Genre : Horror – Fantasy

Cast : Super Junior – EXO

Pairing : KyuMin

Jika tertulis "Jangan Dimainkan" berarti jangan pernah kau berpikir atau mencoba untuk memainkannya. Rantai kesalahan dan petaka akan menanti dengan pasti. ( The Reason ) – Dhee

.

.

.

.

The Reason

.

.

Salju bertumpuk setebal lima centimeter menutupi jalanan Korea. Udara pada malam semakin terasa menusuk tubuh. Korea tengah berada pada suhu dibawah nol. Tidak ada aktifitas yang terlihat dari kota yang paling sibuk ini. Bahkan beberapa pusat pertokoan pun telah tutup lebih awal. Kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk berdiam diri menghangatkan tubuh di dalam rumah. Ya, bisa dibayangkan beberapa menit kau berdiam diri ditengah udara yang tidak bersahabat. Maka bisa dipastikan kau akan membeku.

Begitu juga dengan bangunan sederhana yang terletak dipemukiman di pinggiran kota. Sang pemilik rumah terlihat sibuk dengan alat pembuat coffe yang terdapat di atas meja bundar berwarna cokelat. Umurnya yang telah menginjak lima puluh tahun tak membuatnya melakukan sesuatu dengan lambat. Hanya saja raut wajahnya nampak kosong seakan diliputi kesedihan yang mengambil seluruh semangat hidupnya. Ia menuangkan coffe ke dalam cangkir putihnya dan berjalan menuju bangku kayu yang langsung menghadap sebuah televisi berlayar datar.

Ting..tong..

Bunyi bel yang terdengar kencang, menghentikan kegiatan pria paruh baya itu. Ia berjalan menuju pintu dan membukanya. Sejenak seutas senyum hadir ketika melihat siapa orang yang tengah menganggu waktu santainya.

"Silakan masuk, Siwon!" Ucap pria itu dengan sangat sopan. Siwon mengangguk dan melangkah masuk mengikuti sang pemilik rumah. Siwon sejenak melirik keadaan sekitar dan memang terlihat dengan jelas bahwa sang pemilik berada di rumah seorang diri. Siwon mendudukan dirinya di atas sofa.

Sang pemilik rumah berjalan menuju dapur. Beberapa menit, Ia kembali dengan secangkir coffe dan memberikannya kepada Siwon.

"Apa yang membuatmu datang kemari, Siwon? Apakah ada masalah di Universitas?"

"Tidak Tuan Kangin. Aku hanya ingin menjengukmu. Aku mendengar kabar bahwa kau sedang sakit. Maka aku menyempatkan diri untuk berkunjung." Siwon menampilkan ekspresi penuh perhatian dengan nada bicara yang dibuat sesendu mungkin. Pria paruh baya itu hanya membalas dengan tertawa kecil.

"Kau menjengukku disaat udara yang tidak bersahabat seperti sekarang. Jangan memaksakan diri, Siwon. Aku mengkhawatirkanmu. Lagipula kau tidak perlu cemas. Aku ini memang sudah tua dan berpenyakitan." Kangin tetap saja menjelaskan dengan tertawa. Nada suaranya penuh kehangatan seakan ia sedang berbicara dengan anaknya sendiri.

"Kau tidak kesepian, Tuan Kangin?" Kangin hanya menyandarkan tubuhnya sambil menatap pigura kecil yang terdapat di atas lemari setelah mendengar pertanyaan dari Siwon.

"Rasanya 7 tahun ini sungguh sangat melelahkan dan Aku ingin menyerah." Ucap Kangin singkat tanpa memperhatikan ekspresi Siwon yang telah berubah dengan pandangan tajam dan senyum sinis.

"Kau merindukan putri kecilmu itu, Tuan Kangin?" Tanya Siwon lagi dan Kangin hanya membalas dengan mengangguk. Kangin mengambil pigura dan memandangnya cukup lama. Perlahan air mata menetes dari sudut matanya. Siwon yang melihat hal itu mendecih kesal. Ekspresi ketidaksukaan dan kebencian mengalir kuat dari wajahnya. Tangannya terkepal dengan sangat kencang. Ia mengeluarkan sesuatu dari balik mantel tebal berwarna hitam yang tengah ia kenakan.

"Sekarang, sudah tiba waktumu!" Siwon berdiri tepat dihadapan Kangin. Kangin sangat terkejut dengan membelalakan matanya ketika sebuah handgun tengah mengarah tepat di depannya. Tubuhnya refleks untuk mundur tapi Siwon sudah terlebih dulu mencengkram bahu Kangin. Pigura yang tergenggam di tangan Kangin, diambil dan dilemparkan ke lantai.

"Apa yang kau lakukan?" Kangin mencoba untuk memberikan perlawanan dengan mendorong tubuh Siwon dan membuat Siwon terjatuh dengan posisi terjerembab ke lantai. Refleks, Siwon menarik pelatuk pada handgun yang masih tergenggam di tangannya. Dalam hitungan detik, berganti tubuh kekar Kangin yang ambruk ke lantai. Proyektil runcing itu tepat menembus dada kiri Kangin. Darah mulai terlihat mengalir dari balik sweater hitam yang Kangin kenakan.

Siwon berdiri dan mendekat ke arah Kangin. Ia melihat dada Kangin masih bergerak naik turun walaupun dalam gerakan yang sangat lambat. Siwon kembali mengarahkan handgun dan menembakkan dengan membabi buta. Siwon seakan tidak bisa mengontrol tubuhnya sendiri. Ia terlihat seakan tidak peduli dengan jeritan kesakitan dari Kangin. Matanya seakan buta melihat darah yang terus saja keluar dan membasahi lantai bermarmer putih.

Setelah memastikan Kangin sudah tidak bernyawa. Siwon menyimpan kembali handgun dibalik mantel tebalnya dan berjalan keluar. Raut wajah tak bersalah seakan tidak terjadi apapun. Bahkan sebuah senyuman penuh kemenangan terlihat mendominasi wajah tampan seorang Siwon.

00000000000

Halaman Korea University of Art dipenuhi oleh ratusan mahasiswa yang berbaris dengan rapi. Pada barisan paling depan berdiri juga para staff pengajar. Seharusnya suasana yang terdengar adalah riuh tetapi kali ini hanya keheningan dengan ekspresi sedih yang lebih mendominasi. Semua nampak menundukan kepala.

Sebuah peti kayu panjang tengah terbaring diantara kumpulan orang-orang itu. Pigura besar yang menampilkan seorang pria paruh baya dengan setelan jas lengkap berwarna hitam nampak tersenyum. Seorang pastur berdiri di sana memimpin doa membuat suasana semakin terasa menyayat hati. Beberapa mahasiswa bahkan tak sanggup menahan air mata mereka.

"Terbaring dengan damai. Sosok penuh kebajikan dan teladan yang sempurna. Semoga Tuhan mengangkatnya ke surga dan menjadikannya tenang di sana, amin." Suara pastur terdengar mengakhiri acara penghormatan terhadap jenazah Kangin.

Peti itu diangkat dan dimasukan ke dalam limousin hitam. Kyuhyun berada tepat di depan dengan mengangkat pigura. Kyuhyun tidak menangis tetapi tatapan matanya terlihat kosong seakan tubuh dan jiwanya tidak bersatu pada tempat yang sama. Tidak ada senyuman bahkan smirk andalannya pun tidak terlihat. Kyuhyun bagaikan mayat hidup yang bisa berjalan. Wajahnya semakin terlihat pucat, matanya membengkak dengan pupil mata yang memerah.

Vincent yang berdiri di samping Kyuhyun hanya bisa menundukan kepalanya. Sungguh Ia tidak sanggup melihat ekspresi Kyuhyun yang seperti ini. Vincent bahkan lebih merasa bahagia ketika Kyuhyun bertindak arogan terhadap mahasiswanya dibandingkan Ia harus melihat Kyuhyun yang penuh kesedihan.

Pemakaman dilaksanakan di atas sebuah bukit yang dikhususkan sebagai tempat pemakaman umum. Letaknya yang berada paling atas dengan sebuah kubah kecil dengan tambahan tanaman bunga dan pohon-pohon rindang. Beberapa pelayat nampak sudah meninggalkan pemakaman. Hanya tersisa Kyuhyun, Vincent, dan Aiden. Kyuhyun masih terduduk bersimpuh di sebelah pusara Kangin. Ia sama sekali tidak berbicara. Ia hanya menunduk sambil memandangi batu pualam yang terukir huruf-huruf hangeul dengan warna gold.

"Hyung, sebaiknya kau temani Kyuhyun! Kurasa Ia sangat membutuhkanmu. Aku pulang terlebih dulu." Aiden menepuk pundak Vincent dan berjalan meninggalkan mereka.

Vincent sejenak ragu untuk mendekat kearah Kyuhyun. Akhirnya Ia memberanikan diri untuk ikut duduk di samping Kyuhyun dan mengelus telapak tangan Kyuhyun yang terkepal erat. Tangan itu terasa sangat dingin.

"Kyu?" Suara Vincent terdengar sangat pelan.

"Janjimu, tidak akan ada lagi nyawa yang hilang. Lalu ini apa? Kemarin Jongwoon, mantan pengajar dan juga kakak kandung Siwon. Sekarang Tuan Kangin." Kyuhyun tidak merubah posisinya. Matanya masih tertuju pada nisan itu. Sementara Vincent merasa sangat terkejut dengan ucapan Kyuhyun.

"Kau sudah tahu bahwa Siwon akan membunuhku dan Tuan Kangin. Tapi kau hanya diam dan tidak melakukan apa-apa. Seharusnya kau melakukan sesuatu agar Tuan Kangin tidak terbunuh dan tidak akan ada lagi korban lainnya. Kau tahu rasanya kehilangan, Vincent? Ini sangat menyakitkan." Kyuhyun setengah berteriak bahkan ia mengacak rambutnya frustasi. Tubuhnya bergetar hebat dan wajahnya kembali basah oleh air mata. Vincent mencoba memeluk tubuh Kyuhyun tapi refleks Kyuhyun menjauh dan menolak.

"Maafkan aku, Kyuhyun." hanya itu yang bisa Vincent katakan dengan suara yang tertahan. Vincent tak sanggup lagi menahan perubahan sikap Kyuhyun terhadap dirinya. Sungguh rasanya terasa sakit.

"Maaf, aku telah mengecewakanmu. Sebaiknya aku pergi." Vincent berdiri dan hendak melangkah. Tiba-tiba saja Kyuhyun menahan lengannya. Kyuhyun berdiri dan memeluk tubuh Vincent dengan sangat erat. Vincent memejamkan matanya sejenak dan mengelus punggung Kyuhyun.

"Aku tidak bermaksud menyalahkanmu. Ku mohon maafkan sikapku tadi! Aku hanya tidak tahu harus berbuat apa lagi, Vincent. Kini aku benar-benar sendiri. Jangan tinggalkan, aku!" Kyuhyun merangkul pundak Vincent seakan jika Kyuhyun melepasnya maka Vincent akan menjauh pergi.

"Aku mohon mengerti, Vincent. Aku benar-benar sangat kacau hari ini." Ucap Kyuhyun lagi dan Vincent merasakan detak jantung Kyuhyun yang bekerja lebih kencang.

"Aku tidak akan meninggalkanmu, Kyu. Aku tahu kondisimu sekarang sedang memburuk. Sebaiknya kita pulang!" Vincent melepas pelukannya dan menatap Kyuhyun. Vincent mengenggam tangan Kyuhyun dan mengajaknya untuk meninggalkan pemakaman. Kyuhyun memutar tubuh sebentar dan membungkuk 90derajat kepada makam Kangin. Kemudian Ia mengikuti Vincent untuk berjalan menuruni bukit.

"Kyu, aku hanya tahu apa yang akan terjadi nanti. Tapi tentunya tidak secara detail, semua itu hanya gambaran untukku. Aku tahu bahwa Siwon akan membunuh Jongwoon dan Tuan Kangin karena gambaran itu terlihat samar sebelum kejadian ini terjadi. Tapi aku tidak tahu kapan dan dimana. Aku juga tidak bisa menceritakan itu kepada semua orang karena tugasku hanya untuk melihatnya sebagai keistimewaan soul translator. Semua misteri hanya sang pencipta yang mengetahui karena memang dirinya yang sudah menuliskan." Vincent menjelaskan diperjalanan menuruni bukit dan Kyuhyun mendengarkan dengan tersenyum.

"Selanjutnya apa giliranku, Vincent? Ku harap kau bisa terlebih dulu membuat Siwon mendapatkan hukuman atas perbuatannya."

"Aku tidak tahu. Hanya saja, aku akan memulai permainanku malam ini. Kau akan menemaniku, Kyu? Sesuai janjimu, jika aku membutuhkanmu. Kau akan berada di sampingku bukan?" Kyuhyun mengangguk sebagai respon balasan atas pertanyaan Vincent. Keduanya berjalan menuju sebuah mobil putih yang terparkir di halaman pemakaman.

00000000000

Siwon nampak terkejut ketika seorang maid mengedor pintu kamarnya dengan tergesa-gesa. Siwon yang baru saja terlelap, melempar kasar selimutnya ke lantai. Ia membuka pintu dan menatap sang maid dengan marah.

"Apa yang kau lakukan?"

"Maaf Tuan. Ada suara bising yang terdengar dari lantai basement. Suaranya semakin kencang dan makin lama seperti jeritan." Maid itu menjelaskan dengan terbata-bata. Wajahnya mengeluarkan keringat dingin dan pucat. Siwon yang mendengar langsung berlari menuju tempat yang dikatakan sang maid.

Siwon mengeluarkan kunci dan membuka basement lantai bawah. Kegelapan adalah hal yang pertama muncul. Siwon segera mengunci pintu kembali. Ia tidak memperbolehkan siapapun untuk memasuki ruangan ini. Siwon berjalan di dalam gelap. Telapak kakinya yang telanjang dibiarkan meraba karpet kasar yang dibuat garis lurus untuk memberinya arah ketempat yang dituju. Suara jeritan seperti yang dikatakan sang maid terdengar di telinganya. Siwon menuruni anak tangga hingga sebuah cahaya terlihat. Hawa dingin yang tidak wajar terasa ditengkuknya.

Siwon tak melihat apapun yang aneh di depannya. Semua nampak biasa, ada tabung besar yang terbaring, beberapa tabung kecil, meja cokelat dan seseorang yang terikat dibagian ujung ruangan. Orang itu nampak terpejam, entah karena kelelahan atau apapun itu alasannya, Siwon tidak peduli. Hanya saja suara-suara jeritan itu terdengar tanpa wujud. Suara benda-benda yang dibuang ke lantai, suara tembakan, dan suara tangis terasa menusuk pendengarannya.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" Siwon menutup telinganya dengan kedua tangannya. Ia berjalan mendekat kearah sosok yang terikat. Ia menguncang-guncangkan tubuh pria itu dengan kasar hingga pria itu membuka matanya. Siwon menarik kain yang membekap mulut pria itu.

"Apa yang terjadi? Dari mana semua suara ini?" Tanya Siwon dengan marah. Sementara Luhan, pria yang diikat hanya memandang sekitar dengan bingung.

"Apa maksudmu? Aku tidak mendengar apapun." Luhan menjawab sekilas dan membuat Siwon mencengkram rambut pirang Luhan hingga Luhan menjerit kesakitan.

"Jangan membohongiku, profesor bodoh. Apa kau mau aku membunuh Kyungsoo malam ini juga?" Ancam Siwon dengan berteriak. Beberapa helai rambut Luhan ikut terlepas karena cengkraman kuat dari tangan Siwon.

"Tapi aku benar. Aku tidak mendengar suara apapun. Mungkin kau hanya berhalusinasi, Siwon." Luhan mencoba menjelaskan sambil menahan rasa sakit.

"Apa telingamu sudah tuli? Suara ini sungguh menyakitkan telingaku. Suara jeritan, tembakan dan barang yang dilempar ke lantai. Maidku saja mendengarnya." Siwon melepas tangannya dan kembali memperhatikan keadaan sekitar. Semakin lama suara itu semakin terdengar cukup jelas. Udara dinginpun seakan membuat tubuhnya beku.

"Siwon, bukankah seluruh maidmu sedang berlibur? Kau sendiri yang mengatakan padaku siang tadi saat mengantarkanku makan siang. Kau hanya sendiri di mansion ini." Luhan sejujurnya sangat takut mengatakan hal ini. Tapi orang di depannya itu semakin terlihat tidak rasional.

Siwon yang mendengar ucapan Luhan, berdiri kaku. Ia mulai berpikir dan menyadari bahwa apa yang dikatakan Luhan benar. Hanya ada dirinya di dalam mansion. Tiba-tiba banyak pertanyaan muncul di dalam pikiran Siwon.

"Siapa wanita yang mengetuk pintunya tadi?"

"Darimana asal hawa dingin dan semua suara ini?"

"Dan lalu, Mengapa hanya aku yang mendengar suara ini? Kenapa Luhan yang berada di dalam ruangan ini tidak mendengarnya sama sekali?"

Siwon memukul meja kayu dengan sekuat tenaga hingga meja itu ambruk dan patah. Ia berjalan meninggalkan ruangan dengan sangat frustasi. Sementara Luhan yang ditinggalkan hanya memandangnya dengan sinis. Luhan beralih memperhatikan ruangan sekitar dan menajamkan pendengarannya. Sejujurnya Luhan memang merasakan hawa yang berubah tapi Ia sama sekali tidak mendengar suara seperti yang Siwon katakan. Luhan menghela nafas panjang sambil menatap langit-langit yang berupa bata-bata hitam.

"Kurasa hukuman akan mulai dijatuhkan padamu, Siwon."

-The other side-

Kyuhyun nampak kebingungan. Alisnya terangkat dan dahinya mengkerut mengamati kegiatan pria yang sedang berdiri di depan sebuah buku tebal yang terbuka. Tangan kanan pria itu memegang sebuah tongkat kecil seukuran dua puluh centimeter yang berukir dengan tulisan dan simbol-simbol yang Kyuhyun tidak mengerti. Ada sebuah batu kecil berwarna hijau zamrud yang menyala bersamaan dengan lafal yang terdengar.

"Sudah perhatikan saja! Tidak perlu berpikir terlalu keras. Aku saja yang seumur hidup menyaksikan ini, tidak pernah mengerti apa yang dilakukan Sungmin hyung." Aiden sedikit tersenyum kecil melihat ekspresi Kyuhyun memperhatikan apa yang dilakukan oleh hyungnya.

"Sungmin? Siapa Sungmin?" Kyuhyun giliran menatap Aiden dengan bingung.

"Itu nama asli Vincent hyung. Namanya Lee Sungmin dan namaku Lee Donghae. Kami memang orang Korea. Kedua orang tua kami pindah ke London. Entah apa masalahnya? Kami ditinggalkan begitu saja oleh kedua orang tua kami. Sungmin hyung tidak menceritakan alasannya. Ia hanya bilang. Aku harus melupakan semuanya termasuk nama asli kami. Ia sangat membenci semua masa lalu kami." Aiden merasa bahwa pria disebelahnya ini setidaknya harus tahu tentang masa lalu mereka. Aiden hanya yakin bahwa Kyuhyun tidak akan menyakiti hyungnya itu.

Keduanya berhenti ketika Vincent berteriak dengan menancapkan tongkat itu tepat pada bagian tengah buku. Kali ini sebuah cahaya merah menyala terpancar. Lembaran buku yang semula hanya berupa kertas putih polos kini sudah berubah dengan tulisan-tulisan yang terukir dengan tinta merah. Tubuh Vincent bergetar hebat. Kyuhyun baru saja akan mendekat tetapi Aiden terlebih dulu menahannya.

"Jangan dulu, Kyuhyun! Ritualnya belum selesai. Kita tidak boleh menganggunya. Percayalah, Sungmin hyung bisa menghadapinya. Ini baru awal dari pekerjaan yang Ia lakukan. Ia hanya akan menuliskan dulu kepada jiwa Siwon." Mendengar ucapan Aiden. Kyuhyun menahan dirinya untuk mendekat ke arah Vincent. Sungguh Kyuhyun tidak sanggup melihat Vincent dengan keadaan seperti itu.

Aiden menarik Kyuhyun mendekat setelah melihat tubuh Vincent yang sudah kembali tenang. Vincent masih berdiri kaku. Kyuhyun sejenak merasa takut melihat sosok berbeda dari Vincent. Matanya berubah menjadi hijau serupa dengan cahaya pada tongkat yang Vincent pegang.

"Jangan bicara dulu! Sungmin hyung masih belum menjadi dirinya yang sebenarnya." Aiden berbisik dan dibalas dengan anggukan oleh Kyuhyun.

Kyuhyun melirik kearah buku yang tertulis oleh tinta merah.

Aku menjemput untuk mengembalikan semua yang tersesat

Aku menuntun mereka menuju pintu kematian yang abadi

Aku menembus dalam gelap yang berselimut oleh darah ketamakan

Aku akan menghancurkan tiap keping kesalahan

Aku, soul translator

Lee Sungmin

.

.

.

.

To Be Continued

*** lanjut,,, chapter berikutnya

Regards

Dhee