[REMAKE] Sleep With The Devil by Santhy Agatha

Genre :: Romance

Cast :: Kim Jongin, Xi Luhan, and others. [KAILU]

Rated :: M

.

Disclaimer : Saya me- remake novel favorit saya, cerita aslinya kalian bisa baca novel Sleep With The Devil (Santhy Agatha). So, cerita ini bukan milik saya, saya hanya meremake oke?jangan nuduh saya plagiat ya. Oh iya ini re-post ya?

.

Typo(s). YAOI. M-PREG

Don't Like , Don't Read chingu!

Annyeong, ini lanjutan ff remake Sleep With The Devil KaiLu Ver ^^

Happy Reading!

Kai masuk ke kamar perawatan Luhan tengah malam. Saat itu Luhan sudah tertidur pulas. Dengan langkah pelan tak bersuara, Kai berjalan menuju tepi tempat tidur dan berdiri dekat di sana mengawasi Luhan. Begitu damai laki-laki ini terpejam dalam lelapnya, seolah tak menyadari bahwa sekarang bahaya yang amat besar sedang mengintainya. Kai sedikit membungkuk, lalu menyentuh pelan pipi Luhan. Laki-laki itu mengerang pelan lalu mengubah posisi tidurnya, tetapi tidak terbangun. Kai mengambil resiko dengan menunduk dan mengecup bibir Luhan, merasakan manisnya bibir itu. Sampai kemudian dia larut dalam gairahnya yang tertahan dan melumat bibir Luhan.

Luhan merasakan gelenyar panas di seluruh tubuhnya, dan dia menggeliat, ada gairah menjalar dari bibirnya yang terasa nikmat dilumat seseorang. Dengan lemah Luhan mengerjap setengah tidur dan membuka mata. Lelaki itu, yang sedang membungkuk di atas tubuhnya dan melumat bibirnya, adalah Kim Kai. Kai sedang melumat bibir Luhan, kemudian dia berhenti dan menatap mata Luhan, menyadari bahwa Luhan sudah terbangun. Dengan lembut Kai menelusurkan tangannya di pipi Luhan, lalu bibirnya mengikuti gerakan jemarinya.

Luhan memejamkan matanya, ini pasti mimpi. Kim Kai di dunia nyata tidak mungkin berbuat selembut ini, lelaki itu pasti akan langsung memaksanya, memperkosanya, dan memperlakukannya dengan kasar. Ini pasti mimpi, karena sebelum tidur Luhan berbaring dengan gelisah, mencoba menghapus memori bercintanya dengan Kai yang seolah-olah selalu muncul dalam benaknya.

Dan karena ini mimpi, tak ada salahnya untuk menikmati. Luhan setengah tersenyum, lalu menyentuh pipi Kai dengan lembut. Dalam sekejap tubuh Kai langsung kaku seperti terkejut merasakan sentuhan lembut jemari Luhan di pipinya.

Luhan langsung menarik tangannya panik, apakah Kai dalam mimpinya ini akan berubah lagi menjadi Kai dalam dunia nyata yang jahat?

Ternyata tidak, Kai dalam dunia mimpi ini sangat lembut dan penuh kebaikan. Lelaki itu mengambil jari Luhan dan meletakkannya di pipinya.

"Sentuh aku di manapun kau suka, jangan berhenti..." bisik Kai penuh gairah.

Luhan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ini benar-benar mimpi yang sangat menyenangkan. Di bawah tatapan tajam Kai, Luhan menyusurkan jemarinya di wajah Kai, mengagumi setiap kesempurnaan yang terpatri di sana. Ketika jemarinya hampir menyentuh bibir Kai, lelaki itu meraih tangannya, dan mengecupnya lembut, satu persatu jemarinya, Kai menggulingkan tubuhnya ke samping Luhan, ranjang rumah sakit yang lembut itu membuat tubuh mereka bersentuhan rapat. Tangan Kai menggenggam jemari Luhan, lalu menyentuhkan jemarinya ke kejantanannya yang sudah sangat siap,

"Sentuh aku Sayang", bisiknya parau.

Wajah Luhan memerah merasakan kekerasan yang panas di telapak tangannya, dengan lembut Kai membuka ikat pinggangnya dan menurunkan celananya, "Rasakanlah tubuhku yang amat sangat mendambamu"

Luhan meremas kejantanan itu dan Kai mengerang, perasaan bahwa Kai benar-benar bergairah atas sentuhannya membuat Luhan merasa senang. Oh ya ampun, ini adalah mimpi erotis terbaik yang pernah dia alami.

Jemari Luhan bereksplorasi di tubuh Kai, dan lelaki itu membiarkannya sebebas-bebasnya. akhirnya, ketika bibir Luhan dengan penuh ingin tahu mencecap kejantanan itu, Kai mengangkat kepala Luhan dengan tatapan tajam berkabut yang penuh gairah.

"Giliranku" geramnya serak.

Luhan dibaringkan dengan Kai berbaring miring menghadapnya, lelaki itu mengecup dahinya, pelipisnya, ujung hidungnya, pipinya, bibirnya dengan kecupan-kecupan kecil yang lembut, Lalu bibir itu berhenti di bibir Luhan, mencicipinya sedikit-sedikit di tiap ujungnya, meniupkan kehangatan yang basah di sana. Membuat Luhan membuka bibirnya dengan penuh perasaan mendamba.

Kai melumat bibir Luhan yang membuka itu dan menyelipkan lidahnya ke dalamnya. Lidah mereka bertautan, panas dan basah. Bibir Kai melumat bibir Luhan tanpa ampun, mencecap setiap sisinya, dengan penuh gairah. Luhan merasakan jemari Kai mulai membuka satu-persatu pakaian rumah sakit Luhan, kemudian tangan yang panas itu serasa membakar di kulitnya yang telanjang, menyentuhnya dengan intens di semua sisi, menimbulkan geletar tiada duanya, yang membuat Luhan menggeliat penuh gairah.

Jemari Kai menyentuh kejantanannya, dan mencumbunya dengan keahlian luar biasa hingga paha Luhan terbuka, panas, dan basah siap untuknya. Kai sudah berada di atasnya dan menindihnya, Luhan merasakan kejantanannya yang begitu panas menyentuhnya.

"Apakah...", napas Kai yang panas sedikit terengah terasa begitu erotis di bibirnya, Kai mengecupnya lagi, "apakah aku akan menyakitimu kalau aku..."

Luhan menggoyangkan pinggulnya putus asa, gairahnya memuncak tanpa ampun, dia ingin Kai ada di dalam dirinya, oh Ya ampun, dia sangat ingin!

Gerakan-gerakan Luhan yang tak berpengalaman itu membuat Kai menggertakkan giginya menahan gairahnya yang memuncak. Akhirnya dengan satu gerakan yang mulus, Kai menekan dirinya, menyatukan tubuhnya dengan Luhan.

Percintaan mereka sangat penuh gairah dan luar biasa nikmatnya. Luhan mencengkeram punggung Kai yang berotot, melupakan rasa sakit di kepalanya, terlalu larut dalam kenikmatan yang mendera tubuhnya. Kai berusaha bergerak selembut mungkin, tetapi gairahnya mengalahkan akal sehatnya, dia bergerak dengan penuh gejolak, membawa Luhan bersamanya. Dan akhirnya ketika puncak itu datang, tubuh mereka menyatu dengan begitu eratnya, dalam ombak kepuasan yang bergulung-gulung menghantam tubuh mereka. Ketika Kai menarik tubuhnya dengan hati-hati dari Luhan dan berbaring di sebelahnya dengan lengan masih memeluknya erat, Luhan sudah terlalu kelelahan untuk bergerak, 'sungguh mimpi yang luar biasa nikmatnya' desah Lana dalam hati, masih menggelenyar dalam sisa-sisa kenikmatan yang begitu memuaskan.

Ah, bahkan dalam mimpinya itu, dia bisa merasakan dengan jelas kecupan lembut Kai di dahinya sebelum lelaki itu pergi.

Ketika terbangun di pagi harinya, Luhan baru sadar bahwa itu semua bukanlah mimpi. Oh ya, bajunya memang terpasang rapi dan semuanya tampak baik-baik saja. Tetapi rasa pegal dan kelembapan yang khas di antara kedua pahanya serta aroma parfum Kai yang tertinggal di seluruh tubuhnya membuatnya sadar bahwa semalam, Kai benar-benar berkunjung ke kamarnya dan bercinta dengannya. Lelaki itu memperkosanya lagi ketika dia tidak sadar. Luhan mengernyit, mencoba menahan rasa terhina yang menyesakkan dadanya.

Tetapi, apakah benar itu perkosaan? Malam kemarin Luhan amat sangat bersedia untuk bercinta dengan Kai. Bahkan dia mengalami orgasme! Ya, bahkan tubuhnya pun masih mengingat kenikmatan luar biasa yang didapatnya semalam. Apakah bisa mencapai kepuasan ketika kau diperkosa?, Luhan memegang pipinya yang memanas dengan jemarinya, merasa malu dan jijik pada dirinya sendiri. Mungkin memang benar di dalam dirinya tersembunyi laki-laki jalang, yang kemarin akhirnya keluar dan menguasai tubuhnya.

Luhan telah ditaklukkan dalam pesona gairah Kai yang luar biasa ahli. Dan sekarang ketakutan menerpa dirinya, bagaimana kalau pada akhirnya nanti dia menyerah dan dengan senang hati menjadi laki-laki murahan yang bersedia menjadi kekasih Kai, bertekuk lutut di kaki lelaki itu seperti laki-laki cantik dan wanita yang lain?

Bagaimana dia mempertanggungjawabkan dirinya kepada ayah dan ibunya nanti?

"Kau tampak sedih",

Suara itu membuat Luhan terlonjak kaget, dia menoleh dan mendapati Dokter Kyuhyun berdiri di pintu, menatapnya cemas, "Apakah kau baik-baik saja"

Kenapa hidupku tidak bisa biasa-biasa saja? Tiba-tiba Luhan merasa sedih atas perjalanan hidupnya. Dihadapkan pada Dokter Kyuhyun yang selalu tampak ceria dan tanpa beban membuat Luhan ingin menangis, dan matanya mulai berkaca-kaca.

"Hei... Heii", dokter Kyuhyun mendekati ranjang dan menyentuh lengan Luhan, "Kenapa Luhan? Apakah kau baik-baik saja?"

Luhan menganggukkan kepalanya, mengusap air matanya dengan malu,

"Saya baik-baik saja dok..."

Dengan ragu, Dokter Kyuhyun duduk di tepi ranjang, "Apakah kau bertengkar dengan kekasihmu, Tuan Kai.. Aku mengerti, mengingat sifat keras dan dominannya yang terkenal itu.. pasti berat menjadi kekasihnya". Luhan menatap Dokter Kyuhyun tajam,

"Aku bukan kekasihnya, aku membencinya setengah mati hingga ingin membunuhnya", desis Luhan penuh kemarahan. Dokter Kyuhyun terpana kaget,

"Apa? Bukankah... Bukankah.."

"Dokter, aku bukan kekasihnya, aku disekap di rumahnya selama ini...", dan semua cerita itu mengalir dari mulut Luhan, mulai dari kisah bisnis ayahnya dengan Kai, kematian kedua orang tuanya, usahanya membalas dendam, sampai kemudian dia berakhir dalam sekapan Kai. Dokter Kyuhyun mendengarkan semua dengan takjub, dan ketika semua kisah itu berakhir, Dokter Kyuhyun menatap Luhan tak percaya,

"Wow...", tunggu sebentar, beri aku waktu, aku tak tahu harus bicara apa" Luhan menatap Dokter Kyuhyun penuh tekad,

"Saya mohon bantuan dokter untuk melepaskan saya dari sini, hanya dokter dan perawat dokter yang boleh masuk ke ruangan ini, sedangkan di luar semua penjaga berjaga ketat. Saya mohon dokter, saya sudah melupakan dendam saya, yang saya inginkan hanyalah melepaskan diri dari cengkeraman Kai, dia lelaki yang sangat jahat dan kejam, mungkin saya akan berakhir mati di tangannya" Dokter Kyuhyun tercenung mendengar kata-kata Luhan,

"Oke...aku akan mencari cara, meskipun sepertinya sulit", lelaki itu berdehem, "Aku tidak menyangka kalau reputasi jahat Tuan Kai memang benar adanya, menyekap laki-laki tidak bersalah dan memaksanya menjadi kekasihnya, itu benar-benar tidak bisa dibenarkan", dengan penuh keyakinan, Dokter Kyuhyun menggenggam kedua tangan Luhan, "Aku akan mengabarimu nanti, yang pasti, aku akan membantumu Luhan, supaya kau bisa lepas dari Tuan Kai yang jahat.

Kai masuk ke kamar, hanya selang beberapa menit setelah Dokter Kyuhyun pergi, dan Luhan senang karenanya, itu berarti tidak mungkin Kai mendengar percakapannya dengan dokter Kyuhyun tadi,

"Bagaimana keadaanmu?", Kai menatap Luhan tajam tanpa senyum.

Ketika Luhan menatap Kai, mau tak mau kenangan percintaan mereka semalam berkelebatan di benaknya, tak tahan akan semua bayangan erotis itu, Luhan memalingkan mukanya,

"Bukan urusanmu"

"Luhan", Kai memanggil nama Luhan dengan nada jengkel, "Kau harus cepat sehat supaya aku bisa membawamu pulang, di sini tidak aman"

"Kau yang diincar oleh musuh-musuhmu, kenapa aku yang harus repot?", sela Luhan marah dengan tatapan berapi-api. Kai membalas tatapan Luhan tak kalah tajam,

"Karena kau adalah kekasihku, dan Evil sedang mengincar kita berdua"

Evil, siapa orang yang mau menyandang nama sebegitu mengerikan? Luhan mengernyitkan alisnya, bingung.

"Evil adalah nama pembunuh bayaran yang disewa oleh musuhku", Kai melirik buku jarinya yang memar, yang kemarin dipakainya untuk menghajar Jaesuk habis-habisan, sampai lelaki itu terkapar penuh darah, bahkan sudah tak mampu lagi memohon ampun kepadanya, "Dia selalu berhasil membunuh siapapun yang menjadi targetnya. Dan kemarin kita berhasil lolos dari kecelakaan yang direncanakan oleh Evil... Psikopat itu tidak akan berhenti sebelum dia berhasil membunuh kita berdua". Bulu kuduk Luhan meremang, orang bernama Evil ini terdengar begitu mengerikan...

"Kau tidak aman di sini Luhan", Kai mengacak rambutnya frustasi, "Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Evil, tidak ada yang tahu dia laki-laki atau perempuan, dia bisa menjadi siapapun. Bahkan saat ini aku tidak bisa mempercayai pengawal-pengawalku sendiri, kecuali Chanyeol. Di sini keadaanmu sangat riskan, di rumahku kau akan aman", Dengan tercenung Kai mengawasi Luhan, "Kurasa kau sudah cukup sehat untuk pulang, nanti malam aku akan mengurus kepulanganmu dari rumah sakit ini" Kalau dia pulang, maka kesempatannya untuk melarikan diri akan menguap begitu saja, pikir Luhan panik. Dia tidak boleh pulang ke rumah itu!

Dengan impulsif Luhan memegang kepalanya, pura-pura kesakitan,

"Kenapa Luhan?", Kai langsung bertanya cemas.

"Kepalaku... Kepalaku...", Luhan mengerang berusaha sebaik mungkin terdengar sakit.

"Dokter!", Kai memanggil setengah berteriak dan Dokter Kyuhyun yang kebetulan ada di dekat situ langsung masuk dengan cemas,

"Ada apa Tuan Kai?"

"Dia kesakitan!", suara Kai meninggi, "Kupikir kondisinya lebih baik sehingga besok dia bisa pulang, tetapi dia kesakitan, kenapa dia kesakitan? Kau bilang lukanya akan membaik..."

Dengan cepat Dokter Kyuhyun menangkap isyarat mata Luhan dan membaca situasi, dia berdehem mencoba terdengar serius, "Seperti yang saya bilang, kondisinya masih belum stabil Tuan Kai, kadang dia tampak baik, tapi kadang goncangan sekecil apapun bisa membuatnya kesakitan. Saya menganjurkan Anda tidak membawanya pulang dulu, atau kesembuhannya akan terhambat"

Kai tercenung dan menatap Luhan frustasi, "Oke. Sembuhkan dia dulu!", gumamnya dingin

Dan Luhan mendesah lega dalam hati, kesempatannya untuk melarikan diri masih ada.

Malam itu jam delapan, jadwal pemeriksaan Luhan oleh Dokter Kyuhyun, lelaki itu datang tepat waktu, kali ini membawa perawat. Ketika Luhan menyadari Dokter Kyuhyun memasuki ruangan, dia langsung terduduk tegak, waspada.

"Dokter..."

Dokter Kyuhyun memberi isyarat, menyuruh Luhan menutup mulutnya. Lalu mempersiapkan jarum suntik. Yang tidak disangka Luhan, ketika perawat itu sedang memeriksa infus Luhan, Dokter Kyuhyun tiba-tiba menusukkan jarum suntik itu ke tubuh perawat itu. Dalam hitungan detik, tubuh perawat itu langsung ambruk tak sadarkan diri. Dokter Kyuhyun menopang tubuh perawat itu dan menyandarkannya di ranjang,

"Kau bisa bangun?", Tanya dokter Kyuhyun cepat.

Luhan masih terpana akan kesigapan gerakan Dokter Kyuhyun, sampai kemudian dia sadar bahwa Dokter Kyuhyun sedang bertanya padanya, dia langsung menganggukkan kepalanya,

"Bagus, bisakah kau menukar bajumu dengan baju perawat ini? Aku akan menutup tirai untuk memberimu privasi", Dokter Kyuhyun langsung menutup tirai dan menunggu di luar tirai. Detik itu juga Luhan sadar, ini adalah rencana Dokter Kyuhyun untuk melepaskannya!

Dengan sigap, melupakan bahwa kepalanya masih sakit, Luhan mencoba berdiri, dan ketika bisa, dia langsung melepas pakaiannya dan menukarnya dengan baju perawat itu. Setelah semua beres, Luhan memanggil Dokter Kyuhyun yang segera mengangkat perawat yang masih pingsan itu dan membaringkannya di ranjang, lalu menyelimuti perawat itu.

"Kau harus bersikap biasa dan tidak mencurigakan", gumam Dokter Kyuhyun ketika Luhan sedang memasang topi perawat di kepalanya, lalu mendekap papan pemeriksaan di dadanya, "Ayo"

Jantung Luhan berdegup kencang ketika Dokter Kyuhyun membuka pintu.

Dua penjaga yang ditempatkan Kai di pintu tampak sedang bercakap-cakap. Dokter Kyuhyun mengangguk kepada mereka dan mereka membalas dengan senyum. Posisi tubuh Dokter Kyuhyun menutupi Luhan sehingga tidak kelihatan, lalu dia menggiring Luhan menuju lorong meninggalkan pengawal itu jauh di belakang. Ketika akhirnya mereka membelok di lorong tanpa ketahuan, Luhan menarik napas, lega luar biasa. Dokter Kyuhyun mengajak Luhan setengah berlari ke tempat parkir, menuju kebebasannya.

Chanyeol menyerahkan berkas-berkas itu kepada Kai yang duduk di sofa,

"Ini beberapa orang yang mungkin bisa kita curigai"

Kai mengambil berkas itu dan membacanya, lalu membolak-baliknya. Matanya terpaku pada salah satu foto di berkas itu, "Kenapa dia masuk ke daftar ini?" Chanyeol melirik berkas itu.

"Karena kami memfilter semua pegawai rumah sakit yang masuk kurang dari 2 bulan sebelum kejadian kecelakaan itu" Kai mengernyit lama. Sebelum kemudian wajahnya menegang.

"Dia punya akses bebas masuk ke ruangan Luhan, kita harus ke rumah sakit segera!"

Kai meraih jasnya dan melangkah tergesa ke pintu diikuti Chanyeol. Dan pada sat bersamaan, pintu di sisi lainnya terbuka, beberapa pengawal Kai masuk dengan wajah panik dan nafas terengah.

"Tuan Kai, Luhan melarikan diri dari rumah sakit!"

Dokter Kyuhyun mengendarai mobilnya dengan tenang menembus kemacetan jalan raya, mereka lalu tiba di belokan ke luar kota, menuju jalanan yang sepi. Luhan yang selama ini diam karena menahan rasa tegang dalam perjalanan menoleh dan menatap Dokter Kyuhyun penuh rasa ingin tahu,

"Kita akan kemana dokter?" Dokter Kyuhyun menoleh lalu tersenyum manis,

"Ke rumah di pinggiran kota, tempatnya seperti villa di pegunungan, kau akan aman di sana dan Tuan Kai tidak akan bisa menjangkaumu"

Luhan menganggukkan kepalanya dan menatap lurus kedepan, pemandangan di luar adalah hutan dan jalanan yang berkelok-kelok, malam makin gelap dan Luhan mulai merasa mengantuk. Akhirnya dia menyandarkan kepalanya dengan nyaman di kursi dan mulai tertidur.

Kai menatap marah pada perawat yang dibius untuk menggantikan Luhan di ranjang. Dua pengawalnya yang tadi berjaga di kamar Luhan berdiri ketakutan dengan wajah lebam bekas pukulan Kai,

"Kenapa kalian bisa sebodoh itu hah?," suara Kai terdengar tenang, tetapi intensitas kemarahannya membuat bulu kuduk dua anak buahnya berdiri.

Para pengawal itu saling bertatapan mencoba berkata-kata, tetapi tak bisa. Mereka memang bersalah. Chanyeol sebagai atasan mereka telah menginstruksikan untuk memeriksa siapapun sebelum masuk dan keluar dari ruangan Luhan. Tetapi karena Dokter Kyuhyun tampaknya terbiasa keluar masuk ruangan ini dengan bebas, mereka jadi lengah dan membiarkannya. Siapa sangka kalau Dokter Kyuhyun adalah Evil yang ditakuti itu?

Kai masih menatap marah kepada kedua pengawalnya, memikirkan hukuman apa yang cukup kejam untuk dilimpahkan atas kebodohan mereka. Luhan melarikan diri, dan bukan hanya melarikan diri, Demi Tuhan! Laki-laki itu sekarang ada di tangan Evil.

Chanyeol datang, menyerahkan setumpuk berkas lagi, mengalihkan perhatian Kai,

"Sepertinya dugaan Anda benar Tuan Kai, profil Dokter Kyuhyun sangat mirip dengan profil Evil. Dia lulusan jenius dari kedokteran, kehidupannya sangat misterius, dan menurut desas desus, ibunya meninggal karena bunuh diri. Dia baru masuk mendaftar ke rumah sakit ini dua bulan yang lalu, dan ketika kami melakukan pengecekan terhadap masa lalunya, semuanya kosong, tidak ada satupun data tentangnya, seolah semuanya dihapus"

"Cari sampai dapat," Kai menggertakkan giginya, "Apapun itu, alamat, nomor mobilnya, apapun untuk bisa mengarahkan kita kepadanya. Kita harus menemukan Luhan, sebelum terlambat," Kai memejamkan mata, sejenak merasakan sesak di dadanya.

Luhan harus selamat, meskipun sekarang hal itu diragukan, karena Luhan berada di tangan Evil yang sangat kejam. Kai akan menempuh segala cara untuk mendapatkan Luhan kembali, selamat, dan hidup-hidup.

"Luhan, kita sudah sampai," Dokter Kyuhyun mengguncang bahu Luhan lembut. Luhan membuka matanya dan menemukan mobil mereka diparkir di sebuah villa tua berwarna putih yang sangat indah dihujani cahaya lampu yang remang-remang. Dokter Kyuhyun turun terlebih dahulu, lalu membuka pintu penumpang dan membantu Luhan turun. Mereka berjalan bersisian memasuki teras rumah, ketika Dokter Kyuhyun membuka kunci pintu rumah itu, Luhan mengernyit dan bertanya,

"Ini rumah Dokter Kyuhyun?" Lelaki itu tersenyum lagi dan menggeleng,

"Bukan, ini properti milik sahabatku yang dititipkan kepadaku, sekarang dia sedang di luar negeri. Kupikir tempat ini adalah tempat yang paling aman untukmu sekarang-sekarang ini…. Kau bisa bersembunyi di sini sementara, karena aku tahu Tuan Kai pasti sedang sangat marah sekarang dan pasti dia akan menggunakan segala cara untuk mencarimu". Luhan menggigil mendengar kemungkinan itu, dan membiarkan dirinya dihela masuk ke dalam vila itu. Bagian dalam villa itu sangat indah, secantik bagian luarnya, dengan ornamen Belanda yang kuno dan rapi, tampak begitu nyaman untuk ditinggali,

"Ayo, kuantar kau ke kamar sementaramu, kau bisa beristirahat di sana, aku yakin kau pasti capek setelah perjalanan panjang." Dokter Kyuhyun melangkah melalui anak tangga dan Luhan mengikutinya. Kamar untuk Luhan adalah kamar sederhana yang tertata rapi, dan ranjang bulu angsa berseprai putih di tengah ranjang tampak sangat empuk dan menggoda untuk ditiduri. Tanpa sadar Luhan menguap dan Dokter Kyuhyun terkekeh,

"Tidurlah Luhan, semoga besok pagi kau bangun dengan lebih segar". Luhan menganggukkan kepalanya,

"Terima kasih dokter, terima kasih atas segalanya, saya tidak tahu bagaimana harus berterimakasih kepada dokter karena sudah menyelamatkan saya dari Kai" Dokter Kyuhyun melangkah ke pintu, senyumnya tampak misterius di balik cahaya remang-remang,

"Tidak apa-apa Luhan, aku senang bisa membawamu ke sini," Lalu lelaki itu melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya.

Luhan terbangun karena rasa haus yang amat sangat, dia terduduk di ranjang dan sedikit terbatuk-batuk. Dengan pelan dia memandang ke sekeliling, masih gelap. Mungkin ini masih dini hari. Dengan langkah hati-hati Luhan turun dari ranjang, dan keluar dari kamar. Dimanakah dapurnya? Dia ingin minum….

Lorong lantai dua tampak gelap, tetapi ada cahaya putih di ujung sana, mungkin itu dapurnya.. pikir Luhan dalam diam. Dia lalu melangkah hati-hati menuju cahaya itu, dan terbawa ke sebuah pintu yang sedikit terbuka di ujung lorong. Luhan membukanya, dan tertegun. Ini bukan dapur. Dia sudah hendak membalikkan badan, ketika pandangan matanya terpaku pada sesuatu, dan wajahnya memucat. Di sana, di salah satu sisi tembok itu penuh dengan foto-foto yang ditempel. Dan itu bukan foto-foto biasa, itu foto-foto Kai sedang melakukan aktivitasnya, beberapa di antaranya ada Kai yang sedang bersama Luhan. Dan melihat ekspresi Kai di sana, tampaknya foto-foto itu diambil dengan kamera tersembunyi, tanpa seizin objeknya.

"Ada pepatah, kalau rasa ingin tahu yang besar suatu saat akan menjadi penyebab kematianmu"

Luhan terlonjak kaget, mendengarkan suara yang mendesis itu, dia membalikkan badannya dan berhadapan dengan Dokter Kyuhyun yang berdiri diam di balik bayang-bayang. Lelaki itu tersenyum, seperti biasanya, tetapi senyumnya yang sekarang bukanlah senyum manis secerah Matahari, melainkan seringai jahat yang menakutkan.

"Kita sudah berhasil melacak mobilnya," Chanyeol datang dengan terengah, mendatangi Kai yang menunggu sambil mondar-mandir tak tenang di ruangannya. Kai langsung berdiri dan bergegas, dia menyiapkan senjatanya, belati berat yang selama ini ada di kakinya dan sebuah magnum miliknya. Kalau dia harus membunuh demi Luhan, akan dia lakukan. Lelaki itu memejamkan matanya, semoga dia tidak terlambat datang.

Mata Luhan hanya bisa menatap dalam ketakutan, lelaki di depannya ini sudah berubah total, dari lelaki ramah dan baik hati menjadi monster yang menakutkan, Tubuh Luhan diikat di sebuah kursi dan Luhan sepenuhnya tidak bisa bergerak, di bawah kuasa psikopat gila yang sekarang sedang berjalan mondar-mandir sambil memainkan pisau di tangannya.

"Membunuh dengan pisau adalah favoritku," Dokter Kyuhyun memainkan pisau itu di dekat Luhan, membuat kilatannya menyilaukan dalam kegelapan. "Karena itulah aku dipanggil Evil," lelaki itu terkekeh mengerikan melihat sinar ketakutan yang terpancar dari mata Luhan, "Yah kenalkan, akulah Evil yang kalian cari-cari itu"

Luhan mencoba meronta, kengerian merayapi dirinya ketika menyadari bahwa lelaki di depannya ini bukan saja orang jahat, tetapi dia adalah psikopat menakutkan yang diceritakan oleh Kai. Dokter Kyuhyun tertawa melihat usaha Luhan yang sia-sia untuk melarikan diri, kemudian mendorong kursi Luhan ke dinding dan menekankan pisaunya di pipi Luhan,

"Pisau ini sangat tajam," Dokter Kyuhyun memain-mainkan pisau itu di pipi Luhan, "Aku ragu apakah Kai masih mau menjadikanmu pelacurnya kalau mukamu rusak," diletakkannya besi dingin itu di pipi Luhan membuat mata Luhan terpejam ketakutan. Tetapi kemudian kata-kata Dokter Kyuhyun menyulut amarahnya, dia bukan pelacur Kai!

"Aku bukan pelacur Kai!," dengan lantang Luhan meneriakkan bantahannya. Dan rupanya bantahannya itu malahan memancing emosi Dokter Kyuhyun,

"Bukan pelacurnya katamu? Kau tidur dengannya dan menikmatinya, kau menerima segala fasilitas darinya dengan suka rela, dan kau membayar dengan tubuhmu. Dari pengamatanku, kau adalah pelacur yang paling disukai dan istimewa di mata Kai dibandingkan pelacur-pelacurnya yang lain, dan aku membayangkan kepuasan yang kudapatkan ketika dia menyaksikan tubuhmu yang sudah mati, penuh dengan sayatan pisau,"

Lalu Dokter Kyuhyun tertawa dengan mengerikan, "Mari kita mulai ritual ini…. Aku akan menyayatmu pelan-pelan di bagian-bagian tubuhmu hingga kau akan mati pelan-pelan kehabisan darah….," pisau itu berkelebatan dengan main- main di depan Luhan, "Lalu aku akan membuang tubuhmu tepat di depan mata Kai, pasti aku akan puas sekali….

Sebelum kemudian akan kuhabisi Kai dengan tanganku sendiri," Dengan tawa mengerikannya yang terkekeh dan menakutkan, Dokter Kyuhyun mengayunkan pisaunya, dan sekejap, Luhan merasakan pedih karena sayatan besi tajam itu di lengannya.

Kai memasuki rumah itu dengan marah, Chanyeol dan yang lain-lain sudah mengepung villa putih itu. Villa itu tenang dan sepi seolah tidak ada siapapun di sana. Lalu mata Kai mengarah ke pintu di ujung lorong yang setengah terbuka, dan melangkah kesana, lalu masuk dengan marah ketika melihat apa yang terjadi di sana. Dokter Kyuhyun sudah melukai Luhan dengan dua sayatan berdarah di lengan Luhan, membuat Luhan meringis menahan sakit dan nyeri dalam kondisi terikat di kursi dan hampir kehilangan kesadarannya.

"Lepaskan dia, Evil," suara Kai dingin, mencoba menahan kemarahannya dengan terkendali. Lelaki itu sedang memegang pisau di dekat Luhan, dia tidak ingin Luhan terluka lebih dari ini. Dokter Kyuhyun membalikkan tubuhnya dan tersenyum melihat Kai berdiri di ruangan itu,

"Ah… sang pangeran penyelamat akhirnya datang," dengan tenang Dokter Kyuhyun mengacungkan pisaunya ke arah Kai, "Kau lihat Kai, pelacurmu ini sedang dalam proses meregang nyawa, tadinya aku ingin mempersembahkannya mati dan tersayat kepadamu. Tetapi rupanya kau terlalu cepat datang".

"Aku akan membunuhmu, kau tahu itu," geram Kai marah. Tawa Dokter Kyuhyun membahana ke seluruh ruangan. "Tentu saja, sekarangpun aku tahu bahwa seluruh pengawalmu sedang mengepung tempat ini, siap menembakku kapanpun aku lengah," dengan cepat Dokter Kyuhyun bergerak ke sebelah Luhan dan menempelkan pisau tajam itu ke lehernya,

"Tapi sebelum kau membunuhku, aku akan membunuh pelacur ini dulu". Luhan terkesiap, menahan sakit dan ketakutan ketika besi dingin itu menempel di lehernya, lapisannya yang tajam telah menyayat lehernya, menimbulkan sedikit perih di sana.

"Kalau kau lakukan sesuatu kepadanya, aku bersumpah kau akan mati dengan mengerikan," Kali ini Kai sudah tidak bisa menahan kemarahannya, "Aku akan membunuhmu dengan pelan dan mengerikan hingga kau akan merasakan setiap detik-detik menjelang kematianmu"

"Kau ketakutan Kai, kau takut aku menyakiti pelacur ini, bisa kulihat di matamu," Dokter Kyuhyun menatap Kai dengan senyuman gilanya, memain-mainkan pisaunya dileher Luhan, "Satu sayatan saja, aku akan memotong nadinya, tepat di leher… darahnya akan memancar keluar dan dia akan mati dengan cepat… tepat di depan kedua matamu…dan aku rela mati demi kepuasan menyaksikan adegan itu," Lalu dengan gerakan secepat kilat, Dokter Kyuhyun mengangkat pisaunya, lalu membuat gerakan menghujam untuk menikam leher Luhan.

Luhan memejamkan matanya, menanti detik-detik kematiannya. Tetapi kemudian dia tidak merasakan sakit, apakah memang kematian tidak terasa sakit? Dengan ragu di bukanya matanya, dan dia terkesiap dengan pemandangan di depannya. Kai sedang menahan pisau itu, dengan tangan telanjang. Bagian tajam pisau itu mengiris telapak tangannya, tetapi lelaki itu menggenggam pisau itu tanpa ekspresi, meskipun darah mulai bercucuran dari tangannya, mengenai Luhan. Sekali lagi, Kai menyelamatkan Luhan dari kematian. Dokter Kyuhyun tampak terperangah dengan gerakan Kai yang tak disangkanya itu, dia berusaha menarik pisaunya dari genggaman Kai, tetapi Kai menarik pisau itu dan melemparnya jauh-jauh,

"Aku akan menghajarmu sebelum membunuhmu…," Kai menerjang dokter Kyuhyun ke lantai, dan mereka bergulat saling memukul. Tetapi Dokter Kyuhyun, Evil itu tidak terbiasa berkelahi dengan tangan kosong sehingga dia kewalahan, Kai terus dan terus menghajarnya tanpa ampun, ketika kemudian rintihan Luhan menghentikannya.

Kai melihat Luhan kehilangan kesadarannya, mulai oleng dalam kondisi terikat di kursi, perhatian Kai teralih, dan dia berdiri untuk meraih Luhan, pada saat itulah, Dokter Kyuhyun yang sudah babak belur mencoba meraih pisau yang dilemparkan Kai tadi, dia berhasil meraihnya dan mengarahkannya untuk menikam punggung Kai dan…

DOR!

Tubuh Dokter Kyuhyun ambruk ke lantai karena tembakan itu. Kai menoleh ke belakang, melihat Dokter Kyuhyun ambruk dengan pisau masih di tangannya, dan dia lalu menoleh ke pintu, ke arah Chanyeol yang memegang pistol di tangannya.

"Bereskan dia," Kai memerintah cepat, lalu perhatiannya sepenuhnya terarah kepada Luhan, tidak dirasakannya telapak tangannya yang tersayat dalam, dia membuka ikatan Luhan, dan laki-laki itu langsung jatuh ambruk ke pelukannya.

Ketika kesadarannya kembali, Luhan berada di ruangan putih itu, dan dia memejamkan matanya lagi, tak pernah sebelumnya dia merasa begitu bersyukur berada di ruangan ini. Kengerian masih merayapinya, membayangkan pisau yang berkelebatan di mukanya, di tubuhnya, di lengannya…. Aduh!

Luhan merasa nyeri yang amat sangat dan menoleh ke arah lengannya, lengannya itu sudah dibalut perban yang amat tebal, nyerinya masih terasa tetapi lebih karena trauma mendalam Luhan akibat pengalaman buruknya itu. Luhan terduduk, Kai telah menyelamatkannya, sekali lagi. Kenapa lelaki itu menyelamatkannya? Apakah benar karena dia dianggap sebagai pelacur istimewa Kai? Karena dia melayani Kai dengan tubuhnya? Dengan pucat Luhan memalingkan mukanya, merasa dirinya begitu rendah.

Lelaki itu menyelamatkannya. Luhan memejamkan matanya, membayangkan bagaimana Kai, menghalangi pisau yang hendak menikamnya dengan tangannya. Luhan masih ingat darah yang mengalir itu, dan mau tidak mau Luhan menyadari kalau dihitung-hitung sudah beberapa kali dia diselamatkan oleh Kai. Kenapa lelaki itu menyelamatkannya? Itu adalah pertanyaan yang tak bisa dijawabnya. Bertahun-tahun Luhan menumbuhkan kebencian di hatinya, memupuk rasa dendam yang mendalam, dengan pengetahuan bahwa Kai yang jahat telah menghancurkan keluarganya. Yah, Kai memang jahat. Tetapi selain mengurung Luhan, dia memperlakukan Luhan dengan baik... Apakah dia memang menganggap Luhan sebagai kekasihnya?

Pipi Luhan memerah membayangkan itu semua. Apakah semua kebaikan Kai murni disebabkan karena dorongan gairah? Seharusnya Luhan merasa terhina, tetapi tidak, perasaannya terasa hangat tanpa dia mau. Dia tidak boleh merasa seperti ini. Kebenciannya adalah satu-satunya senjata menghadapi lelaki itu... Kalau sampai Luhan merasakan perasaan lebih kepada Kai... Luhan menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir perasaan yang menggayutinya. Dengan gemetar dia meraba lengannya yang di perban, dan menangis. Seluruh kehidupannya berubah hanya dalam waktu singkat, seluruh rencana yang dibuatnya matangmatang telah hancur, dan dia sekarang terpuruk di sini. Kembali dalam cengkeraman lelaki iblis itu, dan bahkan sekarang berutang nyawa kepadanya.

"Jangan menangis".

Luhan terlonjak ketika suara itu terdengar di dekatnya, dengan ketakutan dia menoleh dan mendapati Kai di sana, duduk di sofa tak jauh dari ranjang dan mengamatinya. Dengan kasar Luhan menghapus air matanya dan menatap Kai marah,

"Semua ini gara-gara kau!," serunya menuduh, "Kalau kau tidak melibatkanku dalam kehidupanmu yang penuh musuh itu, aku tidak akan mengalami ini!"

"Dan kalau kau tidak gampang tertipu oleh bujuk rayu dokter yang selalu tersenyum itu, kau tidak akan diculik dengan mudah," sela Kai tajam.

"Aku hanya ingin lepas darimu, kenapa kau tidak melepaskan aku?," kali ini Luhan berteriak penuh frustrasi, "Aku mohon aku sudah muak berada di sini… aku…"

"Tidakkah engkau bahagia di sini Luhan?," Kai mendekat ke ranjang dan menyentuh dagu Luhan dengan jemarinya. Pada saat itulah Luhan melihat, telapak tangan Kai di balut perban, "Aku memenuhi kebutuhanmu, aku memberimu apa yang tidak bisa kau beli dengan uangmu sendiri, apakah menurutmu itu tidak cukup?"

"Aku bukan pelacur," desis Luhan tajam, "Kekayaan dan ketampananmu sama sekali tidak ada pengaruhnya untukku, yang aku inginkan hanya kematianmu, karena kau telah menghancurkan keluargaku. Tetapi jika itupun tidak kudapatkan, aku sudah cukup puas bisa lepas darimu!," Luhan menatap Kai dengan tatapan menantang. Lelaki itu menatap Luhan tajam, lalu mengangkat bahunya dan menatap Luhan lurus-lurus,

"Sudahlah, Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu," ditatapnya Luhan dengan serius, "Bagaimana kondisimu?", Kai menunduk dan mengamati Luhan. Luhan terdiam, otomatis memalingkan wajah dari Kai,

"Luhan", Kai memanggil Luhan dengan penuh penekanan, membuat Luhan akhirnya mau menatap matanya,

"Aku baik-baik saja", jawab Luhan ketus, "Biarpun aku tahu semua ini terjadi karena kau dan musuh-musuhmu". Kai terkekeh,

"Hmm... Mengingat kau sudah kembali galak kepadaku, aku yakin kau sudah sembuh", Kai menyentuhkan jemarinya di pipi Luhan, "Maafkan aku". Luhan tertegun karena permintaan maaf Kai, dia menatap Kai dengan hati-hati.

"Kenapa kau meminta maaf?"

"Karena membuatmu terlibat dalam situasi ini", lelaki itu mengangkat bahu, "Situasi seperti ini tidak akan bisa terhindarkan, mengingat kondisiku. Tetapi kau harus tahu, ketika kau bersamaku, aku akan menjagamu" Luhan mendengus,

"Aku lebih memilih tidak bersamamu. Kalau aku sendirian aku pasti akan lebih baik-baik saja" Kai menatap Luhan tajam,

"Tidak bisa, situasi kemarin membuat kau dikenal sebagai kesayanganku. Orang yang mengincarku pasti akan mengincarmu, karena kaulah yang paling lemah. Itu membuatmu harus selalu bersamaku, di bawah perlindunganku", Kai menatap Luhan lurus-lurus, "Kau adalah kelemahanku" Pipi Luhan memerah, bukan cuma karena arti mendalam dalam kata-kata Kai. Tetapi karena cara Kai mengucapkannya, begitu erotis dan penuh makna seolah-olah Kai mengucapkan sesuatu yang sensual dari perkataannya yang biasa itu. Dan Kai tampaknya sengaja. Sialan lelaki itu. Dia sengaja mengucapkan kata-katanya dengan nada sensual untuk mempengaruhi Luhan.

"Kau bebas keluar masuk seisi rumah ini, tapi aku mohon padamu, jangan mencoba melarikan diri dari rumah ini. Aku memang jahat, tapi aku akan menjagamu, tidak demikian halnya dengan musuh-musuhku," Kai mengangkat tangannya yang terluka untuk mengusap rambutnya, dan Luhan langsung teringat peristiwa itu, ketika Kai dengan cepat menggenggam pisau itu, menghalanginya untuk terluka, tanpa sadar dia bergidik ngeri.

"Ya," gumam Kai, memperhatikan reaksi Luhan, "Kau seharusnya takut Luhan, karena mereka semua akan melakukan apa saja untuk melukaiku lewat dirimu. Kau aman disini, bersamaku. Dan aku yakin kau berpikiran sehat sehingga tahu bahwa kau lebih baik bertahan di sini".

Kebebasan keluar masuk kamar ini dinikmati oleh Luhan sepenuhnya. Oh, dia memang masih bermaksud pergi, tapi tidak sekarang. Dia masih trauma akan kejadian itu. Setidaknya di rumah ini dia aman. Chanyeol masih mengawasinya diam-diam ketika dia mondar-mandir keluar kamar, terutama ketika dia berjalan-jalan di taman. Tetapi Luhan belajar untuk mengabaikannya.

Sore itu, suasana rumah sangat sepi, dan Luhan berjalan menelusuri area lantai satu rumah itu. Rumah itu sangat luas dengan lorong-lorong yang tidak tahu akan menuju kemana, sepertinya tidak cukup satu hari untuk menjelajahi keseluruhan rumah itu. Luhan berhenti di sebuah pintu yang terbuka dan sedikit mengintip. Dia terpesona menemukan rak-rak tinggi yang memenuhi dinding-dindingnya, penuh dengan buku!

Dengan bersemangat Luhan memasuki ruangan itu, dan berdiri terkagum-kagum sambil mengamati buku-buku di dalam rak itu. Kai rupanya penggemar buku-buku sastra klasik, berbagai bacaan tampak menggoda siap untuk dinikmati,

"Kau sepertinya suka membaca," suara Kai mengejutkan Luhan, dia menoleh dan saat itu baru menyadari kalau Kai duduk di sudut ruangan, di meja kerjanya yang besar dan mempelajari berkas-berkas perusahaannya, lelaki itu menatapnya dengan mata cokelatnya yang tajam. Dengan angkuh Luhan mendongakkan dagunya, "Ya aku suka membaca, tetapi buku-buku mahal di sini termasuk yang tidak bisa kubeli," Luhan tanpa sadar mengernyit.

"Kau boleh membaca di sini," Kai menawarkan tampak begitu berbaik hati. Tetapi Luhan merasakan ada sesuatu disana, sesuatu yang berbeda yang sedikit menakutkan baginya. Ketegangan seksual yang memenuhi ruangan ini terasa begitu tidak nyaman. Dan meskipun tawaran Kai terasa begitu menggoda, Luhan tidak berani. "Aku tidak akan mengganggumu," Kai mengangkat alis melihat Luhan nampak ragu-ragu. "Aku tidak akan mengganggumu, Luhan," lelaki itu mengulang lagi katakatanya, "Aku bahkan tidak akan berdiri dari kursi ini" Luhan menatap Kai curiga,

"Tidak bisakah aku meminjam buku-buku ini dan membawanya ke kamarku?"

Kai menggelengkan kepalanya. Oh, tentu saja bisa, gumam Kai dalam hati, tetapi dia akan kehilangan kenikmatan menggoda Luhan, dia ingin Luhan terpaksa berada di ruangan ini, bersamanya,

"Tidak bisa buku-buku itu mahal, aku tidak yakin kau akan menjaganya dan tidak

merusakkannya" kata-kata Kai terasa menyinggung Luhan, jangan-jangan Kai bahkan menyangka Luhan ingin mencuri buku-buku mahalnya. Kurang ajar lelaki itu. Tetapi ajakan Kai untuk membaca buku di ruangan yang sama terasa begitu menggoda. Dan lelaki itu jelas-jelas menantangnya, menyadari betapa besarnya ketegangan seksual di antara mereka, dan memaksa Luhan menunjukkan diri apakah akan menjadi pengecut ataukah berani menghadapi Kai. Luhan sedikit mengentakkan kakinya dan melangkah mendekati sofa, diambilnya salah satu buku di rak itu dan dia duduk, berusaha tampil nyaman di sana.

Kai tersenyum. Pria itu jelas-jelas ingin menantangnya. Dan kehadiran Luhan di ruangannya sangat menarik perhatiannya, dia bahkan tidak tertarik lagi akan pekerjaan di mejanya. Dilipatnya kedua tangannya di meja dan dia mengamati Luhan yang sedang berakting membaca itu dengan intens.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?," Luhan akhirnya mencetuskan apa yang ada di dalam pikirannya, Kai sudah sejak beberapa menit lalu hanya duduk dan menatapnya. Lelaki itu memang tidak mengganggu, bahkan lelaki itu sama sekali tidak beranjak dari tempat duduknya. Tetapi pandangan matanya yang intens dan penuh gairah itu terasa sangat mengganggu. Membuat seluruh saraf tubuh Luhan mengejang ke dalam gelenyar panas yang membuat suhu ruangan ber-AC itu tiba-tiba terasa panas.

"Aku hanya ingin mengetahui seberapa jauh kau akan pura-pura berakting membaca. Setelah itu mungkin kau bisa menyadari betapa besarnya ketegangan seksual di antara kita," gumam Kai dengan tenang, tidak bergeser sedikitpun dari tempat duduknya, tetapi tampak begitu mengancam. Pipi Luhan memerah mendengar perkataan Kai itu, dengan marah dibantingnya buku itu di sofa dan berdiri,

"Kurasa sebaiknya aku pergi"

"Takut, Luhan?," Kai bergumam dengan nada mencemooh, "Kau takut kalau kau akan menyerah dalam pelukanku ya? Aku tadi menawarimu di sini, ingin melihat seberapa jauh kau berani berdua saja bersamaku di dalam satu ruangan… ternyata kau lari ketakutan seperti kelinci yang akan dimangsa" Oh Ya! Tatapan Kai kepadanya memang seperti elang yang akan memangsa kelinci buruannya. Luhan merasa sudah sewajarnya dia ingin menyelamatkan diri.

"Aku akan keluar dari sini"

"Kau memang harus keluar dari sini, karena kalau tidak pilihanmu hanya satu, berbaring di ranjangku"

"Itu hanya ada dalam mimpimu!," Luhan setengah berteriak, berlari ke pintu dan membanting pintunya keras-keras, masih didengarnya tawa Kai mengiringi kepergiannya.

"Luhan," suara Kai mengagetkan Luhan yang sedang termenung di balkon. Balkon yang sama tempat dia dilempar Kai dengan cara mengerikan ke kolam di bawahnya beberapa waktu yang lalu.

Luhan menoleh dan mendapati Kai sedang berdiri di ambang pintu balkon, menatapnya dengan tenang. Lelaki itu sepertinya baru saja pulang dari tempat kerjanya, Luhan tidak tahu, karena dari balkon ini pemandangannya hanyalah halaman belakang dan kolam renang yang luas.

"Kenapa kau berdiri di balkon malam-malam begini?," Kai mengernyit mengamati hujan rintik-rintik yang turun makin deras, bahkan airnya bercipratan mulai membasahi Luhan yang memang berdiri sambil menatap halaman di bawah. Sejak Luhan dibebaskan, inilah pertama kalinya dia bisa menikmati hujan secara langsung. Dulu ketika dikurung di kamar putih Luhan hanya bisa menikmati hujan dari jendela, tanpa menyentuhnya. Sekarang bisa merasakan percikan air membasahi tubuhnya terasa begitu luar biasa untuknya.

"Aku sedang menikmati hujan," Luhan membalikkan tubuhnya membelakangi Kai, mencoba mengacuhkan lelaki itu.

"Kau akan membuat dirimu sendiri sakit," Kai mulai menggeram, tampaknya lelaki itu menahan marah. Luhan menoleh lagi dan menatap Kai dengan menantang, "Entah apa yang kau katakan tentang memberikan kebebasan padaku itu bohong, atau kau memang suka mengatur-atur dan menggangguku. Aku bisa mengurus diriku sendiri dan kuharap kau tidak menggangguku"

"Oke," Tatapan Kai kepada Luhan terasa membakar di suasana hujan yang begitu dingin, "Terserah, silahkan buat dirimu sendiri sakit, aku harap kau tidak merepotkanku nantinya". Lelaki itu membalikkan badan, tetapi setelah beberapa langkah dia memutar tubuhnya kembali dan menatap Lana, "Setelah kau siap aku ingin bicara denganmu"

"Tentang apa?," Luhan mengernyitkan kening, mulai merasa terganggu dengan interupsi-interupsi dari Kai. Dia sedang ingin menikmati hujan dan lelaki itu tampaknya selalu muncul di saat yang tidak tepat dan mengucapkan kata-kata yang tidak tepat pula.

"Nanti, ini mengenai ulang tahunmu yang ke dua puluh lima"

TBC

Annyeong chingudeul :D

Gomawo buat yg uda nunggu lanjutan ff remake'a ini ne #deepbow

Big Thanks untuk semua yg nge-review ff ini ne #deepbow

Mianhae klo ga menyebutkan namanya satu-persatu ne...

Kamsamhamnida :D #deepbow

Ditunggu reviewnya chingu :)