!'

Bruk

Chanyeol duduk di kursi taman halaman belakang mansion kakaknya. Oh dan fakta satu lagi, mansion mewah ini sudah menjadi miliknya. Tapi karena kebodohannya, ia justru menyiksa Baekhyun agar hak kekayaan kakaknya jatuh padanya. Yang tanpa ia tahu bahwa sebenarnya rumah dan perusahaan ayahnya memang untuk dirinya. Bodoh.

Dan sekarang? Ia kena batunya.

Ia tatap langit malam itu dalam-dalam. Ingin menenggelamkan dirinya di kepulan awan hitam berbintang itu. Mungkin sudah saatnya ia menyerah. Menyerah untuk mencari Baekhyun. karena pada akhirnya ia juga tidak akan diperbolehkan melihatnya. Mungkin saatnya ia harus bangkit. Menebus kesalahannya dengan mewujudkan keinginan kakaknya untuk meneruskan bisnis ayahnya. Mengelola perusahaan. Selama ini ia terus bergantung hidup pada kakaknya. Dan sekarang? Kakaknya sudah meninggal. Ia tidak mungkin bergantung hidup pada orang lain.

'Semoga keputusanku bisa membuatmu senang Kris hyung. Maafkan aku.'

"Kelak, saat aku kembali, aku berjanji akan menemukan Baekhyun dengan caraku sendiri. Membuatmu bangga dan tidak marah lagi padaku. Mengijinkanku untuk sekedar minta maaf pada istrimu."

Keesokan harinya..

"Apa Tuan?! Amerika?!" Tuan Lee berucap kaget.

"Iya Tuan Lee. Aku ingin melanjutkan studi ku di Amerika."

Bagaimana tidak kaget? Selama ini, yang ia tahu Chanyeol selalu menolak untuk belajar. Selalu menolak ketika hyungnya dulu menyuruhnya kuliah di luar negeri. Bahkan ia ingat betul, pernah suatu hari saat Kris memaksanya untuk kuliah di Amerika, ia memberontak dan bahkan tidak pulang ke rumah selama berminggu-minggu dengan beribu alasan. Dan sejak saat itu Kris tidak pernah berani menyuruhnya untuk kuliah. Tapi sekarang?

"Kumohon Tuan Lee. Aku ingin belajar di sana. Aku ingin melanjutkan bisnis ayah."

"Tapi.. selama ini, Tuan kan.."

"Memangnya salah jika aku ingin mengambil alih perusahaan?"

"Bu-bukan begitu Tuan. Saya hanya.. tidak percaya."

Chanyeol tersenyum manis.

"Maafkan aku karena selama ini selalu membangkang. Aku tahu perusaahaan bisa bangkrut jika tetap tidak ada yang mengambil alih. Aku juga tidak mungkin membebaninya padamu selamanya. Untuk itu, aku ingin belajar dan pandai seperti Kris hyung agar pantas menggantikan posisinya."

"Tuan…"

"Kumohon Tuan Lee. Aku hanya ingin menebus semua kesalahanku."

Tuan Lee tampak berkaca-kaca. Sungguh! Chanyeol yang sedang di hadapannya kini sudah semakin mirip dengan kakaknya. Dewasa dan bijaksana. Membuatnya terharu.

"Tentu saja saya akan melaksanakan keinginan Anda tuan. Ini juga bukan hanya keinginan Anda. Betapa Tuan Kris sangat menginginkan ini terjadi. Ah ya Tuhan. saya senang sekali."

Chanyeol pun memeluk Tuan Lee. Asisten ayahnya dulu yang begitu ia hormati. Menganggapnya seperti keluarga sendiri.

"Tolong bantu aku sampai aku pantas menggantikan posisi Kris hyung Tuan Lee."

"Tentu Tuan, tentu! Dengan senang hati."

'Dan kelak, saat aku pulang. aku akan mencari tahu di mana Baekhyun berada.' Batinnya.

Ia bulatkan tekatnya untuk pergi ke Amerika. Belajar sungguh-sungguh di negeri Paman Sam itu. Agar pulang berbekal ilmu dan mengelola perusahaan ayahnya hingga dirinya sukses besar seperti kakaknya. Bermaksud menebus kesalahannya dengan tujuan membawa nama baik dan meminta maaf pada seseorang yang begitu ia rindukan keberadaannya. Kakak iparnya, Byun Baekhyun.

O

O

O

O

O

O

O

O

O

O

O

5 Tahun kemudian…

Suatu hari di musim salju…

TEET TEET TEET..

"Yeeeaay!" anak-anak kecil di sekolah taman kanak-kanak itu pun bersorak gembira mendengar bel pulang sekolah. Dengan lincahnya, mereka langsung bekemas. Berpamitan kepada gurunya dan keluar menuju halaman sekolah. Menghampiri eommanya masing-masing. Raut wajahnya begitu senang karena ini tahun pertama mereka bersekolah. Bahagia.. ya, tidak semua. Kecuali anak laki-laki tampan yang berdiri di sudut pagar sekolah. Menatap iri pada teman-temannya yang dipeluk eommanya masing-masing. Menceritakan hari pertama mereka di sekolah dengan senangnya. Memperlihatkan hasil lukisan mereka yang tadi pagi diajarkan gurunya. Yah, alangkah senangnya kalau 'eommanya' bisa datang menjemputnya seperti teman-temannya yang lain.

"SEHUN-AH!"

Anak kecil lelaki itu pun menoleh. Dan seketika tersenyum manis.

"Paman!" pekiknya senang.

Anak kecil yang dipanggil itu pun berlari menghampiri pamannya yang berdiri di depan mobil. Bersiap memeluknya.

Grep

"Huaaah! Maafkan paman ya, telat menjemputmu." Diusapnya rambut hitam lebat anak kecil itu penuh sayang.

"Tidak apa-apa. Paman tidak telat menjemput Sehun ko."

Namja itu pun tersenyum.

"Waah! Apa ini yang kau bawa?"

"Ini gambarku paman. Tadi pagi seongsaengnim menyuruh kami menggambar." Terangnya dengan penuh senyum.

"Waah! Bagus sekali! Ayo kita pulang. Oh atau kau ingin makan dulu di suatu tempat?"

Anak kecil bernama Sehun itu pun menggeleng.

"Tidak paman. Aku ingin bertemu eomma!" ucapnya girang. Menampakkan eyesmile nya yang begitu manis.

"Hahaha. Yasudah kalau begitu. Ayo kita temui eomma mu. Kajja! Paman kedinginan."

Namja berperawakan kecil itu pun menggandeng lengan kecil Sehun untuk masuk ke dalam mobilnya.

"Eomma bagaimana paman? Apa masih sakit?"

"Tidak. Eomma mu baik-baik saja. Dia menanyakanmu pagi ini."

"Waah?! Jinjja?! Hahaha aku senang."

Namja itu tersenyum.

"Tadi pagi di sekolah, seongsaeng-nim menyuruh kami untuk memperkenalkan diri, paman."

"Lalu?"

"Saat aku ingin menyebutkan nama ayahku, aku bingung dan tidak tahu. semua teman-teman menertawaiku. Aku sedih karena tidak punya ayah." Ucapnya dengan raut wajah sedih. mengingat kejadian tadi pagi di sekolah.

Namja itu menghembuskan nafasnya berat.

"Sehun-ah, lihat paman."

"…."

"Kau ini punya ayah."

"Jinjja?!"

"Tentu saja!"

"Lalu sekarang ayah di mana?"

"Ayahmu sedang pergi jauh."

"Lalu kapan pulang?"

"Nanti saat kau sudah besar dan eomma mu sembuh, dia pasti akan pulang."

"Lama sekali!"

"Tentu saja, maka dari itu kau harus cepat tumbuh besar ne?"

Sehun mengangguk.

"Tapi.. kenapa eomma tidak pernah memberitahuku?!"

"Kau dengar paman ya? jangan pernah menanyakan apapun tentang ayahmu pada eomma. Arraseo?"

"Lho memangnya kenapa paman?"

"Tidak ada apa-apa. Kalau kau ingin eomma mu cepat sembuh, jangan ungkit soal ayahmu lagi ne? lagipula kan ada paman."

Sehun kembali tersenyum.

"Iya paman! Aku tahu!"

"Anak pintar!"

Namja mungil itu pun memeluk Sehun penuh sayang. Menganggapnya seperti puteranya sendiri.

.

.

.

.

.

.

Sudah 5 tahun Baekhyun hidup di sini. Di tempat 'rehabilitasi'. Sendirian dan sepi. Dua tahun silam, ia tidak sengaja menemukan koran bekas berisikan berita tentang meninggalnya taipan kaya yang kecelakaan di jalan tol. Ia baca lebih dalam dan betapa kagetnya ia, karena taipan kaya itu adalah suaminya, Kris. Dan semenjak itu ia semakin merasa tertekan. Merasa bersalah atas kepergian'suaminya'. Harusnya ia sudah sembuh. Harusnya ia bisa hidup bersama Kris dan anaknya. Tapi sepertinya Tuhan tidak sayang lagi padanya? Hati dan pikirannya kosong. Sesekali ia sering menangis sendirian. Selalu menatap kosong jendela luar. Membayangkan dan mengingat-ingat keras bagaimana wajah 'suaminya'. Sehingga 'suaminya' bisa hidup di dalam pikirannya. Byun Baekhyun.

"EOMMA!"

Baekhyun mendengar suara anak kecil berteriak memanggil namanya. Berlari menuju arahnya dan langsung memeluknya erat-erat. Sungguh. Hanya anaknya lah yang bisa ia cintai sekarang,Wu Sehun.

CUP

"Eomma apa kabar?"

Baik, sayang.

"Lihat eomma, apa yang aku bawa!" Sehun memperlihatkan hasil lukisannya dengan sangat gembira.

Dan dengan tenaga seadanya, Baekhyun mengambil lembaran kertas itu. Kemudian tersenyum manis.

"Ini gambarku lho eomma. Bagus tidak?"

Baekhyun menangguk, lalu mencium pipi Sehun sayang. Begitu merindukannya.

"Dia anak pandai di kelas Baekhyun-ah."

Baekhyun mendongak. Mendapati namja kecil yang ia anggap malaikat penolongnya.

"Dia tidak menangis saat aku telat menjemputnya."

Gomawo Kyungsoo-ah

"Jangan sungkan. Aku senang menjemput Sehun." Ujar Kyungsoo sambil mengelus rambut Sehun.

"Kau harus cepat sembuh supaya bisa melihat bagaimana manisnya putramu di sekolah Baekhyun-ah."

Baekhyun mengangguk lemah dan masih menciumi pipi putih Sehun. Wajahnya begitu mirip dengan ayahnya. Membuatnya mau tidak mau harus selalu mengingat 'sosoknya' yang begitu ia benci.

"Ahjussi! Aku ingin tidur dengan eomma malam ini!"

"Tidak bisa sayang, kau harus pulang."

"Shireo!"

"Sehun… besok kau harus sekolah. Eomma mu harus istirahat."

Sehun menggeleng, ingin menangis.

Kemudian Baekhyun menolehkan wajah Sehun agar menatapnya. Mengelus pucuk kepalanya sayang dan memeluknya erat-erat. Merasa kasihan.

Malam ini saja Kyungsoo. Kumohon.

Kyungsoo tampak berpikir. Melihat wajah Sehun dan Baekhyun ia menjadi yang tidak tega. Dan ya, ia menyerah.

"Yasudah. Hanya malam ini saja ya? tempat ini tidak baik untuk anak-anak Baek."

Baekhyun mengangguk penuh senyum.

"YES! GOMAWO AHJUSSI!"

Kyungsoo tersenyum dan mengangguk.

"Yasudah. Kalau begitu aku pergi dulu ne? Sehun jangan nakal ya?"

"Ne ahjussi! Gamsahamnida!"

GREB

Pintu tertutup. Meninggalkan Sehun dan Baekhyun sendirian di kamar sepi itu.

"Eomma…"

"Hm?"

"Eomma kapan sembuh?"

Baekhyun menggeleng. Menatap sedih anaknya yang tumbuh begitu tampan.

"Aku ingin tinggal di rumah bersama eomma. Aku tidak suka tinggal di panti asuhan. Tidak ada eomma tidak enak." Ujar Sehun kecil sedih sambil membaringkan kepalanya di dada 'eomma'nya.

Dan Baekhun hanya mengelus lembut rambut Sehun. Menuliskan sesuatu di dada Sehun.

Mianhae Sehunnie…

"Eomma sakit apa sih?" Sehun mendongak. Ingin melihat wajah cantik 'eommanya'.

Baekhyun menggeleng. Tidak tahu.

"Harusnya kan orang sakit dikompres. Kenapa eomma selalu duduk di kamar? Kalau seperti itu terus kapan sembuhnya?" ujar Sehun kecil sambil mengerucutkan bibirnya lucu.

Membuat Baekhyun tersenyum manis melihat tingkah putranya yang menggemaskan. Kadang, Kalau Sehun berada di sampingnya. Hidupnya kembali. Tidak kosong dan bahagia. Tapi ia tidak bisa selalu berada di sampingnya. Takut mencelakai Sehun. siapa yang tahu kalau sewaktu-waktu ia bisa mengamuk tanpa sebab? Ia tidak bisa mengontrol emosinya sendiri. Membuatnya begitu tersiksa. Ia hanya ingin hidup bahagia dengan Sehun dan Kris di dalam hatinya. Tapi impian sederhana itu begitu sulit diwujudkan.

Saranghaeyo Wu Sehun.

"Aku juga eomma!" jawabnya girang. Begitu mencintai eommanya.

"Eomma sudah makan?"

Baekhyun menggelang.

"Kenapa belum? Ini kan sudah siang. Sehun suapi ya?"

Sehun kecil melompat dari pangkuan Baekhyun. Berjalan dengan kaki mungilnya menuju meja. Mengambil makanan Baekhyun.

Meskipun baru berumur 5 tahun, tapi Sehun sangat pandai berbicara dengan 'eommanya'. Sejak kecil, Kyungsoo mengajarinya bahasa isyarat. Sehingga sedikit demi sedikit Sehun kecil mulai mahir dan bisa berkomunikasi dengan 'eommanya'.

Dan Baekhyun sangat mensyukuri itu. Setidaknya, meskipun jiwanya terganggu ia masih memiliki Sehun. Anaknya yang tampan dan pandai. Mengisi hatinya yang kosong. Seperti malaikat yang Tuhan kirimkan untuknya. Sebagai balasan atas penderitaannya selama ini. Ya, ia berharap Sehun tumbuh besar dan menjadi laki-laki penyayang dan bertanggung jawab. Tidak seperti ayahnya. Wu Chanyeol.

O

O

O

O

O

O

O

"Tiket Anda sudah siap Tuan. Keberangkatan Seoul, South Korean jam sepuluh pagi."

"Bagus. Terimakasih tuan Lee."

"Itu tugas saya Tuan. Ah bagaimana proyek kali ini?"

"Sukses besar. Mereka sangat puas dengan kinerjaku. Dan berencana akan mengadakan relasi lagi dengan perusahaan ayah tahun depan."

"Wah! Selamat tuan. Akhirnya Anda bisa meneruskan pekerjaan Tuan Kris dengan baik. Beliau pasti bangga pada Anda."

"…."

"Tuan?"

"Aku lelah, aku ingin istirahat."

"Ba-baiklah. Kalau begitu selamat malam tuan."

GREB

Begitu pintu ditutup, sosok yang duduk kaku di kursi besarnya itu langsung menyandarkan kepalanya ke kursi. Melepas ikatan dasinya yang terasa mencekik leher. Benar-benar tampak kelelahan.

Chanyeol. Wu Chanyeol. sekarang tumbuh menjadi taipan kaya raya dengan saham di mana-mana. Semua orang tahu siapa dia. Sosoknya yang dulu kasar dan berantakan, kini berubah menjadi dingin dan tajam membuatnya ditakuti banyak orang karena kepandaiannya dalam berbisnis. Bahkan mungkin melebihi kakaknya.

Ya, mungkin rasa bersalahnya lima tahun lalu sedikit berkurang. Setidaknya ia bisa mewujudkan keinginan kakaknya. Meskipun masih ada hal lain yang ia harus pertanggung jawabkan. Bahkan melebihi suksesnya sekarang. Satu hal yang membuatnya terus gelisah dan takut ketika tiap kali ia mengingatnya.

"Baekhyun… apakah kau masih hidup? Sudah lima tahun aku tidak melihatmu. Bagaimana kondisimu?" gumamnya sambil terpejam.

Ya, Baekhyun. Kakak iparnya dulu yang pernah ia siksa hingga menghilang entah kemana. Hati kecilnya selalu mengatakan bahwa kakak iparnya itu masih hidup. Hanya saja entah di mana. Dan ia berjanji, sepulang ia ke korea besok, ia akan memulai kembali hidupnya. Menata kembali kehidupannya. Dan mencari tujuan hidupnya. Byun Baekhyun.

…..

"Kyungsoo ahujussi kenapa lama sekali ya?"

Sehun kecil tampak gelisah. Menunggu Kyungsoo yang tidak kunjung datang. Padahal sekolahnya sudah hampir sepi.

"Hei Hun!"

Merasa dipanggil, Sehun menengok ke belakang.

"Kau masih menunggu ya?! hahaha."

"Lho memangnya kenapa?" jawabnya heran.

"Kasihan ya, kau tidak punya orangtua. Jadinya tidak ada yang menjemputmu. Hahaha."

"Maksudmu apa bilang seperti itu?!"

"Hahaha! Sehun tidak punya eomma appa! Haha. Lucu ya teman-teman?"

Sontak sekelompok anak tadi tertawa terbahak-bahak. Membuat Sehun kecil hampir menangis.

"A-aku punya eomma!"

"Mana?! Tidak ada? Kau selalu dijemput pamanmu dan mobil panti! Hahaha!"

Karena tidak mau berlama-lama diejek oleh teman-temannya, ia pun memutuskan untuk berlari. Merasa kesal dengan ejekan teman-temannya. Ia terus berlari kencang tanpa arah. Tidak peduli jika Kyungsoo akan mencarinya.

Cukup jauh ia berlari, ia tiba di salah satu taman yang sepi. Rumputnya ditutupi tumpukan salju. Suasanya putih dan dingin. Membuatnya semakin ingin menangis.

"Hiks..hiks.. aku punya eomma! Aku juga punya appa! Hikss hikss."

"Tapi aku tidak tahu appa di mana! Hikss.. hiks.. eomma kan sedang sakit! mana bisa menjemputku?! Hikss... hikss.."

Ia pun terus menangis. Sedih karena ejekan teman-temannya. Menangis entah sampai kapan.

…..

"Hhh…"

"Anda yakin tidak ingin langsung pulang tuan?"

Chanyeol menggelangkan kepalanya. Menatap sekeliling taman di balik jendela mobilnya. taman sepi yang dipenuh salju.

"Aku ingin duduk di sana."

"Tapi Anda baru sampai. Apa tidak lelah?"

"Tuan Lee.. kumohon sebentar saja."

"Ba-baiklah tuan."

"Kau tunggulah di sini."

"Ba-baik."

GREB

Chanyeol menutup pintu mobilnya. Entah kenapa ia tidak ingin langsung pulang. Suasana hatinya sedang tidak begitu baik. Ia ingin melepaskan penatnya karena bekerja. Mungkin dengan sedikit berjalan-jalan di taman dapat mengurangi rasa stress nya. Dan juga ia sangat merindukan Seoul. Bertahun-tahun ia tidak kemari. Dan kenyataannya pemandangannya tidak berubah. Masih mengingatkannya akan kesalahan bersarnya lima tahun silam.

Ia pun berjalan melawati tumpukan salju itu. Dihirupnya udara dingin itu dalam-dalam. Sosoknya benar-benar sudah berubah sekarang. Entah jika ia bertemu dengan Baekhyun, apakah kakak iparnya akan mengenalinya atu tidak. Ah! Bahkan ia saja belum menemukan Baekhyun.

BRUK

"Hhh.. Baekhyun."

Belum lama ia duduk, tiba-tiba ia mendengar suara isakan anak kecil.

"Hiks.. hiks.."

Ia tajamkan pendengarannya. Dan ternyata suara itu semakin jelas. Tidak jauh dari tempatnya duduk. Karena penasaran, ia pun memutuskan untuk mencari sumber suara itu.

"Hikss.. hikss.."

'Kenapa ada anak kecil menangis? Padahal cuacanya begitu dingin. Tempat ini juga sepi.'

Dan yap!

Ia melihat sosok anak kecil di balik semak. Sedang menangis sendirian duduk memeluk lututnya sendiri.

Dihampirinya tubuh mungil itu pelan-pelan.

"Hai adik manis. Kenapa menangis?"

"Hiks.. hiks.."

Tidak ada jawaban. Anak kecil itu tetap menangis.

Chanyeol pun mulai berlutut. Tidak tega melihat anak kecil yang tampak sedih dan kesepian itu.

"Hei.. jangan menangis. Stt.. di mana eomma mu?"

"HUWEEEE!"

Chanyeol pun semakin bingung. Anak kecil itu justru menangis meraung-raung.

"He-hei.. ada apa? ap-apa kau tersesat?"

"Hiks.. hiks.. aku punya eomma paman! Huweeee."

"I-iya" Chanyeol semakin bingung.

"Sepertinya kau tersesat. Ayo paman antarkan. Kau sekolah di mana? Ini masih jam pulang sekolah. Mungkin gurumu masih di sana."

"Shireo! Aku tidak mau ke sekolah!"

"Oh waeyo?"

"Aku tidak mau! hiks.. hikss!"

"Ba-baiklah. Kalau begitu rumahmu di mana? Biar paman antar."

"Aku tidak punya rumah. Hikss .. hiks.."

Chanyeol mengernyit.

"Aku tinggal di panti asuhan, paman."

"Pa-panti asuhan?"

Anak kecil itu mengangguk.

"Aku tidak ingin pulang. Aku kesal pada Kyungsoo ahjussi!"

"Kyungsoo?"

"Ne! padahal tadi pagi dia bilang ingin menjemputku! Tapi tidak datang-datang! aku kan jadi diejek teman-teman! Hikss.. hikss.."

"Memangnya teman-temanmu bilang apa? hm?"

"Mereka bilang aku tidak punya eomma appa! Hiks hiks.. padahal kan aku punya!"

"Kalau begitu tidak usah menangis. Mereka mungkin iri padamu karena orangtuamu hebat."

"Aniya! Appa tidak ada! Eomma sedang sakit! mereka tidak pernah menjemputku ke sekolah. Hiks.. hiks.. padahal aku ingin bersama eomma seperti teman-temanku yang lain. Hiks.. hiks.. eomma jahat!"

"Hei.. adik manis. Eomma mu kan sedang sakit. Jangan bicara seperti itu. Kalau eomma mu sudah sembuh pasti dia akan ikut bermain bersamamu. Seperti teman-temanmu. Ne?"

"…."

"Sudah jangan menangis lagi. anak laki-laki tidak boleh menangis."

Perlahan isakan anak kecil itu mulai reda. Dihapusnya bekas air mata yang mengalir di pipi gembilnya.

"Namamu siapa?"

Chanyeol menjulurkan tangan kokohnya. Bermaksud menenangkan hati anak kecil itu.

"Sehun. Wu Sehun."

'Wu Sehun?' ucapnya heran.

"Paman? Namanya siapa?"

"Eeh? Pa-paman.. ah! Namaku Chanyeol. Wu Chanyeol."

"Wa! Marga kita sama paman!" pekiknya kegirangan.

Chanyeol hanya mengangguk. Tampak bingung. Padahal marganya jarang ada di Korea. Aneh.

"Cuacanya sangat dingin Sehun-ah. Kajja kau harus pulang. Nanti kau sakit."

"SHIREO!"

"Kalau pamanmu mencarimu bagaimana?"

"Biar saja! Kyungsoo ahjussi menyebalkan!"

Sehun mengerucutkan bibirnya lucu. Membuat Chanyeol terkekeh ringan.

"Lalu sekarang kau ingin apa kalau tidak mau pulang?"

"Tidak ingin apa-apa. Paman kalau mau pulang ya sudah pulang saja."

"Jinjja? Bagaimana kalau kita beli ice cream?"

Sehun kecil yang muram, seketika wajahnya langsung berubah. Matanya berbinar-binar menatap Chanyeol. Senyum manisnya terukir manis begitu saja saat mendengar kata 'ice cream'

"Ah! Tapi Sehun hanya bawa sedikit uang. Tidak cukup untuk beli ice cream." Wajahnya berubah menjadi sedih.

"Kalau begitu paman yang bayar."

"JINJJA?!"

"Tapi ada syaratnya!"

Sehun kecil mengeryit.

"Mwonde?"

"Kau tidak boleh cemberut dan marah lagi pada pamanmu. Ne?"

Sehun kembali berpikir.

"Bagaimana? Paman belikan ice cream yang banyak deh."

"Hmm.. baiklah!"

"Tapi janji, setelah ini kau beritahu alamat panti asuhanmu ne? yang lain pasti menghawatirkanmu."

"Arraseo!" pekiknya senang.

"Kajja!"

Chanyeol pun menggandeng lengan mungil Sehun. Tampak seperti miniaturnya. Begitu mirip.

.

.

.

.

"MWO?! SUDAH SEPI?!"

"Benar Kyungsoo-ssi. Anak-anak sudah pulang daritadi. Saya kira Sehun pulang bersama rombongan pantinya."

"YA TUHAN!"

"Kalau begitu sebaiknya Anda mencarinya Tuan."

"Ba-baiklah seongsaeng-nim. Gamsahamnida."

DRAP

DRAP

DRAP

Kyungsoo panik setengah mati mencari Sehun. Ia berlari ke seluruh kompleks sekolahnya tapi tetap tidak menemukan Sehun. Ia merutuki kebodohannya sendiri karena lupa menjemput Sehun. Ia panik dan bingung bagaimana harus memberitahukannya pada Baekhyun. Ia takut hal buruk menimpa Sehun. Oh demi Tuhan! jika itu terjadi, Kyungsoo tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri seumur hidup.

"SEHUN-AH! KAU DI MANA?! SEHUN-AH!" teriaknya.

Ia bahkan sudah bertanya pada setiap orang yang lewat, tapi nihil. Tetap tidak ada yang tahu. padahal cuaca begitu dingin. Dan Kyungsoo tahu benar Sehun tidak tahan dingin. Ia takut. sungguh takut.

"Oh ya Tuhan lindungi Sehun!"

…..

Chanyeol menatap penuh senyum melihat Sehun yang sangat lahap memakan ice cream pisang. Sama sepertinya. Dulu waktu kecil juga ia sangat menyukai ice cream pisang. Ia sangat senang melihat Sehun. Meskipun baru bertemu, tapi ia merasa sudah mengenalnya sejak lama. Obrolan mereka seakan tidak pernah membosankan seperti layaknya orang baru bertemu. Mungkin karena anak kecil manis di depannya itu mempunyai banyak kesamaan dengannya. Dari mulai warna, makanan favorit, bahkan kebiasaan tidur mereka pun sama. Dan setelah Chanyeol lihat lebih lama, wajah Sehun memang agak mirip dengannya. Mungkin hanya perasaannya saja atau bagimana, ia tidak tahu. Bahkan penjual ice cream itu justru mengira Sehun adalah putranya. Dan kenyataannya Chanyeol menyukai hal itu. Ia juga berharap mempunyai putra semanis Sehun. Meskipun wajahnya juga mengingatkannya pada…

Kakak iparnya.

"Paman tidak makan ice cream?" tanya Sehun membuyarkan lamunannya.

Chanyeol menggeleng sambil masih tersenyum.

"Kau habiskan saja punyamu. Atau masih ingin lagi?"

"Tidak ah. Sehun kenyang."

"Tentu saja kenyang. Kau sudah menghabiskan 3 cup ice cream."

"Ehehehe." Sehun tersenyum malu-malu.

"Emm.. kalau boleh paman tahu, eomma mu sakit apa?"

Sehun tampak berpikir sambil memakan ice creamnya.

"Molla. Eomma sakitnya lama sekali."

"…."

"Eomma tidak panas atau batuk seperti saat Sehun sakit. Tapi Kyungsso ahjussi melarang eomma untuk pulang. Jadinya, Sehun dititipkan di panti asuhan paman."

"Kalau appa mu?"

Sehun menggeleng.

"Appa sedang pergi jauh sekali. Kata Kyungsoo ahjussi appa baru akan pulang kalau Sehun sudah besar."

Chanyeol mengangguk.

"Tapi.. Kalau boleh paman tahu, siapa nama eomma mu?"

"Namanya… Byun Baekhyun paman. "

DEG

Dan seketika Chanyeol membelalakkan matanya. Mendengar nama itu jantungnya langsung berdegup kencang.

'Baekhyun?! Byun Baekhyun?!'

"Namanya bagus kan paman? Eomma juga cantik lho!"

"Eomma mu.. sekarang di mana Sehun-ah?!"

"Kata Kyungsoo ahjussi, eomma menginap di rumah sakit."

"Ru-rumah sakit?!"

Sehun kecil mengangguk.

'Ya Tuhan! atau mungkin.. dia Baekhyun kakak iparku?! Sehun.. anak ini mirip denganku! Marganya juga sama sepertiku! Atau jangan-jangan.. tidak! Tidak mungkin!'

"Sehun-ah! Siapa nama ayahmu yang pergi jauh itu?!" tanya Chanyeol panik. Jantung nya berpacu menanti jawaban Sehun. Ia harap namanya disebut. Ia harap Baekhyun yang dimaksud Sehun adalah kakak iparnya.

"Molla. Eomma tidak pernah berbicara tentang appa. Kyungsoo ahjussi juga tidak mau mmeberitahu nama appa."

"Jinjja?!"

"Hm! Memangnya kenapa sih paman kok ingin tahu sekali?"

"Aniya, paman hanya penasaran."

Kembali sehun memakan icecreamnya. Tidak peduli dengan wajah Chanyeol yang begitu pucat menahan degup jantungnya.

"Sehun-ah."

"Hm?"

"Paman tanya satu lagi. Kumohon jawab."

Sehun mengangguk dengan wajah kebingungan dan mulut penuh ice cream.

"Apa eomma mu… bisu? Ah maksud paman.."

"Iya. Eomma bisu paman. Eomma tidak bisa bicara."

DEG

'Tidak salah lagi! Tuhan kumohon! Semoga dugaanku benar! Semoga dia adalah kakak iparku!'

"Setelah makan ice cream.. bi-bisakah.. paman bertemu dengan..eomma mu..Sehun-ah?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Hun hun.. maaf ya ane mirip-miripin sama Chanyeol xD wakakak. Well aku tau chapter ini aneh banget -_- lah gaktaulah(?) wkwkwk

Readers~ kalo mau ngebayangin wajah Sehun, bayangin aja wajahnya Chanyeol Sehun yang digabungin ya? Kan ada tuh ._.v dan itu emang mirip banget sama Chanyeol(?) kekeke.

Doa kan saja semoga fanfict ini gak mulur-mulur nyampe berchapter-chapter -_-v aku bingung gimana cara mendekinnya(?) yang ada malah diprotes gegara alur kecepetan(?) wkwkwk

Maaf juga update lama, kemaren-kemaren namu sibuk ujian sama pentas pantomim -_- Minggu depan juga mau ke Bali lho xD Bali eeuuuyyy! Nyeahaaaa! *ndeso -_-* kekeke.

Oke sekian -_-

Kritik saran silahkan ditulis di kotak review~ saya selalu menunggu :*

Semoga chapter ini dapat menghibur sebagimana mestinya ^^

Gamsahamnida *bow*

Please Review and Leave Your Comment…