One Night Stand [REMAKE]
Story belong to Chantiqe
GS for uke
KAISOO~
.
.
.
.
Part 7
.
.
.
.
Ketika membuka mata Kyungsoo mendapati ia dalam pelukan pria, dan pria itu menatapnya lembut sambil tersenyum. Bangun tidur yang membahagiakan. Bukan itu saja, Jongin membuatkan secangkir teh dan sepotong roti panggang untuk mereka berdua. Kyungsoo merasa seperti pengantin baru, tapi pemikiran itu membuat perutnya mulas. Apalagi ketika Jongin memberikan ciuman lembut di bibirnya, mencium keningnya dengan lama kemudian meninggalkannya. Kyungsoo merasa kosong.
Suara decitan pintu yang tak berpelumas membawa wajah Baekhyun ke hadapannya.
"Mengapa kau tidak mengunci pintunya? Kejutan aku melihatmu baru bangun, tadi sepertinya aku berpapasan dengan Jongin-mu…" Baekhyun masih bermonolog dengan semua kehebohan yang ia bawa. Rambut yang masih diroll dan tangan yang penuh tas belanja.
"Aku bicara denganmu!" Pekiknya kemudian. Kyungsoo mengerjap.
"Aku tidak tahu kau bertanya atau mengatakan pernyataan."
"Jangan jadi orang yang menyebalkan Kyung!" Baekhyun menghempaskan semua barang yang ia bawa di atas ranjang. Kemudian mengikuti Kyungsoo duduk di lantai, karena memang apartemen kecil ini tidak mempunyai sofa. Kamar dan dapur tanpa sekat yang untungnya Kyungsoo mempunyai rak buku yang bisa dijadikan penyekat. Tidak ada ruang tamu. Benar-benar tidak bisa merenggangkan tubuh.
"Apa yang terjadi? kau tidak bisa berbohong padaku, dan jelas sekali di wajahmu kau seperti tentara yang kalah perang."
"Kami bercinta lagi." Kyungsoo menempelkan wajahnya pada lutut kakinya. "Aku merasa seperti pemuas seks Jongin." Desahnya.
"Kalian apa?" Baekhyun mengguncangkan tubuh Kyungsoo kemudian ia tertawa lepas.
"Tidak ada yang lucu!"
"Oh Kyung, sepertinya Jongin tergila-gila padamu!" Baekhyun menelan tawanya. "Aku mencoba merayu Jongin tempo hari, tapi tidak berhasil. Harga diriku terluka ini pertama kalinya pria menolakku." Tawa bahagia Baekhyun kembali lepas berlawanan dengan kata-katanya yang kecewa akibat penolakan.
"Itu tidak mungkin, Jongin melihatku sebagai perempuan jalang. Bahkan di pikirannya yang ada hanya seks, seperti sekarang dia meninggalkanku seolah-olah aku ini hanya teman tidurnya."
"Sayang…" Baekhyun memeluk sahabatnya. "Jangan membuat dirimu rendah Kyung, lagipula kau bisa menolaknya bukan."
"Aku terlalu jalang untuk bisa menolaknya, gairahku bangkit hanya dengan melihatnya." Kyungsoo menertawai kebodohannya.
"Apakah kau menyukainya?"
"Ti…tidak!" Kyungsoo gugup. Baekhyun menatap lekat-lekat sahabatnya. "Jujur padaku!"
"Iya aku menyukainya. Menyukai seksnya, memujanya tapi tidak mencintainya!" Kyungsoo merasa lidahnya pahit.
"Jika memang seperti itu, kalian bisa saling memanfaatkan." Seringai licik muncul di wajah cantik Baekhyun. Kyungsoo memasang tatapan apa?
"Jika Jongin hanya memandangmu sebagai teman seks, kaupun bisa melakukan hal yang sama. Tapi ini bisa terjadi jika kau benar-benar tidak memakai perasaanmu!" Saran luar biasa dari wanita jalang.
"Kau gila!" Pekik Kyungsoo.
"Aku hanya tidak ingin kau menderita, emansipasi wanita!" Baekhyun mengepalkan tangannya layaknya pejuang kemerdekaan. "Hanya ada dua jalan, kau menolaknya atau memanfaatkannya!"
Kyungsoo menenggelamkan wajahnya pada lutut kakinya, saran Baekhyun membuat kepalanya berdenyut.
"Akan kupikirkan. Sekarang kita lihat apa yang kau bawa untukku." Kyungsoo melirik tumpukan tas yang berserakan di ranjangnya.
"Aku sudah menukar ukuran bajumu, sekarang kau harus mencobanya. Make over!" Seru Baekhyun dengan gembira kemudian membongkar tas belanjaannya. Selanjutnya dapat dipastikan Baekhyun akan menyiksa Kyungsoo dengan segala macam mode dan tetek bengeknya.
.
.
.
Jongin benci harus meninggalkan Kyungsoo. ia masih ingin bersama Kyungsoo menghabiskan akhir pekan bersamanya, bukannya menghadiri undangan walikota seperti sekarang. Jongin yakin, setelah basa-basi busuk dan pidato yang tidak berujung dan berpangkal, satu-satunya yang diharapkan pemerintah adalah sumbangan. Mengapa mereka tidak mengiriminya surat dan dengan senang hati ia akan menandatangani cek.
"Jongin…" Jongin menoleh dan lagi-lagi Tuan Do Min Joon. Jongin benar-benar muak melihat pria tua ini. Pria munafik yang penuh dengan topeng.
"Oh tuan." Jongin tidak bisa menutupi nada dingin dalam suaranya. Minjoon mengernyit, selanjutnya ia justru merasa geli.
"Kau terlihat berbeda Jongin."
"Saya orang yang sama tuan, belum ada alien yang mengambil tubuh saya dan menggantikannya dengan orang lain."
"Aku suka humormu!" Minjoon menepuk pundak Jongin. Jongin serasa ingin meninju balik wajahnya.
"Aku juga menyukai pemuda yang suka humor." Jihyun datang mendekati suaminya, membawa segelas minuman di tangannya. Dia tampak luar biasa cantik. Jongin tidak mengerti apalagi yang kurang dalam diri nyonya Jihyun sampai pria ini harus berselingkuh dengan Kyungsoo.
"Anda terlihat luar biasa cantik nyonya, tuan Minjoon sangat beruntung memiliki anda." Sindir Jongin.
"Kau salah Jongin, suamiku tipe pembosan. Dalam 28 tahun perkawinan kami, dia pernah melakukan kesalahan." Jihyun mendekati Jongin dan berbisik. "Dia selingkuh dengan wanita muda yang sangat cantik."
"Sayang… jangan menceritakan aib keluarga." Minjoon mengecup bibir istrinya, perut Jongin mual. Bahkan sang istri terlalu baik dan sepertinya tidak ada beban ketika mengingat perselingkuhan suaminya.
"Tidak… aku hanya ingin Jongin lebih menghargai wanita. Sepertinya dia sangat cocok dengan putri kita." Jihyun kini menatap Jongin. "Apakah kau sudah mempunyai teman kencan Jongin?"
"Maaf nyonya?"
"Aku punya seorang putri yang sangat cantik, aku pikir dia sangat cocok denganmu. Mungkin kami bisa mengenalkan kalian." Tawar Jihyun penuh harap.
"Kau ingin menjodohkan putri kita dengan Jongin?" Minjoon menaikkan alisnya.
"Saya sangat menghargai kemurahan hati nyonya, tapi saat ini saya sudah mempunyai seseorang." Ucap Jongin.
"Apakah wanita yang bersamamu di restauran?" Tanya Minjoon.
"Iya tuan, dia orangnya." Jongin menatap Minjoon penuh tantangan. Menunggu reaksi Minjoon. Menatap Minjoon dengan tatapan membunuh. Untungnya Minjoon yang tahu duduk persoalannya memilih mengabaikan. Merasa tenang dalam hatinya karena sepertinya Jongin memang serius dengan putrinya.
"Aku turut bahagia untuk kalian."
"Terimakasih tuan." Sahut Jongin dan selanjutnya dia menimpali Minjoon bicara tentang bisnis. Kemudian memilih pergi ketika walikota sudah memulai pidatonya.
Kyungsoo melirik ponselnya, beberapa pesan dari Baekhyun.
Baekhyun : Aku bosan setengah mati dan hampir meledak karena marah. Tuan Siwon membatalkan wawancara!
Kyungsoo : Siwon?
Baekhyun : Iya Siwon! Sang milyuner!
Kyungsoo : OMG! Dia adalah pemilik yang baru tempatku bekerja. Aku belum pernah melihatnya.
Baekhyun : Dia orang tua yang menyebalkan! Semoga kau tidak pernah bertemu dengannya.
Kyungsoo : Sepertinya begitu karena aku bukan pejabat disini.
"Nona Kyungsoo, aku harap kau sudah menyelesaikan tugas yang kuberikan padamu." Kyungsoo terlonjak dan hampir melempar ponselnya. Dongsuk tiba-tiba berdiri di depannya. Senyum iblis terpampang di wajah tampannya.
"Hampir selesai tuan, tinggal beberapa detail lagi."
"Hmm… kalau begitu ponsel itu harus kau simpan untuk sementara waktu nona Kyungsoo." Ucap Dongsuk lembut seperti biasa, tapi mampu membuat wajah Kyungsoo merah.
"Dia memang menyebalkan." Gerutu Irene setelah Dongsuk pergi. Kyungsoo menggangguk semangat. "Tapi bagaimanapun kita tidak bisa menyalahkannya, aku dengar tuan Siwon laki-laki yang keras." Lanjut Irene.
"Tunggu sampai aku menjadi pemilik majalah… aku akan memanjakan semua karyawanku."
"Khayalan si miskin." Cibir Irene kemudian mengacuhkan Kyungsoo dan meneruskan pekerjaannya. Kyungsoo mendengus. Kembali berkutat dengan pekerjaannya, tapi ponselnya kembali berdenting. Kyungsoo menoleh kiri kanan. Merasa situasi aman, ia membuka ponselnya. Pesan dari Baekhyun. Kemudian satu pesan yang tidak ia ketahui nomernya.
001-xxxxxxx : Baby… aku menunggumu di coffe shop.
Kyungsoo menggerutu.
"Kau tidak takut Dongsuk memergokimu lagi?" Irene menengok dari sebelah.
"Seseorang begitu percaya diri mengirimiku pesan tanpa nama."
"Apa isinya?"
Kyungsoo kembali membaca. Baby… baby? Hanya jongin yang memanggilnya baby, hampir mendekati babi. Mungkin jongin terinspirasi ketika melihat bentuk tubuhnya.
"Mungkin orang iseng!" Sahut Kyungsoo cepat. Tapi bibirnya tersenyum, bahagia ternyata Jongin masih mengingatnya.
Kyungsoo : Maaf Jongin aku tidak bisa, aku bekerja.
Jongin : Aku tidak meminta baby, lagipula ini jam makan siang. Aku akan menuntut perusahaanmu jika mereka tidak memberikan waktu makan siang untuk karyawannya.
Kyungsoo : Aku sudah membuat asisten big boss marah, aku tidak mau membuatnya membenciku. Aku sudah membeli makan.
Tidak ada balasan dari Jongin. Bagaimanapun Kyungsoo mencintai pekerjaannya. Ia tidak mau gairah jalangnya merusak apa yang sudah ia capai. Kyungsoo berjalan menuju pantry, dan seperti dugaannya tidak seorang pun keluar kantor untuk makan siang. Mereka menggunakan jasa antar makanan. Cuaca Century tengah mendung, semua karyawan tidak mau membuatnya menjadi badai.
Baru saja Kyungsoo membuka paket makannya, seorang front office memanggilnya.
"Ada tamu untukmu Kyung, dia berada di ruangan Dongsuk. Kau diminta kesana."
Matilah ia. Kyungsoo berharap Jongin tidak serius dengan perkataannya. Lagi-lagi Kyungsoo bergulat dengan detak jantungnya. Menghitung tiap ubin lantai untuk memperlambat langkahnya, tapi gedung Century begitu kecil. Kyungsoo menarik nafas panjang sebelum mengetuk pintu ruangan CEO. Merasa hampir pingsan begitu masuk dan mendapati Jongin duduk di sofa bersama Dongsuk dengan suasana tegang seperti perang Amerika melawan Alqaeda.
"Duduklah nona Kyungsoo." Perintah Dongsuk. Kyungsoo duduk di depan Jongin. Pria itu menatapnya.
"Aku tidak pernah melarangmu untuk keluar makan siang, jangan membuatku malu di hadapan tuan Jongin, nona Kyungsoo."
"Aku tahu tuan, maafkan aku…" Kyungsoo bingung harus membuat alasan apa. Kyungsoo serasa ingin mencekik Jongin karena membuatnya malu. Mencekiknya dengan kedua payudaranya yang besar. Pikiran nakal itu membuatnya tersenyum.
"Aku pikir itu tidak lucu nona Kyungsoo." Dongsuk masih menatapnya kesal.
"Maafkan aku tuan, seharusnya anda tidak memperdulikan pria ini. Dia memang pria yang selalu memaksakan kehendaknya." Kyungsoo menatap Jongin kesal tapi pria itu tersenyum manis.
"Aku tidak bisa, dia akan menuntut Century."
"Tuan Dongsuk, bisakah aku meminta waktu berbicara berdua dengan nona Kyungsoo?" itu bukan permintaan tapi lebih terdengar seperti perintah. Dan hebatnya aura Jongin membuat Dongsuk yang arogan tunduk dan keluar dari ruangannya.
"Hanya itu?" Kyungsoo tidak percaya, semudah itu Jongin memengaruhi Dongsuk.
Jongin bangkit dan mendekati Kyungsoo. Memegang dagu Kyungsoo lalu menciumnya. "Aku bisa melakukan apa saja sweetheart."
"Ini kantor Jongin. Aku tidak mau setelah kau pergi dari sini aku membereskan barang-barangku."
"Percayalah, kau adalah orang terakhir yang akan Dongsuk pecat."
"Apa yang membuatmu seyakin itu, ini bukan perusahaanmu." Dengus Kyungsoo, Jongin kembali menciumnya.
"Aku punya pengaruh bisnis yang kuat baby…" Dan lagi, Jongin melumat bibirnya. "Dan jangan katakan padaku, kau datang hanya untuk menciumku."
"Aku sudah katakan, aku akan mengajakmu makan siang." Jongin menarik lengan Kyungsoo, tanpa memperdulikan penolakan Kyungsoo.
"Jongin jam makanku sebentar lagi berakhir. Aku akan sangat menyukai pekerjaanku. Kau akan membuatku benar-benar dipecat." Kyungsoo terpaksa menyeret kakinya mengikuti Jongin. Untungnya semua pegawai tengah menikmati makan siang di pantry jadi tidak ada yang melihat drama Kyungsoo-Jongin.
"Jangan menjadi gadis cerewet sayang, kau bisa bekerja padaku jika mereka memecatmu." Jongin membuka pintu mobilnya "Sekarang masuklah."
"Aku pikir kita akan makan siang di coffe shop."
"Itu hanya kedai kopi dan snack, tidak ada menu makan siang Kyungsoo." Jongin menepikan kendaraannya pada restauran pertama yang mereka lewati. Kyungsoo mengikutinya dengan patuh dan duduk di kursi yang ditarik Jongin untuknya.
"Aku berhasil menurunkan beratku 2 kg, jangan membuatku naik menjadi 4 kg Jongin." Protes Kyungsoo ketika melihat makanan yang dipesan Jongin untuk mereka berdua.
"Kau tidak gemuk sayang, berapa kali aku harus katakan itu. Dan aku tidak suka melihat perempuan kurus kering." Sahut Jongin. Kyungsoo meringis dan mulai memasukkan makanan itu hati-hati ke mulutnya. Kyungsoo bisa membayangkan berapa banyak kalori yang akan disumbangkan steak kambing ini kedalam tubuhnya.
"Kau ingin aku menyuapimu?"
"Tidak!" Serunya. Terakhir kalinya Jongin menyuapiya muffin, Kyungsoo tidak bisa berhenti.
"Kalau begitu habiskan makananmu."
Kyungsoo meringis dan hampir menangis ketika mengetahui dunia memang sangat sempit. Joonmyeon mantan kekasihnya ketika ia tinggal di Inggris muncul. Pria itu mendekatinya.
"Kyungsoo…" Sapanya tapi matanya menatap Jongin penuh tanda tanya.
"Joonmyeon…"
"Aku tidak menyangka kau benar-benar kembali."
"Aku juga tidak menyangka kau sudah pulang dari Inggris." Kyungsoo berdoa semoga Joonmyeon tidak berbicara lebih jauh lagi.
"Kau tidak mengenalkan temanmu padaku baby." Jongin bicara pelan tapi mampu membuat Kyungsoo kelabakan.
"Jongin ini Joonmyeon. Joonmyeon ini Jongin." Walaupun Joonmyeon adalah pria matrealistis tapi Joonmyeon bukan pria yang angkuh, dia memberikan senyum ramah pada wajah Jongin yang dingin.
"Baiklah aku tidak akan menggangu, tapi sangat menyenangkan melihatmu lagi Kyung. Sampai bertemu." Ucap Joonmyeon. Kyungsoo menghembuskan nafas bahagia.
"Mantanmu?" Tanya Jongin dengan tepat. Kyungsoo mengangguk. "Kembali darimana Kyung?"
"Inggris… aku kuliah disana." Akunya. Pikiran Jongin penuh tanda tanya. Kuliah di luar negeri apalagi Eropa tidak mungkin menghabiskan biaya sedikit. Siapa sebenarnya Kyungsoo?
"Aku tidak menyangka kau kuliah di Inggris." Sudah bisa ditebak Jongin akan menanyakannya.
"Aku mendapat beasiswa." Akunya tanpa berbohong karena memang itu kenyataannya. "Dan aku juga bekerja paruh waktu." Itu juga bukan kebohongan walaupun kiriman dari orangtuanya tetap berjalan setiap bulan. Kyungsoo hanya mengikuti arus pergaulan teman-temannya yang sederhana. Kiriman dari orangtuanya lebih banyak dihabiskan oleh Joonmyeon dan digunakan Kyungsoo untuk kegiatan sosial.
Jongin tidak bertanya lebih jauh lagi, bukan karena tidak peduli tapi ia berjanji akan mencari lebih jauh tentang Kyungsoo. Saatnya memakai kelebihan yang ia punya, bersyukur pada kekayaannya yang melimpah.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
Thanks for reading.
Jangan lupa review, aku suka baca dan bales review kalian ^^
Untuk cerita asli bisa baca di www. Wattpad user /Chantiqe (spasi dihapus)
See you next chapter~
