Naruto ( c ) Masashi Kishimoto
"My Love Term: I Getting Stuck at Your Heart"
( c ) Hitomi Sakurako
…
Chapter 7: Berusahalah, Sakura!
Sakura masih terbaring di ranjangnya. Wajahnya terlihat begitu lelah karena ia pulang agak malam setelah melalui konferensi pers dan perayaan kemarin.
Sakura berpikir bahwa hari ini adalah hari yang menyenangkan untuknya, karena hari ini adalah hari libur. Sakura berniat tidak akan terbangun sampai ia benar-benar merasa kantuknya hilang.
Namun, getar dari ponselnya seakan terus mengganggunya. Sakura sudah menyadarinya sedari tadi, namun ia berusaha untuk mengabaikan panggilan yang-terlalu-pagi itu.
Sedangkan ponsel Sakura tak berhenti bergetar, sekian lama mengganggu akhirnya pertahanan Sakura runtuh. Ia memilih untuk meraih ponselnya yang berada di meja samping tempat tidurnya dan menjawab telpon tersebut.
"Ada apa?" ucap Sakura dengan nada setengah terbangun, ya memang dia baru bangun. Lengkap dengan wajahnya yang masih belum terjamah air.
"Ada apa, apanya?! Cepatlah kemari! Lima belas menit lagi kita akan pergi ke studio!" teriak Sasuke dari telpon. Sontak hal itu membuat Sakura terkejut.
Sakura segera mematikan ponselnya. Ia menggerutu kesal. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa liburnya akan terbuang untuk hal aneh itu.
Sakura segera berjalan menghampiri kamar mandi, dengan langkah gontai. Ia mengambil handuk dan mempersiapkan diri.
.
.
.
Sakura berlari kecil menuju perusahaan. Beberapa kali ia menengok jam tangannya untuk memastikan bahwa ia tidak terlambat.
"Kenapa aku harus membuat diriku kesulitan seperti ini?" gerutu Sakura sedari tadi. Kemudian ia segera berlari memasuki perusahaan. Seperti biasa, ia selalu masuk menggunakan pintu belakang. Bukannya kenapa, ia takut dibodoh-bodohi oleh Sasuke lagi.
Sakura segera memasuki ruangan Sasuke dengan santainya, padahal sedari tadi dia sudah lari-larian. Sakura melihat semua staff sudah bersiap akan berangkat dan Sasuke masih belum keliatan.
"Oh, Sakura. Syukurlah kau datang!" ucap beberapa orang. Sakura hanya mengangguk pelan.
Mendengar beberapa staff berbicara pada Sakura, akhirnya Sasuke segera keluar dari ruangan pribadinya. Ia menghampiri Sakura dan memberinya beberapa lembar kertas.
"Ambil ini. Ini daftar kegiatanku untuk hari ini. Kau bisa liat jamnya." ucap Sasuke sambil memberikan kertas itu dengan kasar.
Sakura memasang wajah kesal. Ia segera membaca kertas itu dengan teliti. "Semua ini jadwalmu untuk hari ini? Banyak sekali!"
Sasuke membuang muka. "Tentu saja. Kau pikir dengan siapa kau berbicara! Hei, harusnya kau yang membuat semua daftar itu. Tapi karena kau terlalu lambat dan malas, aku terpaksa menyerahkannya kepada staff. Kau tahu, mereka juga memiliki pekerjaan yang lain!" tegur Sasuke. Yah, bukan terlihat seperti teguran biasa. Sasuke terlihat sangat marah kepada Sakura karena melalaikan pekerjaannya.
Beberapa staff memperhatikan Sakura dan Sasuke, tapi mereka segera berkutat dengan tugas masing-masing. Sakura mengangguk pelan. Sedikit-sedikit ia merasa takut. Namun ia berpikir bahwa ini memang salahnya. Sakura sudah sepakat akan menjadi manajer Sasuke sampai batas waktu yang ditentukan.
"Maafkan aku!" ucap Sakura tegas. "Aku akan berusaha!" Sakura berlalu meninggalkan Sasuke.
Seharusnya pekerjaan daftar itu menjadi tugas Sakura yang sekarang, tapi kata Sasuke bahwa beberapa staff lah yang mengerjakannya. Sakura merasa tidak enak. Ia jadi terlihat bodoh. Berdiam diri melihat yang lain bekerja.
Akhirnya Sakura memberanikan diri untuk membantu staff yang lain. "Maaf, bolehkah aku membantumu? Aku bisa meletakkan barang-barang itu." ucap Sakura sambil melihat beberapa barang yang berserakan di lantai.
Tapi, tak ada satu pun dari mereka yang memperhatikan Sakura. Mereka lebih fokus ke pekerjaan mereka. Sakura berpikir, mungkin mereka kesal karena Sakura telah merepotkan mereka. Kemudian Sakura membantu para staff tanpa peduli dirinya dianggap atau tidak. Ia hanya merasa sedikit menyesal.
Sedangkan Sasuke, ia hanya duduk sambil memperhatikan Sakura dan staff yang lainnya bekerja.
"Yosh! Yang ini ditaruh di sini saja!" ucap Sakura sambil meletakkan dos terakhir. Ia menepukkan kedua tangannya untuk membersihkan debu yang menempel.
"Sakura!" ucap Kakashi yang baru memasuki ruangan itu.
Sakura segera menghampiri Kakashi. "Ada apa? Ada apa?" tanya Sakura penasaran.
"Kau sudah menerima jadwal Sasuke, kan?" tanya Kakashi.
Sakura baru akan menjawab, tapi tiba-tiba Sasuke menyelanya dan berbicara dengan nada kesal. "Dia tidak mengerjakannya. Tapi para staff yang melakukannya."
Sakura menundukkan wajah, kemudian ia tersenyum kikuk. "Maaf. Aku telat. T-tapi aku membantu para staff. Aku merasa ingin melakukan balas budi."
Kakashi tersenyum ramah. "Dengar, Sakura. Tugasmu hanyalah mengatur Sasuke. Kau tidak perlu mengerjakan hal yang bukan pekerjaanmu."
Sakura terdiam cukup lama, kemudian ia mengangguk pasrah.
"Baiklah, kalau begitu kau harus pergi ke studio. Hari ini Sasuke banyak permintaan fotografer. Kau harus ke sana untuk mempersiapkannya. Beberapa staff akan pergi bersamamu." ucap Kakashi sambil menepuk bahu Sakura.
Sakura mengangguk mantap. "Baik!" Kemudian ia segera mengambil dan memakai syalnya. Tak lupa juga ia mengambil kertas jadwal Sasuke. "Aku pergi dulu!" seru Sakura. Ia mulai melangkah dengan semangat.
Sebelum Sakura benar-benar pergi, Kakashi menahan tangan Sakura. "Sebentar!"
Sakura kebingungan dan bertanya. "Ada apa?"
Kakashi tidak menjawab, ia hanya menatap seolah berkata 'ikuti aku' dan melangkah lebih dulu daripada Sakura. Sakura yang masih bingung hanya mengikuti Kakashi.
Kakashi menunjuk sebuah ruangan yang tertutup. "Mulai hari ini kau akan tinggal di sini!"
"Eh?! T-tapi aku punya rumah—" ucap Sakura yang makin heran.
"Maksudku, kau adalah anak SMA. Kau pasti kesulitan mengatur dirimu dalam bekerja. Jadi kau bisa tinggal di sini sementara. Kau harus membawa pakaian dan barang-barangmu yang penting ke sini."
Sakura kembali mengelak. "Tapi aku bisa pulang, kan."
"Sakura, kau memang bisa melakukannya. Tapi apa kau tetap bisa melakukannya dalam waktu lima menit? Aku menyarankan kau membawa pakaian karena siapa tahu saja, sepulang sekolah Sasuke langsung ada jadwal penting. Kau tidak mungkin menggunakan seragam sekolahmu lagi seperti waktu konferensi pers kemarin." jelas Kakashi dan dibalak anggukan pasrah dari Sakura.
"Baiklah, aku akan membawanya segera. Kalau begitu aku pergi untuk memeriksa studio dulu!" ucap Sakura dengan nada semangat kembali. Ia segera berjalan menuju pintu masuk.
Tapi, tiba-tiba, Sasuke yang pada saat itu juga berdiri di dekat pintu, secara sengaja dan seenak jidatnya langsung mengarahkan kakinya di depan kaki Sakura. Sontak Sakura tersandung. Untungnya ia mampu menyeimbangkan diri. Sakura hanya hampir terjatuh.
Sakura menggerutu kesal. "Tch! Apa yang coba kau lakukan?!" teriak Sakura kesal.
"Rokmu terlalu pendek." ucap Sasuke sambil memperhatikan rok Sakura. "Jangan keluar seperti itu!" Sasuke segera berlalu pergi.
Memang benar, rok yang Sakura gunakan agak pendek, meskipun ia menggunakan kaos kaki dan jaket yang agak panjang. Sakura menggeram kesal. "Makhluk itu, dia selalu mengganggu!" gumam Sakura.
.
.
.
"Baiklah, persiapan sudah siap!" komando sang fotografer.
Sakura berdiri dari duduknya. "Mana Sasuke?" Sakura bertanya pada beberapa staff.
Sakura mendengar beberapa orang menjawab bahwa Sasuke sedang berada di ruang rias. Dengan cepat, Sakura segera berlari mencari Sasuke.
Dan benar saja, Sasuke masih di ruang rias, memperhatikan dirinya di cermin dan terlihat seperti kebingungan.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau belum keluar?" tanya Sakura sambil menghampiri Sasuke.
"Tch, aku belum dipanggil!" celetuk Sasuke.
Sakura mendengus pelan. "Aku tahu, tapi seharusnya kau sudah bersiap." Sakura melipat kedua tangan di depan dada. Kemudian ia melihat kearah Sasuke.
"Kemana tukang riasmu?" tanya Sakura.
"Dia pergi mengambil pakaian." ucap Sasuke dengan datar sambil memainkan benda-benda yang ada di meja rias.
Sakura terkejut. "Seriusan? Bukannya tukang rias tidak melakukan itu?" ucap Sakura.
"Yah, tapi yang mengurus pakaian mendadak tidak bisa datang."
Sakura kembali memperhatikan wajah Sasuke. Sudah ia duga, ada hal aneh di wajah Sasuke. Sakura baru menyadari bahwa memang ada riasan yang belum dirapikan.
"Sudah kuduga." Sakura duduk di samping Sasuke. Ia menarik bahu Sasuke sehingga sekarang Sasuke menatap Sakura.
"Apa yang kau lakukan?!" protes Sasuke.
"Berisik. Aku hanya harus merapikan sedikit!" ucap Sakura sambil mengambil selembar tisu di meja rias.
Sasuke hanya terdiam begitu Sakura menyentuh wajahnya. "Oi…"
"Ada apa?" tanya Sakura.
"Kau apakan wajahku? Kau tidak ahli soal ini!" teriak Sasuke kesal.
Sakura hanya terdiam, kemudian ia merapikan rambut Sasuke. Setelah itu ia meletakkan alat make-up dan duduk di samping Sasuke, membiarkan Sasuke melihat hasil yang dibuat Sakura di wajahnya.
Sasuke hanya terdiam, kemudian ia kembali menatap Sakura. "Kau… berpakaian seperti itu karena kau sudah menjadi manajerku, kan?" tanya Sasuke.
"Dengar, kenapa kau sedari tadi mengkritik caraku berpakaian? Sebenarnya, aku memang selalu berpakaian seperti ini dari dulu!" ucap Sakura kesal.
"Kau bisa berpakaian dengan baik? Terus kenapa kelakukanmu seperti hewan yang lepas dari kandang?" ucap Sasuke dengan nada mengejek.
Sakura mendengus kesal. "Kau ini!" teriak Sakura kesal, kemudian ia melanjutkan pembicaraannya. "Ibuku sangat menyukai hal yang berhubungan dengan kecantikan. Ia sampai belajar dan bahkan membuka jasanya sendiri. Tapi, ibuku diterima bekerja di kantor perusahaan. Ibuku sangat sedih karena ia akan lebih memilih bekerja di perusahaan daripada mengikuti hobinya. Karena rasa sedihnya itu, akhirnya ia mengajarkanku merias dan berpakaian sebaik dan semenarik mungkin." Sakura segera berdiri dari duduknya. Ia mengambil syalnya dan melipatnya.
"Tapi kau bilang kalau temanmu hanya Ino dan Hinata." ucap Sasuke mencoba untuk menghentikan Sakura.
"Itulah masalahnya. Ibuku mengajariku cara menarik perhatian dengan berpakaian dan mempercantik diri. Tapi, ternyata aku memang tidak pandai bergaul. Jadi aku lebih memilih dengan sikapku seperti ini." ucap Sakura sambil tersenyum kikuk.
Sasuke terdiam, Sakura juga ikut terdiam karena tidak mendapat respon dari Sasuke.
"Sasuke-san. Silakan keluar!" perintah salah satu staff.
Sakura terkejut kemudian menyusul Sasuke keluar juga. Sekarang Sasuke sedang menjalani proses photo sessionnya setelah ia bermain film terbarunya. Sedangkan Sakura hanya melihat Sasuke dari belakang.
"Sasuke benar-benar keren." ucap Kakashi yang tiba-tiba berdiri di samping Sakura.
Sakura mengangguk beberapa kali sambil tersenyum. "Dia sangat hebat."
"Kau sendiri juga mengakuinyan, kan." gumam Kakashi sambil tersenyum. "Kau tahu,"
Sakura langsung berbalik menatap Kakashi. "Hm? Ada apa?"
"Sasuke sepertinya ingin mengenal dirimu lebih jauh." Kakashi melanjutkan perkataannya.
Sakura terkejut sejenak. Beberapa saat kemudian ia langsung tertawa kecil. "Hah? Sasuke ingin mengenalku lagi? Orang kasar dan tidak sopan itu. Dia benar-benar membenciku."
Kakashi menaikkan sebelah alisnya. "Menurutmu begitu?"
"Aku yakin! Mungkin saja ia kebingungan dengan perasaannya sendiri. Seolah-olah dia mencoba baik kepadaku, tapi sama sekali tidak." ucap Sakura sambil tersenyum dan menatap kearah Sasuke.
Beberapa menit kemudian, proses photo session sudah selesai. Berdasarkan yang didengar oleh Sakura, saat ini Sasuke sedang menjadi model untuk sebuah majalah yang terkenal.
Sekarang Sasuke sedang beristirahat di sebuah sofa panjang. Sedangkan Sakura duduk di kursi dekat Sasuke. Sakura sedang melihat-lihat hasil foto Sasuke.
"Sakura, belilah minuman. Aku haus!" perintah Sasuke.
Sakura menghela napas. "Maaf, aku manajermu. Bukan pembantumu!" tolak Sakura.
"Hah? Kau tidak mau melakukannya? Kau tidak lihat, para staff juga kelelahan. Sebaiknya kau membeli minuman sebagai permintaan maafmu tadi." Sasuke mencoba menakuti Sakura. Dan benar saja, Sakura langsung beranjak pergi membeli minuman.
"Anak itu terlalu cepat dipengaruhi." gumam Sasuke sambil menatap Sakura yang berjalan menjauh.
.
.
.
"Dasar! Dia mengancamku!" gerutu Sakura kesal sambil mengambil beberapa kaleng minuman di vending machine.
Sakura segera berjalan kembali ke studio. Ia melakukan ini semua demi para staff, bukan karena Sasuke. Sakura hanya merasa masih bersalah.
Tiba-tiba ketika ia berjalan, beberapa orang gadis berdiri di hadapannya. Sakura menatap mereka satu per satu. Kalau dilihat sepertinya lebih tua dari Sakura.
"Ada apa?" tanya Sakura heran.
"Jangan bercanda!" teriak salah satu dari mereka yang menarik tangan Sakura menuju sebuah lorong yang sepi.
Karena sedari tadi ditarik, Sakura tidak mampu menampung kaleng-kaleng minuman yang dibawanya, apalagi setelah salah satu dari gerombolan itu menarik tangan Sakura dengan kasar.
"Apa-apaan ini?" tanya Sakura, masih dengan keheranan.
Salah satu dari mereka menahan Sakura di tembok. "Kau yang ada apa! Kau bukanlah orang yang cocok menjadi manajer Sasuke!"
"Benar! Kami menjadi fans Sasuke sejak lama dan kau seenaknya berada di dekatnya!" celetuk seorang lagi.
"Hah?!" Sakura mendadak ingin tertawa keras. Apa-apaan ini? Beberapa fans Sasuke protes karena Sakura menjadi manajer Sasuke. Apa itu penting? Jawabannya, tentu saja (berlaku bagi fans Sasuke garis keras).
"Kalian yang tidak mengerti. Aku sama sekali tidak membayangkan Sasuke akan menyuruhku menjadi manajernya. Kalian pikir aku suka? Sama sekali tidak!" teriak Sakura dengan nada kesal. Membuat gerombolan gadis itu terdiam.
"Apa yang kalian sukai dari Sasuke? Bodoh dan kasar! Kalian benar-benar makhluk bodoh yang sangat memuja makhluk bodoh juga!" teriak Sakura lagi. Sepertinya ia mengeluarkan semua rasa kesalnya pada Sasuke melalui para fansnya.
Plak! Sakura mendapat satu tamparan di pipinya. Sakura terkejut. "Apa yang kau lakukan?"
"Tutup mulutmu, dasar munafik! Jangan menjelekkan Sasuke! Aku tahu! Kau juga sebenarnya sangat senang bisa menjadi manajer Sasuke!" teriak gadis itu. Kemudian mereka melepas pegangannya pada pergelangan tangan Sakura.
Sebelum mereka pergi, mereka mendorong Sakura ke tanah. Sakura menjerit kesakitan. Ia hanya terdiam, kemudian ia berdiri dan mengambil kaleng-kaleng minuman yang jatuh itu.
Beberapa menit kemudian, Sakura kembali ke studio dengan langkah gontai. Sasuke masih berada di sofa yang sama. Sakura hanya meletakkan minuman itu di meja. Ia masih terdiam. Dalam hatinya ia merasa sangat kesal karena Sasuke telah membuatnya dilukai oleh fansnya seperti ini. Sakura tahu hal itu akan terjadi, namun ia tidak sanggup menahan semuanya nanti.
"Oi, kenapa kau lama sekali?" tanya Sasuke sambil mengambil salah satu kaleng minuman itu. Ia mencoba menahan Sakura yang akan segera pergi.
Sakura hanya terdiam. Ia masih kesal. Namun ia mencoba menahannya sekuat mungkin. Ia menutupi kekesalannya dengan tersenyum kecil.
"Apa ini? Kenapa kalengnya berdebu?!" protes Sasuke ketika melihat kaleng minumannya agak kotor.
"Aku tidak sengaja menjatuhkannya." ucap Sakura sambil tersenyum pasrah. Dan tentu saja, ia berbohong soal itu.
"Sakura, cepat bersihkan ini!" perintah Sasuke lagi.
Sakura hanya terdiam, ia melakukan hal yang diperintah Sasuke begitu saja. Ia membersihkan semua kaleng minuman itu, kemudian menyerahkannya kembali ke Sasuke.
"Aku pergi dulu…" ucap Sakura sambil melangkah meninggalkan Sasuke.
"Kau mau kemana?" tanya Sasuke sambil mencoba menghampiri Sakura, namun ketika akan melangkah, seorang staff menghampirinya.
"Sasuke-san, masih ada sedikit gambar yang ingin diambil." ucap salah satu staff itu. Sasuke hanya mengikuti staff untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sakura berjalan menuju salah satu ruang di studio. Ya, dia ke UKS. Sakura benar-benar kagum, dalam studio ternyata juga ada ruang UKS. Tapi, Sakura tidak terlalu memikirkan itu, ia segera mencoba untuk membersihkan lukanya sendirian.
"Maaf, aku melihat seseorang berjalan memasuki UKS. Apakah itu kamu?" tanya seorang wanita begitu melihat Sakura berada di UKS.
Sakura tersenyum kecil. "Ya! Aku membersihkan luka."
"Luka? Ada apa?" tanya wanita itu sekali lagi. "Biar aku membantumu!" ia mengambil kasa dan obat untuk Sakura. "Aku adalah pengurus di UKS ini."
Sakura mengangguk dan membiarkan wanita itu mengurus lukanya.
"Anda tahu soal aktor yang sangat terkenal, kan? Mereka akan digemari banyak orang. Dan aku malah menjadi korban dari fansnya itu!" ucap Sakura kesal.
"Mereka melukaimu? Aku heran, padahal kau hanya manajernya, seharusnya kau tidak terlibat." Seorang wanita itu membersihkan luka Sakura.
"Benar juga. Padahal aku hanya manajer Sasuke! Aku kesal! Ini sangat sakit. Aku tidak mampu melawan mereka yang banyak itu. Apalagi mereka jauh lebih tua dariku!" gerutu Sakura kesal. Sakura memperbaiki sepatu bootnya.
"Inilah medan perang selama kau menjadi manajer! Kau akan melewatinya, aku yakin, err–!" wanita itu mencoba menyemangati Sakura.
"Sakura! Sakura Haruno!" ucap Sakura sambil tersenyum kecil.
"Ah, Haruno-san! Maaf, sepertinya aku harus pergi! Beristirahatlah!" kemudian ia melangkah pergi meninggalkan Sakura di ruang UKS sendirian.
Sakura menghela napas. Kemudian ia mencoba berpikir. "Apa aku akan mengalami ini terus?"
Sakura menatap langit-langit ruang UKS. Sekali lagi ia menghela napas. Kemudian muncul Kakashi yang memasuki ruang UKS.
"Sakura, kau disakiti oleh fans Sasuke?" tanya Kakashi.
"Seperti itulah. Kata pengurus UKS-nya, lebih baik aku istirahat dulu." ucap Sakura sambil tersenyum.
"Padahal kau harus membawa barang-barangmu ke perusahaan sekarang!" ucap Kakashi sambil berpikir.
Sakura segera berdiri dari duduknya. "Aku akan melakukannya segera!"
"Eh, kenapa tiba-tiba?" tanya Kakashi yang keheranan.
"Aku hanya bisa melakukannya kalau libur. Jadi lebih baik aku langsung melakukannya saja." ucap Sakura sambil beralih memakai jaket dan syalnya.
"Oh, begitu? Kau yakin? Kau masih terluka."
Sakura mengangguk mantap. Ia berjalan kearah pintu masuk UKS. "Aku pergi dulu!"
.
.
.
Sakura membawa sebagian barangnya menggunakan tas yang agak besar. Sisanya seperti pakaian dan barang yg berat diletakkan di dalam dos. Sakura akan segera membawa barang-barang itu menuju ruang Sasuke.
"Eh, tidak mungkin aku membawa semua barang-barang ini sendirian." Akhirnya setelah berpikir lama untuk membawa barang itu. Kemudian Sakura melihat troli pengangkut barang di sudut pintu belakang.
"Dasar, untung aku lewat pintu belakang. Semuanya akan menjadi mudah!" seru Sakura dengan semangat. Ia membawa barang-barangnya ke ruangan Sasuke. Ketika Sakura membuka pintu, dilihatnya Sasuke yang duduk di sofa sambil membaca majalah.
Sasuke segera menatap Sakura yang tiba-tiba membuka pintu. Kemudian ia beralih melihat barnag Sakura yang masih berada di luar pintu. "Apa yang kau lakukan?"
"Kau tidak melihatnya? Aku membawa barang-barangku. Kata Kakashi aku harus menyimpan barang di ruangan kosong itu." ucap Sakura sambil menunjuk pintu ruangan yang akan ditempatinya.
"Oh, itu dulunya adalah tempat Tenten." ucap Sasuke. Kemudian ia kembali fokus ke majalahnya.
Sakura kemudian kembali melakukan pekerjaannya. Namun sesuatu membuatnya berhenti bekerja. Sakura hanya bengong melihat troli yang digunakannya tidak muat memasuki pintu ruangan.
"Eh?" Sakura masih mencoba memasukkan troli itu.
"Oh, aku belum bilang, ya? Troli di belakang memang lebih besar. Troli itu digunakan waktu orang perusahaan ini masih sedikit. Sekarang sudah direnovasi dan dikecilkan pintunya." Sasuke hanya berkata tapi tetap fokus ke majalah. Ia berbicara seolah-olah mengejek Sakura.
Sakura syok. Haruskah ia membawa semua dos berat itu ke ruangan pribadinya?
Ya, karena kalau bukan dia yang melakukannya, siapa lagi? Sakura mulai mengangkat dos pertama. Ia berjalan sangat lambat di dekat Sasuke. "Oi! Jangan cuma duduk di sana! Bantu aku!" ucap Sakura dengan nada kesusahan.
Sasuke tidak berdalih. Ia masih membaca majalah dengan tenang. Malahan ia mendengarkan musik supaya tidak terusik dengan suara barang-barang Sakura. Kemudian, Sakura juga telah berhasil membawa dos kedua. Ia bersyukur karena ia hanya membawa tiga dos saja.
"Yosh! Sebentar lagi selesai." Sakura melemaskan kedua tangannya. Ia bergaya sedang melatih tangannya agar tidak kaku setelah mengangkat dos sebelumnya. Sakura mencoba melirik Sasuke, berharap semoga Sasuke mau membantunya, tapi sepertinya harapan tetaplah harapan. Tanpa sengaja, Sasuke pada saat itu juga menatap Sakura.
Sakura segera membuang muka. "Ya-ha! Aku jadi semangat!" teriak Sakura mencoba mengalihkan.
Kemudian Sakura mencoba mengangkat dos terakhir itu. "Sudah kuduga memang lebih berat dari sebelumnya. Tapi aku harus bisa!" gumam Sakura.
Dan benar saja, Sakura mampu mengangkatnya meskipun terlalu berat. Sakura juga berjalan lebih lambat dari sebelumnya. Saking besarnya, Sakura juga tidak mampu melihat di depannya.
"Sasuke, kearah mana ruanganku?" tanya Sakura.
Sasuke terdiam beberapa saat. "Kau sudah tahu, kan! Kau sudah dua kali membawa dos yang sama."
"Kalau aku bisa mengingatnya, aku tidak akan bertanya! Cepatlah! Ini sangat berat!" gerutu Sakura kesal.
Sasuke masih terdiam, kemudian ia tersenyum. Sepertinya dia berniat mengerjai Sakura lagi. "Kau terus maju. Coba dua langkah ke kanan sedikit!"
Sakura mengikuti perintah yang diberikan Sasuke. "Begini?"
"Ya, kau hanya harus maju dan terus maju." Sasuke bukan menunjuk kearah ruangan Sakura, tapi dia mengarahkan Sakura ke sebuah meja di ruangan sana. Apalagi kalau bukan berniat membuat Sakura terjatuh.
Sakura terus berjalan dan berjalan. Tiba-tiba – Duk! Lutut Sakura menabrak sebuah meja di depannya. Dan parahnya, lutut yang menabrak meja adalah lututnya yang terluka tadi.
"Uwah!" Sakura berteriak reflek, ia mundur beberapa langkah. Sakura terjatuh duduk di lantai dan menjatuhkan barang yang tadi dibawanya. Lututnya benar-benar sakit.
Sasuke? Dia langsung tertawa melihat Sakura yang berhasil ditipu. Sasuke segera berdiri menghampiri Sakura. "Hahah, kau tidak apa-apa?"
Sakura hanya menunduk sambil menutupi lututnya yang tadi terbentur di meja. Sasuke mencoba untuk menyingkirkan tangan Sakura yang menutup lututnya. "Hei, kau tidak ap—"
Sakura mengangguk dengan cepat. Ia menyingkirkan lututnya dari tangan Sasuke. "Aku tidak apa-apa!" ucap Sakura sambil tersenyum paksa.
Sasuke agak heran melihat ekspresi Sakura yang aneh, namun kemudian ia mengelus-elus kepala Sakura. Ia masih saja tertawa melihat Sakura. "Aku pergi dulu!" Kemudian Sasuke melengos pergi begitu saja.
Sekarang hanya Sakura sendirian di ruangan itu. "Sakit…" Sakura melihat lututnya yang tadi terbentur itu. "Semoga lututku baik-baik saja. Padahal seharusnya ini tidak akan terlalu sakit kalau tidak terluka seperti itu."
Sakura berbalik menatap pintu ruangan. Ia berdecak kesal. "Orang itu! Dia menipuku! Dia melukaiku dua kali! Dasar!" gerutu Sakura kesal.
Kemudian Sakura bergegas membereskan pekerjaannya. Setelah beberapa menit kemudian, Sakura berhasil meletakkan dan merapikan semua barang-barang yang dibawanya tadi ke ruangan pribadinya, kemudian Sakura langsung tertidur di lantai.
"Hah, lelah sekali!" ucap Sakura lega. Ketika ia berbalik ke sebuah meja, ia melihat sebuah kotak kecil yang langsung menarik perhatiannya.
Sakura mengambil kotak itu. Kotak yang masih baru. "Mungkin ini punyanya si pemilik ruangan sebelumnya. Mohon maaf apabila aku membukanya tanpa izin!"
Sakura mencoba membuka kotak itu. Dan isinya? Hanya sebuah tumpukan kertas yang sudah rusak. Sakura tertawa kecil. "Duh, kenapa mereka menyimpan sampah di sini." Kemudian Sakura mengambil kertas-kertas itu untuk dibuang, namun ketika Sakura membukanya, Sakura melihat sebuah foto dan beberapa buku di dalamnya.
Sakura melihat foto seorang gadis cantik dengan rambut berwarna coklat. "Cantik." Sakura membalik foto itu. Di baliknya tertulis nama seseorang "Tenten".
"Jadi ini Tenten-san? Cantik sekali!" seru Sakura.
Kemudian Sakura tertarik melihat buku-buku itu. Bisa jadi itu adalah buku yang berisi cara menaklukan Sasuke agar dia mau tunduk kepada manajer. Tapi Sakura salah, itu adalah album foto. Dan di dalamnya terdapat foto-foto Sasuke dari semua kegiatannya.
"Ah, Tenten-san sudah menjadi manajer Sasuke sejak pertama kali Sasuke debut sebagai model majalah dan dia bisa bertahan selama itu. Hebatnya! Aku jadi penasaran!" seru Sakura sambil membalik lembar per lembar foto itu. Album foto itu sangat tebal. Semuanya berisi tentang kegiatan Sasuke sewaktu Tenten menjadi manajernya.
.
.
.
"Ah, kau sudah merapikan bagian yang salah di sini?" tanya Sasuke kepada sang editor foto tadi. Rupanya Sasuke kembali ke studio foto. Ia masih harus menyelesaikan beberapa.
"Ya, tentu saja!" jawab sang editor tersebut sambil mengangguk mengerti.
"Yo, Sasuke!" sapa sang fotografer. "Kau boleh pulang. Sudah hampir malam." ucapnya sambil menepuk pundak Sasuke.
"Benarkah? Kalau begitu aku pergi dulu!" ucap Sasuke sambil melangkah menuju ruang depan. Di koridor menuju ruang depan, Sasuke tidak sengaja menemukan sesuatu di jalan.
Itu adalah ikat rambut. Sasuke menemukan sebuah ikat rambut di depan ruang UKS. Sasuke merasa familiar dengan benda itu. "Sepertinya aku pernah melihat seseorang memakai ikat rambut polkadot ini." ucap Sasuke sambil berpikir.
Tiba-tiba seorang wanita keluar dari ruang UKS. Dia adalah pengurus di sana. Sasuke segere menghampiri wanita itu. "Apakah ini milik Anda? Aku menemukan benda ini terjatuh di sini." Sasuke menyerahkan ikat rambut itu.
Wanita itu menatap ikat rambut itu agak lama. "Maaf, sepertinya itu bukan milikku. Mungkin saja itu milik gadis yang tadi ada di sini. Siapa ya, namanya?! Aku lupa!" ucap wanita itu sambil mencoba mengingat-ingat kembali.
"Kalau begitu sebaiknya Anda simpan saja. Siapa tahu pemiliknya akan kembali." Sasuke menyerahkan ikat rambut itu dan berlalu pergi. Namun, sebelum ia benar-benar melangkah jauh, wanita itu kembali memanggil Sasuke.
"Ah, aku ingat. Pemiliknya adalah gadis berambut pink yang selalu bersamamu!" ucapnya sambil kembali memperhatikan ikat rambut itu.
Sasuke heran. "Sakura? Anda yakin?" Sasuke kembali mengambil ikat rambut itu.
"Iya, namanya Sakura. Sakura Haruno!" ucap wanita itu sambil tersenyum ramah.
Sasuke heran. "Sakura? Ke UKS? Apa yang dia lakukan?" tanya Sasuke.
"Oh, kau tidak tahu? Ia tadi kemari karena terluka. Lutut kanan dan telapak tangannya terluka. Katanya, ia diganggu oleh fansmu ketika keluar membeli sesuatu."
"Hah? Sakura terluka? Kapan? Dia tidak menanyakannya padaku." tanya Sasuke yang semakin penasaran.
"Apakah itu penting? Sakura-san pasti akan menganggap seperti itu. Untuk apa ia menceritakan masalahnya kepadamu. Ia merasa hal itu akan menjadi tantangannya untuk ke depan. Selain itu, ia berpikir bahwa kau tidak akan merasa tertarik dan peduli dengannya. Bukankah manajer akan menerima semua resiko seperti itu?" ucap wanita itu sambil tersenyum kearah Sasuke.
Sasuke hanya terdiam dan mencerna kata-kata dari wanita itu. "Aku pergi dulu! Terima kasih." Sasuke segera berjalan meninggalkan studio foto itu dalam diam.
.
.
.
Sakura masih melihat-lihat album milik Tenten. Kadang ia tersenyum sendiri melihat foto para staff dan Sasuke yang sangat lucu.
Tiba-tiba Kakashi muncul memasuki ruangan Sakura. "Sakura! Bagaimana dengan lukamu?"
Sakura segera berbalik. "Kakashi-san! Aku baik-baik saja. Terima kasih atas ruangannya. Tempat ini sangat luas. Aku heran kenapa daerah milik Sasuke ini memang sangat besar."
Kakashi duduk di ranjang samping Sakura. "Benarkah? Hal itu tergantung siapa saja aktor nomor satu di perusahaan ini. Makanya, Sakura. Di masa jabatanmu, buatlah Sasuke terus menjadi aktor nomor satu!"
"Eh?! Aku?" ucap Sakura sambil merinding. "Aku tidak sanggup!"
Kakashi tertawa kecil. Tiba-tiba ia melihat benda yang dipegang Sakura. "Itu punyanya Tenten, kan?" dan dibalas anggukan dari Sakura.
"Kau akan terkejut melihat beberapa lembar selanjutnya." ucap Kakashi sambil tersenyum.
"Eh, terkejut? Benarkah? Kau sudah pernah melihatnya?" ucap Sakura yang jadi penasaran.
Kakashi mengangguk. "Kau akan melihat sesuatu yang dapat mengubah cara pandangmu terhadap sifat Sasuke."
Sakura memasang wajah heran. Ia merasa sangat ingin langsung membuka halaman belakang, namun ia mencoba untuk menganalisa semua kejadian yang akan membuatnya terkejut itu.
Sakura kembali melihat album itu dengan tenang. Sakura merasa ada yang mulai berbeda tiap ia membalik lembaran itu. Tenten seolah menunjukkan perasaan yang sangat berbeda kepada Sasuke setiap kalinya.
Sakura merasa telah menemukan jawabannya, namun ia takut mengutarakannya. Sakura hanya terdiam. Tibalah pada lembaran akhir. Mungkin semua rasa penasaran Sakura akan segera terjawab.
"Mungkinkah pikiranku sudah benar?" ucap Sakura. Sakura mendapat hipotesanya tersendiri setelah melihat foto-foto itu. Ia merasa pikirannya benar dan ia tidak berani membalikann lembaran itu. Sakura hanya menatap Kakashi saja.
"Kau akan tahu kalau kau membukanya!" Kakashi membuka lembaran terakhir itu. Sakura kembali menatap album foto itu.
Ya, di situ adalah foto terakhir Tenten menjadi manajer Sasuke. Dalam foto itu, terdapat Sasuke dan Tenten yang berfoto sangat dekat, juga dengan staff di dekatnya. Sepertinya ini foto yang diambil dari proses pembuatan film terbarunya Sasuke.
Tapi bukan hal itu yang membuat Sakura terkejut. Sakura menatap sebuah kertas yang ditempel di bagian bawah foto. "Aku sangat menyukaimu, Sasuke!" ucap Sakura yang sedang membaca tulisan itu.
Sakura terdiam. Ekspresi wajahnya seketika berubah drastis. Ia benar-benar bingung harus seperti apa. Ia kaget dan juga sedih. Sakura kembali menatap Kakashi. "Apakah itu sebabnya Tenten-san diberhentikan dari pekerjaannya?" tanya Sakura.
Kakashi mengangguk pelan. "Sasuke sudah berusaha. Ia tahu kalau Tenten menyukainya, Sasuke hanya tidak bisa menerimanya. Tidak ada pilihan selain memecat Tenten."
Sakura masih menatap Kakashi dengan wajah syok dan sedih. Tiba-tiba Sasuke berdiri di depan pintu ruangan Sakura.
"Sakura!" teriak Sasuke. Napasnya tersengal-sengal. Sasuke melihat Sakura yang sedari tadi menatap Kakashi. Ia mencoba memecah keheningan. "Apa yang terjadi di sini?"
Sasuke melangkah masuk. Sakura segera memasukkan album foto itu ke dalam kotaknya kembali dan memasang ekspresi seperti biasa. "Tidak ada apa-apa."
Tidak, tidak! Sakura tidak bisa menahan dirinya. Ia benar-benar salah mengenai Sasuke. Selama ini Sasuke lah yang menderita karena harus menahan semua perasaan Tenten. Sakura kembali memasang ekspresi sedih.
"Ada apa dengan wajahmu?!" tanya Sasuke.
"Baiklah! Aku duluan!" ucap Kakashi sambil menepuk pundak Sasuke. "Jangan pulang terlalu malam!" Kemudian Kakashi keluar dari ruangan dan pergi begitu saja, menyisakan Sasuke dan Sakura saja dalam ruangan.
Sakura segera mengambil jaket dan syalnya. "Aku mau pulang juga!" ucap Sakura sambil melangkah pergi. Sebelum itu, Sasuke segera menahan tangan Sakura.
"Ada apa?" tanya Sakura heran.
Sasuke langsung melihat lutut kanan Sakura. Sebentar, Sasuke baru kepikiran kalau lutut kanan Sakura adalah yang tadi juga menabrak meja. Kemudian Sasuke melihat telapak tangan Sakura.
"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?" tanya Sasuke dengan nada tinggi.
"Eh? Kenapa?!" ucap Sakura kaget.
"Lukamu! Kenapa kau tidak mengatakannya kalau kau dilukai?!" teriak Sasuke.
Sakura hanya terdiam. Ia kepikiran bahwa yang melukai Sakura sebenarnya adalah Sasuke sendiri. Namun, Sakura berpendapat, mulai sekarang dia benar-benar takut membagi emosinya kepada Sasuke. Ia takut berakhir seperti Tenten. Tenten sangat senang memberitahukan semua yang terjadi padanya ke Sasuke.
"Sakura! Jangan menjadi sok kuat setelah menjadi manajerku! Kau tahu, kan! Kalau kau terluka seperti itu, kau tidak bisa bekerja. Kau sehat saja sangat sulit bekerja, apalagi ketika sakit!" teriak Sasuke.
Sakura benar-benar tidak mengerti. Kenapa Sasuke sampai marah hanya karena Sakura tidak mengatakannya kepada Sasuke. Dan lagi, apa? Sok kuat?
Sakura melepas paksa tangan Sasuke darinya. "Sudahlah! Kuberitahu pun tidak ada hubungannya denganmu! Kau hanya akan mengejek dan mengatakan hal yang kasar kepadaku!" teriak Sakura. Kemudian ia berlari keluar dari ruangan.
Sakura berlari keluar dari perusahaan. "Tidak! Aku tidak akan mengalami hal yang sama dengan Tenten! Sasuke tidak pernah menganggapku sebagai sesuatu yang harus ada. Sasuke hanya menginginkanku bekerja. Aku akan terus membenci Sasuke, aku tidak akan menyukai Sasuke seperti Tenten!" teriak Sakura sambil berlari menuju halte.
Sakura tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Sakura seolah sangat mempertahankan posisinya sebagai manajer, padahal Sakura sendiri sangat tidak menyukai ini. Tapi sebenarnya, dalam hati Sakura berpikir bahwa ia tidak ingin menjadi beban bagi orang lain.
Tiba-tiba Sakura berhenti mendadak. Ia sweatdrop. "Eh? Bis untuk langsung ke rumahku sudah tidak ada." ucap Sakura kaget sambil melihat jadwal di halte. Biasanya bis yang mengarah langsung ke rumahnya masih lewat jam segini. Akhirnya Sakura hanya akan menunggu bis menuju stasiun. "Mana bis menuju stasiun masih tigapuluh menit lagi~"
Sakura duduk di bangku halte dengan wajah lesu. "Kenapa aku mengatakan hal bodoh seperti itu. Tapi, Sasuke kan memang selalu bertindak seenaknya!" gerutu Sakura kesal.
Beberapa menit kemudian, Sakura masih duduk di posisi semulanya. Seketika Sakura merasa nyeri pada lututnya. "Aduh, sudah kuduga ini akan lebih berefek dalam waktu dekat. Sial, diborongi fans Sasuke dan dibodoh-bodohi oleh Sasuke!" teriak Sakura.
Sakura menundukkan kepalanya untuk melihat lukanya. Sesekali ia merintih kesakitan apabila tangannya menyentuh lukanya. Tiba-tiba Sakura merasa langkah mendekat kearahnya. Dan Sakura hanya melihat sepatu orang itu saja.
"Kau masih di sini?" ucapnya sambil berlutut agar sejajar di depan lutut Sakura. Sakura mengangkat kepala. Rupanya Sasuke yang berada di hadapannya.
"Sasuke… k-kenapa kau kemari?" tanya Sakura sambil membuang muka.
"Biasanya kau selalu menunggu bis di sini sepulang sekolah!" ucap Sasuke sambil duduk di samping Sakura.
Sakura mengangguk-angguk mengerti tapi masih tetap membuang muka. Kemudian Sasuke hanya terdiam. Sakura merasa risih dengan keadaan seperti ini. Sakura berkali-kali melihat jam yang ada di halte. Sisa beberapa menit lagi bis akan datang. Sakura segera berdiri dari duduknya.
"Sepertinya sisa sepuluh menit lagi bisnya akan datang." ucap Sakura. Sasuke segera menatap Sakura dan segera ikut berdiri.
Sakura akan segera berjalan lebih ke depan, namun tiba-tiba Sasuke menahan tangan Sakura. Sakura terkejut dan berbalik kearah Sasuke. "Ada apa?"
Sasuke berdiri tepat di hadapan Sakura. Jarak mereka sekarang hanya duapuluh centimeter. Sakura benar-benar terkejut dan ingin menghindar, namun Sasuke sangat kuat menahan tangannya.
"Eh? Ada apa?" tanya Sakura yang kebingungan.
Tiba-tiba Sasuke menurunkan kepalanya mendekat ke Sakura. Berakhir dengan Sasuke yang meletakkan kepalanya tepat di bahu Sakura. Sasuke masih memegang tangan Sakura dengan erat.
Sakura semakin terkejut karena Sasuke sangat dekat dengannya. "Apa yang kau lakukan?" tanya Sakura.
Sasuke masih terdiam, kemudian ia mengeluarkan suara. "Maaf…"
Sakura memasang wajah heran. "Maaf, kenapa?" tanya Sakura.
"Aku sudah melibatkanmu dalam hal yang berbahaya. Padahal ini hari pertamamu." ucap Sasuke dengan suara yang sangat kecil, seolah berbisik.
Sakura menggeleng pelan. "Kau bahkan menipuku!" ucap Sakura. Tangannya gemetar. Rasanya dia akan menangis segera, namun Sakura menahannya sekuat tenaga.
"Makanya maafkan aku. Aku benar-benar tidak bisa mengerti dirimu. Bukan, aku hanya tidak bisa melihatmu." ucap Sasuke.
Sakura keheranan mendengar perkataan Sasuke. "Sasuke…" ucap Sakura setengah berbisik.
Sasuke mengangkat kepalanya dari bahu Sakura. Ia menatap Sakura dengan tajam. "Apa?"
Sakura tersenyum kecil. "Tidak apa-apa. Kakashi-san bilang itu semua adalah tantanganku. Tenten-san, mungkin juga mengalami hal seperti ini."
"Tenten? Kau ingin menjadi seperti dia?" tanya Sasuke heran.
Tiba-tiba, bis menuju stasiun tiba di halte. Sakura sontak terkejut. "Sasuke, aku harus segera pergi!" ucap Sakura setengah panik. Sasuke hanya mengangguk beberapa kali.
Sakura segera berjalan mendekati pintu bis. Namun sebelum ia menaiki bis, ia berbalik menghadap Sasuke. Sakura menggeleng sambil tersenyum. "Tidak. Aku tidak akan menjadi seperti Tenten-san! Aku ingin lebih daripada dia. Aku tidak akan kalah darinya!" ucap Sakura sambil berseru mantap. Kemudian ia menaiki bus dan meninggalkan Sasuke.
Sasuke terdiam, mendadak wajahnya sedikit memerah. Ia terkejut melihat wajah Sakura yang tadi. Ucapan dan ekspresi semangat Sakura seolah menarik Sasuke untuk semakin mengerti gadis itu.
"Berusahalah, Sakura!"
- To Be Continued –
Hahahah, akhirnya selesai. Wut, sampai 5k kata. Pencapaian terbaik. Baru pertama kali bisa menulis fic sebanyak itu hauhuahauhua. Chapter 7 sudah ada bagian rahasia yang terbuka yaitu mengenai kehidupan Tenten. Masih ada begitu banyak rahasia di chapter sebelumnya. Yakali, mungkin kalian gak tertarik sama ceritanya hahahah. Oke, terima kasih sudah membaca. Sekali lagi terima kasih!
-midnighthito
