Disclaimer : karakter yang berada di cerita ini adalah milik Masashi Kishimoto loh.
Genre : Humor (sedikit mungkin), Romantice (sedikit mungkin), Hurt/Comfort.
Rate : M (untuk perkataan dll.)
Pair Utama :
-Sasuke U (20-) X Hinata H (19-),
-Naruto U (19) X Sakura H (19)
-Pair slight SasuNaru dan SakuHina.
Warning : typo (pastinya banyak), AU (tentunya), gaje, abal, pasaran, OOC, dll. Dan maaf ucapannya terlalu vulgar.
Summary : "Jika ayah dan ibu memang menginginkan anak dariku oke fine aku akan memberikannya pada kalian."."Kalau begitu buktikan jangan hanya bicara saja."."Baik akan aku buktikan tapi tolong berikan kami waktu sampai kami benar-benar bisa memberikannya pada kalian."."Oke. Ayah akan memberikanmu waktu selama 3 bulan."
Keterangan:
-("…") tanda petik dua adalah ucapan atau kata-kata secara langsung. Contohnya: "Naruto"
-('…') tanda petik satu adalah ucapan atau kata-kata dalam hati / kalimat yang diucapkan tapi berulang. Contohnya : 'Sasuke…'
-Kalimat dalam tanda kurung menjelaskan akan sesuatu. Contohnya : meninggalkan ayah Sasuke (Fugaku) sendirian.
-Kalimat dalam tanda kurung kotak (gak tau namanya) digunakan untuk penggunaan nama yang berbeda tetapi kalimatnya sama. Contohnya : "Naruto [Sasuke] tidak mau keluar dari kamarnya." (bisa dibaca; "Naruto tidak mau keluar dari kamarnya." Atau "Sasuke tidak mau keluar dari kamarnya.")
Notes : Bila kalian membaca satu kalimat dan di kalimat selanjutnya berubah nama jangan heran dan teruslah membaca agar kalian tahu. Misalnya kalian membaca kalimat sebelumnya diucapkan oleh "Naruto" dan ucapan selanjutnya diucapkan oleh "Sasuke" jangan heran ok karena ini fic aneh saya jadi teruslah baca.
.
.
.
Pagi hari pukul 10 di kampus Sasuhina. Tepatnya diperpustakaan tersebut kini seseorang yang bernama Hinata sedang berdiri di depan sebuah rak buku sambil memperhatikan satu per satu buku yang berada dirak tersebut. Jika kalian bertanya apa yang dilakukan Hinata maka jawabannya seperti yang sudah saya katakan. Hinata Hyuuga atau yang sekarang bernama Hinata Uchiha sedang memperhatikan buku-buku yang berada di rak didepannya tanpa ada niat untuk mengambil salah satu buku tersebut. Ingat Hinata hanya melihat-lihat saja.
Namun di tengah-tengah kegiatannya melihat-lihat buku diperpustakaan yang kosong ini harus terhenti saat dirinya merasa ada seseorang yang memperhatikannya sejak tadi. Menengok ke kanan lalu ke kiri hingga akhirnya Hinata melihat seorang anak kecil berusia 4 sampai 5 tahun sedang menatapnya dari balik kaki meja yang berada diperpustakaan dengan malu-malu.
Merasa masih diperhatikan oleh anak itu Hinata pun segera menghampiri sang bocah yang ternyata memiliki gender perempuan dengan perlahan. Semakin Hinata maju sang gadis kecil pun semakin bersembunyi di bawah kaki meja.
"Hey, kamu sedang apa?" Tanya Hinata yang sudah berjongkong di depan gadis kecil tersebut. Namun bukannya menjawab anak kecil itu semakin bersembunyi dengan malu.
"Jangan takut kakak tidak jahat kok." Ujar Hinata sambil menyentuh puncak kepala anak itu. "Nama kamu siapa?"
"Yumi." Ujar sang gadis tersebut saat Hinata mengangkat gadis kecil itu untuk digendong dipangkuannya.
"Oh, Yumi. Yumi sedang apa disini?"
"Yumi lagi liat kakak cantik." Jawab polos Yumi sambil menatap Hinata.
"Kakak cantik?"
"Iya. Kakak cantik, Yumi mau jadi kayak kakak." Ujar gadis itu lagi sambil menatap Hinata lebih dalam lagi.
Mendengar ucapan anak tersebut Hinata pun menjadi tambah menggemasi bocah dalam gendongannya. 'Oh Tuhan, anak ini menggemaskan sekali. Pipinya tembam, bibirnya kecil, mata bulatnya yang menggemaskan membuatku ingin memilikinya.' Batin Hinata sambil mendudukkan bocah itu di atas meja dan dirinya pun duduk di kursi yang berada tepat di depan bocah itu.
"Hinata?" Suara seseorang pria yang memanggil namanya membuat Hinata dan bocah itu menoleh bersamaan.
"Sasuke kemari cepat!" Ujar Hinata dengan semangat. Sasuke yang melihat sikap semangat Hinata pun langsung segera menghampiri sang istri sambil matanya melirik objek yang berada di depan istrinya. "Anak siapa ini?" Tanya Sasuke sambil menatap bocah perempuan berambut dan bermata hitam tersebut.
"Dia lucu kan Sasu. Aku mau punya anak seperti dia." Ujar Hinata tanpa menjawab pertanyaan Sasuke. Mendengar keinginan Hinata yang menurutnya aneh -karena terlalu cepat memutuskan keinginan tanpa pikir panjang- membuat Sasuke menaikkan alisnya.
"Anak?" Ulang Sasuke dan Hinata pun langsung mengangguk. "Dari siapa?"
"Sakura." Mendengar jawaban Hinata yang agak gila Sasuke pun memutar bola matanya sambil menghembuskan nafas.
"Hinata, Sakura itu perempuan mana mungkin dia bisa memberikanmu seorang anak." Ujar Sasuke. "Kau itu pasti pernah sekolah kan sebelum masuk kuliah? Seenggaknya kau tahu wanita dengan wanita tidak bisa hamil."
"Lalu aku harus minta dengan siapa dong?" Ucap Hinata sambil memainkan kedua tangan kecil sang gadis.
"Kalau kau mau kau bisa meminta padaku." Ujar Sasuke membuat Hinata menatapnya.
"Padamu?" Sasuke mengangguk. "Berarti aku harus melakukan 'itu' padamu dong?" Ucap Hinata sedikit lesu.
"Why?"
"Apa mungkin kita bisa? Kau dan aku kan bukan hetero tapi homo." Ucap Hinata membuat Sasuke terdiam.
'Apa benar aku ini memang homo. Tapi kalau iya kenapa perasaanku kacau saat bersamanya?' Batin Sasuke sambil menatap Hinata yang sedang asik bercanda dengan Yumi. 'Apa aku seorang bisek? Aku harus memastikan perasaanku sendiri. Apakah aku masih mencintai Naruto atau tidak. Ya, harus ku pastikan.'
"Yumi!" Suara seseorang yang muncul tiba-tiba membuat Sasuke dan Hinata menoleh lalu mendapati Ino sedang menghampiri mereka.
"Ino?" Gumah Hinata pelan sedangkan Sasuke hanya diam.
"Oh, hai Hinata, Sasuke." Sapa Ino sambil menatap Sasuke dengan pandangan mata yang dalam namun detik berikutnya Sasuke pun membuang muka dari penglihatan Ino.
"Hai, kau mencari Yumi?" Tanya Hinata yang mulai menyadari bahwa Ino sedang memperhatikan suaminya.
"Iya. Tadi aku bertemu Sanae- sensei. Katanya dia kehilangan Yumi dan sudah mencarinya sejak tadi. Rupanya gadis kecil ini berada disini bersamamu toh." Jelas Ino.
"Oh jadi Yumi anaknya Sanae -sensei?"
"Iya."
"Hinata kita pergi. Berikan anak itu padanya biar dia yang balikin ke orang tuanya." Ujar Sasuke datar sambil menarik tangan Hinata.
"Sasuke biar kita saja ya yang mengantar Yumi ya, ya, ya." Pinta Hinata dengan pandangan memohon.
"Baiklah ayo kita pergi." Ujar Sasuke dan langsung berjalan lebih dulu sementara Hinata berada dibelakangnya setelah sebelumnya menggendong kembali Yumi.
"Ino aku pergi dulu ya." Ucap Hinata dan langsung pergi meninggalkan Ino yang sedang terdiam menatap kepergian Sasuke.
Setelah kepergian Hinata dan Sasuke, Ino pun berjalan menuju pintu perpustakaan dan kembali menatap Sasuke dan Hinata yang sedang bercanda bersama anak kecil tersebut dikoridor kampus.
"Menatap keluarga bahagia, heh?" Ucap seseorang secara tiba-tiba dan membuat Ino segera mengahlikan pandangannya kearah lain. Kearah dimana seorang pemuda berambut merah dengan tato 'AI' sedang bersandar sambil melipat kedua tangannya dan menatapnya dengan intens (bener gak tulisannya?).
"Ga-Gaara!" Pekik Ino setelah menyadari siapa yang berada tidak jauh darinya. Pemuda berambut merah yang merupakan salah satu dari sekian banyaknya mantan-mantannya yang terdahulu. Ya Gaara Sabaku adalah mantan Ino Yamanaka.
"Lama tidak berjumpa Ino." Sapa pemuda bernama Gaara sambil mendekati Ino.
"Mau apa kau? Dan sedang apa kau disini!?" Tanya sengit Ino.
"Wow santai sayang. Seharusnya kau bersikap manis seperti dulu." Ujar Gaara sambil mencolek dagu Ino. "Aku disini sebagai siswa baru jadi kau jangan heran dengan keberadaanku disekitar sini."
"Jauhkan tanganmu dariku." Ujar Ino sambil menghentakan tangan Gaara dari wajahnya dan berlalu. Namun gerakannya terhenti saat sebuah tangan milik Gaara menggenggam tangannya.
"Oww, kenapa kau seperti itu padaku? Apa salahku padamu?" Ujar Gaara dengan lembut namun kelembutan Gaara berubah bersamaan dengan genggamannya yang semakin mengencang dan menyakiti pergelangan tangan Ino. Tanpa butuh waktu lama lagi Gaara pun mendorong tubuh Ino ke dalam perpus yang sedang kosong dan menyudutkannya dibalik sudut pintu perpus yang setengah terbuka.
"AKKHH..."
"Sssttt... jangan berisik. Aku kan hanya bertanya saja." Bisik Gaara sambil menempelkan tubuhnya dengan tubuh Ino. "Akh, aku tahu kau bersikap seperti itu karena kau masih menganggapku miskin kan?" Tambah Gaara sambil menggesek-gesekan bagian bawahnya pada bagian bawah Ino.
"Ga-ara." Lenguh Ino saat Gaara menggerakkan tubuh bagian bawahnya yang saling menempel (walau masih tertutup penghalang) dan itu membuatnya harus menahan sensasi geli yang aneh. "Menjauh dariku." Ujar Ino berusaha mendorong Gaara agar menjauh namun usahanya sia-sia saat kepala bersurai merah tersebut menelusup keleher jenjangnya dan mengendus serta mencium leher putihnya.
"Kenapa? Bukankah kau suka?" Tanya Gaara sambil menggigit leher Ino hingga berbekas lalu menjauhkan wajahnya saat mendengar pekikkan Ino. "Jangan bilang kalau kau tidak sudi dengan pemuda miskin sepertiku." Ujar Gaara lagi sambil mencengkram dagu Ino.
"Sakit~"
"Seharusnya kau tahu siapa yang membuatku menjadi miskin seperti ini. Kau... kau lah yang membuatku jatuh dalam kemiskinan dan dengan seenaknya kau juga meninggalkanku disaat aku membutuhkanmu."
"Itu bukan salahku, itu salahmu. Kau sendiri yang bodoh." Bela Ino.
"Oh, kau mengataiku bodoh. Ya, mungkin kau benar kalau aku memang bodoh. Tapi aku harus berterima kasih padamu Ino sayang." Ujar Gaara melepaskan cengraman Ino dan menjauh dari gadis pirang itu.
"Berterima... kasih?"
"Iya, terimakasih. Karena ulahmu yang membuatku jatuh miskin aku harus kehilangan hartaku dan juga orang tuaku karena terkena serangan jantung dan aku pun harus berahli profesi. Tapi tenang karena profesi baruku itu aku pun sudah menjadi kaya kembali. Dan hasil kekayaanku itu karena usahaku sendiri dan aku bebas menghamburkannya tanpa perlu mendengar ocehan orangtua ku lagi seperti saat aku bersamamu. Terimakasih karena sudah menghilangkan mereka dalam kehidupanku." Ujar Gaara yang terlihat seperti orang sakit jiwa.
"Mungkin sebagai imbalan untukmu kau mau aku berbuat sesuatu untukmu sayang?" Ucap Gaara lagi.
"Sesuatu?"
"Ya, sesuatu." Ujar Gaara sambil menarik kembali Ino kedalam pelukannya.
"Apa pun?"
"Iya. Apa pun itu." Bisik Gaara ditelinga Ino sambil sesekali menjilat telinga Ino.
"Baiklah. Kau lihat pemuda yang sempat kulihat tadi?" Tanya Ino yang mulai mengalungkan tangannya dileher Gaara sekaligus pertanda bahwa Gaara bukanlah seseorang yang berbahaya dalam usahanya mendapatkan kembali seorang Sasuke Uchiha.
"Sasuke Uchiha maksudmu?" Tanya Gaara.
"Kau kenal dia?"
"Iya. Beberapa hari yang lalu aku sempat bertemu dengannya dan teman-temannya juga. Dan salah satu diantara temannya membuatku ingin melakukan sesuatu pada temannya tersebut. Wanita indigo yang bersama dengannya tadi adalah tujuanku." Jelas Gaara.
"Hinata maksudmu?"
"Iya. Aku ingin melakukan sesuatu pada wanita itu tapi aku harus menyingkirkan pria itu karena besar kemungkinan pria itu akan menjadi penggangguku."
"Jika kau berani berbuat sesuatu padanya aku akan membuat perhitungan padamu lagi. Jika kau menginginkan wanita itu kita bisa bekerja sama untuk memisahkan mereka agar aku bisa mendapatkan Sasuke Uchiha dan kau Hinata Hyuuga. Kau mau bekerja sama denganku Gaara?"
"Demi tujuanku dan juga sebagai imbalan untukmu aku akan berkata iya." Ujar Gaara membuat Ino menyeringai senang. Dalam posisi mereka yang masih berpelukan satu sama lain membuat Ino mendekatkan wajahnya secara reflek.
"Bagaimana jika kita 'bermain' sebentar. Sudah lama kita tidak 'main' bersama kan Gaara?" Ujar Ino menggoda.
"Seterah dirimu sayang." Ucap Gaara yang langsung merangkul dan membawa Ino untuk pergi bersama dengannya. Pergi dari kampus menuju suatu tempat untuk mereka berdua habiskan bersama.
Di kampus Narusaku pukul 10 pagi kini seseorang dengan rambut pirang sedang bersembunyi di atas pohon sambil sesekali melihat-lihat situasi sekitar bawah pohon dengan duduk disalah satu ranting. Menghembuskan nafas lelahnya karena bermain kejar-kejaran di pagi hari merupakan hal yang menyebalkan bagi seorang Naruto Namikaze. Bagaimana tidak baru sampai dikampus dan berpisah dengan istrinya dia sudah harus bertemu dengan nenek gambreng alias Shion dan malah bermain kejar-kejaran dikampus besar ini. Sungguh malang nasib Naruto, padahal kegiatan yang dia lakukan kemarin cukup menyenangkan bersama sang istri, tapi kenapa sekarang dia harus sial seperti ini?
Bahkan dia berpikir bahwa kegiatan bersama istrinya semalam adalah suatu kegiatan yang sangat menyenangkan untuk dibayangkan apa lagi mengingat kejadian itu berlangsung dari pukul 7 malam hingga 3 pagi dari pada bermain kejar-kejaran seperti ini. Wow... Naruto harus berterima kasih pada obat perangsang sialan itu. Untungnya dia masih bisa bangun pagi tepat pukul 8 dan masuk kuliah bersama istrinya.
Saat sedang asik-asik bernafas lega sambil bersantai di atas pohon Naruto melihat beberapa orang yang dikenalnya sedang berada dibawah sambil membicarakan sesuatu mengenai komik yang dibawa oleh salah satu orang tersebut.
"... menurut kalian Conan bisa kembali ketubuh aslinya gak ya? Aku penasaran dengan siapa Big Boss dalam BO. Kira-kira menurut kalian Shinichi cocok sama siapa? Ran atau Shiho?" Ujar pemuda berambut coklat dengan segitiga terbalik sambil membaca komik tersebut. (Kiba)
"Entahlah, mungkin bisa. Aku gak tau siap Big Boss nya kalau ceritanya belum tamat. Kalau Conan sudah kembali seperti semula aku ingin Shinichi bersama dengan Shiho bukan Ran. Lebih cocok kan kalau Shinichi bersama dengan Shiho, sama-sama jenius walau berbeda bidang." Sahut wanita dengan cepol dua yang mulai duduk dibawah pohon tepatnya disamping Kiba. (Tenten)
"Mau Ran kriiuuukk... atau pun Shiho kriiuuukk... asalkan Shinichi nyaman kriiuuukk... aku setuju saja kriiuuukk... lagi dua duanya sama-sama cantik kriiuuukk... kriiuuukk..." Respon pemuda bertubuh besar. (Choji)
"Bagaimana dengan kau Shika?" Tanya Kiba pada pemuda berambut nanas yang sudah geletakan ditanah sambil memejamkan mata.
"Siapa saja. Toh dua duanya sama saja." Jawab Shikamaru lalu membuka kedua kelopak matanya dan menatap pohon diatasnya. Saat matanya terbuka sepenuhnya Shikamaru pun segera bangun untuk duduk dengan jantung yang memompa dengan kecepatan yang jauh dari kata normal.
"Kau kenapa?" Tanya Tenten yang melihat Shikamaru bersikap aneh.
"NARUTOOO! CEPAT TURUN!" Pekik Shikamaru masih sambil mengusap dadanya. Mendengar Shikamaru berteriak Kiba, Tenten dan Choji pun mendongak ke atas lalu menemukan seseorang sedang menatap mereka dan detik berikutnya orang tersebut langsung meloncat turun.
"Hehehe..." cengir Naruto.
"Apa yang kau lakukan di atas Naruto?" Tanya Kiba.
"Bersembunyi dari Shion." Jawab Naruto membuat semua manggut-manggut. Lalu pandangan Kiba menatap Shikamaru yang sedang menghela nafas.
"Kau kenapa Shika? Kenapa kau seperti habis melihat hantu saja?" Tanya Kiba lagi.
"Ya, aku habis melihat hantu dan bocah pirang ini lah hantunya!" Jawab Shikamaru kesal.
"Aku bukan bocah!" Ucap Naruto tidak terima.
"Tapi kenapa kau sebegitu kagetnya saat melihat Naruto?" Tanya Tenten.
"Bagaimana tidak kaget. Coba kalian bayangkan kalian lagi tidur asik-asik lalu saat membuka mata ada orang yang ngeliatin kalian dengan intens tepat dihadapan kalian? Kagetkan? Apa lagi tampangnya dibikin serem. Gila abis." (Nih author pernah ngerasain).
"Tapi kau kan tidak tidur." Ujar Naruto.
"Seterah kau saja lah."
"Naruto kriiuuukk... sepertinya pengganggumu kriiuuukk... datang lagi kriiuuukk... kriiuuukk..." ucap Choji yang sejak tadi asik dengan makanannya.
Mendengar perkataan Choji, Naruto pun langsung menatap arah pandangan Choji dan mendapati sosok Shion sedang berlari kearahnya sambil membuka lebar kedua tangannya.
"MY SWIPER!" Teriak Shion sambil menghampiri Naruto. Namun dengan cepat Naruto pun bersembunyi dibalik tubuh besar Choji.
"Minggir jelek!" Perintah Shion pada Choji.
"Jangan Cho!" Pekik Naruto lagi. Merasa dirinya menjadi tameng Naruto, Choji pun hanya dapat mendengus pelan sambil tetap memakam makanannya.
Kanan - kiri - kanan - kiri - kiri dan yap akhirnya baju Naruto pun terkena cengkraman Shion. Tanpa buang waktu Shion pun mendorong tubuh Choji dan langsung memeluk Naruto dengan senang.
"GYAAK... LEPASKAN AKU." Teriak Naruto membuat beberapa orang yang lewat didekatnya terdiam sejenak.
"Tidak. Tidak dan tid-eh?" Ucap Shion terpotong saat ada yang menarik bajunya dan membuatnya melepaskan pelukan Naruto dan berjalan mundur (efek dari tarikan dibaju belakangnya). "Siapa kau?" Tanya Shion saat melihat sosok pink yang tadi menarik bajunya.
"Sakura." Ucap Naruto senang saat melihat istrinya sedang berhadapan dengan Shion.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, siapa kau berani-beraninya meluk orang sembarangan!" Ujar Sakura sengit.
"Oh, kau tidak tahu. Aku adalah kekasih Naruto." Ujar Shion dan membuat Sakura menaikan alisnya.
"Oh ya?" Tanya Sakura tidak percaya, jelas saja Sakura tidak percaya toh suaminya kan seorang gay dan kekasih asli suaminya hanya seorang Uchiha yang bergender lelaki bukan seorang wanita atau perempuan.
"Iya. Kalau kau tidak percaya akan aku buktikan." Ujar Shion dan menyiapkan diri untuk mencium Naruto tepat dibibir. Namun sebelum ciuman itu terjadi Naruto sudah menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan Sakura dengan cepat menyeret Shion menjauh dari Naruto.
"Apa-apaan kau ini?" Ujar Shion tidak terima.
"Seharusnya aku yang berkata seperti itu apa-apaan kau ini! Apa seperti ini sikap dan sifat anak dari seorang INVESTOR terbesar kampus ini!? Heh, jangan buat aku tertawa. Sikap dan sifatmu lebih cocok sebagai wanita penghibur yang tidak pernah makan bangku sekolahan." Ujar Sakura sinis sambil menatap Shion.
"Kau... beraninya kau kepadaku wanita JALANG." Ucap Shion tidak terima atas ucapan Sakura.
"Heh, kau mengataiku jalang? Hello, semua juga pasti bisa melihat siapa yang lebih jalang dari pada aku." Ucap Sakura membuat semua orang yang berlalu lalang berhenti seketika karena mendengar pedebatan mereka berdua. Dan tidak jauh dari tempat mereka ada seseorang berambut merah sedang menatap adu mulut yang tercipta didekat pohon.
"Coba sekarang katakan padaku apa yang membuatmu menyebutku sebagai wanita jalang?" Ujar Sakura masih dengan nada sinis.
"Tentu saja karena kau telah berani mengalangiku untuk mencium kekasihku dan malah kau yang kini sedang asik mepet dengan kekasih orang! Apa itu tidak bisa dibilang wanita jalang yang suka merebut kekasih orang." Ucap Shion dengan keras sehingga membuat semua orang mulai berbisik tentang Sakura yang tidak-tidak.
"Wanita pink itu mengambil kekasih orang? Ckckck."
"Tega sekali."
"Aku harus menjaukan pacarku darinya sebelum diambil oleh wanita pink itu."
Dan itu lah pendapat dari sebagian orang yang mendengar ucapan Shion. Naruto yang mendengarnya pun mulai was-was sambil melirik Sakura.
Saat hendak membela Sakura tangan Naruto sudah lebih dulu dipegang oleh Sakura untuk memberi isyarat agar Naruto tidak ikut campur. Naruto pun diam kembali namun perkataan Shion yang selanjutnya membuat Naruto benar-benar kesal.
"Aku yakin kalau Naruto mengajakmu tidur kau pasti akan menerimanya dengan senang hati. Secara wanita jalang tidak akan ada yang menolak untuk tidur dengan lelaki lain kan!?"
"Shion ka-"
"Memang kenapa kalau aku mau tidur dengan Naruto? Masalah buatmu?" Ujar Sakura membuat Naruto menghentikan ucapannya.
"Heh, HEI SEMUANYA KALIAN DENGARKAN WANITA PINK INI BERKATA MEMANGNYA MASALAH KALAU DIA TIDUR DENGAN PEMUDA PIRANG INI. SEDANGKAN PEMUDA PIRANG INI ADALAH KEKASIHKU. APA ITU BUKAN MASALAH!?" Teriak Shion dan mendapat komentar lagi dari semuanya.
"NTR!"
"Aku tidak menyangka ada wanita seperti dia."
"Lihat pink semua orang mulai menghinamu karena ulahmu sendiri yang mencari perkara padaku. Sekarang terimalah rasa malumu yang berkepanjangan itu pinky." Ujar Shion dengan nada mengejek.
"Malu?" Gumah Sakura dengan seringai dibibirnya. "Untuk apa aku malu? Seharusnya kau yang malu."
"Aku? Kau bercanda pinky? Kau lah yang malu karena merebut kekasih orang." Ucap Shion dengan senyum kemenangan.
"Aku tidak akan malu. Kau lah yang seharusnya malu. Oke, SEMUANYA DENGARKAN AKU!" Ujar Sakura membuat semua menatapnya tidak percaya (karena mereka berpikir masih ada wanita yang dengan senang merebut kekasih orang secara terang-terangan).
"Kalian dengarkan semua ucapanku karena aku mau mengatakan pada perempuan pirang bernama Shion ini bahwa semalam aku baru saja tidur dengan pemuda yang disebut sebagai kekasihnya. Dan aku senang karena aku bisa tidur dengan kekasih orang." Ucap Sakura membuat semua orang tercengang mendengar pengakuannya yang terang-terangan.
"Lalu saat ini aku akan membuatnya tercengang lagi dengan apa yang akan aku lakukan. Bersiap-siaplah Shion sayang. Lihat apa yang akan aku lakukan bersama Naruto." Setelah mengatakan hal tersebut Sakura pun menarik wajah Naruto lalu mencium bibir Naruto dengan panas. Naruto yang awalnya kaget lama-lama mulai membalas ciuman Sakura. Selama ciuman itu berlangsung semua pasang mata mulai berbisik tentang kelakuan Sakura dan Naruto. Namun tanpa menghiraukan mereka Sakura pun semakin memperdalam ciumannya dan mengalungkan tangannya dileher Naruto dan Naruto pun melingkarkan tangannya dipinggang Sakura dan itu sukses membuat Shion murka.
Dengan kemarahan yang memuncak Shion pun menarik Sakura dari Naruto lalu menggerakan tangannya untuk menampar Sakura namun tangan Naruto menghentikan pergerakan Shion.
"LEPAS NARUTO! AKAN KU HAJAR DIA KARENA BERANI MENYENTUHMU. AKAN KU BUNUH DIA KARENA BERANI MENGAMBILMU DARIKU." Teriak Shion yang panas akan aksi Sakura yang menurutnya kurang ajar.
Naruto yang sudah merasa kesal membalik tubuh Shion untuk menghadapnya dan langsung memegang kedua pundak wanita itu.
"LEPAS NARU-"
"DENGAR! KENAPA KAU MARAH! KAU BUKAN SIAPA-SIAPAKU!" Bentak Naruto.
Seakan tidak perduli dengan bentakan Naruto, Shion pun kembali berteriak "KENAPA KAU MEMBELANYA!? KENAPA KAU MALAH MEMBALAS CIUMAN WANITA JALANG ITU!? KENAPA KAU TIDAK MEMBELAKU NARUT-"
"DENGAR! SAKURA BUKAN WANITA JALANG. WAJAR JIKA AKU MEMBELANYA BAHKAN MEMBALAS CIUMANNYA ATAU PUN TIDUR BERSAMA DENGANNYA. DIA ISTRIKU BUKAN WANITA JALANG, DAN SUDAH SEPANTASNYA AKU MEMBELA DIA. SEDANGKAN KAU... KAU BUKAN SIAPA-SIAPA AKU. KEKASIH PUN BUKAN!" Ucap Naruto membuat semua kaget dan hening bersamaan bahkan Choji pun menghentikan makannya.
"Ka-kau bilang apa? Istri?" Ucap Shion tidak percaya.
"Yap, aku istri Naruto." Ujar Sakura melangkah mendekati Shion seraya menyeringai dan memamerkan cincin yang digunakannya bersama dengan cincin yang Naruto gunakan (cincin pernikahan NaruSaku).
"Jadi untuk kalian semua, kalian boleh berpikir bahwa aku ini mengambil kekasihnya yang bernama Naruto-" ujar Sakura sambil merangkul pundak Naruto dengan kedua lengannya dari belakang (tinggi mereka sama) "-dan dengan seenaknya dia menyebutku WANITA JALANG. Lalu bagaimana jika dia yang mengambil dan menggoda suamiku-" ucapnya lagi sambil mengecup pipi Naruto mesra "-kira-kira apa sebutan yang pantas untuknya?"
Mendengar ucapan Sakura yang bisa membuktikan bahwa Sakura adalah istri dari Naruto dengan memunjukan sepasang cincin yang sama semua orang yang sempat mencela Sakura kini berbalik mencela Shion dan itu sukses membuat Shion kesal, marah, malu bercampur menjadi satu.
"Oh mungkin karena kau belum mengenalku makanya kau dengan gampang menuduh istri seseorang sebagai perebut kekasih orang padahal jelas-jelas orang tersebut adalah suamiku seseorang tersebut. Kalau begitu Shion... Shion siapa?" Ucap Sakura seraya berpikir (pura-pura).
"..." Shion kesel.
"Shion Miko." Jawab Choji.
"Akh, Shion Miko!" Pekik Sakura senang. "Ku pikir Shion NAMIKAZE" Ucap Sakura pura-pura cemberut. "Tapi biarlah. Nah, Shion Miko perkenalkan namaku Sakura NAMIKAZE dan aku adalah istri dari NARUTO NAMIKAZE." Tambah Sakura dengan kata penekanan dikalimat-kalimat tertentu dan uluran tangan pertanda ingin berjabat tangan.
Merasa sudah cukup untuk dipermalukan Shion pun menampik tangan Sakura dengan kasar seraya berkata "Kau... wanita sialan... kali ini kau bisa mempermalukanku didepan umum seperti ini. Tapi lain kali aku tidak akan membiarkan ini terjadi. Lihat pembalasanku pinky." Dan setelah berkata Shion pun pergi dari tempat itu.
"Ok semuanya boleh bubar." Ucap Kiba mengusir seluruh mahasiswa yang masih berkumpul didekatnya. "Nah Naruto jadi ini istri yang kau nikahi minggu lalu itu?" Tanya Kiba setelah semua orang sudah bubar.
"Ya, nama aslinya Sakura Haruno." Ucap Naruto memperkenalkan Sakura. Sakura pun tersenyum manis pada teman-teman Naruto yang nantinya akan menjadi temannya juga.
"Wah, istrimu cantik dan keren. Berani melawan Shion anak donatur terbesar kampus ini." Ujar Kiba. "Coba aku yang bertemu lebih dulu padanya. Pasti aku yang akan menjadi suaminya saat ini."
'Ya, dan kau akan menangis bila tahu kalau Sakura seorang homo.' batin Naruto tertawa.
"Ok, bagaimana kalau kita bercerita dikelas. Aku yakin Shion tidak akan berani masuk kelas untuk saat ini. Tapi jika dia masih punya muka sih tidak apa." Ujar Tenten dan mendapat anggukan dari yang lain.
"Tapi jurusanku berbeda dengan Naruto. Aku mengambil jurusan kedokteran jadi aku beda ruangan dengannya." Ucap Sakura.
"Yah, ku pikir Manajemen. Yasudah nanti saat pulang kita ngumpul-ngumpul saja ya?"
"Iya."
"Nah, Naruto silahkan antar Sakura menuju kelasnya. Kami akan menunggumu dikelas." Ujar Tenten dan mendapat anggukan dari Naruto. Setelah kepergian mereka sosok yang sejak tadi memperhatikan mereka kini mulai menjauh dari sana dan berjalan mencari sesuatu.
'Sikapmu yang santai saat berhadapan dengan orang lain membuatku salut Sakura Namikaze.' Batin orang itu yang tidak lain adalah Sasori Akasuna dengan senyum dibibirnya.
.
.
"AKKHH... WANITA SIALAN, PINKY BULUK KURANG AJAR!" Teriak Shion di dalam gedung olahraga sambil melempar dan menendang beberapa bola (baik basket atau pun bola tendang) yang berada diruangan itu hingga salah satu bola tersebut melayang kearah seseorang yang berdiri tidak jauh darinya.
GLEEP...
Untung sebelum bola basket tersebut mengenai wajah orang tersebut bola itu sudah berhasil ditangkap olehnya dengan mudah. Sasori Akasuna nama pemuda tersebut kini berjalan menghampiri Shion sambil memutar bola basket dijari telunjuknya.
"Percuma jika kau teriak-teriak tidak jelas seperti itu." Ucap Sasori membuat Shion menatapnya tajam. "Apa dengan berteriak seperti itu dia akan mendengarnya lalu meminta maaf karena sudah mempermalukanmu?"
"Diam kau! Kau tidak tahu apa-apa." Bentak Shion. Mendapat bentakan dari wanita pirang tersebut Sasori pun menghentikan acara memutar bola basket tersebut dan menatap Shion.
"Tidak tahu apa?" Tanya Sasori. "Tidak tahu betapa malunya dirimu saat mereka tahu kalau kau dipermalukan oleh istri dari orang yang kau cintai? Atau tidak tahu betapa kesalnya dirimu terhadap wanita itu?"
"..."
"Oh, kalau itu aku memang tidak tahu bagaimana malu dan kesalnya dirimu terhadap wanita itu."
"Kalau kau tidak tahu apa-apa lebih baik kau diam karena aku tidak butuh ocehanmu." Ujar Shion menunjuk wajah Sasori dengan telunjuknya.
"..." melihat Sasori yang terdiam menatapnya Shion pun berbalik untuk memunggungi Sasori sambil meremas jari-jarinya pertanda kesal.
"Yang aku butuhkan adalah menjauhkan wanita itu dari my swiper atau mungkin menghabisi wanita itu agar dia tidak berada di dekat Naruto. Setelah itu aku lah yang akan menjadi nyonya Namikaze selain bibi Kushina."
"Kau sangat terobsesi padanya? Bagaimana jika ku bantu?" Ujar Sasori membuat Shion kembali menatap Sasori dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kau mau membantuku?" Sasori mengangguk. "Kau yakin ingin membantuku untuk menghabisi wanita itu?" Tanya Shion lagi.
Mendengar pertanyaan Shion, Sasori pun memainkan kembali bola basketnya sambil membelakangi Shion "Tidak. Aku tidak berjanji untuk menghabisi wanita itu. Aku hanya ingin memisahkan wanita itu dari suaminya dan menjadikan wanita itu milikku."
"..."
"Jika kau mencintai pemuda bernama Naruto itu aku akan membantumu untuk mendapatkannya. Bagaimana? Kau mendapatkan Naruto dan aku mendapatkan Sakura." Ucap Sasori masih fokus pada bola yang berputar ditelunjuknya.
"..."
"..."
"Jika kau memang menginginkan wanita itu... baiklah. Aku terima bantuanmu." Ujar Shion membuat Sasori berbalik menatapnya dengan seringai diwajahnya.
"Ok. Deal?"
"Deal."
"Kalau begitu sampai jumpa lain waktu. Jika kau mencariku aku ada dijurusan kedokteran." Ucap Sasori dan langsung pergi sambil melemparkan bola basket yang berada ditangannya ke dalam ring basket. Dan bola itu pun masuk ke dalam ring dengan tepat.
"TUNGGU!" Teriak Shion sebelum Sasori pegi menjauh. "BAGAIMANA MUNGKIN AKU MENCARIMU DIJURUSAN KEDOKTERAN BILA AKU TIDAK TAHU SIAPA NAMAMU?" Teriak Shion. "SIAPA NAMAMU?"
"Sasori Akasuna." Ujar Sasori dan langsung pergi meninggalkan Shion seorang diri dengan raut wajah bingung.
"...?... Saori Rasa Tuna?" Gumah Shion sambil berpikir. "Nama yang aneh. Biarlah yang penting aku sudah tahu siapa namanya." Ujar Shion dan pergi melenggang dari ruang olahraga.
'Saori Rasa Tuna? Hihihi... lucu. Seperti orangnya.'
.
.
.
.
.
TBC...
.
A/n : hai semua! Ketemu lagi dengan saya. Bagaimana dengan chapter ini?
Maaf ya telat updatenya. Soalnya ada beberapa masalah dan alasan sampai mengapa saya tidak update. Dan maaf bila banyak kesalahan dalam cerita terutama kata-kata kasar saat adegan perdebatan Shion dan Sakura. Maaf juga jika ceritanya makin lama makin jelek dan ngaco.
Jika dichap 5 Sasuke yang kesal dengan pemuda pengganggu Hinata maka disini Sakura yang agak kesal dengan kelakuan Shion pada Naruto. Lalu bagaimana bila Sasuke dan Sakura diganggu atau digoda orang lain?
Ikuti terus kisahnya.
Untuk chapter depan ada yang punya usul ceritanya mau yang kayak gimana terhadap kedua pair tersebut dan para pengganggunya? Pendapat kalian akan saya pertimbangkan jika memang cocok untuk jalan cerita ini.
See you next chap "I am Straight"
Thanks for : astia morichan, immanuel febriano, HNisa Sahina, Rini desu, Hee - chan, sakurazaki momoka, chan, Red devils, frans, Little lily, Guest, Renita Nee-Chan, namikaza xblack, shintaiffah, Vany chan, chipana, eka dahliana 7, Watasiwakiki, Ksatria Kegelapan, re, Jasmine DaisynoYuki, hiru nesaan, miko chan, atan namjaelf, GDYJS, Ay shi Sora-chan, Luluk Minam Cullen, Hallow-Sama SasuHina Lovers, kira, Rias Aihara, NatsumeAoi, hinatauchiha69, Yuuna Emiko, altadinata, Aku, dinarock35, LemOn, kilat, Sh lOve, Sarlivia29.04.
Maaf jika ada yang tidak tersebut dan saya tidak sempat membalas reviwes kalian semua. Saya harap kalian gak bosan.
