Note (harap diperhatikan biar ga bingung): Demi kelangsungan cerita, mulai chapter ini (7) panggilan 'Kakak' (Ichigo) menjadi Onii-chan. Untuk tokoh lainnya, nanti akan disesuaikan.

Hola Minna. Ada yang bosen ketemu fic baru (lagi-lagi) saya? Semoga nggak ya.

.

Fic Collab with Voidy.

.

DISCLAIMER : TITE KUBO

.

RATE : M For Safe

.

Warning : OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (Nongol mulu), Gak karuan.

.

Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka. Apalagi terdapat kesamaan atau kemiripan situasi atau tokoh atau apapun itu dengan cerita lain dalam bentuk apapun itu, adalah tidak disengaja. hehehe

.

.

.

Untungnya orang sinting berambut biru itu tidak mengacauan pemotretan lagi. Sejak insiden-yang-sebaiknya-tidak-disebutkan dan setelah pria kurang ajar tersebut mengatakan sesuatu mengenai Ichigo... pikiran Rukia jadi tak tenang. Berbagai hal berkecamuk dalam kepalanya

Benarkah Onii-chan seperti itu?

Atau... si pria hanya ingin membuat Rukia panas dengan menjelek-jelekkan penolongnya tersebut?

Tidak... Ichigo pasti tidak begitu. Rukia percaya... Onii-chan bukan orang seperti itu.

Hari ini, sesi pertama pengambilan gambar akhirnya selesai. Sikap sang fotografer padanya masih seperti kemarin. Cuek dan... agak dingin. Seolah menjaga jarak jika berada di studio. Tapi dibalik pintu apartemen mereka, Ichigo akan bersikap seperti biasanya. Dia kembali menjadi Onii-chan yang hangat bagi Rukia.

Si gadis mengerti bahwa mungkin Ichigo hanya ingin bersikap profesional saja. Demikian pula Rukia. Ishida berkali-kali menekankan untuk tidak membawa perasaan pribadi di lingkungan pekerjaan dan bersikap profesional. Jadi... tidak apa-apa.

Sekarang Rukia bermaksud kembali ke ruangannya. Hiasan yang memberatkan kepalanya hari ini cukup banyak. Tak sanggup rasanya kalau tiap hari dia diwajibkan mengenakan pakaian yang menyusahkan dan riasan yang menempel seperti lapisan kulit tambahan ini. Tapi ini kan pekerjaannya, maka dari itu sang gadis tetap bertahan.

Baru saja sesi pemotretan kelar, Ichigo langsung melesat pergi karena harus mengurus beberapa masalah dengan Ishida. Bersyukur Rukia mampu memberikan pengertian pada Onii-channya itu sehingga pekerjaan campaign ini tidak jadi dibatalkan. Remaja beriris kelam ini tidak bisa membayangkan masalah apa yang bisa menimpa pemuda jangkung itu. Saat ini saja, problem demi problem datang silih berganti. Kata Onii-chan, masalah seperti itu sudah biasa yang dia hadapi. Meski tidak ingin Rukia cemas tapi tetap saja rasa itu tidak dapat diredam.

"Jadi kau, Lucia itu?"

Menghentikan langkahnya di koridor Rukia melihat di depannya berdiri seorang gadis cantik dengan rambut merah yang dikuncir dua. Gadis itu sungguh manis. Badannya juga tinggi dan langsing. Jauh berbeda dengan dirinya yang datar dan rata. Ini pertama kalinya Rukia melihat gadis ini padahal lawan bicaranya tersebut sudah mengenal namanya. Siapa... dia?

"Padahal biasa saja. Aku tak percaya, karena kau Ichigo mendapat banyak masalah!" katanya sinis dan menusuk.

"A-apa... maksudmu?" tanya Rukia terkejut hingga bicaranya sedikit terbata.

Jujur saja, Rukia tak mengerti. Gadis ini tiba-tiba muncul dan langsung bicara begitu.

"Pura-pura lugu lagi! Kau pikir aku akan tertipu dengan aktingmu itu? Cara apa yang kau gunakan untuk menarik perhatian Ichigo, hah? Tubuhmu saja lebih mirip anak SMP! Kau pasti menggunakan cara kotor agar Ichigo terus bersamamu kan?" tuding si gadis.

Rukia nyaris sesak nafas mendengar kata-kata kejam yang meluncur dari bibir gadis ini.

Belum pernah Rukia dikatai sedemikian kasarnya. Apa maksudnya...

"Kau ini bicara apa! Jangan sembarangan bicara!" kata Rukia nyaris berteriak. Meski model bertubuh mungil ini berusaha mengendalikan emosinya tapi... mendengar kata-kata yang begitu keji...

Entahlah... kenapa semakin hari, semakin banyak saja orang yang mengatakan hal yang menyakitkan kepadanya. Memang apa salahnya?

"Huh! Pura-pura marah! Heh! Apa kau tidak tahu? Ichigo itu, mana tahan hanya dengan satu wanita saja? Sejak kau ada, dia terus lengket padamu! Apalagi kalau bukan karena kau memakai cara kotor untuk mendekatinya supaya Ichigo mau membuatmu begini terkenal kan?"

"Aku tidak begitu! Jaga ucapanmu!"

Rukia sudah lelah, bayangkan saja, tiga hari kurang tidur telah dilaluinya. Malah bertemu orang tidak dikenal yang bicara seenak perutnya.

"Nona Lucia...," sindir gadis berambut merah itu sengaja menggunakan embel-embel nona. "Kurosaki Ichigo itu... mana mungkin melewatkan satu malam tanpa satu wanita di tempat tidurnya. Dia itu terkenal sangat playboy. Model kelas mana saja sudah pernah tidur dengannya."

Ungu kelabu Rukia membelalak kaget. Tidur... tempat tidur?

"Apa maksudmu? Jelaskan padaku!"

"Jadi selama ini kau tidak tahu Ichigo itu seperti apa? Hahahah! Kasihan sekali kau. Kau mau tahu Ichigo itu seperti apa? Dia itu pria paling brengsek, kau tahu? Atau jangan-jangan... kau kecewa, karena pria yang tidur denganmu... sudah tidur dengan ratusan wanita lain? Jangan pernah berpikir kalau Ichigo yang kau kenal itu hanya lengket padamu, ya. Kau itu tidak ada apa-apanya. Kau pasti menggunakan cara kotor, kan?"

Bibir Rukia gemetar. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. Hentikan. Tolong... Rukia ingin pergi sejauh mungkin dan melupakan semua hal mengerikan ini.

Gadis itu maju perlahan agar bisa berdiri cukup dekat dengan remaja polos tersebut. Dan ketika gadis berambut merah ini tepat berdiri di depan Rukia, dia memainkan helaian surai hitam yang tergerai di sisi wajahnya.

"Kuberitahu satu hal. Kau jangan sok polos. Berhentilah bermimpi mengenai pangeran berkuda putih yang akan jadi cinta sejatimu. Itu sudah jadi dongeng kuno, sayang... Kuingatkan padamu untuk berhenti mengekori Ichigo! Pria itu sudah lama hidup bebas. Dan karena kau... hidupnya jadi terkekang. Kau tidak kasihan padanya yang merindukan berbagai gadis untuk menemaninya tidur? Sudah saatnya kau menyerah. Mungkin... Ichigo juga akan bosan padamu."

Setelah mengatakan hal itu, si gadis berambut merah pergi dengan senyum sinisnya dan dengan sengaja menyenggol bahu Rukia dengan keras hingga tubuhnya oleng nyaris terjatuh.

Rukia tidak melawan ataupun membantah.

Sejujurnya... baru kali ini dia mendengar langsung mengenai kehidupan Ichigo.

Tak pernah terpikir olehnya hidup seperti apa yang Ichigo jalani. Bagaimana Ichigo menikmatinya selama ini.

Rukia hanyalah sosok asing yang tiba-tiba masuk ke dalam hidup pria tampan itu. Selain sebagai adik, Ichigo tak pernah menganggapnya lebih dari itu. Pemilik manik violet tersebut mengurut dadanya yang terasa begitu ngilu. Sakit.

Kenapa dia jadi begini cengeng? Ada apa sebenarnya?

"Berhenti menangis, Rukia!" bisik Rukia pada dirinya sendiri. Tapi tetap saja sakit di dadanya tidak mau hilang. Rasanya seperti ada yang mencengkeramnya begitu kuat dan erat. Sesak.

"Kakek..."

.

.

*KIN*VOI*

.

.

Sepasang bibir itu bercumbu mesra. Begitu dempet dan seakan tak rela dipisahkan. Namun rupanya salah satu partisipannya enggan melanjutkan kegiatan panas mereka. Sambil berdecih, pemuda berambut biru tersebut menarik diri.

"Grimm?"

Pasangannya memperhatikan bagaimana si top model yang senantiasa menyambut wanita ke dalam pelukannya malam ini terlihat gelisah dan yang lebih penting―menarik diri dari permainan mereka. Apa pria ini kerasukan sesuatu?

"Sebaiknya kau pergi saja, Sun-sun," ujar Grimmjow setengah menghardik.

Diusir dengan tidak sopannya, wanita berambut hitam panjang itu segera beranjak meninggalkan sang playboy dalam kesendiriannya di tengah bar yang diramaikan dentuman musik rock house. Ingin mulutnya memaki pria tak waras tersebut, tapi ditahannya karena takut akibat belakangannya.

Yah, mungkin Grimmjow Jaegerjaquez memang sudah gila. Pria normal mana yang minum-minum sendirian dan ketika ada wanita yang bersedia menemaninya menghabiskan malam ini –mungkin juga sampai pagi, malah ditolak begitu saja?

Tapi...

Di benaknya menari-nari bayangan seorang gadis –bukan wanita, gadis- bermata besar indah. Tiap kali melintas di pikirannya, bayangan tersebut akan membakar gelenyar yang merayap dari dadanya lalu menyebar ke seluruh tubuhnya, mengalahkan racun paling berbahaya sekalipun.

Ah, tidak mungkin!

Segera dienyahkannya pikiran tak berguna itu. Grimmjow hanya tertarik pada si gadis karena Kurosaki brengsek itu amat menjaganya. Dia hanya ingin mempermainkan fotografer sok itu.

Tapi kenapa...

Sosok gadis mungil yang tak lelah menghantuinya tersebut terus membuatnya teringat saat sang pemuda bermata azure itu dengan sengaja menyakitinya. Memberitahu soal Onii-channya yang terus dielu-elukannya itu―sungguh memuakkan. Hanya saja... wajah terlukanya membuat sanubari Grimmjow terasa ikut pedih. Dia tidak ingin seperti itu.

Entah apa yang terjadi padanya!

Dengan emosi mencapai ubun-ubun, pria bertubuh atletis itu meneguk vodka di gelasnya dan memesan satu botol lagi untuk menemaninya.

Tak sadarkah bahwa dia lebih memberi respon pada Sun-sun―wanita berambut hitam dengan lekuk tubuh lebih rata daripada Harribel―yang notabene lebih seksi dan menggoda- saat keempat sahabat itu berkerumun di depan pintu masuk bar?

.

.

*KIN*VOI*

.

.

"Aku mau... ehm... ah ya, vanilla latte saja. Pakai krim ya. Cutie... kau mau apa?"

Sebelumnya, Ichigo sempat curhat sedikit dengan Rangiku. Yah, walau hubungan mereka memang cuma sebatas partner satu ranjang saja―di masa lalu, lho―, tapi Rangiku selalu jadi tempat sampah pria berambut terang itu kalau dia sudah benar-benar pusing. Model internasional ini juga tahu soal gadis yang berada dihadapannya kini―gadis yang tinggal dengan Ichigo karena ingin mencari kakak kandungnya. Rangiku tahu benar kalau pemilik iris hazel tersebut punya perasaan khusus pada Rukia. Buktinya saja, Ichigo tidak pernah sekali pun berbuat kurang ajar pada gadis manis ini. Dia malah menjaga Rukia layaknya seorang tuan putri yang begitu terhormat. Bahkan Rangiku tertawa terbahak sekeras-kerasnya ketika tahu masalah Ichigo dan Grimmjow karena si mungil ini.

Belum pernah Rangiku melihat teman lamanya itu bertempamen seperti gunung meletus karena modelnya dijahili oleh seorang pria. Hanya karena ciuman saja, Ichigo sampai ngamuk berhari-hari. Sudah jelas pria itu memang ada sesuatu pada gadis ini. Meski dia tetap menyangkal bahwa dia hanya ingin melindungi Rukia sebagai adiknya. Model sensual tersebut langsung berteriak bullshit yang dihadiahi Ichigo tatapan membunuh yang sanggup meruntuhkan gedung pencakar langit jika saja ada laser beamnya. Akhirnya Rangiku menyerah untuk menggodanya lagi. Melihat Ichigo yang menahan diri selama ini sudah terlalu kasihan. Bayangkan saja, tinggal berdua dengan gadis yang lugu, polos dan masih perawan―sungguh bukan cobaan yang mudah.

Tapi... meski menghabiskan waktu untuk belanja semenjak lima jam yang lalu, Rangiku tidak melihat secercah sinar pun di wajah gadis cantik dan mungil ini. Dia berubah murung dan pendiam sekali. Bahkan ketika pemilik mata sapphire ini iseng menyuruhnya memakai bikini, Rukia menurut saja. Rangiku menduga kalau gadis ini tengah memikirkan sesuatu.

"Maaf, ada lagi yang mau dipesan?"

Rangiku terlonjak kaget ketika menyadari pelayan itu mencoba menanyakan pesanan Rukia yang masih duduk diam di hadapannya dengan tatapan kosong.

"Cutie? Kau mau pesan apa?" ulang Rangiku seraya menyentuh tangan remaja berperawakan pendek tersebut yang terlipat di atas meja.

"Ah-eh? A-aku... samakan saja dengan Rangiku-nee..." bata si gadis.

Setelah pelayan itu mencatat pesanan dan meninggalkan mereka, Rangiku terus memperhatikan gadis yang bagaikan patung tak bernyawa ini. Hari ini ekspresi Rukia agak berbeda.

Apakah ada hubungannya dengan cerita Ichigo baru-baru ini?

Kata fotografer terkenal itu, Rukia tidak lagi menyapanya seriang biasanya. Si gadis juga mengurung diri di kamar seharian bila tidak ada jadwal. Dan hari ini karena tidak ada perkerjaan, Rukia sudah bersiap menjadi hikikomori dadakan tapi tidak jadi karena Rangiku langsung memanfaatkannya untuk menemaninya―menculik tepatnya―shopping. Ichigo memang sedang sibuk dengan beberapa proyek besar. Mempersiapkan pameran, sih katanya.

"Ahh! Ichigo!" seru sang supermodel sambil melambai ke arah belakang Rukia.

Kontan saja gadis ini terbelalak kaget kemudian wajahnya berubah panik dan gemetar. Sikapnya terlalu terkejut dan tidak wajar.

"Bohong kok. Ada apa, sih? Wajahmu seperti langit yang mendung berhari-hari," tanya Rangiku, mencoba mengorek informasi sembari bersikap bersahabat.

"Tidak ada... apa-apa..." lirih Rukia.

"Kalau kau bilang begitu pasti ada apa-apa. Ayolah~ jangan anggap aku seperti orang lain. Kau bisa menganggapku seperti Ichigo atau Ishida. Apa kau tidak suka punya kakak perempuan sepertiku?" rajuk Rangiku.

Rukia mengangkat wajahnya panik.

"Ehh... bu-bukanbegitu, nee. Aku senang kok. Sangat senang... hanya saja..."

"Hanya saja?" kejar Rangiku.

"Beberapa waktu lalu... ada seorang gadis berambut merah yang tidak kukenal. Dia... mengatakan sesuatu soal... Onii-chan..."

Wanita bertubuh sintal tersebut berdecak kesal. Riruka! Orang itu mau jadi parasit sampai kapan, sih? Dasar gulma!

"Sudahlah. Kau jangan dengarkan dia. Anggap saja angin lalu dan―"

Rukia meneruskan penuturannya, tak kuat menahan beban di hatinya lebih lama lagi. "Tapi... sudah banyak orang yang mengatakan hal seperti itu tentang Onii-chan. Apa benar... Onii-chan... playboy yang suka... tidur dengan... sembarang wanita?"

Rasanya dunia di sekeliling Rukia ikut runtuh saat mengatakan hal itu. Dia tidak ingin bicara seperti ini, sungguh... ketakutan di hatinya kembali merongrong habis rasa kepercayaannya –namun rasa ingin tahu itu juga merajai benaknya.

Rangiku menggigit bibir bawahnya―bimbang. Tidak seharusnya kenyataan ditutupi. Hanya saja, wanita blonde itu berharap ketika Rukia mengetahuinya, maka dia bisa mempertimbangkan semuanya sendiri tanpa perlu dipengaruhi omongan orang lain. Wajar bila pemilik manik amethyst ini sangat bingung. Karena dia memang tidak tahu apapun soal pria itu.

"Cutie... Ichigo itu... memang begitu. Selama ini... sebelum membawamu kemari... entah sudah berapa gadis yang dia tiduri."

Hati remaja itu langsung mencelos. Jadi... jika Rukia tidak pernah datang, mungkin Onii-chan masih akan melakukannya. Dan dia tidak yakin... apa benar selama ini―setelah dirinya hadir dalam hidup si pria―Ichigo tidak lagi tidur dengan wanita sembarang.

"Tapi!" Rangiku bersikeras menjelaskan duduk perkaranya sebelum kesalahpahaman gadis ini membuat semuanya makin rumit, "Dia bukannya tidur dengan wanita sembarangan. Aku tahu mengatakan hal ini juga tidak ada gunanya. Tapi ini bukan salah Ichigo, sayang. Jaman sekarang ini... entah itu ciuman, pelukan atau seks sekalipun... itu bukan hal aneh lagi. Itu sudah biasa. Apalagi di kota besar seperti ini. Kau yang datang dari desa, tentu saja tidak bisa menerima kebiasaan seperti ini."

Sudah pasti. Gadis kampung seperti dia tak dapat menerimanya. Hatinya... terlanjur sesak dan sakit. Sangat... sakit. Dia tak percaya Onii-channya ternyata seperti itu. Tetapi... kenapa perasaan Rukia jadi begini sakit?

"Dengar... aku tidak tahu apa ini bisa menjernihkan pikiranmu atau tidak saat kau terlanjur tahu Ichigo itu seperti apa. Tapi... setelah kau datang, Ichigo tak pernah lagi seperti itu. Dia juga tidak pernah bertemu dengan wanita mana pun lagi. Bahkan dia mengabaikan semua panggilan wanita yang biasa tidur dengannya. Ichigo... sudah berubah, Cutie... karena ada dirimu. Jadi, jangan pikirkan omongan orang lain lagi."

Sudah cukup. Rukia tidak lagi mendengarkan satu patah kata pun yang dicerocoskan Rangiku. Nasehat tersebut seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri, karena dirinya sudah tenggelam dalam lamunannya sendiri.

Rasanya... menyesal sudah Rukia datang ke kota ini.

.

.

*KIN*VOI*

.

.

"Kau baru pulang?"

Rukia tertegun di pintu masuk apartemennya. Setelah wanita bermarga Matsumoto itu mengantarnya hingga di lobi apartemen, memastikan gadis itu baik-baik saja, Rukia melangkah masuk dengan tiga kantung belanjaan. Bukan gadis mungil ini yang beli, tapi Rangiku. Semua ini baju dan sepatu limited edition yang sangat disukai si supermodel―tapi dengan ukuran yang lebih kecil agar bisa dipakai Rukia. Dan lagi-lagi model berparas manis ini tak bisa menolaknya.

Ichigo duduk di sofa ruang tamu dengan beberapa kamera dan laptop-nya berserakan di atas meja kopi pendek itu. Rukia masih mematung di ambang pintu. Lalu kemudian melepas sepatunya dan berganti dengan sandal rumah Chappy-nya.

Tanpa mengindahkan pria yang menunggu responnya, remaja berambut hitam tersebut terus berjalan menuju pintu kamarnya.

"Rukia? Kau kenapa?"

Kini suara Ichigo kian mendekat kepadanya. Rukia berdiri membelakangi Ichigo sambil menggengam erat kenop pintunya.

"Tidak apa-apa, Onii-chan. Aku... aku cuma lelah. Aku tidur duluan."

Dan ketika pintu kayu itu ditutup, gadis yang dilanda kegalauan tersebut langsung menjatuhkan kantong belanjaannya dan terduduk di atas kasurnya. Dia sekarang makin tidak sanggup menatap pria berambut orange itu secara langsung.

Kenyataan ini terlalu berat untuk diterimanya. Dia tak pernah berpikir kalau Ichigo ternyata seperti itu. Khayalannya tentang Onii-chan yang sangat disukainya itu... membuatnya kecewa luar biasa.

Sambil memeluk boneka Chappy pertama pemberian Ichigo, Rukia mencoba meredam suara gemetar yang timbul dari gemeretak giginya. Dadanya masih sesak.

.

.

*KIN*VOI*

.

.

Ichigo termangu di depan pintu kamar gadis cantik itu.

Awalnya setelah kejadian ciuman-Grimmjow-sialan itu, pria tinggi tersebut bermaksud mendinginkan kepalanya dengan menjauhkan diri dari Rukia sejenak. Kalau melihat si gadis kala itu... rasa panas dan amarah segera menjalar ketika mengingat wajah sedih Rukia karena pria kurang ajar itu. Karena itu, Ichigo perlu waktu.

Dan dalam kurun waktu itu, malah Rukia yang berbalik menghindarinya.

Jujur saja, Ichigo tak tahan.

Walau pekerjaan mereka sukses dilalui dengan sikap profesional, tapi melihat Rukia yang terkesan mengacuhkannya seperti ini, membuat Ichigo gelisah. Ingin sekali rasanya bertanya langsung ada apa, tapi Rukia terus menghindar. Pernah sekali Ichigo nyaris memaksa gadis itu untuk bicara. Gadis mungilnya memang bertingkah aneh. Pria bermata hazel tersebut hanya takut, Rukia bermasalah dengan Grimmjow seperti waktu itu! Bayangan kalau bibir kecil itu disentuh lagi... membuatnya langsung panas dan ingin menghancur sesuatu berwarna bitu dengan seringai menyebalkan.

Tapi ketika Ichigo hampir memaksanya saat itu, sang gadis hanya terdiam dan memohon untuk tidak bertanya apapun padanya. Rukia bahkan nyaris menangis karena tidak mau mengatakan apapun pada pria yang dipanggilnya Onii-chan ini.

Sekarang tingkat frustasinya bisa membuat kepalanya mendidih seperti cerobong kereta api.

Ichigo benar-benar tidak tahu ada apa dengan gadis itu.

Hanya berharap... Rukia tidak mengalami sesuatu yang menyakitkan lagi.

Sang pemuda kembali duduk di sofanya. Pintu kamar Rukia akan tetap tertutup. Dan Ichigo tak berani untuk membukanya. Entah apa yang dilakukan olehnya.

Ichigo sempat khawatir karena gadis itu terus mengurung diri. Tapi dia juga tidak ingin membebani Rukia dengan memaksanya bercerita. Rukia tak bisa dipaksa. Semakin dipaksa, dia akan semakin tertekan.

Selagi asyik berpikir penyebab Rukia bersikap seperti itu, Ichigo membuka sebuah folder di laptop-nya. Laptop yang sama sekali tidak pernah disentuh oleh siapapun. Termasuk Ishida. Karena ada banyak foto pribadi yang Ichigo simpan.

Khususnya, beragam ekspresi candid dari Rukia tanpa sepengetahuannya.

Dan perlu digarisbawahi. Itu bukan foto mesum!

.

.

*KIN*VOI*

.

.

"Kau mau kemana Rukia?"

Ichigo melihat gadis yang tinggal bersamanya itu sudah berpakaian rapi keluar dari kamarnya. Hari ini, sang Kurosaki harus rela budukan di apartemen karena dikejar deadline pekerjaan.

Rukia menunduk dan tetap berdiri di dekat pintu kamarnya.

"Aku... mau keluar sebentar."

"Ke mana? Biar kuantar."

"Ti-tidak usah, Onii-chan. Aku... aku bisa sendiri."

"Berbahaya Rukia. Aku antar," kata Ichigo bersikeras.

"Sungguh tidak usah, Onii-chan. Aku tahu jalannya, kok. Aku juga bisa pulang sendiri. Pekerjaan Onii-chan banyak, kan? Terlebih harus diserahkan besok. Nanti Ishida-nii marah dan Onii-chan... bisa kena masalah," jelas Rukia pelan, bergumam lemah pada akhir kalimatnya.

Ichigo terhenyak sekali lagi. Saat ini dia tidak bisa lebih kesal pada pekerjaan ini.

"Kau mau ke mana?" tanya Ichigo sekali lagi.

"Tidak jauh dari sini, Onii-chan."

"Kau bawa ponselmu?"

Rukia mengangguk pelan.

"Kalau kau sudah selesai, telepon aku. Nanti aku jemput," amanat si pria tegas.

Sekali lagi sang model mengangguk dan langsung keluar dari apartemennya. Rukia sadar, Ichigo masih memandanginya hingga Rukia benar-benar tersembunyi di balik pintu.

Rukia masih tidak sanggup melihat Onii-channya.

Rasanya... masih begitu sakit dan sesak.

.

.

*KIN*VOI*

.

.

Rukia turun dari busnya.

Dia ingat pernah melewati sebuah museum seni di dekat apartemennya. Hanya sekali naik bus. Dan jalannya juga tidak begitu rumit.

Sudah lama Rukia tidak melihat-lihat museum. Sejujurnya, Rukia suka benda peninggalan sejarah yang cantik-cantik. Mungkin karena terbiasa dengan kakeknya yang senang dengan guci antik dan senapan kuno yang langka.

Gadis Kuchiki itu melangkah masuk ke museum.

Saat ini saja. Dia benar-benar ingin sendirian. Karena tidak tahu harus menemui siapa, Rukia memilih pergi jalan-jalan sebentar sembari melepas penat. Kalau biasanya dia merasa sedih, ada Renji yang selalu sanggup membuatnya tertawa. Tapi... dia belum bisa pulang ke Karakura sekarang.

Sambil memegang brosur museum dan menenteng tas tangannya―tas berbulu dengan bordir Chappy si sisinya―, Rukia berjalan gontai. Entah kenapa dia begitu tak bersemangat melakukan apapun.

Pikiran model dengan nama Lucia tersebut kembali menerawang. Seandainya Ichigo memang begitu, Rukia ingin mengetahui dari orangnya langsung. Dari mulut Onii-channya sendiri. Tapi sepertinya... akan jauh lebih menyakitkan jika mendengarnya dari bibir orang itu saat mereka bertatap muka.

BRUUK!

Rukia terkesiap pelan saat bahunya ditabrak. Sepertinya bukan ditabrak, tapi menabrak. Salahkan dirinya yang tidak fokus dengan apa yang di depannya.

"Maafkan aku," ujar Rukia sambil menundukkan kepalanya sedalam mungkin. Ajaran tata krama dari sang kakek mengalir kuat dalam darahnya.

"Lucia?"

Terkejut dirinya dipanggil begitu oleh orang yang ditabraknya.

Ketika menengadahkan kepalanya, Rukia tersentak melihat sosok yang dikenalnya.

"Ulquiorra... Schiffer... nii-san?" kata Rukia memastikan. Kalau tidak salah, namanya begitu.

"Ternyata ini benar kau."

"Nii-san... sedang apa?"

Ulquiorra berjalan di sisi Rukia seraya memperhatikan banyak lukisan yang tergantung manja di dinding museum ini. Diawali pertemuan tak sengaja itu, penyanyi berkulit pucat itu mengajak sang model untuk berjalan bersama-sama. Akan tetapi, Ulquiorra tidak menemukan sosok cerianya seperti biasa. Setelah insiden kecil tadi, Rukia langsung bersikap murung. Dia memang mengamati lukisannya, tapi tatapannya kosong dan sedih―seolah ada dimensi lain yang mengabuti pandangan matanya, seakan dia tengah terbebani oleh suatu masalah.

Pelantun tembang yang video klipnya digarap bersama gadis di sebelahnya ini tak pernah melihat wajah si gadis berubah begini menyedihkan. Selama bekerja dengannya, Ulquiorra tahu benar kalau gadis ini adalah gadis yang begitu ceria. Jujur, terlampau polos dan agak bodoh juga. Tapi bukan tipe yang dibencinya. Bahkan secara pribadi, pemuda dengan tinggi cuma 169 senti tersebut menyukai cara gadis ini tersenyum. Seakan dirinya sudah mengenal baik gadis manis ini. Hanya saja... Ulquiorra belum bisa memastikan kenyataan itu.

"Hei, hati-hati," ujar Ulquiorra sambil memegangi lengan gadis cantik itu.

Rukia tersandung sesuatu―lagi, untuk kesekian kalinya―dan nyaris terjerembab di lantai jika tidak ditahan oleh pemuda beriris hijau gelap ini.

"Oh... Terima kasih," katanya pelan. Tapi raut wajahnya tetap murung dan sedih.

Dia sudah capek-capek ke museum, tapi wajahnya tidak terlihat gembira sedikitpun. Sebenarnya ada apa dengan gadis ini?

"Kau... mau minum kopi denganku?"

Rukia menoleh ke belakang saat pria berambut senada dengannya ini mengatakan tawaran itu. Setelah bimbang sesaat, pemilik mata ungu kelabu tersebut menyetujuinya. Pria ini adalah orang baik. Tidak seperti pria berambut biru menyebalkan itu!

.

.

*KIN*VOI*

.

.

ARRGGGHH!

Ke mana Rukia sebenarnya?

Ichigo mengacak-acak foto yang baru saja dicetak di kamarnya. Hatinya tidak tenang. Jika Rangiku yang membawa Rukia ke mana-mana seperti biasanya, pemuda berambut jabrik tersebut tidak perlu khawatir. Dijemput dan diantar hingga lobi atau pintu apartemen―kadang juga bisa terdengar teriakan menggema dari manager cebolnya yang berambut putih. Sekarang ini, Rukia sendirian dan tidak tahu ke mana rimbanya. Memang gadis mungil itu tidak suka apabila Ichigo terlalu mengkhawatirkannya. Tapi bagaimana pun pria bujang itu tetap cemas.

Ichigo memutuskan untuk menelponnya. Tapi kemudian gerakan tangan di ponselnya terhenti. Dipikir-pikir lagi, Rukia baru keluar sepuluh menit yang lalu. Apa tidak aneh jika Ichigo langsung menghubunginya sekarang?

Argh! Bagaimanapun dia tidak konsentrasi kerja sekarang ini. Duduk berjam-jam pun dijamin pekerjaannya juga tidak akan kelar.

Apa... Ichigo menyusul Rukia saja?

Menyusul...

Rasanya itu bukan ide yang buruk. Sekalian menanyakan pada gadis itu ada masalah apa sebenarnya. Dan Ichigo tidak ingin lagi mendengar jawaban tidak ada apa-apa dari gadis itu.

.

.

*KIN*VOI*

.

.

Rukia menerima sebuah gelas kertas berisi coklat hangat.

Setelah mengucapkan terima kasih, pria bermuka tembok itu sudah duduk di sebelah si gadis. Mereka memutuskan duduk di bangku panjang yang setia di taman museum.

Beberapa pohon mulai berguguran. Daun kering berwarna cokelat itu menari waltz dengan riang ke sisi Rukia. Rasanya sungguh menenangkan. Untuk sesaat, dia bisa melupakan beban pikiran yang beberapa hari ini menumpuk dalam benaknya. Selama ini, dia tidak pernah berpikir apapun mengenai Onii-channya. Tapi, ketika dihadapkan pada fakta seperti itu, Rukia juga jadi resah. Dia hanyalah gadis lugu yang sederhana. Pola pikirnya juga masihlah seperti orang desa pada umumnya. Dia tidak bisa begitu saja menerima fakta mengenai pria metropolitan itu.

Dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Ichigo bisa seenaknya tidur dengan bermacam gadis lain. Bahkan, hal ini harus Rukia ketahui dari orang lain.

"Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu, ya?"

Tanpa sadar Rukia mengangguk pelan. Seperti robot yang bergerak dengan perintah otomatis. Dia masih belum begitu fokus pada hal lain kecuali pikirannya.

"Kalau kau tidak keberatan, apa aku boleh tahu?"

"Ini... soal Onii-chan," sahutnya pelan.

Ulquiorra tertegun. Hanya satu orang saja yang Rukia panggil Onii-chan dengan nada seperti itu.

Kurosaki... Ichigo kah?

"Kurosaki-san?" kata Ulquiorra memastikan.

Lagi-lagi jawabannya hanya anggukan kepala. Tatapannya masih menjelajah ruang tak nyata daripada jalanan di depannya itu. Kepalanya semakin tertunduk. Tangannya yang menggenggam gelas kertas itu gemetar pelan.

"Kenapa dengannya?" tanya Ulquiorra.

"Kenapa... kenapa Onii-chan seperti itu? Aku... aku tidak habis pikir... kenapa Onii-chan selama ini seperti itu. Padahal... padahal aku..." ungkap pemilik tinggi badan 144 cm tersebut. Nadanya lesu dan ucapannya terbata.

"Maksudmu, kau baru tahu seperti apa sosok Kurosaki Ichigo itu sebenarnya?"

Bukan rahasia lagi kalau sosok fotografer terkenal itu adalah seorang playboy kelas berat yang selalu tidur dengan puluhan―ratusan?―wanita. Di dunia hiburan, artis dan model, hal itu sudah lumrah. Ulquiorra juga tahu hal itu dari agensinya. Dia tidak menyangka kalau gadis ini tidak tahu apapun mengenai pria bermarga Kurosaki itu. Padahal, pemuda yang wajahnya lebih menyerupai pahatan es tersebut yakin, Rukia sudah cukup lama tinggal dengan Ichigo.

"Aku tidak menyangka, Onii-chan yang selama ini kusukai... kukagumi... ternyata sosok yang tidak bisa kuterima. Walaupun bagi kalian itu adalah hal biasa, tapi bagiku... itu hal yang membuatku kecewa. Aku tidak ingin memikirkannya. Tapi... ternyata sulit," jelas Rukia. Setiap kali mengatakan hal ini membuat nafasnya tercekat parah.

"Apa... dia sudah menyakitimu?"

"Tidak. Onii-chan tidak pernah menyakitiku. Tapi..."

"Apa kau pernah melihatnya tidur dengan wanita lain?"

"Tidak..." lirih Rukia sambil memperhatikan hijau zamrud yang memperhatikannya begitu lembut.

"Apa kau pernah melihatnya, selama bersamamu, selalu membawa wanita lain pulang ke apartemennya dan berkencan dengan wanita itu?"

"Tidak..."

"Kalau begitu tidak ada alasan untukmu tidak menerimanya, bukan? Kau tidak pernah melihatnya dengan mata kepalamu sendiri dia melakukan semua hal yang kau dengar. Itu hanya opini publik mengenai Kurosaki Ichigo. Andaikan saja dia memang seperti itu, tetap saja itu tidak menjadi alasan untukmu kecewa padanya. Karena selama bersamamu, bukankah dia tidak pernah melakukan semua hal yang kau pikirkan itu."

Rukia terdiam. Perkataan pria di depannya ini memang benar. Ichigo tidak pernah sekali pun meninggalkannya untuk wanita lain. Pria bersurai jingga itu bahkan senantiasa berada di rumah ketika tidak ada pekerjaan―hanya untuk menghabiskan waktu bersamanya. Satu-satunya wanita yang berada di dekat Ichigo selama ini... hanya dirinya.

Kenapa... Rukia tidak pernah berpikir begitu?

"Masa lalu bukan alasan untuk membenci seseorang. Ada hal yang tidak bisa kau hapus dari seseorang. Tapi... kau bisa mengubahnya perlahan-lahan."

Entah kenapa sosok Ulquiorra kini terlihat begitu lembut di mata Rukia. Seperti seorang kakak yang begitu pengertian. Kata-kata yang menenangkan sekaligus memberinya semangat baru. Perasaannya... begitu nyaman. Sangat nyaman.

"Kalau perasaanmu goyah hanya karena mendengar berita buruk tentangnya, artinya kau tidak tulus mencintainya."

Kalimat terakhir tersebut dengan segera menggemparkan seluruh eksistensi Rukia. Cinta? Mencintai... Onii-channya?

"Jadi... aku harus bagaimana?" bisiknya lebih kepada dirinya sendiri, tapi disalahartikan oleh entertainer muda di sampingnya sehingga dia kembali angkat bicara.

"Ikuti kata hatimu. Kau pasti bisa mempertimbangkan semuanya dengan baik. Jangan menilai seseorang dari luarnya saja. Tapi lihat hatinya. Jika kau mencintainya tanpa melihat masa lalunya, itu baru namanya ketulusan. Karena masa lalu, tidak bisa menilai seseorang. Semua orang bisa berubah. Termasuk dia. Jadi... kenapa kau tidak mulai sesuatu yang baru dengannya?"

Memulai sesuatu yang baru?

Itu benar. Rukia mencintai Ichigo. Kebaikannya. Kehangatannya. Wajah tampannya saat dia memotret―mengingat yang satu itu membakar pipi Rukia hingga matang. Amber indahnya. Perhatiannya hingga sikap protektifnya―yang kadang agak merepotkan. Semuanya... gadis yang baru menyadari perasaannya itu mencintai semua yang ada pada Onii-channya tersebut!

Rasa kecewa dan sakit hatinya ketika Ichigo hanya menganggapnya seorang adik, lalu... saat dia tahu tentang hubungannya dengan banyak wanita di masa lalu. Semua itu semata karena Rukia jatuh cinta pada pria yang hanya karena satu panggilan telpon segera melesat mengunjunginya, rela membawa dia ke Tokyo demi mencari kakak kandungnya, tak jenuh membantunya tanpa peduli situasi seperti apa pun, segala hal yang telah dilakukan pria itu demi dirinya.

Masa bodoh dengan masa lalunya. Onii-channya tentu bisa berubah, kan? Sekarang pun, bukankah dia sudah tidak seperti dulu lagi?

Gadis beriris cantik ini tulus pada perasannya. Sangat tulus. Maka sudah semestinya perasaanya tidak terombang-ambing semudah ini. Soal masa lalunya... bukan alasan untuk membuat Rukia berhenti menyukai―tidak, mencintai Onii-channya.

Rukia berdiri dari tempat duduknya. Dia ingin segera kembali dan menemui Ichigo. Perasannya begitu menggebu-gebu untuk menatap hazel tersebut.

Saat berbalik dia menemukan Ulquiorra sudah ikut berdiri di belakangnya. Rukia membungkukkan kepalanya serendah mungkin.

"Terima kasih banyak. Berkat Nii-san, aku tidak berpikir macam-macam lagi. Terima kasih banyak," kata Rukia ceria. Kini Ulquiorra dapat melihat senyum cerah gadis berambut hitam ini lagi.

"Bukan masalah. Lain kali kau bisa bercerita apapun padaku lagi," tawar Ulquiorra. Pemuda dengan sikap dingin sepertinya bersedia menjadi tempat sampah gadis ini? Ada apa dengan dirinya? Padahal jarang sekali―mungkin bisa dihitung dengan jari―pria pucat itu berbicara panjang lebar seperti tadi. Akan tetapi... dia tidak ingin membiarkan gadis di hadapannya ini bersedih lebih lama, barang satu detik pun. Sama sekali tidak.

"Benarkah? Senangnya. Maaf sudah merepotkanmu."

"Tidak merepotkan. Aku justru senang. Kau bisa datang lagi padaku kalau kau membutuhkanku. Aku siap mendengarkan semua masalahmu, Lucia," sahut Ulquiorra sunguh-sungguh.

"Terima kasih. Tapi... namaku bukan Lucia."

Ulquiorra tertegun mendengarnya.

"Bukan... Lucia?"

"Itu nama panggung yang diberikan Onii-chan. Katanya selama aku di dunia hiburan, aku harus memakai nama itu. Tapi namaku yang sebenarnya adalah Kuchiki Rukia. Salam kenal," ungkap sang gadis dengan senyum manisnya. Tak menyadari badai apa yang ia labuhkan pada lawan bicaranya.

Ekspresi Ulquiorra semakin menjadi.

Kuchiki... Kuchiki...

"Kau... Kuchiki Rukia?" tanya pemuda berwajah stoic itu diliputi keterkejutan yang amat sangat.

Rukia mengangguk tegas. Namun belum sempat dia bereaksi lebih jauh –karena terbengong hingga beberapa menit- Ulquiorra tak menyadari gadis itu telah pamit padanya untuk langsung pergi menerima telepon yang mampir di ponselnya.

Kuchiki Rukia...

Gadis itu... Kuchiki Rukia.

Kenapa... Kuchiki Rukia bisa ada di sini?

"Ternyata... itu kau..." bisiknya tak percaya

.

.

*KIN*VOI*

.

.

Cih! Dasar manager sok ngatur!

Sembari melarikan mobil sport electric blue-nya, pemilik rambut senada dengan langit tersebut merutuk Starrk Coyote―manajer malas yang tanpa berkeperimanusiaan menjadwalkan pertemuan sepagi ini padahal dia masih menderita hangover karena acara minum-minumnya semalam.

Dengan wajah yang lebih mirip zombie daripada seorang top model, Grimmjow sekali lagi mengumpat kasar sambil menganiaya klakson mobilnya. Azurenya memicing karena tersiksa terik matahari padahal sunglasses kesayangannya sudah bertengger manis di cuping hidungnya. Hari ini rasanya akan berjalan menyebalkan untuknya.

Tak disangka, sesuatu menarik perhatiannya. Sesosok gadis yang tak pernah bosan mengganggunya akhir-akhir ini secara kebetulan melintas –berlari?- di trotoar seberang. Memang jalanan sedang lenggang karena masih jam orang-orang sibuk di kantor atau melakukan aktivitas sehari-harinya, sama sekali bukan karena Grimmjow tak henti memikirkannya hingga bisa mengenali gadis itu sekali pandang.

Penasaran―bukan karena perasaan ingin bertemu yang tak mampu dibendungnya (rindu?)―, model bertubuh atletis tersebut segera mengemudikan mobilnya menuju u-turn terdekat. Sampai kemudian punggung princess mungil itu berjarak beberapa puluh meter dari moncong kendaraan roda empatnya, Grimmjow memperlambat lajunya. Kalau cuma bermaksud menyapa, tidak ada masalah, kan?

Dengan mental seperti itu, pria yang sering nampang di cover majalah tersebut pelan-pelan mendekati si gadis.

.

.

*KIN*VOI*

.

.

Perasaan Rukia begitu meluap... seolah seluruh dirinya akan meledak hanya karena rasa cintanya melimpah tumpah ruah. Sampai tak sadar dia terus memompa kakinya menuju kompleks apartemennya padahal ada alternatif bus.

Lalu ada sebuah mobil parkir di sampingnya dan keluarlah...

Seorang pria tinggi berjaket tebal menghampirinya. Topi rajut menutupi seluruh kepalanya hingga leher, kacamata hitam trendi menutupi matanya yang intens menatap gadis di hadapannya. Kerut alis berwarna nyentrik seperti rambutnya menyembul di balik lensa.

"Kau mau ke mana?" tanya pria yang berdiri tepat di depannya.

Hati Rukia yang masih bercampur aduk membuat lidahnya kelu menjawab pemuda berbahu lebar tersebut. Ungu kelabunya berkaca-kaca, sedikit lagi akan memproduksi kristal bening yang indah. Karena dia tidak sedih... Tidak. Dia bahagia.

Tubuh mungilnya dengan segera berhambur ke dalam dada pria itu―membuat si pria kaget bukan main. Lengan kecilnya melingkar sempurna hingga jemarinya mencengkram kuat kain penghangat tersebut di bagian belakangnya. Air matanya meleleh sudah di pipinya. Sekali lagi Rukia katakan... ini karena dia merasa amat bahagia!

"Onii-chan..."

Ichigo panik setengah mati. Kenapa gadis ini menangis? Apa ada yang menjahatinya? Atau jangan-jangan karena Rukia terlalu manis sehingga tadi ada anjing besar yang ingin mendekatinya tapi justru membuatnya ketakutan? Sungguh ada beribu alasan konyol melintas di kepala orange itu. Pantas saja beberapa orang menyebutnya sebagai 'jeruk bodoh'.

Membiarkan pintu sedan hitamnya terbuka, Kurosaki muda tersebut balas memeluk gadis kecilnya. Mengusap surai sehalus sutra itu sambil membisiki kata-kata yang diharapkannya ampuh menenangkan model kesayangannya.

"A-aku... ingin me-mengatakan... sesu-atu pa-pada... Onii-chan...," ungkap Rukia sedikit sesungukan.

"Sudah... tenang dulu. Nanti baru bicara."

Remaja cantik itu menggeleng. "A-ku... ingin bilang... se-sekarang..."

Menggengam pundak ringkih tersebut saat si gadis menjauhkan wajahnya tanpa melepas pelukan eratnya, Ichigo meneliti raut Rukia yang meski dihiasi jejak tangis namun bola matanya berpendar cantik, seulas curva parabola sempurna tersungging di bibirnya.

"A-aku... mencintai Onii-chan..."

Seperti ada petir di siang bolong menyambarnya dari pangkal kepala menembus hingga tanah tempatnya berpijak, tiga kata sederhana tersebut sanggup menjungkirbalikkan seluruh dunianya.

Cinta...?

Rukia... dan dirinya?

Dalam bola mata violet tersebut ada cahaya yang tak pernah ditemukan Ichigo di mana pun. Dan sinar ini lahir untuk dirinya. Hanya miliknya.

Entah setan apa yang merasukinya... pria yang belum melepas kacamatanya tersebut menerkam leher sang gadis dan menyergap bibir pink yang kini begitu menggodanya―bibir yang melafalkan mantra keajaiban terindah yang pernah diketahuinya.

Dan dia sama sekali tidak menyesal.

Betapa lembut bibir itu menyapanya, hingga menekan sekuat bagaimanapun rasa ingin yang membakar dirinya tak kunjung terpenuhi. Hingga lidahnya menerobos untuk menyesap madu paling manis di dunia atau matanya yang kuat terpejam untuk membantunya berkonsentrasi penuh pada sensasi yang dinikmatinya saat ini... semuanya tidak cukup memuaskan untuk gairah yang meledak-ledak dalam sanubarinya.

Tidak menyadari gadis berambut raven tersebut membelalak lebar. Tak percaya atas reaksi yang diterimanya ini. Malu menciptakan semburat merah tua di pipinya saat merasakan otot lembek mengeliat liar dalam rongga mulutnya.

Tidak menyadari... sepasang mata biru melotot nyalang dengan amarah membakar seluruh nadinya. Jantungnya memompa kuat karena paru-parunya merintih protes terlalu banyak diisi. Buku-buku jarinya memutih di stir kemudi, bersiap menginjak gas sekuat mungkin untuk menghancurkan sesuatu.

Sapuan warna langit melesat cepat ke depan. Ya... hancurkan saja semuanya!

BRAAAKkkkk!

.

.

*KIN*VOI*

.

.

Dengan langkah terburu-buru pemuda kurus tersebut memasuki apartemennya. Dia bermaksud melakukan panggilan luar negeri, ke Amerika tepatnya, untuk memastikan kebenaran yang baru diterimanya tersebut kurang dari sejam yang lalu.

Meski wajahnya masih tanpa ekspresi kilat bola matanya memperlihatkan kegusaran yang teramat. Bahkan jari yang menekan tombol-tombol angka berderet tersebut gemetaran.

Tut...

Kuchiki...

Tut... Tut...

Kuchiki Rukia...

Tu-Klek.

"Halo?"

Suara berat seorang pria di seberang sambungan menyadarkan buaiannya. Manik hijaunya mengerjap beberapa kali, mengumpulkan kesadarannya yang masih terpencar berai.

"Otou-san! Ada hal penting yang harus kubicarakan! Ini tentang Kuchiki Rukia!"

Hening.

"A-apa? Dia ada di Jepang?"

.

.

TBC

.

.

Voidy's note : Roller coaster... seperti peringatan saia di chapter sebelumnya, ini sudah masuk konflik yang bejelimet dan serba jeder-jeder-jeder! Tapi alurnya ga kecepetan kan? Karena bobot ceritanya nambah dengan maknyusnya... saia bikin omake yang seteres dan aje gile. Dalam kepala saia sih banyangannya gitu, sih.

Terus maaf, ya fic ini updatenya lamaaaa banget! Padahal ini sudah nginap di hp saia 2 minggu. Minggu pertama saia sibuk karena event cosplay, minggu kedua tiba-tiba nenek saia masuk RS (yang kebagian tugas nginep di RS nungguin nenek, ya saia). Feel jadi ga enak, banyak oma-oma stroke (nope, nenek saia cuman kurang garam dalam darah). Berjuta maaf deh karena telat bangettt~

untuk Naruzhea AiChi, yah sikap Rukia emang berubah ke Ichi... abis chapter ini juga bakal berubah lagi karena udah cinta. Dani Reykinawa emang misterius! Yah, chapter ini udah tau gimana sikap Ruki kan? Si Grimm entah serius entah main-main, baca aja di chapternya. Nah, amexki chan udah tau perasaannya Rukia, kan? Hush, Zaoldyeck13, soal kakak kandungnya Rukia muncul, sabar aja~ Grimm seringai kan udah jadi ciri khas.

Glomps nakki desinta! Dikau muncul juga! Ehe~ iya, emang untuk masa kecil Ichiruki pake inspirasi dari Ingenuo (Disclaimer: Ryan). Untuk POV chapter pertama itu maksudnya cuma sebagai prolog, sih, jadi ga lanjut. Soal Ulqui... pelan2 akan terbuka kok. Sabar ya, paling chapter depan udah ketahuan tuh. Lebih 'nakal'? Wah, tunggu perasaan Ichiruki betul2 bersambut dulu baru bisa, dong~ eh? Ga melepas karakter asli BLEACH? Baca omakenya dulu, deh, baru komen~ PS: soal antagonis itu saia cuman bercanda, kok. Kayaknya review postnya ada filter ya, ga keluar tanda (~) yang biasa saia pake kalo maksudnya goda2an ato bercanda. (tipe males pake emotion) ah, makasih kembali atas reviewnya.

Wow, Takashima Rizumi bisa mikir Ulqui hilang ingatan! Ehey, tunggu next chap aja, yah. Kim-chi... siapa ya? Maap, saia ngerasa asing dengan nama kamu~! Oh... nih, bom waktunya udah jalan, kan? Dan masih lanjut, loh. Yah... prosedurnya seperti yang kamu bilang kok. 'Napa mau collab juga?

.

SPECIAL DISCLAIMER : Semua karakter adalah milik Tite Kubo dan personaliti masing-masing di omake ini jangan diambil pusing.

.

.

CHARA BREAK I

.

.

"Bah! Apa-apaan, nih skrip!"

Maki seorang cowok berambut orange mencolok yang lebih mirip setan jeruk purut. Heheh~ Di depannya ada seorang cewek pendek bermata ungu dan nanas merah yang bertato aneh sedang ramai-ramai duduk di sofa yang mengelilingi meja pendek.

"Ngedumel apa lagi, sih! Berisik, tahu! Dasar stroberi busuk!" hardik si cewek cebol itu.

"Bayangin aja, Rukia! Kita tiba-tiba disuruh ke sini cuma buat meranin fanfic ga mutu kaya gini! Dan kenapa juga gw jadi om-om mesum kaya gini! Gw masih 17 taon! Tujuh belaassss!" pekiknya gaje menghadapi dilema krisis identitas. Ups... bukan ding, cuma lagi stres aja, kok.

"Lha, gw gimana?" balas si cewek yang dipanggil Rukia itu. "Gw harus akting jadi cewek bego, kampungan dan parahnya bisa cinta ama cowok kaya elo. Ihhhh, najis deh!"

"Eh! Siapa juga yang mau ama monster cabe rawit kaya elo! Dan sori, ya, gw ga kaya cowok mesum di fanfic ini! Gw masih 17 taon!" lho? Masih sebut-sebut masalah umur? "Noh, si Renji lebih pantes jadi om-om!"

"WEI! Kenapa gw dibawa-bawa! Jadi remaja cabul, tolol dan ga berkeperimanusiaan kaya gitu aja gw udah ogah meraninnya!" hardik si Renji yang namanya dicatut lebih pantas jadi om mesum tokoh utama fanfic ini.

"Lu emang tolol, ga berkeperimanusiaan dan cabul!" timpal si orange galak.

"APA LU BILANG?"

Wah, aura battlenya udah kental, nih. Ichigo alias stroberi orange versus Renji alias Nanas tatoan.

"UDAAHHH!" teriak si Rukia yang ga tahan lagi ama keributan yang dilempar tangkap, eh... salah, dimusyawarahkan(?) oleh dua jejadian buah ini. Rasanya pengen diblender terus dibagi-bagiin ke warga Jakarta yang sibuk pemilihan Gubernur. Ups... ga boleh nyinggung SARA, ya?

.

.

*KIN*VOI*

.

.

Tiga sekawan yang pas banget membentuk huruk W ini berjalan beriringan bersama. Kenapa huruf W? Coba bayangin Ichigo, Rukia dan Renji jalan bareng. Tinggi, pendek, tinggi. Udah ngebikin huruf W dengan porsi badan mereka, kan?

"Serius, deh! Karakter di sini semua salah casting kali, ya. Masa Rukia jadi cewek manis, imut-imut kaya gitu. Ihhh...," ungkap Ichigo sambil merinding membayangkan adegan yang pernah mereka lalui.

"Puih! Lu juga! Mana ada cowok orange kaya lu bisa jadi fotografer. Terkenal lagi. Tuh, cewek matanya semua pada buta kali," cerca Rukia ga tahan ama Ichigo yang ga capek-capek ngeluh terus, berani menghina seorang Kuchiki lagi.

"Heh, asal lu tau aja, ya. Jadi fotografer mah kecil. Merem juga bisa!"

"Kalo gitu lu coba aja jepret-jepret pake merem. Gw sumpahin lu masuk jurang!" celetuk Renji sebal dengan sok sombongnya si stroberi.

"Wha—"

"KUROSAKI-KUUNNN!" panggil seseorang yang ternyata adalah Orihime bareng dengan Ishida dan Chad.

Dalam hati mereka mengoreksi, ga semua peran salah casting. Orihime adalah contoh nyata.

"Wah~ ternyata berakting itu seperti ini, ya. Aku deg-degan bisa atau tidak melakukan semuanya seperti di naskah. Tapi ternyata menyenangkan juga melakukan hal-hal baru seperti ini."

Komentar Orihime ini sebetulnya ga semuanya setuju, tapi ga tega ngomong blak-blakan soal ketidaksukaan mereka diwajibkan memerankan peran mereka masing-masing. Untuk mengalihkan pembicaraan yang buka suara pertama kali ternyata...

"Kurosaki. Ternyata otakmu memang payah, yah. Berakting saja kau sampai harus diulang berkali-kali."

...Si Ishida yang nyindir langsung jeblus ga pake hati.

Oke, Ichigo akui dengan hati lapang dia memang harus banyak mengulang pengambilan gambar karena... sumpe deh! Ini peran ga banget buat dia!

"Lu mah enakan, Ishida! Sadis nyebelin lu tetep sama. Seengaknya tuntutan peran lu ga susah-susah amat!"

"Jaga mulutmu, Kurosaki."

Kali ini perang dingin antara Shinigami Daiko Kurosaki Ichigo dengan The Last Quincy (yang aliran putih, kalo yang nyerang SS itu aliran hitam, sih) Ishida Uryuu sedikit lagi akan menumpahkan darah kalau saja...

"Ah, tapi Sado-kun belum dapat peran sama sekali, lho."

Yak, celoteh Orihime mengenai satu dari kawanan mereka yang memang belum pernah muncul di fanfic ini –maaf, ya Chad. Padahal Author sayang, kok ama kamu. Cuma belom tahu mau jadiin kamu apaan- sukses menghentikan pertarungan yang hampir terjadi itu.

Tanggapan dari big buddy ini adalah, "..."

Sedikit banyak mereka semua bisa bersimpati pada teman pendiamnya ini. Dapet peran aneh-aneh emang ga enak, tapi ga dapet peran sama sekali, kan kasihan.

.

.

*KIN*VOI*

.

.

Misah dari si babon jabrik, Ichigo dan Rukia meneruskan acara keliling mereka di studio. Dan di ujung lorong yang mereka lewati sekarang ternyata berkumpul tukang palak, ups... bukan, jagoan-jagoan dari divisi 11. Sekali lagi mereka harus menyetujui pilihan casting yang jatuh pada Zaraki Kenpachi, Kusasijhi Yachiru dan Ayasegawa Yumichika. Tak satu pun dari mereka yang mesti akting jauh-jauh, cukup jadi diri sendiri aja.

"HOI! ICHIGO, KITA BERTARUNG!"

Glek!

Maklum atas perintah author, pas ketemu di rumah lama kakaknya Rukia, Kenpachi dilarang ngajak Ichigo berantem dulu. Jadi puasa darah (yang netes akibat hantam-hantaman), deh si ketua divisi 11 ono. Kalo pas chara break, sih ga masalah~

"Maaf, Zaraki-taichou, kami masih ada urusan jadi mungkin lain kali saja," ujar Rukia menengahi. Takut nyawa Ichigo ga sampai setengah pas si beringasan ini selesai urusan ama Berry-tan ini. Ichigo udah sujud sembah syukur sama Rukia dalam hati karena kalo dia yang ngomong malahan ga bakal digubris.

"Yah~ ga seru~!" sambar fukutaichou pinky yang setia nangkring di bahu bapak angkatnya di fanfic ini.

"Betul! Masa belum apa-apa kau sudah langsung mundur dari pertarungan! Kau pria sejati, bukan?" bentak Madarame Ikkaku, si plontos yang belom kebagian peran juga.

Dalam hati, Ichigo mengumpat. Bukan masalah jadi pria sejati atau tidak. Sekarang ini nyawanya bisa terancam bahaya kalo dia menyetujui tantangan taichou sadis begini!

"Ah~ sama sekali tidak cantik. Masa menolak bertarung begitu?" timpal Yumichika sambil mengibaskan rambut salon sehari sekalinya itu. Dasar make up artis gay (Eh, itu cuman peran aja, lho)! Sumpah Ichigo masih di dalam hatinya aja. Meski belom pernah bertarung ama Yumichika, ogah deh nambah rival (musuh bukan, teman juga sangsi) dari divisi 11. Salah ucap bisa-bisa seluruh divisi bakal mengeroyokinya.

"Ehem... pokoknya gw masih ada urusan. Misi!" potong Ichigo langsung ngribrit kaya kebakaran jenggot, eh... tapi kan dia ga punya, kebakaran celana aja deh! (Sadis!)

.

.

*KIN*VOI*

.

.

Belom pulih dari stres ketemu konco-konco divisi 11 sekarang malah nongol lagi kucing biru yang sukanya nyari gara-gara. Ga di canon, ga di fanfic, ga di chara break!

"Shinigami!"

Wah, belom apa-apa udah ngacungin pedang!

"Jelasin kenapa gw harus ikut-ikutan main kaya ginian! Lu jawab ato gw sabet lu!" ancam Grimmjow yang rupanya ga terima disuruh akting dalam fanfic ini.

"Mana gw tau! Tuh, tanya ama Author!"

"Cih! Ga banget deh cerita kaya gini! Mana gw cemburu sama kurcaci cebol kaya gini! Imposibel banget!"

"Hei! Tarik kata-kata lu!" sembur Rukia ga terima dikatain kurcaci plus-plus ama cebol.

"Gw ga mau! Emang lu mau apa?" tantang Grimmjow ga takut.

"APA!"

Kala Rukia sudah siap mempoles habis muka Grimmjow, Ichigo langsung nahan dengan megangin bahunya.

"ICHIGO! LEPAS!" berontak Rukia sembari melancarkan tendangan tanpa bayangan.

"Sabar, Rukia! Dunia ini masih dalam kuasa Author jadi si Grimmjow ga bisa bunuh siapa-siapa di sini! Tapi kalo dunia kita beneran lu udah tewas kalo ngelawan Grimmjow!" nasehat Ichigo masih berusaha nahan Rukia.

Genderang perang sebelah pihak itu masih bertabuh tak kala Rukia masih sibuk menyerang sia-sia sedang Grimmjow terus saja meledek shinigami kuntet tersebut hingga kedua belah pihak memilih mundur sementara.

.

.

*KIN*VOI*

.

.

"Hai-hai~" sapa Rangiku pada duo jangkung kate kita, Ichigo dan Rukia. Di sampingnya, dengan muka nahan mules, berdiri Hitsugaya Toushiro.

"Hmp!" decak sang kapten berambut salju tersebut. Meski kebagian peran sebagai manager fukutaichounya namun penampilan perdananya belum terbit. Sepertinya duet dari divisi 10 ini juga ga perlu repot-repot berakting karena perannya ga jauh-jauh dari keseharian mereka. Terutama teriakan 'MATSUMOTOOO!" khas dari Hitsugaya-taichou. Ga ada yang ngalahin, deh!

Tak jauh dari mereka ada Riruka yang masang tampang jutek tapi tiap berapa detik curi-curi lirik ke hero jeruk mateng kita. Terus Neliel versi gigi ompong lagi kejar-kejaran ama 2 makhluk halus ga jelas –Pesche dan Dondonchakka adalah Hollow, termasuk golongan makhlus halus!-. Tiga cewek buas bawahan Espada nomor 3 juga ramai-ramai lagi berdebat dan adu jotos, terutama Apache dan Milla Rose. Padahal Harribel ama Sun-sun adem-ayem aja tuh. Starrk ngorok di pojok ruang, ga terganggu sama sekali sama paduan suara ribut melengking yang bisa bikin kuping berdenging.

Beda lagi sama kakek Barragan kita.

"Hng! Dasar makhluk tak tahu diri. Beraninya menyuruhku melakukan macam-macam. Kalau bukan karena kekuatan aneh yang membuatku tidak bisa menolah perintah dari orang yang bernama Author itu, sudah kuratakan bangunan ini bersama isinya dengan tanah."

"Betul, Barragan-sama," kompak terpadu para fraccion dari kakek empot itu.

"Tak dapat dipercaya. Dasar kutu!"

"Anda benar, Barragan-sama."

Oke, kita biarkan saja si uban keriput itu ngoceh tanpa henti diiringi senandung bersama bawahan setianya.

Ichigo dan Rukia yang ngeliad semua suasana kacau-balau itu cuma bisa mengurut dada. Kalo menurut mereka, yang paling salah casting pastinya pak tua sadis di seberang sana.

By the way, anyway, busway si vampir pucat kita juga ga keliatan di mana-mana. Hum... baik di dunia fanfic sampe waktunya break, ternyata Ulquiorra tetep jadi sosok yang misterius.

Ya, begitulah chara break pertama ini. Apakah akan ada yang kedua? Semua itu tergantung dari ilham yang mampir kepada saia. Author mengucapkan ciao~ sampai jumlah lagi next chapter!

.

Holaa minna... heheheh semoga gak pada ngamuk gegara terlalu telat update chap ini yaa hehehe... maaf lagi kalo chap kali ini kayaknya, kepanjangan banget hihihi semoga gak pegel yaa bacanya...

saya balas review dulu...

lolaDony : makasih udah review senpai... hehehe iyaa ditungguin aja yaa gimana nasib mereka ehehehe

Anezakibeech : makasih udah review senpai... heheheh iyaa nanti diusahain Ichi gak menderita lagi hihihi

corvusraven : makasih udah review senpai... iyaa ini udah update hehehe

anna chan : makasih udah review senpai... maaf updatenya lama tapi ini udah update hehehe

nenk rukiakate : makasih udah review nenk... eheheh Grimm emang ditugasin buat ngeselin kok jadi sabar yaa hihiii

Naruzhea AiChi : makasih udah review eva... iyaa emang dia tukang onar, makanya dia muncul hihihih

Dani Reykinawa : makasih udah review Dani... ehehehe rasa penasarannya ada di chap ini hihiihi

Nonana : makasih udah review senpai... heheh iyaa ini udah update..

Seo Shin Young : makasih udah review Seo... makasih iyaa ini udah update heheheh

amexki chan : makasih udah review senpai... ehehehe Ruki kan emang suka sama Ichi tapi gak berani bilang hihihii...

Suzuhara yamami : makasih udah review Zuha... ada kok, ini UlquiRuki nyaa hhehehehe

Zaoldyeck13 : makasih udah review senpai... seringaian Grimm kan keren? hihii iyaa ini udah update makasih yaa

Fuji : makasih udah review senpai... eheeh saya suka kok reviewnya. yaa kita liat aja nanti siapa sih Ulqui itu hihihi

beby-chan : makasih udah review beby... hihihi iyaa Ruki kan emang suka sama Ichi, tapi gak berani bilang dulunya hihihi udah liat reaksinya?

hirumaakarikurosakikuchizaki : makasih udah review Aka-chan... maaf yaa agak lama tapi ini udah update hehehe

Dewi Anggara Manis : makasih udah review senpai... eheheh saya juga belum pernah denger sih ihiih ya nanti misteri si Ulqui bakal kebuka kok sabar yaa hihihi

dhiya chan : makasih udah review senpai... ehehehe iyaa di chap ini udah kebuka semua belum yaa? hhehehe

Takashima Rizumi : makasih udah review senpai... maaf gak bisa update cepet tapi ini udah update hehehe iyaa nanti si Ulqui bakal diceritain kok hehehe

Kiki RyuEunTeuk : makasih udah review senpai... heheh sesuai janji saya update hari senin hihihi maaf yaa telat banget...

Cim-jee : makasih udah review senpai... hehehe karena reviewnya dua dan semuanya dari senpai, yaa saya balas satu aja yaa? hihi makasih udah baca fic ini, gak papa kok belum mau baca fic saya. emang chapternya banyak sih hihii kalo gak sanggup, gak usah aja, entar pusing loh hihihi iyaa emang gitu sih prosedurnya, makanya agak lama karena dioper sana sini hihihi

nakki desinta : makasih udah review senpai... heheh gak papa senpai... saya pribadi suka loh sama review yang panjang heheheh makasih yaa...

D Suji : makasih udah review senpai... hehehe iyaa ini udah update...

ok, makasih yang udah rela baca dan review... kalo masih mau lanjut, yaa review aja sih, gak banyak kan? hihih

Jaa Nee!