Let Your Heart Be Mine Chapter. 7

Title : Let Your Heart Be Mine

Author : Putri ChanBaek26

Casts : - Byun Baekhyun - Park Chanyeol

- Kyungsoo – Luhan - Kai - Sehun

Pairing : ChanBaek

Genre : T

Warning! : SHOUNEN-AI! BOY X BOY, BOYS LOVE, & TYPO(s)

Summary : Baekhyun si angkuh melakukan apapun agar bisa dekat dengan Chanyeol, termasuk dengan berbohong. Bagaimana kalau kebohongannya itu diketahui oleh Chanyeol dan teman – temannya?

"Hey, Baekhyun! Kau melamun saja, lihat disana ada pelanggan." Ucap seorang pelayan.

Baekhyun mengangguk, lalu menuju pelanggan yang ditunjuk. Namun belum sampai ditempat ia dikejutkan oleh sosok beberapa orang yang tampak memasuki bar. Mereka adalah orang – orang yang sangat ia kenal, salah satunya adalah..

"Chanyeol.."

Chap. 7

Happy Reading!

Baekhyun menatap Chanyeol lama, hingga ia menyadari bahwa seorang wanita tampak memeluk lengan lelaki tampan itu. Melihat hal itu kontan saja membuat Baekhyun sangat kesal, rasanya ia ingin berlari dan memaki wanita itu. Namun ia masih waras untuk tidak melakukan itu.

Ia pun memilih untuk pergi, mengabaikan pelanggan yang akan ia datangi. Ia tidak perduli jika Chen marah jika mengetahui ia tidak bekerja, karena yang ia inginkan sekarang adalah menyendiri untuk memperbaiki suasana hatinya.

Ia pun menuju gudang, lalu duduk disudut penyimpanan. Air mata tampak meleleh dipipi mulusnya, ia terisak begitu saja untuk melampiaskan rasa perih dihatinya.

Ia sangat menginginkan Chanyeol, namun Chanyeol tidak menginginkannya. Bahkan Chanyeol terlihat jijik dan tidak menyukainya yang cengeng seperti seorang wanita.

Chanyeol selalu bersikap kejam padanya, tetapi hal itu tetap saja tidak bisa membuatnya membenci lelaki tampan itu. Ia tidak tau mengapa pengaruh Chanyeol begitu kuat padanya, cintanya benar – benar tulus untuk lelaki tampan itu. Walaupun ia suka dengan rasa tulus namun berlebihan itu, namun tetap saja terasa menyakitkan.

"Kau tau, jika aku penakut aku pasti mengira kau itu adalah hantu karena duduk dan menangis disudut sana." Ucap seorang lelaki sambil tersenyum manis, lalu kemudian mendekat. Ia duduk tepat dihadapan Baekhyun.

Baekhyun yang kaget hanya bisa mengusap air matanya cepat.

"Walaupun kita tidak begitu dekat, tapi kau bisa cerita padaku." Ucap lelaki itu lagi.

Baekhyun menatap bingung, tidak biasanya lelaki itu punya waktu kosong seperti ini.

"Kau tidak bekerja? Bagaimana dengan pelangganmu?" Tanya Baekhyun bingung.

"Hey, kau tidak mau cerita? Pelangganku sedang mabuk, mereka tidak menyadari aku pergi." Lalu lelaki itu tertawa.

"Ku tebak itu soal cinta." Lanjut lelaki itu menerka.

Baekhyun menunduk malu, ia tidak menyangka lelaki itu dapat menebak dengan jelas.

"Astaga, kau tidak perlu menangisi cinta. Kalau orang itu menyakitimu, kau bisa mencari yang lain."

"Tidak semudah itu, aku sangat mencintainya." Baekhyun berucap lemah.

"Oke baiklah, cinta membuat orang terlihat bodoh. Lalu sekarang kau bisa cerita tentang permasalahanmu, aku akan memberikan saran yang realistis. Katakan pada dokter cinta Kim Jisoo."

Baekhyun tersenyum tipis, sepertinya lelaki yang bernama Jisoo itu mencoba untuk menghiburnya.

"Aku mencintai temanku sendiri, tapi ia tidak menyukaiku. Bahkan ia jijik padaku, ia menyukai wanita. Dan aku adalah seorang lelaki, oleh karena itu ia menolakku mentah - mentah. Sekarang ia telah memiliki pacar wanita, dan aku sangat cemburu." Ungkap Baekhyun, ia tampak ingin menangis kembali.

Jisoo mengusap - usap dagunya, ia tampak berpikir dengan wajah seolah – olah ia adalah seorang dokter cinta sebenarnya.

"Berat juga, tapi jawabannya hanya satu. Menyerah."

Baekhyun menggeleng cepat, ia mulai menangis.

"Aku tidak akan menyerah!" Pekiknya.

"Aku akan menjadi wanita!" Lanjutnya lagi.

Jisoo menatap kaget, ia terdiam lama menatap Baekhyun. Sedangkan Baekhyun hanya menunduk sambil terisak.

"Apa benar kau ingin menjadi seorang wanita?" Tanya Jisoo masih shock.

Baekhyun mengangguk lemah.

"Apa orang tuamu tau tentang hal ini?"

Baekhyun yang masih terisak tiba - tiba terdiam, ia sama sekali tidak teringat dengan orang tuanya. Bagaimana jika orang tuanya mengetahui hal itu, pasti mereka sangat kecewa.

"Ku tebak belum." Ucap Jisoo.

"Pikirkan baik - baik, itu sangat salah. Lagipula lelaki itu belum tentu mau denganmu bahkan saat kau menjadi seorang wanita sekalipun."

Perkataan Jisoo benar - benar menusuk kedalam dihatinya, ia sangat sedih menyadari kenyataan tersebut. Padahal sebelumnya Minseok sudah pernah mengatakan hal tersebut, tapi ia selalu menutup diri untuk menerima kenyataan. Tapi sekarang ia tidak bisa menolak lagi, Jisoo adalah orang asing. Dan ia mengatakan kejujuran.

"L-lalu aku harus b-bagaimana?" Tanya Baekhyun terbata.

Jisoo menatap iba pada lelaki mungil itu, padahal sebelumnya mereka hanya saling bersapa saja. Tapi ternyata lelaki mungil itu punya kesedihan yang mendalam.

"Kau harus melupakannya walaupun sulit." Jawab Jisoo tegas.

Baekhyun hendak menggeleng untuk menolak, namun akhirnya ia memilih diam saja. Melupakan Chanyeol itu adalah hal yang mustahil.

"Kau tau, untuk melupakan seseorang kau butuh orang baru. Kau bisa belajar menyukaiku. Yah, itupun jika kau mau." Jisoo berdehem untuk mengusir rasa malunya.

Baekhyun menatap Jisoo bingung, hingga membuat lelaki itu semakin malu saja.

"Lupakan." Ucap Jisoo cepat.

Baekhyun tersenyum kecil menyadari wajah memerah Jisoo, ia pikir teman barunya itu cukup lucu juga.

"Hey, sekarang kita bisa membahas soal pekerjaan." Jisoo berusaha mengubah topik untuk mengusir rasa canggungnya.

"Benar, aku tidak mau bersedih lagi. Sekarang beri tahu aku rahasia mendapatkan pelanggan." Ucap Baekhyun mencoba untuk mengalihkan rasa sakitnya.

"Uh, itu.. Kau harus, kau harus tampan! Ya, kau harus tampan!" Jisoo tertawa gugup, ia juga bingung kenapa.

"Apa aku kurang tampan?" Tanya Baekhyun polos.

Jisoo mengamati wajah imut namun terkesan cantik itu hingga kembali memerah.

"Ternyata kau cantik juga." Ucapnya tanpa sadar.

Baekhyun mengerucutkan bibirnya kesal. "Dari dulu tidak ada yang mengatakan aku tampan."

"Hahaha. Maaf, tapi aku mengatakan kebenaran." Jisoo tertawa kaku.

Baekhyun masih cemberut.

"Jika kau ingin pelanggan, kau harus memberi mereka kode bahwa kau siap menjadi pelayan mereka. Misalnya dengan kerlingan atau dengan senyuman. Biasanya pelanggan cukup peka." Jelas Jisoo menurut teorinya sendiri, buktinya banyak pelanggan yang tertarik padanya.

"Benarkah?"

"Tidak 100%, tapi tidak salah dicoba."

Baekhyun mengangguk pelan tanda mengerti.

"Uh, Baekhyun-ah. Aku ingin keluar menemui pelangganku, tapi sebelumnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Tolong jangan menjadi wanita, dirimu yang sekarang sudah luar biasa. Cari lelaki yang menerimamu apa adanya." Setelah mengatakan itu Jisoo langsung keluar dengan terburu - buru.

Sedangkan Baekhyun yang mendengar perkataan Jisoo tersebut sempat tertegun. Ia tidak menyangka kata - kata Jisoo begitu berkesan untuknya, dan ia pun tersenyum kecil.

-oOo-

Kai meletakkan gelasnya sambil menatap iri kearah pasangan yang tampak sedang berlovey dovey tanpa tahu tempat itu, menghiraukan teman - temannya yang terlihat tidak nyaman dengan tingkah keduanya. Apalagi Kyungsoo, ia tampak menggenggam erat gelasnya. Sesekali ia menatap pasangan itu dengan tatapan penuh kecemburuan.

Beberapa hari belakangan Kyungsoo memang selalu dihadapkan dengan pemandangan yang dapat membuat emosinya meledak, namun ia sudah dapat menahan emosinya karena mulai terbiasa. Namun tetap saja ia merasa kesal dan terbakar cemburu, apalagi jika pasangan yang dihadapannya itu sedang bermesraan. Rasanya ia ingin sekali memukul wajah wanita tak tau diri itu, seharusnya Kyungsoo lah yang berada diposisi wanita itu.

Sehun pun tak kalah kesal, ia baru saja putus dengan kekasihnya. Dan Chanyeol malah bermesraan dengan kekasih barunya, tentu saja ia kesal. Paling setidaknya jangan bermesraan dihadapannya.

"Astaga, apakah itu Baekhyun?" Tunjuk Kai pada seorang lelaki mungil yang tampak menunduk dalam sambil melayani pelanggan.

Baik Sehun, Kyungsoo, dan Chanyeol menatap kearah lelaki yang Kai tunjuk.

"Benar, itu memang Baekhyun." Ucap Sehun, ia bingung kenapa Baekhyun memakai baju pelayan.

"Cih! Apa dia bekerja disini? Dasar murahan! Dia memang pantas bekerja ditempat seperti ini!" Maki Kyungsoo yang ternyata masih kesal dengan Baekhyun.

"Apa kalian mengenal lelaki itu? Apa ia teman kalian?" Tanya wanita yang masih asik memeluk lengan Chanyeol.

"Ya, dulu ia adalah teman kami." Kai yang menjawab.

Kyungsoo mendelik tidak suka. "Dia tidak pernah menjadi teman kita! Lelaki menjijikkan itu tidak pantas pernah menjadi teman kita." Kyungsoo masih memaki.

"Memangnya apa yang ia lakukan sehingga kalian begitu membencinya?" Tanya wanita itu lagi.

Chanyeol mengusap pipi wanita itu dengan lembut. Kyungsoo yang melihat itu hanya bisa mengibas - ibas tangannya tanda bahwa ia kepanasan.

"Kau banyak bertanya Hyeseok-ah. Intinya ia pernah menipu kami semua." Jelas Chanyeol sambil tersenyum.

Wanita itu—Hyeseok mengangguk tanda mengerti, lalu menyandarkan kepalanya kepundak Chanyeol dengan manja.

Kyungsoo menatap keduanya dengan tatapan amat tajam, rasanya ia ingin membunuh wanita itu. Namun tiba - tiba ia tersadar bahwa bagaimanapun juga wanita itu lebih baik dari pada Baekhyun. Ia seribu kali tidak ikhlas jika Chanyeol justru bersama dengan lelaki mungil itu.

"Lelaki itu mencintai Chanyeol, ia bahkan berusaha keras agar bisa bersama Chanyeol." Ucap Kai membuka rahasia. Sehun yang berada disampingnya langsung menyikut lelaki berkulit tan itu.

Hyeseok membulatkan matanya saat mendengar hal itu. "Benarkah? Apa perlu agar aku memperingatkannya? Agar ia sadar bahwa Chanyeol adalah milikku."

Chanyeol menggeleng tanda tidak perlu, meskipun ia tau Baekhyun belum menyerah untuk mendapatkannya.

"Perlu sekali Hyeseok-ssi, kau bisa memperingatkannya dengan cara yang kasar sekalipun!" Kata Kyungsoo dengan wajah sinis.

"Kyungsoo-ah!" Chanyeol memperingatkan.

Kyungsoo langsung membuang muka dengan kesal.

"Baiklah kalau begitu, aku ingin ketoilet sebentar." Hyeseok melepaskan pelukannya, lalu berlalu menuju kearah toilet.

-oOo-

Baekhyun tersentak kaget saat seseorang tiba - tiba menariknya kasar menuju kearah tangga darurat, lalu orang itu menghempaskannya ketembok.

Baekhyun terpekik kaget saat merasakan tubuhnya menghantam tembok. Ia sangat kesal dengan pelakunya, ia hampir saja memarahi orang itu. Namun ia justru terdiam saat melihat wajah pelakunya.

"Apa kau yang bernama Baekhyun?" Tanya wanita itu mengintimidasi. Baekhyun mengangguk ragu.

Wanita itu atau Hyeseok menatap sinis kearah Baekhyun, lalu memandang dari bawah keatas dengan tatapan remeh.

"Apa benar kau menyukai Chanyeol?"

Baekhyun terperanjat kaget, pasalnya ia belum siap dicerca dengan pertanyaan itu. Apalagi oleh pacar Chanyeol sendiri.

"Kuanggap diam adalah tanda ya." Hyeseok menyimpulkan.

"Jadi begini Baekhyun-ssi, aku sebagai pacar Park Chanyeol merasa keberatan jika kau mencoba mendekatinya lagi. Kau tidak mau dianggap sebagai perusak hubungan orang lain, bukan? Oleh karena itu, tolong jangan mengganggunya lagi." Mohon Hyeseok, ia mencoba untuk bersikap santai padahal sebelumnya ia sempat merasa emosi karena Baekhyun cukup cantik sebagai seorang lelaki.

Baekhyun tak menjawab, ia hanya menunduk dengan mata berkaca - kaca.

"Chanyeol hanya menyukai wanita sepertiku, dan kau adalah seorang lelaki. Aku rasa kau mengerti apa maksudku." Hyeseok tersenyum sinis. Lalu kemudian berlalu meninggalkan lelaki mungil itu.

Baekhyun merosot kelantai, ia tidak bisa membendung tangisnya lagi. Ia selalu sakit saat orang - orang mencoba menyadarkan siapa dirinya. Ia cukup tau diri, hanya saja cintanya pada Chanyeol begitu kuat. Sehingga ia harus menutup mata dan telinga dengan semuanya.

"A-apakah a-aku harus melupakan Chanyeol?" Tanyanya pada dirinya sendiri sambil terisak.

Tiba - tiba ia menggeleng kuat, ia tidak bisa melupakan Chanyeol. Chanyeol adalah cinta pertamanya, dan ia berharap menjadi cinta terakhirnya.

Tapi merusak hubungan orang lain, apakah Baekhyun sanggup?

-oOo-

Baekhyun memandang sendu wajah manisnya dari pantulan cermin. Jemari lentiknya menelusuri satu persatu bagian - bagian wajahnya, mulai dari mata, hidung, lalu bibir. Jemari lentik itu berhenti lama dibibir, mengusap - usap bibir tipisnya dengan lembut.

Tiba - tiba ia menangis ketika mengingat ciuman pertama mereka, hingga ciuman kesekian kalinya yang selalu ia mulai duluan. Chanyeol tidak pernah memulai ciuman, karena lelaki tampan itu memang tidak menginginkannya.

Ia menangis semakin keras, hanya karena ia lelaki tidak seharusnya Chanyeol tidak memberinya kesempatan. Ia tau bahwa ia harus menghormati pilihan Chanyeol, namun ia tidak bisa. Ia sangat mencintai pria itu.

"Kau tidak pantas memperlakukanku seperti ini Park Chanyeol!" Jeritnya.

"Aku sangat mencintaimu! Dan kau harusnya memberiku kesempatan! Kau jahat! Kau kejam!" Baekhyun berteriak. Lalu mengusap wajahnya kasar.

"Kau tidak suka melihatku menangis? Baik! Mulai saat ini aku tidak akan pernah menangisimu lagi!" Setelah mengatakan itu Baekhyun kembali menangis kencang. Mungkin ini terakhir kalinya ia menangis untuk Chanyeol.

-oOo-

Luhan membereskan kertas - kertas yang berserakan diatas mejanya, lalu memasukkan kedalam tas. Ia hendak melangkah pergi namun terhenti ketika melihat Baekhyun masih duduk disudut ruangan. Lelaki mungil itu tampak termenung.

"Ckck. Masih saja seperti ini." Luhan bersedekap dihadapan Baekhyun.

Baekhyun sedikit kaget, namun buru - buru tersenyum kecil.

"Hey!" Sapanya.

"Yak! Kau itu kenapa? Bukannya Kyungsoo sudah berhenti membullymu? Seharusnya kau kembali seperti semula, Baekhyun yang angkuh!" Ucap Luhan sedikit kesal.

Baekhyun menggeleng kecil, lalu menghela napas singkat.

"Menjadi orang lain itu sulit, lagi pula apa yang bisa membuatku kembali sombong? Orang - orang sudah tau bahwa aku ini si pembohong yang miskin."

"Tapi kau terlihat keren jika sombong, tidak seperti sekarang."

Baekhyun tertawa kecil. Ia juga sempat merasa dirinya keren, apalagi saat orang - orang takut padanya.

"Biarlah aku tidak terlihat keren, asal menjadi diriku sendiri."

Luhan mengangguk mengiyakan.

"Aku sedang bingung sekarang, keluargaku mengalami masalah keuangan. Mereka menyuruhku bekerja agar aku bisa membiayai hidupku selama dikorea. Aish benar - benar!"

Baekhyun menatap penasaran.

"Lalu?" Tanyanya.

"Aish lalu apa? Aku harus mencari pekerjaan. Tapi aku tidak mengenal orang lain diluar kampus. Apa kau bisa membantuku? Kulihat dulu punya banyak kenalan orang kaya."

Lelaki mungil itu membuang pandangannya keluar. Dulu ia memang memiliki banyak kenalan, terlebih mantan - mantan pacarnya adalah orang – orang berada. Tapi itu dulu, sejak putus ia kehilangan kontak mereka. Lagipula siapa yang mau berteman dengannya setelah ia menghabiskan uang orang - orang itu.

"Aku tidak punya."

"Benarkah?" Luhan menatap tidak percaya.

"Aku sekarang bahkan bekerja di bar."

"Oh? Kau bekerja di bar? Ajak aku ikut denganmu! Please!" Mohon Luhan, ia mengeluarkan puppy eyesnya.

"Ini bukan pekerjaan mudah, kau tidak tau betapa kejamnya dunia itu."

"Aku tidak takut! Aku ini pemberani, jika mereka kejam, aku akan bersikap kejam juga! Seperti dirimu."

Baekhyun menggeleng kecil, sepertinya Luhan tidak tau dunia kejam seperti apa yang ia maksud.

"Apa kau tega melihatku tidak memiliki uang sepeserpun? Yak! Kukira kita teman!" Luhan tampak merengut kecil, kontan saja Baekhyun menatapnya terkejut. Pasalnya Luhan menganggap ia teman. Dan ia sangat senang mengetahui hal itu.

"Baiklah, kau bisa ikut denganku nanti malam."

"Yeay!" Pekik Luhan senang dengan wajah kekanakan.

-oOo-

Baekhyun menghela napas pendek ketika melewati tempat parkir, disana telah berdiri Kyungsoo yang tampak memandang rendah terhadap dirinya.

"Kulihat kau bekerja di bar, tempat itu cocok denganmu yang nakal." Ucap Kyungsoo sambil tertawa remeh.

Baekhyun berusaha untuk tidak menghiraukan Kyungsoo, ia juga telah berjaga - jaga agar Kyungsoo tidak menyakitinya lagi. Ia rasa perlakuan Kyungsoo yang kejam padanya sudah cukup.

"Menyedihkan." Lanjut Kyungsoo.

"Terima kasih." Baekhyun membungkuk lalu hendak segera pergi, namun ucapan Kyungsoo menahan langkahnya.

"Bagaimana rasanya melihat orang yang kau suka menolakmu, dan justru memilih seorang wanita cantik? Apakah sakit?"

Baekhyun menutup mata agar bisa menahan emosinya.

"Kau tau rasanya, karena kau berada diposisiku."

Kyungsoo tertawa keras, bahkan sambil bertepuk tangan.

"Oh astaga Byun Baekhyun! Kau baru saja mempersamakan dirimu dengan diriku? Jelas jauh sekali! Sahabatku tidak pernah menolakku. Ia bisa saja putus dengan kekasihnya, tapi tidak denganku! Karena aku sahabatnya!"

Baekhyun menggigit bibir bawahnya keras, ia tidak boleh menangis.

"Ah, apa kau lupa bahwa Chanyeol tidak mau dekat denganmu? Ia melihatmu sebagai seseorang yang menjijikkan."

"Cukup." Ujar Baekhyun tertahan.

"Ia juga tidak pernah mau melihat wajahmu, hanya saja aku terlalu bodoh pada waktu itu yang menerimamu sebagai teman."

"Apa kau dengar? Aku mengatakan cukup!" Pekik Baekhyun keras, Kyungsoo bahkan sampai terperanjat kaget.

"Jangan pernah bicara denganku lagi!" Setelah itu Baekhyun berlari menjauh, meninggalkan Kyungsoo yang menatap kesal.

"Seharusnya aku yang mengatakan hal itu!"

-oOo-

"Yak! Byun Baekhyun!" Minseok menepuk pundak Baekhyun keras hingga membuat lelaki mungil yang disapa itu meringis kesakitan.

"Aish! Kau hampir meremukkan tulangku!" Sungut Baekhyun, Lay tertawa.

"Maaf." Minseok memasang wajah tanpa dosa.

"Hey, kami sudah melihat pacar Chanyeol." Lanjut Minseok.

Baekhyun terdiam setelah mendengar perkataan Minseok barusan.

"Ya benar, dia sangat cantik." Ucal Lay sambil memberikan satu jempolnya.

Baekhyun yang mengelap gelas hanya terdiam, ia menunduk dalam.

"Yak, ada apa dengan wajahmu? Kau itu tidak perlu berkecil hati. Karena wanita itu monster. Monster plastik!" Lalu setelahnya Minseok dan Lay tertawa keras sambil melakukan high five.

Baekhyun menatap keduanya bingung.

"Kau tidak mengerti juga? Mata, hidung, dan bibirnya itu palsu bodoh! Bahkan ia memotong dahi dan rahangnya agar terlihat sempurna." Jelas Minseok.

"Dari mana kalian tahu?" Tanya Baekhyun masih bingung.

"Pacar Minseok sekarang adalah dokter bedah plastik." Tutur Lay.

Baekhyun membelalakkan matanya kaget.

"Jangan katakan kalau kau berpacaran dengan seorang ahjussi?"

Minseok membuat tanda V ditangannya, lalu tertawa lebar.

"Aish, yang benar saja." Baekhyun hanya bisa menggeleng tidak menyangka.

"Aku menyuruhnya mendekati Chen, tapi ia tidak mau. Karena Chen itu playboy." Ucap Lay yang secara tidak sengaja Chen tampak baru keluar dari ruangannya.

"Hey! Kalian disini." Sapa Chen ramah.

Baekhyun hanya menunduk, sedangkan Minseok dan Lay tersenyum ramah.

"Ayo masuk keruanganku!" Ajak Chen, lalu Minseok dan Lay berlalu begitu saja meninggalkan Baekhyun yang menatap bingung.

"Mau apa mereka kedalam ruangan Chen?" Baekhyun bertanya pada dirinya sendiri. Lalu ia mengangkat bahunya acuh.

"Jadi pacar Chanyeol adalah monster plastik? Kalau begitu aku lebih baik darinya." Menyadari kenyataan itu membuat Baekhyun sedikit lebih lega, ia tampak bersemangat.

-oOo-

Luhan tampak tertawa mengejek sambil mengibas poninya, sementara didepannya seorang lelaki mungil tampak mengipas diri sendiri seperti kepanasan.

"Ya Tuhan, bagaimana mungkin kau mendapatkan dua pelanggan sekaligus di hari keduamu bekerja? Tidak mungkin!" Pekik Baekhyun tertahan. Luhan tertawa semakin lebar.

"Bahkan aku sudah dua minggu lebih bekerja disini, namun belum juga mendapatkan pelanggan." Lanjut Baekhyun.

"Mungkin aku beruntung." Sahut Luhan polos.

"Beruntung apanya? Kau itu.. Aish!" Baekhyun menggerutu kesal.

"Luhan hebat!" Tiba - tiba Jisoo muncul sambil bertepuk tangan. Luhan hanya tersenyum malu.

"Ck! Bagaimanapun aku ingin pelanggan!" Baekhyun memekik kesal, untung saat ini mereka berada diruang penyimpanan.

"Kau itu terlihat sangat kekanakan Baekhyun-ah, hanya ahjussi pedofil yang akan tertarik padamu." Ucap Jisoo jujur.

"Yak! Apa aku harus terlihat dewasa agar pelanggan mau padaku?"

Jisoo mengangguk ragu.

"Bagaimana caranya?"

"Pakai eyelinermu!" Sahut Luhan seperti mendapat ide.

"Ah, benar juga." Jisoo membenarkan.

"Dewasa itu bukan soal eyeliner." Baekhyun tidak habis pikir dengan keduanya.

"Paling setidaknya saat memakai eyeliner kau terlihat sexy." Kata Luhan dengan tatapan menggoda, Jisoo yang melihat itu hanya tertawa.

"Benarkah?"

"Ya, mulai besok pakai eyeliner mu! Oke?"

Baekhyun hanya mengangguk mendengar perintah Luhan.

"Baiklah aku kedepan." Ucap Baekhyun sambil membawa beberapa botol bir.

-oOo-

Baekhyun memeluk nampan ditangannya dengan erat saat melihat Chanyeol menuju kearah toilet. Sedari tadi lelaki tampan itu hanya berdiam diri sambil meminum whiskey tanpa ditemani oleh sahabat - sahabatnya.

Baekhyun berharap bar ini adalah bar favorite Chanyeol, sehingga ia bisa melihat lelaki tampan itu lebih sering.

Tanpa memperdulikan pelanggan, Baekhyun lebih memilih mengejar Chanyeol. Ia berdiri diluar toilet menunggu Chanyeol keluar, namun lelaki itu cukup lama berada didalam. Hingga Baekhyun memutuskan untuk masuk kedalam.

Didalam toilet yang kala itu sedang sepi hanya terlihat Chanyeol yang sedang berdiri didepan wastafel, lelaki tampan itu tampak kaget saat melihat Baekhyun masuk kedalam.

"H-hey." Sapa Baekhyun gugup.

Chanyeol tak menjawab, ia hanya diam sambil melihat Baekhyun dari pantulan cermin.

"Apa yang kau lakukan disini?" Pertanyaan yang keluar dari bibir Baekhyun sangat terdengar basi, ia bahkan malu mendengar pertanyaannya sendiri.

"Mmm.. Maksudku. A-aku ingin bicara padamu." Ralat Baekhyun, ia menatap Chanyeol.

Chanyeol yang semula menatap cermin mulai merubah posisinya, ia bersandar ketembok menghadap Baekhyun.

"Katakan." Katanya datar.

"A-aku tidak akan mau menjadi wanita, aku ingin agar kau menyukai diriku apa adanya." Ucap Baekhyun gugup, pasalnya Chanyeol terlihat sangat kesal mendengar perkataan Baekhyun tersebut.

"Kenapa k-kau berpacaran dengan m-monster?"

"Apa?" Chanyeol terlihat bingung.

"Wanita itu. Dia tidak alami, dia itu monster plastik!"

Chanyeol tertawa sinis, lalu kemudian menarik kerah baju Baekhyun hingga membuat lelaki mungil itu tertarik kedepan. Wajah keduanya sangat dekat.

"Lalu kenapa?" Chanyeol mulai terlihat menyeramkan.

"S-seharusnya kau mencari yang alami s-sepertiku." Jawab Baekhyun terbata, sepertinya ia belum menyerah mendapatkan lelaki tampan itu.

"Lebih baik aku perpacaran dengan plastik, daripada dengan lelaki sepertimu!" Ucap Chanyeol sangat menohok.

"Kenapa kau sangat jahat padaku Chanyeol-ah?!" Pekik Baekhyun. Ia tidak menangis, ia menahannya karena Chanyeol tidak suka melihatnya menangis.

"Hentikan! Sudah berapa kali kukatakan untuk menyerah?!" Chanyeol membalas dengan berkata keras.

"Tapi aku mencintaimu, Chanyeol-ah!"

"Bullshit!" Chanyeol hendak mendorong Baekhyun, namun melihat seorang lelaki tinggi yang baru saja masuk ketoilet membuat ia menghentikan gerakannya. Ia langsung melepaskan cengkramannya dari pundak Baekhyun.

"C-Chanyeol?" Baekhyun menatap bingung, lalu kemudian berbalik hingga ia melihat seorang lelaki tinggi yang menatapnya dengan ekspresi kaget.

"Kau disini? Aku mencarimu diseluruh bar ini." Kata lelaki tinggi itu tanpa basa basi.

Baekhyun semakin bingung.

"Apa?" Tanyanya bingung.

"Kau pelayanku sekarang, kau harus melayaniku. Ayo!" Lelaki tinggi itu langsung menarik tangan Baekhyun tanpa memberinya kesempatan untuk berbalik menghadap Chanyeol.

Chanyeol menatap kepergian keduanya dengan alis tertekuk, lalu kemudian berdecih kesal.

-oOo-

Lelaki tinggi yang belum diketahui namanya itu tampak tersenyum tipis saat melihat Baekhyun menunduk dalam, sedari tadi lelaki mungil itu tampak tidak fokus. Ia bahkan tidak melayani pelanggan sebagaimana seharusnya.

"Jadi kau akan tetap seperti itu? Aku akan mengganti pelayan saja." Pria itu bersuara, hingga membuat Baekhyun tersadar dari lamunannya.

"Ah! Jangan tuan! Kumohon jangan menggantiku. Aku akan melayanimu sekarang." Baekhyun menuangkan minuman kedalam gelas pria itu. Lalu tersenyum dengan manis.

"Siapa namamu?"

"Aku Baekhyun, Byun Baekhyun. Dan anda?" Baekhyun balik bertanya, karena jujur ia juga penasaran dengan pria itu. Apalagi pria itu lah dulu yang memberinya harapan palsu.

"Aku Kris Wu. Panggil saja Kris."

Baekhyun mengangguk kecil, Kris terlihat sangat dewasa. Ia tebak pria itu berusia 28 tahunan.

"Kenapa anda memilihku?"

Kris tertawa kecil, lalu mengacak rambut Baekhyun.

"Hey, jangan terlalu formal. Anggap saja aku temanmu."

Baekhyun menatap aneh, jelas - jelas Kris terlihat lebih dewasa. Ia tidak mungkin bersikap tidak sopan.

"Jangan menatapku seperti itu, aku belum terlalu tua. Aku masih 26tahun."

"Ah." Ternyata lebih muda dari dugaan Baekhyun.

"Aku memilihmu, karena aku tertarik padamu. Kau tidak tertarik padaku?"

Baekhyun tertawa gugup, lalu berdehem kecil.

"Uh, apa kau tidak ingin bercerita padaku? Kau mungkin punya masalah, mungkin saja aku bisa membantumu."

"Apa aku terlihat memiliki masalah? Justru kau lah yang terlihat memiliki masalah."

Lelaki mungil itu terdiam, ternyata Kris sudah tau. Ya, siapapun pasti tau jika melihat sikapnya sejak awal.

"Apa ini soal lelaki ditoilet tadi?"

Baekhyun mengangguk ragu, ia tidak yakin harus mengatakan soal masalahnya pada orang yang baru saja ia kenal.

"Ah, tenang saja. Aku tidak akan bertanya lebih jauh."

Kris tau iya tidak seharusnya mencampuri urusan orang lain.

"Baiklah, sekarang hibur aku! Kau harus bernyanyi sambil menari agar aku terhibur!"

-oOo-

Chanyeol memijat kepalanya yang mulai pusing karena pengaruh alcohol, ia berjalan sedikit lembat. Beberapa kali ia tampak tidak sengaja tertabrak beberapa orang yang berlalu lalang. Ia menatap kebeberapa ruangan khusus host yang disediakan oleh bar, lalu berdecih dengan tatapan tidak suka.

Saat akan kembali kekursinya seorang pelayan yang tak lain adalah Jisoo hampir saja bertabrakan dengannya, Jisoo itu baru keluar dari ruang host. Dengan sopan, Jisoo pun membungkuk.

"Maaf Tuan."

Chanyeol hanya berdehem, namun saat Jisoo akan pergi ia segera menahannya.

"Tunggu dulu."

Jisoo menatap bingung, ia kira lelaki tampan itu mungkin saja tertarik padanya.

"Ya, ada apa Tuan?"

Chanyeol terdiam sebentar, ia menatap Jisoo sedikit ragu.

"Apa.. Apa kau tau dimana Baekhyun?"

Jisoo ber oh panjang didalam hati, sudah sewajarnya lelaki tampan seperti lelaki yang dihadapannya ini tertarik dengan Baekhyun.

"Baekhyun ada diruangan itu." Jawab Jisoo sambil menunjuk ruangan yang tepat disebelah kanan Chanyeol. Lalu setelahnya ia membungkuk dan pergi begitu saja.

Chanyeol menatap ruangan yang tertutup itu, lalu kemudian mendekat. Ia melihat kekiri dan kekanan. Beberapa orang yang terlihat mabuk berlalu tanpa memperdulikannya.

Ia pun membuka kenop pintu dengan ragu, namun ia segera menepis segala keraguannya. Kenop terputar, dan pintu sedikit demi sedikit mulai terbuka. Sehingga apa yang ada didalamnya mulai terlihat. Dan saat itu juga Chanyeol membelalakkan matanya kaget saat melihat Baekhyun berada disana dengan keadaan berantakan..

TBC

Maaf updatenya lama. Jangan lupa review, follow, dan favoritenya ya.

Silahkan corat coret sesuka hati, karena saat butuh kritik dan saran yang membangun untuk kemajuan FF ini. Haha. :D Thank's.