e)(o

...

..

Para leluhur memilihkan seorang omega untuk menjadi mate mereka. Chanyeol melakukan semua hal yang bisa dilakukannya untuk meyakinkan para leluhur kalau ia pantas untuk sang moonlight. Pantas untuk Byun Baekhyun.

MATED WITH MOONSHINE…

.

Written by

ALWrites

.

Original Story

www asianfanfics com/story/view/1285310/mated-with-moonshine-exo-baekyeol-chanbaek-wolfau

(ganti spasi dengan titik)

.

Indo Trans

by Beescrescent75

..

.

Setiap saat Chanyeol melihat Baekhyun di sekitar desa, ia ingat benar saat mereka berciuman di bawah bintang-bintang. Bibirnya mulai berkedut dan wajahnya terasa bebal, seolah otot-otot tubuhnya ikut mengingat dengan jelas dan menolak untuk melupakan kejadian saat itu. Ia akan bertaruh apapun untuk bisa melakukannya lagi, sekarang pun ia sadar kalau mereka tidak lagi terlalu bersembunyi seperti yang seharusnya dilakukan, saat keduanya menghilang bersama selama hampir dua jam malam itu. Sepertinya Sehun dan Baekshi juga telah menyadarinya, itu akan terlalu aneh jika hanya dikira sebagai satu kebetulan.

Chanyeol baru saja pulang dari berburu, mencoba memenuhi pesanan berang-berang Yoona (lagi), saat ia melihat keduanya bersama—mate masa depannya dan juga saingannya.

Musim panas sudah hampir selesai, membawakan cerah sinar matahari dan kehangatan yang makin memanas tanpa ampun. Pondok mereka terbuat dari campuran kayu dan lumpur, terlihat mengering dan retak dibawah panasnya cuaca. Dalam situasi seperti ini, tidak akan dibutuhkan satu hembusan angin yang kencang untuk membuat atap pondok jatuh. Jadi sebagian diri Chanyeol paham kenapa Sehun tengah memperbaiki pondoknya. Ia hanya tidak paham kenapa Baekhyunlah yang harus melakukan pekerjaan itu.

Sehun berdiri di samping seperti tuan dari budaknya, menyedekapkan lengan di dada dengan ekspresi kebosanan, beberapa kali bernafas sangat dekat dibelakang leher Baekhyun. Satu-satunya hal yang tidak terlihat adalah cambuk. Dia tidak berbicara dengan Baekhyun, seperti normalnya dua orang di tempat yang sama, tapi tampak beberapa kali ia berjalan mendekat dan menunjuk pada sesuatu yang menurutnya perlu penekanan dan perlakuan lebih. Tak sekalipun ia terlihat mengangguk atau tersenyum. Ia bahkan tidak pernah bertatapan dengan Baekhyun.

"Kenapa kau tidak memberinya waktu untuk bernafas?" suara Chanyeol dengan keras menyelanya, sadar benar beberapa omega yang duduk di sekitar tiang bulan menoleh kearahnya. Ajaibnya Baekshi tidak ada disana; beruntung bagi Chanyeol, ia tidak perlu mengeceknya. Ia terlalu fokus pada dua orang yang tengah berada diluar pondok Ketua Alpha. Fokus yang dimaksud adalah menantang tatapan tajam yang dilayangkan oleh Sehun.

Dibelakangnya, Baekhyun terlihat pucat, dengan tangan terlumuri lumpur yang mengering dan bahu membungkuk ke depan. Aliran air bercampur lumpur cokelat mengalir di lengan dalamnya, membasahi luka pada kulitnya yang memerah, dengan satu gumpalan besar lumpur di kepalan tangannya dari sebuah ember yang tepat berada di pangkuannya—membasahi pahanya dengan air berlumpur.

Seluruh pakaiannya nampak sangat kacau. Seharusnya itu sama sekali tidak terjadi. Baekhyun sangat berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Entah karena Sehun yang terus memerintahnya bergegas—karena si alpha memang tidak sabaran, atau mungkin karena ia telah terlalu lama bekerja disana sampai ia menyerah dan melakukan pekerjaan itu tanpa memperhatikan hal lainnya. Kedua alasan itu terdengar sama sekali tidak ada yang cukup baik.

Baekhyun berusaha sangat keras untuk mengusap keringat yang mengalir di dahinya dengan bagian tangannya yang masih terlihat cukup bersih, tapi tetap saja noda lumpur itu mengenai kulitnya dan sebagian surai diatas dahinya. Bagaimana mungkin Sehun hanya berdiri dan melihat Baekhyun melakukan semuanya dibawah terik matahari sendirian? Sebagai seorang alpha, terutama sebagai seorang yang mempercayai bahwa statusnya diatas segalanya, ia seharusnya meraskan perasaan ingin membantu, meringankan beban si omega.

"Tinggalkan kami sendiri, Chanyeol." Sehun memberinya peringatan, nada di ucapannya mengandung racun yang akan melukai Chanyeol kalau saja ia tidak kebal. Masalahnya, setelah kemarin Baekhyun menciumnya, ia memiliki percaya diri untuk melawan. Sebuah pedang bersisi dua akan jauh lebih tajam. Ia memiliki keberanian untuk akhirnya mengatakan yang ada di pikirannya dan tidak akan membiarkan pandangannya dipengaruhi oleh orang lain, tapi ini kadang membuatnya melakukan hal ceroboh. Ceroboh dengan menempatkan dirinya dalam bahaya dan ia sama sekali tidak menyadarinya saat itu juga.

Semua yang bisa dipikirkan Chanyeol adalah Baekhyun yang telah memilihnya, beribu kali lipat, dan itu tidak akan bisa dirubah oleh Sehun. Kemenangan telah mengalir di aliran darahnya seperti adrenalin yang mengabutkan pandangan jernihnya.

Akan membutuhkan keajaiban bagi sang leluhur untuk memilih Sehun, saat ini. Walaupun kelihatannya Baekhyun mau menanggung pekerjaan yang mengotori seluruh tubuhnya.

"Ini bukan tempatmu," tambah Sehun, yang mana menurut Chanyeol perkataan itu sama sekali tidak masuk akal. Sejauh yang ia tau, berada diluar pondok Ketua Alpha tidak sama dengan berada di dalam pondok atau mencoba mengambil alih dari pemiliknya, dan yang paling penting ia punya hak penuh untuk berada di pusat desa karena ia juga bagian dari kelompok ini. Selama beberapa hari ini, makin mudah baginya untuk mengabaikan ancaman kosong Sehun—kalau saja itu semua bisa disebut demikian, saat yang dilakukannya hanyalah menatap tajam dengan tatapan menusuk.

"Sudahkah kau berterimakasih padanya?" tanya Chanyeol, sambil menyedekapkan lengannya di dada dan tetap bertahan tegap di tempatnya. "Karena telah memperbaiki pondokmu." Sehun tidak berterimakasih pada Baekhyun karena mencucikan pakaiannya, walaupun ia mungkin melihat tugas itu hanya hal sepele. Memperbaiki seluruh pondok, bukan merupakan tugas sepele. Berterimakasih tentu harus dilakukannya.

Mata Chanyeol ternyata malah mengkhianatinya, saat ia mendapati Baekhyun tengah menatap langit sambil menahan senyum, ia tidak bisa berpaling untuk tidak menatapnya. Hatinya berteriak senang dan mulutnya pun berkedut, merasa senang karena memberikan kelegaan pada Baekhyun ditengah panasnya cuaca dan suasana disana, karena melakukan pekerjaannya yang berulang-ulang.

Membuat satu orang melakukan pekerjaan yang harusnya dikerjakan oleh lima orang benar-benar sangat kejam. Kalau saja itu bukan pondok Sehun, Chanyeol akan langsung masuk dan menawarkan bantuan, tapi dengan semua yang telah dilakukan si alpha itu, Chanyeol tidak bisa membiarkan egonya direndahkan lagi. Tidak, bahkan untuk membantu Baekhyun. Walau begitu bukan berarti Baekhyun tidak mampu melakukannya. Si omega sebenarnya lebih kuat dari tampilan luar saat orang pertama kali melihatnya.

Dan tentu saja Sehun belum selesai.

"Sebentar lagi ini akan menjadi rumahnya, tidak perlu berterimakasih padanya." bentaknya, memberi tatapan tajam kemarahan berbahaya pada Chanyeol yang langsung menusuk dada dan paru-parunya sampai ke tenggorokan. Ia tidak pernah tau dengan kemungkinan untuk sangat membenci tubuhnya sendiri karena sangat ingin menerjang bahu Sehun dan melemparnya ke permukaan terdekat disana sampai alpha itu berdarah-darah. Keinginannya untuk melihat tubuh Sehun berdarah dan terluka tak berdaya di lantai sangatlah besar, kesombongan dan harga dirinya diremas habis menjadi debu di kepalan tangan Chanyeol.

Secepat api menyambar, secepat itu pula itu semua menghilang, melenyap saat Baekhyun memberinya tatapan serius di belakang bahu Sehun seolah mengatakan pergilah kumohon. Ini memberinya sapuan rasa tenang, tapi dalam hati Chanyeol masih sangat kesal.

Selama beberapa saat, ia hampir saja hilang kendali. Ia sangat ingin membalas kasar omongan itu, menanyakan pada Sehun apakah ia yakin kalau Baekhyun akan berpindah ke pondoknya dan hidup dengannya, tapi ia menahan diri untuk tidak melakukannya. Disamping kemarahannya, ia tau akan mengabaikan persaingannya kalau Baekhyun yang memintanya.

Bukannya ia ingin melihat Sehun menderita atau berakhir sendiri selamanya; ia hanya ingin Baekhyun menjadi miliknya dan menjadi milik Baekhyun. Sehun hanyalah satu masalah yang harus diselesaikan, walaupun ini terasa seolah membuat seluruh dirinya frustrasi.

Chanyeol menjauhkan diri dari kelompoknya seharian penuh, bahkan juga mengabaikan makan malam di kelompoknya dan lebih memilih makan saat ia berpatroli nanti. Dengan setiap orang yang berkumpul di satu sisi desa disana, Chanyeol menikmati hening sore dan mendapati dirinya duduk sendirian di tepi sungai di satu hamparan rerumputan. Satu tangan mengusap bunga-bunga daisy sementara tangan satunya dipakai bertumpu duduk disana. Hanya untuk menyibukkan diri, ia mulai merangkai bunga daisy menjadi rantai sambil menggumamkan lagu the welcome untuk dirinya sendiri mengurangi keheningan yang ada disana, jika saja tidak ada suara lain dari aliran air di hulu yang juga menemaninya.

Setelah dua belas rangkai bunga daisy terbentuk, ia mendapati dirinya berdiri di depan pondok Baekhyun, mencoba menggantungkan semuanya di depan pintu masuk dengan meletakkannya di celah kayu yang tertancap pada genting. Ini sangat beresiko; Baekshi bisa muncul kapanpun juga, dan melarikan diri akan menjadi sedikit lebih sulit—hanya ada satu orang yang tidak hadir di makan malam itu, tentu saja—tapi untuk Baekhyun, ia akan melakukan apapun.

Ia melihat dan menunggu dari kejauhan sampai saat Baekhyun kembali kerumah, hanya untuk melihat senyum di wajahnya. Sebuah pemandangan luar biasa dari mata sipit dan pipi gembulnya. Itu memberinya energi yang cukup untuk melakukan patroli dengan kecepatan rekor, dan saat ia pulang untuk beristirahat dan merebahkan kepalanya di bantal malam itu, walaupun ia masih sendiri, anehnya ia mendapati dirinya mudah sekali tertidur.

.

.

.

.

Selama beberapa hari kedepannya, Chanyeol memelankan larinya saat berpatroli, berharap mungkin akan berpapasan dengan Baekhyun lagi. Ia benar-benar menyukai pertemuan rahasia mereka, tertarik pada perasaan was-was yang diakibatkan oleh sikap mereka berdua saat melanggar aturan, walaupun tidak bisa dipungkiri kalau ia juga lebih tertarik pada Baekhyun.

Melihatnya dari kejauhan saat berada di desa rasanya seperti satu hal yang menyakitkan. Itu menjadikan pengingat bahwa mereka mungkin tidak bisa bersama, dalam artian yang sebenarnya. Dan sekarang Chanyeol merasa lega. Walaupun ikatan mereka telah terbentuk menjadi lebih kuat semenjak minggu lalu. Awalnya terasa seperti benang-benang lembut yang saling berusaha bersatu walaupun dipaksa ditarik untuk menuju ke arah yang berlawanan, dan sekarang mereka terasa lebih kuat, benang lembut itu makin menguat. Yang awalnya hanya berupa biji, kini tumbuh menjadi pohon yang berdiri tegap mengarah pada cahaya matahari.

Chanyeol melihat matahari terbit dan tenggelam dalam sehari, dari warna langit yang awalnya merah dan abu-abu sampai berubah biru dan jingga. Ia berjalan-jalan di sekitar bukit selama yang ia bisa, dengan telinga waspada pada setiap sumber suara langkah kaki atau deru nafas orang lain—atau wolf lain. Tidak satupun muncul. Tidak satupun dan tidak seharipun. Walaupun Chanyeol menghabiskan waktu berjam-jam di hutan, menunggu, menunggu, dan menunggu kedatangan Baekhyun dari balik pohon-pohon, si omega tidak pernah muncul.

Ia tidak meragukan kalau Baekhyun pasti punya alasan yang bagus dan masuk akal untuk ketidakhadirannya. Ia hanya kecewa pada dirinya yang tidak bisa melihatnya dari jarak dekat di hari selanjutnya, berbicara dengannya dengan nada berbicara santai dan familiar, menjadi seseorang yang menciumnya terlebih dulu. Kesabaran seharusnya memberikan hadiah yang baik baginya.

Saat mereka bersama anggota kelompok lainnya, mereka harus bersikap tidak peduli atau saling acuh, dan melihat Baekhyun bersama Sehun berdekatan rasanya benar-benar selalu menusuk hatinya. Itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia atasi mengingat berapa sering mereka berdua terlihat bersama. Melihat keduanya bersama rasanya sangat sakit dan salah.

.

.

.

Ia kembali ke rumah di pagi menjelang siang, berubah di pondoknya sebelum memetik beberapa buah berry di semak-semak sungai untuk makan siangnya. Pikirannya sangat bercabang sambil ia mengunyah buah itu, menatap kosong pada buah didepannya tanpa benar-benar memperhatikan apa yang tengah dilihatnya. Hanya keheningan yang menyapanya, seperti biasa, akhirnya mendapati dirinya bertanya-tanya bagaimana rasanya kalau di rumahnya ada tawa Baekhyun. Sejujurnya mungkin rumahnya akan berkali lipat lebih bersih. Chanyeol hanya melakukan pekerjaan rumahan saat ia sempat saja.

Ia membayangkan musik itu, nyanyian itu, suara lain. Sebagai satu-satunya orang yang tinggal di pondoknya, selalu tidak ada alasan untuk berbicara. Pondoknya terasa kosong, seperti sarang burung kosong atau tubuh tanpa jiwa, dan sekarang saat menyadarinya, ia merasa betapa mengerikannya itu semua. Bagaimana bisa ia merasakan rumah di tempat seperti itu?

Satu putaran di lengan mengingatkan Chanyeol betapa dalamnya pijatan Baekhyun, yang mana berhasil melemaskannya. Otot-ototnya berubah rileks, melemas lebih santai, hanya mengeras saat sedang bekerja dan sedikit membuatnya merasakan sakit tiap kali ia berubah. Kadang ia membayangkan tangan Baekhyun di pundaknya lagi dan mendapati dirinya merinding sampai ke bawah perutnya, tanpa sadar.

Dilain waktu ia membayangkan tangan Baekhyun di tempat lain, tempat yang lebih berbahaya di tubuhnya, membuatnya membangunkan insting alpha yang sudah lama terlupakan dan terpendam dalam dirinya. Rasa bersalah selalu datang dengan cairan panasnya, membuatnya marah karena menyerah pada nafsunya.

Dengan getir ia mengingat kembali hari dimana Baekhyun muncul dari pondok Sehun dan terlihat sedih saat kembali kerumahnya. Ada sebuah retakan besar di sisi samping pondok yang berada di hadapannya, seolah mengoloknya dengan kejam. Aku akan roboh, Chanyeol, katanya, dan ia balik mengoloknya seperti anak-anak, sebelum menjulurkan lidahnya kekanakan.

Dari musim panas yang lalu ia tau kalau retakan kecil akan makin membesar tidak peduli cuaca yang selanjutnya datang. Lebih baik memperbaikinya sekarang daripada terbangun dengan runtuhan genting di kepala, pikirnya, tapi ia merasakan lelah yang sangat setelah pulang dari pekerjaannya.

Setiap kali ia memikirkan semua hal yang harus diselesaikannya, setiap tetes energi dan semangat yang ia punya pun langsung merosot habis. Melakukan patroli dua kali sehari membuat tubuh dan pikirannya remuk, dengan pertikaian antara dirinya dan Sehun makin menambah beban di pundaknya. Satu-satunya waktu dimana ia bisa merasakan santai dan bersemangat adalah saat ia bersama Baekhyun, tapi pertemuan mereka semakin jarang terjadi dengan adanya beberapa hal yang makin menyulitkan itu untuk terjadi.

"Chanyeol?"

Ia langsung menoleh semangat mendengarnya, mengalihkan pandangannya dari pondok dan mendapati Yoona tengah berjalan di jalan samping kiri pondoknya. Ia mempunyai kebiasaan datang tanpa memberi tahu sebelumnya, hanya mampir sebentar untuk mengobrol dan mungkin membuatkannya teh, dan itu tidak pernah gagal membuatnya merasa lebih baik. Yoona, dengan semua tujuan dan niatnya, Chanyeol selalu menerimanya, tidak peduli waktu atau moodnya kapanpun itu terjadi.

"Aku disini." ucapnya sambil menepukkan tangan di pahanya dan berlari kecil mendekat kearah si omega yang hari ini memakai celana sepanjang lutut dan rompi yang terikat dengan sabuk di pinggangnya. Ia tersenyum sangat cerah pada si alpha, dan ini membuat Chanyeol otomatis tertular senyuman itu, sampai ia menyadari sesuatu yang aneh dengan pose kaku si omega.

Tangannya terus bergerak tidak nyaman mengepal dan melepaskan kepalannya, pundaknya lebih tegang dari biasanya, terlihat sama sekali tidak nyaman. Dibandingkan dengan biasanya saat ia berjalan santai, tanpa beban dengan anggun dan sedikit menggoyangkan pinggangnya, saat ini ia terlihat seperti berjalan dengan satu tongkat mendorong bahunya untuk melangkah maju.

"Chanyeol," ia menggigit pipi dalamnya dan menyibak rambut di belakang telinganya, hal kecil yang Chanyeol ketahui bahwa Yoona sedang merasa gugup. "Bagaimana kabarmu?"

Sesuatu terasa sangat tidak biasa dengan nada bicaranya, seolah menanyakan kabar hanya untuk berbasa basi, bukan untuk benar-benar tau keadaannya. Itu bukanlah sesuatu yang bisa disembunyikan Yoona darinya. Ia biasanya sangat terus terang saat menginginkan sesuatu. Dan mengetahui hal ini, membuat Chanyeol makin merasa tidak baik-baik saja.

"Ya, aku baik-baik saja," jawabnya setenang mungkin. "Apa kau, umm…" mencoba agar tidak terlihat kasar atau tidak senang dengan kehadiran si omega, Chanyeol memaksakan senyuman di bibirnya. Ini akan lebih baik dari apapun. "Apa kau perlu sesuatu?"

Tawa si omega terdengar sedikit gugup, terlihat jelas dari tatapan matanya. Yoona tau kalau Chanyeol juga mengetahui hal itu. "Oh ya, aku, umm sebenarnya Ketua Alpha meminta sesuatu, Chanyeol. Ia memintamu untuk…" si omega sedih saat akan mengatakannya—senyum gugupnya langsung luntur, "Untuk berpatroli di rute gunung."

Beberapa saat hening diantara mereka, Chanyeol mencoba memahami apa yang baru dikatakan padanya. "Rute gunung?" ia yakin salah dengar, tapi Yoona tidak menyanggahnya. Sebaliknya, ia malah menganggguk, menggenggam kedua tangannya lemas seolah mengatakan kalau situasi ini sungguh diluar kendalinya. Chanyeol menajamkan pandangannya. "Kenapa?" apakah ada kelompok wolf lain yang tengah bermigrasi, atau seseorang tengah menghilang. Ia sangat ingin tau alasannya. Kenapa ia harus berpatroli di rute gunung dan membahayakan nyawanya sendiri?

"Dia, uh… tidak mengatakannya, Chanyeol. Dia hanya mengatakan kalau kau harus segera pergi, kalau tidak mungkin sesuatu yang buruk akan terjadi."

Yoona tidak bisa terdengar lebih tidak meyakinkan saat ia terus sengaja mencobanya. "Ada sesuatu yang tidak kau katakan padaku." sela Chanyeol, sambil menyedekapkan lengan di dadanya dan melangkah mendekat. Sebenarnya ini salah baginya untuk mengintimidasi seorang omega seperti ini, apalagi seorang yang sudah menikah, tapi Chanyeol lelah, kesal dan marah menjadi satu, ia bahkan tidak sadar dengan apa yang ia lakukan. Ia tidak bisa konsentrasi dengan apapun selain aliran darah yang mengalir sangat kencang dan keras sampai terdengar di telingannya, mengingatkan kalau perlakuan tidak adil terus menerus ia dapatkan bahkan dengan alasan yang sangat jauh sekali dari masuk akal.

"Aku—tidak! Ketua Alpha tidak memberitahuku alasannya Chanyeol, dia hanya mengatakan kalau itu penting dan dia memintamu pergi secepat mungkin. Tolonglah, jangan terlalu banyak memikirkan ulang hal itu."

"Benar, jadi dia tidak harus mempunyai alasan yang bagus, itukah yang kau coba katakan?" ucap Chanyeol sambil terkekeh remeh menatap langit-langit merasa tidak percaya. "Yoona, ia sudah menyuruhku berlari sangat pagi-pagi sekali dan juga sore hari, dan sekarang ia juga menyuruhku melakukan hal sama diantara kedua waktu itu? Apakah dia benar-benar—Arggghhh!" ia tidak sengaja meneriakkan kefrustrasiannya pada Yoona yang berdiri di depannya, membuatnya terlonjak terkejut.

"Ini mungkin untuk keamanan kelompok, Chanyeol. Sebagian besar alpha juga tengah keluar desa."

"Keamanan desa?" oloknya, jelas sekali terlihat dari nada bicaranya. "Tidak ada sesuatu di luar sana, bahkan sampai bermil-mil jauhnya! Dan dia mengomel tentang keamanan desa? Aku tidak akan berlari di rute gunung. Yoona pergilah dan katakan itu padanya." Yoona makin terkejut dengan suara si alpha yang makin mengeras. Chanyeol bahkan tidak menyadari saat Yoona mengambil beberapa langkah mundur.

Chanyeol berbalik memunggunginya menandakan kalau ia tidak ingin melanjutkan pembicaraan mereka. Apapun yang akan dilakukan si omega dengan perintah sang Ketua Alpha, Chanyeol akan tetap pada pendiriannya. Ia tidak akan pernah mau berpatroli ke rute gunung tanpa alasan yang sedikitnya masuk akal.

Hening beberapa saat. Chanyeol mengira Yoona telah selesai menyampaikan pesan padanya, tapi si omega kemudian memohon padanya lagi.

"Kumohon Chanyeol, kalau kau pergi sekarang, kau akan kembali ke desa tepat saat makan malam di pusat desa."

Chanyeol mengitarinya seolah si omega adalah mangsanya, merasa sedikit terkejut dengan apa yang baru saja dikatakannya. Ia merasakan amarah yang mulai mengalir di tubuhnya. "Aku akan kembali saat waktu patroli soreku tiba, itukah yang kau maksud, Yoona. Aku tidak akan berlari di rute gunung. Pergi dan katakan itu padanya."

Bibir Yoona terkunci rapat dengan pandangan mendongak. Ia hampir saja menyahut ucapan Chanyeol, ia bisa merasakannya dan itulah yang diharapkannya. Chanyeol ingin Yoona marah dan memarahinya, mengatakan yang sebenarnya padanya untuk memberinya alasan untuk melakukan apa yang diperintahkan padanya tadi, tapi si omega tidak melakukannya.

Mereka terus saja berdebat lagi dan lagi tentang hal yang sama sekali tidak bisa diterima oleh Chanyeol sedikitpun. Yoona sama sekali tidak mundur setelah berapa kalipun ia diminta pergi dari pondok si alpha dan melaporkan pada Ketua Alpha. Dengan sama-sama keras kepala, mereka bisa saja terus berdiri disana dan berdebat berjam-jam, dan ketika itu terlihat jelas kalau Yoona tidak akan berniat memberi tau alasan yang sebenarnya ataupun pergi melapor ke Ketua Alpha, Chanyeol akhirnya kehilangan kesabarannya yang makin menipis.

"Baiklah," ia menyanggah permohonan Yoona, melangkah cepat melewati si omega dengan menyenggol lengannya. "Aku yang akan pergi dan mengatakannya sendiri."

Chanyeol sama sekali belum pernah melihat sahabatnya terlihat sangat ketakutan sebelumnya. "Tidak! Chanyeol, tunggu!" teriaknya sambil menggerjar si alpha. "Ketua Alpha sangat sibuk Chanyeol! Tidak ada gunanya menemuinya!"

Chanyeol menolak untuk menatapnya, bahkan saat ia berlari menyusulnya mencoba membuatnya menghentikan langkahnya. Hanya ada sedikit rasa salah yang ada dalam benaknya saat ia memperlakukan si omega seperti ini, tapi untuk sekarang kemarahan jiwa wolfnya tidak bisa diredam. Tidak pernah ia merasa frustrasi dan terjebak seperti ini sebelumnya, dan merasakan kesal pada Yoona.

Ini sungguh sangat menyakitkan baginya, karena seharusnya ia sadar kalau Yoona adalah sahabat terbaiknya dan dia menyembunyikan sesuatu darinya. Yang siapa tau? Itu adalah untuk melindunginya, menyelamatkannya, tapi kemarahan wolf Chanyeol menolak untuk memikirkan hal itu. semua hal yang ia rasakan hanyalah kemarahan.

"Baiklah, Chanyeol! Aku akan pergi dan melaporkan padanya, kembalilah ke rumahmu. Bagaimana?" pintanya dengan nada menyerah dan khawatir sambil mengusap lengannya, mencoba menarik si alpha kembali kerumahnya. Untuk seseorang yang sangat ramping, ternyata ia cukup kuat. Tapi tidak cukup kuat untuk menariknya kembali.

"Ada apa denganmu?" geramnya, melepaskan tarikan tangannya dan membuatnya hampir terjembab. Satu ekspresi kesakitan terlihat di wajahnya dan ini sempat membuat Chanyeol menyesali pikirannya yang telah dibutakan amarah. Apa yang sebenarnya ia lakukan pada sahabatnya, ia merasa sangat menyesal. Hanya ialah satu-satunya sahabat yang dimiliki. Yoona sangat berarti baginya dibandingkan dengan perintah sang Ketua Alpha yang baru saja ditolaknya.

Satu kata permintaan maaf hampir saja terucap dari bibirnya, tatapan menyesal ia berikan pada si omega dengan perasaan sesal di dadanya, sebelum ia akhirnya mendengar sebuah teriakan singkat dari salah satu rumah di desa mereka. Dan itu langsung membuyarkan pikirannya, ia menoleh kearah asal suara itu, telinganya mencoba menajamkan pendengaran saat sebuah suara kesakitan didengarnya lagi.

"Chanyeol," bisik Yoona, ia melanjutkannya dengan nada memerintah. "Pergilah, kumohon!"

"Kenapa harus?" sahutnya singkat, memberinya tatapan tajam dengan jari-jari mengepal, telinganya muak mendengar kata-kata itu dari sahabatnya. Yoona tidak menjawab pertanyaannya, tentu saja, dan akhirnya Chanyeol pergi mencari tau sendiri alasannya.

Dan seperti yang ia kira, respon Yoona semakin parah. "Jangan Chanyeol. Jangan! Kau tidak boleh pergi kesana, kembalilah!"

Tapi sudah terlambat bagi si omega untuk melakukan sesuatu. "Apa sebenarnya…" dengan setiap langkahnya, suara itu makin jelas terdengar. Ia mendengar suara tawa sebelumnya, nyanyian, teriakan, seolah menjawab pertanyaan di benaknya dengan jawaban-jawaban tidak pasti. Jantungnya hampir saja jatuh ke perut, dan ini benar-benar membuatnya lemas dan sulit mengambil nafas normal. "Itu… itu Baekhyun."

"Bukan! Bukan, itu bukan dia! Itu hanya… itu…"

Chanyeol makin mendekatkan tubuhnya ke Yoona, mengintimidasinya dengan tatapan tajam yang jarang sekali ia berikan pada si omega. "Tataplah mataku dan katakan kalau itu bukan Baekhyun."

Si omega menyusut di bawah tatapan tajam Chanyeol, sama sekali tidak berkutik. Ia tidak bisa melakukan apapun, tapi ia menggelengkan kepala menyerah. Merasa sangat kesal, Yoona akhirnya menghela nafas lelah dan mengedikkan bahu, tidak ada permintaan atau perkataan lain yang terucap, kecuali saat ia berteriak memanggil nama suaminya saat Chanyeol mulai berlari dari tempatnya.

Pondok Baekhyun tidaklah jauh dari tempatnya, dan saat makin dekat, ia mendapati sekumpulan orang diluar pintu pondoknya. Amarahnya makin memuncak membuat ikatan batinnya melengkung bagai busur panah yang siap melepaskan anak panah, gemetar yang ia rasakan sebelum melepas anak panah itu membuatnya merasakan sakit yang amat dalam, menusuk langsung ke dadanya tanpa bisa dicegah. Rasanya seolah ia terbakar dari dalam, keringat mengumpul di pelipis mata dan belakang lehernya, walaupun ia hanya berlari sebentar tidak seperti berlari di saat patrolinya.

Hampir semua orang berteriak di depannya untuk mundur dari tempat itu, baik alpha maupun para omega, satu-satunya hal yang bisa menarik perhatiannya adalah kenyataan bahwa mate'nya sedang kesakitan dan ia harus menolongnya. Gemuruh panas menyebar di bawah perutnya membuat seluruh tubuhnya merasa gerah. Itu membuat pandangannya menjadi kabur seolah tertutupi oleh kabut tebal, bukan semacam kabut asap besar dari hasil pembakaran, tapi kabut yang disertai aroma yang bisa melemaskannya. Kata 'mate' dan 'bahaya' terus terngiang di benaknya dan membuat akal sehatnya yang lain menjadi beku. Ia harus menemui Baekhyun. Baekhyun membutuhkannya. Lalu kenapa mereka semua tidak membiarkannya lewat?

Ia memaksa maju. Bagaimana kalau sekarang Sehun tengah ada disana? Bagaimana kalau Sehun berada di samping mate'nya saat ia membutuhkan bantuan? Tidak dalam sejuta tahun Chanyeol akan membiarkan itu terjadi. Ia mengepalkan tangan dan mulai mendesak orang-orang disana untuk memberinya jalan, tapi kelihatannya mereka semua sangat keras kepala dan tidak memberinya jalan sama sekali.

Mulut mereka terlihat bergerak tapi ia sama sekali tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan, tidak mampu mendengar penjelasan yang mungkin ia butuhkan atau mungkin malah menyuruhnya pergi melakukan patroli pagi seperti yang diminta oleh Yoona. Mencoba sekuat tenaga untuk menjauhkannya dari desa supaya ia tidak mengetahui berita kalau Baekhyun tengah kesakitan.

"Menyingkir!" teriaknya, yakin sekali ia mendengar Baekhyun yang meneriakkan namanya dibalik pintu. Ia terus berteriak sampai suaranya serak, tapi ia sama sekali tidak bisa berpindah dari tempatnya, ia terjebak sambil terus mengoyak beberapa orang disana yang tengah mengelilinginya dan tidak memberinya jalan untuk sedikitpun melangkah ke depan. Kakinya juga menendang beberapa diantaranya sampai buku-buku jarinya terasa kebas. Ia jatuh berlutut pada apapun yang berada di depannya. Seseorang telah mendorongnya, tapi ia tidak tau siapa. Ia hanya bisa mendengar teriakan kesakitan Baekhyun dan juga teriakan memohon dari Yoona.

Sebuah beban berat di pundak membuatnya membungkukkan punggung dan kakinya melemas, setelah sedikit sadar pasca serangan itu ia menoleh melihat siapa yang menyerangnya. Ia tidak mendapati wajah penyerangnya, melainkan satu tinjuan. Pandangan blurnya sempat melihat Minhun sebelum satu pukulan diterimanya lagi, dengungan di telinganya makin memekik sebelum pandangannya menggelap. Ia sangat yakin Baekhyun memanggil namanya sekali lagi, saat suara itu memelan dan terdengar makin tidak jelas. Bisa saja orang lain yang meneriakkan namanya. Mungkin Baekhyun tidak menginginkannya.

Hal terakhir yang bisa diingatnya adalah sepasang kaki memukul wajahnya, atau mungkin kepalanya yang membentur kaki itu.

Membutuhkan beberapa saat baginya untuk mengembalikan kesadarannya dari kesakitan yang mendera kepalanya, dan kenapa ada sesuatu yang lengket di bibirnya, tapi saat ingatan blur tentang lutut Minhun yang muncul di penglihatan matanya dan semuanya terlihat makin jelas, meski itu terlihat makin mengerikan.

Dengan darah yang mengalir dari hidungnya, Chanyeol masih bisa mengenali aroma manis di udara yang makin membuat ikatan dalam hatinya menjerit menjadi. Ia dibuat mabuk karenanya, tidak mungkin bisa mengabaikannya. Bahkan saat ia pun tidak punya cukup energi untuk bernafas.

Mentari bersinar sangat cerah seolah membutakan pandangannya walaupun matanya masih tertutup, dan saat ia akan menutup pandangannya dengan telapak tangan, saat itu juga ia menyadari kalau lengannya tidak bisa bergerak. Dengan dagu menunduk kebawah, ia mencoba bergerak dan mencoba melonggarkan beberapa ikat kain terikat di pergelangan tangannya.

Membutuhkan beberapa saat baginya untuk sadar kalau biasanya kain-kain itu tidak akan berada disana, tapi saat mencoba menoleh ke belakang, ia merasakan seolah seseorang menjatuhkan setumpuk beban berat di kepalanya.

Selama beberapa saat, ia hanya terdiam disana sama sekali tidak ada tanda hidup darinya. Sambil menyandarkan punggung di sesuatu yang keras dan juga membuat punggungnya kram. Sampai larut siang, saat matahari di belakangnya makin menuju ke ufuk barat, ia mendapati bahwa kumpulan para omega terus saja terlihat menatapnya dengan aneh di pusat desa.

Tapi kenapa ia bisa berada di pusat desa?

Dan yang terpenting, kenapa ia bisa terikat di sebuah pohon?

To Be Continued…

.

.

.

.

T/N

Hello all...

Chapter ini gimana? Itu Baekhyun kenapa? Chanyeol kenapa? Jawabannya ada di next chap yaa… ada yang mau fast update MWM? So, jangan lupa tinggalin jejak *wink*

.

.

.

#lovesign