Disclaimer © Masashi Kishimoto

Rate : M

Warning : Au, Freak, Gaje, Abal, OOC.

.

.

-L.A Lights-

.

.

Dua pemuda bersurai terang dan gelap, tampak sedang menikmati sore hari dengan menghabiskan waktu di sebuah pelabuhan. Nampak raut wajah malas terpampang di wajah Uchiha Sasuke, ia berkali-kali mendengus sembari menyenderkan punggung tegapnya pada sebuah tiang. Sedangkan sang sahabat sepermainan menaruh kedua tangannya di pagar yang membatasi dirinya dengan lautan juga kapal-kapal yang berlalu lalang-entah pergi atau baru kembali.

Safirnya menatap sayu air lautan di bawahnya, memandang pantulan dirinya dalam diam. Tak bedah jauh dengan sahabat berambut gelap. Kepalanya mendongak menatap langit yang kian menggelap dikala sang mentari mulai terbenam. Menyemburkan asap rokoknya kasar, Sasuke mulai jengkel akan keadaan ini.

"Cepat katakan apa yang mengganjal otakmu, Usuratonkachi? Aku tak punya waktu banyak." terdengar nada dengan sedikit geraman dari Sasuke, entah apa yang membuatnya tak sabaran kali ini. Menghisap rokoknya brutal secara terus menerus.

Naruto menoleh. Ia menelan ludah paksa, ia berharap dalam hati jika teman sepermainannya ini mempunyai solusi yang dapat sedikitnya membuat pikirannya yang berkecamuk selama tiga hari ini sedikit ringan. Yah, sudah tiga hari semenjak Jiraiya memberinya pertanyaan yang ia tak tau akan jawabannya. Dan si wanita musim semi masih dirumahnya. Lebih tepatnya sebuah alasan Naruto kepada seluruh keluarganya bahwa Sakura harus mendekatkan diri kepada mereka semua. Dan sangat kebetulan sekali jika sang ibu sama sekali tak keberatan, justru malah sangat bersemangat dan tampak senang.

Tapi apakah sang ibu akan tetap senang jika tau latar belakang Sakura?

"Kau pernah mencintai seorang atau tidak?" pertanyaan bodoh memang, tapi harus dipertanyakan demi menjawab semua yang hinggap dalam benaknya.

Alis Sasuke berkedut, ia membuang puntung rokoknya sekaligus menginjaknya gemas. Onyx-nya melirik Naruto penuh kekasalan. "Hanya itu yang ingin kau ketahui, Naruto?" Pemuda emo itu membuang panggilan sayang -dobe- lantaran geram setengah mati. Haruskah ia meladeni obrolan tak bermutu ini jikalau dirinya lebih memiliki waktu yang jauh lebih penting. Penting sekali.

Naruto menggaruk belakang lehernya sembari mengangguk polos, dan hal itu malah membuat urat-urat kekesalan tercetak di jidat Sasuke. Tapi ia mencoba merilekskan dirinya, mencoba meredam kekesalan pada Sahabat. Sasuke sadar betul jika yang di tanyakan Naruto pasti ada hubungannya dengan seseorang.

"Aku tidak pernah merasakan cinta. Tapi jika kau bertanya 'suka'. entah sudah berapa wanita yang kusukai" tidak puas akan jawaban dan peryataan dari Sasuke membuat pemuda blonde itu mendengus.

"Itulah masalahnya.." Naruto mengusap separuh wajahnya sembari menghela nafas. "Aku menyukainya. Dan aku mencintainya. Tapi.."

"Kau tak tau apa yang kau cintai dan kau sukai darinya 'kan?" Sambar Sasuke cepat. Kali ini ia menoleh menatap sepasang mata sebiru lautan sang Sahabat.

"Yah, kau benar!" Naruto menatap sekeliling. Mengmati satu persati orang-orang yang juga menghabiskan waktu sore di pelabuhan.

"Sebenarnya apa yang kau sukai darinya? Senyumnya? Wajahnya? Atau.." Sasuke berjalan menghampiri Naruto, ia memposisikan tubuhnya di samping si pirang. Onyxnya menikmati pemandangan yang tak pernah membuat siapapun bosan akan pesona tenggelamnya mentari.

"Atau.. kau suka Itunya?" sambung Sasuke datar, tak ada nada jahil atau apapun. Yang ia katakan murni sebuah pertanyaan pada semua kaum Adam. Cinta dan suka itu beda-beda.

Naruto membenamkan wajahnya pada tumpuan tangan. Ia tak tau harus menjawab apa. Jika boleh ia akan menjawab semuanya. Tapi jika ia menjawab semuanya. Maka itu bukanlah cinta, melainkan...

"Dan itu semua adalah Nafsu," ujar Sasuke sembari menepuk bahu Naruto. "Secangkir kopi mungkin akan menjernihkan otak jongkokmu itu," dan pemuda bersurai gelap itupun berjalan menuju motornya di ikuti Naruto. Kekesalannya hilang entah kenapa. Huh, persahabatan memang paling utama bukan.

-A Mild-

Haruno Sakura memainkan gadgetnya di depan kediaman Namikaze. Ia duduk di sebuah kursi dengan posisi agak miring dan kedua kaki naik diatas kursi yang ia duduki. Tampak sangat antusias meminkan barang elektronik itu. Yah, mungkin sekedar mengobrol dengan teman-teman serta menanyai adiknya dapat membuatnya tersenyum sendiri. Dan tentunya ia tak akan lupa pada seorang wanita yang-meskipun terlihat garang dan kejam-tapi memiliki sisi kebaikan tersendiri.

Siapa lagi kalau bukan Tsunade. Jika ia mengingat sering di marahi Tsunade saat pelanggan complain membuatnya tertawa. Semua memang kesalahnnya sih. Dan sebagai seorang Kupu-Kupu Malam -yang tak lagi junior- seharusnya ia bisa menuruti semua keinginan pelanggan. Tapi entah kenapa Sakura merasa jijik. Terlebih lagi prinsip yang ia pegang -pelanggan hanya membeli 'itu' dan tidak ada yang lain.

Bibir tipisnya melengkung membentuk sebuah senyuman saat email dari Tsunade yang berbunyi 'jika mereka berbuat yang macam-macam hubungi aku'. Senang memang mendapat email seperti itu. Tapi Sakura bosan juga sih, mengingat entah sudah berapa banyak email yang berbunyi sama dari Tsunade.

"Belum tidur, Sakura?" Sakura menoleh. Tersenyum ramah sembari menurunkan kedua kakinya, ia pun mengangguk.

Pria yang menyapa-Minato menggeser kursi dan duduk berhadapan dengan Sakura. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 lewat 30 malam. Naruto belum pulang dan Jiraiya pergi entah kemana an belum kembali. Sedangkan Kushina sudah tertidur. Dan anak sulung juga sudah tertidur lantaran kecapean habis bekerja.

"Sakura! Boleh aku tau sedikit mungkin. Tentang, kau, Naruto, dan..." Minato berhenti sembari menggeleng. Ia kemudian tersenyum ramah, menatap sepasang emerald wanita di hadapannya ini. "Yah, tentang kau dan Naruto"

Rona kemerahan tampak samar-samar terlukis di kedua pipi putihnya. Minato yang melihat itu hanya terkekeh kecil. Dilihat dari gelegat dan respon Sakura, sudah jelas jika wanita di hadapannya ini menyuka-ah tidak, mencintai mungkin.

"Jadi?" Masih dengan senyuman menawan tapi jahil bagi penglihatan Sakura. Minato bertopang dagu dengan tangan kirinya sedang tangan kanan mengetuk-ngetuk meja.

"Ah.. haha. Bagaimana yah! Aku bingung mau mulai darimana," Sakura tak tau harus memulai darimana. Memangnya apa yang harus ia ceritakan.

"Terserah darimana saja tak apa" ujar Minato.

Sakura hanya mengangguk dan mulai menceritakan apa saja yang pernah ia alami dengan Naruto. Mulai dari hal-hal konyol dan lain sebagainya. Dan ia harus mati-matian membuat sebuah kebohongan tentang pertemuan mereka. Dan Minato hanya tertawa renyah dan sesekali tersenyum. Tentu pria paruh baya ini tau mana yang kebohongan dan tidak. Dan sejujurnya Minato merasa terhibur.

-A Mild-

Suara kemrisik air laut yang menyapu pasir, berpadu dengan kicauan burung-burung yang berterbangan disana. Langit tampak agak menjingga dikala sang surya kian tenggelam. Sapuan angin yang lumayan kencang menerbangkan pohon-pohon di pinggiran lautan.

Tampak dua muda-mudi yang berdiri kokoh menghadap luasnya samudra. Dua surai mencolok bergoyang-goyang sesuai irama alunan angin. Damai yang mereka rasakan, suasana tenang tanpa suara bising.

"Kau sering kesini, Naruto?" suara terlontar dari bibir tipis wanita permen karet. Ia sedikit menyelipkan rambut sampingnya kebelakang telinga di kala helaian-helaian itu mengganggu pandangannya.

Naruto menoleh sembari tersenyum lebar. "Jarang sih. Tapi biasanya aku dan Sasuke kadang-kadang kemari jika ingin." Kemudian ia melangkah kedepan. Menjejakkan kakinya pada air laut yang menyapu pasir putih disana.

Sakura ikut melangkah. Rok selututnya agak tersingkap-singkap oleh angin nakal. Berdiri persis disamping pemuda pirang seraya menaruh kedua tangannya di belakang punggung. Ah, lama juga ia tak pernah meluangkan waktu seperti ini.

"Sakura-chan,"

Sakura menoleh kesamping. Memberikan gumaman sebagai sahutan, alisnya naik satu mendapati kepala pemuda pirang itu menunduk kebawah, seolah ia sedang bercermin dalam air asin.

"Apa yang dirasakan orang jika..." Naruto meneguk ludah. Safirnya melirik sekilas Sakura. "Jika orang itu jatuh cinta." ahirnya lolos juga ucapan itu meskipun ia sempat ragu.

"Pertanyaan bodoh macam apa itu!" Sakura menjitak kepala Naruto hingga membuat pemuda itu meringis kecil. "Kau bertanya untuk dirimu sendiri atau untuk orang lain?"

"Untuk orang lain kok, hahaha"

"Bohong! Pasti untuk dirimu sendiri 'kan?" Sakura menekan dada kiri Naruto dengan jari telunjuknya, sedangkan tangan kiri berdacak pingang. Emeralnya menatap lurus sepasang shappire pemuda di hadapannya kini.

Naruto mengangkat bahu. Mengalihkan pandangannya pada pesisir laut. "Jika tak mau menjawab ya sudah deh. Ayo pulang." Naruto berbalik badan dan siap melangkah sampai bahunya di tahan oleh tangan Sakura.

"Jawab atau tidak? Kalau tidak ayo pulang, hari sudah mulai petang" Naruto mendongak seolah ia tak begitu peduli dengan pertanyaannya barusan, padahal dalam batinnya ia ingin pertanyaannya terjawab.

Hening dikala Sakura seperti sedang menimang-nimang sesuatu. Kemudiam ia mengangguk mantab.

"Ok, akan kujawab kok," Sakura menyerah dan berjalan kepinggiran. Roknya agak sedikit basah terkena cipratan air laut. Mendudukkan pantatnya di pasir diikuti Naruto yang duduk disampingnya.

"Jadi bisa jelaskan, Sakura-chan." Naruto menekuk lutunya sembari menyilangkan kedua tangannya diatas lutut sebagai tumpuan. Ah, entah kenapa paranoma lautan yang kian menggelap membuatnya tersenyum. Satu kata. Indah.

Sakura mengambil posisi nyaman. Ia duduk sembari merentangkan kedua kakinya. Tak perduli roknya kini kotor akan pasir. Menaruh kedua tangan di atas paha iapun mulai menjelaskan.

"Menurutku.. ingat Naruto! Ini menurutku." Melihat Naruto mengangguk tanda mengerti iapun melanjutkan. "Jika aku berdekatakan dengan orang yang kucintai aku akan merasa nyaman. Merasa tenang. Dan akan sangat betah berdua dengannya meskipun itu sangat lama. Berjumpa dan dapat menatap wajahnya sekilas entah kenapa membuatku senang." tanpa terasa guratan rona kemerahan mulai menjalar di pipi putihnya.

Naruto mengangguk, manik birunya melirik kesamping. Menatap wajah cantik yang tersorot cahaya jingga dari sang surya yang mulai menghilang di ujung samudra sana. Tersenyum kecil mendapati rona kemerahan di pipi Sakura.

"Apa hanya itu Sakura-chan? Tak ada lagi kah?"

Sakura menggeleng cepat hingga surai-nya bergoyang-goyang. "Kan sudah kubilang jika itu menurutku. Entah apa menurutmu dan menurut orang lain jelas berbeda-beda." Ia mencubit gemas hidung Naruto hingga hidung pemuda itu memerah. Uh, pasti sakit itu.

"Huh.." Naruto mendesah sembari berfikir. Memang benar yang ia rasakan ada dalam penjelasan Sakura. Tapi.. entah kenapa seperti masih belum cukup, dia ragu.. dia takut.. Naruto takut jika yang ia cintai bukan hatinya. Melainkan fisik dan lain sebagainya.

"Lalu siapa kiranya lelaki yang kau cintai Sakura-chan?" Tak sopan memang. Tapi pertanyaan kali ini membuat Naruto meneguk ludahnya berulang kali, harap-harap cemas.

"Ke-kenapa kau tanya seperti itu baka!" Sungguh ia tak habis fikir akan pemikiran Naruto. Bisa-bisanya menanyakan hal pribadi seperti itu dengan wajah super polos.

"Tak tau." Langit mulai menggelap. Dan wajah yang sedari tadi Naruto lirik sudah mulai tersamarkan akan kegelapan. Meskipun gelap tapi keduanya masih enggan untuk beranjak.

Kepala merah muda itupun menoleh, menatap wajah berkulit tan yang menatapnya juga. Entah apa exspresi yang Naruto pasang kali ini ia tak tau lantaran tersamarkan oleh kegelapan. Ucapan 'tak tau' membuatnya bingung. Siapapun pasti juga bingung mendapati jawaban seperti itu. Apalagi suara Naruto saat mengeluarkan kata 'tak tau' tampak aneh dan. Ah entah tak seperti biasanya. Apa karna burungnya? Pasti bukan. Sakura yakin pasti bukan karna burung.

"Kau kenapa, Naruto?" Ia memegang pipi kiri pemuda blonde itu sembari mendekatkan wajahnya. Dapat terasa hembusan nafas mereka yang beradu lantaran jarak yang cukup dekat. "Kau tiba-tiba jadi aneh sekali. Ada apa?"

Naruto menggeleng lemah dan tersenyum. "Entahlah. Aku pun tak tau." Sekali lagi jawaban bodoh yang membuat siapapun pasti bingung.

"Apa pertanyaanmu mengenai perasaan ada hubungannya dengan seseorang?" Kali ini wajah Sakura kian mendekat. Ujung surai merah mudanya menggelitik wajah Naruto saat angin nakal menerbangkan helaian demi helaiannya.

"Sangat sulit untuk di jelaskan, Sakura-chan! Dan aku ragu atas apa yang aku rasakan." Kepalanya mendekat, hidung mereka bersentuhan. Hembusan nafas mereka saling bersahutan.

"Kau tak boleh ragu atas apa yang kau rasakan baka!" Meskipun Sakura tak tau apa yang di pikirkan Naruto, ia mencoba untuk membuat pemuda itu yakin dengan apa yang dia rasakan. Tangan kanan putihnya mengelus pelan pipi Naruto, memberi kenyamanan bagi pemuda itu.

Naruto menutup mata, meresapi aroma tubuh Sakura yang tertangkap oleh penciumannya. Benar. Dia harus yakin dengan apa yang ia rasakan. Sakura masih menunggu akan apa yang terlontar dari bibir pemilik surai blonde itu. Ada rasa takut di hatinya jika apa yang ditanyakan Naruto tadi berhubungan dengan wanita yang entah ia tak tau. Dan bila itu benar... mungkin akan sakit yang ia rasa.

"Aku... mencintaimu, Sakura-chan." Bisikan serta terbukanya kelopak mata Naruto membuat bola mata Sakura melebar sempurna. Seolah ia tak percaya dengan apa yang ia dengar.

Belum sempat ia membuka suara, sebuah sentuhan lembut mendarat di bibirnya.

Senang... Sakura senang mendengarnya.

Tubuh mereka terjatuh diatas pasir dan berguling kesegala arah. Saling bergantian tindih menindih tanpa melepas sentuhan bibir mereka.

Dan rembulan yang mulai nampak menyinari dua pasangan muda-mudi yang berguling di atas pasir. Seolah sang dewei malam ikut tersenyum akan apa yang dirasakan keduanya.

-A Mild-

Sang Ibu rumah tangga bersurai merah mendudukkan dirinya di sebuah sofa ruang tengah. Ah, pekerjaan rumah memang sangat melelahkan. Seandainya Sakura atau Fuka ada pasti ia tak akan selelah ini dalam mengerjakan pekerjaan rumah.

Ibu paruh baya tapi masih cantik itu menguap. Ia bosan karna tak ada teman untuk di ajak ngobrol. Suaminya entah kemana. Ayah mertuanya sedang mengerjakan sebuah novel mesum dalam kamarnya. Kushina merasa bosan.

Sampai maniknya mendapati sebuah barang kotak kecil yang berada di samping sofa yang ia duduki. Menatap cukup lama sembari mengingat apakah itu benda punyanya atau tidak. Diraihnya benda berwarna pink bergambar hello kitty, yang tak lain adalah ponsel.

"Milik siapa ini?" Ibu cantik memutar-mutar ponsel yang ia pegang. Kemudian Kushina mengangkat bahu dan akan menaruh ponsel itu kembali sebelum sebuah panggilan membuatnya menatap ponsel pink itu kembali.

Menimang-nimang apakah harus di jawab atau tidak. Tak mungkin kan jika anak laki-lakinya mempunyai ponsel pinky. Lalu siapa? Fuka kah, atau Sakura! Tak mau banyak pikiran ia pun menggeser tombol hijau sembari menaruh di daun telinga. Siapa tau penting bukan.

"hey Sakura! Duh aku kangen sekali lho.. sebentar lagi masa kontrakmu akan habis 'kan? Kalau tak salah 7 hari lagi, atau 8 hari lagi, atau 9.. ah itu tak penting. Oh ya Sakura. Aku ingin bertanya sesuatu yang sangat-sangat membuatku penasaran. Boleh kan?"

Mulut Kushina terbuka lebar. Mencoba mencerna ucapan yang mirip gerbong kereta api itu. Tapi ada sesuatu yang aneh. 'Kontrak, kontrak apa?' Batinnya tak mengerti, sampai ia tersadar dikala sebuah suara dari seberang telfon sana yang memanggil nama 'Sakura'.

Yah, ini ponsel Sakura.

"Kenapa kau diam saja sih.. menyebalkan. Ok aku bertanya dan jawab yaachh.. ummb. Pemuda blonde yang mengontrakmu itu apa selalu 'minta' setiap hari? Dan kalian sehari melakukan 'itu' berapa kali?"

Kushina menangkap sesuatu yang ganjil. Ia mencoba menyambungkan ucapan demi ucapan yang ia tangkap. 'Kotrak, pemuda blonde, minta tiap hari, melakukan itu berapa kali' Kushina tercekat.

Tanpa pikir panjang jemari ibu cantik itupun menekan tombol merah dan sambungan berahir. Entah kenapa kepalanya terasa pening. Ia tak akan kaget jika anaknya sudah pernah melakukan hubungan yang tak seharusnya dengan seorang wanita mengingat kelakuan mesum turun dari kakeknya. Tapi serasa ada yang kurang. Sebuah kata 'kontrak' membuatnya merasa ada yang kurang. Tapi apa?

Ditatapnya ponsel pink itu sembari mengangguk entah kenapa. Di otak-atiknya barang elektronik itu dengan cepat. Menelusuri percakapan demi percakapan dalam pesan singkat. Matanya bergerak-gerak cepat membaca setiap isi yang ia baca. Nafasnya mulai memburu, keringat di dahinya mulai nampak.

Jangan..

Jangan..

Karna Kushina terlanjur-

"Dia pelacur"

-suka dengan Sakura.

Kekecewaan yang nampak terlihat dikala ia sudah sangat menyukai dan merasa cocok dengan wanita muda itu. Sampai sebuah rahasia membuatnya linglung. Anaknya, Naruto dan Sakura membohonginya.

"Mereka bukan kekasih." Kelopak mata ibu cantik itu tertupup sembari menetralkan nafasnya yang memburu. "Dan Naruto hanya menyewanya." Makin pening kepalanya saat mengetahui anaknya menyewa seorang pelacur yang entah untuk apa ia tak tau.

Dan ibu cantik itupun tak tau apa yang harus ia lakukan setelah Naruto dan Sakura kembali. Ia bingung memikirkan jawaban -untuk apa Naruto menyewa seorang pelacur? Hanya itu. Dan ia kecewa telah di bohongi.

Terlebih lagi ia terlanjur Suka dengan wanita bersurai musim semi itu. Hah, masa depan memang tak bisa di tebak.

Benarkan Kushina?

-TBC-

*Gubrak* maaf Author kepleset minyak goreng. Entah berapa chap lahi ini sellesai. Hehe. Kemarin saya tanya pada pacar saya tentang rasa dengan orang yang id sukai. Dan itu deh yang aku tulis untuk penjelasan Sakura adalah penjelasan pacar saya. Yah bagimanapun saya adalah pria. Dan tak akan tau isi hati wanita. Jadi tanya deh. *nyengir kuda*

Maaf ya jika fic ini jelek dan gak nyambung sama sekali. lah, Author membuat cerita selalu dari kehidupan sehari-hari. Jadi yah jelek dan gak greget babar blass.

Ok makasih bagi yang membaca. Dan suka dengan fic saya.

.

-A Mild-

.

~REVIEWS~