Hubungan Akashi dan Tetsuna kian melonggar, meski di awal mereka tidak benar-benar dekat, sih. Kejadian itu memberikan dampak tersendiri. Berkaitan erat dengan masa lalunya yang dapat dibilang pilu. Keramian. Teman. Canda tawa. Hanyalah omong kosong semata. Sejak awal dia tak mampu mempercayai siapa pun, kecuali diri sendiri. Namun kekhawatirannya padam seketika. Mengingat ada Aomine sang penyelamat.
"Yo, Tetsuna. Memandang pohon itu lagi?" Akashi seorang yang tau, bahkan Aomine tidak mengerti apa maksudnya. "Mereka" bersahabat, seperti sesama manusia menjalin suatu hubungan.
"Berhentilah menyapaku. Ini sudah hari ketiga aku mengulang pernyataan serupa." Jelas menjengkelkan. Lagi pula Tetsuna bukan kaset rusak yang kehilangan kendali.
"Tidak sampai kau memaafkanku." Hetekronom-nya memincing tajam. Entah ke berapa kali Akashi menunjukkan ekspresi serupa, serius. Mereka sama-sama keras kepala. Satu pun tak mau mengalah.
"Baiklah aku memaafkanmu. Sekarang Akashi-kun bisa pergi."
"Memangnya aku mau menerima ucapan terpaksa itu? Jangan pernah berani menipu Akashi Seijuuro, Kuroko Tetsuna." Atmosfer di sekitar mereka mendadak berat. Seakan ada yang berbeda di sana, entah apa itu.
BRAKKK!
Bak singa menerjang mangsa, Akashi mendorong tubuh mungilnya melipir. Truk berkecepatan tinggi nyaris menghantam mereka. Dua mobil polisi mengejar tersangka yang diduga mabuk. Tetsuna menonton sekilas dengan perasaan campur aduk. Takut bertemu dokter. Gembira bisa selamat dari kematian. Sampai ia membisikkan sebuah mantera, menyirnakan segala gundah meski tersusun sederhana. Begitu intens hingga menenggelamkannya ke dasar lautan.
Dengan puluh bahkan ratus pisau yang siap menikam penuh luka.
"Jangan takut, Tetsuna."
"Jangan takut, Kuroko." Sekilas pemuda merah itu mirip seseorang. Tetsuna mengingatnya samar-samar. Dia benci mengenang masa lalu. Sebuah kisah bertepuk sebelah tangan yang membawa malapetaka. Seperti bulan ini, bunga sakura bermekaran.
"Kau menangis…. Tidak apa-apa, sudah aman! Kita selamat." Menyadari air mata berjatuhan, Tetsuna segera menyeka terburu-buru. Ini kedua kali dia menangis di depan pria lain, dan lagi-lagi orang itu yang menghapusnya, lembut.
"Kenapa kau peduli padaku?"
"Menurutmu apa? Aku merasa kau belum pantas mendengar alasannya."
"Semacam karena aku mencintaimu? Itu basi, Akashi-kun. Tanpa perlu merasa layak atau tidak, alasan tersebut bisa kudengar kapan pun dan di mana pun."
"Sayangnya salah. Aku punya alasan yang lebih kuat untuk melindungimu. Cinta tidak mengubah banyak hal. Niatlah andil terbesar dalam perasaan itu. Ayo berangkat. Nanti terlambat."
Kembali menjaga jarak, Akashi melepas kunciannya yang sedikit meresahkan. Mereka dekat tiga inchi. Dua pasang iris saling bersanding, berbagi sedikit cerita lewat sebuah tatapan. Dwi warna setajam elang itu mendadak lunak, menusuk hangat sampai ke relung hati. Tidaklah menggunakan pisau untuk melakukannya, melainkan panah cupid yang dipoles sedikit madu cinta. Tetsuna kesulitan sekarang. Lagi pula dia masih punya perasaan selayak manusia normal.
"Aomine-kun. Boleh aku bertanya?" Dia tau pemuda tan itu bodoh, tetapi jawaban jujur lebih diutamakan daripada teori professor sekalipun.
"Tentu. Asal jangan sulit-sulit. Tumbenan kau dan Akashi agak terlambat. Kalian sudah berbaikan?"
"Belum. Aku tidak akan memaafkannya, dia berbahaya. Menurut Aomine-kun, apakah seseorang bisa berbicara lewat tatapan mata?" Sadar Tetsuna serius. Gerakan mengkorek telinga dihentikan sesaat.
"Bisa, tetapi harus punya kepekaan yang tinggi. Kalau itu Akashi tidak mengherankan. Aku saja kesulitan menebakmu sekarang."
"Satu lagi. Kenapa Aomine-kun terus mengungkit Akashi-kun?"
"Sebagai temanmu jelas aku peduli. Kalian bertengkar karena Akashi tidak sengaja meninggalkanmu. Tiga hari terakhir dia serius minta maaf. Memang apa sulitnya?"
"Sulit karena di mataku Akashi-kun berbahaya! Dia…. Lupakan."
Sekarang Aomine ikut menghasutnya. Tembok yang ia bangun luluh lantak dalam sekejap. Pemuda itu benar, apa sulit memaafkan? Dia sudah punya sang penyelamat. Hubungan mereka bisa sebatas teman, bukan musuh atau orang asing. Jika truk tersebut tidak pernah muncul. Andaikata hari ini berjalan normal. Maka sampai kapan pun, Tetsuna tak akan tau betapa tulus seorang Akashi Seijuuro. Mereka benar-benar berbagi cerita dalam lima puluh detik.
Jam istirahat….
SREKK!
Membawa kantong plastik berisi roti, Aomine menaiki tangga ke atas atap. Tetsuna memilih diam di kelas. Sendirian melahap bento-nya, dalam sepi yang setia menemani. Meski seseorang datang dan menghancurkan seluruh ekspetasi itu. Tetangga sebelah, yakni Akashi datang dan memonopoli tempat di samping. Dia acuh tak acuh menanggapi. Masih menunggu saat yang tepat untuk buka mulut, kemudian mengakhiri perang dingin ini.
"Ehem. Akashi-kun aku memaafkanmu. Kau tidak sengaja." Ucap Tetsuna memulai percakapan. Apa pun maksud tindakannya tiga hari lalu. Dia hanya ingin mempercayai Aomine.
"Sayang aku tidak mau dimaafkan. Bukan kau sendiri yang mengatakannya, orang lain memberitaumu." Apa Akashi-kun anak paranormal? Batin Tetsuna menaruh sumpit kasar. Mau berpisah saja banyak rintangan.
"Padahal aku sudah berbaik hati, dan kau menolaknya?"
"Siapa yang minta dikasihani? Aku berjanji akan menemukan orang itu, kemudian menyuruhnya minta maaf padamu."
"Bagaimana caramu mencari orang itu, di tengah kerumunan Minggu kemarin?! Ingat sekalipun kau tidak mungkin mengajak bicara satu per satu. Jumlah mereka ada ratusan!" Mati-matian Tetsuna menolak. Akashi semakin bersikukuh.
"Pelakunya tak jauh dari kita. Mungkin saja dia orang yang dekat denganmu."
"Jangan bilang Akashi-kun menuduh Aomine-kun."
"Bukan dia. Kau akan mengetahuinya hari ini juga. Aku jamin itu. Setelah ditemukan pasti kukabari lewat telepon." Malas meladeni lebih jauh. Tetsuna bergumam, "lakukan sesukamu".
Bermain detektif-detektifan, huh? Siapa pun sang pelaku apa pedulinya? Yang penting Aomine tidak termasuk dalam daftar. Kelas lenggang sejenak. Mereka berdua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Akashi diam-diam mencuri perhatian, sedangkan Tetsuna bermain hand phone sekalian mengganti wallpaper. Foto dia bersama ace tim basket tiga hari lalu, di mana bunga sakura bermekaran untuk terakhir kali.
"Hey. Kau menyukai Daiki?" Bertingkah tenang seperti biasa. Sebenarnya Akashi ragu bertanya. Dia tak pernah salah, terkadang itu mengerikan walau rata-rata orang memandang hebat. Tetsuna sedikit menoleh, berhenti bermain hand phone.
"Benar. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama."
"Begitu, ya…."
"Akashi-kun kecewa? Maaf jika aku menyakiti perasaanmu." Tetsuna sengaja. Ia tak pernah mau mengalah dari seorang absolut. Kita manusia biasa dan kau harus merasakannya juga, lukaku.
Ding… dong… ding… dong….
"Sampai jumpa nanti sore."
Punggungnya menghilang ditelan keramaian. Sambil menguap malas Aomine memasuki kelas. Mengabaikan Tetsuna yang merasa dilupakan. Tak apa, dia sudah biasa diperlakukan begitu. Hanya mengamati di bangku pojok, melihat para murid bercengkrama, tertawa. Kemampuan itu ada sejak SMP. Ketika pahitnya pergaulan dirasakan sekaligus menjadi titik balik. Seorang lelaki datang membawa perubahan juga kenangan indah.
Namun di mana ada tawa, tangis selalu menyertainya. Dua bayangan kembar yang bertolak belakang.
"W-whoaa! Sejak kapan kau ada di situ?!" Lima menit berlalu. Aomine baru menyadari keberadaan Tetsuna yang duduk di sebelahnya.
"Halo, Aomine-kun. Bagaimana makan siangmu?"
"Biasa saja. Kise dan Murasakibara berisik. Midorima cerewet. Satsuki justru pundung di pojokan. Dia paling suka nempel dengan Akashi, tapi orangnya pergi entah kemana."
"Jadi, kau dan Akashi sudah bermaaf-maafan?"
"Sekarang terbalik. Dia tidak mau kumaafkan. Aku kurang mengerti cara berpikirnya, yang jelas aneh."
"Berarti Akashi punya maksud tersendiri. Cepat atau lambat kalian pasti baikan. Aku yakin." Mereka terus mengulang topik serupa. Tetsuna mengerti ini bentuk kepedulian Aomine. Dia juga senang menerimanya.
Jika Akashi-kun tidak mau. Aku tinggal baik-baik mengucapkan salam perpisahan.
Tetsuna punya sebuah rencana yang mengubah hari itu.
Pulang sekolah….
Sekilas kelereng biru mudanya menangkap Akashi keluar kelas. Bersamaan dengan Momoi menuruni tangga, hendak pulang ke rumah. Mereka bertiga satu tujuan. Semua pun mau balik jika tidak punya kegiatan. Mengintip di balik jajaran loker, berharap menemukan Aomine. Tetsuna malah melihat manajer Teiko bersama anggota fanclub Akashi, tengah membicarakan sesuatu yang menyangkutnya, buruk.
"Kencan Minggu kemarin aku berhasil memisahkan mereka berdua. Sekarang Akashi-kun bertengkar dengannya. Perang dingin!" Cerita Momoi antusias. Tawa keempat wanita itu meledak, setelah dipermalukan saat tertangkap basah.
"Benarkah? Kau hebat Momoi-san!"
"Mustahil…. Aku dikhianati lagi?" Masa lalu berputar searah jarum jam di kepala Tetsuna. Peningnya kembali kambuh, mengingat rentetan kejadian itu teramat memilukan. Sulit dihilangkan!
"Ternyata benar dugaanku. Kau yang melakukan semua ini, Satsuki."
"A-Akashi-kun?"
"Sederhana saja. Minta maaflah pada Tetsuna dan masalah ini kuanggap selesai. Lagi pula…. Bukankah buruk jika dia tau kau berkhianat?"
"…."
"Tetsuna sudah mendengar di belakang sana. Tidak mau minta maaf?" Refleks ia berdiri menghadap mereka berdua. Sementara tiga cewek lain pergi meninggalkan Momoi. Siapa pun enggan terlibat selama lawannya Akashi.
"Arghhh….! Siapa peduli?!"
"Aku berhasil membuktikannya, Tetsuna. Pintu maafmu sudah terbuka atau belum?"
"Kurasa tepat membicarakannya sekarang. Maaf Akashi-kun. Hanya Aomine-kun yang bisa menyelamatkaku, bukan kamu atau siapa pun. Sejak awal pun aku tidak berniat berteman dengan kalian. Tidak enak hati saja menolak Momoi."
"Kebohonganmu memuakkan, Tetsu."
Kini Aomine-kun berdiri di belakangnya. Dia terlihat… kecewa….
Bersambung….
