Tidak ada seorang pun yang menikah dengan tujuan bercerai, bukan?

.

.

Hubungan Mei dengan keluarga Hyuuga tak pernah seburuk ini, pada awalnya. Sebagai arsitek independen, ia kerap bekerja sama dengan tim arsitek Hyuuga Property sejak ia menjadi runner up pada kompetisi desain yang mereka adakan. Dari sana ia menjadi dekat dengan cucu dari sang direktur utama, yang sejak semula menaruh perhatian lebih terhadap dirinya. Bahkan kerja sama itu hingga ke luar negeri, salah satunya—yang begitu membekas dalam ingatannya—yakni saat menggarap proyek pembangunan perumahan di daerah pegunungan terpencil di Italia.

Hyuuga Hiashi, selaku wakil direktur utama dari perusahaan yang bergerak dalam bidang konstruksi dan properti itu tak harus mengikuti jalannya proyek tersebut. Namun entah bagaimana Hiashi turut dalam rombongan. Di sana ia dan Hiashi menjadi semakin dekat. Pun pernikahannya dengan Hiashi berlangsung di sana, di kapel sederhana di daerah pedesaan Italia, tanpa persiapan selain berbekal keyakinan, berbumbu sepasang cincin platina bermodel polos.

Masih segar dalam ingatannya, begitu ia dan Hiashi kembali ke Jepang, tetua Hyuuga memberikan sambutan secara pribadi di ruangannya. Ia dan Hiashi dipanggil untuk menghadap, namun yang ia terima adalah sepasang sepatu yang dilayangkan ke arahnya. Berbagai sumpah serapah ditujukan padanya, bahkan Hiashi tak terbebas dari amukan sang nenek, dan keributan itu berakhir dengan usiran. Tetapi kala itu ia tidak menangkap penyesalan pada diri Hiashi setelah mendapati kemurkaan sang nenek. Padahal Hiashi terancam kehilangan segala kemewahan yang dimilikinya sejak lahir.

Saat itu lah, untuk pertama kalinya, ia seperti melihat Hiashi terlepas dari kurungan emas yang selama ini membelenggunya. Jika digambarkan, sebelumnya Hiashi bagaikan berada di dalam sangkar tanpa pintu yang memasungnya dengan mata tertutup dan mulut terkunci, sedangkan sang nenek berdiri di atasnya tanpa memberikan pintu untuknya bebas. Satu-satunya jalan untuk terbang adalah dengan mendobrak jerujinya. Itu sebabnya ia bisa mengerti, dan Hiashi pun tak membiarkan dirinya merasa bersalah atas keputusan yang telah diambil bersama.

Dan ketika Hiashi memutuskan untuk kembali pada keluarga Hyuuga, bukan berarti ia tak curiga ada sesuatu di baliknya, namun Hiashi tak memberinya celah untuk mencari tahu. Pun Hiashi hanya bungkam, lebih memilih untuk mengubur segala masalahnya dalam-dalam.

Kini ia tahu, bukan hanya Hiashi yang menjadi korban atas keegoisan tetua Hyuuga. Rasa kehilangan yang begitu besar atas sang anak tunggal—mendiang ayah Hiashi—satu-satunya ahli waris keluarga Hyuuga saat itu, menjadikan sang nenek bagaikan manusia tanpa hati yang tega memisahkan Hiashi dari ibu dan saudaranya yang dinilai kurang sempurna. Pun ia kerap memaksakan kehendak kepada Hiashi. Tak sekali pun Hiashi diberikan kebebasan untuk memilih. Bahkan Hiashi harus mengubur mimpinya untuk menyalurkan bakat seninya dalam bermusik.

Namun paling tidak Mei bisa bertemu dengan Hiashi berkat arsitektur; wujud dari perpaduan sains dan seni yang tak lekang oleh waktu, ilmu yang menjadi awal dalam hubungan seriusnya dengan seorang Hyuuga. Kalau saja Hiashi mengambil studi dalam bidang lain, atau setidaknya hanya mempelajari manajemen bisnis, ia tak yakin pria yang kini telah menjadi pasangan resminya itu akan menaruh perhatian lebih terhadap karyanya, terutama kepada dirinya secara personal.

"Hyuuga … Hyuuga … Hyuuga…." Mei menggumam pedih. Dilepaskannya kacamata bacanya, lantas disekanya air yang meleleh dari matanya.

"Jika kau tak terlahir di keluarga itu, apa kau akan jauh lebih bahagia? Andai saja kau yang bersama ibumu, apa kau sekarang juga bisa tersenyum bahkan tertawa lepas seperti saudaramu—seolah tak ada beban yang mesti kau pikul?"

Ditutupnya perlahan buku usang yang usai dibacanya. Buku yang kemarin dititipkan Hizashi kepadanya. Sekarang ia tahu kalau itu adalah milik mendiang ibu Hiashi—wanita yang bahkan belum pernah dijumpai oleh suaminya. Kini muncul keinginan kuat yang seakan mendesaknya untuk segera mempertemukan Hiashi dengan saudaranya yang lain.

Teringat akan Hiashi, ia meninggalkan ruang kerjanya dan beranjak ke dapur. Didapatinya suaminya itu masih duduk di meja makan. Hari keempat Hiashi lepas dari heroin, dan kini pria itu sudah bisa memasukkan makanan ke tubuhnya, meski masih sedikit dan lama untuk mengunyah. Sebelum ia tinggal, Hiashi hanya bilang kalau lidahnya terasa kebas. Namun ia mengancam Hiashi agar menghabiskan sarapan yang ia buatkan.

"Jangan perlakukan aku seperti balita."

Mei terkekeh seraya menduduki kursi di seberang Hiashi.

"Dari tadi kau mondar-mandir terus untuk mengawasiku. Fokus saja pada proyek yang menunggumu."

"Percaya diri sekali kau, Hyuuga San." Mei tersenyum manis dengan pandangan terus terpusat pada sang suami, "Aku hanya ingin memastikan dapurku tercinta ini tidak menjadi kapal pecah saat hanya ada dirimu di dalamnya."

Hiashi tersenyum simpul sembari terus menunjukkan atensi pada makanannya, sebelum ia balas menatap Mei. Ia terdiam sejenak, lantas telapak tangan kanannya menangkup sebelah pipi Mei, menyapukan ibu jarinya pada jejak air di sana.

"Matamu merah dan bengkak—"

"Aa—kau yang membuatku kurang tidur semalam, dari tadi menguap terus."

"Istirahatlah kalau begitu."

"Tidak akan kalau tanpamu," bisik Mei dengan nada manja. Kedua sikunya ia tumpukan di meja, menyangga dagunya dengan tatapan mesra yang terarah pada Hiashi.

"Keh." Hiashi nyaris terbahak mendapati mata jernih Mei yang berkedip lucu setelahnya, "Jangan menggodaku."

"Kenapa kau merasa tergoda? Padahal aku tidak bermaksud," ucap Mei sok polos. "Apa pesonaku terlalu kuat?" Ia menggunakan jemarinya untuk menyisir rambut panjangnya, bergaya bak bintang iklan sampo anti ketombe, lantas menaik-turunkan alisnya.

"Astaga, aku masih makan, jangan membuatku tersedak," gerutu Hiashi yang kemudian meminum air putihnya. Ia harus mati-matian menahan tawa di tengah acara makannya yang ogah-ogahan.

Mei pun tergelak sendiri menyadari apa yang telah dilakukannya. Pagi ini ia hanya berdua dengan Hiashi, Miroku sudah berangkat ke kantor seperti biasa kendati sang bos kembali meliburkan diri, sementara Naruto belum ia jemput dari rumah Tsunade. Ia ingin lebih lama menikmati kebersamaannya dengan Hiashi, akan ia pikirkan nanti bila Naruto merajuk padanya.

"Good boy." Mei mengusap puncak kepala Hiashi begitu bubur di mangkuk suaminya itu tandas. Ia lalu membawa bekas peralatan makan Hiashi ke bak cuci, mengabaikan protes yang hendak dilayangkan pria itu atas perlakuannya.

"Jangan menyuruhku menjemput Naruto sekarang, aku ingin melakukan sesuatu dulu denganmu." Tanpa persetujuan, Mei menarik lengan Hiashi dan menyeret langkahnya menuju ruang santai, di mana seperangkat sofa dan televisi ada di dalamnya.

"Dari tadi kau berkata ambigu," gumam Hiashi, turut menduduki sofa, kemudian membaringkan tubuhnya berbantal pangkuan Mei. Kepalanya masih terasa pening, selain ia kurang tidur akhir-akhir ini.

"Apa yang kau desahkan malam itu?" tanya Mei tanpa basa-basi.

Hiashi nyaris tersedak ludahnya sendiri. Cepat-cepat ia bangun dan duduk bersisian dengan Mei.

"Terakhir aku menelponmu sebelum kau pulang dari Jerman," imbuh Mei melihat tatapan kebingungan Hiashi.

"Aku? Mendesah?" Hiashi bahkan tak percaya bisa mengucapkannya.

"Jangan pasang tampang bego begitu. Kau tahu apa yang ku bicarakan. Waktu itu tengah malam di sana, dan kau seperti terpaksa menjawab telepon dariku. Kalau kau memang tak pernah menyentuh Miroku, siapa yang bersamamu saat itu?"

"Aa—waktu itu aku mencoba mengurangi dosis, tapi sepanjang malam aku sakau lagi, dan akhirnya aku menyerah—!" Hiashi mengusap kepalanya yang baru saja dihadiahi pukulan Mei.

"Siapa suruh kau bergantung pada barang laknat itu. Kau merusak tubuhmu sendiri, dan kau juga sudah membuatku salah paham."

Kalau Mei mulai bawel, Hiashi bagaikan anak kecil yang sedang diomeli ibunya.

"Tapi kalau dipikir-pikir, desahanmu waktu itu seksi sekali, aku ingin mendengarnya lagi."

Entah Hiashi harus bersyukur atau justru sebaliknya ketika Mei mulai frontal, yang jelas ia kerap kali harus kuat-kuat menahan diri. Tetapi ia juga merindukan saat-saat mengobrol santai tanpa saringan seperti ini, yang biasanya akan berujung pada kegiatan ranjang. Bahkan Mei tak segan mengundangnya untuk melakukannya via telepon, pernah beberapa kali pada masa-masa awal pernikahan. Dan dengan mengingatnya sekarang ia jadi menginginkannya.

"Astaga, aku merintih waktu itu, bukan seperti yang kau kira."

"Kalau saja aku ada di sana, sudah ku terkam kau saat itu juga."

"Kau bicara seolah kau sang dominan."

"Kau menanggapinya seolah kau yang selalu berada di atas."

Keduanya lantas tergelak terbahak-bahak. Betapa mereka sangat bersyukur atas kesempatan yang membuat hubungan mereka menghangat kembali.

.

.

.

"Secara umum konsepmu lain dari konsep yang pernah dan sedang berkembang beberapa tahun ini," komentar Hiashi ketika ia melihat-lihat hasil kerja Mei.

Sebagai salah seorang pimpinan tertinggi Hyuuga Property, ia cukup berpengalaman lantaran perusahaannya membawahi beberapa pusat perbelanjaan yang besar. Sedangkan Mei dikontrak untuk sebuah desain mall berukuran sedang.

"Kalau saja kita bisa bekerja sama lagi…."

Mei yang berdiri di belakang Hiashi masih bisa mendengar gumaman itu. Ia menyimak apapun komentar untuknya, selagi kedua tangannya tak berhenti mengeringkan rambut basah Hiashi dengan handuk. Dirasa cukup, ia mengalungkan lengannya di leher Hiashi dan menumpukan dagunya di puncak kepala yang masih tertutup handuk itu, turut memerhatikan kembali karyanya yang dinilainya sudah fix.

Ia melonggarkan pelukannya ketika Hiashi mendongak berbantal sandaran kursi, menatapnya tepat di kedua matanya, mengundangnya untuk semakin mendekatkan wajahnya.

"Ah—"

Belum juga ia menyambut undangan menggiurkan itu, bel rumahnya berbunyi. Ia masih bisa mendengar suara dengusan Hiashi ketika ia menyeret langkahnya untuk membuka pintu.

Sepeninggal Mei, Hiashi tertarik pada sebuah buku bersampul cokelat di ujung meja. Ia baru tahu Mei memiliki buku yang tampak tua itu. Disertai rasa penasaran tinggi, ia membukanya.

Sementara itu Mei kembali dibuat terkaget atas kedatangan Hizashi. Kali ini ditambah kenyataan bahwa pria yang berdiri di hadapannya itu adalah saudara kembar suaminya. Melalui interkom, ia memang sudah tahu kalau tamunya adalah Hizashi, namun ia bingung bagaimana menyambutnya.

"Aku belum menyimpan kontakmu, jadi aku harus datang lagi untuk menanyakan jawabanmu atas tawaranku kemarin." Hizashi tersenyum di akhir kalimatnya, menampakkan giginya yang kurang rapi. Namun mendapati Mei yang belum menunjukkan reaksi berarti, ia berubah canggung seraya mengusap tengkuknya, "Maaf kalau kedatanganku mengganggumu."

"Ah, tidak kok—silakan masuk."

Mei membimbing Hizashi ke sebuah ruangan berdesain semi tradisional, yang mana di dalamnya terdapat meja berkaki rendah dan bantal duduk. Ia mengambil tempat di seberang Hizashi, di antara kecamuk benaknya—memikirkan segala kemungkinan bila Hiashi menemukan ada seseorang yang serupa dengannya, dan kini sedang bersama pasangannya. Padahal ia belum sempat untuk mengutarakan tentang apa yang sudah dibacanya kepada Hiashi, juga perihal rencana Hizashi.

"Aku harap kau tidak berprasangka buruk akan maksudku." Hizashi sedang tak ingin berbasa-basi, "Ibuku menuliskan kalau Hyuuga Shachou mengambil Hiashi dari kami karena dia begitu menyayangi Hiashi, sedangkan dia menolakku yang cacat ini. Aku hanya ingin tahu sejauh mana dia mengenal cucu tersayangnya."

Mei memerhatikan tangan kiri Hizashi yang selalu terlapisi sarung. Ia masih ingat saat Hizashi mengatakan bahwa separuh tangan itu didapatkan melalui operasi selama masih tinggal di Saitama. Baginya tak ada bedanya dengan tangan orang-orang yang terlahir dengan fisik sempurna, hanya saja Hizashi tak pernah menampakkannya, dan sejauh yang ia tahu pria di depannya itu juga selalu mengenakan baju berlengan panjang.

"Sudah dua puluh tujuh tahun kami tak bersama, aku tak yakin bisa langsung akrab dengannya." Hizashi terkekeh, "Barangkali aku bisa lebih mudah untuk memahaminya jika mengenal latar belakangnya lebih dalam."

"Apa harus dengan menggantikan posisi Hiashi? Aku tak yakin kau tidak merencanakan apapun untuk nenek kalian."

"Yang ku khawatirkan terjadi—kau sudah bersangka yang tidak-tidak. Aku sadar tak seharusnya bermain-main dengan masalah ini, menilik usiaku sekarang pun tak cocok jika melakukannya. Tapi aku juga tidak pernah berpikir serumit itu, dan perlu kau ingat kalau aku tak dianggap sebagai bagian dari keluarga Hyuuga, jadi tak seharusnya kau menyebutku sebagai cucunya juga."

"Aku hanya ingin merasakan bagaimana berada di posisi adikku, merasakan secara langsung hidup di lingkungan keluarga yang begitu kolot dan penuh aturan, di mana tidak ada kebebasan berargumen di sana. Tapi yang utama, aku ingin tahu apakah dia bisa membedakan kami—jika benar dia begitu menyayangi adikku, itu pun kalau Hiashi setuju—"

"Jangan naif!"

Pintu geser di ruangan itu terdengar bergesek menyeramkan manakala dibuka dengan kasar. Mei tersentak dan serta-merta berdiri, terlebih begitu melihat sang pemilik suara yang tak lain adalah Hiashi. Sejak kapan suaminya itu berdiri di sana? Apa saja yang sudah didengarnya? Banyak pertanyaan yang bermain di benaknya.

Takut-takut ia melirik Hizashi, membandingkan reaksi keduanya di saat saling bertatap muka untuk pertama kalinya. Di matanya Hizashi tampak tenang. Berbanding terbalik dengan Hiashi yang memandang tajam dengan mata memerah, menyiratkan segenap emosi yang bercampur baur.

"Dan aku tak butuh kau kasihani," desis Hiashi penuh penekanan.

Mei hendak menengahi, namun ia pikir belum waktunya bagi dirinya untuk ikut campur. Ia masih berdiri kaku saat Hizashi bangkit dari duduknya tapi belum beranjak dari sana.

"Baiklah, lakukan apa yang kau mau—kalau perlu jangan memintaku untuk kembali. Tapi selama apapun kau di sana, kau tak akan pernah mengerti rasanya menjadi seorang Hyuuga Hiashi—tidak sama sekali, bahkan bila kau menukar seluruh sisa umurmu. Dan aku yakin anak mami sepertimu tak akan tahan menghadapinya."

"Lantas apa yang bisa ku dapat jika aku merelakan posisiku? Ibumu?"

Mei merasa seperti ada kerikil tajam yang menyumbat tenggorokannya, ditambah rasa sesak yang diam-diam menjalari dadanya.

Bagaimana caranya ia memberitahu Hiashi bahwa sang ibu telah tiada?

Hizashi masih bungkam ketika ia beringsut memeluk Hiashi dengan begitu erat, menyampaikan luapan rasa yang tak mampu ia ungkapkan.

.

.

.

"Kau tak akan ketahuan, asal kau tidak tersenyum di depannya."

"Dia tidak akan mendapatkannya."

Mei benar, Hizashi kini tampak semakin mirip dengannya setelah pria yang katanya adik kembarnya itu memiliki tatanan rambut yang sama dengannya. Beberapa saat lalu Mei mengajak Hizashi ke barbershop keluarga Nara yang masih satu kawasan dengan Terumi Design dan meminta Shikaku untuk memotongkan rambutnya.

Hiashi tak mengerti mengapa begitu mudah untuk menyetujui rencana gila saudaranya itu. Namun prioritas Mei adalah kepulihannya, sehingga pasangannya itu juga turut mendesaknya. Ia pun sadar akan berakibat buruk bila sakaunya sampai kambuh ketika ia masih berada di kantor. Bahkan waktu itu ia sudah merasakan gejalanya seperti mual dan muntah.

Dari balik tirai berserat tipis yang menjadi pemanis pintu menuju ke halaman belakang rumahnya, ia mengintip gazebo yang ada di dekat kolam ikan koinya, di mana Mei dan Hizashi tengah berbincang sambil menikmati teh. Salahnya bila ia tak bergabung bersama mereka, karena beberapa saat lalu ia memutuskan untuk menyendiri guna menenangkan hati dan pikirannya yang sempat kacau. Dari celah pintu, ia masih bisa mendengar semilir suara Mei dan Hizashi yang bersahutan.

"Ku perhatikan ada perbedaan paling menonjol dari kalian berdua. Kau lebih ekspresif, kau tak sulit untuk mengungkapkan apa yang kau rasakan, mudah mengutarakan apa yang kau kehendaki. Sedangkan Hiashi cenderung pendiam, tak jarang menekan emosi atau perasaannya. Dia juga begitu menyebalkan jika sudah mengubur masalahnya sendiri, sedangkan aku berusaha untuk selalu terbuka kepadanya."

"Tapi mungkin aku yang cerewet ini dikirimkan padanya agar kami bisa saling melengkapi."

Mei tertawa miris dengan ucapannya sendiri. Tentu saja yang menjadikan keduanya berbeda adalah latar belakang lingkungan keluarga yang saling bertolak belakang pula. Hiashi hampir tak pernah mendapatkan kebebasan, bahkan hanya untuk bersuara, yang nyatanya terbawa hingga kini.

Hizashi pun terkekeh pelan, "Kau mengaku cerewet—lucu sekali. Dan secara tidak langsung kau mengatakan kalau kita tidak cocok."

Hiashi merasa tak mungkin salah menafsirkan arti tatapan Hizashi terhadap istrinya. Namun ia tak akan membiarkan Hizashi juga menggantikan posisinya di hati Mei.

Kebahagiaan yang ku harapkan bisa jadi berdampingan dengan ketidakbahagiaanmu. Untuk itu aku tidak mampu mengharap kebahagiaan untuk diriku seorang. Aku hanya berharap kau menemukan kebahagiaanmu sendiri.

Hizashi menoleh ke arah pintu ketika ia merasa terus diawasi. Tetapi hanya tirai yang berayun pelan yang didapatinya.

"Kalau saja menikahi Miroku juga bisa diwakilkan…," gurau Mei, namun Hizashi tak menganggapnya demikian.

"Wanita itu sedang mengandung keponakanku, anak dari saudara kembarku, rasanya seperti diriku sendiri yang akan menjadi seorang ayah." Hizashi tersenyum getir, "Jika dengan begitu, kau bisa tetap mendampingi Hiashi, aku akan menggantikannya—itu pun kalau dia mau."

Mei terbeliak, tak menyangka bahwa candaannya yang ceplas-ceplos akan ditanggapi dengan serius. Ia sungguh merasa tak enak hati, "Tapi, Hizashi—"

"Aku tak yakin kakakku itu bisa hidup kalau kau menceraikannya," sambungnya disertai tawa kecil.

Setiap kali kau berada di dekatku, aku merasa sesak, dadaku begitu sesak bahkan hanya untuk meneguk air ini. Jika ini bisa disebut cinta, aku yakin hanya aku yang merasakannya. Hanya aku yang benar-benar jatuh cinta. Untuk yang satu ini, aku tak ekspresif seperti yang kau katakan.

.

.

Membiarkan cinta tak terucap adalah jalan tercepat menuju patah hati.

.

.

.


NARUTO milik Masashi Kishimoto, saya tidak mengambil keuntungan apapun dalam penulisan fanfiksi ini | AU | OoC? | fanfic tahun 2014 (milik sendiri) yang dirombak (publish langsung dari 1-10) | tidak bertema baik, segala keburukan bukan untuk ditiru | setelah Hiashi x Mei x Hizashi, sekarang kepincut + Miroku xoxo | generasi tua (?)