Why So Serious

Disclaimer to Masashi Kishimoto

Sebagian chara aku pinjam ya om Kishi :)

This story is mine

By Agiw aka Zia aka Anggia

Mungkin orang akan menganggapku wanita bodoh. Tetap berada disini. Berarti kau menyerahkan masa depanmu pada kegelapan.

Tapi percayalah kau akan melakukannya demi seseorang. Karena cintamu padanya tanpa memandang sisi gelapnya. Dan ini adalah senjata harapanku. Jalan cintaku untuk selalu berada disampingnya, berjalan berdampingan dengannya, dan saling berbagi kebahagiaan ataupun kesedihan. Menyingkirkan duri yang menghalangi jalanku. Walau harus dengan menumpahkan darah. Karena dengan bersamanya hidupmu akan terasa lengkap.~ Hinata

Happy Reading

Samantha Hotel. Shibuya street. Tokyo

Sasuke baru tiba di hotel. Setelah melakukan perjalanan malam dirinya langsung menghubungi Hinata lewat video call.

Pukul dua malam.

'Hallo hime.' sapa Sasuke.

'Hallo Sasuke-kun.' Hinata tersenyum manis. Dan Sasuke sangat senang masih bisa melihat wajah dan senyuman lembut kekasihnya.

'Aku sudah sampai di hotel.' akunya Sasuke.

'Sasuke-kun sudah makan?' Sasuke menggelengkan kepalanya.

'Aku belum lapar.' jawabnya asal.

'Makanlah. Kau pasti lapar.' saran Hinata.

'Tunggu. Aku masih ingin melihatmu hime.' Sasuke merengek seperti anak kecil.

'Baiklah.' Hinata masih dengan senyumannya.

Lama sekali Sasuke melihat Hinata lewat benda datar persegi panjang itu membuat Hinata geram.

'Sasuke-kun.' ucap Hinata dengan nada geram.

Sasuke terkejut, lalu terkekeh dengan tampannya.

'Oke. Aku akan makan.' seru Sasuke.

'Baguslah. Setelah itu kau istirahatlah. Kau pasti lelah.' tanpa menunggu jawaban Sasuke, Hinata mengakhiri panggilannya.

'Jaa. Mata aimasu Sasuke-kun.'

Tut tut tut

Sasuke belum puas dan wanita itu sudah mengakhirinya. 'Baiklah lihat saja nanti hime' batin Sasuke.

'Jaa. Mata aimasu hime.' salam penutup Sasuke yang tak ada artinya.

*Why So Serious*

Selama dua jam Sasuke istirahat. Dia memutuskan untuk bersiap-siap pergi ke ruangan meeting. Sesampainya di ruang meeting, Sasuke disambut dengan hormat oleh karyawan lainnya. Eits tunggu dulu. Apakah Sasuke pergi kesana seorang diri? Tentu tidak. d

Dia datang bersama asisten kepercayaannya dan tangan kanannya. Hatake Kakashi dan Juka.

"Ohayou gozaimasu Sasuke-sama." ucap Kakashi sambil berojigi. Sasuke mengangguk sebagai jawaban.

"Juka sudah berada ditempatnya." Sasuke menyeringai mendengar ucapan asistennya itu.

"Baguslah. Terus waspada sepertinya akan ada hal yang menyenangkan." Kakashi mengangguk paham.

S

K

I

P

T

I

M

E

Akhirnya rapat berjalan lancar. Kerja sama tak terjalin karena pihak lawan menolaknya dengan alasan tak masuk akal. Sasuke tak mempermasalahkannya.

Ternyata setan merah itu tak menunjukkan batang hidungnya. 'Pengecut.' Maki Sasuke dalam hati.

Besok Sasuke akan kembali ke Kyoto tapi satu panggilan menghentikan langkahnya.

"Sasuke." nada berat memanggilnya dengan dingin.

Sasuke tersenyum sinis melihat siapa orang yang memanggilnya.

"Sudah keluar dari persembunyianmu?" tanya Sasuke menyindir.

Dia Gaara tak menanggapi ucapan Sasuke.

"Temui aku besok pukul 10 pagi di restoran Italia dekat sini." Gaara pergi setelah mengatakannya.

Sudah Sasuke duga jika kerjasama hanya alasan konyol. Yang sebenarnya adalah kita lihat saja nanti.

Sasuke pergi ke kamarnya. Setelah dirinya berada di kamar dirinya langsung menelepon kedua orang tangan kanannya.

"Kau bersama Juka? Kemarilah bersamanya." Sasuke mengakhiri telponnya. Dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket.

Setelah menunggu 20 menit, bunyi bel pintu berbunyi.

Sasuke membuka pintunya. Dan kembali masuk ke kamarnya. Kakashi dan Juka sudah hapal kelakuan atasan mereka. Mereka ikut masuk sambil tak lupa menutup pintunya kembali.

"Besok jam 10 pagi bersiaplah didekat restoran Italia." ucap Sasuke.

"Sasuke-sama jangan anda bilang anda akan menggali kuburan anda sendiri." kata Kakashi.

Sasuke tersenyum sinis.

"Jelas itu takkan terjadi. Dia takkan bertindak gegabah." ucap Sasuke ringan.

"Juka!" panggil Sasuke. Juka langsung tanggap.

"Hai tuan."

"Kelinci kecilku. Selidiki maksud setan merah itu untukku. Aku ingin laporannya hari ini sebelum aku tidur sudah ku dapat." ucap Sasuke lebih mirip perintah.

"Hai wakarimashita." Juka beranjak dari kursinya untuk menjalankan tugasnya.

Sepeninggal Juka. Kakashi masih berada dikamar Sasuke.

"Anda tak mengkhawatirkan si kecil itu?" tanya Kakashi.

"Aku percaya dia." jawab Sasuke.

"Yah saya yakin, kemampuan mesin membunuhnya takkan membuatnya mati konyol." tambah Kakashi.

"Kakashi. Ada berita tentang Haruno?" tanya Sasuke.

"Pihak Haruno sedang merencanakan sesuatu." jawab Kakashi. "Seperti rencana perjodohan mungkin." tambahnya menjelaskan.

Sasuke menyeringai. Beri mereka kemudahan yang sangat mudah. Sehingga kau bisa mendapatkan dua kelinci dengan satu umpan.

Hari yang ditunggu pun tiba. Sasuke sudah duduk tenang di tempatnya bersama Kakashi. Tak lama datanglah Gaara bersama sekretarisnya. Kankoru.

Gaara langsung duduk berhadapan dengan Sasuke.

"Aku tak suka basa basi." ucapnya yang barusaja mendudukkan pantatnya dikursi.

"Lalu." balas Sasuke.

"Jangan campuri urusanku." desis Gaara. "Atau kau ingin bernasib sama seperti teman mafiamu." ucapnya sarkasme.

Sasuke geram saat setan merah itu menyebut sahabatnya dengan tak pantas.

"Itu jelas urusanku." jawab Sasuke tenang disertai evil smirk.

Gaara tak membalas ucapannya seperti menunggu lanjutan ucapan Sasuke.

"Kau membunuhnya dengan keji tanpa tau kebenarannya. Dan aku mengetahui kebenaran itu yang pastinya tak mampu kau terima." lanjut Sasuke.

"Jangan berlagak menjadi pahlawan." ucap Gaara mengejek.

"Aku membawa buktinya. Ingin mendengar sebuah cerita?" tanya Sasuke. Gaara tak menjawab. Kebisuan Gaara ia anggap setuju.

"Dia Shisui temanku. Saat kejadian yang merenggut nyawa isteri dan anakmu yang masih berupa gumpalan darah itu. Saat itu Shisui sedang melakukan pencarian buronan kelompok mafianya. Dia melihat sebuah mobil yang berhenti ditengah jalan dan mobil itu bergerak ditempatnya. Dan tak lama keluarlah wanita berambut coklat dengan penampilan yang acak-acakan berlari disepanjang jalan. Tampaknya wanita itu akan menerima pelecehan seksual karena tak lama keluarlah seorang lelaki bertubuh tinggi besar mengejar wanita itu dengan cepat. Karena langkah besarnya, lelaki itu dengan mudah menggapai wanita itu. Dan terjadilah kekerasan fisik mulai dari tamparan dan pukulan yang diberikan lelaki itu. Shisui tak berbuat apa-apa, karena dirinya juga sedang dalam misinya. Shisui pergi dari sana namun tak berselang lama dirinya kembali ke tempat itu dan alangkah terkejut dirinya mendapati tubuh terbujur kaku milik wanita itu. Lelaki yang membunuhnya tak berada disana. Mobilnya sudah tak ada. Dan kau sendiri tau." ucap Sasuke menjelaskan panjang lebar.

"Tidak. Itu salah. Dia memang membunuhnya." sangkal Gaara.

Sasuke menggeleng dengan kekehan kecilnya.

"Tuan anda lah yang salah. Amarah membuat anda gelap mata." ucap Sasuke mengejek.

"Shisui. Jika yang kau pikir menembak isteri anda itu salah. Karena dia memang sedang memegang pistol itu untuk kepentingan misi kelompoknya." Gaara masih tak terima.

"Jangan mengguruiku Uchiha." desisnya sedikit marah.

"Andai kau jeli, melakukan pemeriksaan yang benar tentang arah tembakan dan jenis peluru yang ada ditubuh isteri anda tidak sesuai dengan milik Shisui." Sasuke semakin menyudutkan Gaara.

"Dan dalam kasus ini anda telah melakukan pembunuhan salah sasaran tak beralasan." tuduh Sasuke. Gaara masih tak terima.

"Aku membawa buktinya." Sasuke mengeluarkan peluru milik Shisui dan selongsong peluru yang ada ditubuh isteri Gaara. Gaara mengakui perbedaan dua buah peluru itu. Dan akhirnya dia menerima pernyataan itu. Tapi egonya menolaknya.

"Aku masih tak terima." ucapnya sengit. Sasuke merasa geram dengan sikap Gaara.

"Gaara. Aku hanya butuh ucapan maafmu pada Shisui dan keluarganya." ucap Sasuke marah.

"Tidak Uchiha. Tidak semudah itu aku mengucapkannya." ucap Gaara tak mau kalah.

"Kau tau!" tantang Sasuke. Gaara berhenti dari jalannya

"Orang itu berada disini. Tepat disampingmu." ucapan Sasuke membuat Gaara terperanjat. Gaara berlari kearah Sasuke dan menarik kemeja Sasuke.

"Apa maksudmu?" tanya Gaara. Sasuke menyeringai.

"Dia sekretarismu, kepercayaanmu dan kakak kandungmu yang seharusnya menanggung akibatnya. Kau tau! Dia sebenarnya mencintai isterimu." ucap Sasuke keras sehingga terdengar kearah Kankoru. Gaara tentu saja sangat terkejut.

'DORR' Suara pistol terdengar.

Dan sasarannya adalah Sasuke. Tapi Sasuke sudah mengantisipasinya. Memasang baju pelindung dibalik kemejanya. "Kau lihat dia langsung bertindak." ucap Sasuke mengejek. Namun meski sudah memaka baju pelindung kemeja Sasuke tetap mengeluarkan cairan merah kental berbau anyir. Darah.

Sementara dilain tempat tampak seorang wanita yang tengah khawatir. Dia Hinata menjatukan gelas sloki yang dipegangnya. 'Ada apa ini?' perasaanya tak enak.

"Oh kami-sama lindungilah Sasuke-kun." do'anya untuk Sasuke.

Tanpa sadar pipi pualamnya basah oleh air mata.

Tak lama keluarlah anak buah Sasuke dipimpin Juka menyerbu Kankoru. Baku tembak terjadi antara kelompok Sasuke dan Kankoru yang mencoba melarikan diri.

"Aku akan membunuhnya. Karena dia yang mulai." ucap Sasuke pada Gaara. Gaara hanya terdiam.

"Kejar dia sampai dapat. Hidup atau mati bawa tubuhnya padaku." ucap Sasuke pada anak buahnya. Mereka langsung melakukan pengejaran.

Sasuke pergi dari restoran itu meninggalkan Gaara yang masih dalam pikirannya.

Suasana restoran sangat kacau dan disana memang tak ada pengunjung lain selain Sasuke dan Gaara, namun sebelum itu Sasuke sudah membelinya sebagai pertanggung jawaban kepada pemiliknya.

Flashback on.

Pukul 12 malam. Di salah satu kamar Samantha Hotel.

"Bagaimana Juka?" tanya Sasuke.

"Seperti yang tuan pikirkan." ucap Juka. "Gaara Sabaku memang akan membahas kematian isterinya. Dia akan pergi bersama orang itu." lanjutnya.

Sasuke tersenyum puas.

"Baik. Kau bisa pergi. Bersiaplah untuk misimu." Juka mengangguk dan berojigi.

Flashback off.

Sasuke kembali ke kamar hotelnya. Membersihkan tubuhnya yang mengeluarkan darah. Meski dirinya memakai baju pelindung, keparat itu menembak dengan lihai. Pelurunya menembus baju pelindung Sasuke dan mengenai pinggangnya.

Setelah membersihkan tubuhnya, Sasuke mengobati luka tembaknya. Dan setelahnya dirinya membereskan barangnya, memasukkannya kedalam suitcase. Dan keluar dari kamar itu. Kakashi sudah menunggunya di lobi hotel.

Beberapa jam kemudian

Sasuke sampai di mansionnya yang berada di distrik Higashiyama Kyoto.

Kepulangannya disambut oleh Riza. Karena Hinata sudah tertidur.

Tanpa mengucapkan apapun, Sasuke langsung pergi ke lantai tiga. Kakashi yang masih berada dimansionnya hanya mampu tersenyum tulus disertai Riza.

"Kau mau menginap disini Kakashi?" tawarnya.

Kakashi menggeleng tapi sebelumnya "menginaplah Kyoto-Tokyo itu bukan jarak yang dekat. Lagipula master pasti mengijinkannya." paksa Riza.

Dan akhirnya Kakashi hanya bisa menerima.

Sasuke pov on

Ku pandangi wajah wanita yang selalu ku rindukan. Wanita kedua setelah ibuku yang ku cintai. Sempurna hidupku bersamanya.

Napas hangatku menerpa kulit wajahnya yang putih seputih porselen. Ku kecupi wajahnya sesukaku.

Tak hentinya aku mengagumi keindahan yang ia miliki. Dan kini keindahan itu menjadi milikku juga. Rasanya tetap sama. Manis. Dan aku tak pernah merasa puas dengan rasanya. Dirinya selalu menjadi canduku. Juga kelemahanku. Untuk itu aku menyembunyikan permataku ini dengan sangat hati-hati. Aku melindunginya dari para musuhku pengincar harta dan nyawaku. Musuh yang terbilang banyak.

Takkan ku biarkan seorangpun mampu melukainya. Ataupun merenggutnya dari hidupku. Atau orang itu ingin menggali kuburannya sendiri.

Aku selalu berharap dapat membahagiakannya. Dengan cara ini aku membahagiakannya meski mungkin dirinya selalu tersiksa dengan keadaannya. Aku turut sedih dan menyesal membuat dirinya merasakan hidup dalam dunia kegelapan milikku. Tapi aku tetap melakukannya karena dia yang telah mengambil hatiku jauh terlalu banyak. Aku tak bisa melepaskannya.

"Hime tadaima." bisikku ditelinganya dengan menghembuskan napas hangatku.

Ku lihat dirinya gelisah saat ku hembuskan napas ditelinganya.

"Eunghh." gumamannya sangat menggangguku.

Matanya terbuka. Menampilkan manik amethys indah yang menawan. Tatapan sayunya khas orang bangun tidur terlihat sangat seksi. 'Oh jangan sekarang.' desisku.

Setelah mengumpulkan kesadarannya dirinya langsung terduduk.

"Hey." sapaku.

Hinata mengerjapkan matanya berkali-kali dengan mengusek matanya.

"Sasuke-kun." ucapnya kaget.

Aku tersenyum. Mencium bibirnya dengan lembut. 'Aku merindukan bibir ini.' batinku.

Aku semakin memperdalam ciumanku. Menarik dagunya untuk memperdalam ciumanku. Aku terlena dengan ciuman ini. Hingga akhirnya memainkan lidahnya. Mengajaknya berdansa bersama alunan degup jantungku yang menggila.

Hinata selalu gelagapan mengimbangiku. Tapi aku suka. Suka saat diriku menjadi penguasanya.

Wajah lugunya sangat menggoda. Nampak seorang wanita yang naif akan kejamnya dunia. Tapi tubuhnya sangat ku damba. Bak gitar spanyol.

Aku lepaskan ciuman pelapas rinduku. Dia memerah karena malu. Menambah kesan manis diwajahnya. Hinata menatapku dengan rindu menghias dimaniknya.

"Okaeri." ucapnya. Kemudian memelukku erat.

Aku meringis sakit saat sikutnya menyentuh pinggangku. Dia terlihat kaget dan langsung melihat kearah pinggangku. Dia melihat warna merah yang samar di kemeja putihku. Dia menatapku marah.

"Kau terluka Sasuke-kun?" tanyanya. Entah kenapa aku merasa takut dengan Hinata yang tengah posessive. Aku tersenyum sebagai jawabannya.

Dia membuka semua kancing kemejaku. Hingga terlihatlah luka tembakan itu.

"Akan aku obati." dirinya beranjak dari kasur. Namun ku hentikan. "Aku sudah mengobatinya. Kau bisa melihatnya."

Dia mendengus kesal. "Tidurlah." ucapku. "Dipelukanku." lanjutku.

Dia merona mendengar kata peluk yang ku ucapkan. Akhirnya dia mengangguk dan kembali ke kasur.

Tak ada yang paling menyenangkan selain berbaring bersama wanitamu dengan pelukan melengkapi malammu.

Biarlah seperti ini untuk sementara.

Dan tunggulah secercah cahaya.

Senjata harapan ditelapak tanganmu.

Harapan yang kau tunggu.

Kebahagiaan yang menanti.

Dan akhir yang indah.

Hanya berdua. Kau dan aku.~ Sasuke.

Sasuke pov end

A.n

Chapter 7 datang!! Apa masih ada yang menanti cerita ini??

Kuharap ada ya. Hahaha.

See you.

Salam

ZIA