Chapter 7 : Perasaan berbeda
PAIR : CHANHUN
Cast : Oh Sehun, Park Chanyeol, Kim Jongin, Irene, Kim Myungsoo, Park Yoora
WARN : TYPO (S)
Tidak lama kemudian Chanyeol sampai di hotel yang dikatakan oleh Irene, gadis itu mengatakan Sehun telah ada disana. Dengan cepat Chanyeol menuju kamar 401, dimana Sehun menginap.
Pemuda jangkung itu tersenyum mendapati submisif yang sangat dirindukannya tengah menata pakaiannya di lemari hotel.
Dengan langkah perlahan Chanyeol mendekatinya, karena ia berniat memberi Sehunnya kejutan kecil , Chanyeol meraih pinggang rampingnya dan memeluknya erat.
'"Sehunnie ", katanya persis di telinganya, membuat Sehun terkejut seketika.
"Omo Chanyeol ! kau mengejutkanku !"
Sehun menoleh dan mendapati Chanyeol sedang memeluknya dari belakang dan membenamkan wajahnya di lekukan lehernya. Menghirup aroma tubuh Sehun yang menurut Chanyeol seperti bayi.
"Yeol !", serunya disertai tawa lebar di wajahnya dan segera berbalik memeluk Chanyeol.
.
.
"Jadi, ini semua ide nya Irene ?"
Chanyeol bertanya setelah mereka berdua duduk di ranjang.
Sehun mengangguk.
"Dia juga memberiku ini "
Sehun mengacungkan dua lembar tiket Korea-kanada di tangannya.
"Anak itu, apakah dia serius ingin kita menikah disana ?" tanya Chanyeol..
"Kupikir begitu "
"Lalu dia sendirian menghadapi ibuku ? apa dia sudah tidak waras ?" Chanyeol mencemaskan keadaan Irene juga, karena gadis itu akan menghadapi ibunya sendirian, seorang diri .
"Apa maksudmu, Yeol ?"
"Ibuku, dia akan melakukan apapun..walaupun kita bisa saja kabur, tetapi ibu bisa melakukan apa saja , dan akukhawatir pada Irene"
"Lantas kita harus bagaimana ? aku takut Chanyeol "
Sehun melingkarkan tangannya di pinggang Chanyeol, memeluknya erat. Merasa nyaman tiap kali memeluk kekasihnya itu, karena mampu memberikan rasa aman di seluruh tubuhnya.
Chanyeol membelai punggung Sehun untuk sekedar memberinya ketenangan.
"Aku takut kalau ibu akan membongkar hubungan kita di depan publik, kalau hal itu terjadi, karirmu akan benar-benar habis dan aku tidak mau itu terjadi, Sehun "
Dengan lembut Chanyeol mengecup puncak kepala Sehun.
"Tetapi kupikir Irene punya maksud lain "
Dengan cepat Chanyeol mendekatkan badannya ke Sehun.
"Dan itu maksud yang baik, anak itu benar-benar cerdas " bisik Chanyeol di telinga Sehun, menghembuskan nafas dengan sengaja ke telinga Sehun.
"Apa maksudmu, Chanyeol ?"
Chanyeol tidak menjawabnya dengan kata-kata namun tubuhnya semakin mendekat ke arah Sehun,, membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.
Perlahan mendekat, Chanyeol menghapus jarak antara dirinya dengan kekasihnya itu hingga akhirnya bibir mereka bertemu.
Lidah terlatih Chanyeol menjilat bibir bawah Sehun, tanda memohon untuk membuka bibir itu.
Dan dengan senang hati Sehun hanya membiarkan lidah liar kekasihnya menguasai seluruh rongga mulutnya.
Mengabsen barisan gigi rapi tersebut, setelah itu Sehun mengajak lidahnya memasuki mulutnya.
Yang tentu disambut Sehun dengan senang hati dan mengajak lidah Chanyeol berdansa disana.
Bibir mereka sduah terpisah, tetapi lidah mereka makin membelit erat. Saling jilat, berdansa, menyesap dan menggigit.
Lantas Chanyeol sengaja memisahkan jarak antara mereka, menatap kekasihnya itu yang tampak sangat menggoda dengan bibirnya yang sedikit terbuka, mata sayu dan nafas tidak teraturnya.
Chanyeol memposisikan dirinya di atas Sehun, menghimpitnya dan menciumi leher putihnya.
"Bersiaplah memanggil namaku, Hunnie ", bisik Chanyeol dengan berat karena sudah dikuasai nafsunya..
Sehun tertawa pelan, membuat Chanyeol tersenyum melihat tingkah kekasih menggemaskannya itu.
Kembali bibir mereka bertemu, ciuman mereka kini menjadi lebih panas dan menuntut.
Suara desahan khas ciuman panas me,memenuhi kamar itu.
Tangan besar Chanyeol yang menganggur kini menjelajahi semua badan mulus Sehun yang selalu menggodanya, tangan besarnya mengusap perut rata Sehun setelah menyingkap kaos hitam yang dipakai sehun.
Akibatnya Sehun pun mulai mendesah merasakan geli diperutnya.
Chanyeol melepaskan tautan bibirnya, mengecup dagu runcing Sehun, turun ke lehernya yang kembali dijilatinya, sehingga membentuk tanda kemerahan.
Dengan gerakan tidak sabaran Chanyeol membuka kaos hitam Sehun dan melemparnya ke sembarang arah dan dengan gerakan cepat ia juga mengenyahkan jeans ketat beserta boxernya membuat Sehun terbaring telanjang dengan wajah yang amat polos.
Chanyeol dengan senyum mesumnya memandangi seluruh tubuh Sehun, membuat sehun yang dipandangi merasa malu dan menutupi bagian bawah tubuhnya. Mata bulat itu serasa menelanjangi seluruh tubuhnya yang memang sudah telanjang.
"Kau curang Channie "
"Oh kau mau aku membuak semua bajuku ? oh Hunnie sayang aku tak tahu kalau kau ternyata semesum ini "
Muncul kerutan di kening Sehun. Tidak terima akan Chanyeol yang menyebutnya mesum.
"Kalau aku ini mesum, lalu kau apa ?"
Chanyeol terkekeh dan dalam hitungan detik, ia sudah sama polosnya dengan Sehun.
Membuat sehun menahan nafasnya sambil memeperhatikan setiap inci tubuh Chanyeol yang terpahat dengan sempurna.
Saat itu juga ia merasa sangat beruntung bisa menjadi kekasihnya, ia bisa bersandar di bahu lebar dan dada bidangnya. Tubuhnya akan menempel di perut berotot Chanyeol dan kedua lengan kekarnya akan memeluknya dengan posesif, melindunginya dari apapun.
Begitu pandangannya turun ke perut Chanyeol, wajahnya menjadi semerah tomat. Benda itu, benda yang sangat disukainya, yang selalu memberinya kesakitan sekaligus kenikmatan tiada tara, sekarang telah berdiri tegak, menantangnya.
"sayang lihatlah, kau begitu yadong, air liurmu sampai menetes begitu "
Sehun segera meraba bibirnya, kering. Sial, Chanyeol menggodanya.
"Yaaakk, Chanyeol ! air lirku tidak menetes! aku pun tidak mesum sama sekali, justru yang mesum itu kau !', serunya. Sehun menutup matanya dengan tangannya.
"Kau suka dengan apa yang kau lihat ? Hey ?", Chanyeol memegang tangan mungil Sehun.
Begitu sehun membuka matanya, ia terkesiap. Benda itu, kejantanan Chanyeol udah berada tepat di depan wajahnya. Ia memandang Chanyeol dengan ragu.
"Kau tahu kan apa yang mesti kau lakukan, Hunnie "
Meski agak ragu awalnya namun perlahan Sehun menyentuh junior Chanyeol, mennggenggamnya dan mengelusnya. Bagaimanapun ia masih belum terbiasa jika harus memanjakan junior Chanyeol seperti itu, ia masih nampak amat canggung.
"Ahhh, Hunnie jangan main-main denganku " ujar Chanyeol seraya meremas lembut rambut halus Sehun.
Sehun perlahan memajukan kepalanya dan menjilat ujungnya, ia tersenyum mendengar desahan kecil kekasihnya. Membuat Sehun membuka lebar mulutnya dan memasukkan benda dengan ukuran ekstra itu sebisanya. Meski tak muat karena mulutnya jauh lebih kecil.
Lidah Sehun memainkan kejantanannya dengan baik, membuat chanyeol mendesah keenakan.
Kedua bola kembarnya pun menjadi mainan Sehun. Tak ada sungkan lagi, yang ada Sehun terlihat menikmati kegiatannya.
Chanyeol meraba dada Sehun yang berada tepat di bawahnya.
Kedua ibu jarinya mengelus nipple merah muda Sehun yang ternyata sudah menegang walau belum disentuh.
"Mmmppphhhh..." erang Sehun.
Kris memasukkan jarinya ke lubang luhan, membuat Luhan mendesah.
Perlahan ia pun memasukkan jari keduanya.
"Arghhhh...mmpfff...", wajah Sehun mengerut merasakan rasa sakit yang mulai menjalarinya.
.
.
Tanpa disangka tiba-tiba Sehun pun ikut memasukkan jarinya ke dalam lubang Chanyeol.
"Argghhh...Sehunnie ! apa yang kau lakukan !?", erang Chanyeol.
"Sakit ya ? maaf...hehehe...", ia terkekeh melihat wajah Chanyeolnya yang lucu sekali itu menurutnya, ia hanya ingin membuat Chanyeol paham dan merasakan rasa sakit ketika 'dimasuki'.
.
Sehun segera mengeluarkan jarinya. Mmebuat Chanyeol lalu memaju-mundurkan jarinya yang masih berada di lubang sehun dengan gerakan pelan.
Sehun mendesah lega, ia kembali mengulum junior besar Chanyeol. Ia suka sekali benda itu, bagaimanapun ia menyakitinya, merenggangkannya, sampai membuatnya menangis kesakitan, tetapi dia juga yang akan memberinya kenikmatan, sensasi di seluruh tubuhnya, membuatnya serasa melayang dan seolah ada ribuan kupu-kupu menari di dalam perutnya, membuatnya berteriak nikmat hingga badannya bergetar memanggil nama kekasihnya.
"C-chan ! arggghhhh !", Chanyeol melesakkan jari panjangnya begitu dalam hingga menyentuh titik kenikmatan Sehun.
Dan Sehun seketika itu juga mengeluarkan cairan cintanya di mulut chanyeol yang dengan senang hati ditelannya sampai habis tanpa rasa jijik sedikitpun.
Sehun menutup matanya, ,mencoba menikmati sisa kenikmatan puncaknya, badannya terbaring lemas. Chanyeol membalikkan tubuhnya, kini ia menciumi perut dan dada sehun dan meninggalkan tanda kemerahan disana. Ingin menandai sehun sebagai miliknya dan hanya miliknya seorang.
Chanyeol mencium bibir mungil sehun kembali, tangannya kembali memanjakan junior Sehun yang telah melemas, sehingga menjadi tegak kembali.
Sehun mengangguk dan tersenyum. Terlalu lemas untuk bicara.
Lantas Chanyeol melebarkan paha sehun, menempatkan betisnya di kedua bahunya.
Chanyeolmenjilati bibirnya sendiri yang mendadak kering karena melihat pemandangan yang begitu menggoda tersaji di depannya. Pemandangan yang begitu menggoda itu, lubang sehun yang berkedut-kedut dan seakan mengundangnya.
Dengan bantuan tangannya, ia mengarahkan junior besarnya di depan lubang Sehun. Sehun memegang erat bantalnya, membayangkan sakitnya nanti.
"Tenang, cantik...rileks..",Chanyeol berusaha menenangkan sang kekasih yang tampak gugup.
Sehun membuang nafasnya dan berusaha bernafas seperti biasa, mencoba rileks. Menatap dalam manik gelap Chanyeol.
Chanyeol dengan hati-hati melingkarkan kedua kaki sehun di pinggangnya, dan memeluk pinggang Sehun dengan tangan kanannya.
Sehun memeluk Chanyeol dan membenamkan wajahnya di dada bidangnya.
.
.
"Arghhh...Cha-nnnn !', jerit Sehun ketika benda itu memasuki lubang sempitnya.
"Rileks sayang ", Chanyeol mengelus pipi sehun dengan sayang.
Chanyeol bergerak lagi, menyatukan dirinya dengan Sehun sepenuhnya.
"Sakitttt Yeol !', Karena tidak tahan Sehun menggigit bahu Chanyeol.
"Sempit sekali, Hunnie ! argghhh..." erang chanyeol, ia sangat emnyukai sensasi nikmat ketika berada di dalam lubang sempit Sehun itu.
Beberapa menit mereka berada di posisi seperti itu.
"Apa kau siap, cantik ?", tanya chanyeol dengan lembut.
Sehun mengangguk, "Pelan-pelan, Yeol "
Chanyeol mengecup pipi Sehun lalu mulai memaju-mundurkan pinggulnya.
Sehun menggenggam erat bantalnya, ia mengerang pelan merasakan pergerakan Chanyeol di dalam tubuhnya.
Gerakan Chanyeol yang awalnya pelan berubah menjadi kasar dan cepat.
"Argghhh, Yeoll ! lebih cepat ! kau besar sekali !"
"Kau sempit sekali sayang ! mmphhh..."
Chanyeol mencium bibir sehun dengan panasnya.
Gerakan pinggul Chanyeol semakin cepat saat dirasanya otot-otot lubang sehun makin menyempit, semakin ketat yang pertanda ia akan mencapai klimaksnya.
Dengan erangan panjang, Chanyeol menyemburkan cairannya di dalam Sehun sementara sehun menumpahkannya di tangan Chanyeol,
Keduanya masih saling memeluk erat sambil mengatur nafas mereka.
Chanyeol lalu berbaring disamping sehun, sehingga kejantanannya tercabut dan membuat sehun mengernyit merasakan kehiilangan .
"Aku mencintaimu, Sehunnie ", Chanyeol mengecup leher Sehun.
Sehun tergelak, "Gombal " kemudian mencium bibir Chanyeol.
"Aku juga sangat sangat sangat mencintaimu, Park Chanyeol. Selamanya "
Chanyeol tersenyum melihatnya.
"Aku lelah, mau tidur "
"Tidurlah, cantik " Chanyeol menyenderkan kepala sehun di dada bidangnya.
Diam-diam Chanyeoltersenyum
"Aku harus berterima kasih lagi pada Irene setelah ini. Gadis pintar ",
.
.
Keesokan harinya, Chanyeol kembali ke rumah sehun karena bagaimanapun ia tidak ingin membuat ibunya cemas.
Tanpa ditemani Sehun pastinya, untuk sementara sehun akan tinggal di hotel untuk menghindari konflik lebih lanjut dengan sang ibunda.
Tetapi ketika tiba dirumah, ia terkejut melihat ibunya mengobrol dengan begitu akrab dengan seorang gadis, ia tak bisa melihat wajahnya karena gadis itu membelakangi dirinya.
"Siapa dia ? ah sudahlah, aku kan harus mencari Irene sekarang, dia pasti ada dikamarnya "
Chanyeol bergegas menuju lantai dua, kamar Irene tepatnya, tapi ibunya lebih dulu memanggilnya.
"Yeollie-ah, kau sudah kembali " seru ibunya yang menyusulnya ke lantai dua.
"Iya bu, sebentar aku mau mencari Irene "
"Tak usah dicari, gadis itu sudah tidak tinggal disini lagi "
"A-apa bu ?" Chanyeol memalingkan wajahnya ke arah ibunya yang masih memasang wajah tenangnya.
"Ibu mengusirnya ?"
Chanyeol sama sekali tak bisa mempercayai ini, semua orang-orang tersayangnya dibuat ibunya meninggalkan rumah ini.
Ibunya menggeleng, dan menyunggingkan senyum.
"Ibu tidak pernah mengusirnya, sayang, hanya mungkin ia tidak betah secara ia kini hanya sendirian dan tak ada lagi yang ada dipihaknya, anak ingusan sialan itu juga sudah angkat kaki kan "
"Ibu, ini rumah sehun juga, dia pemilik rumah ini ! "
"Lalu apa masalahnya, toh dia sendiri kan yang memilih pergi ?"
Chanyeol hanya bisa menggelengkan kepalanya atas sikap ibunya yang dinilai sudha keterlaluan, ia akan pergi lagi ketika ibunya kembali memanggilnya.
"Kau mau kemana, Yeol?"
"Mencari Irene "
"Berhenti, apa kau tidak lihat disini sedang ada tamu, seharusnya kau sapa dia ! Tidak sopan sekali !"
"Dia itu tamu ibu kan ? aku juga tak mengenalnya , untuk apa aku menyapanya ?"Chanyeol menjawab sekenanya.
"Tentu kau harus mengenalnya , sayang, dia ini calon istrimu "
"Apaa ?", lagi-lagi ia hampir dibuat sakit jantung atas tingkah ibunya.
Ia memandang datar gadis yang duduk di ruang tengah.
Seorang gadis cantik lumayan tinggi dan bermata besar namun kesan angkuh begitu melekat padanya. Cantik, namun tak membuat Chanyeol ingin melirik sedikitpun.
"Apa kabar Chanyeol, aku Im Yoona. Senang berjumpa denganmu. Ibumu benar, kau ini ternyata sangat tampan "
Gadis bermarga Im itu menyunggingkan senyumnya. Sungguh manis, tapi Chanyeol sama sekali tak tertarik, bahkan ia merasa Irene masih seribu kali lebih cantik.
"Ah maafkan putraku itu, Yoona-ya , Dia memang begitu, tapi kuyakin sikapnya akan berubah setelah kalian lebih dekat nanti, bagaimana kesanmu padanya ?"
"Dia tampan, hanya itu kesan pertamaku, dia tampaknya orang yang menarik dan misterius. Aku suka. Dan maaf tante, Irene itu...siapa ya ? dan apa maksudnya dia tak tertarik pada wanita ?"
"Ah dia itu memang suka asal bicara. Irene itu...adiknya, adik sepupunya, mereka memang amat dekat, dan maksudnya bukan seperti yang kau bayangkan, dia tak tertarik pada wanita sebab dia baru putus dari kekasihnya, kau mengerti kan ? kalian akan menjadi pasangan yang sangat serasi "
Yoona hanya tersenyum seraya merapikan pakaiannya yang agak kusut.
Benar dugaan Chanyeol, saat ia tiba di rumah Jongin, ia mendapati malaikat penolong cantiknya itu tengah duduk di sofa sambil merajut.
"Hey ", sapanya.
Irene sontak mendongak dan mendapati Chanyeol tengah menatapnya.
"Chan oppa !" ia menghambur ke pelukan Chanyeol.
"Sudah kukira kau disini ", Chanyeol membelai rambut Irene.
"Jongin bodoh itu mana ?"
"Dia ke mini market membeli bahan makanan "
"Irene, kemari .Kenapa kau biarkan ibu mengusirmu ?", tanya Chanyeol sambil duduk disamping Irene.
"Dia tidak mengusirku ",Irene melanjutkan kegiatan merajutnya.
"Lalu ?"
"Dia memberiku pilihan, menikah denganmu atau pergi, tentu saja aku memilih pergi "
"Keterlaluan ! Ibu , kenapa dia memaksamu begitu, oh ya gadis bernama Yoona itu sudah ada di rumah sekarang "
"Calon istrimu itu ? oh ya ? bagaimana dia, apa dia cantik ?"
Chanyeol menggeleng, "Biasa saja karena menurutku, kau jauh lebih cantik "
"Sejak kapan kau belajar menggombal ? apa sejak bersama Sehun oppa, ya ampun hentikan oppa !"
"Apa kau tidak mau memelukku ?"
Irene malahmendorong chanyeolagak menjauh, "Tidak, terima kasih "
Chanyeol melihat rajutan yang sednag Irene kerjakan dan mencoba menggodanya.
"Apa ini ? kau sedang merajut ? kau ini...seperti nenek-nenek saja "
"Enak saja, aku sedang merajut baju hangat untuk Myung oppa, bulan depan dia berulang tahun jadi aku ingin dia memakai baju hangat buatanku "
"Lalu untuk aku mana ?'
"Untukmu ? untuk apa ? aku hanya membuatkan ini untuk kekasihku, Chan oppa yang tampan "
"Oh ya Irene, tentang tiket ke kanada itu ?"
"Oh ya ? kalian akan pergi kan ?" Irene menatap Chanyeol penuh harap.
Tak ingin mengecewakan Irene yang telah begitu baik, Chanyeol dengan cepat menganggukan kepalanya, meskipun sebenarnya ia belum tahu akan pergi atau tidak. Tanggal keberangkatan yang tertera adalah minggu depan. Tapi Chanyeol yakin kalau ia nekad pergi, masalah akan semakin kusut dan tak akan menemukan jalan keluar.
.
.
Sekitar satu jam kemudian, Jongin pulang.
"Chanyeol? sudah datang rupanya, mana sehun mana ? aku sudah mendengar cerita kalian dari Irene, maaf kalau aku diam saja, aku tidak tahu kalau masalah kalian akan sepelik ini "
"Tidak apa, Jongin. Sehun masih di hotel. Kenapa kau tak pernah membawa soojung sekarang ? Kalian masih bersama kan ?"
Wajah Jongin mendadak berubah agak murung.
"Tidak, kami putus "
"Jongin, jangan bercanda "
"Serius Yeol ! dia ternyata sudah bersama Lee Taemin sebelum bersamaku "
"Jadi, kau hanya cadangan ? yang kedua ? begitu ?"
Chanyeol terbahak sampai memegangi perutnya, membuat Jongin mendelik dan menjitak kepalanya.
"Jangan tertawa begitu! ada temanmu sedih, eh kau malah tertawa "
"Jongin-ah, semestinya kau bersyukur, itu artinya soojung bukan gadis yang layak untukmu dan kau bisa mencari gadis yang lebih baik "
"Hmmm, seperti dia ?", Jongin langsung menunjuk Irene dengan ekor matanya.
"Jangan coba-coba, Jongin. Dia sudah punya kekasih ", kata Chanyeol tak suka ide Jongin yang tampak suka dengan Irene.
Jongin hanya tertawa pelan.
"Eh, bagaimana kalau kita menjemput sehun di hotel saja "
"Dan Irene, setelah ini kau akan kucarikan apartemen saja, daripada tinggal disini ", seru chanyeol.
"Hey Chanyeol, bukannya lebih baik di sini ? gratis lagi, tidak usah membayar "
"Sudah, jangan dengarkan dia , kita jemput Sehun saja dan akan kucarikan kau apartemen, oke ?"
Denngan segera Chanyeolmenggandeng Irene seraya menutup telinga gadis itu dengan tangannya agar tak mendengar ocehan tak jelas Jongin.
Memegang bahu Irene seraya mendorongnya pelan ke pintu.
"kalian berdua ! tunggu aku, aku ikuuttt!" seru Jongin
.
.
.
Sementara itu, Sehun yang hanya sendirian di hotel merasa bosan. Ia hanya bermain game di ipadnya, atau menonton televisi. Tidak ada yang bisa diajaknya mengobrol. Tiduran sebentar namun tetap saja bosan.
Ia juga belum bisa banyak bergerak karena bagian bawah tubuhnya masih terasa nyeri akibat tindakan Chanyeol semalam.
Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamarnya. Sehun melompat senang karena dikiranya itu adalah Chanyeol yang datang menjemputnya. Ia sudah tak sabar ingin bertemu Chanyeol kembali.
Dengan senyum permanen di wajahnya, ia membuka pintu. Tetapi raut wajahnya berubah kecewa saat mendapati sosok di depan pintunya bukanlah sosok yang diharapkannya, melainkan orang yang paling tak ingin ditemuinya.
Sehun malah terlihat takut dengan seseorang di depannya, ia refleks melangkah mundur.
"Tao-ah ? bagaimana kau tahu aku disini ?'
Sosok yang bernama Huang Zi Tao itu adalah seseorang yang pernah menaruh rasa pada Sehun dulu semasa mereka berdua masih duduk di bangku sekolah menengah, namun Sehun tidak menerimanya. Karena ia tidak menyukai perangai Tao yang temperamen. Namun rupanya Tao tidak mudah meneyrah, ia terus saja mengikuti ke mana saja Sehun pergi, bahkan seperti stalker saja dan itu berlangsung hingga sekarang.
"Aku ini belahan jiwamu, Sehuna. Tentu saja aku akan tahu kau dimanapun kau berada "
Ucapannya membuat Sehun semakin merasa ketakutan, dengan cepat ia berniat menutup pintu namun ternyata gerakan Tao lebih cepat.
Ia menahan pintu itu dengan tangannya.
"Tao-ya ! kau mau apa ?!"
"Kenapa wajahmu begitu, apa aku begitu menakutkan, sayang ?" Tao mencoba menyentuh wajah Sehun namun dengan cepat ditepis oleh Sehun.
"Mau apa lagi kau, Tao ?"
"Hey hey, apa begitu caramu menyambut belahan jiwamu ya ? kau mulai tidak sopan ya ? siapa yang mengajarimu ? pria itu ? tsk..."
Tao mengetahui tentang Chanyeol dan ia tidak suka.
Tao menggelengkan kepalanya dan mencibir.
"Belahan jiwa ? kau bukan belahan jiwaku ! kau hanya masa laluku, kau yang meninggalkan aku dan sekarang kau kembali ? untuk apa ? kau seharusnya membiarkan aku bahagia "
"Apakah kau bahagia sekarang ?"
"Aku sangat sangat bahagia, Huang Zi Tao "
"Oh ya ?", Tao tertawa mengejek.
"jika kau bahagia, kau tak akan melarikan diri ke sini sekarang kan ? ibunya tidak menyukaimu kan ? kau pikir aku bodoh ? "
Sehun terkesiap, karena Tao sudah mengetahui semuanya. Benar-benar membuatnya ketakutan.
"Terkejut, cinta ?"
.
.
Sehun mundur selangkah karena mendadak ia merasa takut dengan pria di depannya. Tao sudah tahu terlalu banyak, membuat sehun berpikir apakah Tao sudah mengikutinya selama ini.
Sehun akan mundur lagi, sebelum Tao dengan sigap menangkap pergelangan tangan kurusnya.
Sehun terkesiap bahkan ia menjerit.
"Lepaskan aku Tao-ya !", jeritnya.
Tetapi cengkraman Tao di tangan Sehun makin kencang.
.
.
"Hey ! apa yang kau lakukan ? lepaskan dia !"
Suara berat itu mengejutkan keduanya. Sehun terlihat amat lega sedang Tao tampak sangat kesal karena sosok itu telah mengganggu momennya.
"Chanyeol !", sehun tersenyum lega.
Chanyeol berjalan cepat ke arahnya diikuti Irene dan Jongin.
Sehun dengan cepat menepis kasar tangan Tao seraya menghambur ke arah Chanyeol.
Menyadari cara berlari sehun yang agak aneh,Tao pun segera menyadari apa yang telah terjadi antara Sehun dan chanyeol semalam.
Jongin yang juga melihatnya segera sibuk berbisik-bisik pada Irene , keduanya tertawa-tawa kecil.
Chanyeol yang menyadari dirinya menjadi bahan gosip antara Irene dan Jongin pun cuek, dia memilih membawa Sehun ke dalam pelukannya agar sosok itu tak lagi mengganggu kekasihnya.
Tao bukannya tidak melihat tanda kemerahan di leher Sehun, bekas cinta itu begitu tampak sehingga membuat sehun mendidih dibuatnya.
Ia pun bertanya-tanya pada dirinya sendiri, sebetulnya sudah sejauh apa hubungan Chanyeol dan sehun, mereka berdua semakin nampak tak terpisahkan.
"Kau dengar ya , siapapun kau. Sebaiknya sekarang kau pergi dan jangan lagi mengganggu Sehun lagi, karena dia ini milikku, kau dengar ? dia milikku dan siapapun tak akan bisa mengambilnya dariku "
Chanyeol menarik dagu sehun perlahan dan mendaratkan ciuman di bibirnya.
"Kupikir hadiahku ini, sangat benar " Irene berbisik kecil.
"Hadiah apa ?"Jongin bingung, tak mengerti arah pembicaraannya.
"Kamar ini, kamar hotel ini. Aku menyuruh Sehun oppa menginap disini dan kupikir Chan oppa tahu cara memanfaatkan hadiahku ini dengan benar,, bahkan kau tahu Jongin oppa ? aku juga memberikan mereka tiket bulan madu . Aku keren kan ? "
Mata Jongin melebar.
"Bulan madu ?"
Irene mengangguk cepat
"Aku memberi mereka tiket ke kanada "
"Hah ? apa kau sedang menyuruh mereka untuk kabur ? Irene, bagaimanapun aku mendukung mreka, tapi Sehun itu masih menjadi artisku dan aku bertanggung jawab penuh atas karirnya, janganlah kau membuat dia kbaur, nanti aku juga yang akan repot "
"Ayolah oppa...", Irene menarik-narik lengan baju Jongin membuat dia tak berkutik atas gadis rupawan itu.
Ia sadar benar ia menyukai Irene dan ia tak bisa berbuat apa-apa ketika gadis taksirannya itu sedang memasang wajah memelasnya.
"Ah ya ya...baiklah, lakukan sesukamu, Irene-ya"
Kata –kata Jongin membuat Irene melompat kegirangan seraya memeluk pemuda jangkung itu. Menyebabkan pemuda bermarga Kim itu membeku di tempatnya.
Chanyeol dan sehun pun sampai ikut menoleh ke arah mereka berdua.
"Maaf..." Irene tertawa kecil, menyadari dirinya terlalu bersemangat.
"Aku yakin yang kulakukan ini benar, kau harus percaya padaku, oppa "
Jongin yang berada dalam jarak sedekat ini dengan Irene hanya bisa terkagum dengan wajah cantiknya, wajah tanpa cela itu seolah menghipnotisnya.
"Apa kau malaikat ?", tanyanya tiba-tiba.
"Apa ?"
"Kau ini malaikat ya ? bidadari ?"
"Bukan , ya ampun oppa " Irene terkekeh pelan
"Aku ini manusia "
"Tapi kenapa kau sempurna sekali ? kau cantik sekali, dilihat dari jarak sedekat ini, kau semakin cantik "
"Hentikan rayuan gombalmu oppa. Tidak akan mempan untukku, semua pria memang sama saja, menggombal saja ",Irene mendorong pelan bahu Jongin.
Mendadak Irene maju ke depan, menedekat ke arah Tao, "Sudahlah , siapapun namamu. Mereka ini telah emnikah dan mereka akan berbulan madu ke kanada ", serunya.
"Apa ? ", Tao terkaget-kaget sedangkan sehun dan Chanyeol hanya menatap Irene dengan pandangan tak paham, begitu juga dengan Jongin.
"Apa kau bilang ?", Dengan gusar Tao mendekati Irene dengan pandangan mengintimidasi, namun tak juga membuat gadis itu gentar. Usaha Tao menakuti Irene gagal.
Sehun menarik lengan baju Irene, mengisyaratkan gadis itu mundur. Tao nampak marah dan akan berbahaya nantinya.
"Benar ! mereka sudah menikah ! kenapa ? kecewa ?"
Irene malah membuat Tao berang.
"Gadis kecil, jangan bicara macam-macam !"
"Tuan, yang aku bicarakan ini adalah fakta !"
Karena terbakar emosinya yang sudah meletup-letup, Tao mendorong Irene dengan cukup keras, sehingga gadis itu jatuh tersungkur.
Melihatnya, Chanyeol buru-buru menghampirinya.
"Yaaa... ! apa yang kau lakukan ?" umpatnya seraya membawa Irene ke dekapannya.
"Tao ! hentikan !" teriak Sehun.
Jonginl pun menghampiri Irene, raut wajahnya pun sangat cemas.
"Kau baik-baik saja kan ?", tanya Chanyeol, Irene mengangguk pelan.
"Tao, atau kupikir itu namamu ! kuperingatkan, jangan membuar keributan disini, atau kutelepon polisi sekarang juga !", geram chanyeol.
"Cepat pergi, Tao-ya !", Sehun mendorong tubuh Tao agar cepat pergi, ia kesal karena ulahnya.
Akhirnya Tao dengan berat hati dan kesal akhirnya pergi dari hadapan mereka.
.
.
Chanyeol membantu Irene berdiri, membnatu mengibaskan debu dari bajunya.
Diam-diam Sehun yang melihat betapa besar perhatian Chanyeol kepada Irene mendadak merasakan cemburu, Chanyeol tampak begitu sayang pada gadis itu.
Tetapi buru-buru ia menghapus pikiran negatifnya, toh Irene jatuh juga karena berniat membantunya, membelanya. Tidak semestinya ia cemburu pada gadis yang telah begitu baik padanya.
"Sehun, ayolah...Irene otu begitu baik tapi kau malah cemburu dengannya ?" Sehun berusaha menanamkan pikiran positif ke dalam benaknya.
.
.
"Irene, kau serius mau tinggal di apartemen itu ?, tanya Jongin yang seperti tak rela membiarkan Irene tinggal disana.
Chanyeol, Sehun dan Irene berniat tinggal bertiga di sebuah apartemen.
"Jongin, sudahlah. Apartemen itu akan tinggali bertiga ", kata Chanyeol.
"Bukan begitu, apa sebaiknya tidak lebih baik kalau kalian tinggal disini saja ?"
Jongin bagaimanapun sangat menyukai Irene dan kalau bisa tinggal seatap dengannya pastilah ia sangat senang.
"Tidak " kata Chanyeol dengan tegas seraya membantu Irene mengemasi barangnya.
"Yeol "
"Tidak, Jongin. Dia akan tinggal denganku juga Sehun "
"Ohya...Irene, sebelum kau pindah, apa tidak bisa kita bicara berdua saja ?"
Jongin menarik pergelangan tangan Irene
"Oppa, kau kenapa ? kenapa tiba-tiba menjadi serius begitu ?"
Jongin hanya tersenyum bodoh, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sebentar saja ya ? kalian berdua keluar saja dulu !", tanpa sungkan sedikit pun Jongin mengusir Sehun dan chanyeol yang hanya menatap mereka berdua.
Chnayeol menghela nafas dan menggelengkan kepalanya seraya melingkarkan lengannya di pinggang ramping Sehun, mengajaknya keluar lebih dulu.
"Nikmati waktu kalian, dan Jongin awas kalau kau macam-macam pada Irene", ancam Chanyeol. Jongin hanya mengibas-ngibaskan tangannya memberi isyarat sepasang kekasih itu agar segera beranjak.
Jongin mengajak Irene duduk di sofa dan dengan gerakan tiba-tiba menggenggam tangannya, membuat gadis itu terkejut.
"Irene-ah, kalau aku bilang aku menyukaimu, bagaimana ?"
Irene mengernyitkan dahinya, "Oppa ?"
"Aku ini serius, Joohyun-ah aku menyukaimu. Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu di rumah Sehun dan aku tahu perasaan ini salah, aku tahu kau sudah memiliki kekasih tapi aku tidak peduli. Aku tahu ini bodoh. Kom JOngin memang bodoh, tapi aku tulus padamu, aku sayang padamu, aku..."
"Apa kau melakukan semua ini agar aku tidak jadi pindah ?" potong Irene.
"Hey, kenapa kau punya pikiran seperti itu ? pengakuan ini jujur dari hatiku, aku akan menunggumu, aku akan menunggu sampai kapapun "
"Oppa...jangan seperti ini", namun Jongin menggenggam tangannya makin erat.
Sungguh, Irene tak tahu harus bereaksi apa atas pengakuan pemuda jangkung di depannya ini. Ia hanya memandangi tangan Jongin saja, sampai akhirnya Jongin beranjak, memasang senyum polosnya seraya meraih tangan Irene.
"Ayo kuantar kau, pasti mereka mengomel sudah menunggu kita terlalu lama "
Tapi ketika akan keluar, Irene menerima telepon dari myungsoo, kekasihnya.
Yang secara langsung membuat Jongin cemburu karena nada bicara Irene yang terlalu mesra. Telinganya serasa sangat panas.
.
.
Chanyeol yang menunggu lama di dalam mobil,mengomel lalu memutuskan masuk ke dalam lagi.
Dan ia menahan tawanya ketika mendapati wajah Jongin yang dilipat-lipat. Chanyeol mengerti kenapa Jongin yang biasanya cerah ceria memasang wajah kesalnya, Irene rupanya tengah menelepon kekasihnya.
Chanyeol mendekati Jongin, "Jongin - ah, dia sangat bahagia dengan kekasihnya. Sudahlah, mundur saja " bisik kris disambut wajah Jongin yang makin kesal.
Begitu Irene selesai dengan teleponnya, Jongin segera meraih jemarinya dan menggenggamnya.
"Sudah selesai ? ayo "
"Hey hey, siapa bilang kau boleh menggandengnya seperti itu. Lepas..lepaskan, Kim Jongin " seru Chanyeol.
Karena Jongin tak kunjung melepaskan tautan jarinya dengan jari Irene, chanyeol mengambil inisiatif dengan melepasnya dengan paksa, kemudian menautkan jemari mungil itu dengan jemari panjangnya.
"Ayo, Irene-ah"
Chanyeol benar-benar meninggalkan sehun disana sendirian, membuat pemuda manis itu mnegernyitkan dahinya.
"Chan oppa...Sehun oppa, bagaimana mungkin kau meninggalkannya ?", tanya Irene.
"Biarkan dia dengan manajernya saja, ayo "
Jongin hanya tertawa dan merangkul bahu sehun, "Jangan memasang wajah seperti itu, Sehunnie "
Jongin mencolek pipi sehun , membuar artis muda itu mendelik.
"cemburu kan ? cemburu ya ? sudah, akui saja, itu manusiawi kok.. Irene itu...ah, dia memang terlalu cantik untuk dibiarkan "
"Hentikan Jonginie, aku tidak cemburu. Hanya saja..."
"Apa ? sudahlah, akui saja, Cemburu pada gadis sesempurna itu.. itu hal yang wajar ", Jongin terbahak lagi.
'Kenapa kalian berdua lama sekali ? mengobrol apa ?" Chanyeol yang merangkul bahu Irene, melihat ke arah Jongin dan sehun yang asyik mengobrol.
.
.
"Irene, kau duduklah di depan. Sehun, kau duduk di belakang saja dengan manajermu, ya ? tidak apa kan ?"
Chanyeol mulai mengendarakan mobil Sehun. Kembali sehun dibuat tercenung dengan sikap Chanyeol yang sepertinya begitu mengistimewakan Irene, namun sekali lagi, ia memilih bersabar dan mengabaikan perasaannya ini.
Sewaktu di dalam mobil pun, Chanyeol juga memasangkan sabuk pengaman pada Irene, sekali lagi membuat Sehun hanya menghela nafas.
Sehun merasa agak terabaikan sekarang.
TBC
