Ahra meremas genggaman tangannya erat. Naluri kecemasan seorang kakak tak dapat ia sangkal. Melirik jam di dinding kamarnya. Jam sembilan malam hampir habis. Kenyataan bahwa Kyuhyun, dongsaeng satu-satunya yang amat ia sayangi belum juga pulang, merubahnya dalam keadaan seperti saat ini. Mondar-mandir bak setrika panas tak mampu membuat kontur cemas dirautnya mereda. Ditambah lagi belum ada kabar sama sekali mengenai keberadaan adiknya. Teleponnya selalu tidak diangkat lalu berakhir pada jawaban operator yang membuat muak. "Kemana kau Kyu?" Rapalan yang selalu terlontar tat kala rasa cemas itu semakin menjadi.

Ibu dan Ayahnya sedang berada di luar kota. Kyuhyun adalah tanggung jawabnya selama orangtuanya pergi. Kini dirinya melepas Kyuhyun begitu saja dan sama sekali tak dapat dihubungi. Ketegangan meliputi perasaannya tat kala bunyi nada sambung terdengar di telinga. Ahra hampir menderita spot jantung saat dimana nada sambung itu digantikan oleh suara Changmin yang menjawab teleponnya malam-malam begini.

"Yoboseyo?"

"Changmin! Apa uri Kyuhyun bersamamu? Kyuhyun bilang dia juga pergi denganmu. Apa dia berada disana lalu lupa menelepon Noonanya? Aku hampir gila menunggunya!"

"Eh- Ah- itu... Noona, ehm sebenarnya aku tak jadi pergi. Kyuhyun juga tak bersamaku. Kemungkinan dia masih bersama Kibum. Kau tenang saja. Dia orang yang baik. Jadi Kyuhyunie pasti aman bersamanya."

"Kenapa dia tak ingat untuk menelponku? Tahu tidak, betapa cemasnya aku! Paling tidak ingatlah keluarga barang sekali saat sedang kencan! Bocah itu benar-benar. Pulang nanti kuremukkan kepalanya!"

"Noona, darimana kau tahu kalau mereka sedang kencan?"

"Hanya menebak. Jadi mereka benar berkencan? Berani-beraninya bocah itu merebut uri Baby, ketemu lagi akan kupotong sosisnya! Sampaikan padanya Shim Changmin!"

"Nu-nuna, itu... sebenarnya kau salah paham. Mereka berkencan bukan dalam arti yang sebenarnya. Kibum menyukai Kyuhyun sedangkan Kyuhyun tidak. Jadi sekarang ini Kibum sedang membuat Kyuhyun menyukai dirinya juga."

"Oh, begitu. Baiklah. Terimakasih atas informasinya. Akan kubuat si bocah Kibum itu berkali lipat beratnya mendapatkan adikku! Anyeong Changminnie. Jaljayo. Mimpi indah.." Changmin memandang horror ponsel yang layarnya mati dalam genggamannya. Tawa nista Nunanya Kyuhyun tadi benar-benar penuh dengan aura malaikat pencabut nyawa. Ia merinding. Ia sampai berdoa untuk keselamatan Kibum kedepannya. Changmin tidak ingin berurusan dengan Nunanya Kyuhyun lagi kalau ingin selamat dunia akhirat.

Ahra mematikan ponselnya begitu mendengar balasan dari Changmin. Sudut-sudut bibirnya melengkung keatas, tersenyum aneh. Jauh di dalam pikirannya, ia sedang merencanakan sesuatu yang tak terduga. Spesial untuk Kim Kibum. Tenggelam dalam pikirannya sendiri, terlanjur sudah ia merasa geram. Ingin sekali tangannya membenturkan kepala orang malam ini. Namun parasnya tetap cantik tat kala ia memasang aura beratnya. Dirinya bisa berubah menjadi sadism kalau sampai Kyuhyun tersakiti. Siapapun, yang berani melukai adiknya, jangan berharap bisa melihat matahari terbit keesokan harinya.

Apa Ahra sekejam itu? Apa kalian akan percaya begitu saja? Tentu saja tidak. Kakak perempuan cantik Kyuhyun saat ini sedang tenggelam terlalu jauh dalam khayalnya. Percayalah Ia adalah sosok berkepribadian cantik, baik di luar maupun di dalam. Tenang saja, kewaspadaan Changmin hanyalah sebuah frasa yang berlebihan.

Rasa lega melonggarkan relung hatinya yang sesak setelah beberapa saat lalu mendengar kata-kata Changmin dan percaya. Ahra tak semudah itu memercayai orang lain selain keluarganya dan sahabat dekatnya. Karena Changmin termasuk orang yang Kyuhyun percayai, maka ia juga harus menempatkan diri di pihak yang sama. Bahwa dongsaeng kesayangannya akan baik-baik saja. Ya. Tidak ada sesuatu lain yang harus dipikirkan terlalu keras. Berpikir positif dan tetap menjaga ketenangannya adalah suatu pilihan yang tepat agar dirinya bisa menggapai tidur yang lelap. Percaya. Meski kemungkinan-kemungkinan terburuk tak hilang menghinggapi pikirannya, setidaknya Ahra berusaha untuk tenang. Retinanya menangkap ranjang tidurnya yang tampak nyaman. Membaringkan tubuhnya lalu merapalkan kata "Kyuhyun akan baik-baik saja." Membawanya dalam pejam yang lelap.

.

.

.

.

.

.

"Ahh..." helaan napas yang terlontar dari bibir plum milik Kyuhyun, terdengar menyenangkan. Dua sudut bibirnya di balik masker tak mampu untuk tak mengguratkan senyuman. Sudah dua jam lamanya terhitung semenjak ia memasukkan badannya ke kolam pemandian air panas di penginapan ala jepang ini. Merilekskan tubuhnya. Hanya saja terlalu berlebihan. Fakta bahwa berendam dalam air panas dalam waktu yang lama dan sering tak baik untuk kesehatan karena bisa menyebabkan kemandulan, tak ia hiraukan. Untuk saat ini saja ia hanya ingin memuaskan hasratnya hingga mencapai kepuasan. Baru ia akan berhenti. Seperti bermain game.

Hanya tinggal mereka berdualah di kolam besar ini yang masih tinggal. Udara malam mengentaskan orang-orang yang singgah berendam. Kibum tak ikut berendam. Hanya sebatas lutut saja ia menemani Kyuhyun duduk di sampingnya. Ia tenggelam memandangi bulan separuh menemani malam berbintang. Langit yang luas tak merenggut atensinya pada sang bulan si primadona malam. Andai Kibum bisa mengambil satu saja benda-benda di angkasa, maka ia akan memilih bulan yang hanya satu-satunya. Lalu akan ia persembahkan kepada Kyuhyun sebagai simbol cintanya. Bahwa hanya ada nama Kyuhyun seorang yang terukir dihatinya. Dibagian spesialnya.

Atensinya kembali pada Kyuhyun setelah mendengar suara air yang tak lagi tenang.

"Apa sebegitu menariknya langit daripada aku yang tampan dan menarik ini?" Kibum kembali memandangi langit tanpa melontarkan frasa yang nyata. Senyumnya masih tertinggal tanpa ada satupun niat untuk melunturkannya. Kyuhyun memandangi wajah Kibum. Wajah tampan yang dulunya bersembunyi di balik frame kacamata. Kini dengan terang-terangan pamer publik. Seingatnya Kibum melepas kacamata setelah menciumnya di dalam kelas disaksikan puluhan temannya lalu pingsan di pelukannya. Kenangan yang memalukan. Namun tak bisa dihancurkan. Karena dirinya sekarang adalah dirinya yang melewati peristiwa hingga terbentuklah suatu masa yakni masalalu.

Kyuhyun ingin menanyakan satu hal pada Kibum. Yang selalu lupa ingin ia tanyakan. Hal lain yang cukup mengganggunya. Namun keraguan mendesak keinginannya. Ia yakin bahwa itu dari Kibum, tetapi Kibum tak pernah menanyakannya. Hingga dirinya sendiri enggan untuk bertanya. Tetapi ia harus.

"Apa sebegitu menariknya wajah tampanku dibanding hal yang lain?" Pertanyaan dengan kalimat sama, isi berbeda. Kyuhyun terlonjak. Kedua obsidiannya mengarah acak tertangkap basah memandangi Kibum.

"Siapa yang memandangimu?! Percaya diri sekali kau." Kyuhyun melempar handuk kering yang terlipat di atas kepalanya ke arah muka Kibum yang memasang raut untuk menggodanya. Menenggelamkam tubuhnya lebih dalam hingga sebatas leher ke dalam air. Keheningan kembali mengungkung. Kyuhyun masih menjadi perhatiannya. Ia tahu ada yang ingin Kyuhyun sampaikan hingga memandanginya cukup lama.

"Kibum. Waktu itu aku mendapatkan hadiah. Apa kau yang memberikannya padaku?" Kibum meneliti lawan bicaranya. Kyuhyun tampak sangat berhati-hati dengan apa yang ia tanyakan. Kibum lantas mengambil kesempatan untuk sedikit menggodanya.

"Hadiah apa?" Kyuhyun mengambil kembali handuknya. Di dalam air tubuhnya benar-benar bugil. Peraturan tak tersirat di dalam pemandian air panas biasanya.

"Hadiah. Isinya aksesoris couple. Lalu ada cincin couple juga."

"Kenapa tidak kau pakai? Agar aku bisa tahu apakah aku yang memberikannya atau bukan."

"Mana mungkin kupakai. Aku saja tidak tahu siapa yang memberikannya."

"Jadi kalau kau sudah tahu siapa, kau akan memakainya?" Kyuhyun memandangi Kibum lekat menganalisis kata-kata Kibum.

"Kau. Pasti kau yang memberikannya. Mengakulah." Kibum tertawa kecil. Kyuhyun gagal ia permainkan. Kibum terlanjur tertangkap basah tidak mungkin ia mencari celah lain. Pada akhirnya ia mengaku.

"Apa kau suka?"

"Apa tujuanmu sebenarnya?" Bukannya menjawab, Kyuhyun membungkam mulut Kibum menggunakan pertanyaan yang menjebaknya keujung jalan buntu. Tetapi satu yang Kibum pikirkan.

"Karena aku ingin kau mencintaiku." Jelas. Tegas. Tanpa ada sama sekali keraguan yang mengikis. Giliran Kyuhyun yang terbungkam. Ia sudah memprediksi bahwa Kibum akan mengatakan sejujurnya. Bukan menyangkalnya yang berujung panjang.

"Ah! Kibum! Aku baru ingat! Aku belum menelpon Noona! Tolong ambilkan ponselku kemari. Aku masih ingin berendam." Kibum tanpa melontarkan apa-apa berdiri masih lengkap dengan handuk dipinggangnya. Merenggangkan tubuhnya akibat terlalu lama duduk. Kyuhyun menatap punggung Kibum yang menjauh lama. Selamat, ia lepas dari suasana yang menyesakkannya. Helaan napas lega keluar dari bibirnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tbc.

.

.

Oh tidaaaakk! Susahnya minta ampun nulis gaya begini. Diksi dalam kalimatnya itu looh. Saya menyerah *kibarbendera. Nyiksa berat, tantangan buat diri sendiri. Hanya percobaan apakah Fi mampu bertahan dan ternyata tepaaar hahaha

Happy Kibum Day. Happy Yesung Day. Get Well Soon my KyuKyu.