Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Inspiring from Tea for Two by Clara Ng
Warning: AU, OOC, miss typos, dan sederet kesalahan lain
.
.
Itachi menyusuri koridor rumah sakit, mengikuti langkah seorang petugas RSJ yang akan mengantarnya menemui orang itu. Langkah sang petugas terhenti di sebuah ruangan yang terletak di ujung koridor.
"Ini kamarnya. Di dalam kamarnya ada alarm. Jika nanti dia bertindak liar tekan saja alarmnya. Anda punya waktu 15 menit untuk bicara dengannya," kata sang petugas.
Itachi mengangguk paham. Ia memang mengaku sebagai kerabat dari wanita yang divonis menderita schizophrenia itu. Tentu saja untuk alasan keamanan. Siapa yang tahu, mungkin saja salah satu petugas disini adalah komplotan Obito. Itachi bersyukur dirinya memiliki persamaan ciri dengan pasien itu. Tentu ini semakin menjauhkan dirinya dari kemungkinan dicurigai.
Pintu terbuka, Itachi melangkah masuk sebelum pintu kembali ditutup oleh sang petugas dan hanya bisa dibuka dari luar. Mata Itachi menyapu bersih pemandangan di dalamnya. Ada seorang wanita berambut hitam, sewarna dengan matanya. Wanita itu tampak serius memperhatikan papan catur yang ia mainkan seorang diri.
"Konnichi wa, Mitarashi-san," sapa Itachi.
"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya wanita itu tanpa menoleh.
"Sederhana saja. Aku ingin kau membantuku," jawab Itachi.
Anko masih terlihat kurang berminat. Ia memilih meneruskan untuk menggerakkan bidak caturnya. Merasa diacuhkan, Itachi mencoba sebuah langkah taktis. Ia mendekati Anko dan mengambil alih seluruh bidak catur berwarna putih.
"Ini tentang Uchiha Obito," kata Itachi sambil menggerakkan ratu untuk mengunci pergerakan kuda milik Anko.
Wanita itu mengangkat wajahnya. Ia menyeringai lalu perlahan-lahan berubah menjadi tawa keras.
"Hahaha… Uchiha brengsek itu? Aku ingin sekali mengulitinya hidup-hidup!" katanya.
Itachi tak tahu caranya ini berhasil atau tidak. Ia menunggu reaksi lain dari wanita yang memiliki banyak catatan kriminal itu. Kasus terakhirnya adalah kasus pembunuhan terhadap seorang dokter dan percobaan pembunuhan terhadap seorang pengusaha berinisial UO. Tanpa perlu diuraikan lebih lanjut, Itachi segera paham bahwa yang dimaksud adalah Obito.
"Untuk apa kau bertanya padaku? Semua orang menganggapku sudah gila," kata Anko.
"Bagaimana denganmu sendiri?" tanya Itachi.
Anko menyeringai tipis, "Ya. Kurasa aku memang sudah gila. Uchiha brengsek itulah yang membuatku gila."
Itachi terlihat sedikit lega. Dugaannya mungkin benar. Perempuan ini tidak gila. Itachi yakin Obito lah yang sengaja mengirimnya kesini. Dan itu berarti perempuan ini dianggap berbahaya bagi Obito.
"Kau boleh memilih; kabur dari sini dengan skenario yang kurancang dan membantu kami lalu hidup tenang setelah catatan kriminalmu dihapus kepolisian atau hidup disini selamanya dengan keadaan yang tak jauh berbeda dengan penjara federal," kata Itachi.
Anko terdiam, ia terlihat mempertimbangkan apa yang ditawarkan Itachi. Tawaran yang sangat menarik, Anko tahu itu. Hanya saja tindakan Obito yang berbalik menjebaknya dahulu membuatnya jadi lebih berhati-hati.
Agak lama sampai akhirnya ia berkata, "Baiklah. Aku pilih yang pertama."
.
.
.
Itachi menyulut sebatang rokok setelah menghabiskan seporsi spaghetti carbonara yang menjadi santap siangnya kali ini. Di meja hanya tersisa sekaleng bir dingin yang isinya sudah berkurang separuh. Tapi Itachi belum berniat beranjak dari Cafe ini. Ia masih ingin sedikit bersantai.
Handphone di sakunya bergetar. Sebuah panggilan dari nomor yang amat familiar baginya. Hinata.
"Ya?" sapanya. Ia terlalu malas untuk mengucapkan frasa moshi-moshi atau halo.
"Umm… Itachi-kun, kau sibuk?" tanya Hinata.
"Tidak. Aku hanya sedang bersantai di La Primavera. Ada apa?" Itachi balik bertanya.
"Ah, kebetulan. Aku dapat tiket nonton bola dari Gaara-kun. Kau mau menemaniku nonton?" tanya Hinata.
"Boleh saja. Sudah lama aku tidak melihat otouto bertanding," jawab Itachi
"Kalau begitu aku kesana sekarang, ya. Jaa… " ucap Hinata sebelum menutup telepon.
Itachi menyimpan kembali ponselnya dan menikmati kembali rokoknya. Setidaknya ia harus menghabiskannya sebelum Hinata yakin Hinata pasti akan menyuruhnya membuang rokok itu.
"Itachi?" seorang wanita berambut orange tiba-tiba menyapanya, "Apa kabar?"
"Haruna?" balas Itachi, "Baik. Sangat baik," lanjut Itachi. Matanya beralih memandang seorang anak perempuan yang kira-kira berumur 3 tahun. Anak perempuan itu sangat mirip dengan Haruna.
"Putrimu?" tanya Itachi.
Haruna mengangguk. Setengah berbisik ia berkata pada Itachi, "Dan mungkin kau adalah ayahnya."
Itachi terlihat sedikit terkejut. Haruna tertawa kecil melihat reaksi Itachi.
"Kenapa harus kaget begitu? Kupikir kau akan segera tahu kalau aku hanya bercanda. Kita kan memang tak pernah melakukannya," ucap Haruna di sela-sela tawanya.
"Justru karena itu aku terkejut," kata Itachi. Ia sedikit merendahkan tubuhnya untuk menyapa si kecil, "Gadis manis, siapa namamu?"
"Fujiwara Yuzu ji-san," jawab gadis kecil itu.
"Yuzu-chan, namaku Itachi. Salam kenal," kata Itachi.
Haruna tersenyum melihat Itachi yang sedikit kekanakan itu. Ia mengambil kursi di meja yang diperuntukkan untuk empat orang itu.
"Boleh kami bergabung disini?" tanya Haruna, "Suamiku pasti senang jika aku memperkenalkanmu padanya."
"Sebenarnya akau juga sedang menunggu seseorang," kata Itachi.
"Benarkah? Kalau begitu kursinya… "
"Tak apa. Kami takkan lama. Setelah dia datang, kami akan langsung ke stadion di seberang jalan sana," kata Itachi.
Haruna mengangguk-angguk mengerti. Sementara itu seorang wanita berambut indigo terlihat memasuki area Café. Mata lavendernya mencari-cari keberadaan Itachi. Ah, itu dia! Jantung Hinata seolah menerima pukulan saat melihat Itachi bersama wanita berambut orange. Kenapa rasanya sesak sekali?
Rasanya Hinata ingin kabur dari tempat ini. Tapi terlambat. Itachi sudah melihatnya, bahkan melambaikan tangan padanya. Mau tidak mau ia mendekat ke meja itu. Ia tersenyum kikuk. Ada rasa kurang suka melihat pemandangan yang tersaji di depannya.
"Istrimu?" tanya Haruna.
Itachi menggeleng, "Aku masih lajang," ucapnya. Ia memandang ke arah Hinata, "Mau berangkat sekarang?"
Hinata mengangguk cepat. Ia sudah merasa kurang nyaman di posisinya sekarang. Tanpa sadar ia memeluk lengan Itachi dan berpamitan pada Haruna dan Yuzu. Awalnya Itachi terkejut, tapi ia menyukainya.
"Tadi itu… siapa?" tanya Hinata.
"Mantan kekasihku dan putrinya," jawab Itachi.
"Ooo… " hanya itu reaksi Hinata.
"Kenapa? Kau cemburu?" pancing Itachi.
"Ti-tidak kok," jawab Hinata gugup.
"Ya sudah," kata Itachi.
Sikap Itachi yang seadanya itu justru membuat Hinata merasa tidak enak. Di satu sisi tiba-tiba ia ingin Itachi selalu disampingnya. Di sisi lain Hinata merasa sangat egois. Bagaimanapun juga Itachi berhak bahagia.
"Ita-kun," panggil Hinata.
"Ya?" jawab Itachi.
"A-aku… tiba-tiba aku merasa takut," kata Hinata.
"Takut apa?" tanya Itachi.
"Aku takut… kehilangan cintamu," ucap Hinata pelan, "Ah, maaf. Aku pasti sangat egois. A-aku rasa…"
Dalam satu tarikan Itachi berhasil membuat Hinata jatuh dalam pelukannya.
"Kalau begitu, akan kuputuskan. Hime, kutunggu jandamu."
.
.
.
Hinata melangkahkan kaki ke apartemennya dengan hati yang begitu membuncah seperti gadis remaja yang baru pertama kali merasakan cinta. Rasanya benar-benar aneh. Ia sudah lama tak merasakan sebahagia ini.
Namun kebahagiaan itu surut saat melihat Obito menantinya di sofa. Rasa bahagia itu menguap menjadi rasa berslah. Terlebih saat Obito tersenyum dan bertanya dengan lembut, "Darimana?"
"Nonton pertandingan Chidori FC," jawab Hinata, "Kau menungguku?"
"Ya. Aku ingin makan malam dengan istriku, makanya aku pulang cepat untuk menyiapkannya," kata Obito.
"Sungguh?" tanya Hinata, "Tapi ini masih terlalu sore untuk makan malam." Hinata menunjuk jam dinding yang masih menunjukkan pukul 17.45.
"Jam tujuh nanti aku pergi. Ada sedikit masalah di slah satu anak perusahaan," kata Obito, "Jadi tak ada salahnya kan kalau aku ingin makan malam dengan istriku untuk terakhir kalinya."
"Terakhir kalinya?" ulang Hinata.
"Ya. Terakhir kalinya sebelum aku berangkat," kata Obito.
Hinata tersenyum, "Maaf Obi-kun. Tapi aku baru saja makan lasagna dengan…"
"Itachi?" tebak Obito.
Hinata mengangguk," Maaf. Akan kuhabiskan makanannya nanti. Kutemani kau makan sekarang ya," katanya.
Obito tak menjawab. Ia memilih untuk duduk di kursinya. Wajahnya terlihat sedikit kesal. Kalau boleh jujur, Hinata justru heran. Tidak biasanya Obito bersikap biasa saja begini. Biasanya Obito akan langsung menamparnya saat tahu Hinata pergi bersama laki-laki lain. Entahlah, Hinata tak tahu apa alasannya.
"Berjanjilah untuk menghabiskan makananmu nanti, Sayang," pesan Obito sebelum mengecup bibir Hinata sekilas, "Aku pergi dulu."
Hinata mengangguk, "Hati-hati Obi-kun."
Setelah Obito berangkat, Hinata merasa lebih santai. Ia baru akan membereskan meja makan saat bel berbunyi. Saat pintu dibuka, Hinata mendapat cengiran khas Kiba dan suara riang Hanabi. Lalu… "Guk… guk… guk… " rupanya Akamaru juga ikut.
"Nee-chan, kau baik-baik saja?" tanya Hanabi.
"Tentu saja. Aku merasa sangat baik kok," jawab Hinata.
"Syukurlah. Kupikir Obi-nii akan menyakitimu lagi. Terlebih saat Nee-chan memutuskan untuk tetap berasama Obi-nii. Jadi…"
"Hinata, boleh ku pinjam kamar mandimu? Aku ingin mandi," potong Kiba.
"Pakai saja," kata Hinata.
"Ya. Mandilah Kiba-kun. Kau bau keringat. Akamaru saja lebih wangi darimu. Ya kan Akamaru? Hey!" Hanabi buru-buru menghampiri anjing lucu milik kekasihnya. Anjing berbulu putih itu sedang menggigit sirloin steak milik Hinata yang belum sempat ia bereskan.
"Waa… Akamaru. Aku kan tidak mengajarimu untuk mencuri," kata Kiba panik, "Maaf ya, Hina-chan. Nanti kuganti deh steaknya."
"Tidak apa-apa. Tidak usah diganti. Itu salahku juga kok, aku lupa membereskannya," kata Hinata.
"Akamaru?" Kiba terkejut melihat akamaru tiba-tiba terlihat sangat lemas dan mulai kejang-kejang.
"Gawat. Kiba-kun, kita harus membawanya ke klinik," kata Hanabi.
"Ada klinik hewan di lantai dasar. Ayo, kita harus segera menyelamatkan Akamaru," kata Hinata.
Ketiganya tak membuang waktu dan segera menuju klinik hewan yang dimaksud Hinata.
.
.
.
Itachi memesan segelas Seven Heaven pada bartender dan memilih untuk duduk di bar lounge. Satu jam yang lalu anko menghubunginya. Ia sudah berhasil melarikan diri dari RSJ Oto dan meminta untuk bertemu dengannya.
"Kau yakin dia akan datang?" tanya Kakashi. Tak seperti Itachi, lelaku Hatake itu memilih lychee smoothies sebagai minumannya. Kakashi memang tak begitu akrab dengan alkohol.
"Semestinya begitu," kata Itachi, "Itu dia."
Anko datang dengan pakaian ketat serba hitam dengan jaket kulityang mengkilat. Ia menghampiri Itachi dan Kakashi setelah sebelumnya memesan bloody marry pada bartender.
"Aku datang untuk memenuhi janjiku," kata Anko.
"Baiklah. Silakan mulai," kata Kakashi.
Anko menyipitkan matanya saat melihat Kakashi.
"Dia rekan satu timku," kata Itachi seolah bisa membaca pikiran Anko.
"Aku di jebak," kata Anko," Obito yang membunuh Dokter Orochimaru. Aku memang ada disana saat kejadian. Saat itu memang aku yang menyuruh Obito berkonsultasi dengan psikiater karena emosinya sering tidak stabil. Siapa yang menyangka jika Obito ternyata sudah ada di fase terparah dari schizophrenia."
Anko mengambil jeda sesaat sambil memperhatikan perubahan ekspresi Itachi dan Kakashi.
"Obito sangat marah pada Dokter Orochimaru. Ia tidak percaya pada vonis itu. Ia menikamnya. Aku sudah berusaha mencegah, tapi ia justru tertawa dan mencoba bunuh diri. Kejadiannya sangat cepat, saat orang-orang tiba di TKP hanya akulah yang masih baik-baik saja. Karena itu mereka mengira akulah pelakunya. Seminggu kemudian aku dikirim ke RSJ Oto karena Obito membuat diagnosis palsu yang menyatakan bahwa akulah yang tidak waras."
Sampai di titik ini, Itachi dan Kakashi paham akan duduk permasalahannya. Mereka memilih untuk mendengar kelanjutan cerita Anko.
"Terima kasih sudah membantuku keluar dari tempat terkutuk itu. Tadi aku sudah mengakses komputer organisasi jaringan Obito. Ada transaksi dini hari nanti di pelabuhan. Biasanya mereka akan menenggelamkan barang bukti di tengah laut, lalu sebuah kapal selam milik mafia akan mengambilnya dari sana."
"Pantas Pihak Pabean kesulitan melacaknya. Rupanya setelah taktik menyelundupkan amunisi melalui ekspor bola masuk jalur merah, mereka mencari cara yang lebih aman," kata Kakashi.
"Kalau begitu kita harus menghubungi Minato-sama. Anko, kau ikut dengan Kakashi. Aku akan menyiapkan pasukan untuk menangkap mereka agar tepat pada waktunya," kata itachi.
Kakashi dan Anko berpandangan, lalu mengangguk. Saat ini mereka sudah semakin dekat dengan sasaran. Obito, bersiaplah kau disana.
.
.
.
Akamaru berhasil diselamatkan. tapi penjelasan dokter hewan tersebut membuat Hinata shock. Akamaru terkontaminasi sianida dalam dosis tinggi. Kondisi Akamaru yang masih tergolek lemas membuat Hinata yakin, dialah yang seharusnya merasakan itu. Dengan kata lain, Hinata menyadari Obito mencoba meracuninya.
"Nee-chan? Perlu kutemani malam ini?" tawar Hanabi. Ia sedikit khawatir melihat Hinata yang masih tertekan.
"Tidak. Aku tidak apaapa," kata Hinata.
"Kalau begitu, istirahatlah. Pikirkan masalah ini besok saja," kata Kiba.
Hinata mengangguk, "Maaf soal Akamaru."
'Tak apa. Akamaru anjing yang kuat. Kurasa ia senang bisa menyelamatkanmu. Iya kan Akamaru?" ucapan Kiba hanya disambut Akamaru dengan menutup matanya pelan lalu membukanya lagi.
"Arigatou," Hinata mengusap pelan kepala Akamaru.
"Kalau begitu, kami pulang Nee-chan," kata Hanabi.
Hinata melambaikan tangannya dan memandangi punggung mereka yang semakin menjauh. Hatinya terasa kalut. Terbayang di kepalanya semua hal buruk yang telah terjadi. Dua hal terakhir adalah yang sangat menyakitkan. setelah membunuh bayinya, kini Obito juga berniat membunuhnya.
Bayangan itu kini berganti dengan ucapan teman-temannya, juga ucapan Neji. Bercerai, mungkin bukan keputusan yang benar. Tapi perceraian mungkin adalah keputusan yang tepat. Karena tepat kadang tak selalu benar.
Tapi Hinata malu jika bercerai. Itu berarti ia telah gagal mempertahankan rumah tangganya. Perceraian adalah sebuah kegagalan yang tak bisa dibanggakan. Hinata mengingat kembali ucapan Gaara tempo hari.
'Apalah artinya jika pernikahanmu selamat tapi hidupmu hancur.'
Dan juga ucapan Konan, 'Pernikahan memang perlu perjuangan tapi jangan sampai pernikahan itu membunuhmu.'
Hinata menghela nafas panjang. Jauh di lubuk hatinya ia masih bertanya-tanya kenapa Oito bersikap seperti ini? Terdorong rasa ingin tahu, Hinata membuka lemari. Di dalamnya ada sebuah brankas milik suaminya. seingat Hinata, Obito pernah marah besar padanya hanya karena ia menanyakan isi brankas itu. dan mungkin ini saat yang tepat untuk mencari tahu jawabannya.
Brankas itu terkunci. Sejumlah kode rumit menuntut untuk segera dipecahkan. Hinata mencoba menemukan kode yang sesuai. Mungkin deretan tanggal lahir Obito bisa membantunya.
Dan ternyata ia salah.
Tak ingin menyerah, Hinata mencoba kombinasi lain. Nomor telepon rumah, tanggal lahir Hinata hingga mengacak angka. Tepat saat Hinata memasukkan tanggal pernikahannya... voila! Brankas terbuka.
Sebuah pistol jenis P3 buatan Indonesia adalah benda pertama yang didapatinya dari dalam brankas. Di bawah pistol itu banyak guntingan koran dan kertas-kertas. Hinata membacanya judulnya satu persatu. Isinya didominasi tentang berita-berita penyelundupan senjata ilegal, organisasi yakuza yang berhasil menyabotase amunisi dan kasus terbunuhnya seorang psikiater yang dilakukan seorang wanita berinisial MA.
Yang paling mengejutkan Hinata ialah saat ia mendapati selembar kertas yang menyatakan bahwa Uchiha Obito didiagnosis berada dalam fase residual dari Schizophrenia.
.
.
TBC
.
.
Thanks to: Sugar Princess71, Haze Kazuki, Yuiki Nagi-chan, Zoroute, Sora Hinase, Aam tempe, Haru, Kim Sungrin Chuninhyuk, Uchihyuu nagisa, soft purple, Hina bee lover, Merai Alixya Kudo, Oh-chan is Nanda, Arisa Ichigawa, Lollytha-chan, Moe chan, IzUnA DaRk DeViL's, SeNaDa DaLaM HaTi *salam kenal juga Senada-san* , MeLoDy SaHaBat *salam kenal juga Melody-san*
Gomen kalo Hinata saya deskripsikan lemah disini, tapi justru itu yang ingin saya tekankan. Kalo tau lemah ya jangan disiksa, tapi lindungi dengan sepenuh hati. Itulah sebabnya saya fungsikan Itachi sebagai guardiannya Hinata. Kalo Hinata kuat, Itachi mau cari celah lewat mana coba?
Gomen kalo persepsi saya ternyata nggak sesuai dengan persepsi reader. Karena itu kalau ada yang keberatan, sampaikan saja. Saya terbuka kok untuk menerima persepsi lain dari kalian.
Anyway, seperti biasa fic ini masih perlu ditambal sulam. Review dan Concrit selalu dinantikan
Molto Grazie
