Disclaimer : Naruto sepenuhnya milik Masashi Kishimoto. Cerita ini sepenuhnya milik saya.

Pairing : NaruHina

Genre : Romance

Rate : M

Warning : Typo, OOC, Gaje dan entah mungkin penyakit semacamnya yang ga bisa menjauh dari saya -_-

Sadistic Finance Manager ©_SheWonGirl_

Cuma mau bilang, makasih buat semuanya :D dan juga para pecinta pairing Naru Hina kkk~ Udah gitu aja,

Pagi itu Naruto tidak mendapati Hinata berada di tempat tidurnya sehingga dia menyegerakan dirinya mandi dan menuju rumah Hinata.

Mereka berdua sudah duduk di sofa dengan Hinata yang berada di pangkuannya. Sebenarnya tadi dirinya ingin memarahi Hinata karena pulang begitu saja setelah malam mereka tetapi melihat wajah Hinata yang memerah saat ia membuka pintu tadi, niatnya langsung menguar di udara.

Naruto segera mengangkat Hinata dan gadis itu yang tidak diberi aba-aba sedikit kaget, "Lingkarkan tanganmu di leherku, aku akan membawamu ke kamar, kau harus istirahat," ucap Naruto.

"Aku bisa berjalan sendiri," jawab Hinata.

Naruto menyunggingkan seringai khasnya, "Apa kau pikir aku akan menerima kata tidak?" tanya Naruto. Ia berjalan ke arah tangga dan naik menuju kamar Hinata.

Naruto meletakkan tubuh Hinata diatas kasur dengan pelan. Lalu ia sendiri duduk disamping Hinata, menghadapnya. Pria itu mengelus pipi Hinata dengan sayang dan gadis itu tak bisa lagi menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah, gadis itu terlihat makin manis.

Ia menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Rambut indigo panjangnya terurai sedikit berantakan. Kaos putih tipisnya membalut tubuh atasnya dan celana pendek warna biru tua dikenakannya dengan nyaman. Sekilas Naruto tadi melihat ke dada Hinata. Sialnya gadis itu memang tidak memakai bra dan wangi buah jeruk menguar dari tubuhnya.

"Kau harus tidur sekarang, sayang."

Hinata mengangguk malu dan wajahnya semakin memerah. Sedang tanpa disangka Naruto mendekatkan wajahnya pada Hinata dan mengecup bibir pink gadis itu.

Naruto menyudahi tetapi tangannya berpindah ke tengkuk dan pinggang gadis itu. "Pisahkan bibirmu," bisik Naruto.

Hinata memisahkan bibirnya tanda setuju akan perkataan Naruto. Tangannya aktif bergerak pelan ditengkuk Hinata dan sekitar perut gadis itu. Naruto menggunakan lidahnya untuk menjilati bibir Hinata. Pertama sudut bibir gadis itu dan membuatnya kegelian luar biasa, cukup lama. Tak sabar gadis itu menggerakkan tangannya menuju dada Naruto. Baru kemudian Naruto menggerakkan lidahnya pelan menuju tengah bibir gadis itu, untuk beberapa saat gadis itu menerima perlakuan Naruto hingga menyebabkan napasnya memburu dan memberat, Naruto menyeringai tipis lalu menjauhkan diri.

"Itu tanda permintaan maafku jika tadi malam aku terlalu kasar," ucapnya.

Gadis itu sedikit kaget dan menggeleng tipis.

"Di kamar mandi?" tanya Naruto. Dan Hinata membalasanya dengan gelengan cepat. Wajahnya semakin panas memerah, mengingat kejadian yang terjadi beberapa jam yang lalu.

Naruto membelai kepala Hinata dengan sayang, "Kau benar-benar harus istirahat sekarang, aku akan menungguimu sampai kau tidur," ucap Naruto.

Hinata memerosotkan tubuhnya untuk tidur. Sedang Naruto benar-benar memegang kata-katanya, tidak meninggalkan Hinata.

Saat Hinata terlelap, Naruto mendekatkan wajahnya pada perut Hinata, menyingkapkan pakaian Hinata dan menciumi perutnya, "Bertahan hiduplah disana, tumbuhlah dan menjadi janin. Kau harus ada agar aku bisa memiliki ibumu," ucap Naruto posesif.

Naruto tersenyum bahagia mengingat separuh dari rencananya berhasil. Mulai dari ia menyuruh asistennya untuk menyiapkan makan malam divisi keuangan dan membuat kesempatan agar Hinata tak pulang kerumah tadi malam. Ia merencanakannya dengan sempurna, menilik masa subur Hinata dan bercinta dengannya tanpa pelindung.

Ia hanya tinggal bersabar untuk satu bulan kedepan. Sebutan brengsek, bajingan, setan atau iblis pun tak akan jadi urusannya. Harus menghadapi Sasuke, itu tak akan masalah baginya. SATU HAL YANG DI INGININYA HANYALAH AGAR HINATA HAMIL BENIHNYA, MEMBERI KETURUNAN UNTUKNYA DAN MENGKLAIM GADIS ITU MENJADI MILIKNYA.

###

5 hari kemudian

Pria dengan setelan jas biru tua itu berjalan tergesa menuju lift. Ia harus cepat sebelum pamannya mengancamnya lagi. Sebenarnya ada apa dengannya? Dua bulan ini pamannya itu terlalu mempressure Naruto. Biasanya dia akan selalu mendukung Naruto, apapun itu. Hal ekstrem yang dilakukan Naruto pun pasti mendapat persetujuaannya. Lebih dari siapapun ia akan selalu mendukungnya.

Ia menghela napas berat di dalam lift. Dia sudah lelah. Pamannya itu pasti juga lelah. Naruto tahu. Mengurusi 2 perusahaan -textile dan tas- yang secara garis besar menjadi milik keluarganya - kecenderungan saham lebih dari 70% yang jadi milik keluarga Uzumaki - pasti menguras habis tenaga dan pikirannya. Sejak muda, pamannya itu sudah memikul semuanya. Ayahnya yang seharusnya mengurusi perusahaan textile malah melepasnya. Mengejar mimpinya untuk menjadi dokter ahli bedah jantung. Dan oh shit! Ia tidak sudi untuk mengingatnya. Cukup! Dokter dan sebangsanya itu membuatnya muak.

Tapi, sekarang Naruto belum siap menjadi direktur di sini. Bukan karena ia tidak mampu, hanya saja ia belum mendapatkan Hinata nya. Belum mendapatkan pujaannya. Belum mendapatkan gadis yang mengontrolnya secara maya. Gadis itu, sebenarnya dia punya kekuatan apa? Apa dia di dukuni? Jesus! Itu simple Naru, kau hanya mencintainya. Jangan berpikir dia punya teman makhluk astral* atau sejenisnya.

Naruto membuka pintu ruangan pamannya. Didapatinya beberapa orang yang hampir keluar dari ruangan direktur itu. Mereka bukan orang-orang biasa. Jadi, pamannya mempercepat pengunduran dirinya sebagai direktur?

"For God sake uncle, kau benar-benar melakukannya. Dan itu lebih cepat dari yang seharusnya," ucap Naruto.

Ia dan pamannya sudah duduk di sofa kulit berwarna putih di ruangan pamannya. Dirinya tadi bertemu dengan para pemegang saham perusahaan dan berbicara sebentar. Walau dia hanya manager, percayalah nama Uzumaki akan memberikan efek yang berbeda.

"Hanya melakukan sesuai prosedur, Naru. Sudah menentukan pilihan? Aku harus mengundurkan diri secara baik-baik atau secara ekstrim?

"Kau tahu jawabannya paman, tapi ini terlau cepat," jawab Naruto.

"Aku senang kau menurut padaku. 9 harimu tidak memberimu petunjuk, huh?" ucap pamannya sambil tertawa.

"Karena kau bajingan pintar," jawab Naruto datar.

"Kuanggap itu sebagai pujian, jadi bagaimana denga gadismu?" tanyanya.

"Masih dalam proses," jawab Naruto.

"Apa itu? Kau tidak pd untuk merebut dia dari kekasihnya?" Tanya Menma.

"Kau tahu aku luar dalam paman, jadi jangan meragukanku," jawab Naruto cepat.

"Tapi tidak dengan Cassandra bukan," ucap Menma.

"Jangan menyebut namanya, dia yang meninggalkanku. Hinata berbeda dengannya," jawab Naruto.

"Ow, namanya Hinata? Apa ia bekerja disini?".

"Dia bawahanku sekarang dan kau sudah pernah bertemu dengannya," jawab Naruto jujur.

"Dia gadis itu? Si gadis lift?" tanya Menma. Ia tersenyum kemudian berkata lagi, "Tipemu sekali, gadis itu lebih penurut dan polos."

"Aku tidak percaya kita membicarakan ini," ucap Naruto.

Menma bangkit dari duduknya. Mata Naruto mengikuti kearah mana pamannya itu pergi. Menma masih menyungging senyuman dan ia segera membuka kulkas yang ada di pojok ruangan. Pria itu mengambil 2 kaleng minuman soda. Barulah dia kembali ke sofa. Menma memberikan sekaleng untuk Naruto.

"Jadi, apa yang sudah kau lakukan?" tanya Menma. Pria itu meneguk sodanya.

"Kau baru saja memaksaku untuk jadi direktur dan sekarang menanyakan ini padaku?"

Pamannya menggedikkan bahu cuek, "Siapa tahu aku bisa memberi saran atau membantumu?" ucapnya menggoda Naruto.

Naruto meneguk sodanya, pamannya itu tahu kalau Naruto mencoba menghindar. Melihat ke arahnya, Menma sudah bisa menebak keponakannya.

"Kau hanya melakukan "itu" padanya sekali?" selanya.

Naruto terbatuk karena tersedak soda. Ia melotot kesal pada pamannya lalu mengusap bibirnya dengan punggung tangan, baru ia mengendurkan dasinya.

"Lakukan lagi," lanjut pamannya.

"You want me what?"

"Kau mendengarku Naru."

"You've got to be kidding me."

"Aku dengar dari pelayanmu, kau sudah pulang ke rumah tapi kau bahkan tak berbicara pada ayahmu?" ucap Menma mengalihkan pembicaraan

"Aku tidak harus berbicara dengannya."

"Kau masih belum menerimanya? Masih menyalahkannya?"

Naruto meletakkan kaleng sodanya, "Aku tidak memintanya menjadi masochist*, aku harus kembali paman," ucap Naruto. Pria itu segera bangkit dari duduknya.

"Ayahmu ..."

"Aku tahu dia mendengar ini. Aku harus berdamai dengan diriku sendiri sebelum berdamai dengannya," jawab Naruto sebelum dia meninggalkan tempat duduknya dan segera keluar dari ruangan.

"Dia mewarisi salah satu sifatmu, bro," ucap Menma. Sedang ayah Naruto yang berada di ruang kopi direktur itu tersenyum kecut.

###

Ino tersenyum tipis ketika dirinya dan Naruto masuk ke ruangan kerja. Ino tersenyum jahil pada Hinata dan menatap penuh arti pada Naruto. Mereka berdua tadi keluar bersama, makan siang.

Naruto mengangkat jari telunjuknya didepan hidungnya, lalu menggerakkan sekitar 45 derajat, "Ms. Yamanaka, konsentrasi. Kerjakan laporanmu. Aku segera memintanya," ucap Naruto sambil berjalan mendekat.

Hinata tersenyum tipis mendengar penuturan Naruto dan gadis itu segera duduk di kursinya. Sedang pria itu hanya melewati meja mereka berdua. Ia berjalan ke belakang mereka, 2 meja dari meja Hinata dan Ino, berbicara dengan asistennya.

"Apa itu? Waktu istirahatku belum berakhir. Dia dan kau saja yang mengkorupsi waktu," ucap Ino.

"Tidak ke kantin?" tanya Hinata.

"Entahlah Hina, apa karena besok aku izin cuti, aku tidak napsu makan," jawab Ino sambil mengangkat bahu.

"Bagaimana mungkin kau tidak napsu makan. Italia, bukankah akan menjadi liburan yang hebat?" tanya Hinata.

Ino hanya tersenyum tipis, sedikit memaksakan, "Semoga. Kau mau kubawakan apa?" tanya Ino.

"Apapun yang kau berikan, aku tidak akan mungkin menolak," jawab Hinata tersenyum.

###

Naruto menghilang dari ruang kerja setelah ia berbicara dengan asistennya-si pria bermuka tegas- dan pria itu juga ikut menghilang dengannya. Entah kemana perginya, itu mungkin menjadi rahasia mereka berdua. Hanya, yang diketahui oleh karyawan lainnya, Naruto dan dia kembali setelah angka menunjukkan pukul 6 sore, waktu pulang kerja. Segera setelah Naruto duduk manis di kursinya dengan tenang, Ino segera mendatanginya dan menyerahkan laporan D.O nya. Naruto masih sibuk mengendurkan dasinya.

"Penampilan yang tidak rapi, tidak akan cocok dengan image-mu Uzumaki sir!" ucap Ino.

"Terima kasih, tapi temperatur ini benar-benar membuatku gerah," jawab Naruto, ia hanya memandang kearah berkas yang dibawa Ino.

"Aku tidak keberatan jika melihat perut ratamu, sir. Tapi akan lebih menyenangkan jika Hinata yang menggantikanku," ucap Ino jahil.

"Laporannya Ms. Yamanaka," ucap Naruto sambil berdehem singkat. Ino menyerahkan folder hijau laporan D.O nya itu pada Naruto.

Masih belum mau menyerah untuk memojokkannya. Sungguh! Menggoda salah satu keluarga Uzumaki, itu sudah ada dalam kamusnya beberapa bulan terakhir ini. Hal itu sangat, mendebarkan atau sebut saja menyenangkan.

"Aku tahu, sir. Kau akan melakukan sesuatu pada Hinata saat aku mengambil cutiku," ucap Ino lagi, menyela konsentrasi Naruto.

"Dan contoh dari imajinasimu itu apa, miss?" tanya Naruto. Ia mulai menatap sebal pada Ino.

"Itu bukan menjadi urusanku, sir. Yang terpenting aku akan setuju dengan sesuatu atau ide gila yang coba kau realisasikan," jawab Ino.

"Sudah cukup?" tanya Naruto datar.

"Aku dibelakang kalian, aku mendukungmu," jawab Ino. "Laporanku, sir?" lanjut Ino.

"Sedikit buruk miss," jawab Naruto segera.

"Tanggapan macam apa itu, sir. Aku sudah memeriksanya 3 kali hari ini dan itu tidak mungkin akan salah." Ino memajukan sedikit bibirnya. "Oke, aku tidak akan berbicara yang tidak-tidak lagi, jadi bagaimana laporanku sir," tanyanya.

"Cukup memuaskan, dan tolong berhentilah sebentar Ms. Yamanaka aku perlu menandatanganinya," jawab Naruto.

Ino memutar bola matanya kesal. 'What the hell!' Ia melirik sambil menunggui tanda tangan Naruto. Tak berapa lama, pintu ruangan terbuka. Gadis bermata lavender memasuki ruangan. Pamitnya tadi, ia pergi ke kamar mandi.

"Hinata, mau makan malam denganku?" tanya Ino.

Gadis itu tersenyum, hampir menjawab tapi Naruto segera menyela.

"Dia sudah punya janji denganku dan ini, laporanmu sudah aku tandatangani," ucap Naruto, pria itu menyodorkan kembali folder hijau. Ia menatap Ino sedikit kesal, menunjukkan emosinya.

"Bagaimana kalau kita makan bertiga?" tanya Hinata.

"No!" jawab Naruto dan Ino kompak. Ino segera mengambil folder itu dari meja Naruto. Ia kembali pada mejanya, meletakkan folder itu dan berjalan cepat kearah pintu.

"Aku duluan dan malam ini semoga kalian dapat bersenang-senang," ucap Ino cepat dan segera menutup pintu.

Hinata memiringkan kepalanya, "Maksud dari bersenang-senang itu apa, sir? Bukankah kita hanya akan lembur?" tanya Hinata polos.

'Wanita sialan itu, dia terlalu bisa membacaku,' Naruto menyunggingkan senyum tipis, "Kau mau makan malam dimana?"

"Aku boleh memilih tempatnya?" tanya Hinata ceria.

"Tentu saja, kau boleh menentukannya," jawab Naruto.

###

Hinata dan Naruto sudah duduk di bangku taman kota. Mereka berdua masing-masing memegang burger dan minuman soda. Sama-sama menikmati makanan mereka dalam keheningan.

"Aku tidak menyangka kau memilih ini sebagai menu makan malammu," ucap Naruto.

"Ayah dan aku dulu sering makan seperti ini, disini, sir," jawab Hinata sambil menyunggingkan senyuman, "Dia hanya akan membeli satu burger dan coke lalu dibagi dua, walau aku tahu dia memberikan potongan terbanyak kepadaku."

"Satu potong dibagi dua, itu terdengar manis," jawab Naruto.

"Tidak, sebenarnya hanya untuk mengelabuhi ibuku, dia akan marah jika kami tidak makan malam di rumah, jadi kami menyisakan tempat di perut kami," jawab Hinata sambil tertawa renyah.

Mau tak mau Naruto ikut tertawa walau tidak terlalu keras. Pria itu mengambil sapu tangan dari sakunya kemudian menyerahkannya pada Hinata. Gadis itu menerima dan menggunakannya.

"Aku mulai merindukan mereka," ucap Hinata terdengar sendu. "Sir, sebaiknya kita segera kembali dan memulai lembur kita," ucap Hinata.

Pria itu tersenyum dan Hinata mendahului bangkit dari duduknya. Mereka berdua meninggalkan taman sebelum guyuran hujan mulai menerpa.

###

Hinata dan Naruto mengerjakan lembur mereka dalam waktu kurang lebih 2 jam. Walau singkat tetapi mereka menggunakan waktu dua jam secara efisien, benar-benar mengerjakan tugas mereka.

Beberapa kali Hinata masih mencuri pandang kearah Naruto. Berdua dengannya di ruangan mau tidak mau membuatnya nervous, yah walau dari awal sejak mereka makan berdua di taman dengan suasana tenang dan menyenangkan itu Hinata sudah deg-degan tak karuan.

Saat Hinata kembali ke aktivitasnya, Naruto melangkah pergi ke ruangan kopi dan ia kembali dengan membawa dua buah kopi panas. Ia mengajak Hinata duduk di sofa kulit berwarna cokelat di ruangan itu.

"Melelahkan?" tanya Naruto.

"Tidak, sir. Mana mungkin melelahkan kita hanya menambah 2 jam kerja," jawab Hinata. Gadis itu mulai meneguk kopinya.

Naruto memperhatikan Hinata, entah kenapa ia jadi sedikit ragu. Bisakah ia? Tapi jika tidak ia lakukan bisa jadi ia akan kecewa dikemudian hari.

Naruto segera meletakkan kopinya ke atas meja. Hinata meletakkan cangkir kopi dan cawannya diatas pangkuannya, kedua tangannya sibuk memegangi. Gadis itu tersenyum dan dengan cepat Naruto menarik dagu Hinata tepat didepan wajahnya sedang tangan satunya -telapak tangannya- menutupi cangkir yang dipegang Hinata. Takut jika kopi panas itu akan menumpahi tubuh Hinata lagi.

Saat Hinata dalam keadaan tidak siap, Naruto mengecup bibir Hinata pelan. Pria itu segera menjauhkan wajahnya dari wajah Hinata kemudian tersenyum memperhatikan Hinata yang terkaget dan sedikit melongo, masih tidak percaya kalau Naruto menciumnya.

"Naruto..err.. sir," ucap Hinata sambil menggigit bibirnya.

'Dang! Dia terlihat manis,' Naruto menyunggingkan senyum simpul. "Sudah memanggilku Naruto kenapa memanggil sir lagi?" tanya Naruto, ia mencoba menggoda Hinata.

"Oh, itu...," jawab Hinata, gadis itu memutar matanya bingung. Kesempatan itu Naruto gunakan untuk mengambil cangkir yang ada di pangkuan Hinata dan meletakkannya diatas meja, disebelah cangkirnya.

Naruto menarik pinggang Hinata agar tubuh Hinata mendekat kepada dirinya, sedang tangan satunya ia letakkan di tengkuk Hinata. Naruto kembali mendekatkan wajahnya. Yang ia lakukan kali ini adalah menjilat bibir Hinata kemudian mengecupnya. Hinata yang terbawa suasanapun segera membalas hingga ciuman itu menjadi panas dan masing-masing dari mereka kehilangan napas. Barulah mereka berhenti.

Naruto mengelus-elus punggung Hinata, "Ciuman rasa kopi tidak buruk juga walau aku lebih suka ciuman rasa jeruk," ucap Naruto.

"Jeruk?" tanya Hinata.

"Ya, di kamar mandi kondoku, aku berharap kau tidak melupakannya sayang," jawab Naruto. Pria itu kembali mengecup bibir Hinata kemudian mengelus kepalanya pelan, "Aku antarkan kau pulang," lanjut Naruto. Pria itu segera bangkit dan menuju mejanya.

Hanya selang beberapa detik setelah Naruto meninggalkannya yang duduk di sofa, wajah Hinata memerah.

Ia dicium lagi oleh Naruto. MIMPINYA TADI MALAM TERLALU INDAH. WAIT! TADI MALAM IA BAHKAN TIDAK BERMIMPI.

T B C