Declaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Typos, etc.
The Birthday Party and Panda Present
Chapter 7 : New Hope
1 hari sebelum hari H
"Sasuke..bagaimana keputusanmu?" tanya Mikoto, ibu Sasuke.
"Bu, haruskah aku melakukannya? Kenapa ayah harus terburu-buru menyerahkan alih perusahaan? Aku masih sekolah Bu." sanggah Sasuke.
Permasalahan ini hanya membuatnya semakin pusing.
"Sasuke..ini hanya sementara. Ibu mohon, hanya selama Itachi dalam pencarian. Kalau sudah ketemu, kau akan kembali ke kehidupanmu. Ok? Ibu janji, hal ini tidak akan lama." bujuk Mikoto dengan nada yg pelan.
"Bu.."
"Sekali lagi ibu mohon. Mengertilah.."
Sunyi meliputi mereka. Suasana antara memutuskan dan menanti jawaban.
"Aku mengerti. Tapi, yg tak kumengerti, kenapa ayah harus berhenti secepat ini?" tanya Sasuke.
"Fisik ayahmu melemah, Sasuke. Semalam, ayahmu menjalani rawat inap di rumah sakit. Ibu nanti akan menjenguk ayahmu." terdengar nada kesedihan dalam suara Mikoto.
"Tapi..baguslah kalau kau mengerti. Sekarang, berangkatlah sana!" perintah Mikoto.
#...#
"Pagi, Ino!" teriak Sakura. Kebetulan sekali mereka berpapasan saat berangkat sekolah.
"Oh..pagi, Sakura!" jawab Ino sambil menampilkan senyumnya.
"Kenapa tadi bengong aja?" tanya Sakura seraya mensejajarkan langkah mereka.
"Ah! Benarkah? Haha..aku tak menyadarinya." Ino terlihat salah tingkah sendiri atas kata-katanya.
"Mana ada orang sadar saat melamun, Pig." ejek Sakura.
"Haha..iya iya aku tau, Forehead."
Kalimat terakhir dari Ino menutup percakapan awal mereka pagi ini.
Hingga mereka tiba di gerbang sekolah, barulah Sakura angkat bicara, "Emm..Ino. Apa kau masih ingat janjimu untuk mendekatkanku pada Sasuke?"
"Tentu saja aku ingat. Memangnya kenapa?" Ino balik tanya. Entah kenapa ia merasa tak enak.
"Aku ingin kau mengajak kami makan siang bersama nanti di kantin. Bagaimana?" tanya Sakura penuh harap.
"Er..hmm..ba-baiklah."
"Terima kasih, Pig. Aku yakin kau tak akan mengecewakanku." Sakura memeluk Ino dan berlalu pergi meninggalkan Ino dalam kebimbangannya.
Perasaannya tak menentu saat ini, antara menepati janjinya pada Sakura dan menjaga perasaan Sasuke. Belum lagi perihal perasaannya pada Gaara, ia ingin menemui Gaara, mengingat biasanya Gaara menjemputnya, namun tanda tanda keberadaannya saja tak terasa oleh Ino, membuatnya
semakin gelisah. 'Apa yg harus aku lakukan?'
#skip time, jam makan siang#
Ino berjalan lunglai keluar kelasnya. Dan didapatinya teman pink-nya telah berada tepat di depan ruang kelas Ino.
"Kau terlihat semangat sekali, Sakura." canda Ino.
"Aku gugup, Pig. Bukan semangat." balas Sakura.
"Iya iya aku tau. Saking semangatnya jadi kelewat gugup deh. Khufufufu.."
"Diam kau, Pig!" Kini perasaan tak enak itu kembali lagi.
'Kenapa aku begini? Harusnya aku senang melihat temanku bahagia mendekati pujaan hatinya, tapi.. kenapa? Kenapa harus Sasuke? Apa aku masih belum dapat merelakan Sasuke? Sebenarnya kemana perasaanku yg sebenarnya memihak? Sasuke atau Gaara?'
"Ino..apa kau sudah memberitahu Sasuke?" pertanyaan Sakura membuyarkan pikiran Ino.
"Sudah."
#...#
"Gaara, kau sudah siap? Jangan lupa passportmu!" Temari memberi peringatan pada Gaara yg tengah bersiap untuk kepergiannya.
"Sudah." jawab Gaara.
"Kau tak ingin menemui teman temanmu untuk yg terakhir kali?" tanya Temari.
"Hn."
#...#
Seorang remaja laki laki tengah duduk dengan santainya di sebuah meja makan kantin. Menunggu seseorang yg ditunggu tunggu untuk menampakkan dirinya. Walaupun dibilang santai, sebenarnya ia tengah kewalahan karena menolak setiap gadis yg ingin duduk dengannya *poor Sasuke*
"Sudah lama menunggu, Sasuke?" suara itulah yg sedari tadi ditunggunya.
"Hn." Sasuke membuka matanya. Ia tak menyangka Ino membawa teman gadisnya.
'Dari tadi aku mengusir gadis gadis lain, tapi kenapa ia justru bawa temannya. Fiuh~.'
Ino dan Sakura mulai mengambil duduk mereka masing masing. Lebih tepatnya Ino dan Sakura duduk berhadapan dengan Sasuke. Mereka mulai mengeluarkan bekal mereka.
"Sasuke, perkenalkan! Ini Sakura. Dan Sakura, perkenalkan! Ini Sasuke." ucap Ino memulai percakapan di antara mereka. Dalam hati, Ino merasa berat karena harus memperkenalkan Sakura pada cinta pertamanya. Ia hanya berharap semoga apa yg dilakukannya tidak menambah dirinya
tertekan.
"Yoroshiku ne~" ucap Sakura sambil menundukkan kepalanya lantaran gugup. Sementara yg diajak berkenalan hanya diam saja dan melanjutkan makannya.
"Sasuke! Jawab dong!" perintah Ino sambil menatap onyx Sasuke. Berharap Sasuke mengerti dari siratan aquamarine Ino.
'Kumohon..sekali ini saja..' *yak, dan ternyata pangeran kita cukup mengerti maksud Ino saudara saudara*
"Doumo." jawab Sasuke.
Dan acara makan siang mereka berjalan dengan kidmat.
Tiba-tiba saja, Sasuke mengambil salah satu dango pada kotak bekal Ino.
"Sasuke! Apa yg kau lakukan? Itu milikku.." rengek Ino sambil mencoba meraih kembali dangonya dari sumpit Sasuke. Sementara Sasuke hanya tersenyum menyeringai. Namun akhirnya, dango itu berhasil masuk mulut Sasuke.
"Haah..Sasuke.." raut wajah Ino pun berubah cemberut.
Dan semua itu tak luput dari pandangan Sakura. 'Ino, sebenarnya sejauh mana hubunganmu dengan Sasuke? Kenapa aku tak mengetahuinya? Apa kau sengaja menyembunyikannya?' pikir Sakura.
"Haii.. Sasuke!" tiba tiba Shion datang dari arah yg tak terduga seraya menempel pada Sasuke. Sasuke hanya menepis setiap gerakan Shion padanya, berusaha tidak berlaku kasar pada wanita.
"Shion! Lepaskan tanganmu darinya!" gertak Ino kesal. Sebenarnya bukan hanya Ino, Sakura pun tak kalah geram dgn tingkah Shion.
"Oh, halo Bad Barbie..senang melihatmu di sini!" ejek Shion.
"K-kau-.."
"Shion! Pergilah dari sini! Atau aku bertindak kasar padamu." Potong Sasuke dengan aura membunuhnya. Tiba tiba beberapa laki laki mencari Shion, sehingga berhasil membawa
pergi Shion dari Sasuke. *reader:thor, siapa beberapa laki laki itu?, author:mana kutau, tanya
saja pada Shion(ditendang reader)*
"Ino!" panggil Sasuke untuk memastikan atensi Ino terfokus padanya.
Sasuke terlihat agak gugup mengatakannya, "Apa kau punya waktu sepulang sekolah?"
Ino berpikir sejenak. Bimbang antara memilih 'ya' karena memang ia punya waktu luang dan 'tidak' karena ingin menjaga perasaan Sakura. Sebagai pacar serta sababat, ia tak ingin mengecewakan keduanya.
'Apa yg harus kulakukan?' jerit inner Ino.
"Me-memangnya ada perlu apa?"
"Aku ingin mengajakmu pergi menjenguk ayahku." jawab Sasuke yg menatap penuh arti pada aquamarine Ino.
"Ayahmu sakit?"
"Sakit apa?" Sakura pun ikut menimpali. Dan sukses semua mata tertuju padanya. Pasalnya, sedari tadi gadis bermarga Haruno ini hanya diam saja.
Sasuke hanya menghela nafas, "Aku tidak tau."
"Baiklah kalau begitu..aku juga ingin menjenguk ayahmu." jawab Ino memberi kepastian.
"Sasuke, Sakura boleh ikut ya? Ayahnya juga dokter, mungkin bisa sedikit membantu.." tambahnya. Terlihat jelas Ino ingin mendekatkan Sakura dan Sasuke. Dan kata 'mengapa' itulah yg terngiang-ngiang di pikiran Sasuke. Ia harus minta penjelasan Ino untuk hal ini. Rencananya memperkenalkan Ino seorang terganggu.
"..."
"Mmm..Sasuke?"
"Terserah." walau Sasuke berat hati, toh, apa katanya tadi? Ayah Sakura dokter? Mungkin dapat membantu. *Sasukey..tak kusangka, kau dewasa sekali*dichidori*
"Terima kasih." jawab Ino dan Sakura bersamaan. Mungkin kali ini Ino harus belajar merelakan Sasuke. Ia tak bisa berbuat banyak untuk Sasuke. Sementara gadis yg disebelahnya ini punya
hal lebih yg bisa dilakukan. Lagian, mau bagaimana lagi, kalau sudah terjalin hubungan yg cocok antara orang tua, kemungkinan besar anakpun akan mengikuti.
'Aduh..aku ini berpikir apa siih? Kenapa aku berpikir seakan merelakan mereka? Aduuh..'
"Ah!" pekik Ino.
"Ada apa, Ino?" tanya Sakura.
"Aku ingat, aku masih punya urusan lain. Aku tinggal dulu, ya!?" kata Ino sambil mengemasi bekalnya.
"I-Ino?"
"Sudah ya..daagh!" Ino pun berlalu pergi. Meninggalkan Sasuke dan Sakura berdua. Namun, ia sempat menengok ke belakang hanya Ino menyampaikan 'maaf' pada Sasuke. Walau hanya sekedar raut wajah, tapi terlihat jelas di mata Sasuke, Ino sedang bersedih.
Dan Barbie itu, akhirnya menghilang dari pandangannya, meninggalkan berbagai macam tanya di benak Sasuke.
"Uhm..Sasuke! Kalau boleh tau, kenapa ayahmu bisa terjatuh sakit? Mungkin aku bisa sedikit menduga penyakit ayahmu." kata Sakura memulai pembicaraan dengan sebaik mungkin, berharap hal baik terjadi di antara mereka.
"Aku tidak tau, Haruno. Aku belum bertemu dengannya beberapa hari ini." jawab Sasuke. Ini kali pertama Sasuke menyebut nama Sakura. 'Kenapa margaku? Kenapa bukan namaku?'
Pembicaraan pun lebih sering didominasi oleh Sakura.
#back to Ino#
Ino berlari menuju ruang kelas Gaara, harap harap cemas apakah Gaara masuk sekolah atau tidak.
Sesampainya Ino di ambang pintu ruang kelas Gaara, didapatinya ruang kelas yg sunyi.
"Oh! Hai Ino!" panggil Naruto dari belakang Ino. Ino berbalik menatap lawan bicaranya dgn beberapa temannya.
"Ya?" jawab Ino.
Tapi, tak terlihat Gaara ada di kumpulan itu juga.
"Aa..kau pasti Naruto. Oiya, dimana Gaara?" tanya Ino to the point.
"Sudah kuduga, kau pasti mencarinya. Gaara keluar mulai hari ini." jawab Naruto.
"Aneh sekali kau sampai tidak tau. Kami kira kalian berhubungan." tambah Kiba yg mulai penasaran, apalagi gosip awal Gaara dan Ino masih jadi pembicaraan para siswa.
"Oh, begitu..terima kasih ya.." kata Ino berlalu pergi sambil menunduk. Ia pergi menjauh menuju atap sekolah.
'Kenapa ia tak berkata apa-apa? Hhh..sepertinya aku bukan siapa-siapa baginya.' memikirkannya, membuat hati Ino serasa sesak. Yang ia harapkan hanya seorang Gaara hadir di hari ulang tahunnya atau paling tidak, memberikan salam perpisahan.
Hari ini seakan tak memihak padanya. Bahkan angin semilir tak membantunya lebih baik. Mata aquamarine itu mulai menggelap, menahan bulir-bulir air yg siap jatuh setiap waktu.
"Hiks..hiks..kenapa rumit sekali?"
#skip time#
"Ino, darimana saja kau? Kami menunggumu sedari tadi." cerca Sakura ketika Ino telah sampai di arena parkir sekolah. Di situ, terlihatlah Sasuke yg siap memasuki kemudi mobil, sementara Sakura hanya berdecak pinggang lantaran menunggu si putri Yamanaka ini muncul.
"Maaf ya? Ada yg harus kulakukan tadi. Ayo! Berangkat!"
#skip time#
Sasuke, Ino, dan Sakura telah sampai di rumah sakit Konoha, tepatnya di depan salah satu ruang rawat inap rumah sakit. Sasuke membukakan pintu kamar.
"Masuklah!" perintah Sasuke. Mereka bertiga pun masuk dan disambut oleh Mikoto. Di sampingnya,
Fugaku, ayah Sasuke duduk di ranjang rumah sakit.
"Ayah! Ibu! Perkenalkan! Mereka Ino dan Sakura." kata Sasuke dgn isyarat tangannya.
"Yoroshiku~" sapa Ino dan Sakura bersamaan seraya tersenyum.
"Ano~ sebenarnya paman Fugaku sakit apa?" tanya Sakura. Kalau dgn orang tuanya ia bisa akrab, mungkin ia bisa lebih dekat dgn Sasuke.
"Hanya asma dan jantung lemah, Sakura." jelas Mikoto mengambil alih pembicaraan.
Terlihat gurat kesedihan ketika Mikoto menjelaskan.
"Hanya? Tapi penyakit itu berbahaya Bi-" sanggah Sakura.
"Terima kasih pengertiannya, Sakura. Jangan khawatir, dokter juga sedang berusaha." potong Mikoto yg berhasil membuat Sakura terdiam. Sakura mengerti dan menunduk. Dan suasana pun menjadi hening.
"Ano~.. Paman..Bibi, kami bawakan bunga, bunganya masih segar baru saja kami petik. Bunga semacam ini bertahan hingga tiga hari." Kata Ino sambil berjalan menuju meja kecil di dekat jendela kamar untuk menaruh bunga itu pada vas yg tersedia.
"Bila diletakkan di dekat jendela dan membiarkan angin masuk menerpa bunganya, harumnya akan tercium. Saya juga telah menambah vitamin bunga agar harum lebih lama." kata Ino sambil menata posisi bunga. Semua terdiam mendengar penuturan Ino, seakan tak ada kata lain yg
menenangkan selain kalimatnya.
"Saya keluar dulu, untuk mengisi air pada vas ini-"
"Ino! Bibi ikut." potong Mikoto sambil mengikuti Ino keluar ruangan.
Mereka berdua berjalan beriringan mencari washtafel terdekat.
"Ino.." Mikoto memulai pembicaraan. Ino hanya menoleh sebagai isyarat ia mendengarkan.
"Sebenarnya, selama ini Sasuke sering bercerita tentangmu. Sesuai apa yg diceritakannya, ternyata kau memang cantik." kata Mikoto sambil menampilkan senyumnya.
"Benarkah, Bi!?" tanya Ino tidak percaya. Ternyata orang tua Sasuke mengenalnya, dan itu semua karena Sasuke.
"Benar. Katanya..ia cukup bahagia mempunyaimu sebagai pacarnya. Dan rencananya hari ini ia ingin memperkenalkanmu pada kami seorang diri. Kami menunggu hari ini. Tapi ternyata ia membawa temannya yg lain. Bibi tak mengerti." jelas Mikoto panjang lebar dgn helaan nafas yg terdengar kecewa. Raut wajahnya juga sedikit berubah.
Di sisi lain, Ino tak menyangka Sasuke benar-benar serius mengenai hubungan mereka. Tapi kenapa ia merasa gelisah.
'Kenapa aku begini? Harusnya aku bahagia kalau Sasuke benar-benar serius.. Apa karena Gaara dan Sakura?' Ino jadi merasa tak enak. Ia semakin merasa bimbang.
'Lalu aku harus bagaimana? Aku harus menemukan jawabannya sebelum semuanya terlambat.' pikir Ino.
"Saya tak menyangka Sasuke berbuat seperti itu. Emm..mungkin ini salah saya Bi. Sasuke mengajak saya makan malam berdua, tapi saya juga merasa tak enak dgn Sakura, jadi saya mengajakknya makan siang bersama, hingga berakhir seperti ini..maaf ya Bi." kata Ino sambil menunduk minta maaf.
Untuk saat ini Ino merasa dirinya bodoh. Ia terlalu memikirkan perasaan orang lain hingga tak tau mau dikemanakan perasaannya sendiri. Ia benar-benar merasa seperti boneka Barbie, yg hanya menuruti permainan majikannya.
"Oh! Ternyata begitu ya? Tak apa kalau memang kau tidak tau. Ayo! Kita kembali ke kamar." ajak Mikoto pada Ino yg telah mengisi vasnya dgn air sepanjang pembicaraan tadi.
#...#
Suasana di kamar inap Fugaku berlangsung ceria. Berbagai candaan dan gurauan sering Ino lontarkan untuk menghibur ayah Sasuke. Tak jarang, Sakura maupun Mikoto juga membantu. Dan Sasuke bersyukur telah membawa Ino bersamanya. Andaikan mereka memperhatikan, mereka pasti melihat senyum Sasuke yg lumayan lebar(?)
#...#
Hari mulai menggelap. Sasuke mengantar Sakura dan Ino bergantian.
"Tadaima~.." teriak Ino sambil membuka pintu rumahnya yg tidak dikunci, menandakan rumah telah berpenghuni sebelum ia memasukinya.
"Ino..kenapa larut sekali?" tanya ayah Ino, Inoichi yg muncul dari ruang keluarga.
"Aku menjenguk seseorang yg sakit, yah.." jawab Ino.
"Tadi seseorang datang mencarimu. Karena kau tidak ada, ia hanya menitipkan boneka. Sudah ayah taruh di kamar-" belum sempat Inoichi menyelesaikan kalimatnya, Ino sudah berlari menuju kamarnya, tak mendengarkan teriakan ayahnya untuk makan malam. Yg memenuhi Ino hanya
harapan bahwa Gaaralah yg membawakan boneka yg dimaksud ayahnya.
BLAM
Ino menutup pintu kamarnya dgn keras saking terburu-burunya. Nafasnya memburu dan pandangannya meneliti setiap bagian dalam ruangannya. Ditemukannya sebuah boneka panda asing di atas bantalnya. Ino mendekatinya.
'Inikah? Lucunya..' pikir Ino.
Sesuatu menarik perhatiannya, selembar kertas kecil pada leher boneka panda.
'Apa ini? Nomor telpon?'
Tak pikir panjang, Ino segera mengambil ponselnya dan mengetik nomor yang tertulis dalam kertas itu. Menunggu beberapa saat untuk si lawan bicara mengangkat sambungannya.
"Halo?" suara yang ditunggu-tunggu Ino terdengar. Perasaan tegang pun berubah lega bercampur senang.
"Gaara? Kau kah itu?" tanya Ino
"Ino?"
"Ya. Ini aku. Kenapa kau tak bilang-bilang kalau akan pergi. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu." rengek Ino.
"Maaf, Ino, tapi aku sedang buru-buru." Mendengarnya Ino seakan ingin protes.
"Gaa-,"
"Ino..dengarkan aku!" perintah Gaara. Ino hanya terdiam, berharap ia mendapat berita baik dari Gaara atau apalah sekiranya yang dapat menghiburnya saat ini. Andaikan Gaara tak bicara seperti itu, mungkin Ino akan bercerita perihal keadaannya pada Gaara.
Dari ponsel Ino, terdengar Gaara menghela nafasnya seraya melanjutkan, "Ino..maafkan aku tidak bisa hadir di hari ulang tahunmu besok."
Ino mulai menangis. Ia benar-benar rindu sosok Gaara. Gaara yang menyebalkan dan Gaara yang menyenangkan. Sekarang, Gaara yang dimaksud akan pergi meninggalkannya.
"Ino. Aku janji kita akan bertemu lagi. Aishiteru-," tuut...tuut...tuut sambungan terputus.
Ino terkejut, ia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Gaara serius. Dan ini bukan mimpi. Inilah harapannya yang menjadi nyata.
"Aishiteru, Gaara."
Dan mulai saat ini, Ino akan menunggu janji Gaara. Malamnya, Ino mencoba untuk menghubungi Gaara, namun nomor yang dituju Ino justru tak terdeteksi. Walaupun begitu, Ino tidak marah. 'Aishitru' adalah penopang lika-liku hidup Ino saat ini. Ia hanya harus tegar dan setia menunggu.
TBC
R and R please?
Ada yang punya saran atau tambahan untuk chapter depan?
