.
"—sei."
"Sensei."
"Levi-sensei!"
Lelaki yang berstatus sebagai wali kelas 10-4 di Maria Academy itu terjerembab kaget, terbangun paksa dari tidurnya. Matanya membelalak lebar, nafasnya naik turun tidak teratur dan wajahnya dibasuhi peluh. Telinganya masih dimanjakan oleh alunan musik metal yang bergaung kencang melewati earphone di kedua gendangnya, namun pikirannya melayang jauh dari kenyataan yang ia hadapi saat ini.
Jika memang sekarang yang dihadapinya adalah benar kenyataan.
"Se-sensei, anda tidak apa-apa?"
Pemilik suara nyaring bernama Eren Jaeger menyapa sang guru dengan hati-hati, karena terlihat sekali bahwa gurunya itu habis bermimpi buruk.
"—Pundak anda kenapa berdarah?!" pekiknya kemudian.
Belum sempat Eren menghujani Levi dengan berbagai pertanyaan selanjutnya, tangan kanan Levi terangkat cepat di depan muka Eren—menghentikan setiap gerakan muridnya tersebut.
Karena lelaki itu sudah tahu apa yang akan mereka tanyakan terhadap kondisi tubuhnya.
Sayangnya kali ini tidak hanya pundaknya saja yang berdarah. Kakinya mati rasa, lehernya terasa disayat. punggungnya nyeri, jari-jarinya juga ngilu. Tanpa melihat pun, lelaki itu tahu bahwa semua luka itu didapatnya bukan di kehidupan nyata, melainkan dari permainan yang diikutinya dalam mimpi dan selalu berulang-ulang sampai ia merasa muak. Muak akan kejadian pahit yang harus ia lalui berkali-kali.
Tiga belas pasang mata murid kelas 10-4 kini mengamati gurunya dalam keadaan diam seribu bahasa. Mereka tahu kalau wali kelasnya ini jarang senyum, tapi keadaan aneh gurunya membuat mereka merasa bahwa liburan kali ini tidak begitu menyenangkan untuk dilalui.
"S-sensei, kuku anda patah" lanjut Eren pelan. Tangannya kini menyentuh ringan jemari Levi, membuat sang empunya jari mendecak ngilu saat kulit lembut Eren menyapu ujung kuku telunjuknya.
"Aku tidak apa-apa. Mungkin ini karena tadi aku menyentuh besi kursi. Nanti aku akan ke klinik di dalam Dufan untuk mengobatinya." serunya cepat sambil menarik kembali tangannya, mengepalkan jemarinya erat agar lukanya tidak diketahui murid-muridnya yang lain.
"Menyentuh besi kursi? Apa bukan Levi-sensei heboh headbang karena mendengarkan musik metal? Soalnya susah banget dibanguninnya. Suara Eren aja ngga kedengeran." terdengar bisikan seorang murid bernama Jean kepada teman sebelahnya.
"Terus karena heboh jadi kebentur kursi dan berdarah, begitu? Sensei kita ngga segoblok otakmu, Jean." timpal Connie yang mencoba berpikir rasional. Jean hanya melengos pelan, tanpa menyadari bisikan mereka cukup keras untuk didengar setiap pasang telinga yang berada di dalam bis.
Perempatan di dahi guru dengan tinggi 160cm-an itu langsung muncul. Tapi ia sudah tidak punya tenaga lagi untuk berdebat dengan murid-muridnya. Apalagi dengan yang berotak kosong macam Jean. Levi bisa mati muda.
Oh lupa, sekarang di bis ini dia yang paling tua—setelah si supir, tentunya.
"Sudahlah... Sekarang kalian semua turun dan berkumpul di depan pintu gerbang. Aku akan menyusul kemudian." perintahnya pelan pada semua muridnya.
"Yakin anda tidak apa-apa, sensei?" kali ini Armin gantian bertanya.
"Atau kalian mau dipulangkan? Aku bisa menyuruh supir untuk mengantarkan kita kembali pulang dan kita bisa belajar di kelas seperti biasa" ancamnya. Punggungnya disandarkan pada kursi dengan hati-hati. Nyeri kembali menjalari punggungnya. Ia pun tegang menahan sakit. Levi bukanlah orang yang mau dikasihani oleh murid-muridnya.
Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Levi ingin sekali murid-muridnya mengatakan 'Ayo pulang saja' dan kembali berkutat dengan buku-buku pelajaran dan bel sekolah. Hanya saja ia terlalu gengsi untuk langsung menyuruh mereka semua pulang tanpa alasan yang jelas, padahal mereka bahkan belum turun dari bis untuk menapaki tanah Dufan.
"Tidak, lanjutkan saja permainannya," timpal sebuah suara tidak asing yang dipastikan bukan suara salah satu murid Levi, bukan suara supir, apalagi suara burung lewat. Levi membelalak kaget melihat figur lelaki yang tegap memasuki bis dan menatapnya penuh arti.
"—Erwin?"
.
.
.
Labyrinth
Attack on Titan © Isayama Hajime
.
Chapter 7: Give me a Reason!
By: Saint-Chimaira—Kari (id: 1658345)
.
.
.
"Sudah diputuskan untuk liburan berikutnya kelasmu akan pergi ke Dufan, Levi."
Lelaki bernama Levi menoleh melihat lawan bicaranya yang masih sibuk mengurus setumpuk berkas di atas meja kerjanya. Wajahnya tertutup kertas putih yang sedang dibacanya, sehingga Levi tidak bisa melihat ekspresi muka lelaki itu sepenuhnya.
"Dufan? Di mana itu, Erwin?" tanyanya sambil menyesap kopi panas digenggaman tangan kanannya.
"Ngga tau Dufan? Kamu ngga gaul banget ya." jawab pemilik nama Erwin dengan dingin. Yang kesepet hanya mendecak kesal. Memang ngga pernah ke Dufan, terus mau diapain?
"Dufan itu singkatan dari Dunia Fantasi. Sebuah taman bermain yang luas. Dijamin murid-muridmu akan senang untuk bermain di dalamnya. Kamu juga bisa main kok, hanya jangan lupa tanggung jawabmu saja."
Pria pirang klimis itu menyerahkan sebuah brosur, menampilkan gambar wahana-wahana pemacu adrenalin dengan sebuah maskot konyol yang terpampang besar pada halaman depan.
"Terlihat menarik."
Levi mengambil brosur tersebut seraya meletakkan kopi panasnya di meja, tepat di sebelah signage bertuliskan 'Erwin Smith, kepala sekolah nomer satu Maria Academy'. Konyol memang, tapi itulah kenyataannya. Belum ada yang bisa menggantikan posisi pria tersebut karena kepandaiannya mengatur strategi akademik hingga sekolahnya bisa selalu meluluskan bibit-bibit unggul.
"Tentu saja menarik. Kau harus mencobanya walaupun sekali. Aku pernah ke sana dan kujamin kau akan bergembira di sana. Sekali-kali wajahmu yang penuh kerutan itu juga butuh istirahat" sarannya sambil terus memeriksa berkas-berkas akademik tanpa melihat sahabat di depannya yang bertitel guru Matematika itu. Diambilnya gelas kopi di atas meja dan diteguk isinya sampai habis. Sang pemilik kopi yang sebenarnya makin mengerutkan dahinya kesal karena menu istirahat siangnya dihabiskan oleh sahabat beda status tersebut.
"Baiklah.. beri saja aku surat perintah jalan dan info-info lainnya. Nanti biar aku yang urus semua kebutuhan murid-muridku." pinta Levi sambil mengantongi brosur tersebut ke dalam saku celananya. Ia pun beranjak pergi akan meninggalkan ruangan kebesaran itu jika sang pemilik ruangan tidak kembali memanggil namanya.
"Kemungkinan ada hal-hal bahaya yang terjadi. Berhati-hatilah di sana, Levi." sarannya.
Lelaki dengan surai legam itu hanya mendesah dan melanjutkan langkah. Kalau memang berbahaya, mengapa mereka harus liburan ke tempat seperti itu? Tapi dari brosurnya sih sama sekali tidak terasa bahaya yang mengancam.
"Baiklah, aku akan berhati-hati." Levi menuruti saran Erwin tanpa merasa ada keanehan sedikit pun, "Oh ya, karena kamu yang menghabiskan kopinya... jangan lupa untuk mencuci kembali gelasnya, ya."
Bersamaan dengan kalimat terakhir yang dilontarkan, Levi pun menutup pintu untuk memberi kabar kepergian kelas 10-4 menuju Dufan.
.
.
.
"Kau sudah tahu hal ini akan terjadi kan Erwin."
Yang ditanya hanya membisu. Tangannya sibuk melilitkan perban pada bagian punggung sahabatnya, menghentikan aliran darah yang turun dari bahu melewati garis-garis ototnya yang tegas. Setelah menyuruh para murid untuk bersiap-siap dan menunggu di depan pintu gerbang Dufan, Erwin meminta Armin yang notabene anak paling pintar di kelasnya untuk meminjam kotak P3K dari bagian informasi. Bocah bersurai pirang itupun hanya mengangguk menurut tanpa bertanya apapun—ditemani Sasha yang masih sibuk makan kentang rebus bekal selama perjalanannya.
Kini hanya mereka berdua di dalam bus. Bergumul dalam imajinasi mereka masing-masing tentang apa yang akan terjadi setelah ini.
"Aku berusaha memanggilmu dari awal. Kau tak mendengarkan suaraku?" Pertanyaan Erwin memecah keheningan di antara mereka berdua.
Levi kembali larut dalam pikirannya. Ia berusaha mengingat kejadian apa saja yang sudah ia lalui sampai detik ini. Selain karena ia merasa sudah looping time berkali-kali sampai muak, ia juga tidak mau lagi mengingat berbagai kejadian mengenaskan yang terjadi pada seluruh muridnya. Rasanya terlalu nyata. Levi ingin sekali masuk rumah sakit jiwa sehabis kegiatan liburan ini berlangsung.
"Ya, aku mendengarnya. Tapi pandanganku mendadak gelap dan aku tidak bisa mengeluarkan suara." jawabnya.
Sekali lagi Levi berusaha menenangkan dirinya dan berpikir logis. Ia mulai mengingat satu persatu potongan puzzle yang selama ini dia alami. Mencoba untuk menggabungkan semua kejadian menjadi satu.
"Berikan jarimu" perintah Erwin kepada sahabatnya. Levi pun menurut. Dibalutnya jemari dengan kuku yang patah untuk mencegah infeksi yang berkepanjangan.
"—Saat itu, Mina Carolina, Sasha Braus dan Marco Bodt masih hidup." lanjutnya.
Erwin masih mengatup mulutnya rapat.
"Setelah itu semua kembali seperti sedia kala, dan murid-muridku kehilangan nyawanya. Hidup lagi, mati lagi, begitu berulang kali—"
Jemarinya mengepal erat menahan amarah untuk yang kesekian kalinya. Balutan perban pada jarinya sedikit menahan laju darahnya, terikat kencang agar luka pada kukunya tidak kembali terbuka.
"Kau tahu tentang checkpoint?" tanya Erwin singkat, Kini tangannya melaju pada ceruk leher kecil Levi, mengobati sayatan yang cukup panjang tercetak di sana.
"…"
Levi hanya menatap wajah tegas Erwin yang masih sibuk mengobati lukanya tanpa menjawab pertanyaan, menunggu pria di depannya untuk melanjutkan kalimatnya.
"Kau tahu—Aku bermimpi yang sama denganmu, melihatmu kehilangan murid-muridmu, kembali lagi dari alam mimpi, kembali tertidur, dan melihat mimpi yang sama. Aku merasa ada yang tidak beres, maka kuputuskan langsung menyusulmu kemari." jawab Erwin sambil menggulung sisa perban dan membereskan kotak obat di pangkuannya.
"Tentang mengulang mimpi memuakkan ini berkali-kali?"
"Ya"
"Tentang murid-muridku yang mati?"
"Ya"
"Dan seorang gadis kecil yang menjadi dalang dari semua perbuatan ini—"
Erwin menatap mata Levi lekat-lekat sebelum menjawab pertanyaan terakhir Levi.
"Ya, aku melihatnya. Satu yang pasti aku melihatmu sangat menderita. Aku tidak mau kehilangan sahabat yang sudah bersama-sama denganku selama ini. Bergembiralah setidaknya kau masih bisa melihat wajahku."
"Memangnya aku peduli?" tanya Levi cuek.
Erwin hanya menyunggingkan senyumnya simpul. Beginilah gaya bercanda mereka. Sarkasme dan tanpa humor. Tapi pria berdarah Amerika itu tahu sahabatnya sedikit lebih tenang dibandingkan yang ia lihat di alam mimpi.
"Untunglah ternyata checkpointmu masih terbilang aman sebelum memulai kembali permainan, Levi. Dan murid-muridmu tetap utuh semuanya tanpa kekurangan suatu apapun. Kita harus bersyukur." lanjutnya.
"Memangnya kau juga melalui checkpoint? Seperti apa checkpointmu?" tanya Levi heran. Berusaha mencari tahu kenapa Erwin mengetahui semua ini dan berhasil untuk datang ke Dufan pada saat yang tepat. Tapi tanpa peduli hal itu pun, Levi harus bersyukur karena kini ia mempunyai rekan dalam menuntaskan permainan mengerikan ini.
Erwin tersenyum singkat. Tidak menjawab pertanyaan tersebut.
"Kita akan meneruskan permainan ini bersama-sama. Aku akan membantumu untuk menjaga murid-muridmu. Gantilah bajumu yang sudah kotor penuh darah, aku akan menunggu di luar." ujarnya sambil melangkah keluar bis, meninggalkan Levi yang masih termenung menatap kaca jendela, melihat kerumunan murid-muridnya bercengkerama dan tertawa di depan pintu gerbang menunggu guru mereka keluar dari bis. Mereka hanya tidak tahu kejadian apa yang akan menunggu di depan nanti.
.
.
.
"Sensei, anda tidak apa-apa?" suara nyaring Sasha yang pertama menyambut saat Levi turun menapakkan kakinya di tanah. Di belakangnya tampak Armin sedang berbincang dengan Erwin, ikut menunggu lelaki dengan postur tubuh kecil itu kembali bergabung bersama mereka memasuki taman bermain Dunia Fantasi.
"Memangnya aku terlihat seperti ada apa-apa? Berhenti mencemaskan hal-hal yang tidak perlu. Aku sudah bilang bahwa aku hanya tergores besi." Levi melengos pergi menghindari tatapan Erwin dan kedua muridnya yang lain. Menyembunyikan kebohongannya untuk tidak membuat mereka panik.
"Gadis kecil itu… Saya melihatnya, sensei!" seru Armin tiba-tiba, membuat Levi tersentak kaget dan menatap tajam pemuda bermata biru tersebut.
"Sa—Saya bersama Sasha juga melihatnya.. Ya, ka—kami rasa, kami berdua melihatnya." lanjutnya lagi terbata-bata.
"Apa maksudmu Arlert?" Dalam kebingungan, sang guru mendekati anak muridnya. Kernyitan tampak jelas tercetak di dahinya, membuat lawan bicaranya canggung dan tanpa sadar mundur perlahan-lahan.
"Saya yang pertama lihat, sensei!" potong si gadis kentang. "Saya memanggil Armin untuk memastikan ada seorang gadis kecil dengan tawa yang aneh saat memasuki Dufan. Saya pikir itu cuma mimpi, tapi sejak melihat keadaan aneh sensei beberapa waktu yang lalu dan saya bertanya pada Armin, ternyata Armin juga pernah melihat mimpi yang sama." cerocosnya panjang.
"Itu... bukan mimpi kan, sensei? Luka yang anda dapat sekarang juga hasil dari mimpi itu, bukan?" lanjut Armin pelan. Matanya melirik jari gurunya yang kini rapih terbalut perban.
"Siapa saja yang tahu kejadian ini?" tanyanya sambil menatap tajam gadis di depannya.
"Saya ingat Mikasa pernah menyebutkan sesuatu tentang wahana Hysteria. Tapi saya lupa tepatnya apa. Sisanya saya tidak tahu, Levi-sensei." jawabnya ragu-ragu, berusaha mengingat berbagai kejadian yang dilaluinya dengan sangat aneh.
"Kalau kalian bertiga sadar, apa Jaeger juga sadar akan hal ini?"
Mendengar gurunya menyebutkan hanya nama salah satu temannya diantara seantero muridnya yang lain, Armin dan Sasha bertukar pandang.
"Sepertinya tidak, sensei. Eren tidak menunjukkan gerak-gerik aneh" jawab Armin singkat.
Sudut mata Levi melirik pada Erwin. Erwin hanya mengangguk perlahan. Sepertinya selama Levi termenung dalam bis, mereka bertiga sudah merapatkan hal penting yang tidak ia ketahui. Masa bodoh, ia sedang tidak ingin berpikir sulit saat ini.
"Pokoknya kita berkumpul bersama murid-murid dahulu. Aku tidak mau mereka curiga karena kita lama terpisah dari yang lain." ujarnya.
"—Dan jangan beritahu Jaeger tentang permainan mengerikan ini. Aku tidak mau hari ini dilaluinya dengan kecemasan." lanjutnya seraya meninggalkan ketiga manusia tersebut sambil berlalu menuju pintu gerbang Dunia Fantasi. Eren dkk yang lelah menunggu tiba-tiba terlihat antusias dan berkumpul, menunggu titah gurunya.
"Sudah selesai, sensei? Anda sehat kan?" tanya Eren pertama kali saat berhadapan langsung dengan gurunya.
"Kau pikir aku ini siapa, Jaeger? Jangan bertanya seolah-olah kau tidak tahu perangaiku." ujarnya dengan nada datar. Eren sendiri terdiam menunduk. Rona merah terlihat di wajahnya.
"Kumpullah kalian semua. Aku akan memberikan arahan sebelum kalian semua memasuki Dufan." ucap Levi lantang. Murid-murid pun kini berdiri membentuk setengah lingkaran mengelilingi guru mereka. Connie yang terlambat mengambil tempat terpaksa harus berjinjit bertumpu pada Jean karena ia tidak bisa melihat wajah gurunya. Maklum, gurunya termasuk pendek untuk orang seusianya.
"Untuk kali ini Erwin-sensei akan membantuku untuk mengawasi kalian. Bagilah menjadi dua regu, dan jangan sampai ada yang terpisah. Cek peralatan kalian masing-masing juga jangan lupa membawa ponsel. Jika merasa ada sesuatu yang aneh, segera hubungi aku atau Erwin. Bagi yang tidak tahu nomor ponselku, kalian bisa bertanya pada Jaeger atau Ackerman." perintahnya.
Jeda cukup panjang terjadi selama murid-murid Maria Academy mengecek peralatan masing-masing.
"Satu lagi, tolong catat semua nomor ponsel kalian di kertas ini" lanjut Levi sambil mengedarkan sebuah notes kecil warna coklat miliknya. Ia masih ingat benar di mana mayat-mayat bergelimpangan dan lelaki itu begitu panik menghubungi Eren namun tidak pernah tersambung. Ia tidak mau menyesali lagi perbuatannya karena hanya mempunyai nomor kontak bocah berambut coklat tersebut.
"Kau begitu cermat, Levi. Kau hapal semua yang terjadi ya?" bisik Erwin pelan di telinga Levi sambil membungkukkan sedikit badannya agar sahabatnya bisa mendengar lebih jelas.
"Apa yang kau harapkan setelah melihat pemandangan mengasyikkan seperti itu berkali-kali, Erwin?" ledeknya singkat. Pandangan matanya menembus dalamnya biru sahabatnya. membuat yang lebih tinggi kembali menegapkan badannya, tidak berkata-kata lagi sehabis itu.
"Sebelum beraktivitas kalian semua harus sarapan dulu. Karena itu, Sasha Braus, bagikan kentangmu ke teman-temanmu yang lain." perintah singkat Levi membuat satu kelas menjadi bingung. Mungkin mereka pikir gurunya sakit jiwa.
"Eeee! Tapi sensei, ini bekal makan siangku…"
"Nanti aku ganti." desah Levi. Matanya beradu pada manik Sasha. Gadis rambut ekor kuda itu masih tidak rela separuh jiwanya dibagi-bagikan kepada temannya. Tapi bagi Levi, lebih baik mereka semua tertahan masuk wahana untuk beberapa saat karena tidak boleh membawa makanan, daripada harus menaiki wahana tapi nyawanya terancam.
Tenggang waktu beberapa menit sangat cukup untuk Levi mengambil tindakan.
"Christa Renz, kau bawa gunting kan?" tanya wali kelas itu kepada gadis manis bersurai pirang. Yang terpanggil kaget dan mengernyitkan dahinya.
"Bawa sih… Levi-sensei ingin pinjam?" tanyanya bingung.
"Akan sangat berbahaya jika kau yang membawanya. Berikan pada Marco Bodt. Ia akan membutuhkannya nanti."
Seketika itu pula Marco memiringkan kepalanya. Ikut bingung bersama Christa dan teman-teman satu kelasnya yang lain. Gurunya positif akan dilarikan ke rumah sakit jiwa setelah acara liburan ini berakhir.
"Jika sudah tidak ada yang ketinggalan, silahkan memasuki pintu gerbang. Kalian bebas untuk memasuki wahana, namun habiskan terlebih dahulu sarapan kalian. Jangan sampai terpisah dan kita bertemu lagi di tempat ini pukul empat sore" perintah Levi lantang.
Murid-murid yang tadinya berkerumun langsung memecah barisan, berlomba-lomba memasuki pintu gerbang dan mencari wahana yang pertama kali ingin dinaiki. Sayangnya semua keinginan untuk memacu adrenalin harus sedikit tertahan karena Levi-sensei menyarankan untuk menghindari permainan berbahaya terlebih dahulu. Apalagi dengan kentang di tangan, murid-murid itu lebih memilih berjalan-jalan mengitari setiap kawasan sebelum memilih wahana mana yang pertama ingin dimasuki.
"Kita berpisah disini Erwin. Tolong jaga kelompok Marco dan yang lain." pinta Levi kepada sahabatnya yang masih berdiri mematung di luar pintu gerbang.
Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Levi sepakat untuk membagi dua kelompok dan menyerahkan pengawasan kepada atasannya. Pria pendek itu membawa Eren, Mikasa, Sasha, Christa, Ymir dan Connie dalam kelompoknya, sedangkan Armin, Jean, Marco, Mina, Bertholdt, Reiner dan Annie ikut kelompok Erwin. Armin sengaja berpisah dengan kedua teman masa kecilnya dengan dalih Erwin membutuhkannya untuk membuat peta Dufan. Tapi memang tujuannya memisahkan Sasha dan Armin, agar kedua kelompok bisa terjaga lewat ingatan kedua murid itu.
"Kau bisa percaya padaku" ujar Erwin meyakinkan pria di depannya. Mata Levi terlihat lelah dan sayu. Biasanya memang sayu, tapi kali ini terasa banyak beban pikiran melayang-layang dalam kepalanya.
"Dari pertama aku sudah percaya padamu." Timpal Levi datar. Setelah itu kedua kelompok itupun berpisah jalan. Erwin hanya melirik Levi singkat sebelum memberikan gestur kepalan tangan dengan jempol dan kelingking yang mencuat tegang, didekatkan pada telinga sambil bibirnya komat-kamit berkata 'telpon aku nanti' tanpa suara.
.
.
.
Eren—seperti yang telah disepakati oleh Armin dan yang lainnya, tidak diberi tahu tentang kejadian mimpi aneh itu. Sedangkan Sasha sendiri sudah berbicara empat mata dengan Mikasa, bertanya tentang kejadian wahana Hysteria, tapi sepertinya gadis bersyal merah itu tidak begitu mengingat mimpi yang terjadi. Eren sendiri bertanya-tanya dalam hati kenapa Sasha memberinya kentang, padahal ia sudah ingin naik wahana mendebarkan namun gagal karena harus menghabiskan makanan itu terlebih dahulu.
"Kalo gitu… kita main apa nih? Gajah-gajahan—Gajah bledug? Jelek amat namanya?" cerocos Connie sambil mengeluarkan map yang diambilnya pada bagian informasi.
"Ehm… mungkin turangga-rangga juga bisa. Atau mau poci-poci?" kata Eren memberi saran.
"Poci-poci saja!" jawab Sasha cepat. "Poci-poci aman kok! Apalagi kalau 2 kali putar! Makin lama main itu, aku akan makin suka!" lanjutnya.
"Kau tidak pusing bermain selama itu, Sasha? Masih banyak permainan lain yang bisa dimainkan." gumam Eren.
"Tidak! Pokoknya aku suka yang diputar-putar! Makin diputar makin asik!" pekiknya panik.
Sebelum para murid berpisah, Levi, Erwin Amin dan Shasha rapat sejenak, memberikan laporan tentang kejadian mimpi yang mereka ingat. Agar jika mereka bertemu dengan keadaan yang sama persis dengan sebelumnya, masing-masing dari mereka bisa antisipasi terhadap kejadian yang terjadi.
Sasha mencoba mengulur waktu selama mungkin untuk memberikan waktu pada gurunya dalam mengamati sekeliling, mencari anak kecil dengan rambut sepunggung yang berusaha mengancamnya selama ini. Gadis kentang itu masih mengingat sehabis mereka main poci-poci, mereka akan mati pada wahana Turangga-rangga. Itu sebabnya lebih baik mereka bertahan pada satu wahana. Membuat Sasha dicap sama gilanya seperti gurunya.
"Putar saja sendiri kentangmu! Kenapa kami harus menuruti keinginanmu hah!?" balas Connie tidak mau kalah.
"Kalau kentangnya diputar, nanti ngga hangat lagi!"
"Alasan macam apa itu!?"
Pertengkaran Connie dan Sasha cukup menyita waktu, Levi yang mengamati dari jauh melihat sekeliling. Cukup banyak orang lalu-lalang di sekitar mereka. Lagu juga berkumandang lewat speaker. Tapi sepertinya lagunya berbeda dengan yang didengar Levi sepanjang mimpinya.
"Arlert, hal apa saja yang kau ingat selama disini?"
Kelompok Erwin mencoba memasuki rumah hantu yang berada jelas di depan mereka. tapi tidak seorang pun yang mau masuk duluan. Sedangkan Erwin dan Armin berbincang perlahan, menjaga jarak dari enam temannya yang lain agar pembicaraan mereka tidak terdengar.
"Ah… iya… waktu itu saya, Mikasa dan Eren bermain Hysteria dan kami jatuh dari ketinggian. Sebelumnya, saya menaiki wahana Halilintar namun mati juga karena keretanya macet. Saya baru menaiki dua wahana itu dalam waktu yang berbeda, jadi… maaf, saya kurang bisa membantu—" kalimat Armin terputus. Nada suaranya ragu dan volumenya mengecil. Erwin terdiam sesaat. Tangannya bergerak menyusuri surai pirang murid kebanggaannya, memberi kejutan serta sentuhan menenangkan untuk mengusir rasa takutnya.
"Aku akan melindungimu. Tetaplah berada di sampingku. Kalau terpisah, panggil aku segera."
"—Baik…" Armin tertegun sejenak sebelum menjawab tawaran kepala sekolahnya.
"Ini juga demi Levi. Aku tidak mau dia bersedih kerena kehilangan kalian murid-murid yang dicintainya."
"Ah—B-baik…" jawab Armin untuk yang kedua kalinya canggung.
"Kalian mau ikut apa tidak?" ujar Reiner yang lebih seperti membentak daripada bertanya. Mina terlihat ketakutan dan ragu-ragu mau masuk, sedangkan Jean pura-pura mengikat tali sepatu padahal sepatu yang dia pakai tidak bertali. plus jongkoknya lama sekali, membuat Reiner, Bertholdt dan Annie measa curiga dengan tingkah laku pemuda bersurai susu itu.
"Kalau takut bilang aja, Jean." tembak Annie.
"Aku tidak takut kok! aku hanya—lapar! Ya, Lapar! Lebih baik kita berpisah disini saja. Aku dan Marco akan menuju restoran di sebelah wahana perang bintang itu. Mungkin kita akan bertemu lagi nanti setelah kalian selesai bermain-main di dalam sana, oke!" kata Jean cepat dan merangkulkan tangannya di leher Marco.
"Tapi Jean, aku tidak la—"
"Oh kau juga lapar, Marco? Yuk kubelikan kentang. Kau suka kentang kan? tapi sedikit saja yah. Uangku sedang habis hahahahaha." potong Jean cepat sebelum Marco sempat membantah. Jean akhinya harus menyeret Marco untuk mengikutinya menjauh dari wahana menyeramkan itu, meninggalkan teman-temannya yang memang nyalinya lebih besar daripadanya.
"Ke mana Marco?" tanya Armin saat ia berkumpul kembali bersama teman-temannya.
"Dia bersama Jean. Ke restoran fastfood yang di sana." ujar Annie datar sambil menunjuk kejauhan.
"Kalian berpisah?" tanyanya lagi. Raut wajah Armin menampakkan kecemasan. Matanya kini berbalik menatap Erwin meminta pengarahan. "A—Aku akan menyusul mereka."
"Tapi mereka cuma makan kan? Kenapa mesti disusul?" Reiner tidak mengerti dengan kelakukan aneh teman-temannya hari ini.
"Karena—Aku juga lapar." jawab Armin seadanya. "Maaf Erwin-sensei, aku akan segera kembali" lanjutnya.
Armin berlari menuju restoran. Dilihatnya sekelilingnya sepi. Masih terdengar sayup-sayup suara gesekan rel dengan roda wahana di jalur yang dilewati Armin, tapi hanya sedikit orang yang lalu lalang di sekitarnya. Hanya mengalun lagu yang berputar terus menerus dari speaker yang terdengar seperti lagu yang disenandungkan oleh gadis kecil.
'Semoga mereka berdua tidak apa-apa.'
"Kenapa semua begitu aneh hari ini…?" Bertholdt menggumam perlahan. "Tapi sudahlah, ayo kita masuk ke rumah hantu." ajaknya pada Reiner dan Annie yang sudah menunggu di sebelah pintu masuk wahana menyeramkan itu.
"Aku ikut! Aku tidak mau ditinggal sendirian di luar!" seru Mina sambil menjamah ujung baju Annie dari belakang.
"Erwin-sensei, anda tidak ikut?" tanya Reiner kemudian.
"—Bersenang-senanglah di dalam. Aku akan menunggu di pintu keluar."
.
.
.
Selagi Eren dan lainnya menaiki wahana poci-poci, Levi bersiaga di luar batas gerbang, mengamati mereka yang tertawa riang tanpa beban.
'Ah.. andaikan ini adalah kenyataan. Tapi aku tetap harus waspada.'
Suara yang mengalun dari speaker terasa lebih kencang dari sebelumnya. Levi memicingkan matanya, mendengar baik-baik lagu yang terdengar cukup akrab di telinga. Suara gadis kecil menyanyikan lagu tersebut dengan riang gembira, dengan nada dan tempo yang cukup cepat. Terdengar sayup-sayup bunyi burung sebagai backsound lagu, membuat suasana sekitar tidak terasa mencurigakan.
'Sepertinya aku pernah mendengar lagu ini.'
"Alouette, gentille alouette
Alouette, je te plumerai"
Pria itu dengan cepat mengalihkan pandangannya ke seberang wahana poci-poci. Terlihat seorang gadis membawa balon sambil bernyanyi riang. Gerak bibirnya mengikuti lagu yang terputar kencang lewat speaker. Ia berjalan pelan mendekati Levi yang masih berdiri waspada, menjaga jarak dari gadis kecil itu.
"Je te plumerai la tête
Je te plumerai la tête"
Gadis itu melangkah ringan sambil terus bernyanyi—
"Et la tête! Et la tête!"
—sampai akhirnya sampai di hadapan Levi. Jarak mereka kira-kira hanya sepuluh kaki, tapi pria itu sudah memasang kuda-kuda. Matanya melirik ke arah murid-muridnya yang sedang asyik berputar di wahana poci-poci, tanpa curiga sedikitpun.
"Alouette! Alouette!
A-a-a-ah"
Selesai menyanyikan lirik terakhir, tiba-tiba saja seluruh wahana menjadi sunyi senyap. Tidak terdengar lagi lagu yang mengiringi liburan mereka, ataupun suara dari pengunjung yang lain. Dufan bagaikan dunia orang mati.
"Alouette, gentille alouette, Alouette, je te plumerai," dalam kesunyian, suara soprano gadis itu terdengar sangat merdu, tapi juga membuat bulu kuduk Levi merinding.
Levi tidak beranjak dari tempatnya. perlahan-lahan kepala gadis itu terangkat, menengadah menatap tajam manik Levi.
"Paman, aku sedang bersenang-senang. Jangan menggangguku. Aku tak suka diganggu." ujarnya sambil tertawa-tawa, Nada suaranya terasa mengancam. Levi masih terpaku di tempatnya.
"Kau tau paman, aku suka bermain dengan para burung, dan aku akan terus bermain—"
'Burung? Burung apa?'
Setitik peluh menyusuri pelipis sampai menyentuh dagu lancip Levi.
"—Tapi paman malah membawa kucing lain ke sangkar burung. Padahal sangkar burung bukan untuk kucing." gadis itu menyeringai lebar. Sangat lebar. Matanya melotot. Balon ia genggam di tangan kirinya sedangkan jemari kanannya memegang jarum yang ia dapat entah darimana, bersiap untuk memecahkan permukaan karet licin penuh udara.
'Kucing? Apa maksudnya?'
"Kalau kucing suka mengganggu burung, nanti kakinya dipotong loh, paman." ucapnya lagi dengan nada mengancam, "Cukup permainan yang berulangnya yah, paman. Karena paman telah membuat aku kesal. Sekarang kita akan masuk permainan sebenarnya. Aku tidak akan mengirim paman lagi menuju checkpoint. Di sini aku akan menjaga supaya kucing tidak mengambil para burung. Dan aku akan melakukan hal apapun, supaya burung tidak bisa kabur dari sangkarnya." didekatkan balon itu di depan wajahnya, sehingga sekarang Levi hanya bisa melihat deretan dua manik emas yang menatapnya tajam.
'Tidak! Jangan dipecahkan! Jangan kejadian itu lagi!'
Tanpa bisa dihentikan gadis itu mempertemukan ujung runcing dengan permukaan datar tersebut, menciptakan sebuah suara pecah yang memekakkan telinga.
"JANGAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAANNNNN!"
DOORRR!
Levi spontan berlari menuju gadis itu, berusaha untuk menggapai dan menghentikan gadis kecil itu. Namun dalam satu kedipan mata, gadis itupun menghilang. Dalam keadaan panik, Levi melihat sekeliling, namun semuanya terasa berputar sangat cepat. Tanpa berpikir panjang, pria itu berlari menuju ruang operator, berharap murid-muridnya tidak mati karena menaiki wahana poci-poci dengan putaran yang semakin cepat. Sayangnya, pintu itu terkunci, dan tidak ada seorangpun di dalamnya.
"BUKA PINTUNYAAA!" teriak Levi sambil terus menggedor pintu besi berwarna merah tersebut. Warna darah menerawang terlihat dari balik perban di ujung kukunya. Ia sampai melupakan rasa sakit akibat lukanya yang lama.
"BUKA PINTUNYA! AKU TAHU KAU ADA DI DALAM" teriaknya lagi tak terkontrol.
"LEPASKAN MURID-MURIDKU!" pekiknya tajam.
"Sensei—"
Sebuah suara pemuda memecahkan konsentrasi Levi. Ia berbalik, dan terkejutnya lelaki itu saat menemukan Eren berdiri di sana, bersama Mikasa dan Connie di sebelahnya. Connie beserta Sasha menyusul sambil terus membawa kentangnya, diikuti Christa dan Ymir mengekor dari belakang.
"Jaeger?"
"Sensei tidak apa-apa? Sensei tampak aneh."
Levi mendekati murid dan menangkupkan kedua belah tangannya pada pipi bulat Eren. Masih hangat. Mereka bukan halusinasi.
'Jadi apa yang kulihat tadi. Mereka berputar cepat sekali, tapi mereka tidak mati.'
Jantung Eren sedikit berdegup kencang saat jari kasar gurunya bersandar pada kulitnya. Darahnya mendidih seketika.
"Sen—sensei, anda tidak apa-apa kan?" tanya Eren terbata-bata. Mukanya merah padam. Terlihat Mikasa menunjukkan ekspresi tidak senang atas perlakuan Levi pada Eren.
'Sebelumnya tidak seperti ini. Mereka mati dan aku kembali ke checkpoint. tapi kenapa sekarang semua baik-baik saja. Apa ini semua halusinasi?'
Levi masih larut dalam pikirannya.
"Alouette, gentille alouette, Alouette, je te plumerai
Je te plumerai le bec, Je te plumerai le bec
Et le bec! Et le bec!
Et la tête! Et la tête!
A-a-a-ah"
Irama lagu sebelumnya terdengar kembali bernyanyi melewati speaker Dufan, menyajikan bait kedua dalam bahasa Perancis. Tiba-tiba saja Levi terbelalak kaget. Ia mengetahui lagu ini. Lagu yang sering disenandungkannya waktu kecil.
'Alouette… Burung… Kucing… Kucing lain…'
"Erwin—"
Mata Eren masin terpaku bingung menatap gurunya. Tapi ia tidak bisa berkata apapun saat Levi menyebut nama sahabatnya di depan matanya. Tiba-tiba saja Levi berlari, melesat meninggalkan murid-muridnya di depan wahana poci-poci.
"Senseeeei!" teriak Sasha panik saat mengetahui gurunya pergi meninggalkan mereka. Ia yakin pasti ada hal tidak beres yang terjadi.
.
.
.
"Bukannya kau sudah makan Jean… Makanmu banyak sekali." ujar Marco. Ia terpukau melihat porsi makan Jean yang begitu spektakuler.
"Daripada aku harus dipaksa masuk ke wahana begituan, lebih baik aku lari dengan dalih masih makan." ujarnya sambil terus memasukkan potongan daging ayam dan kentang ke dalam mulutnya. Murid dengan titel ketua kelas itu hanya bisa tertawa pasrah melihat kelakuan sahabatnya. Dengan terpaksa ia ikut makan bersama pemuda tersebut.
"Seharusnya mereka sudah keluar saat ini." kata Marco sambil melihat sekeliling. Tapi anehnya, yang ada di restoran itu hanya mereka berdua. Suasana ini membuat Marco tidak nyaman.
"Kau tidak merasa suasana sangat sepi, Jean?" tanya pemuda itu canggung. Jean menghentikan aktivitas makannya dan ikut memperhatikan sekeliling.
"Jangan membuatku takut, Marco." Jean mulai bergidik.
"Maaf, tapi taman bermain ini begitu mencurigakan. Bahkan dari tadi aku tidak melihat orang lalu-lalang." lanjutnya.
"Marco! Jean!" sebuah suara memecah keheningan mereka. Beruntung pemuda itu masih bisa menemukan kedua temannya dalam keadaan sehat.
"Armin?!" Marco berdiri dari duduknya dan menghampiri si pirang. Ia tampak kelelahan, efek dari cukup lama berlari. Maklum, kekuatan fisiknya jauh lebih rendah daripada teman-teman sekelasnya.
"Ah, baguslah kalian tidak apa-apa." ujarnya menghela napas.
"Memangnya ada apa, Armin? Kau terlihat panik." tanya Marco bingung.
Armin mengatur nafasnya sejenak sebelum menjawab pertanyaan Marco.
"Kalian tidak mengalami kejadian yang aneh kan? Seperti bertemu gadis kecil atau bertemu hantu?" tanya Armin polos. Mulut Jean dan Marco langsung menganga mendengar pertanyaan Armin.
"Kalau Reiner dan yang lainnya mereka memang ke rumah hantu, tapi kami lagi makan ayam dan kentang! Bagaimana kami bisa ketemu hantunya? Masa kami bertemu dengan hantu ayam?" sanggah Jean. mukanya ditekuk, merasa Armin sudah gila, sama seperti guru wali kelasnya pagi ini.
"Kau baru melihat hantu, Armin? Memangnya kau tadi juga ke rumah hantu?" Marco kembali bertanya.
"Tidak apa, Marco. Aku yang terlalu capek. Lanjutkan saja makanmu. Aku akan ke toilet." jawab pemuda pirang itu canggung.
"Aku ikut. Kebetulan aku juga mau ke toilet. Jean, kutinggal sebentar yah."
Marco mengikuti Armin menuju toilet pria pada ujung restoran, sedangkan Jean masih sibuk melumaskan sambal pada kentang sebelum memasukkannya ke mulut. Sambil mengunyah ia melihat sekeliling restoran. Benar saja, tidak ada pengunjung lain yang makan di situ. Para petugas kasir juga hilang. Tidak pula ada orang yang berlalu-lalang di sepanjang jalan untuk sekedar istirahat atau antri menaiki wahana.
Jean mulai seram sendiri.
Sambil membawa ayam, ia berdiri dan mendekati jendela, melihat betapa sunyinya Dufan hari itu. Matanya tampak menemukan sosok seorang lelaki tinggi di sudut penglihatannya, namun sosok itu dengan cepat menghilang.
"Itu bukannya Erwin-sensei, ya?" gumamnya.
Tapi saat menoleh lagi, yang dilihat di kejauhan bukannya sosok kepala sekolahnya, melainkan gadis kecil yang sedang duduk manis tak bergerak. Ia tersenyum, poninya menutupi matanya. Tapi jelas sekali, ia tersenyum pada Jean. Pemuda itu langsung bergiik dan memutuskan untuk menyusul Marco dan Armin yang sedang berada di toilet.
"Memangnya kau melihat hantu anak kecil, Armin?" Marco menatap Armin yang masih berwajah sayu di depan washtafel.
"Aku bilang tidak apa-apa, Marco. Semua hanya halusinasiku saj—"
"WUAAAAAAAAAA!" belum sempat Armin menyelesaikan kalimatnya, Jean tiba-tiba membuka pintu toilet dan teriak histeris.
"WUAAAAAAAAAAA!" Kedua sobat pun langsung teriak melihat muka Jean. Akibatnya mereka bertiga terperosok jatuh berjamaah dalam satu bilik toilet.
"Jean! Kamu itu apa-apaan?" pekik Marco marah.
"ANAK KECIL! SETAN! DI LUAR! SEREM!" teriak Jean dengan kalimat tidak jelas di telinga teman-temannya.
"Apa dia gadis kecil?" tanya Armin mulai ikutan panik.
"Iyaa! Itu! Itu!"
BRAK—
Tiba-tiba pintu bilik toilet tertutup rapat. Mengurung tiga anak adam berhimpitan dalam satu ruangan tidak lebih dari dimensi meter satu kali satu. Menimbulkan kesan terdesak dan horror dalam diri mereka masing-masing.
.
.
.
"Erwin!" suara Levi tajam mencari orang yang dimaksud. Kakinya berlari mengitari wahana demi wahana, memastikan yang dicari dalam keadaan baik-baik saja. Sementara lagu Alouette terus menggema melalui speaker, menemani pemuda pendek itu berlari sampai terkuras staminanya. Lelaki itu berakhir pada wahana rumah hantu dan menemukan Bertholdt berdiri di pintu keluar bersama Erwin.
"Erwin, kamu selamat?" tanya Levi dengan nafas yang tidak teratur. Erwin merasa ada yang tidak beres. Ia langsung mengerti apa telah dialami Levi. Sahabatnya bertemu dengan gadis kecil itu.
.
.
.
"Pintunya terkunciii!" jerit Armin sambil mencoba memutar gagang pintu.
"Siapapun di luar! Tolong kamiii!" teriak Jean panik.
"Aduh, Jean jangan dorong-dorong! Sesak nih!" Marco menimpali.
"Diamlah kalian berdua! Aku sedang mencoba untuk membuka pintu ini!"
"Habisnya disini sempit sekali, Armin. Kalian berdua juga jangan gerak-gerak." Marco kembali mencoba menggeliat di antara kedua temannya.
Suara lagu yang kencang terdengar dari speaker yang dipasang pada dinding toilet. Terdengar suara anak kecil sayup-sayup menyanyikan lirik ketiga dari lagu Alouette. Tiba-tiba, lampu toilet berkedip dan mati, membuat ketiga murid Maria Academy makin panik. Selain karena suasana begitu mencekam dan gelap, Jean yang notabene badannya paling besar dari antara mereka bertiga tidak bisa diam, sampai dia mengeluarkan sebuah kalimat mujarab.
"Aduh aku tiba-tiba pengen pipis! Bentar yah!" kata Jean berusaha membalikkan badan.
"WUAAAAAAAAAAAA!"
.
.
.
"Fubar, mana yang lain?" Levi menatap Bertholdt tajam. Murid paling tinggi satu kelas itu kelimpungan menjawab pertanyaan gurunya.
"Kami berpisah di dalam rumah hantu. Karena ternyata di dalam seram sekali, sensei. Aku yang pertama keluar duluan karena kakiku panjang. Jadi lariku paling cepat. Tapi sepertinya yang lain masih berada di dalam." jawabnya.
"Arlert?"
"Dia bersama Marco dan Jean di restoran."
"Kita masuk lagi ke dalam. Kita harus mencari yang lain."
.
.
.
"Jean! Awas ya kalo sampai kena!" ancam Marco dengan nada horror.
"Makanya kaliannya jangan gerak-gerak! Susah nih buka retsleting celananya!"
"Aaaah! Pintunya beneran ngga bisa dibuka. Apa tidak ada suatu alat untuk membuka pintu ini?" raung Armin masih mencoba memutar knop pintu dengan brutal.
Marco mencoba berpikir. Tiba-tiba dia ingat akan perkataan Levi tadi pagi.
"Aku ada gunting dari Christa!" teriaknya senang.
"Bagus! Serahkan padaku, Marco."
"JANGAN DIGUNTING! AKU MASIH MAU KAWIN!"
.
.
.
Levi menyusuri dalam rumah hantu bersama Bertholdt dan Erwin. Secepat mungkin ia berlari untuk menghindari boneka-boneka seram yang mengejutkan. Di setiap perhentian Bertholdt teriak, membuat Levi sedikit kaget dan tidak tenang.
"Sensei, mengapa kita mesti berlari? Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Bertholdt sambil berusaha mensejajarkan dirinya dengan kecepatan berlari Levi. Ia pun menoleh menatap Erwin yang berlari di belakangnya. Namun sang kepala sekolah sendiri sibuk untuk melihat sekeliling wahana sambil membabat boneka setan yang keluar dari tempat persembunyiannya.
Levi tidak mengatakan apapun. Mulutnya rapat terkunci. Tiba-tiba ia melihat bayangan seseorang di balik tembok gelap.
"Reiner!" panggil Bertholdt kencang.
"Bertholdt! Aku terpisah dari Annie dan Mina dan aku tidak bisa menemukan mereka berdua!"
"Rumah hantu ini bagaikan lorong. Entah mengapa luas sekali di dalam sini." ujar Erwin mendekati Levi dan kedua muridnya.
"Aku takut terjadi apa-apa dengan mereka. Bahkan aku pun tidak bisa menemukan jalan keluar dari wahana ini. Untung saja kalian datang." kata Reiner kemudian.
tiba-tiba lampu di sekeliling mereka mati, menjadikan ruangan terasa gelap gulita. Reiner dan Bertholdt berpegangan tangan, takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Kita menuju pintu keluar" ajak Levi kepada yang lain. Ia pun berlari lagi, mencoba mencari jalan keluar yang berupa labirin, sampai sebuah benda lunak menghalangi jalannya, membuat sang guru dengan tinggi tubuh kurang semampai itu jatuh bebas menghantam lantai dingin di depannya.
"Levi, kamu tidak apa-apa?"
"Ah…" darah segar mengucur dari bahunya. Lukanya terbuka lagi. Dengan sigap Erwin mengambil lighter dan mengarahkan api ke benda tersebut. Betapa terkejutnya mereka menemukan tubuh seorang gadis tergolek di antara kaki mereka.
Mina Carolina
Terbaring kaku dengan memeluk sebuah boneka tengkorak properti rumah hantu. Darah segar mengalir dari kepalanya. Terlihat jelas kalau muridnya itu sudah lama meregang nyawa. Reiner dan Bertholdt yang melihat itu langsung lemas.
Sementara speaker masih berbunyi, memperdengarkan lirik keempat dari lagu Alouette. Membuat Levi sadar bahwa dia tidak bisa mengulang lagi permainan ini. Muridnya satu sudah mati.
Tinggal dua belas lagi.
.
.
.
'Jangan mengganggu burung, atau kaki kucing akan dipotong.'
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Kemanakah Annie? apakah dia sudah mati sama seperti Mina?
Apakah Armin, Jean dan Marco berhasil lolos dari toilet?
Mengapa Erwin bisa tahu mimpi Levi dan menyusul ke Dufan?
Siapakah yang dimaksud dengan kucing yang disebutkan oleh si gadis kecil? Apa alasannya?
A/N:
Simaklah di Labyrinth chapter selanjutnya yang akan dibuat oleh :
teng teng teng….
~Ray Bellatrix~
HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA JADINYA PANJANG BOOOO! MAAP YAH SAYA LAMA BIKINNYA HSHSHSHSHS!
semoga kalian ngga kecewa sama cerita yang udah panjang terus membosankan terus saya masukin pemeran baru. flashback dan penghilangan check point terpaksa dilakukan biar ceritanya ngga muter2 di situ aja #khayang
HIDUP TITANISTA! #apa
Akhir kalimat silakan Review jika berminat ya U_U
Remaining author(s) and authoress(es):
Tsubaki Audhi / My Shapeless Heart / Shana Nakazawa / Rainbow 'Walker' Castle
