Akhirnyaaa! Bisa publish!

Okeh-oke langsung tu de poin ya!

Disclaimer : Fairy Tai itu punya Hiro Mashima!

Warning : Typo(s), gak kerasa, pair GrayxJuvia, aneh, gaje, dsb.

RnR, minna?

Hope you like it!


High School

Chapter 7


"Mavis-sensei…"Gray datang.

"Nah, kalian semua berkumpul! Berpose!"Mavis sudah siap dengan kameranya. Mavis pun langsung dengan ambisius memotret.

"Nah, selesai."Mavis duduk di meja (Tingkah macam apa ini?! –Plakk!-).

"Silahkan berganti baju jika mau. Cosplay kalian sudah bagus untuk saat ini."Mavis kini puas dengan hasil potretnya.

"Mavis-sensei, bagaimana dengan dramanya?"tanya Levy yang baru datang dengan beberapa orang to the point.

"Oh biar aku tentukan!"Mavis turun dari meja. Menanggapi setiap pasang wajah yang ada di hadapannya. Kemudian menulis dengan cepat di secarik kertas.

"Hm, kalau begini… Aku putuskan Gray dan Juvia menjadi tokoh utamanya. Ah, ini daftarnya…"Mavis memberikan kertas itu.

Pelayan Air : Gray Fullbuster

Pangeran Air : Juvia Loxar

Pangeran Es : Lyon Vastia

Prajurit Utama Es : Jellal

Prajurit Utama Air : Erza

Pemenggal : Loke

Penari Jalanan : Lucy Heartfillia

Pelawak Gak Lucu ½ banci : Natsu Dragnell

Roh Ratu : Lisanna Strauss

Blendy bersaudara : Sherry Blendy dan Chelia Blendy

Penasehat Kerajaan Air : Hibiki Autis ralat Laytis

Pembaca teks : Freed Justine

"Weits… Jadi gue ikutan nieh?"tanya Loke yang baru datang ke cerita ini.

"Ya, tenang. Dialogmu sedikit kok!"Mavis mengacungkan jempol.

"Hanya beberapa kali?"Juvia dan Gray shock berat karena mendapat peran utama, jadi dialog mereka banyak.

"Baik, untuk café nya… Siapa yang bisa memasak?"tanya Mavis, hampir semua murid bisa mengangkat tangan.

"Beres! Kelas 11-A! Datanglah pagi jam 5 pagi! Tidak ada protes!"ucap Mavis dengan semangat berapi-api.

"Yosh!"seru semua siswa.

"Tunggu! Tapi tetap saja aku akan menggunakan kostum terkutuk ini besok?"Natsu gak terima,

"Ya, itu harus dilakukan."Mavis mendeathglare Natsu.

"Oke! Sampai jumpa besok! Jangan khawatir! Aku akan datang lebih dahulu besok!"


Keesokan harinya Juvia siap sudah siap. Bangun pagi adalah kebiasaannya. Bahkan tadi dia bangun jam 4 pagi untuk menyempatkan diri menyiapkan kostum yang akan dia pakai. Dia langsung saja mengikat rambutnya dua ke atas.

"Juvia tidak boleh malu!"tekadnya dengan suara polos. Dengan bermodalkan keberanian, dia melangkah keluar rumah sambil membawa tas besar dan juga tas lain berisi bahan makanan untuk dimasak nanti.

"Ganbatte!"seru gadis itu. Mengunci pintu rumahnya cepat-cepat dan pergi di pagi buta (Paginya buta dong? –Ditendang-). Dalam perjalanan ke sekolah, gadis itu merasa agak merinding. Seperti ada yang mengikutinya.

'Siapa itu? Plis deh, jangan buat Juvia ketakutan!'batin Juvia dengan keringat dingin mengucur dari pelipisnya.

"Juvia."

"Hyaaa! Tolong jangan makan Juvia! Omaigat! Omaigat!"Juvia langsung ngacir pergi dari tempat itu.

"Padahal aku hanya menyapanya."orang yang memanggil Juvia ternyata adalah Lucy, pemirsa!

"Oh, ya sudahlah…"Lucy berjalan dengan santai.


"Ckiit!"Juvia ngerem ampe nabrak pagar.

"Huh? Ke-kenapa sekolah terlihat mengerikan saat pagi buta ya?"ucap Juvia pelan. Kakinya bergetar, untung saja bumi tidak bergetar (Gempa bumi dong?).

"Satu… Dua… Satu… Dua…"Tapi untung saja suara yang familiar di telinga Juvia, membuat gadis itu lega. Ia melihat Levy berpakaian olahraga sambil berlari.

"He? Juvia sudah datang?"Levy berhenti dan membuka pagar.

"I-iya. Juvia harus memasak pagi sekali dengan yang lainnya."jawab Juvia,

"Oh… Itu, Mavis-sensei sudah menunggumu sejak sekitar 31 menit 2 detik yang lalu."kata Levy secara rinci,

"Arigatou, Levy…"balas Juvia kemudian hendak masuk ke dalam sekolah.

"Awas ada…"Levy berusaha menakuti Juvia.

"Drrt!"Juvia bergetar hebat,

"Tolong antarkan Juvia! Onegai!"Juvia langsung memeluk lengan Levy,

"Hei, aku hanya bercanda!"Levy tertawa,

"Baiklah, ayo…"Levy menggandeng tangan Juvia. Mereka pergi ke kelas 11-A.


"Mavis-sensei!"Juvia langsung mendatangi Mavis yang duduk di kursi sambil memainkan smarphone-nya (Ce ilah!).

"Kalau begitu, sampai jumpa."Levy langsung pergi.

"Mavis-sensei tidak takut sendirian?"tanya Juvia kepada Mavis,

"Huaaa!"

"Gubrakk!"teriakan dua gadis terdengar dari luar ruangan, membuat Mavis dan Juvia langsung berpelukan satu sama lain. Masih sempat-sempat saja Juvia membayangkan yang dia peluk adalah Gray, ckckck.

"Cklek!"lampu mati.

"Hueee! Aku takut!"tangis Mavis. Gadis cilik itu menenggelamkan wajahnya di perut Juvia.

"Sensei jangan begitu! Juvia juga takut nih! Kebelet BAK!"kata Juvia yang tiba-tiba kebelet buang air kecil.

"Sreek!"terdengar suara pintu dibuka.

"Kyaaa! Pergi! Pergi! Hantuu! Eike takut lah yaw!"dengan bahasa lebaynya, Mavis langsung melempari sosok yang membuka pintu geser itu dengan barang seadanya.

"Hei! Setop euy! Ini gue! Lucy Heartfilia!"teriak gadis itu.

"Cklek!"Lucy menyalakan lampu.

"Sakit tau…"Lucy mengelus kepalanya yang habis kena kursi yang dilempar seenak jidat sama Mavis.

"Maaf!"ujar Mavis.

"Terus tadi siapa yang berteriak dan terdengar suara terbentur?"tanya Juvia,

"He? Suara apa? Aku tak mendengarnya…"Lucy mengangkat sebelah alisnya.

"Ha?"Juvia dan Mavis saling berpandangan.

"A-ada hantu…"kata mereka terbata-bata.

"Bercanda, mbak bro! Itu tadi, gue nabrak Levy ampe nyungsep di lantai."jawab Lucy santai.

"Sreek!"

"Ohaiyou!"Erza, Lisanna, Jellal, Natsu, juga Hibiki datang.

"Ohaiyou."balas Lucy dengan nada ceria, sedangkan Juvia dan Mavis masih terdiam dengan ekspresi horror.

"Hai, Hibiki Autis! Eh! Lay-"sapa Mavis,

"Loe mau ngejek gue 'kan?! Ngaku loe!"Hibiki mengamuk,

"Sudahlah!"Lucy menahan Hibiki yang bersiap mau menyeruduk Mavis.

"Mavis-sensei keceplosan gara-gara goyang oplosan kok!"ujar Lucy,

"He?! Gue gak pernah goyang oplosan!"protes Mavis,

"Udah deh! Iya iya aja!"Lucy mendeathglare Mavis.

"Tarik nafas, keluarin ya…"Lucy mengelus punggung Hibiki pelan.

"Hhh…"Hibiki melakukan apa yang dikatakan Lucy.

"Arigatou…"desah Hibiki dengan suara beratnya.

"Baiklah, ayo memasak!"seru Erza dengan semangat membara,

"Masih ngantuk… Hoam!"Jellal dan Natsu menguap lebar sampai-sampai hampir lalat, nyamuk, semut, capung, kumbang, dll hampir mau masuk (Kok banyak banget ya?).

"Semangat dong!"teriak Lisanna.

"Jadi yang kita masak hanya makanan penutup, minuman, dan makanan lain?"tanya Lucy kepada Mavis yang asik ngupil (Wow!).

"Yo."balas Mavis singkat, padat, dan gak jelas.

"Kalau begitu… Ayo!"

"Osh!"seru mereka semua. Di pagi buta, mereka memasak berbagai makanan.

"Kyaa! Hibiki! Kenapa kau memasukkan merica ke adonan kue? Omaigat!"teriak Lucy,

"Gue kira ini gula."Hibiki nyengir kuda,

"Plakk!"

"Seenak jidat loe! Aku sudah capek-capek bikin adonannya!"Lucy nampar Hibiki pake tangannya yang belepotan.

"Oh maigat! Wajah tampan gue!"tereak Hibiki narsis.

"Rasain nih!"pemuda itu melempar tepung ke wajah Lucy.

"Haaa! Aduh…"Lucy melirih, seperti ada sesuatu yang mengenai matanya.

"E-eh? Kenapa?"tanya Hibiki gelagapan.

"Mataku…"Lucy mengucek matanya kayak ibu-ibu nyuci baju.

"Jangan begitu! Nanti malah masuk! Coba kulihat matamu!"tangan Hibiki memegang tangan dan kepala Lucy. Hibiki sedikit mendekatkan wajahnya untuk melihat mata Lucy.

"Hee?! Ngapain itu?!"pikiran Natsu mulai tercemar.

"Ciuman ya?"celetuk Erza menggoda.

"Eeh? Enggak kok!"Hibiki melepas tangannya dari Lucy.

"Ngaku deh! Mavis juga lihat kok!"Mavis senyum-senyum (Senyum yang jahat).

"U-uh! Aku tak berciuman dengan Hibiki Autis!"teriak Lucy frustasi, Hibiki langsung kejang-kejang dipanggil autis. Sedangkan Lucy pergi begitu saja sampe nabrak pintu geser yang lupa ia buka. Menghasilkan warna kemerahan di dahinya.

"Udah kejang-kejangnya!"Mavis geplak Hibiki. Yang tadinya kejang-kejang pun diam.

"Euy, loe laki atau banci sih? Sono kejar tuh cewek!"teriak Erza pake toa, Lisanna setuju.

"Oke, bos!"Hibiki langsung lari, tapi nyungsep di lantai gara-gara kesandung kakinya sendiri.

"Ganbatte, mbak bro!"seru Hibiki dengan semangat memadam. Pemuda itu terus berlari ke segala ruangan.


"Masih gelap pula."gumamnya sambil melihat langit yang ada di luar jendela.

"Brukk!"

"Wadow!"Hibiki sampai nabrak tembok.

"Lama-lama gigi gue hancur kalau jatuh, nabrak, n nyungsep mulu!"katanya kesal.

"Hiks…"suara tangis terdengar samar-samar.

'Itu Lucy?'batin Hibiki. Dengan segenap jiwa dan raga, pemuda itu mendekati asal suara.

"Astaga! What the heck?"Hibiki cengo liat seorang perempuan dengan rambut panjang dan baju putih menangis tersedu-sedu.

"Loe nape nangis, kuntilanak?"tanya Hibiki sok kenal,

"Si tuyul ilang! Oh mai beibi!"lirih kuntilanak,

"O aja sih. Ngomong-ngomong loe lihat Lucy gak?"tanya Hibiki lagi,

"Itu, tadi dia lari ke arah kiri."jawab si Kuntilanak dengan tampang blo'on.

"Tengkyu ya."Hibiki dengan santai pergi begitu saja walaupun dalam hati ia sudah mau pinksun.

"Lucy!"panggil Hibiki pelan.

"Iya?"ada suara yang membalas panggilannya. Hibiki merinding seketika.

"Lu-lucy?"tubuh Hibiki bergetar. Bulu kuduknya bukan hanya berdiri tapi juga mau copot, pemirsa!

"Iya, ini aku…"isak suara itu.

"Dimana kau?"tanya Hibiki dengan suara keras.

"Di bawahmu."Hibiki berjongkok. Mendapati Lucy melipat kedua kakinya dan melingkarkan tangannya di kedua kakinya.

"Kenapa, Lucy?"tanya Hibiki,

"Apa kau marah?"tanya Hibiki lagi, kali ini dengan suara yang lembut. Matanya pun terus memandang gadis di hadapannya. Diam-diam rona pipi muncul di pipinya. Tangannya berusaha menghapus air mata yang mengalir di pipi Lucy.

"Menurut loe?"cetus Lucy dengan nada kasar sambil menepis tangan Hibiki.

"Omaigat! Plis deh! Mimpi apa lagi gue semalam?!"Hibiki meratapi nasib.

"Iya, aku marah…"ucap Lucy,

"Karena apa?"

"Kau menghancurkan rasa adonannya!"semprot Lucy.

"Sudah dong! Kita bisa membuatnya lagi 'kan? Masih untung gue gak hancurin hati loe!"tutur Hibiki masih sempat-sempatnya nge-gombal.

"Tapi 'kan aku sudah susah payah!"omel Lucy gak terima,

"Baiklah, maafkan aku…"Hibiki menggenggam tangan Lucy dengan hangat,

"Ke-kenapa kau menggenggam tanganku?!"Lucy salting, untung aja gak salto.

"Masbuloh?"kata Hibiki,

"Be-berhenti! Jangan!"Lucy membrontak ketika Hibiki mendekatkan wajahnya,

"Hhmp! Nyahaha! Kepalamu benjol!"Hibiki ketawa nista,

"Gubrakkk! Hyaaa! Praang! Buk! Meaw!"Lucy menghajar Hibiki habis-habisan. Author nosebleed(?)


Maaf aneh? Kerasa gak? Kerasa gak? Kerasa gak? #ditabok

Arigatou sudah membaca! Apalagi yang telah mereview!

RnR, minna?

Review kalian adalah harapan saya untuk terus menulis...

XD