Luhan menaelan ludah, lalu mencoba memberanikan diri untuk duduk di sebelah Sehun yang sedang membaca buku sendirian di pojok perpustakaan.

Sehun terdiam ketika Luhan duduk disebelahnya, ia mencoba untuk mengabaikan Luhan dan kembali fokus dengan buku yang dibacanya.

"Sehun.. Kau- rajin ke perpustakaan—akhir-akhir ini." gumam Luhan gugup. Ia bersusah payah mencoba membangun percakapan dengan Sehun.

Luhan lupa kapan terakhir kali ia dan Sehun mengobrol. Mungkin sejak malam dimana kenyataan pahit itu terbongkar? atau mungkin.. entahlah. Fikiran Luhan benar-benar kacau akhir-akhir ini.

"Sebentar lagi ujian." jawab Sehun singkat, tanpa melihat ke arah Luhan dan masih terfokus pada bukunya.

Luhan mengangguk. Ia tidak tau harus bicara apa lagi. Walau dalam hati ia ingin sekali mengobrol dan bercanda dengan Sehun seperti dulu, tapi apa daya? Semuanya sudah tidak sama lagi. Sehun tidak akan bisa melihat Luhan dengan cara yang sama seperti dahulu ketika semuanya belum terbongkar.

Luhan bisa mengerti itu, tapi hatinya tidak. Hatinya merindukan Sehun. Luhan ingin memeluk Sehun. Luhan ingin berlama-lama dengan Sehun. Luhan tidak bisa tanpa Sehun.

"Aku duluan." pamit Sehun, lalu berdiri dari kursinya dan berjalan menjauh dari Luhan.

Luhan ingin menghentikannya, menyuruh Sehun untuk tetap terus berada di dekatnya, tapi tidak bisa. Semakin ia merasa dekat dengan Sehun, rasa sakit dihatinya justru muncul kembali. Dan rasanya sakit sekali, bahkan jauh lebih sakit dari sebelumnya.


Sehun membaca pengumuman di mading itu berulang-ulang. Beasiswa kuliah di Harvard University. Universitas terkenal yang terletak di negri paman sam itu adalah tempat kuliah impian Sehun sejak dulu. Sehun selalu ingin kuliah di luar negri, itu impiannya sejak dulu. Tapi sejak ia bertemu Luhan, impiannya terlupakan sejenak. Dan sekarang, ketika semuanya seperti ini, Sehun teringat kembali akan mimpinya dan ia rasa mimpinya ini akan menyelamatkannya dari situasi suramnya saat ini.

Seseorang datang merangkul bahu Sehun dari belakang. Tidak lain lagi, yaitu Chanyeol, sahabatnya.

"Jadi, kau benar-benar ingin mengejar beasiswa itu?" tanya Chanyeol.

"Bukankah kau sendiri yang bilang ini adalah satu-satunya cara terbaik untuk menghindari semua masalahku saat ini?" gumam Sehun.

Chanyeol terkekeh pelan, "Ya. Kurasa ini tidak akan terlalu buruk."

"Walau harus berpisah jauh dengan Luhan.." gumam Sehun pelan. "Tapi setidaknya pasti akan lebih baik."

Chanyeol menepuk pundak Sehun, memberi semangat. "Tesnya akan diadakan minggu depan kan? Aku yakin kau pasti bisa!" kata Chanyeol.

Sehun mengangguk, "Ya. Aku akan berusah semampuku."

Apapun yang terjadi, aku harus mendapatkan beasiswa itu. gumam Sehun yakin di dalam hatinya.


Luhan tercengang. Ia duduk di sofa, di ruang keluarga rumah oh sehun—yang sekarang juga jadi rumahnya. Dan di sana ada orang tuanya, dan juga Sehun.

"Aku sudah berusaha semampuku, dan ini impianku. Jadi kumohon jangan halangi aku." kata Sehun.

Lima menit yang lalu, setelah makan malam. Sehun tiba-tiba saja mengeluarkan sepucuk amplop berisi pemberitahuan soal beasiswa yang ia dapatkan. Harvard University. Universitas itu bukanlah universitas biasa, hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk ke universitas itu.

Sekarang Luhan mengerti, alasan akhir-akhir ini Sehun selalu giat belajar. Ternyata ia mengincar beasiswa ini.

"Kenapa kau tidak memberi tahu ayah kau mengikuti tes?" tanya ayahnya.

"Aku hanya ingin memberi kejutan." jawab Sehun simple.

Ibunya berdiri lalu memeluk Sehun sejenak, "Selamat nak, ibu bangga padamu." katanya sambil mengelus kepala Sehun.

Sehun hanya tersenyum kecil, "Ya, terima kasih—ibu." gumam Sehun pelan.

"Luhan, tidak mau memberi ucapan kepada adikmu?" kata Ibunya tiba-tiba.

Adik. Oh ya, Sehun itu adiku. fikir Luhan. Luhan berdiri lalu mencoba tersenyum pada Sehun, "Selamat, Sehun.."

Sehun mengangguk, "Terima kasih—hyung."

Sakit sekali rasanya mengatakan satu kata itu.

Melihat keheningan di antara Sehun dan Luhan, Mr Oh berdiri lalu berdehem, "Jadi. Kapan kau akan berangkat?" tanyanya pada Sehun.

"Secepatnya." gumam Sehun yakin. "Kalau bisa, minggu depan."

Luhan terdiam, Jadi Sehun akan pergi ke Amerika minggu depan? "Sehun. Kau tidak ikut malam pesta kelulusan?" tanya Luhan.

Sehun menggeleng, "Tidak."

"Baiklah..."

"Kalau begitu ayah akan mengurus semuanya. Jadi minggu depan saat kau kesana, kau sudah punya tempat tinggal dan yang lainnya." gumam Mr Oh.

Sehun tersenyum, "Terima kasih, ayah."


Sehun kuliah di luar negri pasti untuk menghindariku. Fikir Luhan.

Luhan ingin sekali menahan agar Sehun tidak jadi pergi, tapi ia tidak bisa. Dan ia juga tidak boleh seperti itu. Ya, egois jika Luhan memaksa Sehun untuk tetap tinggal hanya karena dirinya takut jauh-jauh dari Sehun. Meskipun sekarang ini keadaannya sudah berbeda, Setidaknya Luhan masih bisa dekat dengan Sehun dan melihatnya setiap hari. Itu sudah cukup mengobati rasa rindu Luhan pada Sehun.

Sehun sedang memasukkan baju-bajunya ke dalam koper, hari ini ia akan berangkat ke USA.

Luhan perlahan melangkah masuk ke kamar Sehun.

Sehun menyadari kehadiran Luhan, tapi ia memilih untuk tetap sibuk dengan baju-bajunya.

"S-sehun..."

"hm?" jawab Sehun, masih sibuk dengan baju-bajunya.

"Kau yakin ingin kuliah di Harvard?"

"Tentu saja. Itu impianku sejak dulu."

Luhan menghela nafas pelan, "Benarkah?"

Gerakan Sehun terhenti, lalu ia berbalik untuk menatap Luhan. Sepertinya ia mengerti apa yang dimaksud oleh Luhan sebenarnya.

"Aku selalu ingin kuliah di luar negri."

"Benarkah? Bukannya ... kau ... pergi karena masalah kita?" gumam Luhan ragu.

Sehun menundukan kepalanya lalu menghela nafas pelan, "Mungkin, ya."

Deg. Jantung Luhan serasa berhenti berdetak saat itu juga. Ia tidak tau apakah ia sanggup membicarakan hal ini berdua dengan Sehun. Karena sejak hasil tes darah itu keluar, mereka hampir tidak pernah berkomunikasi.

"Haruskah dengan cara seperti ini? Menjauh dariku?"

Sehun mendongak menatap Luhan, Lalu perlahan mendekati Luhan dan menggenggam tangan Luhan. "Aku tidak menjauhimu. Aku hanya—"

"Apa?" sela Luhan. "Kau tidak mau menemuiku? Kau membenciku?" air mata yang perlahan nuncul di sudut mata Luhan itu membuat Sehun merasa sakit. Ia paling tidak bisa melihat Luhan menangis.

"Jangan menangis." gumam Sehun pelan sambil mengusap pipi Luhan. "Ini jalan terbaik bagi kita berdua. Mungkin sekarang kita tidak bisa kembali seperti awal, karena semuanya sudah berbeda." Lalu Sehun mendekati wajah Luhan dan berbisik, "Tapi beberapa tahun kedepan, saat kita bertemu lagi. Aku yakin, semuanya pasti sudah berubah." bisik Sehun pelan.

Luhan justru semakin terisak, entah bagaimana dia jadinya jika Sehun sudah pergi nanti. Tapi Luhan tau satu hal, ia tidak akan baik-baik saja tanpa Sehun.

"Sehun.. Jaga dirimu.. Aku- aku- mencintaimu." bisik Luhan di sela-sela tangisnya.

Sehun tidak tahu ia harus senang atau sedih mendengar pernyataan Luhan. Senang karena Luhan akhirnya mencintainya, atau Sedih karena ia mendengar kalimat itu sekarang saat semuanya seperti ini.

Sehun menangkup pipi Luhan lalu perlahan memiringkan kepalanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Luhan hingga akhirnya menempelkan bibirnya pada bibir Luhan.

Aku tau aku tidak boleh melakukan ini pada Luhan, tapi aku juga tidak bisa menepis perasaan ini. Aku mencintai Luhan. gumam Sehun didalam hatinya.

Luhan membalas ciuman Sehun dengan lembut. Ciuman itu terasa basah karena air mata Luhan. Tidak ada sedikitpun perasaan nafsu diantara keduanya, hanya rasa cinta yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata.

Sehun menarik dirinya untuk melepas ciuman itu lalu memeluk Luhan. "Jaga dirimu baik-baik. Aku akan kembali secepatnya."


Luhan menghempaskan tubuhnya di kasur. Separuh nyawanya serasa baru saja pergi ketika ia mengantar Sehun naik taxi ke bandara tadi. Entah kapan Sehun akan kembali, tapi yang jelas sekarang ia sudah merindukan Sehun.
Luhan menghela nafas, lalu memiringkan tubuhnya untuk memeluk guling. Tiba-tiba saja matanya menangkap satu benda asing di atas meja belajarnya.

Luhan beranjak dari kasurnya lalu berjalan mendekati meja belajarnya. Sebuah buku besar berwarna biru muda tergeletak begitu saja disana, dan cover buku itu sukses membuat Luhan menghela nafasnya beberapa detik.

Disana terdapat fotonya dengan Sehun dipantai pada malam hari. Luhan ingat, foto itu diambil pada malam valentine, Ia dan Sehun tersenyum ke arah kamera dengan background pantai.

Luhan tersenyum melihat foto itu lalu duduk di depan meja belajarnya dan mulai membuka halaman pertama pada buku itu. Terdapat sepucuk surat dengan amplop berwarna abu-abu. Luhan mengeluarkan kertas dari dalam amplop itu dan membacanya.

"Untuk orang yang paling kucintai, Xi Luhan.
Maaf aku baru bisa memberikanmu buku ini. Aku tidak pernah menemukan waktu yang tepat untuk memberikan buku ini padamu. Dan maaf jika aku tidak memberikannya secara langsung. Kuharap kau menyukainya. :)

I love you. "
from: Sehun

Luhan terdiam sejenak. Jadi buku ini dari Sehun? gumamnya dalam hati.

Jantungnya mulai deg-degan ketika ia membuka halaman berikutnya. Halaman itu dipenuhi berbagai foto-foto Luhan. Luhan terkejut, kapan Sehun mengambil foto-foto ini? fikirnya. Dan hampir di dekat setiap foto terdapat tulisan tangan Sehun yang mengomentari setiap foto itu.

Sebuah foto tangan Sehun menggenggam segelas kopi.

Kebiasaanku minum kopi di pagi hari membuatku bertemu dengannya.

Lalu foto selanjutnya, Foto sebuah gambar wajah anime yang terlihat marah.

Kira-kira beginilah wajahnya ketika marah padaku. Walaupun begitu, ia tetap imut kan?

Luhan tersenyum kecil membaca tulisan-tulisan Sehun. Di halaman-halaman selanjutnya juga terdapat banyak foto Luhan, ketika mereka berdua menjalankan tugas fotografi, di kelas, di kantin, dan di tempat-tempat lainnya. Luhan tidak pernah menyadari kapan dan bagaimana Sehun mengambil semua foto-foto itu.

Foto Luhan sedang tersenyum saat mengobrol dengan Baekhyun. "Ketika ia tersenyum padaku, aku selalu merasa seperti di surga."

Foto gedung utama sekolah yang Luhan ambil saat kelas fotografi. "Hasil foto pertamanya, ia bilang ini bagus. padahal hasilnya goyang ㅋㅋ"

Foto Luhan sedang berjalan sambil merangkul pundak Baekhyun. "Dia selalu bersama dengan Baek, membuatku jealous. Bisakah aku menggantikan posisi Baekhyun?"

Foto Luhan yang di ambil dari belakang, tangan Luhan terangkat keatas dengan senang. "Pertama kali ke karnival, ia benar-benar seperti anak kecil. Imut sekali."

Foto Luhan sedang mengerutkan keningnya sambil memperhatikan orang aneh yang ada di dalam ruangan berkaca. "Ia takut dengan orang aneh."

Foto Luhan sedang mem-pouts-kan bibirnya. "Wajahnya ketika melihat jagoannya kalah, menyedihkan sekali. ㅋㅋ"

Foto Luhan sedang memandang kaca yang berisi putri duyung. "Putri duyung itu cantik, tapi kurasa Luhan lebih cantik."

foto Luhan sedang bermain dengan kunang-kunang. "Ia takut gelap, tapi menyukai kunang-kunang yang hanya bisa terlihat di tempat yang gelap."

Foto Luhan sedang duduk di dermaga pantai, foto itu diambil dari belakang. "Kau terlihat kesepian, boleh aku menemanimu, nona manis?"

Luhan benar-benar tidak bisa menahan bibirnya untuk terus tersenyum, ia tidak menyangka Sehun membuat buku ini untuknya.

Dan di halaman yang paling terakhir, disana terdapat foto-foto Sehun dan Luhan bersama. Sebuah foto paling terakhir, sukses membuat Luhan tersenyum lebar dengan air mata yang perlahan mengalir dari sudut matanya.

Sebuah foto selca yang mereka ambil, Luhan sedang memeluk leher Sehun dari belakang dan tangan Sehun terulur kedepan untuk memegang kamera. Mereka berdua tersenyum bahagia disana.

"Aku tidak pernah yakin dalam suatu hal. Tapi ada satu hal yang sangat kuyakini dari diriku. Aku mencintaimu, Luhan."

Luhan meraba wajah Sehun di foto itu lalu berbisik pelan, "Aku juga mencintaimu, Oh Sehun.."

"Beberapa tahun kedepan, saat kita bertemu lagi. Semuanya pasti sudah berubah."

THE END


HAHAHAHA AKHIRNYA SELESAI JUGA INI FF :3 /nikahin HunHan (?)/

HAPPY ENDING KAAAN :33 MUAHAHAHA

Sengaja FF ini cepet-cepet aku selesain soalnya minggu depan bakal sibuk bangettt sampe mei. :((

Jadi, overall. KALIAN SUKA GA SAMA FF INI? :3

Aku mau ngasih tau beberapa sumber inspirasi aku buat FF ini. Nih :
-Novel tretalogi 4 Musim Ilana Tan. Summer In Seoul, Spring In London, Auntumn in Paris, Winter in Tokyo.
-film Animasi Detective Conan (Lupa eps berapa T.T)
-Film Thailand, Crazy Little Thing Called Love
-Game PS2 Bully : Bullworth Academy
-Cerpen yang aku baca di salah satu majalah indonesia. Lupa judulnya :(
-Dan MURNI HASIL IMAJINASI AKU :3

Makasih banyak yang sebanyaaaaaaaaaaaak banyaknya buat kalian yang udah nge follow, fav, sama review cerita ini. Tanpa kalian cerita ini ga bakal bisa kaya giniii. T.T muah muah muah SARANGHAE GUYSSS!
Kalo ada yang kurang jelas atau apa, ask aja di ask fm aku - exolighteu :3

Selanjutnya FF apa yang harus Aku tulis? :3 ChanBaek? HunHan lagi? straight couple? atau sequel? :p Haha saran ya guys! ^^

SAMPAI JUMPA DI FF SELANJUTNYAAAAAAA :D

DO NOT COPY PASTE MY FF WITHOUT PERMISSION ;))