iKON : Detective!

Case 01 : Princess Murderer.

Cast : all iKON Member || Thomas Kim (OC) || Jin, JR, Jimin, Jungkook.

Disc : STORYLINE MINE!

...

KORBAN : SON SEUNGWAN / WENDY (15 Y.O)

Petunjuk : Pesan terakhir, Tali tambang, pecahan balok kaca, Gaun pengantin, dan sepatu, make up.

Kasus : Pembunuhan berencana

Tanda kekerasan (sementara) : Luka Lebam pada mata kiri dan tengkuk. Tusukan pisau pada payudara kanan dan luka sobekan pada bawah pusar.

Saksi : Mimi, Oh Sehun, Jung Chanwoo, Oh Yifan, Huang ZiTao, Son Naeun.

- CASE 1 : PRINCESS MURDERER -

-BERLANJUT -

...

...

Kepolisian Seoul, 11;20 a.m

"... Hanbin-ah? Apa kira kira passcodenya ya?" Jinhwan menoleh pada Hanbin yang sibuk menulis sesuatu pada kertasnya. "Hanbin-"

"Ada berapa jumlah huruf dalam alfabet?" Tanpa memperdulikan pertanyaan Jinhwan, Hanbin malah balik bertanya pada keenam orang lain di kantor divisi penyelidikan... Maaf hanya 4 karena Donghyuk dan Yunhyeong nampak tertidur dibalik kacamata mereka.

"Dua puluh enam, hyung memangnya kenapa?" Chanwoo yang menjawab. Jinhwan menggembungkan pipinya kesal karena Hanbin tak kunjung menjawab pertanyaannya.

"Hanbin-"

"Got it. Thanks Chanwoo." Jawab Hanbin lalu kembali mengutak-atik tulisannya. Dua kali pula Jinhwan diabaikan Hanbin, kali ini ia sibuk membaca filecase kasus 2 tahun lalu, kemudian melirik Chanwoo.

"Uhm.. Chanwoo-ya..." Jinhwan memanggilnya dan dibalas tatapan polos anak laling muda diantara mereka.

"Ne, Hyung?" Jawabnya. Jinhwan menyerahkan filecase yang ia pegang pada Chanwoo, yang hanya menatap filecase itu polos. "Apa ini hyung?" Chanwoo membukanya dan mulai membacanya. "Apa ini... Oh iya hyung. Kasus 2 tahun lalu mengenai seorang guru muda bernama LiYin-Zhang." Chanwoo meneliti isi berkas tersebut.

"Ah! Aku ingat! Kasus ini saat aku baru bergabung dengan kepolisian." Bobby nampak menepuk meja, membuat semua orang tersebut kaget. "Kalau tidak salah, kedua bersaudara OH itu juga terlibat. Dan... Seingatku LiYin memiliki hubungan darah dengan Tao." Sambungnya. Yunhyeong yang tersadarkan oleh tepukan meja Bobby mengernyitkan pandangannya.

"Tunggu... Kedua kasus ini seperti berhubungan. LiYin dan Huang Zitao memiliki hubungan darah,Tao berpacaran dengan Yifan, Yifan berhubungan serius dengan Wendy, lalu... Sehun adik dari Yifan." Donghyuk menguap sembari mengatakan itu. "Hanya Oh Sehun yang agak jauh dengan semuanya." Lanjutnya. Semua kembali terdiam, kecuali Hanbin dan suara ketikan pada netbooknya.

"Ani, hyungdeul." Yang paling muda menginterupsi. "Sehun menyukai Wendy, sebenarnya." Lanjut Chanwoo sdmbari berfikir. "Sedangkan seingatku, dulu LiYin nuna juga sempat dekat... Dengan Yifan." Lanjutnya. Chanwoo memakan biskuit cokelatnya kemudian lanjut bercerita. "Ini berputar-putar. LiYin Nuna memiliki hubungan darah dengan Zitao, yang dimana keduanya telah berpacaran dengan YiFan. Lalu Wendy si tunangan Yifan dan Sehun, yang menyukai Wendy tapi terhalang kakaknya." Chanwoo mengakhiri pendapatnya.

Hening.

"Jinhwan hyung. Ketikkan Sonlove pada kolom password." Hanbin mendongkakkan kepalanya dan menolej kearah Jinhwan, yang langsung saja diikuti oleh Jinhwan.

"TERBUKA! THANKS BIN!" Jinhwan memekik senang, yang hanya dibalas anggukan pelan Hanbin.

"Kurasa Wendy ini sedikit lebih jenius dari yang si pelaku duga. Dia mengirimkan kode ini pada orang yang ia bisa percaya, dalam hal ini Sehun." Hanbin mengangguk-anggukan kepalanya. "Sialnya... Oh Sehun sepertinya bodoh untuk menyadari kode ini. Dan..." Hanbin memperhatikan salah satu foto di meja.

"Dan... Oh Sehun mengakui kalau bandul gelang itu memang miliknya, tapi ia baru menemukan gelang itutergeletak di dekat pecahan kaca di aula tempo hari." Hanbin mengakhiri analisanya. Junhwe menatap foto TKP, lalu mendecakkan lidahnya. Ia menggulung lengan kemejanya kemudian mengambil sesuatu di dalam tasnya, dan mengeluarkan buku cerita anak anak.

"Aku baru menyadari ini setelah membaca buku cerita ini. Mengenai putri cantik yang dijodohkan.. Lalu-"

"Guys, kurasa kalian harus mendengarkan ini... Kunci utama kasus ini." Jinhwan menginterupsi perkataan Junhwe dan memutar sesuatu diari Notebook Wendy.

...

"oke, kita tangkap pelakunya sekarang... Err kita kumpulkan seluruh saksi lalu lihat reaksi mereka."

PETERNAKAN HUANG, 3:30 P.M. KST

...

Semua saksi, baik dari pihak sekolah maupun pihak keluarga Zhang, Oh dan Son telah dikumpulkan di sini, peternakan keluarga Huang. Opsir Taehyung dan opsir Himchan sedang bersiaga didepan pintu, sedangkan didalam, para detektif, Kepala polisi Kim, dokter Jackson dan Dokter Yoongi berada didalam ruangan yang cukup luas.

"Okay.. Sudah terkumpul semua." Junhwe mencocokkan list saksi, keluarga dan lain lain, kemudian menoleh pada atasannya, Bobby. " sudah lengkap, hyung." Lanjutnya. Bobby mengangguk kemudian berdehem pelan.

"Selamat sore, tuan tuan dan nyonya nyonya." Dengan senyuman khasnya, Bobby menyapa yang dibalas oleh semua orang yang hadir disana. "Kami, tim kepolisian yang bertugas menuntaskan kasus pembunuhan nona Son. Seperti yang anda semua ketahui, mayat Nona Son ditemukan di sekolahnya pukul 7 pagi, saat kelas 9-4, akan melaksanakan olahraga. Mimi, anak pertama yang menemukannya, disusul Oh Sehun dan Jung Chanwoo serta tersangka sementara kami, Oh Yifan." Bobby menghela nafasnya, kemudian meminum susu yang sebelumnya disediakan. "Selanjutnya akan dilanjutkan oleh tim forensik kami, silakan Jinhwan." Bobby mengakhiri pembicaraan awalnya, dan meneruskan pada Jinhwan, Jackson dan Suga yang berdiri di belakangnya, membawa lembaran foto.

"Ah, annyeong. Kasus nona Son ini sangat menarik. Pertama kali aku menemukan mayat ini, kukira itu hanya pembunuhan biasa, dengan luka sayatan pada bagian perut bawah dan luka lebam di beberapa titik." Jinhwan menjelaskan, sedangkan Suga dan Jackson menunjukkan foto korban. Nyonya Son dan kakak wanita Wendy, Son Naeun nampak pucat dan menunjukkan raut terpukul.

"Tapi, setelah kami mengautopsi mayat korban, kami menemukan sesuatu yang sangat sudah tertebak." Jinhwan menatap satu-persatu wajah saksi plus tersangka sementara, lalu menarik nafas dalam dalam. "Wendy sedang dalam keadaan mengandung janin berusia sekitar 2 bulan. Dengan kata lain, ini merupakan kasus pembunuhan plus aborsi."

Junhwe kemudian berdiri dan menunjuk salah satu lembar foto yang ada. "Luka lebam ini adalah bukti bahwa ini juga merupakan perencanaan serta penculikan. Kenapa? Karena pada tangan kanan korban terdapat luka gores kuku, juga... Terdapat luka pukulan dari tongkat baseball pada tengkuk korban, serta rambut korban yang rontok pada beberapa bagian." Jelas Junhwe panjang lebar. Chanwoo kemudian membawa barang bukti berupa gelang, pecahan kaca dan bandul huruf N.

"Err. Ini milik Sehun. Dan Sehun memang mengakuinya, sih.. Benar kan Hun?" Tanya Chanwoo, sedangkan Sehun hanya mengangguk. "Sesuai keterangannya, Gelang ini menghilang beberapa minggu sebelumnya. Sang pelaku seperti sengaja ingin menyalahkan Sehun atas kejadian ini, begitupun Yifan, yang memang notabene tunangan Nona Son." Donghyuk menambahkan ucapan Chanwoo.

"Kemudian kami mencoba mencocokkan kasus ini dengan kasus pembunuhan lain yang pernah terjadi di sekolah itu, dan kami menemukan sesuatu yang berkesinambungan." Kali ini Yunhyeong berbicara. Ia menjilat bibir atasnya yang kering lalu meneruskan analisanya. "Nona Zhang, 23 Tahun. Seorang guru muda yang tewas terbunuh dengan cara yang mengenaskan di toilet sekolah. Tapi entah mengapa kasus ini ditutup dan nona Zhang dinyatakan tewas karena bunuh diri."

Yifan menegakkan kepalanya, menatap semua detektif dan tim penyidik yang ada. "Ah, iya. Zhang Li Yin, anak dari adik kami." Tuan Huang membenarkan perkataan Yunhyeong, yang diiringi anggukan nyonya Huang.

"Tapi.. Apa hubungan kasus Jie-Jie ku dengan kasus Nona Son? Bahkan mereka tidak saling mengrnal." Zhang YiXing, adik dari LiYin bertanya penuh kesedihan. Matanya berkaca-kaca dan air matanya perlahan menetes. "Jie-Jie orang baik.. Tapi setelah Yifan Gege datang, semua berubah." Yixing mulai bercerita. "H-hiks.. Jie-jie selalu pulang dalam keadaan pucat pasi, kadang melamun. Saat kutanya, ia selalu tersenyum dan berkata tidak apa-apa.. sampai.. Hiks-hiks... Kejadian itu terjadi. LiYin jie-jie memelukku dan berkata 'semua telah berakhir'. Ia lalu pergi dari rumah untuk berbelanja dan... Saat kembali ia sudah dalam peti mati.." Yixing menangis sesegukan, ditenangkan oleh sehun.

Semua orang terhanyut perasaan. Sampai saat Hanbin menjentikkan jarinya.

"Menurut pengakuan Wu Yifan, ia merasa diikuti sejak sebelum LiYin meninggal. Dan sebulan setelah LiYin meninggal, ia berhubungan dengan Huang Zitao, dan putus seminggu sebelum Yifan bertunangan dengan Wendy." Hanbin memulai analisanya. "Pelaku ingin seolah-olah LiYin tewas karena memiliki hubungan dengan Yifan, ataupun Sehun. Padahal sebenarnya... Ia hanya ingin Yifan menjadi miliknya sendiri." Hanbin menatap salah seorang saksi, dan memicingkan matanya.

"BENAR BEGITU, HUANG ZITAO?"

Tao membelalakkan matanya, lalu kemudian tertawa keras.

"HAHAHA! Kalian pasti bercanda. Kris itu tempramental. Itu yang membuatku putus dengannya. Dan Oh Sehun, harusnya kau mengakui anak di janin Wendy adalah ANAKMU!" Tao menunjuk Sehun yang sontak membelalakkan matanyq.

"Hei hei... Sehun sama sekali tidak bersalah disini." Chanwoo membela sahabatnya. "Janin Wendy berusia sekitar 8 minggu, dimana itu merupakan kali seminggu ia bertunangan dengan Yifan Hyung dan putus dengan anda." Chanwoo memulai analisanya. "Yifan hyung bercerita, bahwa sejak hari pertama putus ia mencoba menghubungi anda, tapi tidak dijawab sama sekali. Dan beberapa hari kemudian anda kembali mendekati Yifan Hyung." Lanjutnya. Chanwoo tersenyum senang. "Lalu.. Dua tahun lalu, beberapa minggu sebelum LiYin meninggal, ia sempat mengenalkanmu, Yixing dan tuan serta nyonya Huang pada Yifan, dan semenjak itu pula, Yifan merasa diikuti dan Liyin merasa terancam sampai mereka putus, dan keesokan paginya ia ditemukan tewas di kamar mandi sekolah." Chanwoo menjelaskan panjang lebar, membuat Sehun menganga, mendengar kejeniusan otak Chanwoo.

"Memang sebelumnya kami berfikir memang Kris tersangkanya, karena ia menderita Bipolar syndrome. Tapi setelah mendapatkan netbook ini..." Jinhwan mengacungkan netbook yang menyala, dan memutar sesuatu disana.

"OPPA! LIHAT AKHIBAT PERBUATANMU! AKU HAMIL OPPA!"

"Hamil? Ya itu resikomu sebagai wanita, cantik."

"Ini anakmu! Kau harus tahu!"

"Anakku? Yakin? Bukan anak Oh Sehun atau pria lain?"

"HUANG ZITAO OPPA! aku tahu ini adalah akal-akalanmu untuk merebut kembali Yifan. Tapi demi tuhan Oppa! Aku tidak bermaksud merebutnya darimu!"

".. . haft.. Baiklah. Temui aku di stasiun kereta esok sore."

...

"Benar sekali. Ini rekaman percakapan antara Nona Son dan Huang zitao." Jinhwan tersenyum taktakala melihat Zitao, Yifan dan Sehun membelalakkan matanya. "Jadi.. Motifmu adalah balas dendam dan cemburu pada kasus ini. Kami memang tidak menemukan alat yang kamu gunakan untuk membunuh, tapi kami menemukan ini, sebagai bukti utama." Jinhwan menghela nafasnya, ringan sekali, seolah sudah mengeluarkan beban, tapi Tao kemudian tertawa keras.

"Haft..bisa saja itu merupakan suara samaran. Kalian tahu.. Kan?" Tao menggendikkan bahunya, menatap menantang kearah Jinhwan yang menyeringai.

"Kalau kau bukan pelakunya, kau tidak akan melawan omongan kami." Jinhwan berkata final. "Sebagai polisi, kami juga bisa menggunakan alat penyamar suara, dan mengembalikannya seperti sediakala. Tapi, ternyatq tidak ada yang tipikal suaranya mirip dengan anda." Lanjutnya. Tao terlihat semakin panik, keringat mengucur dari pelipisnya.

"Pertama. Anda membunuh LiYin dan Wendy dengan alasan yang sama, Cenburu. Anda menjadi stalker Yifan demi mendapatkan info tentang pria itu, dan menemukan fakta bahwa Sehun dan LiYin memiliki hubungan akrab,begiyupun dengan Wendy. Anda memanfaatkan situasi ini, dengan melakukannya seolah olah Sehunlah yang membunuh keduanya, atau Yifan yang membunuh mereka, dengan begitu kamu aman." Jelas Bobby panjang lebar. "Anda dengan tamak ingin memonopoli Yifan dari siapapun, meski anda tahu anda tidak akan direstui oleh tuan dan Nyonya Oh. Itu alasan anda, benar?" Bobby menunjuk Tao, matanya mengintimidasi. Tao akhirnya jatuh terduduk dan menangis.

"Benar! Aku yang membunuh mereka. Tapi percayalah.. Mereka bukan wanita baik jadi aku yang pantas bersanding dengan Yifan!" Jelas Tao. Tidak ada satupun orang disana yang tidak kaget mendengarnya. Dengan sigap, Junhwe memborgol kedua tangan Tao dan membawanya keluar, meski mendapat teriakan dari kedua orangtua Tao karena menurut mereka ia tidak bersalah, tapi Tao tetap digelandang ke kantor polisi.

...

Epilog.

...

Kepolisian Seoul, 10;05 P.M.

"Ah, sangat beruntung sekali... Coba kalau netbook itu tidak ditemukan... Pasti kita sudah memenjarakan orang yang tidak bersalah.." Donghyuk merentangkan tangannya, menggeliat pelan. "Kurasa Zitao itu benar benar keterlaluan." Ia kemudian termenung dan menatap layar komputernya kosong.

"Bisa menyelesaikan 2 kasus dalam waktu bersamaan itu keren, guys. Kurasa Zitao akan terkena pasal ganda." Yunhyeong masuk dengan membawa nampan berisi 7 gelas coklat hangat sembari tersenyum. "Cheers?" Tawar Bobby sembari mengambil gelas miliknya, diikuti oleh yang lain.

"BERHASIL!"

...

-CASE 1, CLOSED-

A.N : AAAAA ENDINGNYA NGGAK KLIMAKS BANGET! Sorry for latepost, typo dll.

Makasih pisaaan yang udah mantengin ini FF yaaaa. Maaf reviewnya blm bisa dibales :(

Lanjut ke case 2? Review!

Thanks ^^