Drabble of Len x Miku
Genre: (little bit) Romance, and Friendship
Category: Drabble
Disclaimer: Vocaloid © Yamaha Corp.
Summary: Beberapa momen yang tercipta diantara Len dan Miku. Apakah suatu saat mereka akan saling menyadari perasaan masing-masing?
*Special to Mr. Chocolate and Mr. Caramel :D
.
.
.
Happy reading!
.
.
.
(Isi Hati Miku)
Jujur saja, Miku masih kangen berat sama Len. Masih cinta sama Len. Masih sayang sama Len. Ah, sungguh kepalanya terasa berat dengan berbagai hal tentang Len. Everything about Len, just Len and nothing male again.
"Aku … masih sayang sama Len," gumam Miku lirih.
Hening, suasana dikamarnya yang hanya berada dirinya seorang itu hanya menampakkan suasana hening. Jujur saja, Miku merasa sangat kesepian. Apalagi, sekarang Len tak mengiriminya sms lagi. Jujur saja, itu membuat Miku merasa sangat kesepian.
"It's everything about you, Len," gumam Miku sekali lagi.
Tanpa Miku sadari, seseorang diluar sana juga sedang merasa kesepian dan membutuhkan Miku.
(Talking to the Moon)
"Bulan, apa kau dengar aku?"
Pertanyaan itu Len ajukan pada sebuah bulan purnama yang menyinari langit malam itu.
"Ah, gua kayak orang gila sekarang," kata Len. "Arrgh! Tapi … tapi … gua kangen sama lu, Mik. Dipikiran gua cuman ada lu ketika denger kalau lu suka sama gua."
Jujur saja, Len memang selalu 'ditembak' oleh banyak orang dan Len hanya bersikap dingin kepada para fans-nya walau kadang suka tebar pesona. Tapi tetap saja, mengetahui Miku suka padanya itu adalah hal yang lain. Hal paling abstrak yang pernah menimpa hidupnya.
"Bulan, aku lagi kangen sama seseorang. Apakah orang itu kangen padaku?" tanya Len pada bulan.
Jujur, Len merasa otaknya konslet dan perlu dibawa ke RSJ terdekat. Bicara dengan bulan? Yang benar saja!
Tapi entah mengapa, Len merasa bulan purnama itu bersinar sedikit lebih terang, seperti mengisyaratkan akan sesuatu.
(Kece?)
Gadis bersurai hijau teal itu memetik senar gitar secara perlahan. Gitar berwarna kecoklatan yang merupakan gitar akustik itu menghasilkan suara yang nyaring, sehingga terdengar indah.
Mata gadis itu terpejam, menikmati alunan musik yang ia buat sambil bersenandung pelan.
"Miku … lu kelihatan ma– eh kece," puji Len spontan.
Miku terdiam. Iris hijaunya menatap lembut iris biru laut milik Len. Jantungnya kini terpacu dengan kencang. Jujur saja, walau dia (pernah) mengatakan hal yang 'pedas' terhadap Len. Tapi hatinya justru akan semakin menyukai Len. Entah mengapa.
"T-terima kasih," kata Miku gugup sambil menundukkan wajahnya.
"Sama-sama," balas Len singkat.
Tanpa mereka sadari, kedua pipi mereka telah merona merah.
(Gitar)
Len menatap sinis. Ah, tidak! Jujur saja, Len tidak harus menatap sinis kearah Leon yang kini sedang mengajari Miku, karena sebenarnya Miku lah yang meminta Leon untuk mengajari Miku.
"Ah, kalau main gitar doang mah gua juga bisa," kata Len pamer. Jujur saja, padahal Len sebenarnya tidak terlalu bisa memainkan gitar.
"Coba mainkan!" seru Miku.
Leon memberikan gitarnya ke Len. Tangan Len kini memetik senar gitar tersebut secara perlahan, membuat alunan indah disetiap petikan gitar tersebut. Aneh, Len merasa aneh. Kenapa tiba-tiba saja ia menjadi hebat bermain gitar seperti ini?
"K-kakoi," puji Miku.
Sementara yang dipuji hanya bisa tersenyum gugup.
(Perhatian atau Kepo?)
Sebenarnya, Len Kagamine itu perhatian pada Miku. Banyak sekali pertanyaan yang selalu Len lontarkan ketika melihat Miku atau bertemu dengan Miku secara tidak sengaja.
"Miku, LCD netbook lu retak? Kenapa nggak dibetulin aja?"
"Miku, kenapa lu belum makan?"
"Miku, lu kan tadi ada pelajaran memasak, kenapa nggak bawain gua makanan?"
"Miku, kenapa lu bisa pinter?"
"Miku, lu tahu anime yang baru itu kagak?"
"Miku, kenapa foto profil FB lu mesti gambar anime? Kenapa nggak foto lu sendiri?"
"Miku, kenapa lu lebih sering ngasih contekan ke Kaiko dan Kaito dibanding ke gua?"
"Miku, kenapa lu itu bisa kelihatan manis?"
"Miku, kenapa lu itu kemana-mana mesti naik sepeda? Kenapa nggak naik motor?"
"Miku, kenapa jam 9 malem lu udah tidur aja?"
"Miku, kenapa lu itu setiap kesekolah minum air kayak minum segalon?"
Jadi, sebenernya Len itu 'perhatian' atau 'kepo-an'?
(Ganteng?)
Hari ini, Miku sedang chat-an dengan Len. Sebenernya sih Len yang nge-chat duluan. Pertamanya sih, Miku males buat balesnya karena sudah mengantuk. Tapi Miku rasanya berat hati juga buat nggak bales pesan dari Len.
Len Kagamine: Gua itu ganteng dan baik hati loh, Mik :D
Miku Hatsune: Pengen banget dibilang ganteng ya? :p
Len Kagamine: Pengen lah!
Miku Hatsune: Iya, dah. Len ganteng. Tapi saya cuman ngasih pujian sekali doang loh ya ._.
Len Kagamine: Nggak apa-apa kok :)
Tanpa Miku sadari, sosok seseorang ditempat lain nampak berbunga-bunga membalas setiap chat-an yang Miku kirim.
(Status)
"Mik, lu bikin status tentang gua yang males kerja kelompok gegara becek itu ya?" tanya Len dengan nada mengintrogasi.
"Emang ya? Kapan aku buat?" tanya Miku balik sambil tersenyum polos.
"Ah, palingan Len merasa status tentang orang yang takut becek buatan lu itu buat Len," kata Gumi dengan nada datar. "Intinya, Len mengakui kalau dirinya waktu itu takut becek."
Len langsung kicep. Muka Len pun langsung memerah seketika.
(Tidur)
Hari ini, Miku Outing Class atau yang bisa kita sebut seperti tour. Entah gerangan apa Miku kembali sebangku dengan Len dibus.
"Kalau lu ngantuk, tidur aja dipundak gua," ucap Len.
Entah karena sihir apa, Miku mengangguk dan kemudian tidur dipundak Len karena saking lelahnya. Apalagi, hari kini telah malam.
Tanpa Miku sadari, jantung seseorang nampak sedang berdetak dengan cepat.
"Dasar jantung berisik," gumam orang itu ketus, diiringi dengan muka lelaki itu yang kini telah memerah.
(Bengong)
Miku berjalan bengong. Jujur saja dia merasa capek. Jarak antara hotel dengan tempat parkirannya cukup jauh.
"Neng, awas!" seru seorang tukang becak.
Sett! Dengan lihainya, Miku berhasil menghindari becak tersebut. Nyaris saja ia tertabrak becak.
"Makanya kalau jalan tuh lihat-lihat," kata Len dengan nada meledek.
Miku pun hanya bisa mengembungkan kedua pipinya.
(Pendek)
"Wah, anak sekolah LHS memang keren ya dengan almamaternya. Seperti anak kuliahan," puji seorang pegawai disebuah pabrik gula yang mereka kunjungi.
Semua murid langsung tersenyum bangga.
"Tapi kok yang pendek itu rasanya kurang cocok ya?" lanjut pegawai itu.
Len yang merasa ditunjuk pun itu hanya bisa ngedumel.
"Makanya, jangan jadi pendek," ledek Miku sambil menepuk bahu Len.
Kini Len berjanji, agar bisa tumbuh lebih tinggi dari sekarang. Ingat, tumbuh itu keatas! Bukan ke samping!
.
.
.
Jika kita menyukai seseorang, maka kita tidak akan pernah bisa untuk membencinya. Karena sekeras apapun kita mencoba untuk membenci orang yang kita sukai, maka hati ini masih akan tetap mencintainya. Benar begitu? ^^
.
.
.
Wah, sudah berapa lama ya nggak ngelanjutin? Maaf ya belum sempet update, soalnya bulan kemarin itu jadwalnya cukup padat. Apalagi banyak ulangan dan Try Out yang nggak jelas kapan munculnya itu.
By the way, bagaimana ujiannya? Susah kah? Kalau saya sih lumayan, gampang baca soal tapi susah buat jawab soal. Hehehe …
Last words, thanks for reading! ^^
