Disclaimer: Bungou Stray Dogs bukan milik Riren. The story of Me & Young Yakuza is my original story.
Rate: T
Pair : Dazai Osamu & Atsushi Nakajima
Genre : Romance, hurt/comfort, humor, and crime .
Warning: AU, OOC, typo, gaje, gak sesuai dengan EYD, shonen ai romance, and many more.
.
.
.
.
"Shi... Atsushi..."
Atsushi sayup-sayup mendengar seseorang orang memanggil namanya. Atsushi mencoba membuka matanya dan setelah terbuka dia melihat Kyouka di hadapannya.
"Kyouka..."
"Apa kau tidak apa-apa, Atsushi?"
"Masih terasa agak sakit bagian tengkukku. Selebihnya aku baik-baik saja. Tapi, sekarang kita ada di mana?"
"Aku juga tidak tahu tapi aku rasa kita ada di suatu tempat yang seperti gudang."
"Begitu, ya. Kyouka kau ada ide untuk keluar dari sini?"
"Sayangnya tidak ada. Atsushi punya ide?"
"Ada tapi aku tak yakin bisa melakukannya."
"Memangnya kenapa?"
"Karena aku ragu bisa berhasil."
"Memang apa rencanamu?"
"Rencanaku yaitu aku akan pura-pura mengeluh sakit. Pasti penjaga yang menjaga di sini pasti akan menghampiri dan memeriksa keadaan ku. Setelah penjaga itu mendekat aku menendangnya hingga pingsan. Apa rencanaku itu bagus?"
"Lumayan. Aku akan membantumu tapi sebelum itu tolong ambil pisau kecil yang berada di kantung kardiganku. Apa kau bisa?"
"Tentu."
Atsushi pun mengambil pisau kecil yang berada dalam kantung kardigan Kyouka. Setelah tali yang mengikat tangan Kyouka lepas, rencana Atsushi segera di jalankan. Kyouka sudah berada di posisinya untuk membantu Atsushi membuat penjaga pingsan.
.
.
.
.
.
Sementara itu di kediaman keluarga Osamu, Dazai terlihat gusar setelah mendapat telepon dari seseorang yang menjadi akar masalah yang menimpa keluarganya dan seseorang itu mengajaknya bertemu di salah satu hotel milik keluarga Yakuza. Mau tak mau Dazai harus datang ke sana. Jika tidak, Dazai merasa kekacauan ini akan terus berlanjut.
"Dazai sama, anda mau ke mana?"
"Aku mau pergi ke suatu tempat karena ingin mengurus sesuatu yang penting. Orang itu memintaku ke sana."
"Saya mohon jangan pergi ke sana Dazai sama. Itu pasti jebakan!"
"Aku tahu, Ranpo. Tapi, aku ingin menghentikan hal seperti ini karena aku tak ingin ada pertumpahan darah yang sia-sia akibat kekacauan ini. Oleh karena itu aku harus pergi ke sana. Aku juga ingin memberi pelajaran pada orang itu."
"DAZAI SAMA!"
Beberapa orang anak buahnya datang menghampiri Dazai dengan wajah panik dan sambil berteriak.
"Kenapa teriak-teriak? Ada apa?"
"Dazai sama, kami baru saja menerima kabar dari rumah sakit jika Atsushi sama telah menghilang dari kamarnya sebelum kami tiba di sana."
"Apa?"
"Pihak keamanan rumah sakit dan dari pihak kita masih mencoba mencari Atsushi sama di sekitar rumah sakit."
"Dazai sama, jangan-jangan pelakunya sama dengan pelaku yang membuat kekacauan di kelompok kita dan kini dia telah menculik Atsushi sama."
"Tidak mungkin. Atsushi sudah tidak memiliki hubungan denganku dan secara otomatis keluarga yakuza lain tidak boleh mengganggu orang biasa. Yang terpenting sekarang aku harus membujuknya untuk mengakhiri kekacauan yang ada."
.
.
.
.
.
Rencana Atsushi pun di lakukan. Pertama di mulai dengan Atsushi yang berpura-pura kesakitan untuk memancing penjaga untuk membuka kurungan dan melihat keadaannya.
"Ittai..."
Sang penjaga pun menoleh dan menghampiri Atsushi yang mengaduh kesakitan.
"Hei, kau kenapa? Apa ada yang sakit?"
Atsushi pun menatap penjaga dengan tatapan sedang kesakitan dan tak lupa Atsushi memasang wajah yang imut seperti anak perempuan.
"Kakiku terasa sakit akibat di dorong tadi. Ittai..."
Atsushi pun berpura-pura menangis demi meyakinkan sang penjaga.
"Yang benar?!"
Sang penjaga pun membuka pintu kurungannya dan masuk ke dalam untuk memeriksa keadaan Atsushi. Saat penjaga tersebut ingin memegang kaki Atsushi, segera Atsushi menendang bawah dagu penjaga tersebut hingga jatuh terduduk ke belakang dan tak lama Kyouka pun memukul tengkuk penjaga tersebut untuk membuatnya pingsan.
"Dasar bodoh. Kau kira semudah itu menyentuh Atsushi."
Kyouka segera melepas ikatan yang mengikat Atsushi lalu mengikat penjaga itu dengan tali yang mengikat Atsushi tadi. Atsushi dan Kyouka pun segera kabur dari ruangan itu. Untung saja keadaan di luar sepi.
"Gak apa-apa kita tinggalkan dia begitu saja?"
"Tidak apa-apa, kurasa. Yang terpenting sekarang kita cari jalan keluar dari sini."
"Kau benar, Kyouka."
"Entah kenapa aku merasa ada yang tidak beres dengan hal ini. Semoga firasatku salah."
"Firasat? Firasat apa?"
"Tidak apa-apa. Tidak terlalu penting."
Keduanya pun terus berlari mencari jalan keluar dan sebisa mungkin menghindari para penjaga agar tidak tertangkap lagi. Atsushi tak menyangka jika dia harus mengalami hal seperti ini bersama sahabatnya.
.
.
.
.
.
Sementara itu di ruangan lain, Dazai pun datang menemui orang itu yang menjadi akar dari permasalahan yang menimpa keluarganya. Dazai agak kecewa dengan perlakuan orang itu dan Dazai tak menyangka jika orang itu bisa berbuat sangat kejam padanya, bahkan membuat Atsushi terluka. Orang itu kini sedang duduk di sofa sambil menikmati segelas wine yang berharga cukup mahal. Ekspresi sombong kini terukir di wajahnya yang tentu sangat berbeda dengan yang dulu. Menyadari orang yang di panggilnya telah hadir, orang itu segera bangkit dari duduknya dan mendekati Dazai.
"Selamat datang, sensei. Oh, ya, ku dengar keluargamu mengalami masalah yang serius. Apa itu benar?"
"Tidak usah berpura-pura, Akutagawa. Semuanya itu adalah hasil perbuatanmu. Penyerangan terhadap keluarga cabangku dan pelimpahan kesalahannya pada keluarga utamaku. Kau kan yang melakukannya?"
"Bagaimana kalau kita duduk dulu?"
"Tidak perlu."
Tiba-tiba seorang anak buah Akutagawa mendekati Dazai dan memegang bahu Dazai.
"Biar saya bawakan barang anda, tuan."
"Tidak usah."
"Sensei, anda mau minum wine ini? Rasanya sangat enak."
"Tidak."
"Sayang sekali. Tapi, apa kau punya bukti jika aku yang melakukannya? Apa kau tidak percaya padaku yang merupakan muridmu ini?"
"Pasti kau tahu kan prinsip yakuza seperti apa. Sekali di akui sebagai teman, apapun yang terjadi akan tetap di percaya. Tapi, apapun alasannya, aku tidak akan mengakui orang yang mengacaukan wilayahku sebagai teman. Walaupun itu adalah muridku sendiri."
"Sejak dulu kau selalu seperti ini, sensei. Terlalu berporos dengan prinsip dan kode etik yakuza. Kuno sekali. Dulu aku memang kagum akan sifatmu ini tapi lama-lama aku sadar jika itu membuatku merasa muak."
Setelah Akutagawa menyelesaikan perkataannya, seketika Dazai merasa pandangannya kabur akibat rasa pusing hebat yang datang tiba-tiba menyerang kepalanya. Dazai pun jatuh ke lantai tepat di hadapan Akutagawa.
"Sensei? Kau baik-baik saja? Kenapa tidak terjatuh seperti itu?"
Seketika Dazai sadar jika anak buah Akutagawa yang tadi memegang bahunya telah memberinya racun yang membuat seluruh tubuhnya mati rasa dan kepalanya pusing.
"Akutagawa... sialan kau..."
"Tenang saja. Itu tidak akan membunuhmu, sensei. Cepat ikat dia."
Beberapa anak buah Akutagawa pun langsung mendekati Dazai dan mengikat Dazai dengan tali. Sementara itu Akutagawa tersenyum senang melihat sang mantan guru terlihat lemah seperti sekarang.
"Sensei, alasan ku melakukan hal ini padamu karena aku ingin membalas dendam padamu atas perlakuanmu padaku dulu. Dulu kau selalu mengajarkanku tanpa perasaan dan tidak ragu untuk main tangan jika aku melakukan kesalahan. Itu membuatku trauma selama bertahun-tahun dan baru bisa pulih setelah aku menjalani terapi ke psikiater. Sekarang aku ingin kau memohon padaku untuk melepaskanmu dan tentu saja kau harus mencium kakiku sebagai buktinya. Apa kau mau melakukannya, sensei?"
"Kalau aku tidak mau bagaimana?"
"Tentu saja akan ku berikan hukuman."
"Lakukan saja karena aku tidak sudi mencium kaki bau mu itu, Akutagawa."
"Dasar guru keras kepala. Baiklah, jika itu mau akan ku lakukan. Cepat pukuli dia sampai dia meminta ampun padaku."
Para anak buah Akutagawa pun tanpa ragu memukuli Dazai. Dazai memilih menahan rasa sakit karena di pukuli daripada dia harus menjatuhkan harga dirinya.
.
.
.
.
.
Sementara itu Atsushi dan Kyouka terus berlari hingga pada akhirnya mereka menemukan sebuah lift. Tapi, tiba-tiba lift itu terbuka dan muncul sosok Kunikida dari dalamnya. Atsushi pun terkejut melihat sosok Kunikida di hadapannya.
"Ku... Kunikida san?"
"Atsushi sama, kenapa anda ada di sini?"
Sebelum Atsushi menjawab tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat dan berteriak mencari tahanan yang hilang.
"Atsushi sama, cepat pura-pura pingsan. Sekarang!"
"Eh?"
"Sudah cepat lakukan!"
Atsushi dan Kyouka pun mengikuti perkataan Kunikida. Tak lama muncul 2 orang yang sejak tadi berteriak mencari Atsushi dan Kyouka yang kabur.
"Hei, apa yang kau lakukan pada mereka?"
"Maaf, aku tak sengaja memukul mereka karena refleks. Kalian pasti kurang erat mengikat talinya hingga mereka bisa kabur. Kali ini biar aku yang ikat mereka dan tunjukkan padaku kamar kosong untuk mengurung mereka. Kau bawa gadis kecil itu dan aku yang akan bawa pemuda ini."
"Baiklah. Ikuti aku."
Kunikida dan 2 orang tersebut pun membawa Atsushi dan Kyouka ke sebuah kamar. Kunikida menyuruh kedua orang itu kembali ke tempat mereka dan untung saja mereka mau melakukannya. Kini tinggal Kunikida bersama Atsushi dan Kyouka.
"Atsushi sama, keadaan sudah aman."
Atsushi dan Kyouka membuka mata mereka. Keduanya pun langsung mengubah posisi mereka menjadi duduk.
"Kunikida san, bukankah anda..."
"Soal itu akan saya ceritakan nanti, Atsushi sama. Sekarang anda dan teman anda lebih baik segera kabur dari sini. Saya telah menemukan jalan pintas menuju keluar. Saya akan menyelamatkan Dazai sama walau harus berkorban nyawa. Atsushi sama, cepatlah."
"Aku tidak akan pergi, Kunikida san."
"Atsushi, kamu..."
"Aku yang akan menyelamatkan Dazai. Kyouka dan Kunikida san aku punya rencana untuk menyelamatkan Dazai. Tapi, aku butuh bantuan kalian berdua."
"Rencananya bagaimana, Atsushi sama?"
"Jadi begini..."
Atsushi pun membisikkan rencananya pada Kyouka dan Kunikida. Setelah mengerti mereka pun langsung menjalankan rencana Atsushi. Atsushi berharap semoga rencananya bisa berjalan lancar dan dia berharap Dazai masih baik-baik saja.
.
.
.
.
.
.
Setelah beberapa lama Dazai masih tetap dalam pendiriannya walau kini keadaannya sudah agak mengkhawatirkan karena ada beberapa luka lebam di pipinya dan sudut bibir yang pecah dan mengeluarkan darah.
"Masih mau keras kepala, sensei?"
"Tentu saja. Siapa juga yang mau memohon pada anak kecil sepertimu."
"Begitu, ya. Hmm... tidak seru juga menyiksa orang tua sepertimu. Sepertinya akan lebih menarik jika aku menyiksa anak kecil. Pasti lebih seru."
Tak lama seorang anak buah Akutagawa membawa Atsushi ke dalam ruangan tersebut. Kedua bola mata Dazai pun membelalak.
"Mau kau apakan, Atsushi, hah? Dia sudah tidak ada hubungannya denganku lagi. Jadi..."
"Karena kau keras kepala, aku pun terpaksa melakukan ini supaya kau mau memohon padaku, sensei. Tak apa-apa kan jika aku menyiksa dia?"
"Jangan sentuh dia dengan tangan kotormu itu, Akutagawa."
Dazai pun memandang tajam Akutagawa. Tapi, Akutagawa hanya membalasnya dengan senyuman licik. Akutagawa masih berniat membuat Dazai memohon padanya.
"Sepertinya aku punya ide yang menarik."
Akutagawa pun mencekik Atsushi dari belakang lalu berbisik padanya.
"Jika kau masih sayang nyawamu, cepat buat Dazai memohon padaku untuk di ampuni. Apa kau mengerti, bocah?"
Atsushi menganggukan kepalanya, tanda dia mengerti ucapan Akutagawa.
"Dazai, ku mohon padamu lakukan apa yang dia minta. Ku mohon demi aku dan juga dirimu."
Dazai terdiam dan menatap tidak percaya atas apa yang di katakan Atsushi. Tapi, Dazai tidak tega melihat tatapan ketakutan dari Atsushi. Dazai pun bimbang dan batinnya pun bergejolak untuk menentukan pilihan yang terbaik. Sementara itu Akutagawa kesal karena cara seperti tadi belum mampu membuat Dazai memohon padanya.
"Tolong biarkan aku mendekat padanya untuk memohon permintaanmu."
"Baiklah. Mungkin itu akan berguna."
Akutagawa pun mendorong Atsushi hingga jatuh menabrak tubuh Dazai. Kepala Atsushi kini berada di bahu Dazai.
"Kenapa kau melarikan diri dari rumah sakit?"
"Aku tidak melarikan diri karena aku tak ingin menyesal. Hei... Dazai apa kau ingat ucapanku dulu?"
"Ucapan?"
"Ucapan ku yang berkata aku tidak mau di lindungi tapi aku juga ingin melindungi."
Bersama dengan itu Atsushi pun memotong tali yang mengikat tangannya dengan sebuah pisau kecil yang sejak tadi dia sembunyikan. Lalu dengan cepat Atsushi memotong tali yang mengikat tubuh Dazai.
"Oh... berani juga kau, bocah. Tapi, kalian pikir bisa lari dari ruangan ini, hah?"
Akutagawa pun sudah bersiap menembak dengan pistol yang kini sudah berada di genggamannya. Segera Dazai menarik tubuh Atsushi ke dalam dekapannya dan menendang meja besi yang ada di hadapannya sebagai tameng dirinya dan Atsushi. Akutagawa pun menembakki meja secara terus menerus hingga pelurunya habis.
"Cih..."
Setelah tembakan tidak lagi terdengar, Dazai pun bersiap memberikan balasan pada Akutagawa dengan sebuah pisau panjang yang di ikat di paha Atsushi di balik yukata rumah sakit yang di pakainya. Sambil membopong tubuh Atsushi di bahunya, Dazai pun melakukan sebuah lompatan untuk menendang Akutagawa.
DUAK!
Satu tendangan dari Dazai sukses mengenai Akutagawa dan membuat terjatuh ke belakang. Ketika Akutagawa ingin melakukan perlawanan, Dazai telah berdiri di sampingnya dengan pisau panjang yang telah menempel sangat dekat dengan lehernya dan hal itu sukses membuat Akutagawa tak bisa bergerak karena kemungkinan bergerak sedikit saja kepalanya akan terpisah dari tubuhnya karena dia sangat tahu Dazai sangat ahli dalam menebas seseorang.
"Maaf, ya, sepertinya kau yang harus memohon padaku."
"Hei, kalian jangan diam saja. Ayo, cepat di lawan."
"Maaf, nii sama mereka bukan diam saja tapi mereka memang tidak bisa bergerak. Aku kecewa padamu, nii sama."
"Kyouka, kenapa kau..."
"Aku yang mempersiapkan semua ini demi kelancaran rencana Atsushi sama."
"Kunikida, kau..."
"Maaf, saya tidak pernah ada niat untuk bekerja di bawah perintah anda."
"Karena Kunikida adalah orang yang paling setia dan paling ku percaya. Dia tak akan berkhianat padaku karena aku percaya padanya."
"Rasanya melelahkan juga harus berpura-pura berkhianat dan menyelidiki banyak hal. Tapi, saya tak menyangka rencana Atsushi sama berjalan dengan lancar dan sesuai dengan dugaan."
"Jadi... rencanaku gagal karena bocah itu?"
"Tentu saja gagal karena nii sama sangat bodoh. Lagipula kurang kerjaan banget menculik Dazai onii san dan Atsushi hanya karena ingin balas dendam yang tidak jelas. Sungguh aku malu punya onii sama sepertimu. Aku akan melaporkannya pada otou sama dan okaa sama nanti biar kau kena hukuman. Untuk Dazai onii san dan Atsushi, aku minta maaf atas perbuatan onii sama ku yang bodoh ini. Jika minta maaf tak cukup, kalian boleh melakukan apapun padanya dan aku yang akan meminta izin pada Otou sama nanti."
"Kamu tidak perlu minta maaf, Kyouka chan. Tapi, jika kamu sudah berkata seperti itu aku tidak sungkan untuk memberikan hukuman pada mantan muridku yang nakal ini. Sekarang bawa dia pergi ke kuil."
"Eh?"
"Ku rasa kau akan belajar banyak di sana selama satu tahun. Semoga setelah menjalani kehidupan di kuil bisa membuatmu lebih baik dari sebelumnya dan tidak mengulang perbuatanmu ini terhadap orang lain."
"Kuil? Aku tidak mau ke sana."
"Sayangnya kau harus ke sana. Ne, Akutagawa tolong dengarkan aku baik-baik. Alasanku mendidikmu secara keras waktu dulu itu bertujuan baik demi membuatmu menjadi orang yang berguna di masa depan dan bisa memimpin keluargamu dengan baik dan bijak. Aku memukulmu bukan karena aku benci padamu tapi aku bermaksud untuk membuatmu kuat dan tegar menghadapi segalanya. Tapi, aku tak menyangka jika itu berdampak negatif untukmu dan membuatmu trauma. Aku minta maaf dan ku harap kau mau memaafkanku. Kau tahu? Aku sangat menyayangimu sebagai muridk, baik dulu hingga sekarang. Tidak pernah berubah."
Akutagawa pun tiba-tiba menitihkan air mata setelah mendengar ucapan Dazau tadi. Ternyata sang guru tidak sejahat itu padanya dan dia merasa malu karena telah salah mengartikan didikan Dazai. Akutagawa pun di bawa oleh anak buah Dazai dan Kyouka keluar. Tak lama setelah itu, tubuh Dazai pun oleng karena pengaruh racun tadi. Saat tubuhnya hampir jatuh, Atsushi segera menopangnya dan Kunikida segera membantu Atsushi memapah tubuh Dazai yang sudah tidak sadarkan diri.
.
.
.
.
.
.
Atsushi pun terbangun dari tidurnya karena ingat seharusnya dia menjaga dan merawat Dazai yang belum sadarkan diri sejak beberapa jam lalu setelah peristiwa itu. Langit pun sudah menggelap. Atsushi ketiduran ketika merawat Dazai padahal ada beberapa pelayan menawarkan diri untuk membantunya tapi Atsushi tidak mau di bantu oleh pelayan untuk mengurus Dazai.
"Sekarang sudah jam berapa, ya?"
"Mungkin baru jam 10 malam."
Atsushi langsung menoleh ke sumber suara saat seseorang yang seharusnya masih tertidur malah menjawab pertanyaannya.
"Kau sudah sadar?"
"Seperti yang kau lihat."
"Bagaimana keadaanmu?"
"Sudah terasa lebih baik setelah aku tidur."
"Yokatta."
"Atsushi kun, kau tahu? Kita dulu pernah bertemu dan kau memberiku cokelat kecil saat aku tersesat. Kau juga mengajakku bermain hingga orang tuaku datang menjemputku di pantimu. Apa kau ingat?"
Atsushi pun mencoba mengingatnya. Seketika dia teringat pada sosok bocah kecil dengan wajah manis dan berambut cokelat ikal yang menangis di depan pantinya. Atsushi kecil pun bertanya pada anak itu dan itu menjawab sambil menangis kalau dia tersesat dan tidak tahu jalan pulang. Atsushi kecil pun memberikan sebuah cokelat kecil pada anak itu supaya tidak menangis lagi dan anak itu pun berhenti menangis. Atsushi kecil dan anak itu pun bermain bersama hingga pada akhirnya anak itu di jemput oleh orang tuanya.
"Jadi... anak kecil itu, kau?"
"Ya. Itu aku dan kau lebih kecil dariku saat itu, Atsushi."
"Ku kira anak perempuan soalnya wajahmu lucu dan manis saat kecil. Tapi, kenapa pas dewasa jadi narsis dan menjijikan kayak gini, ya?"
"Hidoi, Atsushi kun."
"Aku hanua bercanda tapi kau sungguh menyebalkan sekarang. Berbeda saat kau kecil dulu."
"Tentu berbeda, Atsushi kun. Masa aku kecil terus dan nanti kau jadi om-om pedofilia."
"Kau yang om-om pedofilia, baka."
"Kau tahu, Atsushi kun?"
"Apa?"
"Sejak saat itu aku menyukaimu dan itu tidak berubah hingga saat ini. Lalu aku mendengar jika panti asuhanmu mengalami masalah keuangan dan aku pun segera mengambil kesempatan itu agar bisa bersamamu. Aku pun meminta pada pihak panti untuk membawamu dan mereka menyerahkanmu dengan senang hati. Aku pun merasa sangat senang karena bisa terus bersamamu."
"Tapi, kenapa kau berbohong kepadaku jika kau membeli ku dari pihak panti dan berbohong juga soal perjodohan? Kenapa tidak jujur saja dari awal?. Lalu kalau ku ingat kembali, kau juga memutuskan pertunangan kita secara sepihak tanpa alasan yang jelas!. Kau selalu saja begitu, Dazai. Suka memaksa, seenaknya sendiri, dan mempermainkan perasaanku."
Atsushi pun marah-marah dan memukul dada Dazai. Dazai dengan tenang menarik Atsushi ke dalam dekapannya.
"Maafkan aku jika aku suka seenaknha dan suka memaksamu tapi semua itu ku lakukan karena demi kebaikkanmu. Sulit sekali untuk mendapatkan hatimu, Atsushi. Menggunakan cara yakuza saja tidak mempan untuk mendapatkan hatimu. Aku ingin kau selalu ada di sisiku supaya aku bisa melindungimu. Tapi, maaf Atsushi sekarang kau sudah tidak bisa lari lagi dariku karena aku tidak berniat untuk melepaskanmu lagi."
"Aku juga tak ada niatan untuk lari darimu karena aku belum memenuhi ucapanku padamu."
"Eh?"
"Ucapanku yang juga akan melindungimu seperti kau melindungiku. Dazai, berjanjilah mulai saat ini kita berdua akan berjuang bersama-sama. Ayo, kita lakukan dengan janji jari kelingking."
"Baiklah. Aku berjanji padamu, Atsushi. Demi jari ini dan semua yang ku miliki dalam hidupku."
Setelah mengucapkan janjinya pada Atsushi, Dazai pun mencium jari kelingking Atsushi yang masih terkait dengan jari kelingkingnya.
Setelah itu perlahan tapi pasti Dazai pun mendekatkan wajahnya pada Atsushi. Atsushi pun menutup matanya saat dia merasa bibir Dazai telah menyentuh lembut bibirnya. Ya... keduanya pun berciuman dengan lembut di bawah sinar rembulan.
Setelah 5 detik, Dazai mengakhiri ciuman mereka. Degup jantung keduanya masih terdengar jelas dan keras. Walau sebentar, ciuman itu mampu membuat detak jantung keduanya berdegup tidak normal dan membuat wajah keduanya memanas.
Tiba-tiba Dazai berjalan mendekati lemari miliknya dan sepertinya ingin mengambil sesuatu dari sana. Tak lama, Dazai pun kembali lagi ke hadapan Atsushi dan kini Dazai berlutut di hadapan Atsushi yang duduk di tepi ranjangnya.
"Atsushi Nakajima, maukah kau menghabiskan sisa waktumu bersamaku untuk menjadi pendampingku?"
Dazai pun membuka sebuah kotak perhiasan kecil tersebut yang berisikan sebuah cincin putih yang terdapat lambang keluarga Osamu dan menghadapkannya ke Atsushi. Ya... Dazai melamar Atsushi untuk menjadi pendamping hidupnya. Untuk kesekian kalinya Atsushi di buat doki-doki oleh Dazai. Kali ini bukan hanya doki-doki tapi ada perasaan bahagia yang meluap-luap di dalam hatinya. Tanpa ragu Atsushi pun menjawab pertanyaan Dazai.
"Dazai Osamu, aku bersedia menghabiskan sisa waktuku untuk menjadi pendampingmu."
Sebuah senyum bahagia merekah di wajah Dazai setelah mendapat jawaban dari Atsushi. Atsushi menerima lamaran darinya. Tanpa ragu Dazai pun memasukkan cincin turun-temurun milik keluarganya itu ke jari manis kiri milik Atsushi dan Dazai langsung menggendong Atsushi ala tuan putri dan memutar-mutarnya karena saking senangnya.
"Aishiteru, Atsushi."
"Aishiteru yo, Dazai."
Keduanya kembali berciuman lagi di bawah sinar rembulan malam itu.
.
.
.
.
.
Beberapa bulan kemudian, Dazai dan Atsushi pun menikah dan merayakan pesta pernikahan mereka secara sederhana tapi khidmat. Sahabat keduanya dan anak buah Dazai pun berdoa agar keduanya terus berbahagia hingga maut memisahkan keduanya.
Tapi, setelah ini Dazai dan Atsushi akan mengalami cerita baru yang mungkin lebih menantang dari cerita sebelumnya...
.
.
.
.
.
.
おわり
.
.
.
.
.
.
Author Note:
Ohayou minna san ^_^
Pada akhirnya cerita ini pun harus tamat dengan akhir yang bahagia untuk Dazai dan Atsushi *tebar bunga*
Tidak terasa sudah 7 chapter Riren menulis cerita ini dan rasanya melelahkan sekaligus menyenangkan karena ini fict multichap pertama yang Riren selesaikan hingga akhir hahahaha XD
Riren ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada para reader san yang telah memberikan dukungan dan semangat kepada Riren melalui review yang ada. Terima kasih kepada Yuchika Kissui san yang telah mereview cerita ini tiap chapter dan semangat serta dukungan untuk Riren, terima kasih juga kepada AkaiYuuki chan yang telah memberi review pada cerita ini khususnya di chapter yang ada bang Chuuya XD dan semangat serta dukungan untuk Riren dalam menulis cerita ini, terima kasih kepada para reader yang telah memberikan review serta memasukkan cerita Riren ke dalam list story favoritnya yang namanya tak bisa Riren sebutkan satu per satu karena cukup banyak. Riren juga ingin memberikan ucapan terima kasih pada reader san yang telah berkenan meluangkan waktunya membaca cerita Riren ini.
Riren mohon maaf apabila masih banyak kekurangan dalam fict ini baik dalam segi penulisan maupun jalan ceritanya yang kurang menarik. Riren juga mohon maaf apabila ada perkataan Riren yang kurang sopan terhadap para reader san.
Akhir kata Riren ucapkan maaf dan terima kasih. Sampai berjumpa di sequel cerita ini ya ^_^
RIREN
