Tinggal sepuluh menit tersisa sebelum bel sekolah berbunyi, semua siswa tampak fokus pada buku masing-masing. Tangan mereka juga ikut bergerak, bahkan silih berganti terdengar helaan nafas frustasi dari mereka.
"Kenapa semua tampak sibuk sekali? Ada apa Wonwoo hyung?"
Wonwoo mendongakkan kepalanya, ternyata Seungkwan berdiri didepan bangkunya dengan ransel yang masih dipunggung.
"Hari ini ada quiz untuk pelajaran kimia," Wajah Seungkwan seketika pucat pasi.
"Jangan bilang kau melupakannya." Lanjut Wonwoo tepat sasaran. Ekspresi wajah namja bermarga Boo itu berubah melas. Ia menatap semua teman-teman sekelasnya yang terlihat sibuk belajar.
"Aku lupa. Bagaimana ini….." Wonwoo jadi kasihan melihat Seungkwan. Namja diva itu sangat panik sekarang, ia bahkan menggigit jari telunjuknya. Seungkwan mulai berkeringat dingin.
"Tega sekali. Kau tidak memberitahu Seungkwan kalau sekarang ada quiz?" Wonwoo menatap sengit kearah Mingyu yang malah ikut dalam obrolannya bersama Seungkwan.
"Diam!" Desis Wonwoo tidak suka, Mingyu mengedikkan bahu cuek akan sikap galak Wonwoo.
"Aku hanya bertanya, dasar galak…" Walaupun Mingyu bergumam, tapi suaranya cukup bisa didengar oleh Wonwoo. Namja emo itu tidak tahan ingin menghajar Mingyu saat ini juga.
"Boo Seungkwan?"
Keadaan kelas langsung senyap, Seungkwan sendiri langsung memutar badannya. Disana Goo Seonsaeng sudah berdiri dengan beberapa lembar test ditangannya.
"Tidak ingin duduk? Quiz akan segera dimulai"
"Maafkan saya…" Seungkwan menunduk sedikit lalu bergegas menuju bangkunya.
Saat Seungkwan duduk, ia sudah disambut dengan suara tawa tertahan milik Hansol. Membuat Seungkwan merasa diejek secara tidak langsung, akhirnya ia mendelik kearah Hansol dengan tatapan tajam nan membunuh.
"Sekarang letakkan smartphone kalian, tidak ada contek menyontek dalam quiz kali ini!" Goo Seonsaeng berkeliling membawa sebuah kotak besar untuk ponsel siswa-siswanya. Guru satu ini memang terkenal killer dan berbahaya.
Setelahnya quiz dimulai. Semuanya tampak sibuk dengan soal masing-masing, termasuk Seungkwan yang sekarang membuat wajah ingin menangis karena tidak mengerti maksud soal kimia miliknya.
"Waktu kalian hanya empat puluh menit" Goo Seonsaeng kembali buka suara. Seungkwan tambah gugup saja, malah tangannya tidak sengaja jadi bergetar saking takut dan gugupnya.
Karena terlalu gugup dan takutnya, Seungkwan tidak sadar kalau sedari tadi sang tetangga alias Choi Hansol tengah menatapnya khawatir. Pasalnya tangan Seungkwan bergetar hebat, membuat Hansol mengira ia punya penyakit kejang.
Tunggu, memangnya tangan bergetar itu tanda-tanda orang kejang?
Tak!
Hansol memukul pensilnya diatas meja bermaksud memanggil Seungkwan, tapi suaranya cukup keras untuk membuat yang lain menoleh. Untungnya tidak sampai mengganggu Goo Seonsaeng yang sibuk dimejanya.
"Sssstt!" Desisan Hansol terdengar jelas ditelinga Seungkwan. Namja bermarga Boo itu menoleh dengan cepat.
"Ada apa?" Seungkwan berbicara dengan pelan malah berbisik.
"Kau baik-baik saja?" Hansol membalas dengan suara berbisik juga. Seungkwan menyernyit bingung, tumben sekali namja menyebalkan seperti Hansol bertanya tentang keadaannya.
"Seperti yang kau lihat… aku baik-baik saja"
Alis Wonwoo dan Mingyu sama-sama menukik karena mendengar percakapan Hansol dan Seungkwan yang duduk dibelakang mereka. Dalam hati Wonwoo dan Mingyu sama-sama menggerutu karena suara Hansol dan Seungkwan cukup menganggu.
"Tanganmu bergetar, apakah kau kejang?"
"Aku tidak punya riwayat penyakit kejang."
Terlebih keadaan kelas benar-benar hening. Wonwoo dan Mingyu hanya bisa geleng-geleng karena aksi nekat mereka.
"Tapi kenapa–"
"Choi Hansol! Boo Seungkwan! Letakkan alat tulis kalian, silahkan berdiri diluar kelas sampai pelajaran saya selesai!"
.
.
.
.
Penghuni kelas pada sore hari bertambah dua orang. Ini adalah hari kedua bagi Wonwoo untuk menemani Jihoon dan Soonyoung dalam mengerjakan hukuman mereka, dan juga hari pertama untuk menemani Seungkwan dan Hansol dalam mengerjakan tugas kimia yang banyaknya tiga puluh soal. Goo Seonsaeng memang kejam.
"Hiks… eomma, aku rindu eomma hiks"
Mungkin yang mengerjakan tugas kimia hanya Hansol seorang. Lihatlah Seungkwan sekarang malah menangis sembari memeluk erat lengan Wonwoo.
"Diam Seungkwan! Suara tangisanmu berisik! Aish!" Jihoon berdecak kesal karena suara Seungkwan mengganggunya. Padahal Hansol, Soonyoung, dan Wonwoo tidak terganggu, tapi yang namanya Jihoon memang bermulut pedas.
"Aku huks–aku ingin eomma!"
Wonwoo mengelus punggung Seungkwan, lalu dengan perlahan melepas tangan Seungkwan yang melingkar dilengannya dengan erat. Kali ini ia harus membantu Hansol, kalau tidak maka Wonwoo akan terjebak lebih lama lagi.
"Ada enam soal yang aku tidak mengerti" Hansol memberikan alat tulisnya pada Wonwoo.
"Cukup rumus. Sisanya aku akan mengerjakan sendiri" Sambung Hansol. Wonwoo mengangguk paham, dengan cekatan ia menulis rumus untuk soal kimia Hansol dan Seungkwan. Wonwoo sangat beruntung memiliki otak jenius, semua angka, hafalan, dan lainnya mengalir deras begitu saja seperti air diotaknya.
"Aku pergi, bye…"
"Hati-hati dijalan Wonwoo-ya" –Jihoon
"Huks–bye hyung" –Seungkwan
"Terimakasih sudah membantu kami hari ini" –Soonyoung dan Hansol.
Akhirnya Wonwoo bisa pulang lebih awal dari hari kemarin.
.
.
Saat sampai dirumah, Wonwoo sudah disambut oleh sosok Kyujoon yang duduk diruang tamu seorang diri. Kekasih ibunya tersenyum cerah ketika melihat Wonwoo, dengan cepat ia menegakkan tubuhnya.
"Kemari, duduk bersamaku" Wonwoo hanya menurut dan duduk disamping kekasih ibunya. Ia bisa melihat pria baya disampingnya masih mengenakan pakaian kerja. Wonwoo rasa kekasih sang ibu adalah pekerja dikantoran besar. Lihat bagaimana licinnya celana yang dikenakannya, dan jas hitam rapi yang tergeletak diatas sofa.
"Bagaimana sekolahmu hari ini?" Pria itu merangkul Wonwoo dengan santai. Ia bertanya seolah-olah Wonwoo seperti anaknya sendiri.
"Eumm… menyenangkan" Jawab Wonwoo terdengar sedikit ragu. Tapi kekasih ibunya malah terkekeh melihat tingkahnya.
"Tentu menyenangkan. Masa sekolah menengah atas adalah masa yang paling menyenangkan." Wonwoo hanya diam memperhatikan bagaimana Kyujoon tersenyum kecil saat ia berbicara.
"Lalu bagaimana dengan kegiatan ekstrakulikuler? Apakah kau mengikuti bakset?" Pria itu kembali bertanya.
"Aku tidak terlalu suka dengan kegiatan ekstrakulikuler. Saat tingkat sepuluh aku sempat mengikuti ekstrakulikuler basket, tapi hanya bertahan tiga hari saja" Jawab Wonwoo dengan jujur. Ia sedikitnya merasa senang bisa berbicara blak-blakan dengan Kyujoon.
Pria itu menatap tidak percaya padanya "Kenapa? Kenapa hanya tiga hari?"
Wonwoo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku merasa basket bukanlah jiwaku" Wonwoo merasa hanya itulah jawaban yang terbaik, karena alasan sesungguhnya mungkin terdengar kekanak-kanakan jika didengar.
"Sayang sekali. Padahal postur tubuhmu sudah pas." Kyujoon berujar sedikit kecewa, Wonwoo sendiri bingung ingin menanggapi seperti apa.
"Kau ingat dengan seseorang yang ahjussi akan kenalkan kepadamu?" Lagi-lagi harus kekasih ibunya yang membuka percakapan. Wonwoo langsung mengangguk.
"Orang itu adalah anak ahjussi." Wonwoo sudah menduga ini dari awal. Tidak mungkin pria seperti Kyujoon masih lajang sampai sekarang, awal pertemuan saja Wonwoo sangat yakin namja tersebut sudah pernah berkeluarga.
"Dia sangat suka basket, bahkan tingginya setara denganmu. Dia kadang-kadang sangat pendiam sepertimu, tapi kadang-kadang bertingkah konyol dan sedikit kekanak-kanakan" Lanjut Kyujoon sedikit terkekeh diakhir kalimat karena tiba-tiba ingat tingkah anaknya yang terkenal sedikit childish.
"Apakah dia lebih muda dariku ahjussi?" Akhirnya Wonwoo buka suara. Mendengar pertanyaan Wonwoo, pria baya itu mengangguk.
"Kurasa dia lebih muda darimu, ah mungkin hanya beda beberapa bulan." Walaupun jawabannya agak ragu, tapi Wonwoo rasa anak kandung kekasih ibunya memang lebih muda darinya.
"Membicarakan apa eum? Kelihatan serius sekali" Wonwoo dan Kyujoon langsung menoleh kearah wanita yang baru saja keluar dari dapur. Masih mengenakan apron, ibu Wonwoo meraih blazer milik kekasihnya, mungkin akan ia letakkan ditempat lain.
"Makan malam sudah siap, ayo kita makan malam"
"Ne!" Wonwoo dan Kyujoon beranjak dari sofa lalu berjalan beriringan menuju ruang makan. Wanita itu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana, lalu mendial sebuah nomer telepon.
"Yeoboseyo?"
"Yeoboseyo imo. Ada apa?"
"Kau masih latihan basket?"
"Ne, aku masih latihan basket imo. Mianhae aku tidak bisa datang untuk makan malam dirumah mu."
"Tidak masalah. Kau ingin makan apa? Biar imo yang buatkan untukmu"
"Pil-yoga eobseo-seo imo. Aku tidak ingin merepotkan imo"
"Bicara apa kau ini eoh? Kau tidak merepotkan, imo senang bisa ikut merawatmu. Kau adalah anak kekasih imo, jadi kau juga anak imo. Jangan sungkan untuk meminta sesuatu"
"Kkk~ Baiklah imo yang cantik… Imo bisa membuatkan apa saja untuk ku, yang terpenting harus enak."
"Tenang saja! Imo paling jago memasak!" Orang disebrang kembali terkekeh.
"Ya imo memang yang paling cantik dan jago dalam memasak. Baiklah aku tutup ne?"
Wanita itu terkekeh mendengar ucapan sang penelpon. Anak satu ini memang persis seperti ayahnya. "Ne!" Jawabnya kemudian.
Wonwoo hanya bisa terdiam mendengar percakapan sang ibu dengan seseorang ditelepon. Tampaknya sang ibu sangat akrab dengan orang tersebut, dan Wonwoo yakin orang disebrang sana adalah anak dari kekasih ibunya.
Kalau memang mereka sudah akrab, kenapa sang ibu tidak pernah berbicara apapun. Terbesit rasa kecewa dalam hati Wonwoo karena ibunya tidak mau jujur dari awal mengenai hubungan barunya.
Dan lagi, Wonwoo kira sang ibu sudah cukup lama mengenal anak kekasihnya. Tapi kenapa ia baru sekarang mengenal calon ayah tirinya?.
.
.
.
.
Hari ketiga dimana Jihoon dan Soonyoung melaksanakan tugas bersama, Wonwoo tampak masih dengan setia menemani. Sesekali namja bermarga Jeon itu akan menjadi penengah ketika dua orang itu kembali bertengkar.
"Sudah hentikan. Kalian selalu bertengkar setiap bertemu, tidak lelah?" Sedikitnya Wonwoo merasa jengah mendengar suara dua namja beda tinggi tersebut.
Jihoon langsung meraih pulpennya yang tergeletak diatas meja. "Mianhae" Ucapnya.
"Nah kalian kerjakan kembali tugas kalian… arra?" Dua orang itu mengangguk dalam diam.
"Arraseo" Jawab mereka bersamaan. Wonwoo tersenyum tipis lalu merapikan beberapa bukunya, lalu meletakkan benda tersebut kembali ke dalam ransel.
"Jihoon?" Pergerakan tiga orang itu terhenti ketika melihat Seungcheol berdiri diambang pintu.
Jihoon menepuk pelan kepalanya "Astaga aku lupa… Mianhae Seungcheol-ah" Balas Jihoon dengan menyesal.
"Ada apa?" Bisik Wonwoo tepat ditelinga Jihoon.
"Aku ada project dengan Seungcheol" Wonwoo langsung ber'oh' ria tanpa ingin bertanya lebih spesifik tentang project yang dimaksud oleh Jihoon.
"Kau mau pergi sekarang?" Soonyoung buka suara. Ia menatap jengkel kearah Jihoon yang mulai merapikan buku dan alat tulisnya.
"Ayolah... Tinggal lima soal yang tersisa. Kerjakan sendiri ne?" Soonyoung mendengus sebal.
"Tidak. Ini hukuman kita berdua. Jadi menyelesaikannya harus berdua!" Jihoon menatap malas kearah Soonyoung. Padahal ia sudah meminta dengan nada memohon, tapi Soonyoung ternyata tidak luluh.
"Aku ada project penting dengan Seungcheol!" Kali ini Jihoon berucap dengan nada merengek.
"Tidak." Soonyoung kembali pada kertas soal yang sempat diabaikannya beberapa detik lalu. Ia tidak terima Jihoon pergi dengan Seungcheol. Bukan karena cemburu, tapi ini masih jam untuk menjalankan hukuman mereka. Tidak adil baginya jika Jihoon bisa pergi dengan santai untuk urusan pribadi.
"Kurasa Soonyoung tidak ingin kau pergi jauh-jauh" Ucap Seungcheol dengan nada jahil. Lihat bagaimana Soonyoung langsung menghadiahinya tatapan tajam.
"Terserah saja, pergi yang jauh" Ujar Soonyoung akhirnya. Jihoon langsung tersenyum bahagia, dengan lancang ia menepuk kepala Soonyoung pelan.
"Kau yang terbaik. Ayo Seungcheol-ah, Wonwoo-ya"
"Aku pergi" Wonwoo menepuk pelan bahu Soonyoung sebelum menyusul Jihoon dan Seungcheol yang berjalan lebih dulu. Soonyoung hanya mengangguk singkat, tiba-tiba ia jadi tidak mood berbicara.
Drrrrttt
Langkah Wonwoo langsung terhenti ketika ponsel dikantung celananya bergetar. Jihoon dan Seungcheol menatap penuh tanya kearah Wonwoo ketika namja emo itu menyernyit bingung menatap ponselnya.
"Nomer tidak dikenal…" Gumam Wonwoo. Ponselnya masih saja bergetar, tapi Wonwoo tampak ragu untuk mengangkatnya.
"Kalian bisa pergi lebih dahulu" Lanjutnya sembari menatap Jihoon dan Seungcheol secara bergantian. Dua orang itu mengangguk singkat, Jihoon melambai kecil kearah Wonwoo sebelum pergi ke ruang vocal dengan Seungcheol.
Merasa Jihoon dan Seungcheol cukup jauh, Wonwoo akhirnya mengangkat panggilan tersebut.
"Yeoboseyo?"
"Yeobseyo. Wonwoo-ya? Ini kau?"
Wonwoo terdiam sebentar. "…Ne"
"Ini Kyujoon ahjussi"
"Maafkan aku ahjussi, pasti kau sangat lama menunggu ku untuk mengangkat panggilanmu" Orang diseberang terkekeh.
"Tidak masalah Wonwoo-ya. Selama apapun itu ahjussi pasti akan menunggunya." Wonwoo tersenyum kecil mendengar jawaban kekasih ibunya.
" –Emmm… Kau ada janji besok?"
Wonwoo berpikir sebentar berusaha mengingat apakah hari minggu besok ia ada janji atau tidak.
"Kurasa tidak" Jawabnya setelah beberapa detik terdiam.
"Baguslah. Kalau begitu besok ahjussi akan menjemputmu untuk minum coffee bersama."
"Baiklah." Jawab Wonwoo tanpa ada penolakan. Rugi juga kalau ia menolak, apalagi setiap hari minggu, Wonwoo biasanya hanya berdiam diri dirumah.
"Pukul sepuluh pagi oke? Anak ku juga akan ikut minum coffee bersama. Tidak masalah'kan Wonwoo-ya?"
Tanpa sadar Wonwoo malah mengangguk antusias "Baik ahjussi. Tidak masalah, malah akan lebih menyenangkan jika anak ahjussi ikut bergabung"
Kyujoon diseberang menghela nafas lega. "Aku kira respon mu tidak akan sebahagia ini. Baiklah sampai jumpa besok?"
"Ne~ Sampai jumpa besok ahjussi"
Wonwoo menurunkan ponselnya setelah kekasih sang ibu mengakhiri panggilan. Namja bermarga Jeon itu tersenyum kecil, merasa tidak sabar untuk bertemu calon saudara tirinya.
"Aku jadi penasaran dengan wajahnya. Apakah ia lebih tampan dariku? Apakah dia lebih tinggi?"
Sekarang Wonwoo malah sibuk mengekspetasikan bagaimana rupa calon saudara tirinya. Tapi ia sangat berharap calon saudara tirinya memiliki sifat yang sama persis dengan ayahnya.
.
.
.
.
9.45 A.M KST
Wonwoo duduk disofa dengan ponsel yang setia berada digenggamannya. Tersisa lima belas menit sebelum kekasih ibunya datang, Wonwoo memutuskan untuk menonton televise sebentar.
Ia menghela nafas kecewa ketika acara favoritenya sudah selesai. Wonwoo sangat bosan kali ini, bahkan sang ibu sudah pergi bekerja tepat pukul tujuh pagi. Padahal ia mengira sang ibu akan ikut pergi bersamanya untuk minum coffee.
"Sudah hampir jam sepuluh…" Wonwoo bergumam setelah melihat kearah jam dinding.
Akhirnya Wonwoo memutuskan untuk pergi kedapur. Tiba-tiba ia ingin banana milk.
"Sisa dua?!" Wonwoo berucap tidak percaya ketika melihat persedian banana milknya sudah sekarat. Mungkin setelah acara minum coffee berakhir, Wonwoo akan pergi membeli banana milk.
Drrrrttttt
Dengan terpaksa ia harus menghentikan acara minum banana milknya. Sekarang ia bisa melihat nama Kyujoon bertengger manis dilayar ponselnya. Tidak mau membuat kekasih ibunya menunggu lebih lama, Wonwoo langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Yeoboseyo ahjussi"
"Yeoboseyo Wonwoo-ya. Kau sudah bersiap?"
"Tentu saja" Balas Wonwoo.
"Mianhae, mungkin ini akan sedikit membuatmu kecewa. Ahjussi tidak bisa menjemputmu, tiba-tiba saja ada meeting mendadak. Mungkin ahjussi akan menyusul jika meeting sudah selesai. Jadi kau mengobrol-lah dengan anak ahjussi lebih dahulu."
"Baiklah. Tapi… aku harus pergi ke café atau coffee shop yang mana?" Untungnya Wonwoo ingat untuk bertanya.
"Ditempat pertama kali kita bertemu. Dia menanti mu disana…"
"Baiklah. Sampai nanti ahjussi"
"Ne… Sampai jumpa nanti Wonwoo-ya"
.
.
Perlu waktu yang lumayan lama bagi Wonwoo untuk sampai café yang dimaksud oleh kekasih ibunya, karena ia harus menunggu bus datang lebih dahulu. Saat tiba di café, ia bisa melihat seorang namja duduk sendirian. Ia berspekulasi bahwa namja itu adalah calon saudara tirinya.
Akhirnya ia melangkah dengan pasti ke meja namja tersebut.
"Annyeonghaseyo"
Namaja itu menghentikan kegiatan bermain ponselnya, ia melirik kearah Wonwoo.
"Ne? A–annyeonghaseyo" Namja itu menjawab sedikit ragu. Wonwoo langsung menarik kursi dan duduk berhadapan dengan namja tersebut.
"Apakah kau sudah lama menunggu?" Tanya Wonwoo. Namja itu mengangguk singkat, namun terlihat ragu.
"Maaf membuatmu menunggu lama. Oh iya aku Jeon Wonwoo" Wonwoo mengulurkan tangannya, namja itu menerima uluran tangan Wonwoo. Mereka berdua berjabat tangan sebentar.
"Kyujin, Han Kyujin…" Jawab namja tersebut. Wonwoo tersenyum kecil ketika sadar nama depan Kyujin sama dengan Kyujoon.
"Aku sangat senang bisa bertemu denganmu" Ucap Wonwoo lagi.
"Aku juga senang bisa bertemu denganmu Wonwoo-ssi"
"Jangan terlalu formal. Kau tidak perlu memanggilku dengan embel-embel ssi" Namja itu mengangguk paham.
"Baiklah, Wonwoo-ya?" Wonwoo mengangguk setuju. "Seperti itu lebih baik" Ujar Wonwoo kemudian dengan senyum tipis kearah Kyujin.
"Kau tidak memesan? Kau suka coffe yang mana?" Tangan Wonwoo meraih daftar menu yang tergeletak diatas meja. Kyujin menatap pergerakannya.
"Eummm–aku tidak suka coffe…" Mata Wonwoo beralih pada namja dihadapannya.
"Kau tidak suka coffe?" Ulang Wonwoo, namja itu mengangguk kecil.
"Ohh… baiklah" Wonwoo merasa bingung kali ini. Jelas-jelas kekasih ibunya mengatakan akan minum coffee bersama. Tapi bagaimana mau minum coffee bersama jika anaknya saja tidak suka cofffe.
"Ayah mu suka coffee yang mana?" Kyujin mengerutkan alis ketika mendengar pertanyaan Wonwoo.
"Aku tidak tahu…" Jawabnya dengan jujur. Wonwoo kembali menatapnya.
"Baiklah, mungkin kita bisa memesan coffee untuk ayahmu nanti saja…"
"Ayahku?" Kyujin menatap tidak mengerti dengan maksud ucapan Wonwoo.
"Iya ayahmu. Kyujoon ahjussi"
Namja itu terdiam dengan mata menatap penuh tanya kearah Wonwoo.
"Seingatku, nama ayahku bukan itu…" Kyujin bisa melihat bagaimana ekspresi tidak percaya Wonwoo dengan ucapannya.
"Han Kyujin?" Kyujin dan Wonwoo reflek menoleh kearah pintu masuk. Disana sudah ada dua orang berdiri menatap mereka.
"Maaf, kurasa kau salah orang. Hari ini aku memang ada janji dengan kekasih noona ku, dan kukira kau kekasih noona ku, tapi ternyata tidak" Kyujin bangkit dari posisinya.
"Kau bisa duduk disini. Senang berkenalan denganmu"
Wonwoo hanya diam mendengar ucapan Kyujin. Matanya masih sibuk memandang kearah pintu masuk, bahkan ketika Kyujin mengucapkan sampai jumpa, Wonwoo tidak membalasnya sama sekali.
Orang itu berjalan kearahnya. Wonwoo tidak percaya dengan pengelihatannya, ia juga tidak percaya dengan kenyataan yang ada.
Saat tiba dihadapan Wonwoo, orang itu tersenyum kearahnya.
"Maaf membuatmu menunggu lama Jeon Wonwoo…"
TBC
A/N : Yoshhh chapter tujuh.
Entah fanfic ini bakal habis dichapter berapa, masih bingung mau ngelanjutin kayak gimana. Mungkin ada banyak typo disini, soalnya males ngecek ulang.
Makasih ya untuk semua yang sudah mau nungguin kelanjutan problematika. Makasih untuk yang sudah fav, follow, dan review. Makasih : )
Akhir kata lanjut atau tidak?
Yay or Nay?
Untuk menjawab silahkan review reader-deul.
