Tittle: Love me Tender
Universe: AU
Rating: T, enggak ada Lemon tapi akan ada 'lime'.
Genre: Romance/Drama/Comedy
Summary: Sakura menikah dengan pria yang selalu dicintainya selama ini. Seharusnya itu membuatnya bahagia, tapi sebuah rahasia membuat pernikahan mereka berubah menjadi komedi yang menyedihkan.
Disclaimer: Naruto punya Kishimoto-sensei
Note: Aku bukan fujoshi, 'slash' yang muncul di cerita ini cuma bagian dari plot. Ratting cerita ini nggak sampai M tapi dianjurkan untuk 16 tahun ke atas.
CHAPTER 6
"It's Something We Call 'Jealousy'"
Aku tidak tahan lagi dengan perubahan mood Naruto yang begitu tiba-tiba. Padahal tadi dia tampak sangat marah seolah-olah mau menelanku hidup-hidup, tapi sekarang dengan cerianya ia memasak makan siang untuk kami semua. Aku tidak mengerti mengapa pemuda berambut pirang itu tampak sebegitu senangnya hanya karena kebodohan yang telah kulakukan.
Aku mengepalkan kedua tanganku di atas meja dengan kesal sambil mengawasi sosoknya yang tampak begitu ceria. Aku meregangkan tanganku dan meraih jeruk yang ada di atas meja dan melampiaskan kekesalanku pada buah malang yang tidak bersalah itu.
Aku duduk di depan meja makan sambil mengupas jeruk sementara Naruto yang berdiri tidak jauh dariku sedang memasak makan siang untuk kami semua sambil bersiul. Deidara duduk di depanku sambil mengaduk jus jeruknya, di sebelahnya duduk Sasori yang tampak bosan. Mata kedua pemuda itu terfokus pada layar televisi yang tengah menayangkan acara bincang-bincang dengan bintang tamu seorang pemain kabuki. Kakashi duduk di ujung lain meja sambil membaca majalah yang memuat wawancara dengan Naruto dan teman-temannya. Sasuke tidak ada di sini, ia harus kembali untuk syuting drama terbarunya, dan itu sedikit membantuku karena aku tidak pernah tahu harus bersikap bagaimana di hadapan pemuda berwajah dingin itu.
Rock Lee menoleh ke arahku, ia sedang duduk di sofa di depan televisi, "Sakura-chan, tolong lemparkan jeruk untukku dong!"
Aku melempar sebuah jeruk ke arahnya dan dia menangkapnya dengan cekatan.
Ia nyengir ke arahku dan melambaikan jeruknya padaku, "Terima kasih!"
"Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan duduk di sofa itu." kataku sambil melanjutkan mengupas jerukku dan mengumpulkan kulitnya jadi satu dengan cara menumpuknya menyerupai semacam menara kulit jeruk.
"Memangnya kenapa?" tanya Rock Lee sambil mulai mengupas jeruknya.
"Itu adalah sofa favorit tempat Naruto dan Sasuke-kun bercinta..." kataku datar sambil menunjuk ke arah sofa yang didudukinya dengan telunjukku.
Deidara tersedak jus jeruknya sementara Rock Lee segera melompat dari sofa itu dengan wajah pucat bercampur jijik. Aku tertawa melihat ekspresi dan reaksi keduanya. Kakashi mendengus dan tertawa. Sasori menoleh sekilas sebelum kembali menoleh ke arah televisi. Aku tahu bahwa mereka semua sudah sangat tahu bahwa Naruto adalah gay dan berpacaran dengan Sasuke tapi tampaknya fakta bahwa ia bercinta dengan sesama jenis—yang kebetulan juga adalah teman satu band mereka—tetap membuat mereka sedikit tidak nyaman.
"Ew!" kata Rock Lee sambil mengerutkan hidungnya. Ia terang-terangan memasang ekspresi jijik. "Kenapa tidak bilang dari tadi?"
"Kau tidak tanya..." kataku nyengir, sedikit terhibur dengan reaksinya.
"Dimana lagi mereka biasa bercinta?" tanya Deidara sambil berjengit dan siap-siap berdiri kalau-kalau tempatnya duduk saat ini merupakan salah satu tempat favorit pasangan homoseksual itu untuk bercinta.
"Sudahlah! Jangan berlebihan begitu!" kata Naruto sambil menyeringai, ia meletakkan penggorengan anti gores berisi saus daging yang baru matang di atas alas anti panas yang ada di meja. "Kalian tidak akan kena AIDS hanya karena itu..."
Aku mengerucutkan bibirku saat menyadari bahwa Naruto tengah menyeringai ke arahku. Ia menepuk kepalaku dengan lembut saat melewatiku untuk mengambil semangkuk penuh pasta.
"Bodoh.." gumamnya sambil tersenyum dengan suara perlahan yang hanya dapat kudengar seorang diri.
Wajahku memerah. Aku tahu mengapa ia mengataiku bodoh. Aku tidak bisa membantahnya. Aku memang bodoh.
Rock Lee menarik kursi di sebelahku tepat saat Naruto kembali dengan mangkuk berisi pasta untuk kami semua. Aroma saus daging yang dibuatnya tiba-tiba saja membuatku sangat lapar. Aku teringat bahwa sejak semalam aku sama sekali belum makan, dan masakan Naruto selalu lezat dan membuatku lapar.
Aku mengambil pasta dari mangkuk dan lalu menyiramkan saus daging ke atasnya. Sasori menaburkan banyak-banyak keju ke atas pastanya tanpa berkata apa-apa sementara Kakashi tiba-tiba beranjak berdiri mengatakan bahwa ia ada urusan lain yang harus diselesaikan. Seperti biasanya ia menolak untuk melepaskan masker yang dikenakannya.
"Istriku, kau mau tambah peterseli?"
Aku mendelik tidak percaya ke arah Naruto yang tengah tersenyum manis. 'Istriku'? Aku menatapnya dengan sebal sementara dia sibuk menaburkan peterseli ke atas pastaku sambil bersenandung. Aku mendecakkan lidahku tidak sabaran. Naruto kelihatan senang sekali dengan kejadian tadi pagi. Aku memejamkan mataku untuk mengingat kejadian pagi tadi.
"DIMANA KAU SEMALAM?" teriaknya frustasi, "LALU MOBIL SIAPA ITU?"
"Mobil Gaara..."
"SIAPA GAARA?"
Aku menelan ludah untuk membasahi tenggorokanku, "Pacarku..."
Wajah Naruto berubah semakin merah. Ia berjalan cepat ke arah mobil Gaara dengan tangan terkepal. Menyadari kesalahan yang baru saja kuperbuat, aku segera mengejarnya dan mencoba menghentikannya. Rock Lee juga berusaha mencegahnya sementara yang lainnya hanya berdiri di tempat masing-masing sambil menggelengkan kepala, seperti mereka tahu tidak ada gunanya mencegah seseorang seperti Naruto.
Saat Naruto sampai di depan mobilnya, tepat saat itu juga dengan santainya Gaara membuka pintu mobilnya dan beranjak keluar.
"Selamat pagi, Uzumaki-san"
Wajah Naruto berubah kaget saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Dahinya lalu berkerut namun ia tidak lagi tampak marah. Aku menatap mereka bergantian dengan wajah bingung bercampur penasaran. Bahkan yang lainnya yang berdiri di kejauhan pun tampak kaget saat melihat sosok Gaara.
Mereka sudah saling kenal?
Bagaimana bisa?
"Gaara…" gumam Naruto sambil menundukkan kepalanya sekilas untuk membalas salam Gaara.
Gaara tersenyum, "Semalam aku pergi ke sebuah bar dan melihat seorang gadis mabuk, tidak kusangka itu istrimu... Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja dalam kondisi mabuk, jadi aku membawanya pergi dan menunggunya sadar untuk mengantarnya pulang."
Naruto membungkuk dalam-dalam ke arah Gaara, "Terima kasih sudah menolong istriku."
Gaara hanya tertawa, "Aku tahu ia sudah menikah tapi aku tidak menyangka dia adalah istrimu.."
Aku menatap Gaara dengan bingung, "Kalian saling kenal?"
Gaara mengangguk dan tampak terhibur dengan ekspresi kebingunganku, "Tentu saja... Siapa yang tidak kenal Uzumaki Naruto dari grup The Ninjas?" Aku dapat melihat wajah Naruto memerah, "Kami juga pernah kerja bersama meskipun baru kali ini berbicara secara langsung..."
"Kerja bersama?"
Gaara mengangguk lagi, ia melirik jam tangannya lalu menggelengkan kepalanya, "Ah, aku harus pergi sekarang. Aku harus menjemput Kanata..."
"Kanata?"
"Anak laki-lakiku, umurnya tiga tahun, manis sekali." Gaara tertawa.
Aku tidak bisa lagi menyembunyikan keterkejutanku. Aku menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Anak laki-laki? Ia sudah menikah? Aku menatap mobil Gaara yang melaju pergi. Wajahku memerah, sekarang Naruto pasti tahu kalau kau berbohong padanya soal pacar itu...
"Jadi itu pacarmu?" Gumam Naruto yang berdiri di sebelahku, aku enggan menatapnya, "Aneh, kenapa kau sepertinya kaget kalau dia sudah menikah? Apa kau tidak tahu siapa dia?"
Aku menggeleng lemah.
"Bodoh." Anehnya, Naruto tidak terdengar marah, "Lain kali cari alasan yang lebih pintar!" Ia mengacak-acak rambutku. Saat aku mengangkat wajahku, aku melihat wajahnya yang dihiasi senyum lebar.
Sejak kejadian tadi pagi sepertinya Naruto tidak lagi mempersoalkan soal aku yang semalaman tidak pulang. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba jadi begitu ceria setelah tahu tentang kebohongan dan kebodohanku. Dasar orang aneh.
"Ngomong-ngomong..." kataku sambil menelan pastaku. "Tadi Gaara bilang kalian pernah kerja bersama kan? Maksudnya apa?"
"Kami pernah sama-sama tampil di music station..."
"Dia penyanyi?"
Naruto nyaris tersedak, "KAU TIDAK TAHU?"
Aku menggeleng.
"SoD."
"Huh?"
Sasori memutar bola matanya sementara Rock Lee tertawa melihatku yang tampak masih tidak mengerti.
"Sand of Destruction." Kata Deidara singkat.
SoD atau Sand of Destruction, tentu saja aku pernah dengar. SoD adalah band rock yang cukup terkenal. Bisa dikatakan bahwa mereka adalah senior Naruto di dunia permusikan. Bahkan dari yang kudengar mereka sudah menjual album mereka di luar negeri. Tapi apa hubungannya SoD dengan Gaara?
Naruto pun menghela napas menyadari bahwa aku masih belum juga menyadarinya, "Gaara adalah vokalis sekaligus leader SoD."
"EH?"
Pantas saja aku merasa tidak asing dengan wajah dan suaranya.
Pantas saja ia tertawa saat aku menyangkanya seorang host.
Pantas saja ia bisa membeli mobil sekeren itu.
Melihat ekspresiku yang seperti orang tolol, Naruto tidak bisa lagi menyembunyikan tawanya dan mulai tertawa terbahak-bahak. Aku mendelik padanya tapi ia tidak menghentikan tawanya.
'Mana aku tahu kalau Gaara ternyata adalah Gaara yang itu! Selama ini aku hanya mendengarkan lagu-lagumu tahu!' Protesku dalam hati.
"Tapi aku senang." Katanya sambil tersenyum riang.
"Kenapa?"
"Karena kau ternyata bohong, sayangku..."
"Soal apa?"
"Bahwa kau punya pacar."
Wajahku semakin merah sementara untuk kesekian kalinya ia tersenyum penuh kemenangan. Dasar bodoh! Ia tidak tahu yang baru saja dikatakannya. Aku tahu bahwa ia tidak bermaksud apa-apa saat mengatakannya, tapi aku kan jadi berharap!
"Ehem." Rock Lee memaksakan diri untuk batuk, "Kami juga ada di sini lho."
Aku menangkat wajahku. Aku benar-benar lupa kalau saat itu yang lainnya juga ada bersama kami. Wajahku semakin merah.
Aku meletakkan dua kaleng teh hijau bubuk ke dalam keranjang belanjaanku bersama dengan belanjaanku yang lainnya. Sore ini aku berbelanja ke convenience store di dekat rumahku. Naruto dan ketiga temannya sudah berangkat untuk syuting acara tv. Malam ini sepertinya aku akan makan malam sendirian. Aku menghela napas, Sasuke juga tidak akan pulang malam ini, jadi aku akan benar-benar sendirian. Bukannya aku tidak suka sendirian, tapi...
Aku hampir saja menjatuhkan belanjaanku saat merasakan tepukan di pundakku. Aku segera menoleh ke belakang hanya untuk melihat wajah tetanggaku yang sedang tersenyum lebar.
"Ah, Tsunade-san..." gumamku, "Kau membuatku kaget..."
Tsunade mengangguk, "Uzumaki-san, apa anda baik-baik saja? Tadi pagi aku mendengar anda dan suami anda bertengkar. Bukannya aku sengaja menguping, tapi suara suami anda terdengar sampai ke kamarku, padahal aku sedang melakukan yoga..."
Aku mendengus kesal. Aku sudah tahu. Harusnya Naruto tidak perlu berteriak sekeras itu tadi pagi!
"Apa karena pemotretan itu?"
Aku berjengit mendengarnya, "Pemotretan?"
Tsunade menutupi mulutnya dengan sebelah tangan, "Ya ampun, jangan-jangan anda belum tahu?"
Aku menggeleng tidak sabaran. Ada apa ini? Aku sama sekali tidak paham dengan apa yang dibicarakan wanita ini dan dari caranya berbicara aku mendapat firasat bahwa ini bukanlah hal yang cukup menyenangkan untuk kudengar.
"Tahu soal apa?" Tanyaku semakin penasaran."
Tsunade menatapku dengan ekspresi kasihan, "Yang kudengar sih... Naruto Uzumaki-san akan tampil di majalah An An episode mendatang..."
Kaleng teh hijauku jatuh bersama keranjang belanjaanku.
Sial.
Author's Note:
Terimakasih atas reviewnya. Saya nggak tahu mau menulis apa jadi saya putuskan untuk menulis sedikit penjelasan tentang beberapa hal yang saya sebutkan di chapter ini.
Music Station adalah nama salah satu acara TV di Jepang tempat dimana para penyanyi memperkenalkan lagu-lagu baru mereka. Setiap episodenya beberapa penyanyi dan grup band akan datang untuk bernyanyi. Sebenarnya seharusnya hanya musik pop saja yang tampil tapi di sini, ceritanya meskipun beraliran rock, SoD pun boleh tampil.
SoD/Sand of Destruction adalah grup fiksi buatan saya yang namanya diambil dari game NDS yang sedang saya mainkan saat ini. Hahah, kalau disingkat dibaca SoD (sod) yang dalam bahasa Inggris berarti sama dengan "fuck", biasa digunakan orang-orang Inggris/Irlandia. Grup ini (kemungkinan besar) nggak akan muncul lagi di fanfic ini tapi saya cukup memikirkan detail grup ini… Hmm, imagenya mungkin seperti Laruku.
An An (dalam bahasa Jepang dibaca Ang Ang). Majalah ini benar-benar ada. Majalah yang ditujukan untuk pembaca wanita dewasa dengan topik-topik dewasa. Artikel utamanya akan memuat gambar sang model (yang biasanya merupakan artis terkenal) dengan tubuh telanjang, kadang-kadang sang model (terutama model pria) akan berpasangan dengan model lawan jenisnya yang juga telanjang dan berpose erotik. Majalah ini bisa dibilang semacam majalah 'playboy' tapi untuk wanita. Untuk dapat menjadi model di majalah ini tidak mudah karena ini adalah majalah ekslusif. (Saya punya beberapa jilid majalah ini hahaha) Meskipun telanjang dan sedikit erotis, foto-foto di majalah ini bernilai seni sangat tinggi (saya akui itu). Satu lagi, An-An (ang ang) diberi nama seperti itu karena "An" dalam bahasa jepang dapat berarti suara desahan erotis (di bahasa Indonesia sering ditulis 'Ah')
Okay, saya harap sedikit informasi yang saya berikan berguna (lol).
Recchinon
