Little Sequel of Silent and Blind
-Oh My Family-
Happy reading yeoreobun...
.
.
.
GS, OOC
DON'T LIKE, DON'T READ
NO BASH AND NO PLAGIARISM PLEASE ^^,
Sorry for typo
.
.
.
I hope you'll like my story
.
.
.
Oh My Family
Cast : Kim Jongin & Do Kyungsoo (GS)
CHAPTER 7
Everything for Us…
Previous chapter
"Apa aku boleh minum disini?"
Luhan mengangguk.
"Aku butuh sesuatu untuk membuat pikiranku tenang," seru Sehun.
"Tapi kenapa-kau-datang kesini?"
"Akan menyebalkan jika aku minum seorang diri. Dan tempat yang terpikir hanya kedai kopimu."
"Masih ada pie stroberi untukmu. Aku akan ambilkan."
Entah ada apa, bagaimana, dan sejak kapan, Sehun merasa Luhan adalah teman yang baik dan mau untuk menjadi teman mengobrolnya. Apa pun ini, Sehun bersyukur dia menemukan teman baru untuk mengobrol yang baru setelah kakaknya menikah.
.
.
.
.
Hari demi hari berganti. Minggu demi minggu semakin tak terasa. Musim pun berganti tanpa diminta. Kyungsoo duduk di sofa ruang tengahnya, membungkuk dengan jari-jarinya yang perlahan menggerakan alat pemotong kuku. Helaian rambut hitam lurusnya yang tak terikat tertiup angin musim panas.
"Jongin-ah, kenapa lama sekali?" teriaknya memanggil Jongin.
Tak lama sang pemilik nama keluar dari kamar di lantai dua, membawa sebuah kotak berwarna merah yang penuh dengan debu. Kyungsoo hanya menatap suaminya heran. Jongin membawa kotak merah itu ke halaman depan dan membersihkan debu yang menutupinya.
TING... TONG...
Ada yang membunyikan bel, meminta sang pemilik rumah membuka pagar dan membiarkannya masuk. Kyungsoo yang berniat menghampiri Jongin, mengurungkan niatnya dan menuju monitor door lock memeriksa siapa yang datang. Senyum Kyungsoo merekah seketika saat tahu siapa yanh datang. Dengan sedikit berlari dia menuju pintu pagar untuk menyambut tamu yang datang mengunjunginya dan Jongin.
"JONGSU-YA!" teriak Kyungsoo menyapa Jongsu.
Jongin melirik kesal begitu mendengar istrinya menyebut nama saudara kembarnya. Dia masuk membawa kotak merah yang kini sudah tak berdebu lagi.
"Hello my brother..." sapa Jongsu riang lalu mendekati Jongin dan memeluk tubuh Jongin.
"Kau-kenapa-kau harus datang hari ini?" gerutu Jongin sambil berusaha menjauhkan tubub Jonsu darinya.
"Kau tidak rindu padaku?" goda Jongsu.
Kyungsoo yang masuk sambil menggendong Lena hanya tertawa melihat Jongin dan Jongsu yang tidak pernah saling menyapa dengan cara yang manusiawi.
"Eomeonim dan abeonim menyuruhku dan Jongsu untuk datang kemari dan mengantarkan ini."
Jawab Donna sambil memberikan kotak berisi makanan. Jongin merasa malu. Sudah cukup lama dia dan Kyungsoo tidak datang berkenjung ke rumah ibu dan ayahnya untuk menemui mereka. Jongin pergi ke dapur untuk menyimpan kotak makanan yang Donna bawa. Tanpa dia tahu, Jongsu sedang sibuk melihat isi kotak merah yang baru saja Jongin bersihkan dari debu.
"Kau yang menggambar ini?" tanya Jongsu tiba-tiba.
"Ya!"
Jongin dengan cepat menutup kotak itu dan menjitak kepala Jongsu.
"Jangan buka barang orang lain sembarangan!" protes Jongin.
"Lena-ya, nanti saat kau besar jangan pernah kau bertengkar dengan saudaramu, seperti ahjussi-ahjussi itu, oke?"
Jongsu dan Jongin duduk memandang Donna dan Kyungsoo yang sedang bermain dengan Lena. Mereka meneguk kopi dingin mereka masing-masing.
"Ya, kau tidak ingin melihat istrimu seperti itu?" tanya Jongsu.
"Apa maksudmu?"
Jongsu merubah posisi duduknya. Tak lagi bersandar pada sofa, sekarang ia menopang tubuhnya dengan kedua tangannya yang berada di atas pahanya.
"Lihat itu. Seorang anak. Kau tidak ingin membuat keluarga kalian semakin lengkap?" jelas Jongsu.
"Dia tidak pernah bicarakan tentang itu serius denganku," balas Jongin tak peduli.
"Hey, kau tahu bagaimana Kyungsoo. Dia bukan tipe wanita yang akan secara langsung tanpa berpikir, bicara tentang apa yang ada dipikirannya."
Jongin diam. Perkataan Jongsu tak hilang begitu saja.
"Cobalah bicara tentang ini dengannya. Apa lagi yang kalian tunggu? Kau lihat Kyungsoo begitu bahagia bermain bersama anak kecil. Itu akan lebih baik jika dia bermain bersama anaknya sendiri," ucap Jongsu.
Jongin tak merespon ucapan Jongsu dengan perkataan. Hanya menaril nafas sambil tersenyum melihat istrinya.
"Aku sudah bicarakan ini dengannya. Kita tidak akan menunda apapun. Jadi, tunggulah saja sampai ada kabar baik."
"Aku menunggu kabar itu. Rajin-rajinlah melakukan 'itu'," goda Jongsu.
"Aishh... menjijikan mendengarmu bicara itu padaku," protes Jongin.
"Aku serius. Aku lebih berpengalaman dibandingkan kau."
"Eyy... aishh..."
Jongin pergi meninggalkan Jongsu. Dia tahu jika ujung pembicaraannya akan berakhir dengan pembicaaan erotis yang tak masuk akal.
"Ya! Kau mau kemana? Kembali duduk dan dengarkan nasihatku," seru Jongsu sedikit berteriak.
"Tidak terima kasih," jawab Jongin dengan cara yang sama.
.
.
.
Jongin sedang duduk di sofaa ruang tengah, menatap layar laptopnya dengan serius. Kyungsoo sedang sibuk menyiapkan makan malam. Menghangatkan makanan yang pagi tadi Jongsu dan Donna bawa untuk mereka berdua.
"Jongin-ah, makan malam sudah siap."
Tak ada jawaban.
"Jongin-ah…" panggil Kyungsoo lagi.
Jongin masih asik menatap layar laptopnya. Kyungsoo melepas apron yang ia pakai, lalu berjalan menghampiri suaminya.
CHU~
Jongin yang benar-benar serius dengan laptopnya terkejut karena Kyungsoo tiba-tiba meengecup pipi kirinya.
"Makan malam sudah siap," ucap Kyungsoo manis.
Jongin menyuapi mulutnya sedikit demi sedikit. Matanya sesekali melirik istrinya yang juga sedang menikmati makan malamnya.
"Apa menatapku terus membuat kau kenyang, sayang?" ucap Kyungsoo tiba-tiba.
Jongin langsung menatap mangkuk nasinya tak jelas, ia berusaha agar matanya tak beradu pandang dengan wanita di hadapannya. Tapi…gagal! Matanya tak bisa menahan diri untuk tidak melirik ke arah Kyungsoo.
"Ada yang sedang kau pikirkan?"
Jongin menggeleng.
"Kau yakin?"
Jongin mengangguk.
"Baiklah kalau begitu. Habiskan makananmu."
Kyungsoo membawa mangkuk dan piring kotor lalu langsung mencucinya. Ia tinggalkan suaminya yang masih menyuapi mulutnya dengan nasi.
Jongin selesai dengan makan malamnya. Kyungsoo sudah di kamar. Dia mengatakan akan merapikan beberapa dokumen sekolah. Dipikiran Jongin sejak siang dipenuhi dengan apa yang dikatakan Jongsu siang tadi. Apa tidak apa-apa jika dia meminta seorang bayi kecil terang-terangan pada Kyungsoo? Mereka pernah membicarakan tentang ini. Tapi, mereka belum pernah melakukan 'rencana' ini sejak mereka membicarakannya. Lalu malam ini, apa baik jika Jongin langsung menuntut? Bukan—ini bukan menuntut—haya bertanya. Apa Kyungsoo akan berkata 'iya' karena sudah setuju tak akan menunggu. Tapi, Jongin tahu, istrinya bukanlah tipe wanita yang—mudah—untuk—seperti—itu. Langsung 'melakukan' rencana mereka begitu Jongin bertanya. Ya, pikiran ini yang terus membayangi pikiran Jongin.
Kyungsoo sedang asik dengan map dan kertas dokumen sekolah. Jongin tanpa mengeluarkan suara berjalan dan naik keatas ranjangnya. Ia ambil earphone dari dalam laci meja kayu di samping ranjang.
"Kau akan tidur?" tanya Kyungsoo tiba-tiba.
"Hmmm," jawab Jongin.
"Secepat ini?"
"Hmmm."
"Baiklah, selamat malam, sayang."
"Hmmm."
Kyungsoo menatap suaminya yang menurutnya bersikap aneh. Ini belum pukul 9 dan Jongin sudah akan tidur? Lalu, dia akan tidur dan tidak memberikan ciuman atau apapun sebelum ia tidur? Dia ingin protes pada Jongin tapi suaminya itu sudah menutup tubuhnya dengan selimut. Itu, berarti Jongin tidak ingin diganggu. Jadi, Kyungsoo mengurungkan niatnya itu dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Hampir pukul 11 malam, Kyungsoo selesai dengan pekerjaannya. Tiga hari lagi akan ada audit dan dia harus menyiapkan semua keperluan yang dibutuhkan. Kyungsoo naik ke atas kasur, mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Tapi, tiba-tiba…
"Kyungsoo-ya."
"Aaakk!" teriak Kyungsoo.
Kyungsoo terkejut karena Jongin yang dia tahu sudah tertidur tiba-tiba bersuara memanggil namanya.
"Jongin-ah!" kesal Kyungsoo.
Jongin hanya memperlihatkan matanya dari balik selimut yang sejak tadi menutupi tubuhnya.
"Kau mengagetkanku. Kau belum tidur?"
"Belum," jawab Jongin singkat.
"Sejak tadi kau membiarkan selimut ini menutup tubuhmu?"
"Hmmm."
"Astaga, beruntung kau masih bernafas dan bisa memanggil namaku."
Jongin tak berkata apapun. Hanya melirik Kyungsoo yang berada di sampingnya. Perlahan ia menunjukkan wajahnya. Sekarang Jongin tak lagi berbaring dan sudah duduk di samping Kyungsoo.
"Ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Kyungsoo bernada serius.
"Ada," jawab Jongin.
"Kalau begitu bicaralah, aku mendengarkan."
Jongin mengehla nafas panjang. Pipinya mendadak merah.
"Itu—soal—hmmm… kau tahu—"
Kyungsoo menundukan kepalanya dan mengecup bibir Jongin.
"Tidak perlu jika kau belum mau katakan itu padaku."
"Kau ingat tentang pembicaraan kita—tentang seorang anak."
"Iya, lalu?"
"Bagaimana jika malam ini—kita—mulai—itu?"
"Huh?"
"Kita coba malam ini untuk itu."
"Ini yang membuatmu bersikap aneh padaku sejak tadi?"
Kyungsoo meneguk air minum yang ia bawa sebelumnya. Sampai—habis. Kyungsoo lalu membaringkan tubuhnya. Menutup sebagian badannya dengan selimut, hingga tersisa hanya kepalanya saja yang terlihat.
"Kalau begitu, ayo," ucap Kyungsoo manja.
"Huh?" Jongin merasa dia salah mendengar.
"Kau bilang jika kau ingin seorang anak."
"Kau tidak marah aku bicara tentang ini."
"Untuk apa aku marah."
"Tapi—" Jongin terlihat ragu.
"Lakukan sekarang sebelum aku mengantuk."
Malam yang indah? Mungkin malam yang aneh tapi menyenangkan bagi Kyungsoo dan Jongin. Pada akhirnya Kyungsoo menepati janjinya pada suaminya untuk tak menunda apapun. Lagi pula, Kyungsoo sudah iri, begitu iri jika melihat Donna menggendong Lena dan membawa kemana pun Donna pergi.
.
.
.
.
Satu bulan…
Dua bulan…
Tiga bulan…
Empat bulan…
Sudah tiga bulan berlalu. Tapi belum ada tanda-tanda apapun tentang adanya calon bayi mungil di dalam perut Kyungsoo. Khawatir ada yang salah dengannya, Kyungsoo sampai memeriksakan dirinya ke dokter kandungan. Tapi, hasil yang Kyungsoo dapat selalu sama. Tidak ada masalah atau apapun dalam diri Kyungsoo.
'Sabarlah, mungkin Tuhan sedang menguji dan mencari waktu yang tepat untuk menghadirkan bayi mungil kalian.'
Kalimat itu yang selalu dokter katakan setiap kali Kyungsoo pergi untuk memeriksakan dirinya. Jongin pun selalu meminta Kyungsoo bersabar. Tapi, wanita muda ini sudah tak sabar mendengar kabar baik dari alat tes kehamilan.
Jongin-ah, aku akan ke rumah eomma, jemput aku saat kau pulang nanti. Ok, tampan?
Pesan singkat Kyungsoo kirim untuk Jongin. Memberi suaminya kabar jika dia akan pergi ke rumah ibunya. Kyungsoo belum menceritakan tentang rencananya bersama Jongin yang ingin memiliki seorang bayi mungil. Rasa stress dan tertekan Kyungsoo rasakan karena dia tak kunjung mendapat kabar baik. Menceritakan ini pada ibunya, dan mendapat beberaapa nasihat dan saran mungkin bisa membuat Kyungsoo sedikit tenang.
Kyungsoo pergi ke toko kue untuk membeli kue coklat untuk ibunya. Menyeruput segelas ice Americano Kyungsoo duduk di kursi kayu yang berada di luar toko. Mencari nama Sehun di handphonenya. Kyungsoo mau meminta adiknya menjemputnya. Kakinya sedang malas untuk berjalan selama 20 menit menuju rumah ibunya.
"Sehun-ah, kau dimana?"
"…"
"Kalau begitu jemput aku sekarang."
"…"
"Aku di toko kue tempat biasa eomma membeli kue."
"…"
"Baiklah. Aku belikan kau bubble tea."
Kyungsoo kembali masuk untuk memesan bubble tea untuk Sehun. Beruntung, toko kue ini menjual kopi, bubble tea, dan teh, jadi Kyungsoo tak perlu susah payah mencari lagi. Kyungsoo kembali duduk di kursi kayu depan toko kue.
Lima menit…
Sepuluh menit…
Sehun masih belum juga sampai. Ice Americano yang sejak tadi menjadi teman Kyungsoo pun sudah habis.
"Astaga, kemana Oh Sehun. Apa jarak dari rumah ke tempat ini bertambah sejak aku tak tinggal lagi di sana?"
Saat Kyungsoo yang kesal akan menghubungi Sehun, orang yang ditunggu datang. Berjalan dengan tenang menebar senyum.
"Mana bubble tea ku," pinta Sehun begitu ia sampai.
"Aku menunggumu sepuluh menit di sini, Oh Sehun!"
"Aku sudah berusaha berjalan secepat yang aku bisa, noona," jawab Sehun santai sambil meminum bubble teanya.
"Apa? Berjalan? Kau tidak memakai mobil? Jelas-jelas aku memintamu untuk menjemput."
"Kau tidak mengatakan jika kau ingin aku jemput menggunakan mobil."
Kyungsoo meremas gelas ice americanonya yang sudah kosong. Kesal mendengar jawaban Sehun yang datang berjalan kakin untuk menjemputnya.
BUK!
Satu jitakan di kepala Sehun, Kyungsoo berikan. Sehun hanya meringis dan tertawa senang melihat kakaknya kesal. Sebenarnya Sehun ada alasan kenapa dia menjemput kakaknya seperti ini. Ada yang ingin Sehun ceritakan pada kakaknya tentang Soonil. Berjalan sambil menenteng plastik berisi kue untuk ibunya, Sehun mulai menceritakan apa yang menganggunya.
"Jadi kau meminta saranku tentang kau dan dia?"
"Iya. Kau tahu aku tidak bisa menceritakan tentang ini pada orang lain."
"Tentu saja aku akan menyuruhmu untuk tak lagi menemuinya, menghubunginya."
Sehun menghela nafas. Hati kecilnya selalu berkata hal yang sama. Memintanya untuk tak lagi menghubungi Soonil. Tapi, sulit bagi Sehun melakukan itu. Sehun masih menyayanginya dan tidak ingin meninggalkan Soonil. Sudah dua bulan Soonil tak memberi kabar yang jelas pada Sehun. Terkadang panggilan telepon Sehun dia acuhkan. Saat Sehun berusaha untuk menemui Soonil dengan datang ke tempat kerja Soonil, orang di tempat kerjanya selalu mengatakan jika dia sedang bertugas di luar. Tak hanya itu, Sehun pun datang ke rumah Soonil dan dia pun tak mendapat jawaban yang memuaskan. Soonil masih memberinya kabar, tapi itu tak tentu. Terkadang setelah tiga hari setelah Sehun mengirimnya pesan, Soonil baru membalas. Bahkan, tak jarang seminggu kemudian Sehun baru mengetahui bagaimana kabar kekasihnya.
'Aku sedang sibuk dengan pekerjaanku. Maafkan aku Sehun-ah'
'Aku baik-baik saja, Sehun-ah.'
Hanya pesan itu yang selalu Sehun terima. Tak pernah lagi Sehun mendengar suara Soonil yang manja memintanya untuk menjemput atau mengantarnya ke suatu tempat. Sehun rindu kekasihnya. Rindu sangat.
"Oh Sehun, aku hanya tidak ingin kau terluka karena kau yang terlalu memaksakan perasaanmu sendiri," ucap Kyungsoo pelan.
"Terima kasih sudah mendengarkan aku, noona."
Hanya senyuman dan ucapan terima kasih yang bisa Sehun tunjukkan pada kakaknya. Pria muda ini tahu kakaknya mulai menunjukkan ketidaksukaannya pada Soonil sejak dia beberapa kali melihat Soonil pergi dengan seorang lelaki, dan itu bukan Sehun—adiknya. Ini bukan kali pertama Kyungsoo menyuruh Sehun untuk tak lagi berhubungan dengan Soonil. Tapi, sekali lagi, Sehun tak bisa begitu saja meninggalkan orang yang dia sayang hanya karena kakaknya yang tak suka. Segala keanehan yang Sehun rasa pada Soonil tak membuat dia begitu saja memiliki keinginan untuk meninggalkan gadisnya. Terlalu banyak hal yang harus Sehun lupakan.
Kyungsoo berbaring di kamarnya. Kakinya lelah. Dia sudah tak ada tenaga untuk memarahi adiknya karena membuatnya berjalan menuju rumah.
TOK… TOK…
Seseorang dengan suara lembut memanggil nama Kyungsoo dan mengetuk pintu, meminta izin untuk masuk meski tanpa harus meminta izin pun Kyungsoo tak masalah dengan itu.
"Iya, eomma," sahut Kyungsoo.
Ibu Kyungsoo masuk dengan hati-hati ia membawa nampan berisi sepiring cake coklat dan segelas teh dingin. Kyungsoo yang sedang berbaring langsung bangun. Duduk bersila di atas kasurnya. Menunggu sang ibu mendekat dan duduk di sampingnya.
"Kau pasti lelah. Eomma sudah menyuruh Sehun untuk menjemputmu menggunakan mobil tadi."
"Dia selalu jadi adik menyebalkan untukku, eomma."
Kyungsoo meneguk teh dingin dan menyuapi mulutnya dengan potongan cake coklat. Enak. Tak heran jika ibunya sangat suka cake coklat ini.
"Habiskan itu semua, eomma kembali ke bawah."
Tapi, dengan cepat Kyungsoo menahan Ibunya untuk pergi. Seakan mengerti, ibunya kembali duduk di samping Kyungsoo. Menunggu putrinya memulai mengucapkan apa yang ingin dia katakan.
"Eomma."
"Hmm. Ada apa?"
"Sebenarnya ada yang ingin aku ceritakan."
Kyungsoo mulai menceritakan apa yang membuatnya tak bisa berhenti berpikir. Mulai dari rencananya bersama Jongin untuk tidak menunda kehadiran si kecil ditengah keluarga mereka. Tak lupa—tentang Kyungsoo—yang merasa bingung karena sudah beberapa bulan usahanya dengan Jongin—tak membuahkan hasil. Mendengar Kyungsoo bercerita ibunya hanya tersenyum. Dia tak menyangka jika putrinya akan seperti ini.
"Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Kyungsoo lemas.
Dengan lembut ibu Kyungsoo menggenggam tangan putrinya. Membuat Kyungsoo tenang dengan sentuhan kasih sayangnya.
"Eomma sekarang percaya jika putri eomma sudah dewasa," ucap ibu Kyungsoo.
"Eomma…"
"Eomma pikir kau tidak akan resah dengan hal seperti ini."
"Awalnya aku berusaha untuk tidak terlalu memikirkan ini. Tapi—ini—sudah empat bulan ini aku dan Jongin berusaha, dan kami masih belum mendapat kabar baik."
"Bersabar. Tuhan menunggu waktu yang tepat untuk dia datang di tengah kau dan Jongin. Jangan terlalu memikirkan ini. Lagi pula, eomma tidak menuntutmu untuk segera memiliki seorang anak. Asalkan putriku bahagia, eomma sudah senang."
Kyungsoo lalu memeluk ibunya erat. Meskipun itu bukan jawaban yang Kyungsoo inginkan, tapi mendengar kata-kata ibunya sudah membuat dirinya tenang. Seharusnya sejak lama Kyungsoo datang dan menceritakan ini pada ibunya. Dia tidak akan merasakan gelisah teramat karena hal ini.
.
.
.
.
Sudah hampir dua jam Kyungsoo diam di rumah kaca. Sudah lama sekali dia tak datang ke tempat ini. Duduk di kursi kayu, kedua tangan Kyungsoo sibuk mengatur bentuk tanah liat. Wangi coklat panas menyeruak di sekitarnya. Kyungsoo rindu semua hal ini. Dia ingin meminta Jongin untuk membuat rumah kaca seperti ini di rumah.
Sehun datang sambil meminum cola. Duduk di kursi kayu lainnya yang ada di ruma kaca. Menatap Kyungsoo yang asik dengan dunianya.
"Dari mana kau?" tanya Kyungsoo.
"Mencari angin," jawab Sehun malas.
"Hadapkan wajahmu di depan kipas angin jika kau hanya ingin mencari angin."
"Kau akan menginap disini?"
"Tidak. aku akan pulang nanti. Kenapa? kau rindu padaku?"
"Isshhh, tidak pernah sama sekali."
"Sehun-ah…"
"Hmmm."
"Apa menurutmu aku pantas menjadi seorang ibu?"
"Aigoo, kenapa kalian berdua menanyakan hal yang sama padaku?"
"Kalian? Maksudmu?" tanya Kyungsoo bingung.
"Noona, aku baru bertemu dengan Jongin hyung. Noona tahu apa? Dia menanyakan pertanyaan yang sama padaku."
"Jongin?"
"Iya. Kim Jongin. Suamimu," jawab Sehun mempertegas.
"Hahahahaha."
Tawa Kyungsoo pecah setelah benar-benar yakin dengan apa yang Sehun katakan. Dia benar-benar tidak menyangka jika Jongin—yang selama ini—selalu terlihat tenang dan selalu berusaha untuk membuat Kyungsoo khawatir, ternyata pria itu memiliki kekhawatiran yang sama.
"Dia benar menanyakan itu? Hahaha, astaga Kim Jongin."
"Kalian berdua memang aneh. Lain kali, jangan meminta pendapatku tentang masalah keluarga. Aku belum menikah!" gerutu Sehun.
Sehun pergi meninggalkan Kyungsoo yang masih tertawa mendengar tentang suaminya.
"Sehun-ah… terima kasih untuk hari ini. Kau benar-benar membuatku senang hari ini," ucap Kyungsoo sedikit berteriak.
.
.
.
.
Sehun bosan. Sebenarnya banyak yang harus ia kerjakan untuk tugas akhirnya. Tapi, otak dan dirinya terlalu malas untuk berpikir keras.
'Lu, masih ada kopi tersisa untukku?'
Sehun mengirim pesan pada Luhan. Ya, Luhan. Gadis pemilik kedai kopi. Entah ini kebetulan atau apa. Sejak Sehun merasa Soonil berubah, Luhan datang seperti tahu jika Sehun butuh teman mengobrol. Saat Sehun butuh teman mengobrol saat kakaknya sibuk dia akan datang menemui Luhan. Saat Sehun sedang bosan di rumah, suntuk dengan buku-buku untuk tugas akhirnya, dia akan datang menemui Luhan. Atau saat Sehun tak ada alasan apapun, dan dia hanya ingin minum segelas kopi, dia akan menemui Luhan.
TING…
'10 gelas untukmu! ^^'
Luhan membalas. Balasan singkat yang cukup membuat Sehun senang. Dengan segera Sehun pergi ke kedai kopi Luhan untuk menikmati 10 gelas kopi yang Luhan akan berikan untuknya. Saat Sehun tiba, kedai sudah akan tutup. Luhan terlihat sedang merapikan meja dan kursi. Masih ada beberapa pelanggan disana. Sehun memutuskan untuk menunggu sampai mereka semua pergi.
"Oppa!"
Seseorang memangil Sehun dan berlari ke arahnya sambil menggendong tas dan menenteng beberapa buku tebal.
"Rahui-ya."
"Sedang apa oppa di sini?"
"Menunggu kedai tutup," jawab Sehun.
Rahui melirik kea rah kedai. Luhan sedang duduk di balik meja kasir.
"Kedai tak ramai, juga sepertinya eonni sudah membereskan sebagian pekerjaanku, jadi aku bisa datang sedikit terlambat."
Sehun hanya mendengarkan tanpa berkomentar. Bersandar pada tembok setinggi pinggangnya. Tahu tak mendapat respon, Rahui menarik lengan kemeja Sehun.
"Oppa, ayo," ajak Rahui.
Sehun hanya diam.
"Akan kesal dan melelahkan jika kau menunggu di sini."
Masih dalam diam, Sehun mengikuti langkah Rahui ke sebuah kedai jajanan pinggir jalan. Menikmati odeng dan tteokbeokki yang Rahui pesan.
"Dari mana kau malam-malam begini?" tanya Sehun sedikit tak jelas karena mulutnya berisi odeng yang masih mengepul.
"Ada tes di tempat kursusku, oppa. Jadi jam pulangku sedikit telat."
"Kau sering melakukan ini, hmm? Pemilik kedai sepertinya taka sing denganmu."
Rahui terkekeh. Lalu ia kembali mengisi mulutnya dengan tteokkbeokki.
"Hmmm… hanya beberapa kali dalam seminggu," jawab Rahui takut.
"Jangan lakukan ini terlalu sering. Bantulah Luhan."
"Siap, pak!" balas Rahui melakukan gerakan hormat.
Sudah lima belas menit Sehun dan Rahui diam di kedai ini. Rahui bilang menunggu seseorang selesai meminum kopi itu hal yang menyebalkan. Sehun dan Rahui kembali ke kedai kopi Luhan. Benar apa kata Rahui, kedai sudah tutup saat mereka berdua datang.
"Eonni annyeong!" sapa Rahui.
"Kau bersama Sehun?"
"Aku bertemu oppa di jalan saat menuju ke sini," jawab Rahui lalu pergi menuju dapur.
"Apa ini hobimu datang saat kedai sudah tutup?" goda Luhan.
"Aku tidak ingin mengganggumu karena aku datang."
"Ada berapa banyak alasan di dalam pikiranmu setiap aku tanya pertanyaan ini, hmmm?"
Sehun hanya tersenyum tipis mendengan komentar Luhan.
"Eonni… Apa eonni tidak memeriksa isi dapur?" teriak Rahui.
"Ada apa? Sebentar," Luhan lalu menghampiri Rahui yang berada di dapur.
Tak lama Luhan kembali. Memasang wajah menyesal.
"Sehun-ah, maafkan aku. Tapi—ternyata—stok kopi di kedai habis. Jadi tak ada kopi tersisa untukmu," jelas Luhan.
"Tidak apa-apa."
"Selain itu, maafkan aku. Aku harus pergi untuk mengambil stok kopi untuk besok."
"Tidak eonni, biar aku saja yang pergi," timpal Rahui.
"Tidak… tidak… kau sedang ujian. Tinggal lah dan belajar untuk ujianmu."
"Tapi sudah malam, eonni," khawatir Rahui.
"Bagaimana jika aku menemanimu?" Sehun menawarkan diri.
"Ah… benar oppa, kau bisa menemani eonni pergi. Aku lebih tenang jika dia pergi bersamamu."
"Rahui-ya… Tidak Sehun-ah, tidak perlu, ini belum terlalu malam. Jadi aku akan—"
Belum sempat Luhan menyelesaikan jawabannya, Sehun sudah menarik tangan Luhan dan mengajaknya pergi. Sehun dan Luhan berjalan menyusuri jalanan yang hanya diterangi lampu jalan. Mereka hanya diam. Menikmati pikirannya masing-masing.
"Bagaimana kekasihmu?" tanya Luhan mencairkan suasana.
Senyum tipis muncul melengkungkan bibir Sehun.
"Tidak ada perubahan. Aku masih sulit untuk menemuinya. Tapi dia mengirimku pesan tadi."
"Baguslah. Itu berarti dia masih ingat padamu."
"Apa kau sering pergi untuk mengambil kopi malam-malam seperti ini?"
"Tidak sering, hanya beberapa kali."
"Jangan lakukan itu lagi, berbahaya jika kau pergi seorang diri malam hari."
Sehun pulang setelah mengantar Luhan kembali ke kedai. Ya, tanpa menikmati kopi buatan Luhan. Karena sudah terlalu malam dan Sehun tidak ingin mengganggu waktu istirahat Luhan maupun Rahui. Berjalan seorang diri menikmati kesendiriannya. Sehun jarang pergi menggunakan mobilnya. Dia lebih suka pergi menggunakan kendaraan umum. Langkah Sehun terhenti di sebuah persimpangan jalan tak jauh dari rumahnya. Dia ambil handphonenya. Menatap layar handphonenya beberapa detik. Menghela nafas. Lalu ia cari nama Soonil di daftar panggilan keluarnya. Segurat senyum muncul saat ia melihat hanya ada nama Soonil di panggilan keluarnya. Sehun berusaha menghubungi Soonil. Sudah cukup lama sejak terakhir dia mendengar suara kekasihnya.
Jika seperti ini apa yang selalu kakaknya—Kyungsoo—katakan benar-benar ingin Sehun lakukan. Tak lagi memikirkan Soonil. Membiarkan dia bahagia dengan kehidupannya. Tapi, semua kembali pada apa yang Sehun rasakan. Rasa sayang Sehun pada Soonil sudah terlalu besar. Sulit rasanya jika Sehun harus meninggalkan Soonil.
.
.
.
.
Udara begitu panas hari ini. Kyungsoo baru saja pulang dari sekolah. Dia tidak pernah tahu jika bekerja di taman kanak-kanak itu melelahkan. Kyungsoo membaringkan tubuhnya di sofa. Meenunggu keringat di tubuhnya sedikit berkurang. Matahari seperti mengikuti Kyungsoo masuk ke dalam rumah. Meski pendingin ruangan sudah ia nyalakan, itu tak berpengaruh sama sekali. Handphone Kyungsoo bordering memecah keheningan di ruang tengah. Jongsu menghubunginya.
"Jongsu-ya!" jawab Kyungsoo begitu ia terima panggilan telepon Jongsu.
"…"
"Aku baru saja sampai di rumah."
"…"
"Jongin tentu saja berada di kantornya. Ada apa? Kau rindu padanya?"
"…"
"Benarkah? Baiklah aku menunggu…"
"…"
"Jongsu-ya, bisa kah kau beli sesuatu yang segar? Hmmm… seperti bingsu?"
"…"
"Kau memang saudara ipar terbaik! Aku menunggumu."
Kyungsoo segera mengganti pakaiannya. Menunggu Jongsu datang dan membawa bingsu untuknya. Tak perlu menunggu lama, setelah sepuluh menit Jongsu datang membawa bingsu untuk Kyungsoo.
"Uhmmm… ini enak sekali. Kau penyelamat saat aku hampir mati karena panas Kim Jongsu."
Jongsu terkekeh, "kau ini."
"Kau sudah pulang bekerja?" tanya Kyungsoo.
"Belum. Setelah ini aku harus kembali karena akan ada pertemuan."
"Lalu untuk apa kau datang kesini?"
"Aku hanya ingin bertemu denganmu, Kyungkyung," jawab Jongsu sambil mencubit pipi Kyungsoo.
"Jongsu-ya," panggil Kyungsoo terdengar ragu.
"Hmmm, ada apa?"
"Hmmm—kau tahu—aku—hmmm—dan Jongin—"
"Seorang anak?" timpal Jongsu tiba-tiba.
"Bagaimana kau tahu itu?" ucap Kyungsoo terkejut.
"Sehun yang menceritakan itu padaku."
"Huh? Sehun? Oh Sehun… Aishh."
"Kau mau mendengar saranku?" Jongsu menawarkan.
Wajah Kyungsoo berbinar senang. Tawaran saran dari Jongsu seperti setitik cahaya di tengah kegelapan.
.
.
.
.
Malam hari, di kamar…
Jongin sedang duduk bersandar di ranjangnya. Menatap tabletnya dengan serius. Jongin tidak tahu apa yang sedang Kyungsoo lakukan di dalam kamar mandi saat ini. Bahkan karena Jongin focus dengan pekerjaannya, dia sampai tak sadar jika istrinya sudah berada di dalam kamar mandi selama 20 menit.
Kyungsoo diam kamar mandi sejak dua puluh menit yang lalu. Menatap bayangan dirinya sendiri di cermin. Kemudia dia meringis. Menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Lalu menghentakan kakinya berkali-kali.
"Apa aku harus lakukan ini?"
"Haruskah?"
"Apa ini tidak apa-apa?"
"Tapi—"
"Haruskah?"
Kyungsoo terus bertanya pada dirinya sendiri tanpa ada jawaban yang dia dapat. Keringat mulai muncul dari kening dan tengkuk Kyungsoo. Ini bukan dia merasa panas karena sudah 20 menit dia berada di dalam ruang tertutup. Tapi, karena apa yang akan dia lakukan saat dirinya keluar dari dalam ruangan berukuran 2x4 meter ini. Kyungsoo menghela nafas panjang. Meyakinkan dirinya sendiri. Dengan ragu ia buka pintu kamar mandi.
"Jongin-ah," panggil Kyungsoo ragu.
"Hmmm," sahut Jongin tanpa melihat ke arah istrinya.
"Jongin-ah…" panggil Kyungsoo lagi dengan nada merengek.
Jongin mengalihkan pandangannya dari tabletnya dan melihat istrinya yang berdiri di depannya. Mata Jongin membulat. Seakan bola matanya akan jatuh. Senyuman aneh Jongin tunjukkan. Entah itu senyuman karena senang, heran, atau takjub.
"Astaga, sayang. Ada apa denganmu?"
Kyungsoo menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Demi apapun, sekarang ini dia sangat malu menunjukan wajahnya pada Jongin. Ingin rasanya dia mengubur dirinya sendiri ke dalam tanah.
.
.
TBC
.
.
.
Hello… hello…
Long time no see yeoreobun~
Masihkah kalian ingat dengan author ini? .
HAPPY KYUNGSOO DAY ~~
Chapter ini di kebut biar author bisa update hari ini, dihari birthday Kyungsoo ^^,
Jadi maafkan kalau kurang puas dengan isi chapter ini…
Wait for next chapter reader-nim~~
*kisshug*
*XOXO*
