Disclaimer : Yoshihiro Togashi Hunter X Hunter
Warning : Kurapika trans-gender
Typo(s) kececeran di mana-mana, OOC ngak mungin terlewat, OC-nya nauzubilah aneh. Yang bikin author sarap.
Di sini Kurapika ngak tau nama pimpinan laba-laba.
Don't like, don't read.
Kuroro's POV
"Ku-Kuroro, ada apa ini? Kau bukan seperti Kuroro?" tanya gadis bermabut blonde di depanku. Mata shappirenya menatapku dengan takut-takut. Sedang mata onyx milikku terus menatapnya dingin. Sedingin hatiku saat ini.
"Aku yang dulu malah bukanlah Kuroro yang sebenarnya."
"Bi-bicara apa kau?"
"Kurapika, boleh aku meminta sesuatu darimu?" tanyaku seraya mengeluarkan sebuah buku dengan cover yang memilikki bercak darah. Ia hanya diam menatapku. Mata shppirenya kini membola saat melihatku melepas perban di dahiku.
"Ka-kau..." katanya langsung melompat mundur.
"Boleh aku minta nyawamu?" kataku dingin seraya berjalan mendekatinya. Ia pun dengan segera mengeluarkan rantainya.
"Sejak kapan rantai itu menghilang?" tanyanya siaga. Aku hanya menyeringai tipis.
"Kau tak perlu tahu." balasku seraya mengeluarkan Fun Fun Cloth. Lalu aku mempercepat langkahku. Ku lemparkan kain merah marun itu ke arahnya. Dengan segera ia melompat mundur dan membalas seranganku dengan rantainya. Aku merunduk sebelum benda itu mengenaiku. Dengan cepat aku melompat ke arahnya. Mata scarletnya membulat. Aku menghilangkan Fun Fun Cloth dan mencoba memukulnya berulang kali. Namun di saat itu juga ia berhasil menghindar berulang kali. Ia, hendak mengikatku dengan Daushing Chain. Namun aku lebih dahulu melompat ke atasnya, hendak meyerangnya dari udara. Ku arahkan tinjuan ke arahnya. Namun ia melompat maju.
BRUAK
Alhasil tangan putih pucatku yang di selimuti nen menghantam tanah hingga retak. Sedetik kemudian, aku menyerangnya dari samping. Ia tampak terkejut dengan perpindahan posisiku yang tiba-tiba. Ia memutar tubuhnya dan itu malah membuat pukulanku tepat mengenai perutnya hingga ia terlempar dan menabrak barisan pohon di belakangnya.
"Ugh!" rintihnya mencoba bangkit. Darah mulai mengalir dari sudut bibirnya. Ku lihat ia menatapku tajam dengan mata merahnya yang sangat indah. Namun sayang, keindahan itu akan segera musnah. Akhirnya ia pun pingsan. Aku berjalan mendekatinya. Ku tarik kerah baju Kurutanya. Aku menarik Benz Knife dari sakuku.
Binggung. Itulah yang saat ini aku rasakan. Antara senang dan bersalah. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang hangat mengalir di pipiku. Air mata? Apa-apaan ini? Ku rasakan kini tubuhku bergetar. Entah mengapa aku merasa sakit melihatnya seperti ini. Namun aku harus tetap melaksanakan tujuanku. Dengan ragu aku mengangkat pisauku. Hendak menghujamkannya ke jantung gadis di depanku.
"Dengan ini, dendam Paku dan Ubo terbalas sudah..."
"ANIKI! JANGAN!"
PRANG!
Pisauku terlepas saat sebuah batu menghantamnya. Aku pun meoleh ke arah datangnaya batu tadi.
BYUUUR!
Aliran air yang sangat deras menghantam tubuhku dan membuatku terhanyut. 'A-air dari mana ini?' Pikirku.
Normal POV
Kuroro terhanyut bersamaan dengan ayunan tangan Kay. Lalu gadis bermata emas itu berlari menghampiri tubuh Kurapika yang terbaring lemas.
"KURAPIKA!" teriaknya seraya mengguncang tubuh Kurapika dengan khawatir.
"Uhuk-uhuk! Si-siapa kau sebenarnya?" tanya Kuroro seraya berusaha bangkit. "Imoto?"
"Kau! Apa yang kau lakukan padanya? Aku kan sudah minta padamu untuk menjaganya dan kau bilang 'iya'. Tapi kenapa kau malah hendak membunuhnya? Mengingkari janji dan menyerang perempuan, Apa kau masih pantas di panggil laki-laki, HUH? BAKA ANIKI?" teriak Kay jengkel.
"Diam! Dia sudah membunuh Paku dan Ubo." Balas Kuroro membentak.
"Lalu bagaimana denganmu? Tak sadarkah kau? Kau sudah mebantai klannya!" balas Kay tak mau kalah.
"Itu-"
"Lagi pula... aku tahu... kau mencintainya 'kan!" terka Kay "Tapi kenapa kau melukainya?"
Kuroro yang mendengar kata-kata Kay terdiam. Ia berdiri tegak dan berjalan menghapiri kedua gadis yang tak jauh darinya. Kay meletakkan tubuh Kurapika dan berjalan mundur. Mata emasnya menatap Kuroro dengan waspada. Kuroro mendudukan tubuhnya di hadapan Kurapika. Lalu dengan segera di peluknya tubuh mungil Kurapika.
"Gomen, Kurapika! Gomenasai! Aku benar-benar bodoh! Gomen!" ucapnya terisak. Kemudian ia melepaskan pelukannya dan menyandarkan tubuh Kurapika di batang pohon.
"Siapa kau sebenarnya, Kay?" tanya Kuroro tanpa melepaskan pandangannya pada wajah manis Kurapika.
"Aku?" Kay melepaskan kotak lens emasnya. Dan tampakalah mata Onyx sehitam langit malam. "Aku hanya seorang Blacklist Hunter yang baru saja menyelesaikan misinya."
"Bukan begitu." Kuroro memutar badannya dan menatap sosok Kay. "Apa kau Kay Lusifer? Imotoku?"
"Kalau sudah tahu kenapa masih bertanya?" kata Kay kesal. "Payah sekali baru menyadarinya, aniki baka!"
GYUUT
"Hei-hei! Salah sendiri kau mengubah warna matamu itu." Protes Kuroro menarik pipi Kay. Kay menepis tangan Kuroro dan menunduk.
"Kay..."
"Baka! Kau tahu? Aku melakukan hal itu untuk melindungi diriku dari para Blacklist yang memburu keluarga Lusifer. Sejak kau membunuh ka-sama, otou-sama, dan nee-sama, aku jadi harus lari sendiri. Apalagi saat kau sudah terkenal sebagai 'Kepala Ryodan', aku makin kesusahan tahu! Karena itu aku mengubah warna mataku. Aku..." kalimat Kay terputus saat tubuh mungilnya merasakan dekapan hangat. Dekapan yang selama ini ia rindukan. Pelukan sang aniki. Anggota keluarga yang paling ia sayangi.
"Gomen, Kay!" kata Kuroro dan mampu membuat air mata Kay pecah.
"Jangan tinggalkan aku sendiri lagi!" tangis Kay membalas pelukan Kuroro. Kuroro mengelus kepala Kay lembut.
"Tentu saja. Sekarang, berhentilah menangis! Kau tampak jelek saat memangis?" kata Kuroro melepaskan dekapannya dan tersenyum hangat pada Kay. Kay mengapus jejak air matanya.
"Apa mata aniki sudah buram, aku tetap terlihat manis dalam keadaan apapun, kok!" balas Kay merengut. Kuroro hanya tertawa kecil.
SYUUUNG
BLARRR
Sebuah suara ledakan membuat Kuroro dan Kay mengubah posisi secara tiba-tiba.
"Kay, tolong bawa Kurapika ke tempat yang aman!" pinta Kuroro. Dengan segera Kay pun melaksanakannya.
"Hati-hati!" kata Kay dan pergi begitu saja dengan kemampuan transportasi Kuroro.
"Hah! Sial sekali. Kenapa tidak kena?" keluh seseorang di antara kepulan asap. Kuroro menatap pria berambut merah itu dingin.
"Hai! Kita bertemu lagi, Kuroro." Sapa orang itu.
"Untuk apa Blacklist sepertimu datang menemuiku, Alex?"
"Tentu untuk memburu Lusifer. Awalnya aku hanya berniat menangkap Si Putri Lusifer, tapi takdir malah mengatakan aku harus menangkap Putra Mahkota Lusifer."
"Kulihat kau tak datang sendiri."
"Tentu." Balas Alex memberi komando pada para anggotanya untuk menyerang Kuroro. Tindakan yang sia-sia.
GROOOOO
Semburan api dari arah samping mampu membuat gerakan para anggota Alex terhenti. Bahkan sudah melukai beberapa diantaranya.
"Wow!" kagum Kuroro menoleh.
"Gadis itu yang melakukannya!" tunjuk seseorang ke sebuah dahan pohon. Tanpak Kay duduk dengan santainya sambil menompang dagu.
"Hai!" sapanya malas.
"Apa seorang bocah?"
"HE, BOCAH! APA YANG KAU LAKUKAN?" teriak Alex.
"Mati kau." Gumam Kuroro.
"Apa? Bocah katamu?" ulang Kay dengan banyak persimpangan di kepalanya."Aku ini Blacklist Hunter tahu!"
"Apa? Blacklist? Kau bercanda? Bocah sepertimu?" ejek seseorang tanpa rambut (Baca : botak) di susul tawa yang lainnya. Kay turun dari pohon setinggi 7 meter itu dengan hanya melompat. Semua tercenggang. Kay mendekati mereka dengan langkah yang di hentakan, dan-
BRUAK
"Aku-"
PLAK
"Paling-"
BLETAK
"Benci-"
DESH
"Kalau-"
BRUAK
"Aku-"
CETAK
"DI ANGGAP ANAK KECIL!"
BRUAK
PLAK
DESH
CETAK
MEONG
"Nah, siapa selanjutnya?" tantang Kay emosi setelah menghajar beberapa anggota Alexs. Ia menatap gerombolan yang tersisa dengan seringai sambil memutar-mutar lengannya.
"Tu 'kan. Benar apa kataku." Gumam Kuroro lagi.
"SERANG!" teriak Alex. Anggota yang tersisapun menyerang Kuroro secara bergerombol. Dengan santai, Kuroro mengeluarkan Bandit Secretnya. Tiba-tiba Fun Fun Cloth telah membungkus anggota Alex. Kain itu mengecil dan jatuh tepat di hadapan Alex.
"Jadi, kita lanjutkan?" Tanya Kuroro menatap Alex dingin.
"Cih!" desis Alex berlari pergi.
"Huh, payah! Ecek-ecek begitu mau melawan Kay." Kesal Kay.
"Kau hebat, Kay-chan!" kagum Kuroro sweatdrop mengingat kegananasan adiknya.
"Tentu saja."
"Kay!" panggil seseorang membuat pemilik nama menoleh. Mata Kay sontak berkaca-kaca.
"PIKA-CHU!" panggil Kay seraya memeluk Si Pemikik Julukan Baru. "Baka! Kau membautku khawatir."
"Maaf!" balas Kurapika tersenyum sambil mengelus kepala Kay.
"Jangan lakukan itu lagi! Jangan membuatku khawatir lagi!" protes Kay melepaskan pelukannya. Kurapika pun mengangguk.
Mata Shappire Kurapika mentap Kuroro. Matanya sontak membulat. Ia berlari ke arah Kuroro dengan cepat. Kay tampak terkejut dengan kejadian itu.
DOR
JLEEB
"KURAPIKA!",darah terciprat ke wajah Kuroro. Suasana hening sejenak. Kuroro tampak terkejut menatap Kurapika.
"Ku-Kurapika!" panggil Kuroro bergetar.
"Ka-kau tak apa?" tanya Kurapika dengan suara parau. Darah terus keluar dari jantungnya. Kurapika hempir terjatuh, dengan segera Kuroro menompang tubuh Kurapika. Mata onyx mengarah kepada datangnya peluru tadi. Tampak Alex menatap Kuroro dengan seringainya. Sebuah snipper bertengger di bahunya. Namun tiba-tiba seringai itu menghilang dan di gantikan wajah dingin Killua yang baru saja menembuskan kukunya di jantung pria itu. Semua terpaku melihat tingkah Killua. Termasuk Gon yang ada di sampingnya.
"Ki-Killua?" kata Gon. Killua cuek dan berlari kearah Kuroro dan Kurapika di ikuti Gon.
"KURAPIKA!" teriaknya.
"Apa yang terjadi?" tanya Gon pada Kay.
"Kurapika! Hei! Kurapika!" panggil Kuroro menepuk-nepuk pipi Kurapika setelah sadar dari tertegunnya. Tak ada jawaban. Killua mendekat dan memegang tangan Kurapika. Memeriksa denyut nadi gadis itu. Tiba-tiba Killua merunduk. Air mata mulai keluar dari matanya. Ia menggeleng pelan. Mencoba menguatkan dirinya. Mata Kay membulat. Air mata ikut keluar dari pandangan kosongannya bersamaan dengan jatuhnya tubuh mungil itu. Gon mentup matanya. Kuroro langsung mengangkat jasad Kurapika.
"Mau kemana kau, aniki payah?"
"Aku mau membawanya ke rumah sakit. Kalau bergegas mungkin kita masih sempat."
"Tidak perlu." Balas Kay berdiri dari posisinya.
"APA MAKSUDMU?" bentak Kuroro. Kay diam. Ia berjalan menuju danau dan mencelupkan tangan kanannya di air danau yang dingin itu. Nen Kay nampak berpusat di tangan kanannya. Mata Kuroro terbelalak.
"Kay! Apa yang kau lakukan? Kau mau membunuh dirimu sendiri?" bentak Kuroro.
"Diam!"
"Kay! Takku izinkan kau memakai teknik itu!"
"Memang sejak kapan ada yang bisa mengaturku? Sejak kecil aku hidup liar. Jadi jangan salahkan aku bila aku tak menurut padamu." Kata Kay seolah menyalakan Kuroro.
"Teknik itu... jangan-jangan! Kay..." gumam Killua.
"Kau bicara apa. Killua?" tanya Gon.
"Itu penebus roh."
"Huh?"
"Orang yang sudah mati bisa di hidupkan kembali."
"Bagus 'kan, berarti kita bisa menghidupkan Kurapika."
"Yang jadi masalah adalah... pengguna teknik itu kemungkinan besar akan mati. Persentasi keduanya akan hidup sangat kecil."
"Apa?" ucap Gon kaget.
'Saat ini pilihan sangat rumit. Antara memilih Kurapika atau Kay.' Batin Killua menatap Kay serius.
"Kay! Hentikan!" protes Kuroro. "Aku tak ingin kau- HUMP!"
"Jangan di telan dan minumkan air itu pada Kurapika!" potong Kay setelah memasukan gumpalan air ke mulut Kuroro seiring gerakan tangannya. Tampak semburat merah di pipi Kuroro.
"Cepat!" perintah Kay lagi. Kuroro pun menempelkan bibirnya pada Kurapika. Di bukanya bibir Kurapika dengan lidahnya. Lalu ia memindahkan air di mulutnya ke muluk Kurapika. Kay tersesenyum.
"Akanku ingat saat-saat ini." Ia menutup matanya. Mencoba berkonsentrasi.
"Teknik terlarang. Nen Of Life!" nen dalam jumlah besar dari Kay menuju Kurapika. Kuroro, Killua, dan Gon yang berada di dekat Kurapika langsung terlempar.
"Kay, hentikan!" pinta Kuroro mencoba menembus nen sang adik. Namun tak bisa.
"Aku sudah tak peduli dengan hidupku. Aku sudah muak melihat orang-orang yang ku sayangi mati di hadapanku. Sekali ini saja. Aku ingin keberadaanku berguna.", bersamaan dengan itu,nen sudah tak muncul dari tubuh Kay, perlahan darah tipis mengalir dari sudut bibirnya.
Kurapika's POV
Cahaya terang menerobos mataku. Apa aku sudah mati?
"Kurapika!" panggil seseorang yang tak asing bagiku.
"Go-Gon?", mataku terbelalak kaget saat merasakan sebuah dekapan hangat dari Kuroro. Jantungku rasanya berdegup tak karuan. Apalagi saat aku mengingat percakapan Kay dan Kuroro saat aku setengah sadar.
'Kay?'
"KAY!" teriak Killua. Kuroro pun melepaskan pelukannya dan menatap ke sumber suara.
DEG
Kulihat Killua yang terisak sambil memluk tubuh Kay erat. Sangat erat. Seakan seorang anak kecil yang tak mau kehilangan lolipopnya. Aku berdiri dengan di bantu oleh Kuroro. Lalu aku duduk tepat di hadapan mereka.
"A-apa yang terjadi?" tanyaku takut. Sambil terisak, Gon pun menceritakan semuanya padaku. Air mataku pecah ketika Gon meyelesaikan ceritanya. Ku genggam tangan Kay yang mulai dingin dan memucat gemetar. Ingin ku peluk tubuhnya. Namun apa daya Killua tak mau melepaskannya.
XxX
18.00
Saat ini aku, Kuroro, Gon dan Killua diam mematung di depan makam Kay. Kuroro memandang makam Kay dengan pandangan kosong. Leorio terus mengeluarkan air mata. Gon terus berusaha tabah. Sedang Killua... ia duduk diam sambil melipat lututnya di depan kami.
"Gomen, Kuroro! Gara-gara aku..."
"Tidak! Akulah yang salah. Seandainya aku tak membunuh keluargaku..."
"Berhentilah menyalahkan diri sendiri!" kata Killua membuatku termanggu. Karena baru kali ini dia bicara sejak terakhir meneriakan nama Kay.
"Dia bilang 'Tolong beritahu pada semuanya untuk jangan bersedih karenaku, beritahu pada Leorio untuk 'jangan lagi bersikap kasar pada perempuan. Kau mau jomblo seumur hidupmu?', bilang pada Kuroro 'mulai sekarang jagalah orang-orang yang ada di sekitarmu. Cukup aku orang terakhir yang mati.', lalu bilang pada Kurapika 'Hiduplah sesuai keinginanmu. Jangan pikirkan klanmu yang sudah tiada. Aku yang akan bicara pada mereka. Aku yakin mereka akan mengerti.'' Bodoh! Ia mengatakan hal itu sambil tertawa, hahahahaha." Tawa paksa Killua. "Padahal..." lanjutnya. "Padahal nyawanya ada di ujung tanduk. Ia juga bilang 'bilang pada Gon dan Bocah Tua, Kalian percaya? Kalian adalah teman pertama yang mau main bersamaku. Aku merasa senang bisa berada di dekat kalian. Karena... karena..." Killua memeluk lututnya makin erat, air mata kembali keluar dari matanya. "Karena... dengan bersama kalian, aku bisa merasakan bagaimana senangnya menjadi anak kecil. Terimakasih.' Kay, aku mengerti perasaannya. Dia juga sama sepertiku. Anak kecil yang merupakan korban perbuatan orang dewasa. Hiks." Killua terus terisak. Tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan yang kekar menggenggam tanganku. Aku pun menatap sang pemilik tangan, Kuroro.
"Aku mengerti, Kay!" ucapnya menahan tangis. Air mata mengalir di pipiku. Dengan segera aku menghapusnya. Dapatku rasakan Kay berdiri di hadapanku seraya tersenyum lebar. Aku menyandarkan kepalaku di bahu Kuroro. Berdo'a semoga keberadaannya selamat di alam 'sana'.
"Arigathou, Kay! Arigathou Gozaimasta!"
Love In Uthopia Lake
End
Halo Minna! *bangkit dari kubur* Kay balik lagi! Ah... akhirnya lunas juga. #Woi! Lu masih ada utang# Kay mau nambah utang lagi ah *Di granat penagih utang*
Ahohohoho, maafkan ke malesan Kay bikin Fic, ya! Gomen bgt.
Bales repiu:
M404: Ahahahaha, gomen kependekan! #kan sesuai tinggi badan# thansk mw repiu *hug*
Ken shi: Gomen baru update.
Kaoru Hiiyama: Thanks udah mw repiu! 3 Kay memang IMUT, Kok! Item MUTlak. Aheheheh
Natsu Hiru Chan: thanks udah Kay keren #nah loh?# *di giles Natsu* Natsu itu jenius, kok!
Thanks banget buat para readers dan Reviewer yang sudah mau baca fic –yang di jamin abal- ini. Sekali lagi, maukah kalian mereview.
