Beware of typos!

.

.

.

#6. Kusut

Efek tertidur di pesawat yang beberapa jam saja mulai terasa. Pukul sembilan pagi mereka tiba di hotel. Rasanya tubuh Baekhyun ingin kembali tidur, tetapi ia tidak bisa memejamkan matanya. Maka Baekhyun beranjak keluar dari kamarnya dan menyesap secangkir kopi di restoran hotel yang berada di lantai bawah. Baekhyun memilih duduk di beranda restoran. Ia menyesap kopinya perlahan dan mengedarkan pandangannya, pada pemandangan alam indah yang dimiliki kota ini.

Langit nampak mendung. Rasanya sangat tenang.

Namun kemudian ketenangan itu sedikit terusik saat Chanyeol datang dengan secangkir kopi di tangannya. Sama diam-diamnya seperti awan yang meredupkan matahari perlahan-lahan. Chanyeol duduk di depan Baekhyun dan memandang kejauhan dalam diam. Tidak ada yang mengatakan apapun. Baekhyun pun menyesap kopinya dan kembali sibuk dengan pikirannya.

"Apa yang dilakukan oleh insan manusia bila rindu dengan kekasihnya, sedangkan kekasihnya itu adalah seseorang yang terlarang untuknya?" tiba-tiba saja Chanyeol bertanya seraya masih memandang ke kejauhan.

Baekhyun mengangkat kepalanya memandang Chanyeol. Sejenak ia bingung untuk menjawab pertanyaan itu. Merindukan seseorang yang bukan milik kita? Tentu sangat menyakitkan dan tentu saja hal pertama yang dilakukan adalah menangis. Memendam rindu memang terasa berat hingga teman berbagi hanyalah air mata. Namun entah mengapa Baekhyun tidak ingin menjawab dengan itu, karena ia merasa itu bukan jawaban yang Chanyeol inginkan.

Setelah berpikir sejenak akhirnya Baekhyun menjawab, "Entahlah, mungkin hanya bisa menikmati kerinduan itu. Mungkin dengan sedikit berharap rindu itu akan terobati dengan kenangan bersamanya. Hanya berharap sesaat, lainnya hanya Tuhan yang tahu apa yang terbaik untuk kita."

Seraya masih memandang ke kejauhan Chanyeol berkata, "Tapi insan manusia itu sekarang sedang terhanyut sangat jauh, tenggelam begitu dalam bersama kenangan-kenangan indah itu. Dia ingin keluar dalam keterpurukannya, tapi tangan itu begitu kokoh menariknya ke dalam. Masih ada senyum di bibirnya, tapi andaikan hati dilihat, mungkin sudah tidak berbentuk. Kapan semua ini akan berakhir?"

Baekhyun terdiam dan menggenggam cangkirnya dengan kedua tangannya. Sekilas itu terdengar seperti sebuah puisi. Tetapi ia tahu, itu adalah ungkapan hati Chanyeol. "Chanyeolie—" katanya.

Chanyeol menoleh. Ia memandang Baekhyun selama beberapa saat dan kemudian tersenyum. "Ayo kita jalan-jalan," ajaknya.

Dan begitulah, pagi itu mereka habiskan dengan berjalan-jalan di alam bersama. Menelusuri keindahan kota London. Memotret pepohonan dan ranting dari halaman gereja. Terus berjalan hingga lelah dan kemudian mendamparkan diri pada kursi kayu yang reyot di pinggir pantai seraya menikmati air kelapa yang segar.

Chanyeol mengarahkan kameranya pada Baekhyun yang sedang berusaha mencongkel daging buah kelapa. Dan kemudian terdengar bunyi 'klik' yang familiar saat Baekhyun hendak memasukkan daging buah kelapa ke dalam mulutnya. Baekhyun memandang Chanyeol dan pura-pura merengut.

"Nice," kata Chanyeol seraya melihat hasil jepretannya.

Baekhyun hanya tersenyum dan mengambil kamera dari tangan Chanyeol. Selanjutnya, Baekhyun memotret Chanyeol. Dan Chanyeol kembali memotret Baekhyun. Mereka tertawa, seakan-akan semuanya sempurna. Seraya menikmati kelapa, mereka mengobrol tentang materi.

"Chanyeolie, sebagai seorang fotografer yang terkenal, bukankah kau bisa membeli apa saja yang kau mau?" tanya Baekhyun.

Chanyeol memandang Baekhyun sesaat. Lalu dengan nada serius ia berkata, "Tidak, kau salah. Buktiknya aku tidak bisa membeli hatimu. Dan itu adalah satu hal yang paling aku inginkan di dunia ini. Membeli hatimu dan menjadikannya milikku selalu."

Baekhyun terdiam memandang Chanyeol, dan kemudian mengalihkan pandangannya pada buah kelapa di depannya. "Memang, tidak semua dapat dibeli dengan materi," gumamnya pelan.

Pukul sebelas mereka kembali ke hotel. Chanyeol mengantar Baekhyun hingga ke depan pintu kamarnya. Ia melepaskan genggaman tangannya dan memandang Baekhyun lekat-lekat. Ia menyentuh wajah Baekhyun dengan lembut, dan dengan lembut pula ia mencium bibir Baekhyun.

"Aku mencintaimu, Byun Baekhyun," bisik Chanyeol, sebelum kemudian ia beranjak pergi.

Baekhyun hanya terdiam memandang punggung Chanyeol yang menjauh pergi, dan menghilang di ujung lorong. Kemudian ia beranjak masuk ke dalam kamarnya. Ia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dan mendesah. Baekhyun tahu, mungkin ia egois karena menginginkan Chanyeol dan Sehun. Tapi ia tidak pernah memaksa Chanyeol untuk tinggal. Ia tahu bahwa Chanyeol berhak mendapatkan seseorang yang menganggapnya sebagai satu-satunya. Mungkin, akan lebih mudah baginya jika Chanyeol pergi. Dengan begitu, ia tidak perlu memilih.

"Tetapi kau tetap tinggal, Chanyeolie. Dan itu membuatku semakin berat, jika suatu saat aku harus melepaskanmu..." kata Baekhyun lirih.

*ChanBaek*

"Miringkan kepalamu sedikit ke kanan, Baekhyunie."

Baekhyun memiringkan kepalanya sesuai arahan dari Chanyeol. Dan suara shutter kamera kembali terdengar. Pagi ini mereka kembali melakukan pemotretan yang sibuk. Setelah sesi pertama usai, mereka beristirahat sejenak sebelum mulai dengan sesi pemotretan selanjutnya. Baekhyun duduk di kursinya, menyesap segelas es jeruk dan memandang Chanyeol yang sedang sibuk berbicara dengan beberapa staff.

"Bukankah dia lebih baik?" kata Do Kyungsoo tiba-tiba.

Baekhyun menoleh memandang sang manajer yang duduk di dekatnya. "Apa?" katanya, tidak mengerti.

Kyungsoo mengendikkan kepalanya ke arah Chanyeol dan kembali berkata, "Kau tahu? Aku selalu berpikir, bahwa Chanyeol-ssi jauh lebih baik untukmu. Dibandingkan dengan Sehun-ssi yang selalu menghilang sesukanya, bukankah Chanyeol-ssi selalu ada untukmu? Dengan Chanyeol-ssi, kau bisa mempunyai hubungan yang matang. Kau akan lebih terkendali dan tidak terlalu sering tiba-tiba menghilang seperti kekasihmu yang aneh itu."

Baekhyun hanya terdiam memandang manajernya. Kyungsoo menepuk pelan bahu Baekhyun dan beranjak pergi saat Chen memanggilnya. Sepeninggal Kyungsoo yang mulai sibuk dengan Chen dan beberapa staff wardrobe lainnya, Baekhyun kembali memandang Chanyeol. Ia tahu, Chanyeol memang tidak pernah mempermasalahkan dunia lain yang Baekhyun miliki dibalik cermin. Pria tampan itu tidak pernah mempertanyakan, apalagi meminta Baekhyun untuk memilih. Chanyeol hanya mengada di saat-saat Baekhyun membutuhkan seseorang. Begitu saja. Tanpa syarat. Chanyeol yang menghapus air matanya ketika sesekali Sehun membuatnya sakit hati. Chanyeol yang ada disisinya ketika Sehun tidak ada, dan menyingkir ketika Sehun hadir.

Namun ketika Baekhyun berpikir tentang cinta, bukan wajah Chanyeol yang terbayang. Tapi justru sosok Sehun yang melingkupi hatinya dengan ratusan kupu-kupu. Sehun yang selalu bisa membuat jantungnya berdegup lebih kencang. Dan sesi-sesi pemotretan yang mereka lalui bersama selama beberapa hari ini membuat Baekhyun sadar, bahwa hidupnya hanya terdiri dari dua jarum kompas. Chanyeol dan Sehun. Hati Baekhyun, tentu saja, selalu menunjuk ke Utara. Dan ia, maupun Chanyeol, selalu tahu bahwa Utara adalah Sehun. Tetapi Utara tidak akan ada tanpa Selatan, begitu pula sebaliknya. Semua jadi nampak rumit. Kusut.

Tbc